Anda di halaman 1dari 2

Jenis Cendawan Yang Menimbulkan PenyakitAntraknosa

Penyakit antraknosa disebabkan oleh serangan cendawan. Penyakit ini terutama menyerang pada
saat kelembaban udara tinggi dan suhu rendah. Pada musim hujan, penyakit antraknosa bisa
menggagalkan areal pertanaman cabai hanya dalam waktu beberapa hari. Penyebaran miselium
dan spora cendawan penyebab patek atau antraknosa sangat cepat. Serangan sangat hebat terjadi
pada saat kelembaban di atas 95% dan suhu udara dibawah 32C. Beberapa jenis cendawan yang
paling sering menyebabkan timbulnya penyakit antraknosa adalah Colletrotichum sp. dan
Gloesperium sp. Pada buah cabai, cendawan tersebut mampu bertahan di dalam biji selam 9
bulan. Nama Colletrotichum sp. sangat diperhitungkan dalam dunia pertanian setelah reputasinya
memporakporandakan hampir sepertiga lahan strowberry di Perancis pada tahun 1990 Cendawan
ini menjadi momok yang paling menakutkan terutama di daerah subtropis dan daerah tropis
seperti Indonesia.
Gejala Antraknosa
Penyakit antraknosa sangat ditakuti terutama oleh petani cabai. Serangan patek atau antraknosa
ini mampu membuyarkan impian petani untuk memetik hasil yang besar, bahkan tidak jarang
justru menimbulkan kerugian meskipun harga cabai sedang tinggi. Tanaman yang terserang
penyakit antraknosa yang disebabkan oleh infeksi cendawan Colletrotichum sp. menunjukkan
gejala bercak cokelat kehitaman yang kemudian akan meluas menjadi busuk lunak. Pada bagian
tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang merupakan koloni cendawan. Sedangkan
tanaman yang terserang patek atau antraknosa akibat infeksi cendawan Gloesperium sp.
menunjukkan bercak cokelat dengan bintik-bintik berlekuk. Pada bagian tepi bintik-bintik
tersebut berwarna kuning membesar dan memanjang. Jika kelembaban tinggi, cendawan akan
membentuk lingkaran memusat atau konsentris berwarna merah jambu. Serangan pada buah
cabai biasanya diawali dari bagian ujung buah yang mengakibatkan dieback atau mati ujung.

Pengendalian Patek Atau Antraknosa


Di Indonesia, penyakit ini tergolong penyakit yang paling sulit dijinakkan, terutama pada saat
musim hujan. Untuk petani cabai yang melakukan penanaman dengan musim berbuah pada saat
musim hujan harus melakukan pengontrolan yang ketat dan terus-menerus. Berikut ini beberapa
upaya penanganan untuk mengendalikan serangan patek atau antraknosa
1. Perlakuan pada bibit atau biji tanaman yang akan dibudidayakan, misalnya untuk
tanaman cabai atau tomat, rendam bibit atau biji menggunakan larutan fungisida sistemik,
seberti benomil, metil tiofanat, atau karbendazim. Dosis atau konsentrasi larutan adalah 2
g/l. Perendaman dilakukan selama 4-6 jam.
2. Secara teknis, bagian tanaman yang terserang harus dimusnahkan dari lahan atau areal
pertanaman. Lakukan pengamatan di lapangan secara kontinu atau terus menerus.

3. Berikan pupuk dengan kandungan P, K, dan Ca tinggi agar jaringan tanaman lebih kuat.
Jangan melakukan pemupukan N berlebihan, karena akan menyebabkan jaringan
tanaman berair sehingga rentan terhadap serangan cendawan.
4. Berikan pupuk organik yang banyak. Pemupukan organik akan meningkatkan ketahanan
tanaman dari serangan hama maupun penyakit.
5. Hindari adanya genangan air di areal pertanaman, pembersihan lahan termasuk
penyiangan gulma.
6. Perlebar jarak tanam dengan pola tanam zigzag untuk menjaga sirkulasi udara dan
mengurangi kelembaban tinggi saat terjadi hujan berkepanjangan.
7. Jika kelembaban di sekitar areal pertanaman tinggi, misalnya hujan terus menerus,
lakukan pencegahan menggunakan pestisida kimia. Beberapa bahan aktif yang bisa
digunakan untuk mengendalikan penyakit patek atau antraknosa adalah fungisida
sistemik dengan bahan aktif benomil, karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol.
Fungisida kontak dengan bahan aktif mankozeb, klorotalonil, dan propineb. Lakukan
penyelingan bahan aktif tersebut setiap kali melakukan penyemprotan dengan dosis atau
konsentrasi sesuai pada kemasan.
8. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya melakukan kombinasi dari beberapa bahan aktif,
misalnya benomil + mankozeb masing-masing dosis, karbendazim + mankozeb
masing-masing dosis, metil tiofanat + klorotalonil masing-masing dosis,
difenokonazol + propineb masing-masing dosis. Setiap kali penyemprotan lakukan
penggantian kombinasi bahan aktif tersebut, setelah satu putaran kemudian kembali ke
kombinasi awal yang pertama kali digunakan.