Anda di halaman 1dari 5

A.

Komunikasi Pertanian
Istilah komunikasi pertanian atau komunikasi pertanian dan
pembangunan dalam perkembangan ilmu pengetahuan barangkali merupakan
istilah yang relatif baru. Karena dalam istilah itu tertulis kata Komunikasi,
maka dapat diterka bahwa ilmu atau pokok bahasan yang membahas
komunikasi pertanian atau komunikasi pertanian dan pembangunan
adalah didasarkan pada perkembangan imu komunikasi itu sendiri.
(Soekartawi, 2005).
Dalam proses diseminasi inovasi pertanian kepada petani, maka
komunikasi

memegang

peranan

penting.

Proses

komunikasi

dalam

penyuluhan pertanian tersebut sedikitnya melibatkan lima unsur stakeholders,


yaitu: (1) lembaga penelitiandi dalamnya ada para peneliti, yang melakukan
penelitian untuk menghasilkan teknologi yang diharapkan berguna bagi
masyarakat petani, (2) lembaga penyuluhanyang di dalamnya terdapat para
penyuluh, yang berperan dalam menyebarluaskan teknologi yang berguna
bagi para petani, dan (3) masyarakat petani itu sendiri yang menjadi subyek
penyuluhan, (4) lembaga pengaturan, dan (5) lembaga pelayanan. Pelaku
pelaku dalam penyuluhan pertanian juga melibatkan pihak lain baik dari pihak
swasta maupun pihak lainnya. (Mugniesyah, 2006).
Menurut Soekartawi (2005) pesan dalam komunikasi pertaniandapat
berupa informasi tentang peningkatan produksi, pemeliharaan kondisi lahan,
penangana pascapanen, adopsi teknologi baru, kerja sama kelompok,
peningkatan pendapatan rumah tangga, dan partisipasi dalam kegiatan
pedesaan. Komunikasi pertanian bukan saja bertujuan untuk mempengaruhi
sikap dan perilaku komunikan seperti yang sering ditemui dalam penyuluhan
pertanian yang lebih dikuasai oleh kekuatan komunikator (komunikasi satu
arah), tetapi juga perlu memperhatikan peran komunikasi baik sebagai
individu maupun anggota masyarakat yang dikenal dengan komunikasi dua
arah.

Beberapa negara di Asia telah berhasil mengembangkan sistem


informasi komu- nikasi pertanian sebagai manifestasi kemajuan iptek yang
bersumber pada kreativitas inovatif suatu bangsa, misal- nya program Thalad
Thai

di Thailand, gerakan

Semaul Undong

di Korea Selatan, dan

pembangunan pertanian modern pascaperang dunia kedua di Jepang. Di


Indonesia, sejak tahun 2004 Departemen Pertanian mengembangkan Program
Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima
Tani). Program ini dilaksanakan secara partisipatif oleh semua pemangku
kepentingan

(stakeholders)

pembangunan

pertanian

dalam

bentuk

laboratorium agribisnis. Prima Tani bersifat integratif secara vertikal dan


horizontal, dan diharapkan dapat menghasilkan keluaran yang bermuara pada
ketahanan pangan, daya saing melalui peningkatan nilai tambah, dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari berbagai gerakan pembaharuan
usaha tani tersebut, terlihat bahwa komunikasi berperan sebagai salah satu
program pendukung yang penting (Suryana, 2008).
B. Identifikasi Masalah Pertanian
Di dunia yang begitu cepat berubah, kreativitas menjadi penentu
keunggulan. Daya kompetitif suatu bangsa sangat ditentukan pula oleh
kreativitas sumber daya manusianya. Kreativitas diperlukan pada setiap
bidang kehidupan. Ia diperlukan untuk mendesain sesuatu, meningkatkan
kualitas hidup, mengkreasi perubahan, dan menyelesaikan masalah.
Sementara itu, hampir setiap bidang kehidupan manusia memerlukan
kemampuan pemecahan masalah. Sehingga terkadang berkembangnya suatu
kreativitas akan dapat berpengaruh terhadap perusakan lingkungan hidup
manusia.
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan
kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk
mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak
negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan

WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mencatat bahwa di seluruh dunia setiap


tahunnya terjadi keracunan pestisida sintesis antara 44.000 - 2.000.000 orang
bahkan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang.
Dampak negatif lain dari penggunaan pestisida sintesis diantaranya adalah :
1. Meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida
2. Membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida
3. Penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi
lingkungan, manusia serta ternak
Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis,
mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah
terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat
mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap
ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang
disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila
penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya
bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman
ditempati (Gunungsari, 2013).
Penggunana pestisida nabati lebih efektif kerena pestisida nabati
adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan
yang sebenarnya 13 yang ada di sekitar kita. Penggunaan pestisida nabati
selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, harganya relatif murah
apabila dibandingkan dengan pestisida kimia. Cara kerja pestisida nabati
sangat spesifik yaitu :
a. Merusak perkembangan telur, larva dan pup
b. Menghambat penggantian kulit
c. Mengganggu komunikasi serangga
d. Menyebabkan serangga menolak makan
e. Menghambat reproduksi serangga betina
f. Mengurangi nafsu makan
g. Memblokir kemampuan makan serangga
h. Mengusir serangga
i. Menghambat perkembangan patogen penyakit
(Harysaksono, at al 2008).

Namun

demikian

pestisida

nabati

masih

memiliki

beberapa

keunggulan maupun kekurangan.


1. Keunggulan dari pestisida nabati diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Murah dan mudah dibuat oleh petani
b. Relatif aman terhadap lingkungan
c. Tidak menyebabkan keracunan pada tanaman
d. Sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama
e. Menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu
pestisida kimia
(Harysaksono, at al 2008).
2. Kekurangannya dari pestisida nabati diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Daya kerjanya relatif lambat
b. Tidak membunuh jasad sasaran secara langsung
c. Tidak tahan terhadap sinar matahari
d. Tidak tahan disimpan
e. Kadang-kadang harus disemprotkan berulang-ulang
(Harysaksono, at al 2008).
Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi
masalah hama dengan cepat. Pestisida alami harus menjadi bagian dari sistem
pengendalian hama terpadu, dan hanya digunakan bila diperlukan (tidak digunakan
jika tidak terdapat hama yang merusak tanaman). Perlu diketahui bahwa ada berbagai
macam tanaman yang digunakan sebagai pestisida nabati, dalah salah satunya adalah
brotowali (Baharuddin, 2011).

Dapus
Harysaksono S, Purwanti EW, Sule S. 2008. Pestisida Nabati. Malang: Sekolah
Tinggi penyuluhan Pertanian.
Soekartawi, 2005. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.
Mugniesyah, 2006. Perkembangan Pola Komunikasi dalam Penyuluhan Pertanian.
Jurnal Komunikasi Pembangunan. Vol. 7 No. 2.

Suryana, 2009. Strategi Komunikasi Membangun Kemandirian Pangan. Jurnal


Institut Pertanian Bogor Vol. 4 No 2.