Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

iii

DAFTAR LAMPIRAN

iii

KEADAAN UMUM BALAI BESAR INDUSTRI AGRO

Sejarah dan Perkembangan Balai

Visi dan Misi

Tugas Pokok dan Fungsi

Struktur Organisasi

Sumber Daya Manusia

Sarana dan Fasilitas

Pelayanan Jasa Teknis

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tujuan

Waktu dan Tempat

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Metode Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

10

Hasil Uji Linearitas

11

Hasil Penetapan Presisi

12

Hasil Penetapan Akurasi dan Perolehan Kembali

13

SIMPULAN DAN SARAN

13

Simpulan

13

Saran

13

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

13
15

DAFTAR GAMBAR
1 Struktur vitamin A
2 Instrumen UPLC
3 Kurva standar vitamin A asetat

7
9
12

DAFTAR LAMPIRAN
1 Struktur organisasi Balai Besar Industri Agro
2 Diagram alir uji
3 Hasil uji Linearitas
4 Hasil penetapan keterulangan
5 Hasil penetapan ketertiruan
6 Hasil perbandingan uji T hasil presisi
7 Hasil penetapan akurasi dan perolehan kembali

15
16
16
17
19
21
22

KEADAAN UMUM BALAI BESAR INDUSTRI AGRO


Sejarah dan Perkembangan Balai
Balai Besar Industri Agro (BBIA) merupakan institusi yang memberikan
jasa pelayanan teknis kepada masyarakat industri, khususnya industri hasil
pertanian dalam rangka mewujudkan pengembangan industri yang berdaya saing
kompetitif baik secara nasional maupun internasional. BBIA didirikan pada tahun
1890 dengan nama Agricultuur Chemisch Laboratorium dalam lingkungan
Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel dengan tugas antara lain:
Melayani para ahli dan sarjana pertanian dalam meneliti tanaman-tanaman tropis
terutama yang ada di Kebun Raya serta arti ekonomi dari tanaman-tanaman
tersebut; Memeriksa atau menguji barang-barang dan bahan untuk intansi
pemerintah terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan sebagainya.
Tugas pengujian berkembang dengan pesat dengan mengikuti kemajuan
bidang pertanian dan perdagangan terutama dengan barang-barang ekspor serta
perdagangan dalam negeri sebagai hasil pembinaan dari bagian Nijverheid dalam
Departement Van Lanbouw, Nijverheid en Handel, sehingga pada tahun 1909
nama Laboratorium diganti menjadi Bureau voor Landbouw en Handal-analyse
berdasarkan keputusan Gubernur Jendral Ned. Indie pada tanggal 29 Januari 1909
dan tercatat dalam Javasche Couran sebagai Besluit van Directuur voor
Landbouw No. 3952 Tanggal 27 Mei 1909. Tugas pengujian semakin berkembang
disamping tugas-tugas rutin penelitian, dan dengan perbaikan serta penambahan
fasilitas, tempat, dan peralatan
Semakin meningkatnya peranan laboratorium dalam menguji barang-barang
ekspor, impor, dan perdagangan dalam negeri serta dalam agrokimia yang
merintis pertumbuhan agro-industri dalam negeri, maka terjadi penggantian nama
laboratorium yaitu Handels Laboratorium dari tahun 1911 dan pada tahun 1918
menjadi Analytisch Laboratorium. Pada tahun 1934 Laboratorium Kimia
Tumbuh-tumbuhan (Phytochemisch Laboratorium) dalam lingkungan Kebun
Raya dan balai penelitian yang tergabung dalam Balai Besar Penyelidikan
Pertanian (Algemeen Proefstation voor de Landbouw) melebur diri menjadi satu
dengan Analytisch Laboratorium dan gabungan menamakan diri sebagai
Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek yang terdiri atas Laboratorium
Analitika, Laboratorium Kimia Tumbuh-Tumbuhan, Laboratorium Kimia
Pertanian, Laboratorium Harsa, dan Laboratorium Minyak Atsiri.
Penelitian-penelitian di bidang agrokimia berjalan dengan seiring tugas
pengujian yaitu pengujian hasil-hasil pertanian untuk kepentingan ekspor dan
memajukan industri pengolahan hasil pertanian dalam negeri. Penelitian fitokimia
dan minyak atsiri sudah dirintis sejak didirikannya laboratorium ini.
Diberlakukannya sistem pengawasan susu, ditunjuknya Laboratorium ini sebagai
penguji kulit kina oleh pabrik kina Bandung, sistem pengujian air minum dan
pengawasan minuman beralkohol membuat Laboratorium voor Scheikundig
Onderzoek menjadi Laboratorium terkemuka di zaman Hindia-Belanda. Pada
waktu kependudukan Jepang (1942-1945). Balai Penyelidikan Kimia diberi nama
Gunsaikanbu Kagaku Kenkyusyu dengan tugas utama yaitu melakukan applied
research. Tugas ini menjadi ciri Balai seterusnya. Pada zaman revolusi fisik, Balai

dimasukkan ke dalam Kementrian Kemakmuran Republik Indonesia dan ikut


hijrah ke Klaten, Solo, dan Yogyakarta sejak kantor yang terletak di Bogor yang
telah dikuasai Belanda. Pada tahun 1950 pemerintah Republik Indonesia kembali
ke Jakarta dan Balai Penyelidikan Kimia kembali melakukan tugasnya seperti
biasa. Lanjutan hijrah ke Klaten telah melahirkan Balai Penyelidikan Kimia
Surabaya pada tahun 1951.
Pada tahun 1951 Balai Penyelidikan Kimia dimasukkan ke dalam
Kementrian Perdagangan dan Perindustrian yang kemudian berubah menjadi
Kementrian Perekonomian. Pada tahun 1957 Balai dimasukkan ke dalam
Kementrian Perindustrian. Sementara itu, pada tahun 1959 Balai dimasukkan ke
dalam Kementrian Perindustrian Rakyat. Pada tahun 1980 Balai Penyelidikan
Kimia atau Balai Penelitian Kimia berubah menjadi Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBPPIHP) yang berada dibawah
Kementrian Perindustrian. Pada tahun 2002 Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Hasil Pertanian berubah menjadi Balai Besar Industri
Agro (BBIA) sampai saat ini dan berada dalam lingkungan Kementrian
Perindustrian.
Visi dan Misi
Visi BBIA adalah menjadi unit kerja yang profesional, berkualitas, semakin
mandiri, dan terkemuka dalam memberikan jasa pelayanan teknis. Sementara itu,
misi BBIA antara lain meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya manusia,
sistem manajemen mutu pendukung jasa pelayanan teknis meliputi kerja sama
litbang; pengujian; kalibrasi; sertifikasi; rancang bangun dan perekayasaan
peralatan industri; konsultasi; dan inspeksi teknis.
Tugas Pokok dan Fungsi
BBIA memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan kegiatan penelitian,
pengembangan, kerja sama, standardisasi, pengujian, sertifikasi, kalibrasi, dan
pengembangan kompetensi industri agro yang sesuai dengan kebijakan teknis
yang telah ditetapkan oleh Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu
Industri. BBIA menyelenggarakan fungsi yaitu penelitian dan pengembangan,
pelayanan jasa teknis bidang teknologi bahan baku, bahan pembantu proses,
produk, peralatan dan pelaksanaan pelayanan dalam bidang pelatihan teknis,
konsultasi atau penyuluhan, alih teknologi serta rancang bangun dan pelayanan
industri, inkubasi, dan penanggulangan pencemaran industri; pelaksanaan
pemasaran, kerja sama, pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi;
pelaksanaan pengujian dan sertifikasi bahan baku, bahan pembantu, dan produk
industri agro, serta kegiatan kalibrasi mesin dan peralatan; pelaksanaan
perencanaan, pengelolaan, dan koordinasi sarana dan prasarana kegiatan
penelitian dan pengembangan dilingkungan BBIA, serta penyusunan dan
penerapant standardisasi industri agro; dan pelayanan teknis administratif.

Struktur Organisasi
BBIA dipimpin oleh Kepala Balai yang membawahi secara langsung bagian
tata usaha; bidang pengembangan jasa teknik; bidang sarana riset dan
standardisasi; bidang pengujian, sertifikasi dan kalibrasi; dan bidang
pengembangan kompetensi dan alih teknologi. Selain itu, BBIA sebagai Badan
Layanan Umum (BLU) juga memiliki Dewan Pengawas BLU yang dibentuk
melalui Keputusan Menteri Perindustrian RI Nomor; 776/M-IND/Kep/12/2013
tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Balai Besar Industri Agro
Kementrian Perindustrian yang diketuai oleh Bapak Arryanto Sagala dengan
anggota yang terdiri atas Bapak Hadrian Syah Rezad dan Bapak Djoko
Wihantoro. Struktur organisasi BBIA dapat dilihat pada Lampiran 1.
Sumber Daya Manusia
Pegawai di Balai Besar Industri Agro sebagian besar adalah pegawai
negeri sipil (PNS) dengan jenjang pendidikan yang berbeda-beda dimulai dari SDS3. Berbagai jenis pendidikan formal terutama di bidang teknologi pangan, kimia
analisis, konstruksi, kimia murni, biologi, statistik, farmasi, ekonomi, dan
teknologi informasi.
Sarana dan Fasilitas
Balai Besar Industri Agro berlokasi di Jl. Ir. H Juanda No 11, Kelurahan
Paledang, Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. BBIA
dilengkapi dengan berbagai sarana seperti perkantoran, perpustakaan,
laboratorium, aula, wisma, dan sarana riset. Fasilitas laboratorium yang dimilki
oleh BBIA meliputi laboratorium instrumen yang dilengkapi dengan: ICP OES
(Inductively Coupied Plasma Optical Emission Spectrometer), GC (Gas
Chromatography), KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi), AAS (Atomic
Absroption
Spectrophotometer),
UPLC
(Ultra
Performance
Liquid
Chromatography), dan spektrofotometer UV-Vis; Laboratorium Makanan dan
Olahan; Laboratorium Mikrobiologi; Laboratorium Air; Laboratorium Minuman;
Laboratorium Pakan dan Bahan Baku; Laboratorium Limbah; dan Labrotarium
Proses.
Pelayanan Jasa Teknis
Balai Besar Industri Agro (BBIA) merupakan institusi yang memberikan
jasa dan pelayanan teknis kepada masyarakat industri, khususnya industri hasil
pertanian dalam rangka mewujudkan pengembangan industri yang berdaya saing
kompetitif baik secara nasional maupun internasional.
Berikut merupakan layanan jasa teknis yang ditawarkan dari BBIA antara
lain:
1.

Jasa Pengujian
Laboratorium Analisis Komoditi BBIA merupakan unit layanan pengujian
mutu bahan baku, produk makanan, minuman, dan produk agro-industri

lainnya. Uji-uji yang dilakukan di LAK-BBIA telah diakreditasi oleh


National Association of Testing Authorities (NATA) Australia dan Komite
Akreditasi (KAN). LAK dikelola secara profesional sesuai dengan SNI 1917025-2000
Jenis analisis yang dapat dilakukan antara lain:
- Analisis proksimat: air, protein, lemak, abu, serat kasar, dan karbohidrat
- Analisis mikrobiologi: jumlah bakteri (TPC), kapang, khamir, Coliform,
Escherichia coli, Salmonella, Vibrio cholera, dan lain-lain.
- Analisis lainnya seperti: mineral, logam berat, bahan tambahan makanan,
asam-asam lemak, serat makanan, vitamin A, B, D, E, gula asam amino,
dan lain-lain
- Analisis label nutrisi
2.

Jenis Pelayanan Kalibrasi


Laboratorium Kalibrasi BBIA merupakan unit layanan pengukuran atau
kalibrasi alat-alat laboratorium. Laboratorium Kalibrasi BBIA telah
mendapat akreditasi dari National Association of Testing Authorities
(NATA) Australia dan Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk massa,
volume, dan suhu. Laboratorium Kalibrasi BBIA dikelola secara profesional
yang sesuai dengan SNI 19-17025-2000
Jenis pelayanan kalibrasi yang dilakukan antara lain:
- Kalibrasi Massa: neraca analitik, single pan, top loading, dan elektronik
- Kalibrasi Volume: alat ukur gelas
- Kalibrasi Suhu: oven, tanur, inkubator, waterbath, termokopel, dan
termometer gelas
- Kalibrasi Optik: spektrofotometer, pH meter, refraktometer, dan
polarimeter

3.

Jasa Riset
Jenis pelayanan riset Litbang Balai Besar Industri Agro antara lain:
- Pengembangan produk dan proses
- Mengatasi permasalahan teknologi
- Rekayasa dan rancang bangun peralatan industri agro
- Studi kelayakan usaha
- Pendugaan umur simpan produk makanan dan minuman
Fasilitas Riset yang dimiliki yaitu Laboratorium Proses yang digunakan
sebagai sarana riset, pelatihan dan uji coba industri agro skala mini, yang
dilengkapi alat proses yaitu aneka tipe pengering, pengolah roti dan kue,
pengalengan, pengasapan, penggorengan vakum, pengolahan keripik, dan
pengolahan serbuk buah

4.

Jasa Sertifikasi
Balai Besar Industri Agro memiliki 4 buah lembaga sertifikasi diantaranya:
- Lembaga Sertifikasi Produk yang bernama ABI-Pro (Agro-Based Product
Certification) yang telah diakreditasi oleh KAN/BSN (LSPro-010-IDN)
sehingga dapat melayani masyarakat industri agro untuk memperoleh
SERTIFIKAT PRODUK PENGGUNAAN TANDA SNI secara
profesional.

- Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu bernama ABICS (AgroBased Industry Certification Services) yang telah di akreditasi oleh
KAN/BSN (LSSM-003-IDN) sejak tahun 1994, sehingga dapat melayani
masyarakat industri agro untuk memperoleh SERTIFIKASI ISO 9000
secara profesional
- Lembaga Sertifikasi HACCP bernama ABICS (Agro-Based Industry
Certification Services) yang telah di akreditasi oleh KAN/BSN
(LSSHACCP-006-IDN), sehingga dapat melayani masyarakat industri
agro untuk memperoleh SERTIFIKAT Sistem HACCP secara profesional.
- Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000
bernama ABICS (Agro-Based Industry Certification Services) yang telah
di akreditasi oleh KAN/BSN (LSSMKP-008-IDN) sehingga dapat
melayani masyarakat industri agro untuk memperoleh SERTIFIKAT ISO
22000 secara profesional.
5.

Jasa Konsultasi
Bidang layanan konsultasi BBIA adalah teknis teknologis mengenai
agro-industri pemecahan masalah teknologi, penganekaragaman produk,
perbaikan produksi, pengembangan produk, penggunaan bahan tambahan
makanan, pendirian usaha, studi kelayakan, dan lain-lain.

6.

Jasa Pelatihan
BBIA memberikan layanan pelatihan dalam bidang :
- Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (pangan dan non pangan
- Pemahaman GMP dan Sistem Keamanan Pangan
- Pemahaman Sistem Manajemen Mutu ISO 9000-2000
- Pemahaman Sistem Manajemen Laboratorium SNI 17025
- Pemahaman Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000
- Analisis Kimia, Instrumentasi, dan Mikrobiologi
- Kalibrasi Peralatan Laboratorium
Dalam pelaksanaannya BBIA memberikan layanan pelatihan secara regular,
paket maupun non regular baik kepada masyarakat industri maupun
personal.
Pelatihan-pelatihan regular meliputi :
- Pelatihan Kalibrasi Suhu, Massa dan Volume
- Pelatihan GMP dan Sistem Keamanan Pangan
- Pelatihan Manajemen Mutu ISO 9000-2000
- Pelatihan Manajemen Laboratorium SNI 17025-2000
- Pelatihan Manajemen Lingkungan ISO 14000
Pelatihan-pelatihan berupa paket meliputi :
- Paket Pelatihan Teknologi Pengolahan Pangan
- Paket Pelatihan Teknologi Minyak Atsiri
- Paket Pelatihan Penanganan Limbah dan Lain-lain
- Paket Pelatihan Pembuatan Dokumen UKL/UPL
- Paket Pelatihan Teknologi Bersih
Pelatihan-pelatihan atas permintaan (non regular) diantaranya :
- Teknologi Pemurnian Minyak Makan

- Teknologi Pengolahan Kelapa; Kacang Tanah, Tomat dan Cabe; Gula


Semut; Roti dan Makanan Ringan; Buah-buahan; Keripik Buah-buahan
menggunakan penggorengan vakum; Ikan; Nata de Coco dan Rumput
Laut; Kacang Kedelai; Jahe; Jagung; Coklat dan lain-lain.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu merupakan hasil sekresi kelenjar susu hewan mamalia betina sebagai
sumber gizi bagi anaknya (Potter 1996). Sebagian besar susu yang dikonsumsi
oleh manusia berasal dari sapi yang diolah sedemikian rupa sehingga memenuhi
kualitas yang memadai, bergizi, aman, dan memenuhi selera konsumen. Secara
kimia, susu adalah emulsi lemak dalam air yang mengandung gula, garam-garam
mineral dan protein dalam bentuk faktor koloidal. Susu memiliki kelebihan yang
tidak dimiliki oleh bahan makanan lainnya. Hal ini disebabkan oleh kelengkapan
dan keseimbangan zat gizi yang terkandung di dalam susu. Komposisi unsurunsur gizi tersebut sangat beragam tergantung pada beberapa faktor, seperti faktor
keturunan, jenis hewan, makanan yang meliputi jumlah dan komposisi pakan yang
diberikan, iklim, waktu, lokasi, prosedur pemerahan, serta umur sapi. Susu
mengandung beberapa komposisi zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh salah
satunya adalah vitamin.
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan oleh
tubuh untuk proses metabolisme dan memelihara kesehatan. Vitamin tidak dapat
dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus
diperoleh dari luar yaitu dari bahan pangan atau sediaan vitamin (Octaviani et al.
2014). Salah satu bentuk vitamin adalah vitamin A, yaitu vitamin yang larut
dalam lemak. Vitamin A terdiri dari tiga bentuk yaitu retinol, retinal, dan asam
retinoat (Gambar 1). Vitamin A pada umumnya stabil terhadap panas, asam, dan
alkali namun sangat mudah teroksidasi oleh udara dan akan rusak bila dipanaskan
pada suhu tinggi bersama udara dan sinar. Vitamin A berperan pada fungsi
fisiologis tubuh manusia, seperti fungsi penglihatan, diferensiasi sel, imunitas
tubuh, pertumbuhan dan perkembangan, dan reproduksi. Defisiensi vitamin A
dapat menyebabkan gangguan pada fungsi fisiologis seperti rabun senja, kulit
kering, keratinisasi, meningkatnya resiko infeksi akibat penurunan fungsi
kekebalan tubuh, dan kegagalan pertumbuhan (Almatsier 2009). Angka
kecukupan gizi vitamin A menurut Permenkes No.75 tahun 2003 tentang Angka
Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia adalah 550 mcg atau
353 IU/mL.

Gambar 1 Struktur vitamin A (Sumardjo 2006)


Kandungan vitamin A dalam susu cair perlu dianalisis untuk mengevaluasi
kandungan vitamin A yang terdapat dalam susu cair. Metode analisis kandungan
vitamin A yang sering digunakan adalah metode Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT) dengan alasan metode tersebut mampu memberikan data yang
lebih baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan tepat dan teliti
dibandingkan metode analisis lainnya (Sukarno 2011). Salah satu bentuk
modifikasi dari KCKT adalah metode UPLC (Ultra Performance Liquid
Chromatography). Keunggulan yang dimiliki oleh UPLC dibandingkan dengan
KCKT adalah kolom yang digunakan berukuran lebih kecil, sehingga volume
injeksi yang digunakan relatif kecil dan waktu analisis yang digunakan relatif
lebih singkat dibandingkan dengan metode KCKT. Metode yang digunakan harus
memiliki hasil yang valid. Oleh sebab itu, perlu dilakukan verifikasi yaitu
konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa
persyaratan tertentu untuk suatu tujuan khusus dapat terpenuhi (ISO/IEC 2005).
Parameter-parameter yang diujikan dalam verifikasi diantaranya linearitas,
ketelitian (precision), ketepatan (accuracy), dan perolehan kembali (recovery).
Parameter yang diujikan tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ada.
Apabila persyaratan parameter tersebut terpenuhi maka akan menghasilkan nilai
yang valid (Harmita 2004).
Tujuan
Praktik lapangan ini bertujuan memverifikasi kandungan vitamin A dalam
susu cair dengan metode UPLC.

Waktu dan Tempat


Praktik lapangan dilaksanakan selama dua bulan dengan sistem lima hari
kerja dalam satu minggu dan dimulai pada tanggal 1 Juli-30 Agustus 2015 di
Laboratorium Instrumen Balai Besar Industri Agro, Bogor.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Erlenmeyer bertutup asah 100 mL, labu takar
10 mL, 25 mL, dan 50 mL, neraca analitik Precisa XTR, mikro pipet, water bath,
vial 1.5 mL, seperangkat alat gelas, dan seperangkat instrumen UPLC Acquity
Waters H series dengan detektor UV Vis.
Pereaksi dan bahan yang digunakan meliputi sampel susu cair yang
mengandung vitamin A, standar vitamin A asetat, etanol p.a 96%, campuran
etanol:THF (1:1), aseton, KOH 50%, asam asetat glasial 95%, kertas saring
Milipore 0.45 m, campuran metanol:akuabides (84:16) sebagai fase gerak, dan
akuabides.
Metode Percobaan
Penyiapan Pereaksi
Pereaksi yang digunakan pada percobaan adalah campuran etanol:THF
(1:1) dan KOH 50%. Pembuatan etanol:THF (1:1) dilakukan dengan cara
memasukkan 1 L etanol dan 1 L THF ke dalam botol kaca yang telah disediakan,
kemudian dihomogenkan. Sementara itu, pembuatan KOH 50% dilakukan dengan
cara melarutkan 500 g serbuk KOH dengan 1 L akuabides dan dimasukkan ke
dalam botol plastik yang telah disediakan. Selanjutnya, dihomogenkan dan
didinginkan pada suhu ruang.
Penyiapan Fase Gerak
Fase gerak yang digunakan yaitu metanol 84% dalam akuabides. Fase
gerak dihomogenkan lalu disaring menggunakan kertas saring Milipore 0.45 m.
Kemudian disonikasi selama 10 menit pada suhu 34C. Selanjutnya fase gerak
siap digunakan.
Pengaturan alat UPLC
Instrumen analisis yang digunakan adalah UPLC yang terintegrasi dengan
perangkat komputer. Kolom yang digunakan adalah kolom jenis Aquity Waters
UPLC BEH C18 1.7 m 2.0 x 50 mm yang dilengkapi pre-column Van Guard
C18 1.7 m 2.0 x 50 mm. Instrumen tersebut dikondisikan dengan pengaturan laju
alir fase gerak 0.1 mL/menit. Suhu kolom diatur pada 30C. Injektor yang
digunakan adalah autosampling injector dengan volume yang diinjeksikan
masing-masing 1 L. Panjang gelombang detektor diatur pada 325 nm. Waktu
analisis diatur selama 6 menit setiap injeksi.

Gambar 2 Instrumen UPLC

Penyiapan Larutan Standar Stok


Penyiapan larutan standar stok diawali dengan memasukkan 0.01 g standar
vitamin A asetat (1 g 500000 IU) ke dalam labu takar 50 mL kemudian
ditambahkan 5 mL akuabides. Selanjutnya, didiamkan selama 5 menit dan
digoyangkan selama 1 menit. Setelah itu, ditambahkan 10 mL etanol dan 3 mL
aseton. Kemudian dihomogenkan dengan cara digoyangkan. Larutan tersebut
kemudian ditambahkan etanol hingga tanda tera.
Penyiapan Standar Kerja
Penyiapan standar kerja diawali dengan memasukkan 0.5 mL larutan standar
stok ke dalam Erlenmeyer 100 mL yang bertutup asah, kemudian ditambahkan 10
mL etanol. Selanjutnya, ditambahkan 2.5 mL KOH 50% lalu dipanaskan pada
suhu 80C menggunakan water bath selama 2 jam. Setelah itu, didinginkan
hingga mencapai suhu ruang dan ditambahkan 2.5 mL asam asetat glasial 95%.
Lalu didinginkan hingga mencapai suhu ruang dan dimasukkan ke dalam labu
takar 25 mL. Selanjutnya, ditambahkan dengan larutan etanol:THF (1:1) hingga
tanda tera dan didiamkan semalam pada suhu ruang.
Uji Linearitas
Penyiapan deret standar dilakukan dengan memasukkan larutan standar
masing-masing 0.1, 0.2, 0.5, 1.0, dan 2.0 mL ke dalam labu ukur 10 mL kemudian
ditambahkan larutan etanol:THF (1:1) hingga tanda tera. Larutan deret standar
tersebut dipindahkan ke dalam vial 1.5 mL. Deret standar diinjeksikan ke alat
UPLC masing-masing 1 L. Hasil pengukuran yang diperoleh kemudian dibuat
kurva kalibrasi hubungan antara luas area dan konsentrasi standar. Nilai intersept,
kemiringan, dan koefisien korelasi dapat diperoleh dari persamaan kurva kalibrasi.
Linearitas kurva kalibrasi dilihat dari nilai koefisien regresi (R2).
Penetapan Presisi
Sebanyak 5 g contoh susu cair ditimbang dan dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer 100 mL yang bertutup asah dengan 8 kali ulangan menggunakan
neraca analitik. Erlenmeyer yang mengandung susu cair tersebut kemudian
ditambahkan 10 mL etanol dan 2.5 mL KOH 50% lalu dihomogenkan. Kemudian
contoh dipanaskan pada suhu 80 C menggunakan water bath selama 2 jam.
Setelah itu, didinginkan hingga mencapai suhu ruang dan ditambahkan 2.5 mL
asam asetat glasial 95%. Setelah itu, didinginkan kembali hingga mencapai suhu
ruang. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL dan ditambahkan

10

dengan larutan etanol:THF (1:1) hingga tanda tera. Larutan tersebut didiamkan
semalam pada suhu ruang. Sebelum diukur, larutan tersebut dimasukkan ke dalam
vial 1.5 mL. Larutan tersebut kemudian diinjeksikan ke alat UPLC masing-masing
1 L. Kadar setiap contoh dihitung berdasarkan luas area yang diperoleh. Lalu
dicari nilai RSD dengan membandingkan simpangan baku dan rerata kadar
contoh.
Penetapan Akurasi dan Perolehan Kembali
Sebanyak 5 g contoh susu cair ditimbang dan dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer 100 mL yang bertutup asah dengan 8 kali ulangan menggunakan
neraca analitik. Erlenmeyer yang mengandung susu cair tersebut kemudian
ditambahkan 0.05 mL larutan standar. Selanjutnya, ditambahkan 10 mL etanol
dan 2.5 mL KOH 50% mL lalu dihomogenkan. Kemudian contoh dipanaskan
pada suhu 80 C menggunakan water bath selama 2 jam. Setelah itu, didinginkan
pada suhu ruang dan ditambahkan 2.5 mL asam asetat glasial 95%. Larutan
tersebut didinginkan kembali hingga mencapai suhu ruang. Selanjutnya,
dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL dan ditambahkan dengan larutan
etanol:THF (1:1) hingga tanda tera. Setelah itu, didiamkan semalam pada suhu
ruang. Sebelum diukur, larutan tersebut dimasukkan ke dalam vial 1.5 mL.
Larutan tersebut kemudian diinjeksikan ke alat UPLC masing-masing 1 L. Kadar
setiap contoh dihitung berdasarkan luas area yang diperoleh. Selanjutnya nilai
persentase recovery yang terdapat pada larutan tersebut dihitung.
Penetapan Ketertiruan
Proses penetapan ketertiruan tidak jauh berbeda dengan proses penetapan
vitamin A presisi. Penetapan ketertiruan bertujuan mengetahui nilai standar
deviasi yang dilakukan oleh seorang analis dalam melakukan sebuah penelitian.
Waktu yang dibutuhkan oleh seorang analis dalam melakukan ketertiruan adalah
1 minggu setelah seorang analis menganalisis presisi pada suatu larutan contoh.
Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan menggunakan uji T.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Suatu metode analisis harus menghasilkan hasil analisis yang valid dengan
nilai ketelitian dan ketepatan yang dapat diterima. Verifikasi merupakan salah satu
cara yang digunakan untuk mengetahui metode tersebut dapat diakui atau tidak.
Verifikasi dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter. Hasil dari
parameter yang diujikan tersebut harus sesuai dengan kriteria kelayakan. Metode
analisis kandungan vitamin A dalam susu cair perlu diverifikasi agar
menghasilkan nilai analisis yang baik. Analisis kandungan vitamin A dalam susu
cair dilakukan dengan menggunakan UPLC.
Ultra Performance Liquid Chromatography merupakan salah satu bentuk
modifikasi dari metode KCKT. Prinsip yang digunakan pada metode UPLC tidak
jauh berbeda dengan prinsip yang digunakan pada metode KCKT yaitu
memisahkan suatu komponen analit berdasarkan tingkat kepolaran yang kemudian
dideteksi oleh detektor pada tertentu. Selain itu, komponen yang dimiliki pada

11

metode UPLC tidak jauh berbeda dengan metode KCKT yaitu kolom pemisah
yang berfungsi mengalirkan eluen dan memisahkan komponen; detektor yang
berfungsi mendeteksi adanya komponen analit di dalam kolom; pompa yang
berfungsi mendorong eluen dan memudahkan sampel masuk ke dalam kolom
dengan kecepatan alir yang dapat diatur; dan injektor yang berfungsi sebagai
tempat untuk memasukkan sampel. Perbedaan yang dimiliki oleh metode KCKT
dan metode UPLC adalah tekanan yang dimiliki pada sistem kromatografi dan
ukuran kolom yang digunakan. Tekanan pompa yang dapat digunakan pada
metode UPLC adalah > 4000 Psi, sedangkan pada metode KCKT hanya mampu
menggunakan tekanan < 4000 Psi. Sementara itu, ukuran kolom yang digunakan
pada metode UPLC lebih kecil dibandingkan metode KCKT, sehingga volume
injeksi yang digunakan relatif kecil (Fuad 2012). Metode UPLC dapat
memberikan sensitivitas dan limit deteksi yang lebih tinggi dibandingkan metode
KCKT. Sensitivitas UPLC maupun KCKT dipengaruhi oleh ukuran kolom yang
digunakan.
Penyiapan sampel diawali dengan melarutkan sampel dengan menggunakan
etanol dan KOH 50% pada Elenmeyer 100 mL yang bertutup asah dan
dihomogenkan. Selanjutnya, sampel dipanaskan menggunakan water bath selama
2 jam pada suhu 80 C. Proses ini bertujuan menyabunkan sampel menggunakan
KOH-etanol dengan bantuan temperatur tinggi. Kemudian larutan tersebut
ditambahkan asam asetat glasial 95% dan didiamkan pada suhu ruang. Fungsi
penambahan asam asetat glasial 95% adalah menetralkan kelebihan KOH dan
mengikat air yang dihasilkan dari proses hidrolisis. Pada saat penambahan asam
asetat glasial, campuran sampel akan mengalami kenaikan temperatur. Hal ini
dikarenakan reaksi antara asam asetat glasial dengan KOH bersifat eksotermis
yang dibuktikan dengan meningkatnya temperatur pada campuran tersebut.
Selanjutnya, larutan tersebut dipindahkan ke dalam labu ukur 25 mL dan
ditambahkan campuran etanol:THF (1:1) hingga tanda tera dan dibiarkan semalam
(Lampiran 2).
Hasil Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan dengan mengukur deret standar vitamin A asetat
yang telah disediakan. Luas area yang dihasilkan kemudian dihubungkan dengan
konsentrasi deret standar vitamin A asetat dalam bentuk kurva standar untuk
mendapatkan persamaan regresi. Evaluasi kalibrasi deret standar vitamin A asetat
menghasilkan persamaan regresi linear, yaitu y = 27010 x - 45.2 dengan nilai R2 =
0.99983 (Gambar 1). Koefisien regresi (R2) menunjukkan tingkat linearitas
hubungan antara kadar analit dengan luas area puncak. Apabila nilai R2 mendekati
1, maka dapat dikatakan persamaan kurva bakunya linear. (Sugihartini et al.
2014). Koefisien regresi (R2) yang diperoleh menunjukan hasil yang cukup baik,
yaitu R2 = 0.99983, sehingga kurva baku yang dihasilkan linear.

12

60000

y = 27010x - 45.2
R = 0.999983

Luas Area

50000
40000
30000
20000
10000
0
0.0000

0.5000

1.0000

1.5000

2.0000

2.5000

Konsentrasi (IU/g)

Gambar 3 Kurva standar vitamin A asetat

Hasil Penetapan Presisi


Presisi suatu prosedur analisis merupakan kedekatan nilai dari sederet
pengukuran yang diperoleh dari sejumlah contoh yang diukur pada kondisi yang
sama. Presisi ditentukan untuk mengetahui sebaran hasil dari pengukuran
kandungan vitamin A dalam susu cair yang dilakukan secara berulang.
Pengukuran contoh secara berulang dapat menghasilkan hasil yang tidak seragam,
oleh sebab itu dilakukan uji presisi. Presisi dapat dibagi menjadi dua, yaitu
keterulangan (repeatability) dan ketertiruan (reproducibility). Keterulangan
merupakan presisi yang dihitung dari hasil penetapan ulangan dengan
menggunakan metode, operator, peralatan, laboratorium, dan waktu yang sama
(Safitri 2007). Uji keterulangan dilakukan dengan mengukur contoh susu cair
sebanyak 8 kali ulangan. Berdasarkan pengukuran, kandungan vitamin A rata-rata
yang terdapat dalam susu cair sebesar 0.628 IU/g dengan nilai standar deviasi
sebesar 0.046 dan %RSD sebesar 7.36 yang dibandingkan dengan %RSD Horwitz
sebesar 12.70 (Lampiran 4). Data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai %
RSD untuk repeatability yang dihasilkan tidak melebihi 2/3 dari nilai %RSD
berdasarkan rumus Horwizt. Hal ini menunjukkan bahwa sistem operasional
analis memiliki nilai presisi yang baik terhadap metode dengan respon yang relatif
konstan, sehingga hasil pengukuran memiliki nilai presisi yang memenuhi
persyaratan.
Ketertiruan adalah ketelitian yang dihitung dari hasil penetapan ulangan
dengan menggunakan metode yang sama, namun dengan operator, peralatan,
laboratorium, dan waktu yang berbeda (Safitri 2007). Kondisi ketertiruan yang
dilakukan oleh analis dalam menganalisis kandungan vitamin A dalam susu cair
adalah waktu. Waktu analisis yang dilakukan adalah 1 minggu setelah seorang
analis menganalisis kandungan vitamin A dalam susu cair. Uji ketertiruan
dilakukan dengan mengukur contoh susu cair sebanyak 8 kali ulangan kemudian
hasil yang diperoleh dibandingkan dengan menggunakan uji T. Berdasarkan hasil
pengukuran diperoleh kandungan vitamin A sebesar 0.612 IU/g (Lampiran 5).
Sementara itu, berdasarkan hasil perbandingan menggunakan uji T, tidak ada
perbedaan yang signifikan antara hasil analisis pertama dengan hasil analisis ke
dua. Hal ini ditunjukkan dari nilai T hitung sebesar 0.384 yang lebih kecil dari T
tabel ( = 95%, 16) sebesar 2.15 (Lampiran 6).

13

Hasil Penetapan Akurasi dan Perolehan Kembali


Akurasi merupakan susatu metode pengukuran yang menunjukkan
kedekatan nilai yang telah diperoleh dengan hasil yang diharapkan (Safitri 2007).
Akurasi dilaporkan sebagai persen perolehan kembali (recovery). Uji akurasi
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu metode simulasi (spiked-placebo
recovery) dan metode penambahan analat (Harmita 2004). Metode yang
digunakan dalam uji akurasi kandungan vitamin A dalam susu cair adalah metode
penambahan analat. Standar yang ditambahkan ke dalam contoh berkisar 0 hingga
120% dari konsentrasi vitamin A dalam susu cair. Pengujian hasil perolehan
kembali dilakukan dengan 8 kali ulangan. Berdasarkan hasil pengukuran, persen
perolehan kembali yang dihasilkan sebesar 99.998%. (Lampiran 7). Persen
perolehan kembali yang dihasilkan dapat memenuhi kriteria kelayakan, sehingga
metode analisis mampu menghasilkan analisis yang valid. Hal ini dikarenakan
nilai persen perolehan kembali yang dapat memberikan hasil analisis yang valid
adalah 80-120% (AOAC 2005).

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Kandungan vitamin A dalam susu cair perlu diverifikasi untuk
mengevaluasi validitas hasil analisis yang diperoleh. Berdasarkan pengujian 4
parameter, hasil verifikasi sesuai dengan kriteria kelayakan, sehingga analisis
kandungan vitamin A dalam susu cair menggunakan UPLC layak digunakan
untuk pengujian di BBIA, Bogor.
Saran
Sebaiknya pengujian kandungan vitamin A dalam susu cair dilakukan
secara berkala agar diperoleh hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
[AOAC International] Association of Official Analytical Chemist International.
2005. Official Methods of Analysis of AOAC International. Ed ke-18.
Gaithersburg.
[ISO/IEC] International Organization for Standardization. 2005. ISO 17025:2005.
Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium
Kalibrasi (versi Bahasa Indonesia). Komite Akreditasi Nasional,
penerjemah. Jakarta (ID): KAN, Terjemahan dari: General Requirements for
the Competence Testing and Calibration Laboratories.

14

[MENKES] Menteri Kesehatan. 2003. Peraturan Menteri Kesehatan No. 75


tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia.
Jakarta (ID): Menkes
Almatsier. 2009.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia.
Fuad MF. 2012. Pengembangan metode analisis dextromethorphan HBr dan
diphenhydramine HCl dalam sediaan obat batuk cair secara UPLC [skripsi].
Bogor (ID): Universitas Pakuan.
Harmita. 2004. Petunjuk pelaksanaan validasi metode dan cara perhitungannya.
Majalah Ilmu Kefarmasian (1):117-135.
Octaviani T, Any G, Hari S. 2014. Penetapan kadar -karoten pada beberapa jenis
cabe dengan metode spektrofotometri tampak. Pharmaciana. 4(2): 101-109.
Potter NN, JH Hotchkiss. 1996. Food Science 5th ED. New Delhi (IN): CBS
Publishers and Distribution.
Safitri M. 2007. Metode cepat penentuan simultan kadar kafein vitamin B2 dan B6
dalam minuman berenergi dengan teknik zero-crossing [skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Sugihartini N, Achmad F, Suwidjiyo P, Sismindari. 2014. Validasi metode analisa
penetapan kadar epigalokatekin galat dengan Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi. Pharmaciana. 4(2): 111-115.
Sukarno S. 2011. Pengembangan dan validasi metode analisis penetapan kadar
vitamin A dalam minyak goreng sawit secara Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sumardjo D. 2006. Pengantar Kimia Kedokteran. Jakarta (ID): Kedokteran EGC.

15

LAMPIRAN
Lampiran 1 Struktur organisasi Balai Besar Industri Agro

BALAI BESAR INDUSTRI AGRO

Bagian Tata Usaha

Subbagian
Program dan
Pelaporan

Subbagian
Keuangan

Subbagian
Kepegawaian

Bidang Pelayanan
Jasa Teknik

Seksi
Pemasaran

Subbagian
Umum

Bidang Pengujian
Sertifikasi dan
Kalibrasi

Bidang Riset dan


Standardisasi

Seksi Sarana Riset


Industri Pangan

Seksi
Kerjasama
Seksi
Informasi

Seksi Sarana Riset


Industri Non Pangan
Seksi
Standardisasi

Kelompok
Jabatan
Fungsional

Bidang
Pengembangan
Kompetisi dan Ahli
Teknologi

Seksi
Pengujian

Seksi
Konsultasi

Seksi
Sertifikasi

Seksi Pelatihan
Teknis

Seksi
Kalibrasi

Seksi Alih
Teknologi dan
Inkubasi

16

Lampiran 2 Diagram alir uji

contoh susu
ditimbang
sebanyak 5 g

dinginkan pada
suhu ruang

ditambahkan 2.5
mL asam asetat
glasial 95%

dianalisis
kromatogramnya

dimasukkan dalam
Erlenmeyer 100
mL bertutup asah

dipanaskan
selama 2 jam
dengan water bath

dihomogenkan
dan dinginkan
pada suhu ruang

diinjeksikan ke alat
UPLC masingmasing 1 L

ditambahkan 10
mL etanol

dihomogenkan

ditambahkan
etanol: THF
(1:1)

dimasukkan ke
dalam vial 1.5 mL

dihomogenkan

ditambahkan 2.5
mL KOH 50 %

dihomogenkan

dibiarkan
semalam

Lampiran 3 Hasil uji Linearitas


No Larutan
Standar

Volume
Standar
(mL)

1
2
3
4
5
Standar Kerja
Slope
Intersept
R2

0.10
0.20
0.50
1.00
2.00
0.50

Konsentrasi
standar
vitamin A
(IU/g)
0.0210
0.0420
0.1050
0.2100
0.4200
2.1000

Volume
Injeksi (L)

Waktu
Retensi
(Menit)

Luas Area
(V*sec)

1
1
1
1
1
1

3.145
3.126
3.132
3.132
3.119
3.146

576.005
1136.005
2862.874
5625.224
11158.365
56871.838
2 .71 x 104
-4.52 x 101
0.99983

Contoh Perhitungan
Bobot larutan standar stok: 0.0105 g
1 g = 500000 IU
Kandungan vitamin A yang terdapat pada standar stok
0.0105 g = 500000 IU 0.0105 g = 5250 IU
Karena satuan kandungan vitamin adalah IU/mL maka:
Kandungan vitamin A standar stok =

5250 IU
Volume (mL)
5250 IU

=
50 mL
= 105 IU/mL

17

Lanjutan Lampiran 3
Standar baku vitamin A diencerkan ke dalam labu ukur 25 mL maka:
Kandungan vitamin a pada standar kerja:
V1 N1 = V2 N2
0.50 mL 105 IU/mL = 25 mL N2
IU

N2 =

105 mL 0.50 mL

25 mL
= 2.10 IU/mL

Standar kerja diencerkan ke dalam labu ukur 10 mL maka:


Kandungan vitamin a pada standar 1:
V1 N1 = V2 N2
0.10 mL 2.1000 IU/mL = 10 mL N2
IU

N2 =

2.1000mL x 0.10 mL

10 mL
= 0.021 IU/mL

Lampiran 4 Hasil penetapan keterulangan


No Larutan
Susu Cair
1
2
3
4
5
6
7
8
Rata-Rata
SD

Bobot
Contoh
(g)
5.0223
5.0005
5.0371
5.0559
5.0164
5.0038
5.0225
5.0437

Volume Volume
Akhir
injeksi
(mL)
(L)
25
1
25
1
25
1
25
1
25
1
25
1
25
1
25
1

Waktu
retensi
(menit)
3.120
3.125
3.119
3.119
3.125
3.122
3.116
3.111

Luas
Area
(V*sec)
3300
2944
3588
3212
3651
3598
3500
3189

% RSD Horwitz

% RSD
% Ketelitian

Kandungan
Vitamin A
(IU/g)
0.615
0.552
0.666
0.595
0.680
0.672
0.651
0.592
0.628
0.046
12.70
7.36
92.68

Contoh Perhitungan
Kandungan Vitamin A =

x V Contoh

Bobot Contoh
Kandungan Vitamin A dalam susu cair 1
Kandungan Vitamin A =

3300+45.2
27010

25 mL

5.0223
= 0.615 IU/g

1
1

18

Lanjutan Lampiran 4
Rata-Rata kandungan vitamin a pada larutan contoh

5.023
=
8
= 0.628 IU/g
Standar Deviasi:
( )2
= =1
1

= 0.046
Ketelitian:
Ketelitian = (1

= (1

100%

0.046
0.628

) 100%

= 92.68 %
% RSD:
SD
% RSD = 100 %
X
0.046
=
100%
0.628
= 7.36 %

Menghitung % RSD Horwitz:


Kadar vitamin A rata-rata = 0.628 IU/g
1 IU setara dengan 0.500 g
Maka kadar vitamin A dalam susu:
0.628 x 0.500= 0.314 g/g
3.454 x 10-7 g/g (fraksi konsentrasi = C)
2
1 0.5 log
% RSD Horwitz = 2

3
7
2
1 0.5 log 3.14 10
=2
3
=12.70%

19

Lampiran 5 Hasil penetapan ketertiruan


80000.000
y = 28624x + 27.1
70000.000
R = 0.99999
60000.000
50000.000
40000.000
30000.000
20000.000
10000.000
0.000
0.0000 0.5000 1.0000 1.5000 2.0000 2.5000

Luas Area
(V*sec)
679.207
1387.792
3351.285
6709.326
13467.392
67003.262
28600
27.1
0.999999

No Larutan
Susu Cair

Bobot
Contoh (g)

Waktu retensi
(menit)

5.0463
5.0051
5.0092
5.0069
5.0220
5.0102
5.0030
5.0298

4.219
4.223
4.164
4.232
4.189
4.200
4.197
4.151

1
2
3
4
5
6
7
8
Rata-Rata
SD
% RSD
% RSD Horwitz
% Ketelitian

Luas Area

Konsentrasi
(IU/g)
0.023
0.047
0.117
0.234
0.468
2.340
Slope
intersept
R2

Konsentrasi (IU/g)

Kurva Standar

Luas
Area
(V*sec)
3578
3320
3649
3515
3590
3527
3567
3611

Kandungan
Vitamin A
(IU/g)
0.614
0.575
0.631
0.608
0.620
0.610
0.618
0.622
0.612
0.017
2.78
12.75
97.22

Contoh Perhitungan
Kandungan Vitamin A =

V Contoh

Bobot Contoh
Kandungan Vitamin A dalam susu cair 1
357827.1
1
Kandungan Vitamin A =
25 mL
28600
1
5.0463
= 0.614 IU/g
Rata-Rata kandungan vitamin A pada larutan contoh

=

4.898
=
8
= 0.612 IU/g

20

Lanjutan Lampiran 5
Standar Deviasi:
=1( )2
1
= 0.017

Ketelitian:

) 100%

0.612
= (1
) 100%

= (1

0.017

= 97.22 %
% RSD:
SD
% RSD = 100 %
X
0.612
=
100%
0.017
= 2.78%

Menghitung % RSD Horwitz:


Kadar vitamin A rata-rata = 0.612 IU/g
1 IU setara dengan 0.500 g
Maka kadar vitamin A dalam susu:
0.612 x 0.500 = 0.306 g/g
3.306 x 10-7 g/g (fraksi konsentrasi = C)
2
0.5 log
% RSD Horwitz = 21

3
0.5 log 3.06 x 107
2
1
= 2

3
= 12.75%

21

Lampiran 6 Hasil perbandingan uji T hasil presisi


Keterulangan
1
2
3
4
5
6
7
8
Rata- Rata
SD
Hipotesis
t hitung
t tabel
Simpulan

Kandungan Vitamin A
Analisis 1 (IU/g)
0.615
0.552
0.666
0.595
0.680
0.672
0.651
0.592
0.628
0.046

Kandungan Vitamin A
Analisis 2 (IU/g)
0.614
0.575
0.631
0.608
0.620
0.610
0.618
0.622
0.612
0.017

0.384
2.15
thitung< ttabel, maka hasil analisis ke-1 dengan hasil analisis ke2 tidak terdapat perbedaan yang signifikan

Contoh Perhitungan
Texp

Rataana Rataanb

(n
)2
( 1 + 1 ) x a 1)(SDa +(nb 1)(SDb )
na nb

= 0.384

na +nb 2

22

Lampiran 7 Hasil penetapan akurasi dan perolehan kembali


No Larutan
Susu Cair

Bobot
Contoh
(g)
5.0774
5.0318
5.0677
5.0496
5.0736
5.0686
5.0780
5.0590

1
2
3
4
5
6
7
8
Rata-rata

Waktu
retensi
(menit)
3.119
3.122
3.115
3.131
3.128
3.128
3.112
3.097

Luas
Area
(V*sec)
9081
9127
9067
9076
9078
9095
9173
9019

Kandungan
Vitamin A
(IU/g)
1.660
1.682
1.660
1.667
1.659
1.664
1.675
1.654

Kandungan
%
Teoretis
Recovery
(IU/g)
1.0346
99.75
1.0434
101.05
1.0359
99.63
1.0397
99.93
1.0348
99.63
1.0358
100.02
1.0339
101.27
1.0378
98.86
99.998

Contoh Perhitungan
Kandungan vitamin a pada larutan contoh secara teoretis
Nilai teoretis =

Vs Cs

g
Keterangan:
Vs
: Volume adisi standar yang ditambahkan ke dalam larutan contoh
Cs
: Kandungan vitamin a pada larutan standar stok (IU/mL)
g
: Bobot larutan contoh yang digunakan (g)

Kandungan vitamin A pada larutan contoh 1 secara teoretis


Vs Cs
Nilai teoretis =
g
0.05 mL x 105 IU/mL
=
5.0744 g
= 1.0346 IU/g
% Recovery

CsCC
S

100 %

Keterangan:
Cs
: Kandungan vitamin A dalam spike pada larutan contoh (IU/g)
Cc
: Kandungan vitamin A rata-rata pada larutan contoh (IU/g)
S
: Kandungan vitamin A secara teoretis yang terdapat pada larutan contoh
(IU/g)
Kandungan vitamin A pada larutan contoh susu cair 1

% Recovery =

1.660 0.628

1.0346
= 99.75%

x 100%

23