Anda di halaman 1dari 28

TES DAN KONSELING HIV TERINTEGRASI DI SARANA KESEHATAN / PITC

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 1 of 28 - Pages: 56, 1, 06/27/11 01:17 PM

616.979.2
Ind
TESTESDAN
DAN
TES
KONSELING
KONSELING
DAN KONSELING
HIVHIVTERINTEGRASI
TERINTEGRASI
HIV TERINTEGRASI
DIDISARANA
SARANAKESEHATAN
KESEHATAN
DI SARANA
/ PITC
/ PITC
KESEHATAN / PITC KON
t

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

CATATANKATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

616.979.2
616.979.2
Ind
Ind
t t

616.979.2
Ind
t

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI


PETUGAS KESEHATAN
KONSELING
KONSELING
KONSELING
DAN
DAN
DAN
TES
TESTES
HIV
HIVATAS
HIV
ATASATAS
INISIASI
INISIASI
INISIASI
PETUGAS
PETUGAS
PETUGAS
KESEHATAN
KESEHATAN
KESEHATAN

PEDOMAN PENERAPAN
PEDOMAN
PEDOMAN
PEDOMAN
PENERAPAN
PENERAPAN
PENERAPAN

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI

Direkorat
Jenderal
Pengendalian
Penyakit
dan
Penyehatan
Direkorat
Direkorat
Direkorat
Jenderal
Jenderal
Jenderal
Pengendalian
Pengendalian
Pengendalian
Penyakit
Penyakit
dan
Penyakit
dan
Penyehatan
Penyehatan
dan Penyehatan
Lingkungan,
Kementerian
Kesehatan
RI,
2010RI, 2010
Lingkungan,
Lingkungan,
Lingkungan,
Kementerian
Kementerian
Kementerian
Kesehatan
Kesehatan
Kesehatan
RI,RI,
2010
2010
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 46

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

MODUL
MODUL
BAGI
BAGI
MODUL
PESERTA
PESERTA
BAGI PESERTA
i i i
MODUL
BAGI
PESERTA

Black

Auto

i ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 2 of 28 - Pages: 2, 55, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii

Cyan

Yellow

Komunikasi penyampaian hasil tes HIV Reaktif


Hasil tes menunjukan reaktif, artinya di dalam darah anda ditemukan HIV.
Kecuali dukungan keluarga dan teman, anda juga membutuhkan perawatan medis yang
dapat membantu anda untuk menjaga kesehatan dan hidup lebih lama, meskipun anda
terinfeksi HIV.
Anda perlu berkunjung ke klinik untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan untuk
HIV yang berkelanjutan dan jangka waktu lama.
Saya akan berikan surat rujukan ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan anda secara
berkala dan teratur dan memberitahu mereka bahwa anda mendapat pengobatan TB dan
telah di tes HIV dengan hasil reaktif.
Apabila pasangan anda hamil atau ingin hamil, anda harus sampaikan ke petugas rumah
sakit atau klinik rujukan sehingga mereka akan membahas cara melindungi calon anak anda
agar terhidar dari HIV .
Bila pada saat ini anda belum ingin mengungkapkan status HIV anda kepada orang lain,
maka anda harus jaga surat ini baik baik hingga anda sampaikan ke tangan yang berwenang
di rumah sakit atau klinik rujukan.
Jadi perlu sesegera mungkin anda ke klinik rujukan. Saya berharap anda sudah samapi ke
klinik rujukan sebelum jadwal kunjungan anda yang akan dating. Kita bahas hal ini lagi nanti.

PEDOMAN PENERAPAN

PEDOMAN PENERAPAN

Magenta

Yang mungkin juga anda tahu bahwa HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks
dengan seseorang yang telah terinfeksi. Oleh karena itu anda perlu meminta
pasangan anda untuk tes HIV juga.
Apabila pasangan anda tidak mengidap HIV, maka kalau kalian saling setia artinya
tidak berhubungan seks dengan orang lain lagi, maka kalian akan terhindar dari
penularan HIV.
Bila pasangan anda terinfeksi HIV atau anda tidak tahu status dia, atau apabila
anda memiliki pasanagn lebih dari satu anda dapat melindungi diri anda dari
penularan HIV dengan cara:
* tidak berhubungan seks hingga pasangan anda di tes dan ketahuan hasilnya
* atau menggunakan kondom secara benar setiap kali berhubungan seks.
Kami menyediakan kondom di klinik dan anda boleh ambil seperlunya. Anda juga
bisa mendapatkan kondom di klinik KTS ....
Ini ada informasi tempat pasangan anda dapat melakukan tes HIV dan cara
melindungi diri dari penularan HIV
Saya berharap anda akan memabwa pasangan anda untuk tes HIV pada kunjungan
yang akan datang. Kita akan bahas lagi pada kunjungan anda mendatang.

Black

45

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 3 of 28 - Pages: 54, 3, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Magenta

Yellow

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama


NIP 195509031980121001

PEDOMAN PENERAPAN

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

ii 44

Peningkatan epidemi HIV telah terjadi di Indonesia sejak 10 tahun terakhir ini. Penularan
terutama terjadi akibat penggunaan jarum suntik bersama pada pengguna narkotika suntikdan hubungan seks. Hasil Pemodelan epidemi di Indonesia memproyeksikan jumlah ODHA
usia 15-49 tahun dari 277,700 pada tahun 2008 akan meningkat menjadi 501,400 pada tahun
2014. Hasil tersebut dengan asumsi bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari upaya
pengendalian HIV dan AIDS pada kurun waktu tersebut.
Pengobatan dengan ARV di Indonesia yang didukung oleh dana pemerintah sejak tahun
2005 telah berhasil menurunkan kematian ODHA dari 46% pada tahun 2006 menjadi 17%
pada tahun 2008. Jelas bahwa upaya percepatan perluasan cakupan pengobatan ARV dengan
pendekatan kesehatan masyarakat telah memberikan dampak pada peningkatan kualitas
hidup ODHA. Tetapi sebagian ODHA masih belum terjangkau oleh pengobatan tersebut.
Tantangan yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya cakupan orang yang mengetahui
status HIV-nya, sehingga menghambat upaya untuk meningkatkan akses terhadap layanan
pencegahan maupun pengobatan. Oleh karenanya layanan yang memfasilitasi ODHA untuk
mengetahui status infeksinya harus terus ditingkatkan, diantatanya adalah dengan layanan
konseling dan tes HIV atas inisiasi petugas kesehatan pada pasien yang datang ke rumah sakit
dengan gejala dan tanda klinis terkait dengan HIV.
Pedoman ini disusun melalui adaptasi dari pedoman PITC WHO, dan kontribusi IDI
untuk memberikan panduan bagi petugas kesehatan dalam memberikan layanan konseling
dan tes HIV yang harus tetap menjunjung tinggi azas "3 C" yaitu dengan mendapatkan
pesetujuan pasien (informed consent), menjaga konfidensialitas (confidentiality), dan disertai
dengan konseling pasca tes yang memadai (counselling), dan tidak terjebak ke dalam tes HIV
mandatory.
Penghargaan kepada tim penyusun dan para kontributor yang telah memberikan
sumbang saran sehingga pedoman ini dapat diterbitkan.
Semoga pedoman ini dapat bermanfaat.
Direktur Jenderal PP & PL,

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Hasilpanduan
tes kali ini
inidan
adalah
reaktif,
yang
artinya
bahwa
tubuhkegiatan
anda tidak
penyusunan
juganon
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah dalam
mendukung
ini.
ditemukan antibody HIV.
Namun demikian, ada kemungkinan meskipun kecil bahwa tes yang dilakukan tidak
IDI
mampu mendeteksi infeksi yang baru terjadi. OlehKetua
karenaUmum
itu sayaPBsarankan
anda
menjalani tes ulang 6 minggu lagi di klinik KTS terdekat ____ (sebut klinik KTS
terdekat yang ada). Petugas klinik KTS juga dapat memberikan informasi lebih rinci
agar anda dapat bertahan tetap non reaktif.
Sementari waktu ini, HIV sudah banyak di masyarakat.
Anda perlu Sp.Rad(K)
mecegah dan
Dr. Prijo Sidipratomo,
menjaga diri agar tidak tertular di masa datang.

KON

KATA PENGANTAR

KETUA
UMUM
PB IDI
untukKATA
melawanPENGANTAR
penyakit. Dengan tes
HIV kita dapat
mengetahui
apakah anda telah
terinfeksi virus HIV. Tes HIV adalah tes sederhana yang akan memperjelas diagnosis penyakit
anda.diSetelah
adaadalah
hasil tes
kamisatu
akanmasalah
berikankesehatan
layanan konseling
Masalah
HIV AIDS
Indonesia
salah
nasionaluntuk
yang
membahas
lebih
dalam
tentang
HIV
dan
penyakit-penyakit
yang
terkait.
Apabila
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
hasildites
nya reaktif,
kami akanlonjakan
beri informasi
dan layananHal
untuk
menanganiperhatian
penyakit
kasus AIDS
Indonesia
mengalami
yang bermakna.
ini menuntut
tersebut.
Yaitu
meliputi
terapi
dengan
obat
ARV
dan
obat
lain
untuk
mengatasi
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
penyakit
kamilayanan
akan bantu
anda adalah
untuk mengungkapkan
status
anda
pasien HIV
AIDS. yang
Salahada.
satuJuga
bentuk
tersebut
konseling dan tes
HIV yang
guna
mencegah
penularan
ke
orang
lain.
Bila
hasilnya
non
reaktif,
maka
akan
kami
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
arahkan
anda
mendapat
layanan
yang yang
dapatdihadapi
membantu
mendapatkan
terapi
danuntuk
menangani
berbagai
masalah
oleh upaya
pasien.anda agar
dapat tetap non reaktif.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Dengan alasan
tersebut
kami anjurkan
anda untukyang
menjalani
konseling
dan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV maka
Counselling
and Testing/VCT),
dilakukan
di sarana
tes
HIV.
Apabila
anda
setuju
maka
tes
akan
kami
lakukan.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Komunikasi
untuk meyakinkan
jaminan
konfidensialitas
Jumlah cakupan
layanan tersebut
masih
tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam
deteksi
menjadioleh
semakin
pentingdan
karena
banyak
ODHA
yang
Hasil melakukan
tes anda hanya
akanHIV
diketahui
anda sendiri
tim medis
yang
merawat
membutuhkan
layananbahwa
medishasil
dan tes
belum
diketahui
status
HIV-nya.
Layanan PITC
(Provider
anda. Artinya
andan
akan kami
jamin
kerahasiaannya,
dan kebijakan
Initiatedsarana
Testing
Counselling)
danlainmempercepat
diagnosis,
kamiand
bahwa
mengunkapmemudahkan
hasil tes ke orang
tanpa seizing anda
adalah
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
pelanggaran. Anda sendiri yang akan memutuskan kepada siapa hasil tes
anda
HIV yangakan
tinggi.
diungkap.
Oleh
karena
itu siap
Organisasi
Kesehatan
IBI,anda
PPNI,masih
ISFI, perlu
IAKMI)waktu
membantu
Apakah anda
untuk Profesi
menjalani
tes HIV?(IDI,
Atau
untuk
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
membahas lebih lanjut tentang arti hasil tes reaktif atau non reaktif bagi anda?
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Komunikasi
penyampaian
hasilpelayanan
tes HIV Non
Reaktif
diskriminasi
tidak
lagi ada dalam
kesehatan.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 4 of 28 - Pages: 4, 53, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA
KATAPENGANTAR
PENGANTARKETUA
KETUAUMUM
UMUMPB
PBIDI
IDI
Masalah
MasalahHIV
HIVAIDS
AIDSdidiIndonesia
Indonesiaadalah
adalahsalah
salahsatu
satumasalah
masalahkesehatan
kesehatannasional
nasionalyang
yang
memerlukan
memerlukanpenanganan
penangananbersama
bersamasecara
secarakomprehensif.
komprehensif.Sejak
Sejak1010tahun
tahunterakhir,
terakhir,jumlah
jumlah
kasus
kasusAIDS
AIDSdidiIndonesia
Indonesiamengalami
mengalamilonjakan
lonjakanyang
yangbermakna.
bermakna.Hal
Haliniinimenuntut
menuntutperhatian
perhatian
semua
semuapihak,
pihak,terutama
terutamapara
paratenaga
tenagakesehatan
kesehatanyang
yangmemberikan
memberikanlayanan
layanankesehatan
kesehatanbagi
bagi
pasien
pasienHIV
HIVAIDS.
AIDS.Salah
Salahsatu
satubentuk
bentuklayanan
layanantersebut
tersebutadalah
adalahkonseling
konselingdan
dantestesHIV
HIVyang
yang
bertujuan
bertujuan
tidak
tidak
hanya
hanya
untuk
untuk
menegakkan
menegakkan
diagnosis
diagnosis
namun
namun
juga
juga
memberikan
memberikan
konseling
konseling
untuk
untuk
mendapatkan
mendapatkanterapi
terapidan
danmenangani
menanganiberbagai
berbagaimasalah
masalahyang
yangdihadapi
dihadapioleh
olehpasien.
pasien.
Layanan
Layanantestesdan
dankonseling
konselingHIV
HIVsaat
saatiniinimasih
masihdilakukan
dilakukandalam
dalambentuk
bentukKonseling
Konselingdan
dan
Tes
TesHIV
HIVSukarela
Sukarela(Voluntary
(VoluntaryHIV
HIVCounselling
Counsellingand
andTesting/VCT),
Testing/VCT),yang
yangdilakukan
dilakukandidisarana
sarana
kesehatan
kesehatan(RS,
(RS,Puskesmas
Puskesmasdan
danKlinik)
Klinik)maupun
maupundidiLSM
LSMpeduli
peduliAIDS.
AIDS.Hingga
Hinggatahun
tahun2008
2008telah
telah
terdapat
terdapat468
468pusat
pusatlayanan
layananuntuk
untukVCT
VCTdidi133
133kabupaten/kota
kabupaten/kotadidiseluruh
seluruhIndonesia.
Indonesia.
Jumlah
Jumlahcakupan
cakupanlayanan
layanantersebut
tersebutmasih
masihtergolong
tergolongrendah
rendahuntuk
untukmenjangkau
menjangkaupopulasi
populasi
berisiko
berisikodan
danmengetahui
mengetahuistatus
statusHIV
HIVmereka.
mereka.Peran
Perantenaga
tenagakesehatan
kesehatan(dokter,
(dokter,perawat
perawatdan
dan
bidan)
bidan)dalam
dalammelakukan
melakukandeteksi
deteksiHIV
HIVmenjadi
menjadisemakin
semakinpenting
pentingkarena
karenabanyak
banyakODHA
ODHAyang
yang
membutuhkan
membutuhkanlayanan
layananmedis
medisdan
danbelum
belumdiketahui
diketahuistatus
statusHIV-nya.
HIV-nya.Layanan
LayananPITC
PITC(Provider
(Provider
Initiated
InitiatedTesting
Testingand
andCounselling)
Counselling)memudahkan
memudahkandan
danmempercepat
mempercepatdiagnosis,
diagnosis,
penatalaksanaan,
penatalaksanaan,dan
dansudah
sudahberkembang
berkembangluas
luasdidisejumlah
sejumlahnegara
negaradengan
dengantingkat
tingkatepidemi
epidemi
HIV
HIVyang
yangtinggi.
tinggi.
Oleh
Olehkarena
karenaituituOrganisasi
OrganisasiProfesi
ProfesiKesehatan
Kesehatan(IDI,
(IDI,IBI,
IBI,PPNI,
PPNI,ISFI,
ISFI,IAKMI)
IAKMI)membantu
membantu
Kementerian
Kementerian
Kesehatan
Kesehatan
menyusun
menyusun
panduan
panduan
ringkas
ringkas
untuk
untuk
membantu
membantu
tenaga
tenaga
kesehatan
kesehatan
dalam
dalam
melakukan
melakukankonseling
konselingdan
dantestesHIV
HIVbagi
bagiklien
klienatau
ataupasien.
pasien.Kami
Kamiberharap
berharapmelalui
melaluipanduan
panduanini,ini,
tenaga
tenagakesehatan
kesehatantidak
tidakakan
akanragu
ragudalam
dalammendorong
mendorongpasien
pasienuntuk
untuktestesHIV
HIVsehingga
sehinggastigma/
stigma/
diskriminasi
diskriminasitidak
tidaklagi
lagiada
adadalam
dalampelayanan
pelayanankesehatan.
kesehatan.
Kami
Kamiucapkan
ucapkanterima
terimakasih
kasihkepada
kepadasemua
semuapihak
pihakyang
yangtelah
telahberkontribusi
berkontribusidalam
dalam
penyusunan
penyusunanpanduan
panduaniniinidan
danjuga
jugakepada
kepadapihak
pihakGF-ATM
GF-ATMyang
yangtelah
telahmendukung
mendukungkegiatan
kegiatanini.ini.

KON

Komunikasi untuk pasien TB


Ada masalah penting yang ingin kita bahas hari ini. Orang dengan TB biasanya juga
cenderung terinfeksi HIV. Ternyata HIV menjadi penyakit dasar sehingga orang
mudah terinfeksi oleh TB. Hal tersebut disebabkan karena orang yang hidup dengan
HIV tidak mampu melawan penyakit sekuat orang yang tidak tierinfeksi HIV.
Bila anda mengidap kedua infeksi TB dan HIV, dapat menjadi berat dan kadangkadang sangat parah bila tidak terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tepat
secara dini. Obat untuk HIV tersedia dan dapat membantu anda merasa lebih sehat
dan hidup lebih lama.
Dan apabila kami tahu bahwa anda terinfeksi HIV maka kami dapat memberikan
pengobatan TB dengan lebih baik.
HIV adalah virus atau kuman yang merusak bagian yang diperlukan tubuh anda
untuk melawan penyakit. Dengan tes HIV kita dapat mengetahui apakah anda telah
terinfeksi virus HIV. Tes HIV adalah tes sederhana yang akan memperjelas diagnosis penyakit anda. Setelah ada hasil tes kami akan berikan layanan konseling untuk
membahas lebih dalam tentang HIV dan penyakit-penyakit yang terkait. Apabila
hasil tes nya reaktif, kami akan beri informasi dan layanan untuk menangani penyakit
tersebut. Yaitu meliputi terapi dengan obat ARV dan obat lain untuk mengatasi
penyakit yang ada. Juga kami akan bantu anda untuk mengungkapkan status anda
guna mencegah penularan ke orang lain. Bila hasilnya non reaktif, maka akan kami
arahkan anda untuk mendapat layanan yang dapat membantu upaya anda agar
dapat tetap non reaktif.
Dengan alasan tersebut maka kami anjurkan semua pasien TB untuk menjalani tes
HIV. Maka dari itu kami sarankan juga anda untuk menjalani konseling dan tes HIV.
Apabila anda setuju maka tes akan kami lakukan.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen
Komunikasi untuk pasien IMS

Ketua
KetuaUmum
UmumPBPBIDIIDI

Dr.Dr.Prijo
PrijoSidipratomo,
Sidipratomo,Sp.Rad(K)
Sp.Rad(K)

ii ii

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Orang yang menderita penyakit infeksi menular secara seksual atau IMS juga
cenderung terinfeksi HIV. Hal tersebut karena IMS tertentu mempermudah
terjadinya infeksi HIV.
Bila anda hidup dengan HIV maka anda perlu mengetahuinya. Pengobatan untuk
HIV sudah tersedia dan dapat membantu anda hidup lebih sehat dan lebih lama.
HIV adalah virus atau kuman yang merusak bagian yang diperlukan tubuh anda
PEDOMAN PENERAPAN

Black

43

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 5 of 28 - Pages: 52, 5, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

LAMPIRAN 3:KATA
ContohPENGANTAR
Komunikasi Penawaran
tes HIV
KETUA
UMUM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

PB IDI

Tes HIV dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan untuk tujuan Diagnostik tanpa
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memandang tingkat epidemi
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
"Anda mengalami limfadenopati; kita ingin mencari tahu penyebabnya. Agar kami
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit anda, maka anda perlu menjalani tes
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
TB dan HIV, oleh karena itu kami akan melaksanakan tes tersebut kecuali jika anda
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
tidak bersedia
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV dan Konseling atas Inisiasi Petugas Kesehatan sebagai prosedur rutin di daerah
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
dengan epidemic yang meluas
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat Salah
468 pusat
untuk
VCT disakit
133 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
satu layanan
kebijakan
di rumah
kami adalah memberikan
kesempata kepada
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih
tergolong
rendah
untuk
menjangkau
populasi
semua pasien untuk menjalani tes HIV sehingga anda akan mendapatkan perawatan
berisiko dan
mengetahui
status
HIV mereka.
Peran
tenagalanjuti
kesehatan
(dokter,
perawat
dan
selagi
anda dirawat
di sarana
kami dan
menindak
dengan
merujuk
ke sarana
bidan) dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
yang lebih kompeten setelah anda pulang nanti. Oleh karena itu kami sarankan
membutuhkan
layanantes
medis
belumanda
diketahui
status
HIV-nya.
Layanan
PITC (Provider
anda untuk
HIV.dan
Apabial
setuju
maka
kami akan
lakukan
tes dan
Initiatedmemberikan
Testing and
Counselling)
memudahkan
konseling
tentang hasilnya
nanti. dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Informasi Pra Tes
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
HIVkonseling
adalah virus
atau
yang
merusak
yang diperlukan
tubuh anda
melakukan
dan tes
HIVkuman
bagi klien
atau
pasien.bagian
Kami berharap
melalui panduan
ini,
untuk
melawan
penyakit.
Dengan
tes
HIV
kita
dapat
mengetahui
apakah
anda
telah
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
terinfeksi
virusada
HIV.
Tes HIV
adalah tes
sederhana yang akan memperjelas diagnodiskriminasi
tidak lagi
dalam
pelayanan
kesehatan.
sis penyakit anda. Setelah ada hasil tes kami akan berikan layanan konseling untuk
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
membahas lebih dalam tentang HIV dan penyakit-penyakit yang terkait. Apabila
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
hasil tes nya reaktif, kami akan beri informasi dan layanan untuk menangani penyakit
tersebut. Yaitu meliputi terapi dengan obat ARV dan obat lain untuk mengatasi
penyakit yang ada. Juga kami akan bantu anda untuk
mengungkapkan
Ketua
Umum PB IDIstatus anda
guna mencegah penularan ke orang lain. Bila hasilnya non reaktif, maka akan kami
arahkan anda untuk mendapat layanan yang dapat membantu upaya anda agar
dapat tetap non reaktif

TIM EDITOR

DAFTAR KONTRIBUTOR

Masna Pita, SKM


Dr. Sri Pandam Pulungsih, MSc
Dr. Ayie Sri Kartika
Nurjannah, SKM, M.Kes

Arta Saragi
Dr. Artini
Dr. Asik Surya, MPPM
Dr. Ayie Sri Kartika
Dr. Bambang Subagyo, SpPD, MM
Dr. Dasril Nizam
Dr. Diah Setia Utami, SpKJ
Dr. Ekarini, SpOG
Dr. Endang Budi Hastuti
Dr. Endang Lukitosari
Dr. Endang P., M.Epid
Dr. Ervina Luki Damayanti
Dr. Euis Maryani
Kekek Apriana
Komaria Siregar, SKM, M.Epid
Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi
Dr. Maryono
Masna Pita, SKM
Nelly Yardes
Dra. Neni Nuraini, M.Kes
Dr. Nirmala Kesumah, MHA
Nurjannah, SKM, M.Kes
Dr. Pandu Riono, MPH, PhD
Dr. Ratna Mardiati, SpKJ
Dr. Ronald Jonathan
Dr. Rudi Rusli
Dr. Sri Pandam Pulungsih, MSc
Prof. DR. Sudarto Ronoatmodjo, MPH

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 42

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

iii

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 6 of 28 - Pages: 6, 51, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATADAFTAR
PENGANTAR
KETUADAN
UMUM
PB IDI
SINGKATAN
ISTILAH
Masalah
AIDS di Indonesia
adalahepidemi
salah satu
kesehatan
nasional
yang
Low-level
HIVHIV
epidemis
Tingkatan
HIVmasalah
yang rendah,
dengan
prevalensi
memerlukan penanganan bersama
secara
komprehensif.
Sejak
10 tahun
terakhir,
jumlah
secara
tetap
tidak pernah
lebih
dari 5%
yang terbatas
kasus AIDS di Indonesia mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
pada kelompok tertentu yang berperilaku berisiko seperti
semua pihak, terutama para tenaga
kesehatan
yang memberikan
penjaja
seks komersial,
penasun,layanan
LSL. kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Concentrated
HIV epidemis
Tingkatan
epidemi
HIV terkonsentrasi
dengan
prevalensi
bertujuan
tidak hanya
untuk menegakkan
diagnosis
namun
juga memberikan
konseling
untuk
lebih
dari
5%
secara
tetap,
namun
terbatas
pada
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
kelompok tertentu yang berperilaku berisiko seperti
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
penjaja seks komersial, penasun, LSL, namun prevalensi
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
masih kurang dari 1% pada ibu hamil di daerah perkotaan.
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Generalized
HIV epidemis
HIV meluas
di masyarakat
terdapat
468 pusat
layanan untukTingkatan
VCT di 133epidemi
kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia. umum,
sebagai
proksi
dinyatakan
apabila
ditemukan
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkauprevalensi
populasi
lebih
dari
1%
secara
menetap
pada
kelompok
ibu
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawathamil.
dan
bidan)
dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
ANC
Ante Natal Care (lihat KIA)
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
ART
Antiretroviral
Therapynegara
- Terapi
HIVtingkat
dengan
obat
penatalaksanaan,
dan sudah berkembang
luas di sejumlah
dengan
epidemi
Antiretroviral
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Kementerian
Profesi Kesehatan
(IDI, IBI,Republik
PPNI, ISFI,
IAKMI) membantu
KEMENKES
Kesehatan
Indonesia
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
HIV
Human Immunodeficiency Virus
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
IMS kesehatan tidak akan raguInfeksi
secara
Seksual
tenaga
dalam Menular
mendorong
pasien
untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
KIA
Kesehatan Ibu dan Anak (lihat ANC)
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
KTS - VCT
Konseling dan Tes HIV secara Sukarela (lihat juga VCT)
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
ODHA
Orang Dengan HIV/ AIDS

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

Gambar 6. Kandidiasis dengan kheilitis angularis

me
kas
sem
pas
ber
me
Gambar 7. Herpes Zoster

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Gambar 8. Oral Hairy Leucoplakia

Kem
me
ten
dis

pen
Gambar 9. Genital warts / kutil kelamin

PDP

Perawatan Dukungan dan Pengobatan HIV


Ketua Umum PB IDI
Provider Initiated HIV Testing and Counselling - Layanan
Tes dan konseling HIV terintegrasi di sarana kesehatan,
yaitu tes dan konseling HIV di inisiasi oleh petugas
kesehatan ketika pasien mencari layanan kesehatan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

PITC

ii iv

Cyan

PEDOMAN PENERAPAN

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Black

41

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 7 of 28 - Pages: 50, 7, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Gambar 3. Herpez
zoster
labialis PB IDI
KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat
layanan
untukintraoral
VCT di 133
kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
Gambar
4. Ulkus
akibat
infeksi sitomegalovirus/CMV
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Gambar
Kandidiasis
Kami ucapkan terima kasih
kepada5.semua
pihak oral
yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

PMTCT

Prevention on Mother to Child Transmission

SDM

Sumber Daya Manusia

TB

Tuberkulosis

three C

Azas dalam penyelenggaraan konseling dan tes HIV yang


harus selalu diterapkan. Tes HIV hanya akan dilaksanakan
setelah mendapatkan informed consent dari klien,
disertai dengan counselling terutama pada saat
pemberian hasil tes HIV dan dengan menjaga confidentiality (hasil tes tidak akan diungkapkan kepada orang lain
yang tidak terkait dengan perawatan klien tanpa seizin
klien).

UNAIDS

Joint United Nations Programme on HIV and AIDS

UNGASS

United Nation General Assembly Special Session

VCT - KTS

HIV Voluntary Counselling and Testing (lihat juga KTS)

WHO

World Health Organization - Organisasi Kesehatan


Sedunia

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 40

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 8 of 28 - Pages: 8, 49, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI

DAFTAR ISI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan
penanganan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah i
KATA PENGANTAR
....................................................................................................
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI ................................................................. ii
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
TIM EDITOR
...........................................................................................................
pasien
HIV AIDS.
Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yangiii
DAFTARtidak
KONTRIBUTOR
.........................................................................................
bertujuan
hanya untuk menegakkan
diagnosis namun juga memberikan konseling untukiii
mendapatkan
terapi danDAN
menangani
berbagai
masalah yang dihadapi oleh pasien.
DAFTAR SINGKATAN
ISTILAH
..........................................................................
iv
Layanan
tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling danvi
DAFTAR
ISI ............................................................................................................
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
BAB I. PENDAHULUAN
...........................................................................................
kesehatan
(RS, Puskesmas dan
Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah 1
A. 468
LATAR
BELAKANG
.............................................................................................
1
terdapat
pusat
layanan untuk
VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
B. TUJUAN
DANlayanan
SASARAN
....................................................................................
Jumlah
cakupan
tersebut
masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi 3
Tujuan Umum
berisiko dan1.mengetahui
status...........................................................................................
HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan 3
2. melakukan
Tujuan Khusus
...........................................................................................
bidan) dalam
deteksi
HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang 3
3.
Sasaran
......................................................................................................
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider 4
4. Ruangand
Lingkup...........................................................................................
Initiated Testing
Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis, 4
C. TERMINOLOGI
..................................................................................................
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi 4
HIV yang tinggi.
BAB II. PENERAPAN PITC DI BERBAGAI TINGKAT EPIDEMI ...................................... 5
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
A. PENERAPAN
PADApanduan
SEMUAringkas
JENIS EPIDEMI
...............................................
Kementerian
Kesehatan PITC
menyusun
untuk membantu
tenaga kesehatan dalam 6
B. PENERAPAN
PITC
MELUAS
melakukan
konseling dan
tes DI
HIVDAERAH
bagi klienEPIDEMI
atau pasien.
Kami..............................................
berharap melalui panduan ini, 6
PENERAPAN
EPIDEMI
TERKONSENTRASI
ATAU
TINGKAT
RENDAH
...............
tenagaC.
kesehatan
tidakPITC
akanDIragu
dalam
mendorong pasien
untuk
tes HIV
sehingga
stigma/ 7
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
BAB III. LINGKUNGAN YANG KONDUSIF ................................................................. 8
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
BAB IV. PROSES
PITC
DANjuga
UNSUR
PENDUKUNGNYA
..............................................
penyusunan
panduan
ini dan
kepada
pihak GF-ATM yang
telah mendukung kegiatan ini. 9
A. INFORMASI PRA-TES HIV DAN PERSETUJUAN PASIEN ..................................... 9
1. Informasi minimal sebelum tes HIV ......................................................... 9
Ketua Umum PB IDI
2. Perhatian khusus bagi perempuan hamil .............................................. 10
3. Perhatian khusus bagi bayi, anak dan remaja ....................................... 10
4. Pasien dengan penyakit berat................................................................ 10
5. Penolakan untuk menjalani tes HIV ....................................................... 10
B. KONSELING PASCA-TES HIV ............................................................................
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) 11
1. Konseling hasil tes HIV negatif ............................................................... 11

ii vi

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

LAMPIRAN 2: Gambar Gejala-gejala yang berhubungan dengan HIV/AIDS


(sumber: Modul Pelatihan CST; www.aids-images.ch)

me
kas
sem
pas
ber
me

Gambar 1. Pruritic Papular Eruption

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Gambar 2. Gambaran foto toraks TB paru pada ODHA


(perhatikan infiltrat tidak khas seperti pada pasien non HIV)

Kem
me
ten
dis

pen

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

39

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 9 of 28 - Pages: 48, 9, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

StadiumKATA
klinis 4 PENGANTAR

KETUA UMUM PB IDI

Wasting yang tidak diketahui penyebabnya, stunting atau malnutrisi berat yang
Masalah
HIV AIDS di respon
Indonesia
adalahpengobatan
salah satu masalah
kesehatan
nasional
yang
tidak memberikan
terhadap
malnutrisi
sesuai dengan
standar
memerlukan
penanganan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
dari IDAI
(?)
kasus AIDS
di
Indonesia
mengalami
lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
Pneumocystis pneumonia
semuapihak,
kesehatan
yang :memberikan
layanan kesehatan
bagi
Infeksiterutama
bacteria para
berattenaga
yang berulang
(contoh
empyema, pyomyositis,
Infeksi pada
pasien HIV
AIDS.atau
Salah
satu bentuk
layanan tersebut
konseling
dan tes HIV yang
tulang
persendian,
meningitis,tetapi
tidakadalah
termasuk
pneumonia)
bertujuan
tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling untuk
Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus lebih dari 1 bulan lamanya
mendapatkan
terapiorgan
dan menangani
atau pada
visceral ) berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan
tes danextraparu
konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan

Tuberkulosis
Tes HIV
(Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Sukarela
Kaposi sarcoma
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan Klinik)
di bronchi
LSM peduli
Kandidiasis oesophagus
(ataumaupun
trachea,
atauAIDS.
paru)Hingga tahun 2008 telah
terdapat
468 pusat
layanan untuk (CMV)
VCT di 133
kabupaten/kota
di CMV
seluruh
Indonesia.
Infeksi
Cytomegalovirus
retinitis
atau infeksi
infection
pada organ
lain dengan
Jumlah
cakupanonset
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
dan
onset
at age overstatus
1 month
berisiko
mengetahui
HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Toxoplasmosis
SSP HIV
(setelah
periode
neonatal
) karena banyak ODHA yang
bidan)dalam
melakukanpada
deteksi
menjadi
semakin
penting
Kriptokokkus
paru
meningitis)
membutuhkan
layananextra
medis
dan(termasuk
belum diketahui
status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
HIV
encephalopathy
Initiated
Testing
and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Disseminated
endemic
mycosis (extrapulmonary
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang
luas di sejumlahhistoplasmosis,
negara dengancoccidiomycosis)
tingkat epidemi
Chronic
HIV yang
tinggi. cryptosporidiosis (dengan diarrhoea )

Isosporiasis
Oleh karena itukronik
Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu

Disseminated
mycobacteria
Kementerian Kesehatannon-tuberculous
menyusun panduan
ringkas untukinfection
membantu tenaga kesehatan dalam
Cerebral
ataudanB tes
cellHIV
non-Hodgkin
lymphoma
melakukan
konseling
bagi klien atau
pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Progressive
multifocal
leukoencephalopathy
tenagakesehatan
tidak
akan ragu
dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Cardiomyopathy
nephropathy
terkait HIV
diskriminasi
tidak lagi adaatau
dalam
pelayanan kesehatan.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

2. Konseling hasil tes HIV positif ................................................................ 12


3. Konseling pasca-tes bagi ibu hamil ........................................................ 12
C. RUJUKAN KE LAYANAN LAIN YANG DIBUTUHKAN.......................................... 13
D. FREKUENSI TES HIV ........................................................................................ 13
E. TEKNIK TES HIV ............................................................................................... 13
F. PERTIMBANGAN PROGRAM .......................................................................... 14
BAB V. MONITORING DAN EVALUASI .................................................................. 15
A. JAMINAN MUTU LAYANAN ............................................................................ 15
B. SUMBER DAYA MANUSIA ............................................................................... 16
1. Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas ..................................................... 16
2. Perlindungan SDM .................................................................................. 16
3. Mutu Konseling ....................................................................................... 16
4. Mutu Tes HIV........................................................................................... 17
BAB VI. ALUR PENYELENGGARAAN TES HIV DAN KONSELING PETUGAS.............. 18
A. PANDUAN KOMUNIKASI PADA TES HIV DAN KONSELING ATAS PRAKARSA
PETUGAS KESEHATAN .................................................................................... 19
B. PEMERIKSAAN LABORATURIUM MELAKSANAKAN TES CEPAT HIV, INTERPRESTASI
HASIL DAN KONSELING .................................................................................. 32

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

pen

PEDOMAN PENERAPAN

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Kem
me
ten
dis

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Indikasi lain yang mengesankan kemungkinan infeksi:
penyusunan
panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Infeksi menular secara seksual (IMS)
Pasangan atau anak:
diketahui reaktif HIV
Ketua Umum PB IDI
mengidap HIV atau penyakit yang terkait dengan HIV
Kematian pasangan muda yang tidak jelas penyebabnya
Pengguna NAPZA suntikan
Pekerjaan yang berisiko tinggi
Aktif secara seksual dan mempunyai banyak
dan tinggal
di daerah
Dr. mitra
Prijo seksual
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
prevalensi tinggi

ii 38

KON

vii

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 10 of 28 - Pages: 10, 47, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN


KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii viii

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PENGANTAR
KETUA
UMUM
LAMPIRANKATA
1: Tanda
Klinis Kemungkinan
Infeksi HIV

Black

PB IDI

Stadium HIV
klinis
1 di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Masalah
AIDS
memerlukan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
penanganan
Asymptomatic
kasus AIDS diPersistent
Indonesia generalized
mengalami lonjakan
yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
lymphadenopathy
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien Stadium
HIV AIDS.Klinis
Salah
2 satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
juga memberikan
konseling untuk
Hepatosplenomegali
persisten
yang namun
tidak diketahui
penyebabnya
mendapatkan
terapi dan
menangani
berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Papular
pruritic
eruptions
Layanan
tes dan
konseling
HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Infeksi
jamur
pada kuku
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Angular
cheilitisHIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Lineal
gingival
erythema
terdapat 468
layanan
di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
pusat
Extensive
wartuntuk
virus VCT
infection
Molluscum
contagiosum
Jumlah
cakupan layanan
tersebut yang
masihluas
tergolong rendah untuk menjangkau populasi

Ulkus
pada
rongga
mulut
yang
berulang
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Pembesaran
parotidHIV
yang
persisten
yangpenting
tidak diketahui
penyebabnya
(Unexbidan) dalam
melakukan deteksi
menjadi
semakin
karena banyak
ODHA yang
plained
persistent
parotid
enlargement)
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Herpesand
zoster
Initiated Testing
Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Infeksi
atas berulang
media,
otorrhoea,
tonsillitis)
penatalaksanaan,
dansaluran
sudah nafas
berkembang
luas di(otitis
sejumlah
negara
dengansinusitis,
tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Stadium
klinis
Oleh
karena
itu3Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kesehatan
Malnutrisimenyusun
sedang yang
tidakringkas
diketahui
penyebabnya
atau wasting
yang
tidak
Kementerian
panduan
untuk
membantu tenaga
kesehatan
dalam
memberikan
respon
adekuat
terhadap
pengobatan
malnutrisi
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Diare persisten yang tidak diketahui penyebabnya (14 hari atau lebih )
tenaga kesehatan
tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Demam terus menerus yang tidak diketahui penyebabnya (> 37.5 C, intermitdiskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
tent atau constant lebih dari 1 bulan)
Kamiucapkan
terima kasih
kepada
semua
pihak
telah berkontribusi dalam
Oral candidiasis
persisten
(setelah
usia
6 - 8yang
minggu)
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung kegiatan ini.
Oral hairy leukoplakia
Acute necrotizing ulcerative gingivitis atau periodontitis
Tuberculosis pada kelenjar getah bening
Tuberkulosis paru
Ketua Umum PB IDI
Infeksi berulang pneumonia yang disebabkan oleh bakteri
Symptomatic lymphoid interstitial pneumonitis
Penyakit paru terkait HIV termasuk didalamnya bronchiektasi (Chronic HIV-associated lung disease including bronchiectasis )
Unexplained anaemia (<8.0 g/dl ), neutropaenia
x 109/L3)Sp.Rad(K)
dan atau kronik
Dr. Prijo (<0.5
Sidipratomo,
trombositopenia (<50 x 109/ L3)

ii

PEDOMAN PENERAPAN

KON

PEDOMAN PENERAPAN

37

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 11 of 28 - Pages: 46, 11, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN


KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA
PBtesIDI
Bagan 2.
BaganPENGANTAR
Alur Tes Cepat HIV KETUA
di LayananUMUM
Konseling dan
HIV
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

KATA PENGANTAR KETUA


BAB IUMUM PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua
terutama
para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
A.pihak,
LATAR
BELAKANG
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Kementerian
Kesehatan
yang berasal
Propinsi dan
214 Kabupaten/
bertujuan tidakData
hanya
untuk menegakkan
diagnosis
namun dari
juga 32
memberikan
konseling
untuk
kota
hingga
akhir
Desember
2010,
menunjukkan
jumlah
kumulatif
kasus
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien. AIDS yang
dilaporkan adalah 19.973 kasus. Sementara itu hasil pemodelan epidemi HIV/AIDS
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
berdasarkan estimasi tahun 2006 di Indonesia memproyeksikan jumlah ODHA usia
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
15-49 tahun terus meningkat dari 277,100 pada tahun 2008 menjadi 501,400 pada
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
tahun 2014. Guna memperluas jangkauan layanan HIV yang meliputi perawatan,
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
dukungan dan pengobatan pada waktu yang tepat dan juga meningkatkan kesempatan
Jumlah
cakupan
tersebut
masihserta
tergolong
rendah
untukpenularan
menjangkau
ODHA
untuklayanan
menjangkau
informasi
sarana
mencegah
HIVpopulasi
lebih lanjut,
berisiko dan
mengetahui
status
HIV
mereka.
Peran
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
maka perlu meningkatkan lebih banyak orang yang mengetahui status dan
HIVnya.
bidan) dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
Jangkauan yang luas terhadap layanan konseling dan tes HIV sangat diperlukan dalam
membutuhkan
medis dan belum
status
HIV-nya. dan
Layanan
PITC (Provider
upayalayanan
untuk meningkatkan
aksesdiketahui
pengobatan.
Perawatan
pengobatan
ARV setelah
Initiated pasien
Testingdinyatakan
and Counselling)
memudahkan
dan
mempercepat
diagnosis,
reaktif akan menurunkan angka kesakitan karena infeksi
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang
luas di sejumlah
negaradan
dengan
tingkat epidemi
oportunistik,
menurunkan
kemungkinan
penularan
meningkatkan
optimistic
HIV yang tinggi.
hidup dari pasien . Secara tidak langsung Indonesia akan berperan dalam pencapaian
Olehtarget
karena
itu Organisasi
Kesehatan
IBI, PPNI,pengobatan,
ISFI, IAKMI) membantu
universal
access Profesi
terhadap
layanan (IDI,
pencegahan,
perawatan dan
Kementerian
Kesehatan
menyusun
ringkas
untuk
tenaga kesehatan
dalam
dukungan
seperti
yang panduan
dicanangkan
oleh
UN membantu
General Assembly
pada tahun
2006.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Konseling dan tes HIV sukarela (KTS) atas Inisiasi klien masih terus didorong dan
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
ditingkatkan penerapannya, di samping pendekatan lain yang lebih inovatif seperti
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
konseling dan tes HIV yang di inisiasi petugas kesehatan ketika seorang pasien datang
Kamikeucapkan
kasihuntuk
kepada
semua pihak layanan
yang telah
berkontribusi
sarananterima
kesehatan
mendapatakan
kesehatan
karenadalam
berbagai
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
macam keluhan kesehatannya, yang selanjutnya akan disebut PITC atau Provider

PENDAHULUAN

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dr. Prijo
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
Bukti yang tersedia baik dari daerah maju
maupun
daerah dengan
sumber daya
yang terbatas menunjukkan bahwa kesempatan untuk diagnosis ataupun pemberian

ii

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Initiated Testing dan Counseling - PITC. Seperti disadari bahwa sarana kesehatan
merupakan sarana utama untuk menjangkau atau berhubungan dengan ODHA yang
Ketua Umum PB IDI
jelas membutuhkan layanan pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan. PITC
tersebut merupakan layanan konseling dan tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan
yang terintegrasi di sarana kesehatan dan untuk penerapannya dibutuhkan pedoman
atau petunjuk operasional.

Ketua Umum PB IDI

ii 36

KON

PEDOMAN PENERAPAN

PEDOMAN PENERAPAN

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 12 of 28 - Pages: 12, 45, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

konseling
tentang
HIV di sarana kesehatan
terlewatkan,
KATA
PENGANTAR
KETUAseringkali
UMUM
PB IDI oleh karenanya
perlu mengitegrasikan layanan konseling dan tes HIV di saranan kesehatan dengan
menerapkan PITC, di mana tes HIV dan konseling merupakan sarana untuk menjangkau
Masalah
HIV
AIDS
di Indonesialayanan
adalah pengobatan
salah satu masalah
kesehatan
nasional
yang
diagnosis
dan
memberikan
ARV dan
peyakit lain
terkait
HIV.
memerlukan
penanganan
bersama
secara komprehensif.
Sejak pemaksaan
10 tahun terakhir,
Mengingat
besarnya
kecenderungan
akan terjadinya
dalamjumlah
tes HIV
kasus AIDS
di Indonesia
mengalami
lonjakan yang
bermakna.
Hal inipada
menuntut
sehubungan
PITC yang
akan memberikan
dampak
non reaktif
pasien perhatian
maka perlu
semua pelatihan
pihak, terutama
para
tenaga
kesehatan
yang
memberikan
layanan
kesehatan
bagi
dan bimbingan, pemantauan dan evaluasi yang memadai dari penerapan
pasien HIV
Salah satu
bentukdilayanan
tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
PITCAIDS.
dan program
konseling
sarana kesehatan.
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Pedoman layanan konseling dan tes HIV di sarana kesehatan ini menawarkan
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
konseling dan tes HIV dengan pendekatan option out yang meliputi informasi pra tes
Layanan
tes dandan
konseling
HIV dengan
saat ini menyesuaikan
masih dilakukandengan
dalamkaidah-kaidah
bentuk Konseling
dan
secara singkat
sederhana
konseling
Tes HIVyang
Sukarela
(Voluntary
Counselling
Testing/VCT), yang
dilakukan
di sarana
berlaku.
DenganHIV
demikian
tes HIVand
direkomendasikan
sebagai
berikut:
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
1. Ditawarkan kepada semua pasien yang menunjukkan gejala dan tandatelah
klinis
terdapat 468 pusat
layanan untuk
VCT di 133 kabupaten/kota
dimemandang
seluruh Indonesia.
yang mungkin
mengindikasikan
infeksi HIV, tanpa
tingkat epidemi
Jumlah cakupan
layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
daerahnya.
berisiko dan2.mengetahui
statusdari
HIVprosedur
mereka.baku
Peran
tenaga kesehatan
(dokter,
perawat
Sebagai bagian
perawatan
medis pada
semua
pasiendan
yang
bidan) dalam melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
datang di sarana kesehatan di daerah dengan tingkat epidemi yang meluas.
membutuhkan
layanan medis
danpasien
belumdengan
diketahui
status
Layanan
(Provider
3. Ditawarkan
kepada
risiko
HIV HIV-nya.
lebih tinggi,
sepertiPITC
pasien
dengan
Initiated Testing
and dengan
Counselling)
memudahkan
TB, pasien
IMS, pasien
yang berasaldan
darimempercepat
kelompok risiko diagnosis,
tinggi.
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Pada pendekatan Option out, pasien dapat menolak untuk dilakukan tes HIV bila
HIV yang tinggi.
mereka tidak bersedia. Penjelasan tambahan tentang risiko, keuntungan menjalani
Oleh
karena
itu Organisasi Profesi
(IDI, dukungan
IBI, PPNI, sosial
ISFI, IAKMI)
membantu
tes HIV
dan pengungkapan
hasil tesKesehatan
serta tentang
yang tersedia
dapat
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
diberikan di dalam kelompok terutama kepada kelompok yang rentan atau berisiko
melakukan
konseling
dan tesburuk
HIV bagi
atau pasien. Kami
melalui panduan
ini,
terhadap
dampak
dariklien
pengungkapan
statusberharap
HIV reaktifnya.
Pendekatan
tenaga kesehatan
tidaklebih
akanmenguntungkan
ragu dalam mendorong
pasien untuk
tes HIV sehingga
stigma/
option-in akan
bagi kelompok
yang memiliki
kerentanan
tinggi
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
untuk mendapatkan dampak buruk tersebut.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
PITC mutlak harus disertai dengan jangkauan pada paket layanan pencegahan,
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
pengobatan, perawatan dan dukungan yang diterapkan sebagai suatu standar nasional
untuk perawatan, dukungan dan pengobatan serta menjadi dalam kerangka kerja rencana
strategi nasional untuk meningkatkan dan mendekatkan
akses PBterhadap
terapi
Ketua Umum
IDI
antiretroviral bagi semua yang membutuhkannya. Pemerintah, sebagai konsekwensi
terhadap penerapan PITC akan memenuhi sarana pendukung baik berupa dukungan
kebijakan, laboratorium, logistik laboratorium, ARV dan obat lain terkait HIV dan dukungan
sosial. Untuk menerapkan PITC maka harus diupayakan bahwa kerangka kerja dukungan
sosial, kebijakan dan dukungan peraturan perundangan
yang sudahSp.Rad(K)
mapan, guna
Dr. Prijo Sidipratomo,
mendapatkan hasil yang positif dan meminimalkan dampak buruk pada pasien.

ii 2

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

NON REAKTIF

REAKTIF

me
kas
sem
pas
ber
me

Hasil Tes

Tes
kes
ter

INCONCLUSIVE

ber
bid
me
Ini
pen
HIV
Reaktif

Non Reaktif

Invalid

Invalid

Kem
me
ten
dis

Hasil Tes

pen

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

35

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 13 of 28 - Pages: 44, 13, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI


Satu garis pada daerah kontrol:
Hasil non reaktif
Dua garis pada daerah kontrol dan
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Satu penanganan
pada daerahbersama
pemeriksaan:
Hasil
reaktifjumlah
memerlukan
secara komprehensif. Sejak 10 tahun
terakhir,
Tidak
garis: mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut
Hasil invalid
kasus AIDS
di ada
Indonesia
perhatian
catat hasil
pemeriksaan
pada lembar
kerja
semua pihak,terutama
para
tenaga kesehatan
yang memberikan
layanan kesehatan bagi
Interprestasi
pasien HIV AIDS.
Salah satu
bentuk
layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
konseling
pasca
pemeriksaan.
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan terapi danTMmenangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Determine HIV 1/2
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Siapkan Kit Tes HIV (lihat halaman sebelumnya).
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Ambil darah dari tusukan ujung jari dengan menggunakan tabung kapiler
kesehatan (RS,
Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
ber layanan
EDTA untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
terdapat 468 pusat
Teteskan
darahtersebut
dari abung
kapiler
50 l pada
sampel
(tanda panah).
Jumlahcakupan
layanan
masih
tergolong
rendah
untukpad
menjangkau
populasi
Tunggu sampai
terserapPeran
dan tambahkan
satu tetes
chaseperawat
buffer pada
berisiko dan mengetahui
statusdarah
HIV mereka.
tenaga kesehatan
(dokter,
dan
bidan) dalam melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
sampel pad.
membutuhkan
layanan
medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Biarkan selama 15 menit agar terjadi reaksi.
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Baca hasilnya antara 15-16 menit setelah penambahan sampel.
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Interprestasikan hasil
HIV yang tinggi.
Satu
garis pada
daerah kontrol:
Hasil non
reaktif
Oleh
karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI)
membantu
Dua Kesehatan
garis padamenyusun
daerah kontrol
danringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Kementerian
panduan
melakukan
konseling
dan tespemeriksaan:
HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui
panduan ini,
Satu
pada daerah
Hasil reaktif
tenaga kesehatan
sehingga
Tidak adatidak
garis:akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIVHasil
invalidstigma/
diskriminasi tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
Catat hasil pemeriksaan pada lembar kerja .
Interprestasi Hasil Tes
Kami ucapkan
terima
kasih
kepada
semua
pihak
yang
telah
berkontribusi dalam
Konseling pasca tes (lihat dokumen)
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Pada akhir hari kerja, simpan bahan dengan benar. Bersihkan daerah pemeriksaan
dengan desinfektan.
Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 34

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Inisiasi tes HIV oleh petugas kesehatan harus selalu didasarkan atas kepentingan
kesehatan pasien. Pemberian informasi yang cukup mengenai tujuan, keuntungan
melakukan tes, jaminan konfidensialitas serta rencana perawatan, dan pengobatan
yang jelas akan membantu pasien dalam mengambil keputusan secara sukarela.
Penerapan PITC bukan berarti menerapkan tes HIV secara mandatori atau wajib
sebagai pendekatan dasar kesehatan masyarakat.
Masalah konfidensialitas pada pasien dengan HIV adalah sama dengan pasien
karena penyakit lain yang berpedoman pada Undang-undang Praktik Kedokteran
No. 29 Tahun 2004 Pasal 48 mengenai rahasia kedokteran, dimana arti konfidensialitas
disini tidak bersifat absolute dan dapat dibuka sepanjang untuk kepentingan pasien.
(wajib simpan, pembukaan rahasia kedokteran pada keadaan tertentu).

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

B. TUJUAN dan SASARAN


1. Tujuan Umum
Pedoman ini bertujuan untuk memberikan tuntunan kepada para petugas kesehatan
dalam menerapkan layanan konseling dan tes HIV di sarana kesehatan dengan
pendekatan PITC.

2. Tujuan Khusus
Pedoman ini bertujuan untuk menyelaraskan antara etika medis, klinis, kesehatan
masyarakat dan hak-hak azasi manusia. Hal tersebut meliputi:
1. Memberdayakan ODHA agar mengetahui status HIV mereka dengan penuh
kesadaran dan kesukarelaan untuk mencari dan mendapatkan layanan
pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan terkait HIV dan terlindung
dari stigma, diskriminasi dan dan kekerasan.
2. Mengoptimalkan hasil pengobatan dan pencegahan.
3. Mendorong hak otonomi, privasi dan konfidensialitas dari ODHA serta
mendorong ODHA untuk menjalankan kewajibannya, untuk diri sendiri maupun
masyarakat, dalam hal pengobatan maupun pencegahan penularan.
4. Mendorong kebijakan dan praktik berbasis-bukti ilmiah dan memungkinkan
lingkungan untuk penerapannya
5. Meningkatkan peran dan tanggung jawab petugas kesehatan dalam hal
menyediakan akses terhadap tes HIV, konseling dan intervensi lain yang
dibutuhkan
6. Menormalisasikan penyakit HIV.
PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 14 of 28 - Pages: 14, 43, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

3. Sasaran
KATA

PENGANTAR KETUA UMUM PB IDI

1. Para pengambil kebijakan,


2. Perencana dan pengelola program pengendalian HIV/AIDS,
Masalah
HIV AIDS
di Indonesia
adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
3. Petugas
layanan
kesehatan.
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS
di Indonesia
mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
4. Ruang
Lingkup
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
dari pedoman
adalah
penerapan
konseling
tes HIV atas
pasien HIV Lingkup
AIDS. Salah
satu bentuk
layanan
tersebut
adalahdan
konseling
dan inisiasi
tes HIVpetugas
yang
kesehatan
dengan
menekankandiagnosis
pemeriksaan
terkaitkonseling
dengan untuk
infeksi
bertujuan
tidak hanya
untuk menegakkan
namunkesehatan
juga memberikan
oportunistik
pada
pelayanan
berkelanjutan.
mendapatkan
terapi dan
dan merujuk
menangani
berbagai
masalah
yang dihadapi oleh pasien.
Pedoman
tidak
membahas
konseling
secara
rinci dandalam
petugas
kesehatan
diarahkan
Layanan
tes dan
konseling
HIV saat
ini masih
dilakukan
bentuk
Konseling
dan
untuk
merujuk
pedoman
nasional
KTS
yang
berlaku.
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan (RS,
Puskesmas
dan Klinik)
maupun didalam
LSM peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
Petugas
kesehatan
yang dimaksud
buku ini
adalah
dokter
yang
merawat,
terdapatperawat
468 pusat
layanan
VCT dioleh
133 dokter
kabupaten/kota
di seluruh serta
Indonesia.
yang
diberi untuk
wewenang
yang bersangkutan
bidan.
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko
dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
C. TERMINOLOGI
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Terminologi
yangmedis
digunakan
di dalam
pedoman
adalah sebagai
membutuhkan
layanan
dan belum
diketahui
statusiniHIV-nya.
Layananberikut.
PITC (Provider
Initiated Testing
Counselling)
memudahkan
Voluntaryand
Counselling
and Testing,
atau VCT dan
atau mempercepat
Konseling dan tesdiagnosis,
HIV secara
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
sukarela - KTS (atau disebut juga sebagai Client-initiated HIV
testing
andepidemi
counselHIV yang
tinggi.
ling) adalah layanan konseling dan tes HIV yang dibutuhkan oleh klien secara aktif
Oleh
karena itu Pada
Organisasi
Kesehatan
(IDI, IBI,
PPNI, ISFI,
membantu
dan individual.
KTS iniProfesi
biasanya
menekankan
pengkajian
danIAKMI)
penanganan
faktor
Kementerian
menyusun
panduan
ringkasmasalah
untuk membantu
risiko Kesehatan
dari klien oleh
konselor,
membahas
keinginantenaga
untukkesehatan
menjalanidalam
tes HIV
melakukan
konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
dan implikasinya serta pengembangan strategi untuk mengurangi faktor risiko.ini,
KTS
tenaga kesehatan
tidak
akanberbagai
ragu dalam
mendorong
untuk
tessalah
HIV sehingga
stigma/di
dilaksanakan
dalam
macam
tatananpasien
layanan,
yang
satunya adalah
diskriminasi
tidak
lagi ada
dalam pelayanan
kesehatan.
sarana
layanan
kesehatan,
klinik KTS mandiri
di luar sarana layanan kesehatan, layanan
KTS
yang
diberikan
secara
bergerak
atau
mobile
masyarakat
atau bahkan
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak KTS,
yangditelah
berkontribusi
dalamdi
rumah.
penyusunan
panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Provider-initiated HIV testing and counselling (PITC) adalah suatu tes HIV dan
konseling yang diInisiasii oleh petugas kesehatan kepada pengunjung sarana layanan
Ketua Umum PB IDI
kesehatan sebagai bagian dari standar pelayanan medis. Tujuan utamanya adalah
untuk membuat keputusan klinis dan/atau menentukan pelayanan medis khusus yang
tidak mungkin dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV seseorang seperti misalnya
ART.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Patuhi prosedur pemeriksaan dengan ketat.


Patuhi sangat ketat waktu membaca yang direkomendasikan.
Selalu beri label spesimen dan/atau alat pemeriksaan dengan jelas.
Siapkan lembar kerja dimana nomor spesimen jelas tertulis dan segera catat
hasilnya, jangan ditunda.

Mempersiapan Kit tes HIV


Bila disimpan di lemari pendingi, keluarkan kit dan diamkan selama
setidaknya 20 menit untuk mencapai suhu kamar (20 - 25OC)
Siapkan lembar kerja, tuliskan nomor batch kit; tanggal kedaluwarsa; nama
pemeriksa dan tanggal pemeriksaan.
Periksa kembali bahwa tanggal kedaluwarsanya belum terlampaui
Lakukan validasi bahwa kit masih bagus dengan menggunakan kontrol reaktif
dan non reaktif; setelah itu anda siap melaksanakan tes pada sediaan klinik
yang ada.
Tuliskan nomor spesimen pada lembar kerja.
Keluarkan peralatan tes dari pembungkusnya
Tuliskan nomor spesimen pada peralatan tes tsb.
Laksanakan tes dengan mengikuti petunjuk teknis yang ada pada kit.
Berikut adalah contoh pemeriksaan dengan menggunakan kit UNI-Gold HIVTM
DAN Determine HIVTM1/2.
Uni-Gold HIVTM
Tulis nomor spesimen pada lember kerja.
Ambil alat pemeriksaan Uni-Gold HIV dari bungkus pelindung.
Tulis nomor spesimen pada alat pemeriksaan.
Kumpulkan seluruh darah dari tusukan jari (lihat dokumen).
Tambahkan dua tetesan darah pada port sampel.
Tambahkan dua tetesan dari reagent pencuci ke port sampel.
Biarkan selama sepuluh menit agar terjadi reaksi.
Baca hasilnya pada akhir menit kesepuluh. Jangan baca setelah 20 menit
karena hasilnya tidak lagi stabil.
Interprestasikan hasilnya.

KON

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Dr. Prijokesehatan
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
Apabila seseorang yang datang ke sarana layanan
menunjukkan
adanya
gejala yang mengarah ke HIV maka tanggung jawab dasar dari petugas kesehatan

ii 4

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

33

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 15 of 28 - Pages: 42, 15, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

B.

KATA PENGANTAR
KETUA
UMUM PB IDI
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
MELAKSANAKAN
TES CEPAT HIV,
INTERPRESTASI HASIL DAN KONSELING

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
Pemberian
informasi
kunci tentang
HIV
memerlukan
penanganan
bersama
secara komprehensif.
Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS
di
Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal ini menuntut perhatian
Ambil darah dari ujung jari
semua pihak,terutama
para tenaga
kesehatan
yang
memberikan
layanan
kesehatan bagi
Selalu gunakan
sarung
tangan
untuk
mengambil
atau
pasien HIV AIDS.mengelola
Salah satu
bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
darah.
bertujuan tidak
hanya
untuk
menegakkan
diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Gosok ujung jari agar pembuluh darah melebar (jari tengah
mendapatkan terapi
menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
atau dan
jari manis).
Layanan tes
dan konseling
HIV saat
ini masih
dilakukan
dalam bentuk Konseling dan
Bersihkan
jari dengan
alkohol
dan biarkan
mengering.
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
and Testing/VCT),
yang dilakukan di sarana
Pegang
jari diHIV
lebih
rendah daripada
siku.
kesehatan (RS, Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga tahun 2008 telah
Tusuk jari dengan lancet steril yang belum terpakai.
terdapat 468 pusat
layanansatu
untuk
VCTseperti
di 133 kabupaten/kota
di seluruhteknis
Indonesia.
Teteskan
tetes
tertulis pada petunjuk
kemasan
tes (misalnya
gunakan
pipetrendah
untuk untuk
Uni-Gold
HIV
Jumlah cakupan
layanan
tersebut masih
tergolong
menjangkau
populasi
atau sample
loopHIV
untuk
Stat Pack
). Ulangi
sesuai perawat dan
berisiko dan mengetahui
status
mereka.
Peran
tenagaprosedur
kesehatanini(dokter,
dengan pemeriksaan
yang digunakan,
misalnya,
Determine
bidan) dalam melakukan
deteksi HIV menjadi
semakin penting
karena
banyak ODHA yang
HIV 1/2 medis
1-2 kalidan
danbelum
dua kali.
membutuhkan layanan
diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider

Buang
lancet
yang
telah
dipakai
di dalamdan
wadah
yang aman. diagnosis,
Initiated Testing and Counselling) memudahkan
mempercepat
Selesaikan
prosedur
pemeriksaan
yang spesifik.
penatalaksanaan,
dan sudah
berkembang
luas di sejumlah
negara dengan tingkat epidemi
Desinfeksi jari dan tutupi dengan plester.
HIV yang tinggi.
Terapkan kewaspadaan universal untuk pembuangan sampah. Cara yang
Oleh karena
itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
umum
autoclaving
suhu
120C
selamatenaga
60 menit
atau dengan
Kementerian Kesehatan adalah
menyusun
panduan pada
ringkas
untuk
membantu
kesehatan
dalam
pembakaran.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Test-Kit (Kit
tesakan
HIV)ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
tenaga kesehatan
tidak
Setidaknya
gunakan
dua macam
tes yang berbeda.
diskriminasi tidak
lagi ada dalam
pelayanan
kesehatan.
Ikuti pedoman nasional pemeriksaan tes HIV - sesuai strategi II atau III untuk
Kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
diagnosis.
penyusunan panduan
ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
Patuhi tanggal kedaluwarsa - jangan digunakan kit yang telah kedaluwarsa.
Ikuti dengan ketat prosedur penyimpanan.
Bila sebelumnya kit disimpan pada suhu 2-8C,
biarkan
kit tersebut
Ketua
Umum
PB IDI mencapai
suhu ruangan dengan mengeluarkannya dari lemari pendingin kira-kira 20
menit sebelum digunakan.
Validasi kit tes HIV sesuai petunjuk dari produsen dan kontrol reaktif dan
non reaktif yang disediakan. Bila mungkin gunakan kontrol untuk setiap
Dr. Prijo
Sp.Rad(K)
pemeriksaan baru, batch baru atau
bila Sidipratomo,
anda meragukan
kondisi
penyimpanannya.

ii 32

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

adalah menawarkan konseling dan tes HIV kepada pasien tersebut sebagai bagian
dari tata lakasana klinis. Sebagai contoh petugas kesehatan menginisiasii konseling
dan tes HIV kepada pasien TB dan pasien suspek TB, pasien IMS, pasien gizi buruk,
pasien dengan gejala atau tanda IO lainnya.
PITC juga bertujuan untuk mengidentifikasi infeksi HIV pada stadium awal yang
tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas karena penurunan kekebalan. Oleh
karenannya kadang-kadang konseling dan tes HIV juga ditawarkan kepada pasien
dengan gejala yang mungkin tidak terkait dengan HIV sekalipun. Pasien tersebut dapat
mendapatkan manfaat dari pengetahuan tentang status HIV reaktif guna mendapatkan
layanan pencegahan dan terapi yang diperlukan secara lebih dini. Dalam hal ini
konseling dan tes HIV ditawarkan kepada semua pasien yang berkunjung ke sarana
layanan kesehatan..
Seperti halnya KTS, PITC pun harus mengedepankan "three C' - Informed
Consent, Counselling and Confidentiality atau suka rela, konseling dan konfidensial.
Option in adalah pilihan pasien untuk menyatakan persetujuannya secara jelas
atas pelaksanaan tes HIV setelah menerima informasi mengenai HIV atau merasa
mempunyai perilaku beresiko. Informed consent merupakan bagian dari pra test
konseling sama seperti informed concent yang dilakukan pada pemeriksaan atau
tindakan klinis invasif.
Dengan pendekatan option out berarti pasien ditawarkan tes HIV dan dapat
menyatakan penolakan untuk dilakukan tes HIV setelah menerima informasi pra tes
apabila dia tidak meinginkan tes HIV tersebut. Informed consent yang diberikan dalam
hal tersebut analog dengan yang dipersyaratkan pada tindakan umum lain seperti
pemeriksaan foto ronsen dada, tes darah dan pemeriksaan non invasif lain. Dalam
hal ini petugas kesehatan akan melaksanakan tindakan untuk melakukan tes HIV
tersebut kecuali pasien menolaknya.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 16 of 28 - Pages: 16, 41, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTARBAB
KETUA
II UMUM PB IDI

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua
pihak, terutama para
tenaga
kesehatan
yang memberikan
layanan kesehatan bagi
A. PENERAPAN
PITC
PADA
SEMUA
JENIS EPIDEMI
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Petugas
kesehatan
dianjurkandiagnosis
untuk menawarkan
dan konseling
bertujuan tidak
hanya
untuk menegakkan
namun juga tes-HIV
memberikan
konseling sebagai
untuk
bagian
dari
prosedur
baku
perawatan
kepada
semua
pasien
seperti
berikut
tanpa
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
memandang tingkat epidemi daerahnya:
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Semua pasien dewasa atau anak yang berkunjung ke sarana kesehatan dengan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
gejala dan tanda atau kondisi medis yang mengindikasikan pada AIDS. Seperti
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
misalnya - meskipun tidak selalu atau terbatas pada - tuberkulosis dan kondisi
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
khusus lainnya terutama kelompok kondisi medis yang ada dalam sistem
Jumlah cakupan
layanan
tersebut
tergolong
rendah untuk menjangkau populasi
pentahapan
klinis
infeksi masih
HIV (stadium
klinis).
berisiko dan mengetahui
status
HIVdari
mereka.
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawat
Bayi yang baru
lahir
ibu HIVPeran
reaktif
sebagai
perawatan
lanjutan
yangdan
rutin
bidan) dalam melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
pada bayi tersebut
membutuhkan
layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Anak yang dibawa ke sarana kesehatan dengan menunjukkan tanda tumbuh
Initiated Testing
andyang
Counselling)
memudahkan
dan dan
mempercepat
diagnosis,
kembang
kurang optimal
atau gizi kurang
tidak memberikan
respon
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas
di
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
pada terapi gizi yang memadai.
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
B.
PENERAPAN
DI DAERAH
EPIDEMIS
MELUAS
Kementerian
Kesehatan menyusun
panduan ringkas
untuk membantu
tenaga kesehatan dalam
melakukan Di
konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan yang
ini,
daerah dengan tingkat epidemi yang meluas dengan
lingkungan
tenaga kesehatan
tidak akan
dalam
mendorong
HIVmemadai
sehingga termasuk
stigma/
memungkinkan
atau ragu
kondusif
serta
tersedia pasien
sumberuntuk
dayates
yang
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
ketersediaan paket layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV, maka
Kami
ucapkan
terimamenginisiasii
kasih kepada
pihak
yang telah
berkontribusi
dalam
petugas
kesehatan
tessemua
HIV dan
konseling
kepada
semua pasien
yang
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
berkunjung/berobat di semua sarana kesehatan. Hal tersebut diterapkan di layanan
medis atau bedah, sarana pemerintah ataupun swasta, pasien rawat inap atau rawat
jalan, dan layanan medis tetap ataupun bergerak. Tawaran tes HIV dan konseling
Ketua
Umumkesehatan
PB IDI
merupakan bagian dari prosedur layanan baku dari
petugas
kepada
pasiennya, tanpa memandang adanya gejala atau tanda yang terkait dengan AIDS
pada pasien yang berobat di sarana kesehatan.

PENERAPAN PITC DI BERBAGAI TINGKAT EPIDEMI

Waspada terhadap terapi untuk pasien.


Mengetahui sumber daya lain untuk rujukan.
Mengetahui sumber daya dukungan sosial bagi klien.
Advokasi kepada pasien
Rujuk ke layanan pengobatan, pencegahan yang sesuai.

me
kas
sem
pas
ber
me

Ketika menghadapi pasien:


Jaga privasi.
Jangan terlalu banyak interupsi.
Upayakan pasien senyaman mungkin.
Membuat kesepakatan waktu - lama konseling.
Buat rencana untuk tindak lanjut bila diperlukan

Tes
kes
ter

Rujukan untuk pasien dengan kemungkinan depresi

KON

Rujuklah pasien pada konselor VCT/psikolog klinis/dokter/psikiater bila


didapatkan satu atau lebih gejala dibawah ini:
Gangguan tidur atau makan,
hilangnya minat pada banyak aktivitas terutama aktivitas yang dulu disukai,
keinginan bunuh diri,
selalu merasa sedih dan menangis atau ingin menangis,
menarik diri dari hubungan sosial;

Dalam hal ini pasien memerlukan dukungan psikologik lebih besar dan sangat
mungkin memerlukan terapi obat antidepresan.

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Untuk mengatasi kendala dalam hal sumber daya maka perlu pentahapan dalam
penerapan PITC. Hal berikut perlu dipertimbangkan
untuk menentukan
urutan
Dr. Prijo Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
prioritas penerapan PITC:

ii 6

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

31

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 17 of 28 - Pages: 40, 17, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KATA
PENGANTAR
KETUA UMUM PB IDI
terhadap
perawatan dan terapi)
Mengatasi situasi krisis
konseling
dasar adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
MasalahUnsur
HIV AIDS
di Indonesia
Menjalin hubungan
yang baik
dengan klien.Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
memerlukan penanganan
bersama secara
komprehensif.
Mencari tahu
suasana
hati klien
saat
ini.
kasus AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal ini menuntut perhatian

Memberi
tanggapan
dengan
empati.
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Memberikan
yang tersebut
membuatadalah
pasienkonseling
memahami
pasien HIV AIDS.
Salah satu tanggapan
bentuk layanan
dankondisinya.
tes HIV yang

Memberi
informasi.
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Membantu
pasien berbagai
mencarimasalah
dan mendapatkan
dari temanmendapatkanterapi
dan menangani
yang dihadapibantuan
oleh pasien.
temannya.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Mengajarkan ketrampilan khusus untuk menghadapi situasinya:
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
- Teknik relaksasi seperti bernafas dengan dalam atau relaksasi otot secara
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
progresif atau bayangan positif.
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
- Pemecahan masalah.
Jumlah cakupan
layanandorongan.
tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
Memberikan
berisiko dan mengetahui
status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Memperbesar harapan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing
and
Counselling)
Kiat-kiat
yang
bermanfaat memudahkan
dalam konseling:dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Gunakan pertanyaan terbuka.
HIV yang tinggi. - Pertanyaan terbuka: Masalah apakah yang mengganggu jadual minum
Oleh karenaobat
itu Organisasi
anda saat Profesi
ini? Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
kesehatan
- Pertanyaan
tertutup:
Apakah
anda
sudah
minumtenaga
obat hari
ini dalam
melakukan konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
ini,
Mendengarkan dengan seksama, memperhatikan komunikasi baik verbal
tenaga kesehatan
tidak akan
ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
maupun
non-verbal
diskriminasi tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
Klarifikasikan sesuatu
yang belum
anda fahami.
Gunakan
latihan
peran
untuk
ketrampilan
dan
Kami ucapkan
terima
kasihdengan
kepadamain
semua
pihak
yangmengasah
telah berkontribusi
dalam
percaya
menjalankan
rencananya.
penyusunan panduan
ini diri
danklien
juga kepada
pihak GF-ATM
yang telah mendukung kegiatan ini.
Beri kesempatan klien untuk bertanya
Tanyakan hasrat untuk bunuh-diri (terutama menghadapi klien yang
Ketua Umum PB IDI
mengalami keadaan kritis dan penyakit mental

ii 30

Cyan

Peran konselor:
Menjaga kerahasiaan.
Memberikan dukungan.
Membantu pasien menyusun prioritas masalah dan menemukan jalan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
keluarnya.

Yellow

C. PENERAPAN PITC DI EPIDEMI TERKONSENTRASI ATAU


TINGKAT RENDAH

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Di daerah dengan tingkat epidemi rendah atau terkonsentrasi tidak semua pasien
ditawari konseling dan tes HIV, karena pada umumnya orang berisiko rendah untuk
tertular HIV. Di daerah tersebut prioritas ditujukan hanya pada semua pasien dewasa
atau anak yang berobat di sarana kesehatan dengan menunjukkan gejala atau tanda
klinis yang mengindikasikan AIDS, termasuk tuberkulosis dan pada pasien anak yang
diketahui terlahir dari ibu HIV reaktif.
Bila tersedia data yang menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada pasien TB sangat
rendah, maka tawaran tes HIV dan konseling pada pasien TB pun bukan merupakan
prioritas.
Keputusan atau pemilihan sarana kesehatan untuk menerapkan PITC di daerah dengan
tingkat epidemi HIV yang terkonsentrasi atau rendah harus didasarkan atas penilaian
epidemiologi dan konteks sosial. Dapat dipertimbangkan untuk menerapkan PITC di
sarana kesehatan sebagai berikut:
Klinik IMS
Layanan kesehatan bagi masyarakat dengan perilaku berisiko
Layanan KIA
Layanan TB
Layanan Napza

PEDOMAN PENERAPAN

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Sarana layanan rawat jalan dan rawat inap pasien TB


Sarana layanan KIA
Sarana layanan Kesehatan Anak (<10 th)
Sarana layanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana (KB)
Sarana layanan dengan tindakan invasif
Sarana layanan kesehatan remaja
Sarana layanan kesehatan bagi kelompok dengan perilaku berisiko tertular HIV
Sarana layanan hemodialisis
Sarana kesehatan di lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan

KON

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 18 of 28 - Pages: 18, 39, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTARBAB
KETUA
III UMUM PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
PITC
harus disertai
dengan
penyediaan
layanan layanan
yang terkait
dengan
HIV
semua pihak,
terutama
para tenaga
kesehatan
yangpaket
memberikan
kesehatan
bagi
seperti
layanan
pencegahan,
pengobatan,
perawatan
dan
dukungan.
Meskipun
tidak
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
semua
layanan
harus
tersedia
di satunamun
tempat
sama dengan
bertujuan
tidak hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
jugayang
memberikan
konselingtempat
untuk
dilaksanakannya
tes
HIV,
namun
mutlak
diperlukan
adanya
tempat
rujukan
bagi
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
perawatan
dan pengobatan
dilakukan
tes dalam
HIV. bentuk Konseling dan
Layanan
tes dan
konseling HIVARV
saatsetelah
ini masih
dilakukan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary dengan
HIV Counselling
and dan
Testing/VCT),
yangmerupakan
dilakukan di
sarana
Terapi profilaksis
antiretroviral
infant feeding
komponen
kesehatan
(RS,
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
penting pada program pencegahan penularan dari ibu ke anak. Sarana intervensi
terdapattersebut
468 pusat
layanan
untuk
VCT dibagian
133 kabupaten/kota
seluruh bagi
Indonesia.
harus
tersedia
sebagai
dari pelayanandi standar
ibu hamil yang
terdiagnosis
terinfeksi
melalui
PITC.
Jumlah
cakupan
layanan HIV
tersebut
masih
tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko danUpaya
mengetahui
status
HIVjuga
mereka.
Peran
tenaga
kesehatan ketersediaan
(dokter, perawat
dan
yang sama
harus
dilakukan
untuk
menyakinkan
dukungan
bidan) dalam
melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
psikososial serta kemapanan kebijakan dan peraturan perundangan untuk meoptimalkan
membutuhkan
medis
dan belum diketahui
statusHIV.
HIV-nya.
Layananmeliputi:
PITC (Provider
dampaklayanan
positif dan
meminimalkan
dampak buruk
Hal tersebut
Initiated Testing
and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Ketersediaan sumber daya dan infrastruktur yang memadai.
penatalaksanaan,
dan
sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Pelatihan bagi petugas kesehatan.
HIV yang tinggi.
Kode etik bagi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan.
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
kesehatan
bagi ODHA.
Kementerian
menyusundan
panduan
ringkas
untuk
Kesehatan
Sistem monitoring
evaluasi
yang
kuat.membantu tenaga kesehatan dalam
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
Pelaksanaan PITC optimal dalam jangka panjang memerlukan penerapan peraturan
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
perundangan guna membatasi stigma dan diskriminasi yang muncul akibat status
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
HIV, perilaku berisiko, dan gender seseorang yang terpantau dan terus didorong untuk
Kami
ucapkan terima
kasih
kepada
semua
pihak
yang telah
berkontribusi
dalam
dilaksanakan.
Kebijakan
nasional
harus
terus
mendorong
pengungkapan
status
HIV
penyusunan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
kepada pasangan secara sukarela dan penuh tanggung jawab.

LINGKUNGAN YANG KONDUSIF

Perlu dikembangkan kebijakan dasar hukum yang jelas tentang;


1. Umur atau alasan tertentu yang menyangkutKetua
pemberian
untuk
Umumpersetujuan
PB IDI
tes HIV bagi dirinya atau orang lain (perwalian).
2. Cara terbaik untuk mendapatkan persetujuan tes-HIV dari remaja.

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 8

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Cara mensterilkan alat dengan bahan pemutih. Ingat cara ini hanya
ditawarkan bila tidak tersedia alat suntik steril
Hindari pemakaian alat suntik, pisau cukur, alat tato, dsb secara bergantian
Dorong untuk menghentikan pemakaian napza suntik
Jelaskan cara penyuntikan yang aman dan cara melindungi pembuluh vena:
Lakukan disinfeksi kulit tempat suntikan; hal tersebut akan mengurangi risiko
terjadinya infeksi kulit yang dalam yang dapat mengenai pembuluh vena
Pindah tempat suntikan secara reguler
Gunakan jarum/semprit baru (jarum bekas akan merusak pembuluh vena)
Kurangi frekuensi penyuntikan setiap hari/minggu
Jelaskan cara menghindari terjadinya infeksi

Tawarkan dan dorong untuk mengikuti program detoksifikasi/ program terapi


rumatan opioid oral atau Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)
Sebelum menawarkan program tersebut di atas harus sudah terjalin
hubungan yang saling percaya antara tenaga kesehatan dengan kliennya
yang penasun - yang mungkin akan memakan beberapa waktu atau
kunjungan
Berikan informasi kepada pasien tentang adanya program yang akan
membantunya berhenti menggunakan napza

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

Detoksifikasi opioid/ terapi rumatan opioid (PTRM)

Bila klien penasun tertarik untuk mengikutinya: rujuk ke layanan terkait

Konseling dasar

pen
Semua petugas dapat melakukan konseling di seputar masalah klinis yang
meliputi:
Edukasi kepada pasien
Memberikan dukungan emosional
Memberikan dukungan kepada pasien yang mengalami gangguan mental
seperti depresi atau ensietas.
Mencakup berbagai aspek perawatan HIV (tes HIV, pengungkapan status
HIV, perilaku seksual yang lebih aman dan penggunaan kondom, kepatuhan

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

29

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 19 of 28 - Pages: 38, 19, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

mungkin
anda:
KATA
PENGANTAR
KETUA UMUM PB IDI
- Membicarakan infeksi tersebut kepada pasangan?
- Meyakinkan pasangan anda untuk mendapatkan terapi?
Masalah HIV
AIDS di Indonesia adalahpasangan
salah satu
masalah
kesehatan
nasional yang
- Membawa/mengirimkan
anda
ke sarana
kesehatan?
memerlukan penanganan
bersama
komprehensif.
Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Jelaskan peran
andasecara
sebagai
tenaga kesehatan.
kasus AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Halpenggunaan
ini menuntut
perhatian
Strategi untuk membahas dan memperkenalkan
kondom?
semua pihak,terutama
para tenaga
yang memberikan
layanan
Risiko kekerasan
ataukesehatan
reaksi stigmatisasi
dari pasangan
dankesehatan
keluarga. bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
terapi danDampak
menangani
berbagai
masalah yang dihadapi oleh pasien.
Pengurangan
Buruk
bagi PENASUN
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan

Ketika
berbicaraHIV
dengan
para PENASUSN,
pastikanyang
bahwa::
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
Counselling
and Testing/VCT),
dilakukan di sarana

Berbicara
secara
pribadi
dan
jaga
konfidensialitas,
bila tidak,
tidak
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga
tahunpasien
2008 telah
akanlayanan
pernahuntuk
kembali
untuk
perawatan selanjutnya.
terdapat 468 pusat
VCT di
133 kabupaten/kota
di seluruhPenggunaan
Indonesia. napza
suntikan adalah ilegal dan para penasun biasanya takut bila berhubungan
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
dengan yang berwajib
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
Bersikap tidak menghakimi
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Bangun kepercayaan
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Empati
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,

Beri edukasi tentang pencegahan


penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
Konseling dan promosi pemakaian kondom secara konsisten untuk
HIV yang tinggi.
mencegah penularan HIV, hepatitis viral dan IMS
Oleh karena
itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Pertimbangkan risiko terhadap infeksi HIV, tawarkan konseling dan tes HIV
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas untuk
membantu tenaga kesehatan dalam

Jelaskan tentang
risiko
penggunaan
suntikan:
melakukan konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap melalui panduan ini,
HIV, hepatitis B dan C dapat ditularkan melalui pemakaian semua jenis alat
tenaga kesehatan
tidak- akan
ragu
dalamdan
mendorong
pasien
untuksecara
tes HIVbergantian
sehingga stigma/
suntik
jarum,
semprit
kapas atau
pengusap
dengan
diskriminasi tidakteman
lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan
terima penyakit
kasih kepada
semuayang
pihak
yang dengan
telah berkontribusi
dalam
Ada banyak
penyerta
terkait
Penasun dan/atau
penyusunan panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
penggunaan obat lain: termasuk di antaranya adalah infeksi, gangguan mental, hati, dan ginjal
Penggunaan napza dapat mempengaruhi kemampuan atau fungsi anggota
Ketua Umum PB IDI
tubuh dalam kehidupan sehari-hari

Jelaskan tentang risiko penggunaan suntikan:


Sediakan peralatan suntik steril (jarum, semprit, cairan pelarut) dan informasi
tentang cara peyuntikan yang aman bila tersedia dan mampu, bila tidak Rujuk
ke program yang menawarkan alat suntik
sterilSidipratomo,
(jarum, semprit
dan cairan
Dr. Prijo
Sp.Rad(K)
pelarut) dan informasi tentang cara penyuntikan yang aman

ii 28

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

BAB IV
PROSES PITC DAN UNSUR PENDUKUNGNYA
A. INFORMASI PRA TES HIV DAN PERSETUJUAN PASIEN
Sesuai dengan kondisi setempat, informasi pra tes dapat diberikan secara individual,
pasangan atau kelompok. Persetujuan untuk menjalani tes HIV (informed consent) harus
selalu diberikan secara individual, pribadi dengan kesaksian petugas kesehatan.
Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004, secara jelas memuatnya
dalam Pasal 45 mengenai Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi. Dalam
pasal 45 Undang-undang Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 tersebut dijelaskan
bahwa Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi diberikan setelah pasien
mendapatkan penjelasan secara lengkap.

1. Informasi minimal sebelum tes HIV


Informasi minimal yang perlu disampaikan oleh petugas kesehatan ketika
menawarkan tes HIV kepada pasien adalah sebagai berikut:
Alasan menawarkan tes HIV dan konseling
Keuntungan dari aspek klinis dan pencegahan dari tes HIV Layanan yang
tersedia bagi pasien baik yang hasil tes HIV non reaktif, rencana yang jelas
untuk pengobatan baik untuk pemberian ARV maupun penyakit lain terkait
HIV.l
Jaminan konfidensialitas.
Informasikan bahwa pasien mempunyai hak untuk menolak menjalani tes-HIV.
Tes akan dilakukan kecuali pasien menggunakan hak tolaknya tersebut.
Informasikan bahwa penolakan untuk menjalani tes-HIV tidak akan
mempengaruhi akses pasien terhadap layanan yang tidak tergantung pada hasil
tes HIV.
Dalam hal hasil tes HIV reaktif, maka sangat dianjurkan untuk mengungkapkannya kepada orang lain yang berisiko untuk tertular HIV dari pasien tersebut
sebagai bentuk dari tanggung jawab.
Kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada petugas kesehatan

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Pada umumnya dengan komunikasi verbal sudah cukup memadai untuk memberikan
informasi dan mendapatkan informed consent untuk melaksanakan tes HIV.
PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 20 of 28 - Pages: 20, 37, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

AdaKATA
beberapa
kelompok masyarakat
yang lebih
rentanPB
terhadap
PENGANTAR
KETUA
UMUM
IDI dampak buruk
seperti diskriminasi, pengucilan, tindak kekerasan, atau penahanan. Dalam hal
tersebut maka perlu diberi informasi lebih dari yang minimal di atas, untuk meyakinkan
Masalah
AIDS di
Indonesia
adalah salah
satu masalah
kesehatan
nasional
yang
informedHIV
consent
dengan
merujuknya
ke konselor
yang terlatih,
misalnya
di KTS.
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS
di Indonesiakhusus
mengalami
yang bermakna.
2. Perhatian
bagilonjakan
perempuan
hamil Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Informasi pra tes bagi perempuan yang kemungkinan akan hamil atau dalam
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
kondisi hamil harus meliputi:
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Risiko penularan HIV kepada bayi yang dikandungnya kelak
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Rencanan yang jelas guna mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anaknya
Layanandengan
tes danmenggunakan
konseling HIV ARV
saat dan
ini masih
dilakukan
dalam bentuk
Konseling
metoda
lain diantaranya
profilaksis
ARVdan
yang
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV
Counselling
and
Testing/VCT),
yang
dilakukan
di
sarana
akan diberikan pada bayi, ASI dan makanan bayi..
kesehatan (RS,
Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
Rencana yang jelas untuk bayi baik pemeriksaan dini, pemberian ARV
terdapat 468 pusat
layananpemberian
untuk VCT kotrimoksasol
di 133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia. ARV jika
profilaksis,
profilaksis
dan pengobatan
Jumlah cakupan
masih
tergolong
untuk menjangkau populasi
nantinyalayanan
terbuktitersebut
HIV reaktif
setelah
usiarendah
18 bulan..
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam
melakukankhusus
deteksi bagi
HIV menjadi
semakin
karena banyak ODHA yang
3. Perhatian
bayi, anak
danpenting
remaja
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Perlu ada pertimbangan khusus bagi anak dan remaja di bawah umur secara
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
hukum (pada umumnya <18 tahun). Sebagai individu di bawah umur yang belum
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
punya hak untuk membuat/memberikan informed consent, mereka punya hak untuk
HIV yang tinggi.
terlibat dalam semua keputusan yang menyangkut kehidupannya dan mengemukaOleh
karena itu Organisasi
(IDI, IBI,
PPNI, ISFI,
IAKMI)
membantu
kan pandangannya
sesuai Profesi
tingkat Kesehatan
perkembangan
umurnya.
Dalam
hal ini
diperlukan
Kementerian
Kesehatan
menyusun
panduan
ringkas
untuk
membantu
tenaga
kesehatan
dalam
informed consent dari orang tua atau wali/pengampu.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
akan ragu
dalam berat
mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
4. Pasientidak
dengan
penyakit
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Pasien yang mengalami kondisi kritis atau tidak sadarkan diri, tentu tidak mampu
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
untuk memberikan persetujuan secara pribadi. Dalam keadaan yang demikian, maka
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
dipertimbangkan betul manfaat tes HIV dan kepentingan pasien. Apabila tes HIV betulbetul dibutuhkan atas kepentingan pasien maka persetujuan dapat dimintakan kepada
keluarga semenda (ibu, ayah, anak kandung).
Ketua Umum PB IDI

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

Untuk perempuan: jelaskan pentingnya tetap non reaktif selama kehamilan


dan menyusui. Risiko bayi untuk terinfeksi lebih besar bila ibunya baru terinfeksi.
Pastikan pasien mengetahui cara menggunakan kondom dan tempat untuk
mendapatkannya. Berikan kemudahan untuk mendapatkan kondom di klinik
dengan cara yang jelas.
Tanyakan: apakah anda dapat menggunakan kondom? Gali hambatannya.

Pemberian edukasi dan konseling IMS

5. Penolakan untuk menjalani tes HIV


Penolakan untuk menjalani tes HIV tidak boleh mengurangi kualitas layanan lain
yang tidak terkait dengan status HIVnya.
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
Pasien yang menolak menjalani tes perlu ditawari untuk menjalani sesi konseling
di Klinik KTS di masa yang akan datang jika memungkinkan. Penolakan tersebut harus
ii 10

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Berbicara secara pribadi, dengan cukup waktu, dan pastikan kerahasiaannya.


Jelaskan:
Penyakit tersebut
Cara penularan penyakit tersebut.
Cara pencegahannya
Terapi.
Bahwa kebanyakan IMS dapat disembuhkan, kecuali HIV, herpes dan kutil
kelamin.
Perlunya mengobati pasangan (kecuali untuk vaginitis):
- Kemungkinan pasangan seksual terakhir juga terinfeksi tetapi tidak
menyadari.
- Bila pasangan tidak diobati, dapat Rujuk untuk konseling tentang:
mengalami komplikasi.
Perhatian pada herpes (tidak ada obatnya)
Kemungkinan mandul karena infeksi panggul
- Hubungan seksual dengan Penilaian
perilaku berisiko
pasangan yang tidak diberi terapi, Pasien yang bermitra seksual multipel
infeksi terulang.
- Meskipun tanpa gejala pasangan perlu diterapi, demi kesehatan pasangan
dan pasien.
Dengarkan pasien: apakah ada stress atau kecemasan terkait dengan IMS?
Dorong perilaku seksual yang aman untuk mencegah HIV dan IMS.
Konseling untuk memiliki pasangan tetap (atau pantangan) dan memilih
pasangan secara cermat.
Jelaskan cara menggunakan kondom (hal. 26 ).
Beri pendidikan tentang HIV.
Sarankan pemeriksaan dan konseling HIV (hal. 20).
Pemberitahuan pasangan atau suami/istri.
Tanyakan kepada pasien: "dapatkah anda melakukannya?" Tanyakan: apakah

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

27

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 21 of 28 - Pages: 36, 21, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Pria
dalamPENGANTAR
keluarga dan masyarakat
biasanya
sebagai
KATA
KETUA
UMUM
PBpembuat
IDI keputusan,
sehingga keterlibatan mereka akan:
Memberikan dampak lebih besar dalam hal penerimaan penggunaan
Masalah HIV
AIDS dan
di Indonesia
adalah yang
salah lebih
satu aman
masalah
kesehatan
nasional
kondom
praktek seksual
untuk
mecegah
infeksi.yang
memerlukan penanganan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Membantu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
kasus AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan
bermakna.
ini menuntut
Membantu menurunkan
risikoyang
kecurigaan
dan Hal
tindak
kekerasan.perhatian
semua pihak,terutama
parameningkatkan
tenaga kesehatan
yang memberikan
layanan kesehatan bagi
Membantu
dukungan
pada pasangannya.
pasien HIV AIDS.
Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
Memotivasi mereka untuk mau menjalani tes HIV.
bertujuan tidak
hanya
menegakkan
diagnosis namun
memberikan
konseling
untuk
Kerugianuntuk
melibatkan
dan melakukan
tes atasjuga
pasangan:
bahaya
pelimpahan
mendapatkankesalahan,
terapi dan tindak
menangani
berbagai
yang dihadapi oleh pasien.
kekerasan
danmasalah
pengucilan.
LayananBila
tes memungkinkan
dan konseling HIV
saat ini
masih dilakukan
dalam
bentuk Konseling
dan
tenaga
kesehatan
hendaknya
berupaya
memberikan
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
konseling
pasangan
secara bersama.
kesehatan(RS,Konseling
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
pedulidiAIDS.
ini dapat dilakukan olehLSM
konselor
klinikHingga
VCT. tahun 2008 telah
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Konseling
tentang
perilaku
seksual
lebihrendah
aman untuk
dan penggunaan
Jumlah
cakupan
layanan
tersebut
masih yang
tergolong
menjangkaukondom
populasi
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan

Perilaku
seksual
lebih aman
adalah
semua
praktek
seksual
bidan) dalam
melakukan
deteksiyang
HIV menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA yang
yang
risiko
penularan
HIV danstatus
IMS lain.
membutuhkanmengurangi
layanan medis
dan
belum diketahui
HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing
and Counselling)
memudahkan
Perlindungan
dapat diperoleh
dengan: dan mempercepat diagnosis,
penatalaksanaan,- dan
sudah
berkembang
luas
di sejumlah
Hindari aktifitas seksual di luar
nikah. negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi. - Gunakan kondom dengan benar dan konsisten; kondom harus dipakai
aktifitas
seksual
penetratif,
hanya
sebelum
Oleh karenasebelum
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
(IDI,bukan
IBI, PPNI,
ISFI,
IAKMI)ejakulasi.
membantu
- Memilih
aktifitas
seksualringkas
yang tidak
semen,
cairan
dari
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan
untukmemungkinkan
membantu tenaga
kesehatan
dalam
vagina
atau
untukatau
masuk
ke mulut,
anus atau
vagina
pasangan,
melakukan konseling
dan tes
HIVdarah
bagi klien
pasien.
Kami berharap
melalui
panduan
ini,
dan tidak
kulit pasangan
bila untuk
ada sayatan
luka terbuka.
tenaga kesehatan tidak
akan menyentuh
ragu dalam mendorong
pasien
tes HIVatau
sehingga
stigma/
tidak
Bila HIV
diskriminasi
lagi reaktif:
ada dalam pelayanan kesehatan.
Jelaskan
padakasih
pasien
bahwa
dia terinfeksi
dantelah
dapatberkontribusi
menularkan dalam
infeksi
Kami ucapkan
terima
kepada
semua
pihak yang
tersebut
ke pasangannya.
Kondom
harus
digunakan
seperti di kegiatan
atas. ini.
penyusunan panduan
ini dan
juga kepada pihak
GF-ATM
yang
telah mendukung
Bila status pasangan tidak diketahui, konsultasikan tentang manfaat
melibatkan dan menguji pasangan (hal. 19-20).
Untuk perempuan: jelaskan pentingnyaKetua
menghindari
infeksi
Umum PB
IDI selama
kehamilan dan menyusui. Risiko terinfeksi pada bayi adalah lebih tinggi bila
ibunya baru saja terinfeksi.

Bila HIV non reaktif ATAU hasilnya tidak diketahui:


Bahas risiko infeksi HIV dan cara menghindarinya.
Dr.berikan
Prijo Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
Bila status pasangan tidak diketahui,
konseling tentang
manfaat
pemeriksaan pasangan.
ii 26

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

dicatat di lembar catatan medisnya agar diskusi dan tes HIV di inisiasi kembali pada
kunjungan yang akan datang.

B. KONSELING PASCA TES HIV


Konseling pasca-tes merupakan bagian integral dari proses tes HIV. Semua pasien
yang menjalani tes HIV harus mendapatkan konseling pasca-tes pada saat hasil tes
disampaikan, tanpa memandang hasil tes HIVnya. Konseling pasca-tes harus diberikan
secara individual dan oleh petugas yang sama yang menginisiasi tes HIV semula.
Konseling tidak layak untuk diberikan secara kelompok.
Perlu diingat bahwa tidaklah dapat diterima apabila seorang petugas
memprakarsai untuk tes HIV dan kemudian harus menunda memberikan hasilnya
kepada pasien karena tidak sempat. Meskipun pasien mungkin belum siap untuk
menerima hasil, atau menolak untuk menerima hasil tes, petugas kesehatan harus
selalu berusaha dengan berbagai alasan yang tepat dengan cara empati untuk
meyakinkan pasien menerima dan memahami arti hasil tes HIV dan menjaga
konfidensialitas.
Setelah dapat ditegakkan diagnosis dan terapi, tujuan lain dari konseling ini adalah
perubahan perilaku klien khususnya terkait perilaku berisiko yang dapat memperburuk
kondisi penyakitnya atau penularan HIV AIDS dan penyakit infeksi lainnya kepada
orang lain. Sementara perubahan perilaku sehubungan dengan risiko penularan
kepada orang lain dapat dilaksanakan melalui rujukan kepada konselor terlatih.

1. Konseling hasil tes HIV non reaktif


Konseling bagi yang hasilnya non reaktif, minimal harus meliputi hal sebagai
berikut:
Penjelasan tentang hasil tesnya, termasuk penjelasan tentang periode
jendela, yaitu belum terdeteksinya antibodi HIV dan anjuran untuk menjalani
tes kembali ketika terjadi pajanan HIV.
Informasi dasar tentang cara mencegah terjadinya penularan HIV
Pemberian kondom laki-laki atau perempuan

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Baik petugas kesehatan maupun pasien selanjutnya membahas dan menilai


perlunya rujukan untuk mendapatkan konseling pasca tes lebih mendalam atau
dukungan pencegahan lainnya.

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

11

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 22 of 28 - Pages: 22, 35, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

2. Konseling
hasil tes HIV reaktif
KATA PENGANTAR
KETUA

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

UMUM PB IDI

Secara umum, konseling hasil tes HIV reaktif direkomendasikan untuk dilakukan
dengan
bahasa
sederhana
dan salah
singkatsatu
danmasalah
dilanjutkan
dengan
dialog yang
untuk
Masalah HIV
AIDSyang
di Indonesia
adalah
kesehatan
nasional
menangkap
keinginan
dan perspektif
pasien dalamSejak
menangani
kasus
mereka.
memerlukan
penanganan
bersama
secara komprehensif.
10 tahun
terakhir,
jumlah
kasus AIDS Bagi
di Indonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna.
Hal
ini
menuntut
perhatian
pasien dengan hasil tes HIV positif, maka petugas kesehatan menyampaikan
semua hal
pihak,
terutama
para
sebagai
berikut
: tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS.
Salah satu bentuk
layanan
adalah konseling
dan sederhana
tes HIV yang
Memberikan
informasi
hasil tersebut
tes HIV kepada
pasien secara
dan
bertujuan tidak hanya
untuk
menegakkan
diagnosis
namun
juga
memberikan
konseling
untuk
jelas dan memastikan pasien mengerti tentang arti tes.
mendapatkan terapi
dan menangani
berbagai
dihadapi
oleh pasien.
Melakukan
pemeriksaan
klinismasalah
dan labyang
secara
menyeluruh
untuk skrining TB,
infeksi oportunistik,
memberikan
infeksi
oportunistik
Layanan tesmencari
dan konseling
HIV saat ini masih
dilakukanpengobatan
dalam bentuk
Konseling
dan
jika
ada,
memberikan
kotrimoksasol
profilaksis
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Memberikan
rencana
pengobatan
danAIDS.
informasi
tempat
utk
kesehatan (RS,Puskesmas
dan Klinik)
maupun
di LSMARV
peduli
Hingga
tahunpelayanan
2008 telah
ARV
terdekat
dengan
pasien.
Memberi kesempatan
pasien
untuk bertanya
terdapat 468 pusat
layanan
untuk
VCT di
133 kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia.

Memulai
konseling
pra
ARTf
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
Merujukstatus
ke unit
terkait Peran
dengan
kebutuhan
pasien
baik terkait
berisiko dan mengetahui
HIVlain
mereka.
tenaga
kesehatan
(dokter,
perawatdengan
dan
perawatan,
pengobatan
maupun
pencegahan.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang

Umum PB IDI
C. RUJUKAN KE LAYANAN LAIN YANGKetua
DIBUTUHKAN

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

Bahas keuntungan membuka diri.


Tanya pasien apakah telah mengungkapkan hasilnya atau mau
mengungkapkan hasil tersebut kepada orang lain.
Bahas kekhawatiran untuk mengungkap status HIV kepada pasangan, anak
dan keluarga lain, atau teman.
Nilai kesiapan untuk mengungkap status HIV dan kepada siapa (mulai
dengan yang paling rendah risiko). Jajagi jejaring sosial.
Jajagi ketersediaan dukungan dan kebutuhan sosial (kelompok dukungan).
Ajarkan cara mengungkapkan status (dengan peragaan dan latihan).
Bantu pasien untuk merencanakan pengungkapannya.
Memotivasi kehadiran pasangan untuk mempertimbangkan tes HIV; gali
hambatan untuk menjalani tes.
Yakinkan kembali bahwa anda akan menjamin kerahasiaan hasil tes pasien.
Bila salah satu risiko pengungkapan hasil adalah kekerasan rumah tangga,
maka bantulah menciptakan lingkungan yang aman.
Bila pasien tidak ingin mengungkapkan hasil tersebut:
Yakinkan kembali akan jaminan atas kerahasiaan hasil tes pasien.
Telusuri kesulitan dan kendal pengungkapan. Atasi kekhawatiran dan kendala
komunikasi - latih pasien berkomunikasi.
Terus memotivasi. Bahas kemungkinan membahayakan orang lain.
Hubungkan bantuan tambahan sesuai keperluan (misalnya konselor sebaya).
Khusus untuk perempuan, bahas manfaat dan kerugian mengungkap hasil
reaktif, melibatkan serta menguji HIV pasangan.

ii 12

PEDOMAN PENERAPAN

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

Dukungan untuk membuka diri

membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
3. Testing
Konseling
bagi memudahkan
ibu hamil dan mempercepat diagnosis,
Initiated
andpasca-tes
Counselling)
penatalaksanaan,
dan
sudah
berkembang
luas diHIV
sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
Konseling
bagi
perempuan
hamil dengan
reaktif juga
harus
meliputi
masalah
berikut:
HIV yang tinggi. Rencana persalinan
Penggunaan
antiretroviral.
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu

Dukungan
gizi
yang
memadai,
termasuk
pemenuhan
kebutuhan
zat besi
dan
Kementerian Kesehatan menyusun panduan
ringkas
untuk membantu
tenaga
kesehatan
dalam
asam
folat.
melakukan konseling
dan
tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,

Pemberian
ARV dalam
pada bayi
segera setelah
lahir, tes
pemberian
kotrimoksasol
tenaga kesehatan tidak akan ragu
mendorong
pasien untuk
HIV sehingga
stigma/
ASI dan
makanankesehatan.
bayi.
diskriminasi tidak profilaksis,
lagi ada dalam
pelayanan
Rencana tes HIV pada bayi setelah usia 18 bulan dan tindak lanjut lain terkait
Kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
dengan
perawatan
dan pengobatan
yang
mungkin
diperlukan. kegiatan ini.
penyusunan panduan
ini dan
juga kepada
pihak GF-ATM
yang
telah mendukung
Tes HIV bagi pasangan.

Semua pasien dengan hasil tes reaktif HARUS dirujuk untuk mendapatan akses
pengobatan ARV, pengobatan penyakit terkait HIV dan perawatan lainnya. Pasien dengan
hasil non reaktif perlu dirujuk untuk mendapatkan informasi lanjut tentang pencegahan.
Dr. Prijo
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
Semua informasi mengenai pasien perlu ditulis
dalam
catatan medis
untuk dapat
dijadikan bukti legal dan untuk dapat ditindak lanjut oleh team kesehatan lainnya.

Bila perlu, rujuklah pasien untuk mendapatkan layanan pencegahan dan


perawatan lebih lanjut, seperti kepada dukungan sebaya dan layanan khusus
untuk kelompok rentan.
Bila pasien belum dites atau telah dites tidak ingin mengetahui hasilnya
atau belum membuka hasilnya
Jelaskan prosedur yang menjamin kerahasiaan.
Tekankan kembali pentingnya menjalani tes dan keuntungan untuk
mengetahui hasilnya.
Gali kembali kendala untuk menjalani tes, mengetahui, dan membuka status (rasa takut, persepsi yang salah, dan sebagainya).

KON

25

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 23 of 28 - Pages: 34, 23, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

bayi, dan
mendapat penjelasan
agar mampu
membuat
perencanaan yang
KATA
PENGANTAR
KETUA
UMUM
PB IDI
tepat tentang kehamilan yang datang.
Kita juga akan bahas dampak psikologis dan emosional dari infeksi HIV dan
Masalah HIV
AIDS di Indonesia
satu masalah
kesehatan
yang
memberikan
dukunganadalah
untuksalah
membuka
status infeksi
anda nasional
kepada orang
memerlukan penanganan
bersama
komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
yang menurut
andasecara
perlu mengetahuinya.
kasus AIDS diIndonesia
mengalami
lonjakan
yang bermakna.
Hal ini menuntut
Diagnosis dini akan membantu
anda menghadapi
penyakitperhatian
ini dan
semua pihak, terutama
para tenaga
yang
memberikan
layanan kesehatan bagi
merencanakan
masa kesehatan
depan anda
dengan
lebih baik.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
terapipasca
dan menangani
berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Konseling
tes
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan

Bila (Voluntary
hasil tes reaktif
dan telah dikonfirmasi:
Tes HIV Sukarela
HIV Counselling
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Jelaskan bahwa
berarti
pasienditersebut
telah
terinfeksi
kesehatan (RS, Puskesmas
dan Klinik)
maupun
LSM peduli
AIDS.
Hingga tahun 2008 telah
Berikan
konseling
pasca
dukungan di seluruh Indonesia.
terdapat 468 pusat
layanan
untuk VCT
di tes
133dan
kabupaten/kota

Tawarkan
perawatan
berkelanjutan
dan rencanakan
kunjungan
tindak
lanjut
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong
rendah untuk
menjangkau
populasi
Berikan nasehat
pentinganya
perilaku
seks (dokter,
dengan kondom
berisiko dan mengetahui
status HIV
mereka. melakukan
Peran tenaga
kesehatan
perawat agar
dan
tidak menularkan
orang
lain penting
dan terhindar
dari IMS
lain,yang
dan
bidan) dalam melakukan
deteksi HIVkepada
menjadi
semakin
karena banyak
ODHA
terhindar
dari
infeksi
virus
HIV
jenis
lain.
Buat
rencana
pengurangan
perilaku
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
berisiko
pasien memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Initiated Testing
and bersama
Counselling)

Berikan
saran
kepada
pria dewasa
untuk tidak
melakukan
seksual
penatalaksanaan, dan sudah berkembang
luas di sejumlah
negara
denganhubungan
tingkat epidemi
HIV yang tinggi. di luar nikah, untuk menghindari penularan kepada orang lain.
Bila perlu, rujuklah pasien untuk mendapatkan layanan pencegahan dan
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
perawatan lebih lanjut, seperti kepada dukungan sebaya dan layanan khusus
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
untuk kelompok rentan.
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,

Bila tidak
hasil tes
reaktif
tenaga kesehatan
akannon
ragu
dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
Berikan
kesempatan
pada pasien
untuk merasa lega atau bereaksi reaktif
diskriminasi tidak
lagi ada
dalam pelayanan
kesehatan.
yang
lain.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
Berikan konseling tentang pentingnya tetap non reaktif dengan cara
penyusunan panduan
ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.
menggunakan kondom secara benar dan konsisten, atau perilaku seksual
yang lebih aman lainnya.
Buat rencana pengurangan perilaku berisiko
bersama
pasien
Ketua
Umum
PB IDI
Apabila pajanan baru saja terjadi atau pasien termasuk dalam kelompok
risiko tinggi, jelaskan bahwa hasil negatif tersebut dapat berarti tidak
terinfeksi HIV atau sudah terinfeksi namun belum sempat terbentuk antibodi
untuk melawan virus (disebut Periode Jendela = "Window Period", 3-6
bulan). Tawarkan tes HIV ulang padaDr.
8 minggu
kemudian. Sp.Rad(K)
Prijo Sidipratomo,

ii 24

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

D. FREKUENSI TES HIV


Anjuran untuk melakukan tes HIV ulang sangat tergantung pada perilaku berisiko
yang masih terus berlangsung pada pasien. Tes HIV ulang setiap 6-12 bulan mungkin
akan bermanfaat bagi individu berisiko tinggi untuk mendapat pajanan HIV.
Pemeriksaan STI juga menjadi pemeriksaan rutin bagi individu beresiko tinggi
Perempuan dengan HIV non reaktif sebaiknya di tes ulang sedini mungkin pada
setiap kehamilan baru. Tes HIV ulangan pada usia kehamilan lanjut sangat dianjurkan
pada semua perempuan hamil dengan HIV non reaktif di daerah dengan tingkat
epidemi meluas. Pemeriksaan untuk STI menyeluruh termasuk sifilis juga
direkomendasikan untuk setiap wanita hamil.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

E. TEKNIK TES HIV


Diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan menggunakan 3 metoda yaitu
pemeriksaan antibodi
Metoda pemeriksaan antibodi yang tersedia adalah :
Rapid tes
Elisa
Western blot
Kebijakan nasional, dalam sudut pandang kesehatan masyarakat dan
mempertimbangkan infrastruktur layanan kesehatan yang belum merata di seluruh
Indonesia, untuk pemeriksaan diagnostik untuk pasien dewasa dan remaja adalah
dengan menggunakan strategi 3 (tiga) yaitu menggunakan 3 jenis rapid tes.
Hal yang perlu diperhatikan dalam diagnosis HIV adalah adanya periode jendela.
Periode jendela adalah suatu keadaan yang terjadi pada awal infeksi HIV, dimana
seseorang pada waktu dilakukan test akan didapat hasil non reaktif sedangkan replikasi
virus mencapai kondisi optimum.

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Kondisi tersebut dapat pula terjadi pada kasus terminal pada fase AIDS ( end stage),
dimana seseorang terdapat gejala infeksi oportunistik pada stadium 4 dan test serologi
menunjukkan hasil non reaktif. Kondisi ini bukan merupakan periode jendela akan tetapi
kondisi non reaktif palsu ( false non reaktif) karena jumlah antibodi terlalu sedikit untuk
dapat ditangkap oleh rapid tes atau elisa. Pada keadaan ini konfirmasi diagnosis dilakukan
dengan pemeriksaan antigen atau pasien diobati sesuai dengan infeksi oportunistik yg
ditemui dan diulang pemeriksaan antibodi 1 - 2 minggu kemudian.
PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

13

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 24 of 28 - Pages: 24, 33, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Pemilihan
pemeriksaan laboratorium
yang tergantung
KATAjenis
PENGANTAR
KETUA UMUM
PB pada
IDI kondisi pasien,
tipe rumah sakit dan kapasitas yang tersedia dan menggunakan sistem laboratorium
yang telah divalidasi baik oleh pemerintah maupun berdasarkan evidence.
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus
di Indonesia mengalami
lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
F. AIDS
PERTIMBANGAN
PROGRAM
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
untuk
menerapkan
sangat
tergantung
daridan
penilaian
pasien HIV Pertimbangan
AIDS. Salah satu
bentuk
layanan PITC
tersebut
adalah
konseling
tes HIVkeadaan
yang
epidemiologi
HIV
dan
infeksi
oportunistik
di
suatu
wilayah.
Perlu
dipastikan
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling
untuk
ketersediaan
infrastruktur
terdiri
dari sumber
dana, sumber
daya manusia,
mendapatkan
terapi dan
menanganiyang
berbagai
masalah
yang dihadapi
oleh pasien.
ketersediaan layanan standar bagi pencegahan, pengobatan, perawatan dan
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
dukungan. Ketersediaan kerangka kerja sosial, kebijakan dan peraturan untuk
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
mencegah dampak buruk HIV, seperti diskriminasi, stigma, dan tindak kekerasan
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
termasuk bagian yang perlu dipertimbangkan. Sebelum menerapkan PITC perlu
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
mempersiapkan kondisi tersebut di atas. Penerapan di daerah memerlukan
Jumlah
cakupanstrategis
layanan tersebut
masih tergolong
untukkepentingan
menjangkau populasi
perencanaan
yang melibatkan
semuarendah
pemangku
yang ada,
berisikotermasuk
dan mengetahui
status
HIVdan
mereka.
tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
kelompok
sosial
ODHA Peran
setempat.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Program
PITC
harus
dengan
pelaksanaan
progam
Kedua
membutuhkan
layanan
medis
dan bersinergis
belum diketahui
status
HIV-nya. Layanan
PITCVCT.
(Provider
pendekatan
merupakan
modelmemudahkan
yang saling melengkapi
sesuai dengan perencanaan
Initiated
Testing ini
and
Counselling)
dan mempercepat
diagnosis,
strategis
di
masing-masing
daerah.
Di
Indonesia,
pelaksanaan
PITCtingkat
harus epidemi
didukung
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan
dengan
HIV yang
tinggi. layanan konseling lanjutan dan pengobatan. Petugas kesehatan terdiri dari
dokter, perawat, bidan dan harus bekerjasama dengan konselor untuk layanan
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
konseling lanjutan sesuai dengan kebutuhan klien terkait dengan dukungan lebih
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
lanjut. Petugas kesehatan harus berkoordinasi dengan konselor untuk peningkatan
melakukan konseling dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
kualitas konseling lanjutan.
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

Ketua Umum PB IDI

Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)

ii 14

Cyan

Yellow

Bila pasien perlu informasi tambahan, bahas keuntungan dan pentingnya


mengetahui status HIVnya.
Hal yang perlu disampaikan:
Hasil tes akan membantu tenaga kesehatan untuk membuat diagnosis yang
lebih tepat dan memastikan terapi tindak lanjut secara efektif.
Bila hasil tes anda non reaktif, diagnosis HIV dapat disingkirkan dan
memberikan konseling untuk membantu anda agar tetap non reaktif.
Bila hasil anda reaktif, anda akan dibantu untuk melindungi diri dari reinfeksi dan mencegah pasangan anda terinfeksi
Anda akan diberi perawatan dan terapi untuk mengendalikan penyakit, di antaranya:
- profilaksis kotrimoksasol;
- pemeriksaan berkala dan dukungan;
- pengobatan infeksi; dan
- terapi antiretroviral (ART)- jelaskan tempat untuk mendapatkan dan cara
penggunaannya. (Lihat Buku Bagan Perawatan HIV Kronik)
Anda akan mendapatkan tindakan untuk mencegah penularan dari ibu ke

PEDOMAN PENERAPAN

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Kami perlu menginformasikan bahwa kami akan mengambil sampel darah


anda untuk tes HIV, bagaimana pendapat anda?
ATAU
Kami akan melakukan tes HIV hari ini, bila anda tidak keberatan
ATAU
Menurut kami tes HIV akan membantu kami dalam memberikan
perawatan karena itu kami akan mengambil darah bila anda tidak
keberatan. Apakah anda setuju?
Bila pasien masih mempunyai pertanyaan, berilah informasi yang ia perlukan.
Bila pasien masih ragu untuk menjalani tes HIV, rujuklah ke sarana KTS untuk
mendapatkan konseling pra tes secara lengkap. Sesi konseling tersebut harus
membahas kendala yang dihadapi untuk menjalani tes dan menawarkannya
kembali.
Bila pasien telah siap, maka mintalah persetujuan yang sebaiknya tertulis:
"untuk melakukan tes HIV kami perlukan persetujuan tertulis anda sebagai
dasar kami mengambil tindakan "
Ingat: pasien berhak untuk menolak menjalani tes HIV karena tes HIV tidak
boleh dipaksakan.

Black

KON

23

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 25 of 28 - Pages: 32, 25, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

BerikanPENGANTAR
informasi penting HIV/AIDS
KATA
KETUA UMUM PB IDI

Informasikan jaminan konfidensialitas dan artinya


minta persetujuan tertulis. Perlu diinformasikan bahwa apabila pasien
Masalah HIV
AIDS di Indonesia
salah maka
satu masalah
kesehatan nasional yang
merasaiperlu
konselingadalah
lebih lanjut
akan dirujuk.
memerlukan penanganan
bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
Beri jaminan jika reaktif maka pasien akan mendapatkan perawatan dan
kasus AIDS di Indonesia
mengalami
lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
pengobatan
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan1.tidak
hanya untuk informasi
menegakkan
diagnosis
Memberikan
penting
HIVnamun juga memberikan konseling untuk
mendapatkanKatakan:
terapi dan"HIV
menangani
berbagai
oleh pasien.
adalah virus
ataumasalah
kuman yang
yangdihadapi
dapat merusak
bagian tubuh
Layananmanusia
tes dan yang
konseling
HIV
saat
ini
masih
dilakukan
dalam
bentuk
Konseling
diperlukan untuk melindungi dari serangan penyakit. Tesdan
HIV
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
HIV Counselling
and Testing/VCT),
yangoleh
dilakukan
di sarana
dapat
menentukan
apakah Anda
telah terinfeksi
virus tersebut.
kesehatan (RS,Pemeriksaan
Puskesmas dan
maupunpemeriksaan
di LSM peduli darah
AIDS. Hingga
tahunyang
2008dapat
telah
iniKlinik)
merupakan
sederhana
terdapat 468 pusat
layanandiagnosis.
untuk VCTSetelah
di 133 menjalani
kabupaten/kota
di seluruh
Indonesia. layanan
memperjelas
tes, kami
akan memberikan
untuk membahas
lebihtergolong
dalam tentang
Bila hasil populasi
tes Anda
Jumlah konseling
cakupan layanan
tersebut masih
rendahHIV/AIDS.
untuk menjangkau
positif, kamistatus
akan HIV
memberikan
informasi
dankesehatan
layanan untuk
mengendalikan
berisiko dan mengetahui
mereka. Peran
tenaga
(dokter,
perawat dan
Termasuk
obatsemakin
antiretroviral
atau
obatODHA
lain untuk
bidan) dalam penyakit
melakukanAnda.
deteksi
HIV menjadi
penting dan
karena
banyak
yang
penyakit.
samping
itu, kami
akan
membantu
dengan
membutuhkanmengatasi
layanan medis
dan Di
belum
diketahui
status
HIV-nya.
Layanan
PITC dukungan
(Provider
dalam and
hal pencegahan
penyakit
dan membuka
Bila hasilnya non
reaktif,
Initiated Testing
Counselling)
memudahkan
dan diri.
mempercepat
diagnosis,
makadan
kitasudah
akan berkembang
lebih mengupayakan
agar Anda
bertahan
tetap
non reaktif."
penatalaksanaan,
luas di sejumlah
negara
dengan
tingkat
epidemi
HIV yang tinggi.
Oleh karena itu Organisasi Profesi Kesehatan (IDI, IBI, PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
2. Kesehatan
Penjelasan
prosedurpanduan
untuk menjamin
konfidensialitas
Kementerian
menyusun
ringkas untuk
membantu tenaga kesehatan dalam
Katakan:dan
"Hasil
tesbagi
HIV klien
ini bersifat
rahasia,
terkait
dengan
penanganan
HIV
melakukan konseling
tes HIV
atau pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan ini,
yang
memerlukan
kerja
sama
tim,
maka
status
HIV
Anda
hanya
diketahui
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
oleh lagi
Anda
tim pelayanan
medis yangkesehatan.
akan memberikan perawatan terkait dengan
diskriminasi tidak
adadan
dalam
HIV
kepada
anda
yang
tahu.
Artinya,
petugas
diizinkandalam
untuk
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang kami
telah tidak
berkontribusi
memberiinitahukan
tes anda
yang
tidak berkepentingan
penyusunan panduan
dan jugahasil
kepada
pihakkepada
GF-ATMorang
yanglain
telah
mendukung
kegiatan ini.
tanpa seizin anda. Untuk memberitahukannya kepada orang lain sepenuhnya
menjadi hak Anda.
Ketua Umum PB IDI

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

BAB V

3. Meyakinkan kesediaan pasien untuk menjalani tes dan meminta persetujuan


pasien (informed consent).
Informed consent artinya pasien telah diberi informasi secukupnya tentang
HIV/AIDS dan Tes HIV, sepenuhnya memahaminya
dan karenannya
menyetujui
Dr. Prijo Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
untuk menjalani tes HIV.

ii 22

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

MONITORING DAN EVALUASI


Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan pada tingkat pelaksana maupun tingkat
yang lebih tinggi. Pada tingkat pelaksana monitoring dibutuhkan sebagai bagian dari
upaya kendali mutu pelayanan sedangkan pada tingkat program, digunakan untuk
perencanaan dan kebijakan.
Pada tingkat pelaksana, hal yang dapat dipertimbangkan untuk dimonitoring adalah
1. Ratio antara jumlah pasien yang ditawarkan tes dengan jumlah pasien yang
menolak
2. Rasio antara jumlah pasien yang menerima tes dengan jumlah dengan hasil
tes reaktif ( dapat menunjukkan data incidence rate)
3. Rasio jumlah pasien yang dinyatakan reaktif dengan jumlah pasien yang
mendapatkan akses kotrimoksasol dan ARV
4. Persentase pasien yang didapat di rawat jalan dan rawat inap
5. Perbandingan pasien yang ditesting dari setiap unit rawat jalan
Dari data tersebut kemudian dapat dilakukan evaluasi semua hal yang
menghambat implementasi PITC, diantaranya
Kinerja dan kapasitas petugas
Alur layanan, sistem layanan ( terintegrasi atau terkotak-kotak) dan rujukan
Aspek lain yang menghambat pasien seperti sistem pendanaan kesehatan
(Jamkesmas) yang rumit, komunikasi antar petugas, logistik reagen, obat, dll
Jika dari data diatas didapat hasil yang kurang memuaskan maka evaluasi
menyeluruh untuk sistem pelayanan seperti jam kerja, sistem pembiayaan kesehatan,
jumlah petugas, logistik, kapasitas petugas, komunikasi petugas, dll di semua lini perlu
dilakukan. Hal ini dapat menjadi bagian dari kendali mutu pelayanan dan jasa.

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

A. JAMINAN MUTU LAYANAN


Tes HIV dijalankan sesuai dengan standar pelayanan laboratorium kesehatan
pemeriksa HIV dan infeksi oportunistik, terbitan Kementerian Kesehatan tahun 2006
dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 370/Menkes/SK/III/
2007 tentang Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan . Untuk daerahPEDOMAN PENERAPAN

Black

me
kas
sem
pas
ber
me

15

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 26 of 28 - Pages: 26, 31, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

daerah KATA
terpencilPENGANTAR
dapat dilakukan olehKETUA
perawat yang
terlatih (mengacu
UMUM
PB IDI pada pedoman
VCT terbitan Kementerian Kesehatan 2005.).
Mutu layanan testing dan konseling diatur melalui beberapa peraturan antara lain:
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
a. Kepmenkes No. 1507/MENKES/SK/X/2005 mengenai Pedoman Pelayanan Konseling
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
dan Testing HIV/AIDS Secara Sukarela (Voluntary Counselling and
Testing).
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
b. Kepmenkes No. 241/Menkes/SK/IV/2006 mengenai Standar Pelayanan
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik.
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
c. Kepmenkes No. 832/Menkes/SK/X/2006 mengenai Penetapan Rumah Sakit Rujukan
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Standar Pelayanan Rumah Sakit Rujukan
mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.
Odha dan Satelitnya.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
kesehatan
(RS, Puskesmas
dan Klinik)
maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
B. SUMBER
DAYA
MANUSIA
terdapat 468 pusat layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
1. Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas :
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
berisiko dan mengetahui
status HIV mereka.
perawat
Profesi menganjurkan
pelatihanPeran
bagi tenaga
tenaga kesehatan
medis dan(dokter,
penyegaran
ilmudan
dan
bidan) dalam melakukan
deteksi
HIV
menjadi
semakin
penting
karena
banyak
ODHA
yang
keterampilan dalam Konseling dan Tes HIV melalui Pendidikan Kedokteran
membutuhkanBerkelanjutan/CPD/CME.
layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
2. Perlindungan
penatalaksanaan,
dan sudah SDM:
berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
HIV yang tinggi.Tenaga kesehatan yang melakukan konseling dan tes HIV di sarana layanan
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
(IDI, IBI,
PPNI, ISFI,dan
IAKMI)
membantu
kesehatan
dilindungi
melalui
UU Praktek
Kedokteran
prosedur
standar
Kementerian Kesehatan
menyusunsetempat
panduan ringkas
untuk membantu
tenaga
kesehatan
dalam
layanan kesehatan
Serta Manual
Rekam Medis
Tahun
2006 dari
Konsil
melakukan konseling
dan
tes
HIV
bagi
klien
atau
pasien.
Kami
berharap
melalui
panduan
ini,
Kedokteran Indonesia (KKI) serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
tenaga kesehatan
tidak akan
dalam
mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
36 Tahun
2009ragu
Tentang
Kesehatan.
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
3. Mutu Konseling
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan
ini dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang telah
mendukungkinerja
kegiatan
ini.
Perangkat
untuk
menilai
mutu
layanan
termasuk
mengevaluasi
seluruh
staf, penilaian mutu konseling melalui kegiatan supervisi, melakukan
pertemuan berkala dengan para konselor, kotak saran, penilaian oleh pengguna
Ketuaaturan
Umumprotokol.
PB IDI
jasa, mengukur seberapa jauh konselor mengikuti
Perangkat jaminan mutu konseling:
Formulir kepuasan pelanggan
Syarat Minimal layanan sesuai yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
dan WHO.
Pengamatan langsung ketika proses konseling berjalan seizin pasien/klien.
ii 16

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

(LAMPIRAN 1, halaman 37)


Contoh : "Kami akan mencari penyebab penyakit Anda. Untuk mendiagnosis dan
mengobati penyakit Anda, kami perlu melakukan pemeriksaan infeksi tifoid, TB
dan HIV, kecuali bila Anda keberatan.
Contoh lain: "penyakit anda mungkin terkait dengan HIV, kalau kita tahu, maka
anda akan mendapat pengobatan yang tepat dan obat HIV tersedia gratis di Indonesia dan di sarana ini
Atau dengan kalimat yang sesuai dengan budaya dan penerimaan masyarakat
setempat yang intinya serupa dengan yang terkandung dalam kalimat di atas.

Penawaran tes HIV secara rutin


Penawaran tes HIV secara rutin dan konseling berarti menawarkan tes HIV kepada
semua pasien pengunjung layanan medis yang masih aktif secara seksual tanpa
memandang keluhan utamanya.
Contoh : "Salah satu kebijakan di layanan kami adalah menawarkan ke setiap pasien
untuk mendapatkan kesempatan menjalani pemeriksaan HIV agar kami dapat
segera memberikan perawatan dan pengobatan selagi Anda di sini dan merujuk
untuk tindak lanjut setelah Anda pulang, kecuali bila Anda keberatan. Kami akan
memberikan konseling dan menyampaikan hasilnya.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

Baik pemeriksaan untuk diagnostik maupun sebagai penawaran


rutin, maka seharusnya pasien selalu diberi informasi pra-tes
di bawah.
Informasi dapat disampaikan secara individu atau secara
kelompok oleh tenaga kesehatan dan pekerja sosial.

pen

Informasi pra tes dan edukasi untuk pasien dewasa*

Informasi pra tes dapat diberikan oleh seorang dokter, perawat, atau konselor.
Informasi dapat disampaikan secara individu atau secara kelompok oleh tenaga
kesehatan.
Informasi pra tes sebaiknya terpusat pada tiga komponen di bawah ini:

PEDOMAN PENERAPAN

Black

KON

21

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 27 of 28 - Pages: 30, 27, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

Tes HIV
dan Konseling
KATA
PENGANTAR

KETUA UMUM PB IDI

Tes HIV dan konseling atas Inisiasi petugas kesehatan terdiri


Masalah
AIDS
dari 3 HIV
tahap
: di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan
bersama
secara
komprehensif.
Informasi pra
tes dan
edukasi
(hal. 25) Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS diIndonesia
mengalami
lonjakan
yang
bermakna. Hal ini menuntut perhatian
Tes HIV (hal. 35)
semua pihak, terutama
para
tenaga kesehatan
Konseling
pasca-tes.
(hal.28) yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
mendapatkan
danmenyarankan
menangani berbagai
Saat terapi
dan cara
tes masalah yang dihadapi oleh pasien.
Layanan tes dan konseling HIV saat ini masih dilakukan dalam bentuk Konseling dan
Perlu ditawarkan
tesHIV
HIVCounselling
dan konseling:
Tes HIV Sukarela
(Voluntary
and Testing/VCT), yang dilakukan di sarana
Setiap kali pasien datang dengan gejala atau tanda
kesehatan (RS, Puskesmas dan Klinik) maupun di LSM peduli AIDS. Hingga tahun 2008 telah
yang
mengarah
atau
terdapat 468 pusat
layanan
untukpada
VCTinfeksi
di 133 HIV,
kabupaten/kota
di seluruh Indonesia.
Setiap pasien yang aktif secara seksual yang belum
Jumlah cakupan layanan tersebut masih tergolong rendah untuk menjangkau populasi
diketahui status HIVnya dan akan medapatkan
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
manfaat dari hasil konseling dan tes HIV.
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Dalam situasi klinik ada dua keadaan di mana tes HIV perlu
membutuhkan layanan medis dan belum diketahui status HIV-nya. Layanan PITC (Provider
ditawarkan:
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Pemeriksaan diagnostik sebagai kelengkapan dalam
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di sejumlah negara dengan tingkat epidemi
mendiagnosis pasien
HIV yang tinggi.
Penawaran rutin bagi pengunjung klinik untuk layanan
Oleh karena
itu Organisasi
Profesi
Kesehatan
(IDI, lain,
IBI, PPNI,
ISFI, IAKMI) membantu
kesehatan
selain HIV
(ANC,
TB, penyakit
keluarga
Kementerian Kesehatan
menyusun
panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
berencana,
IMS dsb.)
melakukan
konseling
dan
tes
HIV
bagi
atau pasien
pasien. berhak
Kami berharap
Pada kedua situasi di atas,klien
setiap
untuk melalui panduan ini,
tenaga kesehatan
akanmenjalani
ragu dalampemeriksaan
mendorong pasien
tes HIV sehingga stigma/
menolaktidak
untuk
lab -untuk
disebut
diskriminasi
tidak
lagi
ada
dalam
pelayanan
kesehatan.
"opt out".
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan panduan ini dan juga kepada pihak GF-ATM yang telah mendukung kegiatan ini.

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

Mutu tes HIV dilakukan melalui


Pemantapan mutu internal bertujuan untuk mencegah kesalahan
pemeriksaan dan mengawasi proses agar mendapatkan hasil pemeriksaan
yang tepat dan benar. Kegiatan ini meliputi tersedianya protap untuk seluruh
kegiatan, format pencatatan, sediaan kontrol sampel.
Pemantapan mutu eksternal dilakukan secara berjenjang dan berkala,
meliputi :
uji silang (cross check) sampel,
supervisi dan
uji profisiensi (panel tes)

me
kas
sem
pas
ber
me

4. Mutu Tes HIV

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Tes Diagnostik
Ketua Umum PB IDI
Tes diagnostik sebagai bagian dari proses klinis dalam menentukan diagnosis
pasien. Bila ada gejala yang sesuai dengan infeksi HIV, jelaskan bahwa akan
dilakukan pemeriksaan HIV dalam rangka menegakkan diagnosis.
Tes diagnostik HIV sebaiknya ditawarkan seperti tersebut diatas kepada semua
Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K)
pasien dengan kondisi seperti pada "Pertimbangkan Penyakit Terkait - HIV"

ii 20

Cyan

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

17

ii

Buku Pedoman Penerapan 25-6-2011.pdf, Flat 28 of 28 - Pages: 28, 29, 06/27/11 01:17 PM

KONSELING
KONSELINGDAN
DANTESTESHIVHIVATAS
ATASINISIASI
INISIASIPETUGAS
PETUGASKESEHATAN
KESEHATAN

KONSELING DAN TES HIV ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KATA PENGANTARBAB
KETUA
VI UMUM PB IDI
Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang
memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah
kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian
semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi
pasien HIV AIDS. Salah satu Bagan
bentuk1.layanan
adalah
konseling dan tes HIV yang
Bagan tersebut
Alur Layanan
PITC
bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk
Kontakyang
awal antara
petugas
dan pasien.
pasien
mendapatkan terapiKIEdan
menangani berbagai masalah
dihadapi
oleh
untuk pasien
Petugas menginformasikan pentingnya tes HIV
Layanan tes dan(optional)
konseling HIV saat ini masih
dalam
bentuk
Banyakdilakukan
pasien tertentu
juga mengidap
HIVKonseling dan
Diagnosis
HIV
untuk
kepentingan
perawatan
medis
Edukasi
diberikan
selama
pasien
Tes HIV Sukarela (Voluntary HIV Counselling and Testing/VCT), yang dilakukan
di sarana
Sekarang tersedia obat untuk HIV
menunggu giliran, pilih salah satu cara:
kesehatan (RS,Edukasi
Puskesmas
dan
Klinik)
maupun
di
LSM
peduli
AIDS.
Hingga
tahun
2008
telah
Informasi tentang kebijakan UPK
kelompok oleh petugas atau
Semua pasien tertentu
dites HIV
nya kecuali
dengan AVA
terdapat 468 pusat
layanan untuk VCT di 133 kabupaten/kota
diakan
seluruh
Indonesia.
pasien menolak
Poster
Jumlah cakupan
layanan tersebut masih Petugas
tergolong
rendah
untukpasien
menjangkau populasi
menjawab
pertanyaan
Brosur
berisiko dan mengetahui status HIV mereka. Peran tenaga kesehatan (dokter, perawat dan
bidan) dalam melakukan deteksi HIV menjadi semakin penting karena banyak ODHA yang
Pasien
menolak Layanan
Tes HIV
Pasien setuju
Tesdan
HIV belum diketahui status
membutuhkan layanan
medis
HIV-nya.
PITC (Provider
( dengan informed consent )
Petugas mengulang informasi tentang pentingnya tes HIV
Initiated Testing and Counselling) memudahkan dan mempercepat diagnosis,
Bila masih menolak juga
penatalaksanaan, dan sudah berkembang luas di
sejumlah
dengan
tingkat
Sarankan
sebagai negara
alternatif untuk
ke klinik
KTS dan epidemi
Tes Cepat HIV
pulangkan
HIV yang tinggi.
Tes Cepat HIV dilaksanakan oleh Petugas
Pada kunjungan berikutnya diulangi informasi tentang
di Laboratorium
pentingnya
HIV PPNI, ISFI, IAKMI) membantu
Olehatau
karena
itu Organisasi Profesi Kesehatan
(IDI,tesIBI,
Kementerian Kesehatan menyusun panduan ringkas untuk membantu tenaga kesehatan dalam
Petugas menyampaikan hasil tes
melakukan konseling
dan tes HIV bagi klien atau pasien. Kami berharap melalui panduan ini,
kepada pasien
tenaga kesehatan tidak akan ragu dalam mendorong pasien untuk tes HIV sehingga stigma/
diskriminasi tidak lagi ada dalam pelayanan kesehatan.
dengan hasil tes HIV non reaktif
Pasien dengan
Tes berkontribusi
HIV Reaktif
KamiPasien
ucapkan
terima kasih kepada semua pihak
yang hasil
telah
dalam
Petugas memberikan hasil tes non reaktif
Petugas informasikan hasil tes HIV reaktif
penyusunan Berikan
panduan
ini
dan
juga
kepada
pihak
GF-ATM
yang
telah
mendukung
kegiatan
ini.
Berikan dukungan kepada pasien dalam
pesan tentang pencegahan

ALUR PENYELENGGARAAN TES HIV DAN


KONSELING ATAS INISIASI PETUGAS

menanggapi hasil tes


Informasikan perlunya perawatan dan
pengobatan HIV
Informasikan cara
pencegahan
penularan
Ketua
Umum
PB kepada
IDI
pasangan
Sarankan agar pasangan di tes HIV
Tercatat di klinik KTS

Rujukan

Jelaskan cara penularan HIV


HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Orang yang terinfeksi
HIV mungkin tidak merasa sakit pada awalnya, tetapi perlahan-lahan sistem
kekebalan tubuh akan rusak. Dia akan menjadi sakit dan tidak mampu melawan
infeksi. Sekali seseorang terinfeksi HIV, dia dapat menularkan virus tersebut
ke orang lain.
HIV dapat ditularkan melalui :
Cairan tubuh yang terinfeksi HIV seperti : semen, cairan vagina atau darah
selama hubungan seksual yang tidak aman.
Tranfusi darah yang terinfeksi HIV.
Pengguna napza suntik yang bertukar jarum suntik tidak steril.
Alat tato / skin piercing.
Dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya selama:
i. kehamilan;
ii. melahirkan dan persalinan; dan
iii.menyusui
HIV tidak dapat ditularkan lewat berpelukan atau berciuman, atau gigitan
nyamuk.
Pemeriksaan darah khusus (tes HIV) dapat dilakukan untuk mencari tahu
apakah seseorang terinfeksi HIV.

me
kas
sem
pas
ber
me

Tes
kes
ter

ber
bid
me
Ini
pen
HIV

Kem
me
ten
dis

pen

Untuk pasien rawat jalan, maka ada option untuk memberikan informasi kepada
pasien selama menunggu giliran di ruang tunggu seperti tercantum di kotak pertama
kiri atas.

Berikan
surat
rujukan
ke PDP
Dr.
Prijo
Sidipratomo,
Sp.Rad(K)
Informasikan sumber dukungan yang ada di
masyarakat

PEDOMAN
PEDOMANPENERAPAN
PENERAPAN

Magenta

Lihat Bagan 1 diatas

Rujukan

Beri informasi tentang klinik KTS terdekat


atau layanan klinik terkait (klinik IMS,
PTRM dsb) sesuai kesepakatan dengan klien

Cyan

Pemberian informasi kunci tentang HIV

secara singkat
Sarankan untuk ke klinik KTS untuk
konseling pencegahan lebih lanjut
Anjurkan agar pasangannya mau
menjalani tes HIV karena ada
kemungkinan dia reaktif

ii 18

A. PANDUAN KOMUNIKASI PADA TES HIV DAN KONSELING


ATAS INISIASI PETUGAS KESEHATAN

KON

Yellow

PEDOMAN PENERAPAN

Black

19

ii