Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang diberikan oleh
Tuhan kepada setiap orang tua. Berbagai cara dan upaya dilakukan orang
tua agar dapat melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang
sebagaimana mestinya. Anak merupakan individu yang berada dalam satu
rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja.
Rentang ini berbeda antara anak satu dengan anak yang lain mengingat
latar belakang anak yang berbeda. Dalam proses perkembangannya anak
memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping, dan perilaku sosial.
Setiap anak tidak mungkin memiliki pertumbuhan fisik yang sama
demikian juga halnya dengan perkembangan kognitif anak, adakalanya
perkembangan kognitif dapat berjalan cepat dan adakalanya dapat
berjalan dengan lambat (Hidayat, 2012).
Anak usia sekolah atau dapat disebut masa pertengahan dimulai
saat anak memasuki sekolah dasar pada usia 6 tahun sampai pubertas
yang terjadi pada usia 12 tahun menandakan akhir dari masa anak usia
sekolah (Potter & Perry, 2010). Menurut teori perkembangan kognitif
Piaget anak usia sekolah sudah memasuki tahap berpikir konkret dimana
pada usia ini anak sudah dapat berpikir secara logis dan masuk akal
tentang suatu hal. Anak juga sudah dapat mengklasifikasikan,
mengurutkan, menyusun serta mengatur strategi dalam menyelesaikan
masalah (Wong et al., 2008). Anak usia sekolah dapat berkonsentrasi pada
lebih dari satu aspek situasi serta mereka dapat memahami suatu objek
dari sudut pandang yang berbeda. Sekolah atau pengalaman pendidikan
memperluas dunia anak dan merupakan transisi dari kehidupan yang
secara relatif bebas bermain ke kehidupan yang bermain, berlajar, dan
bekerja secara terstruktur (Potter & Perry, 2010).

Selain di lingkungan sekolah, di rumah pun anak harus bergelut


dengan berbagai tujuan dan agenda pembelajaran. Dengan memaksakan
otak untuk bekerja sangat keras, akan terjadi ketidakseimbangan antara
otak kanan dan otak kiri, sehingga menyebabkan kelelahan pada otak
yang berakibat pada penurunan konsentrasi belajar anak di sekolah
(Nuryana & Purwanto, 2010).
Konsentrasi sangatlah penting karena berkaitan dengan usaha
seseorang untuk memfokuskan perhatian pada suatu objek sehingga dapat
memahami dan mengerti objek yang diperhatikan. Jika seseorang tidak
dapat berkonsentrasi, perhatiannya akan mudah beralih dari satu objek ke
objek lain dengan demikian kurang mampu memahami suatu objek secara
utuh. Anak yang sangat terganggu konsentrasinya mengalami kesulitan
untuk memfokuskan perhatiannya sehingga mereka sering lupa dengan
instruksi yang diberikan oleh orang tua dan gurunya. Proses pembelajaran
membutuhkan konsentrasi, oleh karena itu setiap anak dalam mengikuti
pembelajaran di sekolah diharapkan dapat berkonsentrasi dengan baik.
Kemampuan anak dalam berkonsentrasi akan mempengaruhi kecepatan
dalam menangkap materi yang diberikan oleh guru pada proses
pembelajaran (Mulyadiprana & Simanjuntak, 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SD
Muhammadiyah 2 Pontianak dengan metode observasi dan wawancara
dengan Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, guru dan beberapa siswa
di SD tersebut didapatkan bahwa masih banyak siswa di SD tersebut yang
sulit untuk berkonsentrasi terutama pada kelas-kelas atas khususnya kelas
IV, V, dan VI. Hal ini dikarenakan materi yang diajarkan mengalami
peningkatan dalam tingkat kesukaran serta mata pelajaran pada kelas
tersebut yang akan menjadi materi pada ujian nasional. Pernyataan
tersebut berkesinambungan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Agustini dan Sudhana (2014) yang menyebutkan bahwa makin tinggi
jenjang kelas maka konsentrasi untuk belajar mengalami peningkatan.
Peneliti juga melakukan survey dibeberapa sekolah lainnya, hasil yang

didapat juga menyebutkan bahwa kurangnya konsentrasi belajar siswa


tergantung tingkatan kelas dan mata pelajaran yang mereka pelajari.
Peneliti juga mendapatkan data dari rekap nilai raport untuk siswa
kelas IV, V, dan VI, dari rekap nilai tersebut didapatkan bahwa 56% dari
162 siswa kelas IV, 73% dari 154 siswa kelas V, dan 59% dari 155 siswa
kelas VI mengalami penurunan hasil nilai raport dari hasil semester 1 dan
2 pada kelas sebelumnya. Persentase penurunan nilai raport tertinggi
adalah pada kelas V yaitu 73% khususnya pada kelas V B yang sebagian
besar siswanya mengalami penurunan hasil nilai raport yaitu 30 dari 37
siswa.
Proses pembelajaran di SD Muhammadiyah 2 Pontianak dimulai
pada pukul 06.25 WIB sampai dengan 11.20 WIB kemudian dilanjutkan
dengan bimbingan belajar untuk siswa kelas IV, V, dan VI. Selain itu
sekolah

juga

mewajibkan

siswanya

untuk

mengikuti

kegiatan

ekstrakurikuler sekolah seperti pramuka, paskibra, silat dan kegiatan


keagamaan lainnya sehingga jam pulang siswa pun menjadi lebih lama.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan 10 siswa di SD tersebut
didapatkan bahwa 8 dari 10 siswa mengatakan sulit untuk berkonsentrasi
ketika proses pembelajaran berlangsung. 5 dari 8 siswa mengaku jenuh
dan lelah dengan kegiatan pembelajaran yang ia lakukan seperti
mengikuti bimbingan belajar dan ekstrakurikuler lainnya serta dirumah
pun mereka harus tetap mengikuti les tambahan yang diwajibkan oleh
orangtuanya. Hal ini akan membuat kelelahan pada otak dan dapat
mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah (Nuryana & Purwanto,
2010).
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, SD Muhammadiyah
2 Pontianak terletak di daerah Kota yang penuh dengan keramaian, SD
tersebut dekat dengan jalan utama dan penuh dengan lalu lintas kendaraan
sehingga menimbulkan kebisingan yang dapat membuat suasana menjadi
tidak tenang. Menurut Nugroho (2007) lingkungan juga merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar. Lingkungan

yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar adalah lingkungan yang


tenang dan tanpa kebisingan.
Konsentrasi merupakan keadaan pikiran yang diaktifkan oleh
sensasi di dalam tubuh. Untuk mengaktifkan sensasi di dalam tubuh perlu
keadaan yang rileks dan suasana yang tenang, karena dalam keadaan
tegang seseorang tidak akan dapat menggunakan otaknya dengan
maksimal karena pikiran menjadi kosong. Suasana menyenangkan berarti
seseorang dalam keadaan yang rileks dan tidak ada ketegangan yang
mengancam dirinya (Nuryana & Purwanto, 2010). Oleh karena itu
diperlukan suatu metode yang menyenangkan yang membuat anak rileks
dalam belajar dan dapat memusatkan konsentrasinya pada pembelajaran
yang sedang berlangsung.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk membuat anak
rileks dalam belajar adalah dengan terapi musik. American Music
Therapy Association menjelaskan bahwa terapi musik merupakan suatu
profesi di bidang kesehatan yang menggunakan musik dan aktivitas musik
untuk mengatasi berbagai masalah dalam aspek fisik, psikologis, kognitif
dan kebutuhan sosial individu. Musik dapat menenangkan pikiran dan
tubuh. Para ilmuan musik juga berteori bahwa musik mengorganisasikan
pola-pola neuron di seluruh otak, terutama pola-pola yang berkaitan
dengan pemikiran kreatif. Para dokter juga mengatakan bahwa musik
mempunyai efek menenangkan dan merangsang keluarnya hormon
endofrin (Rakhmat, 2007).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suwanti (2011) di
SLB Aisyiyah 08 Mojokerto untuk melihat daya konsentrasi anak autis
dalam hubungannya dengan pemberian terapi musik klasik (Mozart) yang
diperdengarkan sebanyak 8 kali dan didapatkan hasil musik klasik
(Mozart) mempengaruhi terhadap perubahan daya konsentrasi anak autis.
Mendengarkan musik klasik secara rutin bagi anak autis tidak hanya
memperbaiki konsentrasinya namun juga berpengaruh pada perbaikan
memori dan mengurangi hiperaktifnya. Musik juga dapat menciptakan

suasana yang menyenangkan serta sangat bermanfaat bagi tubuh, psikis,


dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.
Penelitian tentang pengaruh terapi musik terhadap manusia telah
banyak diteliti dan sejauh ini musik yang lazim digunakan untuk terapi
adalah musik klasik. Namun ada jenis musik lain yaitu Murottal AlQuran yang juga berpangaruh positif bagi tubuh manusia (Aulia dkk,
2010). Hal ini juga dijelaskan oleh Dr. Nurhayati dalam seminar
Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997 yang
menyebutkan bahwa dalam penelitiannya diperdengarkan lantunan ayat
suci Al-Quran kepada bayi yang berusia 48 jam dan bayi tersebut
menunjukkan respon tersenyum dan menjadi lebih tenang (Kusrinah,
2013).
Menurut Heru dalam Siswatinah (2011) Murottal merupakan
rekaman suara Al-Quran yang dilagukan oleh seorang Qori (pembaca
Al-Quran). Lantunan Murottal Al-Quran mengandung unsur suara
manusia yang merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan
karena dapat menurunkan hormon-hormon stress, mengaktifkan hormon
endofrin alami serta dapat meningkatkan perasaan rileks. Hal tersebut
juga didukung oleh Sadulloh (2008) yang mengatakan bahwa Al-Quran
memiliki banyak manfaat baik bagi pembaca maupun pendengar salah
satunya terhadap perkembangan kognitif yaitu dapat mempertajam
ingatan dan pemikiran yang cemerlang.
Penelitian yang dilakukan oleh Hady dkk (2012) menunjukkan
tentang perbedaan efektifitas terapi musik klasik dan terapi Murottal
terhadap perkembangan kognitif anak autis di SLB Autis Kota Surakrata
yang dilakukan selama Juni-Juli 2012. Hasil dari penelitian ini
menyebutkan bahwa terapi Murottal lebih efektif dibandingkan terapi
musik klasik dalam perkembangan kognitif anak autis. Mayrani dan
Hartati (2013) juga melakukan penelitian untuk melihat prilaku anak autis
dengan terapi Murottal surah Ar-Rahman yang berdurasi 11 menit 19
detik yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut dan hasil dari penelitian
tersebut menunjukkan bahwa adanya penurunan gangguan prilaku anak

autis pada aspek interaksi sosial, prilaku dan emosi setelah mendengarkan
terapi Murottal surah Ar-Rahman.
Untuk saat ini belum ada durasi yang direkomendasikan dalam
pemberian terapi musik. Lama dan sesi yang digunakan dalam penelitianpenelitian sebelumnya bermacam-macam, seringkali dilakukan setiap
hari, tiga kali perminggu, atau satu kali perminggu dengan durasi berbeda
mulai dari 10 menit hingga 30 menit atau beberapa jam (Mayrani &
Hartati). Namun apabila tidak memiliki waktu yang cukup, 10 menit pun
sudah cukup untuk melakukan terapi musik karena waktu 10 menit telah
membantu pikiran untuk beristirahat (Suryana, 2012).
Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan di atas, perlu
dilakukan

penelitian

tentang

pengaruh

terapi

Murottal

terhadap

konsentrasi belajar anak usia sekolah yang dilakukan dengan sesi dan
durasi yang singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
terapi Murottal terhadap konsentrasi belajar siswa kelas V SD
Muhammadiyah 2 Pontianak.
1.2

Rumusan Masalah
Anak usia sekolah memiliki perubahan perkembangan yang
beragam, anak sudah harus memikirkan tentang pembelajaran yang harus
ia hadapi di sekolah sehingga memaksakan otak untuk bekerja sangat
keras dan akan menyebabkan ketidakseimbangan dan kelelahan pada otak
hingga akhirnya konsentrasi anak dalam belajar menjadi menurun.
Semakin tinggi jenjang kelas anak, semakin tinggi konsentrasi yang
dibutuhkan. Untuk berkonsentrasi dengan baik, perlunya keadaan rileks
dan suasana yang menyenangkan. Oleh karena itu, perlunya metode yang
menyenangkan yang dapat membuat anak rileks dalam belajar dan dapat
memusatkan konsentrasinya pada pembelajaran yang sedang berlangsung.
Metode

yang

dapat

dipilih

adalah

terapi

Murottal

Al-Quran.

Mendengarkan lantunan Al-Quran dapat membawa dampak positif bagi


tubuh seseorang serta dapat mempertajam ingatan dan dapat membuat
pikiran

menjadi

lebih

cemerlang

sehingga

lebih

mudah

untuk

berkonsentrasi. Oleh sebab itu, diperlukanlah suatu penelitian untuk


melihat apakah ada pengaruh terapi Murottal terhadap konsentrasi belajar
siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak?
1.3

Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh terapi Murrotal terhadap konsentrasi belajar
1.3.2

siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak.


Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik anak (usia dan jenis kelamin)
pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak.
b. Mengidentifikasi konsentrasi belajar anak sebelum diberikan
terapi Murottal pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2
Pontianak.
c. Mengidentifikasi konsentrasi belajar anak sesudah diberikan
terapi Murottal pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2
Pontianak.
d. Menganalisa pengaruh terapi Murottal terhadap konsentrasi
belajar anak pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2
Pontianak.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi SD Muhammadiyah 2 Pontianak
Penelitian ini diharapkan dapat membantu sekolah dalam
upaya meningkatkan konsentrasi belajar anak dan menjadikan
terapi Murottal sebagai salah satu program sekolah yang akan
1.4.2

terus diterapkan.
Bagi Institusi Keperawatan
Penelitian ini diharapkan

dapat

memperkaya

ilmu

pengetahuan dalam bidang keperawatan untuk melakukan asuhan


keperawatan khususnya terapi komplementer dan dapat dijadikan
1.4.3

sebagai sumber pembelajaran.


Bagi Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk
penelitian lain agar dapat mengembangkan penelitian terhadap

konsentrasi belajar anak dengan terapi komplementer lain yang


bisa dilakukan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Konsep Anak Usia Sekolah


2.1.1

Pengertian Anak Usia Sekolah


Anak usia sekolah merupakan rentang kehidupan yang
dimulai dari usia 6 sampai mendekati 12 tahun. Periode ini
dimulai saat masuknya anak ke lingkungan sekolah, yang

memiliki dampak signifikan dalam perkembangan dan hubungan


anak dengan orang lain. Pada periode ini anak mulai bergabung
dengan teman sebayanya, mempelajari budaya masa kanak-kanak
dan memiliki kelompok sebaya yang merupakan hubungan dekat
pertama di luar keluarga (Wong et al., 2008).
Sekolah akan memperluas dunia anak, dimana anak akan
mengalami perubahan dari kehidupan yang membuat anak dapat
bermain dengan bebas menjadi kehidupan dengan permainan,
pelajaran, dan pekerjaan yang terstruktur. Sekolah dan rumah
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
(Potter & Perry, 2010). Perkembangan yang mempengaruhi anak
usia sekolah meliputi: perkembangan kognitif, perkembangan
psikososial, perkembangan moral, perkembangan spiritual serta
perkembangan sosial (Wong et al., 2008).
2.1.2

Perkembangan Kognitif Anak Usia Sekolah


Perkembangan kognitif terdiri atas perubahan-perubahan
terkait usia yang terjadi dalam aktivitas mental (Wong et al.,
2008). Teori perkembangan kognitif Piaget menyebutkan bahwa
individu memiliki empat periode yang berhubungan dengan usia
dan mengemukakan kategori khusus tentang pengenalan dan
pemahaman. Individu juga berpindah dari satu tahap ke tahap
lainnya untuk mendapatkan keseimbangan kognitif yang stabil
(Potter & Perry, 2010).
Piaget
mempengaruhi

juga

mengidentifikasi

transisi

tahap

empat

perkembangan

faktor

yang

anak,

yaitu

kematanagan, pengalaman fisik/lingkungan, transisi sosial dan


equalirium atau self regulation. Kemudian Piaget membagi
tahapan-tahapan perkembanagan kognitif yang diawali dengan
tingkat sensoris motoris pada bayi baru lahir sampai umur 2 tahun
dimana pada tahap ini anak belum mempunyai konsep pada objek
yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap

10

dengan inderanya. Kemudian tingkat preoperasional pada umur 2


sampai 7 tahun dimana mulai timbulnya perkembangan kognitif,
namun masih terbatas pada hal-hal yang dapat dijumpai di dalam
lingkungannya. Tingkat yang ketiga adalah operasional konkret
pada anak yang berumur 7 sampai 11 tahun, pada tingkat ini anak
sudah mengetahui simbol-simbol matematis. Dan tingkat yang
terakhir adalah operasi formal dimana anak telah mempunyai
pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk kompleks (Handini,
2012).
Ketika anak memasuki masa sekolah, mereka mulai
memperoleh kemampuan untuk menghubungkan suatu peristiwa
dan mengungkapkannya secara verbal maupun simbol. Tahap ini
diistilahkan sebagai operasional konkret oleh Piaget dimana anak
sudah mampu menggunakan proses berpikirnya terhadap suatu
peristiwa dan dapat menilainya dari sudut pandang orang lain.
Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara masuk akal
tentang suatu hal, anak juga sudah dapat mengklasifikasikan,
mengurutkan,

menyusun

serta

mengatur

strategi

dalam

menyelesaikan masalah. Anak mengalami kemajuan dari membuat


penilaian berdasarkan apa yang mereka lihat (pemikiran
perseptual) sampai membuat penilaian berdasarkan alasan mereka
(pemikiran konseptual) (Wong et al., 2008). Anak usia sekolah
juga sudah dapat berkonsentrasi pada lebih dari satu aspek situasi
(Potter & Perry, 2010).
2.1.3

Perkembangan Psikososial Anak Usia Sekolah


Teori perkembangan kepribadian yang paling banyak
diterima adalah teori yang dikembangkan oleh Erikson. Teori ini
dikenal sebagai teori perkembangan psikososial (Wong et al.,
2008). Menurut delapan tahap perkembangan Erikson, anak usia
sekolah masuk pada tahap Industri versus Inferioritas dimana

11

anak mulai mempelajari keterampilan dan alat-alat yang produktif


(Potter & Perry, 2010).
Menurut teori perkembangan Erikson anak usia sekolah
mulai belajar dan bermain dengan kelompok teman sebaya.
Kelompok teman sebaya membantu anak mengembangkan
keterampilan sosial, memberikan rasa memiliki kepada mereka
dan membantu mengembangkan konsep diri (Papalia et al., 2010).
Pada usia ini, anak dapat mencapai keberhasilan berdasarkan
prestasi dan pujian yang mereka dapatkan. Tanpa dukungan yang
tepat

dalam

mempelajari

keterampilan

yang

baru,

akan

membangun rasa tidak adekuat dan rendah diri pada anak (Potter
& Perry, 2010).
2.2

Konsep Konsentrasi
2.2.1

Definisi Konsentrasi
Kosentrasi

merupakan

suatu

kemampuan

untuk

memfokuskan pikiran, perasaan, serta segenap panca indera ke


satu objek dengan disertai usaha yang kuat untuk tidak
memerdulikan objek lain yang tidak ada hubungannya dengan
aktivitas yang sedang dilakukan (Hakim, 2005).
Konsentrasi

merupakan

pemusatan

perhatian

dan

kesadaran sepenuhnya kepada bahan pelajaran yang sedang


dipelajari. Pada saat konsentrasi, terjadi proses pengenalan dan
pengolahan informasi sebagai berikut: memasukkan, menyimpan,
dan menggali kembali informasi (Olivia, 2010).
Konsentrasi belajar merupakan pemusatan daya pikiran
dan perbuatan pada suatu objek yang dipelajari dengan menghalau
atau menyisihkan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan
objek yang dipelajari (Surya, 2010).

12

Menurut Surya (2010) konsentrasi belajar tidak datang


dengan sendirinya atau dari pembawaan bakat seseorang sejak
lahir. Konsentrasi belajar akan timbul dengan penciptaan dan
perencaan yang kemudian dijadikan kebiasaan dalam belajar.
Setiap orang pada dasarnya mempunyai potensi dan kemampuan
yang sama untuk dapat melakukan konsentrasi belajar. Proses
pembelajaran membutuhkan konsentrasi, oleh karena itu setiap
anak dalam mengikuti pembelajaran di sekolah diharapkan dapat
berkonsentrasi

dengan

baik.

Kemampuan

anak

dalam

berkonsentrasi akan mempengaruhi kecepatan dalam menangkap


materi yang diberikan oleh guru pada proses pembelajaran
(Mulyadiprana & Simanjuntak, 2009).
2.2.2

Penyebab Timbulnya Kesulitan dalam Berkonsentrasi


Kesulitan untuk berkonsentrasi pada umumnya disebabkan
oleh perhatian yang bercabang atau terjadi pertentangan antara
keinginan belajar dengan dorongan untuk melakukan hal lain
(misalnya menonton televisi) (Olivia, 2010).
Kesulitan dalam berkonsentrasi juga dapat disebabkan
oleh:
a. Lemahnya minat dan motivasi pada pelajaran
b. Timbulnya perasaan negatif, seperti gelisah, tertekan, marah,
c.
d.
e.
f.

khawatir, takut, benci, dan dendam


Suasana lingkungan belajar yang berisik dan berantakan
Gangguan kesehatan jasmani
Bersifat pasif dalam belajar
Tidak memiliki kecakapan dalam cara-cara belajar yang baik
(Surya, 2010).

2.2.3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi


Menurut Olivia (2010) keberhasilan dalam pemusatan
pikiran sebagian besar tergantung pada individu itu sendiri. Di
tempat yang paling tepat sekalipun untuk belajar, orang masih
mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi karena pikirannya

13

melayang-layang ke hal-hal lain di luar bahan yang dipelajarinya.


Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi adalah:
a. Faktor internal
Timbul dari dalam diri sendiri, misalnya minat belajar rendah
(mata pelajaran dianggap tidak menarik), perencanaan jadwal
belajar yang buruk dan kesehatan yang sedang menurun.
b. Faktor eksternal
Berupa suasana, perlengkapan, penerang ruangan, suara, dan
adanya gambar-gambar yang menggangu perhatian saat
belajar.
Selain dari faktor-faktor yang telah sebutkan di atas
Nugroho (2007) juga menguraikan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi konsentrasi belajar yaitu:
a. Motivasi
Motivasi yang timbul dari dalam diri seorang anak dapat
mendorongnya untuk belajar, misalnya ketika dijanjikan
sebuah hadiah apabila anak memperoleh nilai bagus dapat
menjadi motivasi tersendiri untuk anak. Namun sebagai
orangtua juga harus berhati-hati memberikan anak rangsangan
seperti halnya di atas tadi karena dapat menyebabkan anak
selalu mengharapkan hadiah ketika ingin belajar.
b. Suasana lingkungan
Suasanan yang ramai dan penuh dengan kebisingan akan
menggangu anak dalam belajar. Namun adakalanya seorang
anak dapat belajar dengan menggunakan musik yang keras,
adapula yang hanya bisa berkonsentrasi apabila suasana di
lingkungan belajarnya menjadi hening dan kondusif.
c. Kesehatan anak
Kondisi kesehatan juga dapat mempengaruhi konsentrasi anak
dalam belajar.
d. Perasaan jenuh
Beban pelajaran yang harus dikuasi seorang anak sangatlah
banyak sehingga terkadang dapat menimbulkan rasa jenuh

14

pada diri anak. Berilah mereka waktu istirahat sejenak untuk


mengendorkan urat syaraf yang sudah tegang.
2.2.4

Hal-hal yang dapat Meningkatkan Konsentrasi


Kemempuan konsentrasi ini dapat ditingkatkan melalui
latihan relaksasi, musik yang lembut, ruangan yang tenang dan
menyadari pentingnya kegiatan belajar tersebut sebagai bekal
masa depan (Olivia, 2010).
Selain hal diatas Surya (2010) juga menyampaikan
komponen-komponen yang dapat meningkatkan konsentrasi
belajar adalah sebagi berikut :
a. Lingkungan belajar harus kondusif
b. Menanamkan minat dan motivasi belajar dengan cara
mengembangkan imajinasi berpikir dan aktif bertanya
c. Cara belajar yang baik
d. Belajar aktif
e. Perlu disediakan waktu untuk menyegarkan pikiran
(refreshing) saat menghadapi kejemuan belajar
f. Relaksasi dengan musik yang lembut.

2.3

Konsep Terapi Murottal


2.3.1

Definisi Terapi Musik


Menurut American Musik Therapy Association terapi
musik merupakan suatu profesi di bidang kesehatan yang
menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi masalah
dalam aspek fisik, psikologis, kognitif, dan kebutuhan sosial
individu. Terapi musik merupakan terapi yang bersifat nonverbal
yang membiarkan pikiran seseorang untuk mengembara, baik
untuk mengenang hal-hal yang membahagiakan, membayangkan
ketakutan-ketakutan yang dirasakan, memikirkan hal yang dicitacitakan, atau langsung menguraikan permasalahan yang dihadapi.
Terapi musik dirancang dengan pengenalan yang mendalam
terhadap keadaan dan permasalahan seseorang, sehingga akan

15

berbeda untuk setiap orang. Terapi musik bertujuan untuk


membantu mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi
fisik, memberi pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan
emosi, meningkatkan memori, serta menyediakan kesempatan
yang unik untuk berinteraksi dan membangun kedekatan
emosional (Djohan, 2006).
Terapi musik digunakan oleh individu dari segala usia
tidak hanya untuk gangguan kesehatan melainkan juga digunakan
untuk meningkatkan konsentrasi belajar, meningkatkan harga diri,
mengurangi stress, mendukung latihan fisik serta memfasilitasi
sejumlah aktifitas yang berhubungan dengan kesehatan. Terapi
musik merupakan suatu usaha berupa bantuan dengan proses
terencana yang menggunakan musik sebagai media penyembuhan
bagi anak yang mengalami hambatan dalam masa pertumbuhan
dan perkembangan seperti kemampuan daya kreasi, konsentrasi,
sosial, emosional serta intelegensia (Suryana, 2012).
Penelitian mengenai pengaruh musik terhadap manusia
telah banyak diteliti dan sejauh ini musik yang lazim digunakan
untuk terapi adalah musik klasik. Namun ada Jenis musik lain
yaitu Murottal Al-Quran yang juga berpengaruh positif bagi
tubuh manusia (Aulia dkk, 2010). Lantunan bacaan Al-Quran
atau yang disebut Murottal Al-Quran merupakan bagian dari
musik yang mempunyai tempo yang lambat sehingga dapat
membuat pendengarnya menjadi rileks (Abdurrochman et al.,
2007).
2.3.2

Definisi Terapi Murottal


Murottal merupakan rekaman suara Al-Quran yang
dilagukan oleh seorang Qori (pembaca Al-Quran) (Heru dalam
Siswatianah, 2011). Murotal Al-Quran sudah menjadi musik
tersendiri bagi umat muslim. Murottal merupakan seperangkat
frekuensi yang sampai ke telinga lalu dikirim ke sel-sel otak

16

sehingga dapat mempengaruhi sel melalui medan listrik antar


neuron. Sel-sel dan medan listrik itu saling berespon sehingga
mengubah getaran sel menjadi stabil (Al Kaheel, 2013).
Terapi Murottal merupakan terapi dengan lantunan bacaan
Al-Quran. Stimulan Murottal Al-Quran dapat dijadikan alternatif
terapi

baru

sebagai

terapi

relaksasi

bahkan

lebih

baik

dibandingkan dengan terapi audio lainnya karena stimulan AlQuran dapat memunculkan gelombang delta sebesar 63,11%,
gelombang delta ini menandakan sesorang sedang berada dalam
keadaan sangat rileks (Abdurrochman & Andhika, 2008).
2.3.3

Sejarah Terapi Murottal


Al-Quran merupakan mujizat yang diturunkan oleh Allah
SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran merupakan kitab
suci yang diyakini kebenarannya, dan dijadikan salah satu syarat
keimanan bagi setiap muslim (Siswatinah, 2011).
Terapi Murottal Al-Quran ternyata sudah memansyarakat
di kalangan tertentu pemeluk agama Islam. Namun tujuan dari
terapi Murottal ini bukan sebagai terapi suara melainkan untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga mendatangkan
gagasan untuk mengetahui tanggapan otak ketika mendengarkan
lantunan Murottal Al-Quran. Ini dilakukan untuk melihat respon
secara detail, seperti melihat daerah korteks otak manakah yang
memberikan respon relaksasi setiap 10 detik sejak didengarkan
lantunan Murottal Al-Quran (Abdurrochman et al., 2007).
Ahmad Al-Qadhi dierektur utama Islamic Medicine
Institute for Education and Research di Florida, Amerika Serikat
dalam konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika
melakukan presentasi tentang hasil penelitiannya dengan tema
pengaruh Al-Quran pada manusia dalam perspektif fisiologi dan
psikologi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil positif
bahwa mendengarkan lantunan Murottal Al-Quran memiliki

17

pengaruh yang signifikan terhadap penurunan ketegangan urat


saraf reflektif dan hal ini membuktikan bahwa Al-Quran memiliki
kemampuan untuk merefleksi ketegangan urat saraf tersebut
(Faradisi, 2012).
Al-Quran

juga

memberikan

pengaruh

besar

jika

diperdengarkan kepada bayi. Hal ini diungkapkan oleh Dr.


Nurhayati dalam seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di
Malaysia pada tahun 1997 yang menyebutkan bahwa dalam
penelitiannya diperdengarkan lantunan Murottal Al-Quran kepada
bayi yang berusia 48 jam dan bayi tersebut menunjukkan respon
tersenyum dan menjadi lebih tenang (Kusrinah, 2013).
2.3.4

Manfaat Terapi Murottal


Menurut Heru dalam Siswatinah (2011) lantunan Murottal
Al-Quran dengan tempo yang lambat serta harmonis dapat
menurunkan

hormon-hormon

stres,

mengaktifkan

hormon

endofrin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan


perhatian dari rasa takut, cemas serta tegang. Lantunan Murottal
Al-Quran juga dapat memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga
menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernapasan, detak
jantung, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak.
Kusrinah (2013) juga mengatakan ada banyak kemuliaan
dan kebaikkan yang terdapat dalam Al-Quran. Salah satunya
ketika diperdengarkan lantunan Murottal Al-Quran dengan tartil
yang bagus dan dengan tajwid yang sesuai, akan menimbulkan
frekuensi dan panjang gelombang yang dapat mempengaruhi otak
secara positif dan mengembalikan keseimbangan tubuh serta dapat
merangsang perkembangan otak dan meningkatkan intelegensi
anak.
Lantunan Murottal Al-Quran memiliki efek yang sangat
baik bagi tubuh, seperti: dapat memberikan efek menenangkan,
meningkatkan

kreativitas,

meningkatkan

kekebalan

tubuh,

18

meningkatkan kemampuan konsentrasi, menciptakan suasana


damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan
kegelisahan serta mengatasi rasa takut. Hal ini dikarenakan
frekuensi gelombang yang didengar dari lantunan Murottal AlQuran memiliki kemampuan memprogram ulang sel-sel otak,
meningkatkan kemampuan, serta menyeimbangkannya (Kusrinah,
2013).
2.3.5

Pengaruh Terapi Murottal Surah Ar-Rahman


Semua ayat Al-Quran memiliki kekuatan yang luar biasa
dan pada dasarnya semua ayat Al-Quran dapat menjadi terapi
dalam penyembuhan dan pencegahan penyakit (Al Kaheel, 2013).
Dalam penelitian ini surah yang digunakan adalah surah ArRahman karena dalam surah tersebut terkandung hikmah yang luar
biasa bagi umat manuasia umumnya dan bagi kaum muslimin
pada khususnya. Hal demikian berkaitan dengan rasa syukur atas
nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam surah Ar-Rahman
terkandung penekanan kalimat tanya yaitu Maka nikmat Tuhan
mu mana yang kamu dustakan? yang mengartikan betapa besar
rasa sayang Allah kepada umatnya. Pada surah ini juga dikatakan
bahwa Al-Quran adalah karunia Tuhan yang sangat mulia dan
surah ini didahului dengan pernyataan sifat Allah yaitu Maha
Pemurah. Rasa pemurah-Nya laksana sumber dari segala karunia
yang diberikan kepada seluruh umat manusia (Sanyoto, 2005).
Penelitian yang dilakukan Widhowati (2012) menunjukkan
bahwa terapi Murottal surah Ar-Rahman efektif menurunkan
prilaku

kekerasan

dan

membantu

pasien

mengungkapkan

emosinya dengan cara yang lebih adaptif di RSJD. Maryani dan


Hartati (2013) surah Ar-Rahman dapat menurunkan tingkat
gangguan

prilaku

yang

dialami

oleh

anak

autis

yang

diperdengarkan selama 3 hari berturut-turut dengan durasi 11


menit 19 detik dan memiliki tempo 79,8 beats per minute (bpm).

19

Tempo 79,8 bpm merupakan tempo yang lambat. Tempo yang


lambat mempunyai kisaran antara 60 sampai 120 bpm. Tempo
lambat itu sendiri merupakan tempo yang seiring dengan detak
jantung manusia, sehingga jantung akan mensinkronkan detaknya
sesuai dengan tempo suara. Terapi Murottal dengan surah ArRahman juga efektif menurunkan derajat insomnia pada lansia
yang diperdengarkan selama 8 hari berturut-turut dalam waktu 12
menit dengan menggunakan laptop dan speaker (Fatimah, 2012).
Lama dan jumlah sesi yang digunakan pada penelitian
sebelumnya bermacam-macam misalnya setiap hari, tiga kali per
minggu, atau satu kali per minggu dengan durasi berbeda mulai
dari 10 menit hingga 30 menit atau beberapa jam (Maryani &
Hartati, 2013). Menurut Suryana (2012) dengan durasi 10 menit
pun sudah cukup karena waktu 10 menit sudah dapat membantu
pikiran sesorang untuk beristirahat. Penelitian ini akan dilakukan
dengan memperdengarkan terapi Murottal surah Ar-Rahman
selama 3 hari berturut-turut yang berdurasi 11 menit 59 detik yang
mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Mayrani dan Hartati
(2013).
2.3.6

Pengaruh Terapi Murottal Terhadap Konsentrasi Belajar


Dalam musik terkandung komposisi not balok secara
kompleks dan harmonis, yang secara psikologis menjadi jembatan
otak kiri dan otak kanan, yaitu outputnya berupa peningkatan daya
tangkap dan konsentrasi. Ternyata lantunan ayat Al-Quran pun
demikian dan lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan
benar sesuai dengan tajwid dan makhrajnya, lantunan ayat AlQuran mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.
Frekuensi

gelombang

pada

lantunan

Al-Quran

memiliki

kemampuan untuk memprogram ulang sel-sel otak, meningkatkan


kemampuan, serta menyeimbangkannya (Kusrinah, 2013).

20

Lantunan

ayat

Al-Quran

menciptakan

sekelompok

frekuensi yang sampai ke telinga kemudian bergerak ke sel-sel


otak

dan

mempengaruhinya

melalui

medan-medan

elektromagnetik. Sel-sel tersebut berespon melalui medan-medan


tersebut dan memodifikasi getarannya, perubahan dari getarangetaran inilah yang dapat merelaksasi otak (Al Kaheel, 2013).
Sadulloh (2008) juga mengatakan bahwa Al-Quran sendiiri
memiliki banyak manfaat bagi pembaca maupun pendengar salah
satunya terhadap perkembangan kognitif yaitu dapat mempertajam
ingatan dan pemikiran yang cemerlang.

2.4

Kerangka Teori
Berdasarkan tinjauan pustaka dari Potter dan Perry (2010), Wong
et al (2008), Nugroho (2007), Surya (2010), Abdurrochman et al (2007),
Abdurrochaman dan Andhika (2008), serta Kusrinah (2013) dapat
digambarkan kerangka penelitian sebagai berikut:
Perkembangan yang terjadi pada anak
usis sekolah (6-12 tahun):
a. Perkembangan psikologi
b. Perkembangan sosial
c. Perkembangan moral
d. Perkembangan spiritual
e. Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif anak usia sekolah


meliputi:
a. Dapat berpikir secara logis
b. Dapat mengklasifikasikan,
mengurutkan, menyusun strategi
dalam menyelesaikan masalah
c. Dapat menilai persoalan dari sudut
pandang orang lain
d. Dapat berkonsentrasi lebih dari
satu aspek situasi

21

Faktor-faktor yang
mempengaruhi konsentrasi
belajar:
a. Motivasi
b. Suasana lingkungan
c. Kesehatan anak
d. Perasaan jenuh

Keterangan :
Kalimat dicetak tebal : diteliti

2.5

Konsentrasi belajar

Hal-hal yang dapat meningkatkan


konsentrasi belajar:
a. Lingkungan yang kondusif
b. Menanamkan minat dan motivasi
belajar
c. Cara belajar yang baik
d. Belajar aktif
e. Meluangkan waktu untuk refreshing
dikala jenuh
f. Relaksasi dengan musik yang
lembut
Terapi Murottal merupakan terapi dengan
lantunan bacaan Al-Quran yang
mempunyai tempo yang lambat dan dapat
memunculkan gelombang delta sehingga
dapat memberikan efek menenangkan
dan meningkatkan kemampuan untuk
berkonsentrasi.

Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep yang satu terhadap konsep yang
lainnya, atau dari variabel yang satu dengan variabel yang lainnya dari
masalah yang ingin diteliti (Notoadmodjo, 2012).
Ada pun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
Terapi Murottal
Konsentrasi belajar
sebelum diberikan
terapi Murottal

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


2.6

Hipotesis Penelitian
Gambar 2.1 Kerangka Teori

Konsentrasi belajar
sesudah diberikan terapi
Murottal

22

Hipotesis merupakan kesimpulan teoritis yang masih harus


dibuktikan kebenarannya melalui analisis terhadap bukti-bukti empiris
(Setiadi, 2013).
Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu :
Ha: Ada pengaruh pemberian terapi Murottal terhadap konsentrasi belajar
pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak.
Ho: Tidak ada pengaruh pemberian terapi Murottal terhadap konsentrasi
belajar pada siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak.
2.7 Penelitian Terkait
Berdasarkan studi literature yang peneliti lakukan, penelitian
dengan judul Pengaruh Terapi Murottal Terhadap Konsentrasi Belajar
Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak belum pernah dilakukan
sebelumnya. Namun terdapat beberapa penelitian yang terkait dengan
penelitian ini, yaitu :
a. Agustini dan Sudhana (2014) dalam penelitiannya yang berjudul
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Terhadap Konsentrasi Siswa Kelas
V Sekolah Dasar dalam Mengerjakan Soal Ulangan Umum. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah aromaterapi
mempengaruhi konsentrasi siswa khususnya pada saat mengerjakan
soal-soal ulangan umum. Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan meteode pre-eksperimen, teknik sampling yang
digunakan yaitu cluster random sampling. Subjek pada penelitian ini
adalah siswa kelas V SD yang sedang mengikuti ulangan umum di SD
Negeri 5 Tonja sebanyak 82 siswa yang dibagi menjadi kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan
kuisioner dengan skala Likert dan diuji dengan uji independent sampel
t-test. Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat pengaruh
pemberian

aromaterapi

terhadap

konsentrasi

siswa

dalam

mengerjakan soal-soal ulangan umum. Persamaan dalam penelitian ini

23

adalah dari variabel dependennya yaitu konsentrasi belajar. Perbedaan


dalam penelitian ini adalah variabel independen, desain penelitian,
instrument serta populasi yang digunakan.
b. Hidayat dan Marettih (2011) dalam penelitiannya yang berjudul
Pengaruh Musik Klasik Terhadap Daya Tahan Konsentrasi Belajar.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh musik
klasik terhadap daya tahan konsentrasi dalam belajar. Yang menjadi
populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa psikologi UIN
SUSKA Riau angkatan 2010 yang belum mendapatkan materi
perkuliahan psikologi eksperimen dan psikodiagnostik. Penelitian ini
dilakukan dari bulan Maret sampai dengan April dan dengan tiap sesi
terdiri dari 45 menit. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
dengan desain pretest posttest control group design dengan instrument
penelitiannya yaitu Intellegenz Structure Test dan Army Alpha.
Berdasarkan analisis Independent Sample t-test diperoleh data berupa
gain score antara pretest dan posttest menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah diberikan intervensi
terapi musik klasik. Gain score kelompok eksperimen (2,75) lebih
tinggi dari kelompok kontrol (0,5) dengan nilai t-hitung 3,100 lebih
besar dari t-tabel 2,145 yang artinya musik klasik dapat meningkatkan
daya tangan konsentrasi mahasiswa dalam belajar. Persamaan dalam
penelitian ini adalah pada variabel dependennya yaitu konsentrasi
belajar, desain penelitian dan instrument yang digunakan. Sedangkan
perbedaan pada penelitian ini adalah variabel independennya yang
menggunakan musik klasik sebagai terapi musik, sesi dan durasi
pemberian serta populasi yang digunakan.
c. Hady dkk (2012) pada penelitiannya yang berjudul Perbedaan
Efektifitas Terapi Klasik dan Terapi Murottal Terhadap Perkembangan
Kognitif Anak Autis di SLB Autis Kota Surakarta. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektifitas terapi
musik dan terapi musik Murottal terhadap perkembangan kognitif

24

anak autis. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen


dengan rancangan control group design, dan teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling dengan analisa bivariat uji t.
Populasi dalam penelitian ini adalah anak autis di SLB Autis Surakrta,
dan sampel yang didapat sebanyak 20 orang yang dibagi menjadi 2
kelompok. Kelompok kasus yang diperdengarkan musik klasik dan
kelompok pembanding yang diperdengarkan musik Murottal. Hasil
yang didapat adalah menunjukkan bahwa terapi musik Murottal lebih
efektif terhadap perkembangan kognitif anak autis. Persamaan dalam
penelitian ini adalah jenis musik Murottal yang digunakan sebagai
terapi sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian yang dilakukan
oleh peneliti, tidak melihat perbedaan antara musik klasik dan musik
Murottal terhadap kognitif anak autis.
d. Mayrani dan Hartati (2013) dalam penelitiannya yang berjudul
Intervensi Terapi Audio dengan Murottal Surah Ar-Rahman Terhadap
Perilaku Anak Autis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi pengaruh Murottal surah Ar-Rahman terhadap anak
autis. Desain yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan jumlah
sampel sebanyak 18 anak yang dipilih secara purposive sampling.
Dilakukan pretest dan posttest yang diukur dengan lembar observasi.
Hasil dari pretest dan posttest yang didapat yaitu sebesar 5,60 dan
4,06. Hasil tersebut menunjukkan bawa adanya penurunan gangguan
prilaku pada anak autis setelah diberikan intervensi terapi audio
Murottal surah Ar-Rahman. Persamaan yang terdapat dalam penelitian
ini adalah jenis terapi dan surah dalam Al-Quran yang digunakan,
sedangkan perbedaan dalam penelitian ini adalah desain, populasi
serta variabel dependen yang akan diteliti.

25

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Desain Penelitian
Jenis

penelitian ini

adalah penelitian kuantitatif, dengan

menggunakan desain penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan


one group pretest posttest. Pada rancangan ini dilakukan pretest sebelum
dilakukan perlakuan dan dilakukan posttest setelah dilakukan perlakuan
sehingga dapat membandingkan keadaan sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan (Sugiyono, 2011). Teknik penelitian dapat digambarkan sebagai
berikut:
Tabel 3.1 Rancangan one group pretest posttest
Kelompok Eksperimen

Pretest
01

Perlakuan
X

Posttest
02

Sumber : Sugiyono, 2011


Keterangan :
1

: Pengukuran konsentrasi sebelum dilakukan terapi Murottal

26

: Pengukuran konsentrasi sesudah dilakukan terapi Murottal


X

3.2

: Terapi Murottal

Populasi dan Sampel


3.2.1

Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya (Setiadi, 2013). Populasi pada penelitian ini
adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak. Kelas V
SD Muhammadiyah 2 Pontianak terbagi menjadi 4 kelas yaitu
kelas V A dengan jumlah siswa sebanyak 44 siswa, kelas V B
dengan jumlah 37 siswa, kelas V C dengan jumlah 37 siswa dan V
D dengan jumlah 36 siswa. Jadi total populasi pada penelitian ini
adalah kelas V yang berjumlah 4 kelas dengan siswa sebanyak 154
siswa.

3.2.2

Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Setiadi, 2013).
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V B SD
Muhammadiyah 2 Pontianak.

3.2.3

Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel
untuk menentukan sampel yang digunakan dalam penelitian
(Sugiyono, 2011). Teknik sampling digunakan untuk memudahkan
pencarian sampel agar memperoleh sampel yang benar-benar
sesuai dengan subjek penelitian (Nursalam, 2008). Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive
sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada
suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri,

27

berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui


sebelumnya

(Notoadmodjo,

2012).

Pada

penelitian

ini,

pengambilan sampel berdasarkan populasi kelas V yang ada di SD


Muhammadiyah 2 Pontianak yang berjumlah 4 kelas, bukan
berdasarkan pada jumlah siswa kelas V yang ada di SD tersebut.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan kelas yang perlu
untuk dilakukan penelitian adalah kelas V B karena jumlah siswa
yang mengalami penurunan nilai berjumlah 30 dari 37 siswa serta
merupakan jumlah terbanyak dari kelas lainnya.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel bebas (variabel independen) adalah variabel yang
mempengaruhi atau variabel yang menjadi sebab perubahan serta
timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2011). Variabel independen
dalam penelitian ini adalah terapi Murottal, sedangkan variabel yang
terikat (variabel dependen) adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi
akibat karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2011). Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah konsentrasi belajar.
3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional yang akan dilakukan, seperti dibawah ini:
Tabel 3.2 Definisi Operasional
Variabel
Terapi
Murottal

Konsentrasi

Definisi Operasional
Alat Ukur
Terapi Murottal merupakan a. Laptop
terapi dengan lantunan ayat suci b.Speker
Al-Quran
yang
dapat c. Audio Murottal
surah Armemunculkan gelombang delta
Rahman
sebagai
penanda
sesorang
d.Lembar
sedang berada dalam keadaan
observasi
relaksasi sehingga memberikan
e. Dokumentasi
dampak positif bagi tubuhnya
salah
satunya
dapat
mempertanjam ingatan dan
membuat
pikiran
lebih
cemerlang
sehingga
lebih
mudah untuk berkonsentrasi.
Konsentrasi belajar merupakan Army Alpha

Hasil Ukur

Skor 1 untuk

Skala Data

Interval

28

Belajar

Waktu
Pengukuran
Konsentrasi
Belajar

pemusatan daya pikiran dan


perbuatan pada suatu objek
yang
dipelajari
dengan
menghalau atau menyisihkan
segala hal yang tidak ada
hubungannya dengan objek
yang dipelajari

Waktu pengukuran konsentrasi


belajar dilakukan sebelum dan
sesudah
diberikan
Terapi
Murottal selama 3 hari berturutturut dengan durasi 11 menit 59
detik.
Pengukuran
awal
dilakukan pada hari pertama,
dilanjutkan dengan perlakuan
pada hari kedua sampai hari
keempat
dan
dilakukan
pengukuran akhir pada hari
yang sama.

Test

jawaban benar
Skor 0 untuk
jawaban salah
Jika distribusi data
normal maka
menggunakan nilai
mean, dikatakan:
a. Konsentrasi tinggi
apabila mean
b. Konsentrasi rendah
apabila < mean

Jika distribusi data


tidak normal maka
menggunakan nilai
media, dikatakan:
a.Konsentrasi tinggi
apabila
median
b. Konsentrasi
rendah apabila <
median
Terapi Murottal a. Sebelum dilakukan
terapi Murottal
b. Sesudah dilakukan
terapi Murottal

3.5 Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Pontianak
yang beralamat di jalan Jendral Ahmad Yani Kelurahan Parit Tokaya
Kecamatan Pontianak Selatan.
3.6 Jadwal Penelitian
Penelitian ini

dilakukan

dengan

dimulainya

bimbingan

penyusunan proposal sampai dengan pengumpulan laporan hasil.


Tabel 3.3 Jadwal Penelitian

Nominal

29

Kegiatan

Bulan/Tahun 2014-2015
September
Oktober
November Desember
Januari
Februari
Maret
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Bimbingan
penyusunan
proposal
Pengumpulan
data atau
penelitian
Pengolahan
dan analisis
data
Pelaporan
hasil dan
perbaikan
Pengumpulan
laporan hasil

3.7 Instrumen Penelitian


Pada penelitian ini alat-alat yang digunakan selama terapi adalah
speaker, laptop, lembar observasi, dan audio Murottal Al-Quran surah
Ar-Rahman yang berdurasi 11 menit 59 detik. Sedangkan alat ukur yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Army Alpha Test. Tes ini terdiri dari
12 soal yang berisi kombinasi deretan angka dan deretan bentuk. Yang
diukur dalam test ini adalah kemampuan berkonsentrasi saat menerima
dan melaksanakan instruksi dengan cepat dan tepat agar apa yang
diinstruksikan dapat dikerjakan dengan baik (Hidayat & Marretih, 2011).
Diberikan waktu masing-masing 15 detik untuk tiap soal yang diberikan.
3.8

Uji Validitas dan Reliabilitas


Uji Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur
itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2012). Uji
validitas dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Pearson
Product Moment, suatu instrument dikatakan valid jika r hitung lebih
besar dari pada r tabel (Sugiyono, 2011). Pada penelitian ini uji validitas
akan dilakukan di Madrasah Ibtidayah Negeri Bangka Belitung Pontianak

30

yang beralamat di Jl. Parit Haji Husin I yang memiliki karakteristik yang
sama dengan responden dalam penelitian ini.
Sedangkan uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan
sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya atau dapat di andalkan
dalam menghitung pengukuran (Notoatmodjo, 2012). Suatu instrument
dapat dikatakan reliabel apabila nilai koefisien alpha > 0,6. Semakin
mendekati angka 1 instrumen tersebut semakin reliabel (Budiharto, 2008).
Pada umumnya data yang sudah valid pasti reliabel (Sugiyono, 2011).

3.9 Prosedur Pengumpulan Data


3.9.1 Tahapan Persiapan
a. Perizinan pelaksanaan

penelitian

dari

Dekan

Fakultas

Kedokteran kepada SD Muhammadiyah 2 Pontianak.


b. Penerimaan pelaksanaan penelitian dari Kepala Sekolah SD
3.9.2

Muhammadiyah 2 Pontianak.
Tahap Pelaksanaan Penelitian
Peneliti memperkenalkan diri dan memberitahukan tujuan
dari penelitian yang akan dilakukan kepada pihak sekolah dan
siswa serta meminta kesedian siswa untuk menjadi responden
dalam penelitian. Jika setuju, siswa diminta untuk mengisi lembar
persetujuan menjadi responden dengan bimbingan dari peneliti.
Setelah itu dilakukanlah pretest dan peneliti menjelaskan tata cara
pengisian soal pretest yaitu Army Alpha Test. Peneliti bertindak
sebagai narrator dalam pretest, peneliti membacakan soal yang
berisi perintah dan responden mendengarkan soal yang dibacakan
oleh narrator dan melakukan apa yang diperintahkan disoal dan
ditulis dalam lembar jawaban. Soal pada penelitian ini berjumlah
12 soal dengan kombinasi bentuk dan deret angka. Pada hari
kedua mulai diperdengarkan terapi Murottal surah Ar-Rahman.
Terapi Murottal diperdengarkan ketika seluruh responden sudah
berada di dalam kelas dan duduk ditempatnya masing-masing
dalam keadaan tenang. Kemudian peneliti mulai memutar audio

31

Murottal surah Ar-Rahman yang berdurasi 11 menit 59 detik.


Setelah dilakukan terapi Murottal pada hari pertama peneliti
melakukan observasi pada jam pertama pembelajaran untuk
melihat konsentrasi responden dalam belajar. Ini akan terus
dilakukan sampai hari keempat karena pada penelitian ini
diperdengarkan terapi Murottal selama 3 hari berturut-turut. Pada
hari keempat setelah dilakukan terapi Murottal, peneliti kembali
melakukan posttest dan kembali bertindak sebagai narrator dalam
penelitian.
3.9.3

Seluruh

data

yang

didapat

dalam

penelitian

didokumentasikan dan kemudian dilakukan pengolahan data.


Tahap Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul selama penelitian akan diolah
dan disajikan dalam bentuk tabel sehingga memudahkan untuk
dianalisa dan ditarik kesimpulan. Cara yang dilakukan dalam
pengolahan data adalah sebagai berikut:
a. Editing
Proses edting dimulai dengan

pengecekkan

kuisoner

penelitian, apakah jawaban sudah lengkap, jelas, relevan dan


konsisten.
b. Coding
Setelah semua kuisioner diedit dilakukan coding yaitu
mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data
angka atau bilangan. Hal ini memudahkan pada saat analisa
data dan juga mempercepat pada saat entry data.
c. Skoring
Hasil penelitian tingkat konsentrasi diberi skor yaitu 1 untuk
jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.
d. Entry Data
Data dari hasil coding dari masing-masing responden
dimasukkan ke dalam program atau software komputer.
e. Cleaning
Pengecekkan kembali data-data yang sudah dimasukkan ke
program atau software komputer untuk melihat kemungkinan
terjadi kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya
kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

32

3.10 Analisa Data


3.10.1 Analisis Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk
analasis univariat ini tergantung dari jenis datanya. Pada umumnya
dalam analisis univariat hanya menghasilkan distribusi frekuensi
dan persentase dari tiap variabelnya (Notoatmodjo, 2012).
3.10.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini adalah untuk
menganalisis pengaruh terapi Murottal terhadap peningkatan
konsentrasi belajar anak usia sekolah. Uji statistik yang digunakan
adalah uji t berpasangan. Pada penelitian ini dilakukan 2 kali
pengambilan data yaitu data pretest dan posttest. Uji t berpasangan
dapat digunakan apabila distribusi datanya normal, jika didapatkan
distribusi data yang tidak normal uji nonparametrik atau uji
Wilcoxon dapat dilakukan (Dahlan,2011). Berdasarkan hasil
analisis ini peneliti dapat menyimpulkan hasil dalam menentukan
alternatif pemecahan masalah yang dilakukan. Ha diterima jika p
< 0,05 yang artinya

ada pengaruh terapi Murottal terhadap

konsentrasi belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 Pontianak


saat sebelum dan sesudah diberikan intervensi.
Tabel 3.4 Syarat Uji t berpasangan
Variabel yang dihubungkan

Konsentrasi belajar
(numerik) dan
waktu pengukuran (kategorik)
Hipotesis
Komperatif
Skala variabel
Numerik
Berpasangan/tidak berpasangan
Berpasangan karena pretest dan posttest
diambil pada sampel yang sama
Jumlah kelompok
Dua kelompok karena diambil data
pretest dan posttest
Kesimpulan : uji yang digunakan adalah uji t berpasangan (uji parametrik)
jika memenuhi syarat. Jika tidak memenuhi syarat, maka digunakan uji
alternatif yaitu uji Wilcoxon (uji nonparametrik).

33

Syarat uji t berpasangan (uji parametrik) adalah skala variabelnya numeric


dan distribusi data normal jika p 0,05.

3.11 Etika Penelitian


Untuk mencegah timbulnya masalah etik maka dilakukan
penekanan masalah etik yang meliputi :
3.11.1 Autonomy
Individu mempunyai otonomi untuk membuat keputusan
secara sadar dan bebas dari paksaan untuk ikut berpartisipasi atau
tidak dalam penelitian. Untuk itu sebelum dilakukannya penelitian
peneliti harus menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penelitian
serta dampak yang mungkin terjadi selama sebelum dan sesudah
penelitian.

Untuk

memenuhi

hak

tersebut

maka

peneliti

menggunakan lembar Informed Consent atau lembar persetujuan


menjadi responden, jika bersedia menjadi responden maka mereka
harus menandatangani lembar tersebut.
3.11.2 Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasian subjek penelitian, peneliti tidak
mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, cukup
dengan memberikan nomor kode pada masing-masing lembar
tersebut.
3.11.3 Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan semua informasi yang diperoleh dari subjek
penelitian

dijamin

oleh

peneliti

dengan

cara

tidak

menyebarluaskan informasi yang didapat dari responden kepada


orang lain yang tidak berhak. Data yang sudah diperoleh oleh
peneliti disimpan dan digunakan hanya untuk pelaporan
penelitian.
3.11.4 Mempertimbangkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan
(Balancing Harms and Benefits)
Responden berhak mendapatkan

perlindungan

dari

ketidaknyamanan dan bahaya atau kerugian selama penelitian.


Penelitian ini diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap
peningkatan konsentrasi belajar anak.

34

DAFTAR PUSTAKA

35

Abdurrochman, et al. (2007). The Effect of the Quranic Recital: An Aep Study.
Jurnal Sains MIPA, 13(3), 181-186.
Abdurrochman dan Andhika. (2008). Murottal Al-Quran: Alternatif Terapi
Suara Baru. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi.
Universitas Lampung 17-18 November 2008. Diterbitkan pada tanggal
18 November 2008.
Al Kaheel. (2013). Kekuatan Penyembuhan dengan Al-Quran Berdasarkan
Penelitian Ilmiah. Diperoleh dari www.arrahmah.com diterbitkan pada
tanggal 21 Maret 2013 diakses pada tanggal 15 Oktober 2014.
Agustini, N.M.Y.A. dan Sudhana, H. (2014). Pengaruh Pemberian Aromaterapi
Terhadap Konsentrasi Siswa Kelas V Sekolah Dasar dalam Mengerjakan
Soal Ulangan Umum. Jurnal Psikologi Udayana, 1(2), 271-278.
American Music Therapy Association, (2014). Music Therapy. Diperoleh dari
http://www.musictherapy.org/about/musictherapy/ diakses pada tanggal
13 Oktober 2014.
Aulia dkk. (2010). Aplikasi Ergonomi Mengenai Evaluasi Terapi Musik Bagi
Perkembangan Kognitif Anak Autis. Diperoleh dari digilib.its.ac.id/
diakses pada tanggal 8 Oktober 2014.
Budiharto. (2008). Metodelogi Penelitian Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu
Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC.
Dahlan, M.S. (2011). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Djohan. (2006). Terapi Musik, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress.
Faradisi, F. (2012). Efektifitas Terapi Murottal dan Terapi Musik Klasik
Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operasi di
Pekalongan. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(2).
Fatimah, Fatma S. (2012). Efektifitas Mendengarkan Murottal Al-Quran
Terhadap Derajat Insomnia pada Lansia di Selter Dongkelsari Sleman
Yogyakarta. Diperoleh dari direktori.umy.ac.id/ diakses pada tanggal 23
September 2014.
Hady dkk. (2012). Perbedaan Efektifitas Terapi Musik Klasik dan Terapi
Murottal Terhadap Perkembangan Kognitif Anak Autis di SLB Autis Kota
Surakarta. Gaster, 9(2), 72-81.
Hakim, T. (2005). Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.
Handini, A. (2012). Psikologi Pendidikan. Pontianak: STAIN Pontianak Press.

36

Hidayat, Aziz A.A. (2012). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta:


Salemba Medika.
Hidayat, S. dan Marettih, Anggia K.E. (2011). Pengaruh Musik Klasik Terhadap
Daya Tahan Konsentrasi Belajar. Jurnal Psikologi, 7(2), 164-176.
Kusrinah. (2013). Pendidikan Pralahir: Meningkatkan Kecerdasan Anak dengan
Bacaan Al-Quran. SAWWA, 8(2), 277-290.
Mayrani, E.D. dan Hartati, E. (2013). Intervensi Terapi Audio dengan Murottal
Surah Ar-Rahman Terhadap Perilaku Anak Autis. Jurnal Keperawatan.
Soedirman, 8(2), 69-76.
Mulyadiprana, A. dan Simanjuntak, F.R. (2009). Pengaruh Permainan Kolase
Terhadap Peningkatan Konsentrasi Pada Anak Tunagrahita Ringan.
Diperoleh dari http://file.upi.edu/Direktori diakses pada tanggal 23
September 2014.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineke
Cipta.
Nugroho, W. (2007). Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Surabaya: Prestasi
Pustaka.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nuryana, A. dan Purwanto, S. (2010). Efektifitas Brain Gym dalam
Meningkatkan Konsentrasi Belajar pada Anak. Jurnal Ilmiah Berlaka
Psikologi, 12(1), 88-98.
Olivia, Femi. (2010). Mendampingi Anak Belajar. Jakarta: PT. Elex Komputindo.
Papalia et al. (2010). Human Development (Psikologi Perkembangan). Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Potter dan Perry. (2010). Fudamental of Nursing Buku 1, Edisi 7. Jakarta:
Salemba Medika.
Rakhmat, Jalaludin. (2007). Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak. Bandung:
Mizan Learning Center (MLC).
Sanyoto, S. 2005. Membuka Tabir Pintu Langit Jilid 2. Jakarta: Misykat.
Sadulloh. (2008). 9 Cara Praktis Menghapal Al-Quran. Jakarta: Gema Insani.
Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan. Yogtakarta:
Graha Ilmu.

37

Siswatinah. (2011). Pengaruh Terapi Murottal Terhadap Kecemasan Pasien


Gagal Ginjal Kronik yang Dilakukan Tindakan Hemodialisa di RSUD
Kraton. [Skripsi] tidak diterbitkan.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Surya, Hendra. (2010). Jadilah Pribadi yang Unggul. Jakarta: PT. Elex
Komputindo.
Suryana, Dayat. (2012). Terapi Musik. Googlebooks diakses pada tanggal 5
Oktober 2014
Suwanti. (2011). Pengaruh Musik Klasik (Mozart) Terhadap Perubahan Daya
Konsentrasi Anak Autis di SLB Aisyiyah 08 Mojokerto. Jurnal
Keperawatan, 2(3), 44-55.
Widhowati. (2010). Efektifitas Terapi Audio dengan Murottal Surah Ar-Rahman
untuk Menurunkan Prilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Semarang. Diperoleh dari eprints.undip.ac.id/ diakses pada tanggal 6
Oktober 2014.
Wong et al. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 Vol. 1. Jakarta:
EGC.