Anda di halaman 1dari 50

mining force

Jumat, 01 Mei 2009


rencana pembuatan lubang maju
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Unit Pertambangan Ombilin
mempunyai dua daerah penambangan dengan metode tambang bawah tanah
yang masih aktif terdiri dari Ombilin I di Sawahluwung, Ombilin III di
Sigalut. Penambangan dilakukan denagn cara mekanis yaitu dengan
menggunakan metode tambang bawah tanah Longwal Fully mechanized.
Salah satu kegiatan utama dari tambang bawah tanah di Sawahluwung,
khususnya dengan metode Longwall Fully Mechanized ini di awali dengan
pekerjaan persiapan penambangan (development) yang meliputi beberapa
kegiatan kerja, diantaranya adalah pembuatan Lubang Material Utama
(LMU) dan Lubang Ban Utama (LBU) serta pembuatan panel. Panel
merupakan suatu tempat untuk meletakan Double Ended Ranging Drum
Shearer (DERDS) yaitu peralatan mekanis yang digunakan untuk
melakukan kegiatan penambangan batubara. Pada Panel, lubang ban disebut
dengan main gate sedangkan lubang material disebut dengan tail gate.
Pekerjaan persiapan penambangan (development) ini dilakukan dengan
peralatan gali mekanis Roadheader Machine,dan akan dibantu dengan
pemboran dan peledakan apabila peralatan tersebut kurang mampu
melakukan penggalian sehingga kondisi Roadheader Machine dapat
terjaga.
Peralatan gali mekanis Roadheader Machine yang digunakan ditambang
bawah tanah Sawahluwung ii terdiri atas dua tipe, yaitu Dosco MK 2A
dan Alpine Miner 50 (AM -50) yang mempunyai perbedaan pada pola
penggalian, jumlah cutting head dan kecepatan penggalian. Dosco MK -2A
mempunyai satu cutting head dengan jumlah pick sebanyak 24pick/bit,
sedangkan AM -50 mempunyai dua cutting head dengan jumlah pick
sebanyak 96pick/bit. Untuk kecepatan penggalian, Dosco MK 2A akan
lebih cepat menggali pada lapisan batuan disbandingkan pada lapisan
batubara. Sebaliknya, AM -50 lebih cepat menggali pada lapisan batubara

dibandingkan pada batuan.


Tujuan pemakaian peralatan gali mekanis Roadheader Machine adalah
untuk mempercepat pekerjaan pembuatan lubang maju (development),
sehingga pekerjaan persiapan penambangan akan lebih dahulu selesai
sebelum kegiatan operasi penambangan batubara di suatu panel
penambangan selesai. Akhirnya, kegiatan face to face transfer peralatan
penambangan dapat dilaksanakan dengan baik.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a.Mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
b.Menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan
membandingkan, menganalisa, dan menyimpulkan hasil pengamatan
selama praktek lapangan .
c.Memenuhi syarat untuk menyelesaikan mata kuliah praktek perencanaan
tambang
d.Untuk mengetahui apakah pembuatan lubang maju dapat mencapai target
yang telah direncanakan
2. Tujuan Khusus
Tujuan Penulisan Laporan Praktek Perencanaan Tambang ini adalah
sebagai salah satu syarat kelulusan Mata Kuliah Perencanaan Tambang
Program Study Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang.
C. Judul Yang Dipilih
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan di lapangan maka penulis
mencoba untuk membahas masalah pemakaian Road Header Dosco dalam
pembuatan lubang maju LBU untuk persiapan panel.. Dalam hal ini penulis
mengangkat sebuah judul yaitu Rancangan Teknis Pemkaian Road Header
Dosco Untuk Pembuatan Lubang Maju Pada Lubang Persiapan
Penambangan Ombilin I (Sawahluwung) PT.Tambang Batubara Bukit Asam
(Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin .

D. Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Kuasa pertambangan PT.Bukit Asam (Persero),Tbk Unit Pertambangan
Ombilin berada di kota Sawahlunto yang berjarak 90 Km dari kota Padang
melalui jalan raya indarung dan 155 Km malalui Padang Panjang dengan
menggunakan kereta api. Kuasa pertambangan PT.Tambang Batubara Bukit

Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin memiliki luas 15.499,32


Ha, yang terletak pada koordinat 10044 - 10050 bujur timur dan 035 043 lintang selatan. Lokasi daerah penambangnan meliputi daerah tanah
hitam, kandi, sapan dalam, simaung, langkok, parambahan, waringin, sugar,
sawahluwung.(gambar)

Sumber : Satuan Kerja Kajian Operasi dan Pelaporan, PT. BA-UPO, 2004
GAMBAR 1PETA KUASA PERTAMBANGAN PT.TAMBANG
BATUBARA
BUKIT ASAM (Persero) Tbk, UNIT PERTAMBANGAN OMBILIN
E. Jadwal Kegiatan
Laporan praktek perencanaan ini dibuat melalui pengamatan dan
pengambilan data yang penulis lakukan pada saat penulis melakukan
praktek lapangan industri (PLI) di PT.Tambang Batubara Bukit Asam
(Persero),Tbk Unit Pertambangan Ombilin yang dimulai dari tanggal 23
januari 2006 sampai dengan tanggal 4 maret 2006.

F. Ucapan Terima Kasih


Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih banyak atas semua
fasilitas, bantuan, bimbingan dan saran yang telah penulis terima kepada :
1. Bapak Ir.Mustav Sjab selaku General Manager PT.Tambang Batubara
Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin.
2. Bapak Edimar, BE selaku Manager Penambangan PT. Tambang Batubara
Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin.
3. Bapak Erfan Sayuti, SH,MH selaku Manager SDM dan UMUM PT.
Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin.
4. Bapak Sapto Saptoro Selaku Manager Kajian Operasi dan Keteknikan
PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan
Ombilin.
5. Bapak Aprianto selaku Supervisor Lapangan dan sekaligus Pembimbing
Lapangan Penulis di PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk,
Unit Pertambangan Ombilin.
6.Bapak Ir. Fachri Rusma selaku Dosen Mata Kuliah Perencanaan
Tambang Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
7. Bapak Drs.Bakhri, Msc selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Negeri Padang.

8. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku Ketua Program Studi Teknik


Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
9. Bapak Drs.Murad MS, MT selaku Sekretaris Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
10.Bapak DR.Agamuddin, M.ED. selaku Kepala Unit Hubungan Industri
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
11.Dosen dosen Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri
Padang.
12.Kedua Orang Tuaku yang senantiasa memberikan doa dan dorongan
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan proyek akhir ini.
13.Juga kepada teman teman PLI ku,Diana dan Diko tidak lupa semua
anak-anak tambang03 UNP serta seluruh teman teman PERMATA UNP
dari seluruh angkatan yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.

BAB II
KEADAAN UMUM
A. Deskripsi Proyek
1. Sejarah Perusahaan
Tambang Batubara Ombilin merupakan pertambangan batu bara tertua yang
terdapat di Indonesia karena penambangannya sudah dilakukan semenjak
pemerintah Belanda.Batubara pertama kali di temukan oleh Ir. WH De

Greve, seorang sarjana Belanda yang ditugaskan oleh pemerintah kolonial


belanda di cekungan Ombilin.Tahun 1868 untuk pertama kalinya ditemukan
lapisan batubara di ulu air, tepi sungai Ombilin.
Ir. WH De Geve meninggal pada 22 Oktober 1872 dan penyelidikan
diteruskan oleh Ir. RDM Verbeck pada tahun 1875, akhirnya diperoleh
cadangan batubara Ombilin sebesar 205 juta ton yang tersebar di Sungai
Durian, Sigalut, Tanah Hitam dan Parambahan. Pada bulan Juni 1891
dilakukan persiapan penambangan dan bulan November 1891 lubang
bukaan telah mencapai batubara, pekerjaan dipimpin oleh Ir. W Gode Froy.
Pada tanggal 24 November 1891 ditetapkan rancangan undang-undang
pertambangan Ombilin, dan disyahkan pada tanggal 28 Desember 1891
oleh pemerintah Belanda, lembaran Negara no. 223. Pada tanggal 3 Juli
1981 untuk perusahaan tambang batubara Ombilin, lembaran Negara no.
375 dikelola oleh departemen usaha-usaha pemerintah dengan karyawan
terdiri dari pekerja paksa, buruh kontrak dan buruh bebas. Pada tahun 1950
sampai tahun 1958 TBO berada di bawah pengawasan direktorat
pertambangan, kemudian tahun 1958 sampai 1961 berada di bawah
naungan biro umum perusahaan tambang negara, diteruskan oleh badan
pimpinan umum tambang batubara tahun 1961 sampai 1968.
Pada tahun 1968 berada di bawah naungan Perusahaan Umum Tambang
Batubara, kemudian berdasarkan peraturan pemerintah no 56 yang
disyahkan tanggal 30 Oktober 1990, Perum Tambang Batubara digabung
dengan PT Tambang Batubara Bukit Asam dan menjadi PT Tambang
Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin disingkat
dengan PT BA UPO.
2. Struktur Organisasi
PT.Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan
Ombilin memiliki struktur organisasi yang bertanggung jawab penuh
kepada Direktur Utama PT.Bukit Asam sebagai induk perusahaan.
Penetapan struktur organisasi dan pengangkatan jabatan ditetapkan pada
surat keputusan Direksi PT.Bukit Asam Nomor 123/SK/PT.BA-PERS/2005
tanggal 8 April 2005 yang menetapkan struktur organisasi PT.Tambang
Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin yang
terdiri dari satuan kerja sebagai berikut :

GAMBAR 2. STRUKTUR ORGANISASI PT.TAMBANG BATUBARA


BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk, UNIT PERTAMBANGAN OMBILIN

B. Genesa Bahan Galian


1. Geologi
Secara regional geologi daerah Sawahlunto berhubungan dengan zona
penunjaman lempeng di daerah busur kepulauan. Penunjaman lempeng
terjadi di sebelah Barat pulau Sumatera yaitu lempeng Samudera Hindia
yang masuk ke bawah lempeng Eurasia. Akibat dari kegiatan tektonik ini
menyebabkan terjadi perlipatan (fold), patahan (fault), intrusi dan
terbentuknya cekungan Ombilin yang merupakan cekungan antar
pergunungan (Inter Mountain Basin) yang berumur Perm sampai Kapur.
Proses selanjutnya batuan tersier mengisi bagian tengah dan atas cekungan
ini yang termasuk ke dalam formasi Brani, formasi Sangkarewang, formasi
Sawahlunto, formasi Sawah tambang, formasi Ombilin dan formasi Ranau.
2. Stratigrafi:
Stratigrafi wilayah Sumatera Barat terdiri atas batuan beku, batuan sedimen,
dan batuan metamorf yang berumur Pra tersier dan endapan vulkanik

kuarter.(gambar 3).

AGE
UNIT
THICKNEES
GRAPHIC LOG
DESCRIPTION
T E R T I AR Y
OLIGOCENE
RASAU MEMBER
SAWAH TAMBANG
FORMATION

Conglomeratic sandstone, quartz, whithish grey, pebbles at the best grading


to sandstone toward the top, interbedded with gray shales, shows erosional
surfaces.

EOCENE
SAWAH LUNTO FORMATION

126 M

Shale, greyish brown, concoidal, fractures, dense

Coal, black, shaley, fractured, with sanstone at base siltstone, grey, dense.
Coaly shale
Coal, black, within terbedded gray siltstone and coaly clays shale, grey,
dense, mudstone, siltstone, occasional sandstone.
Coal, black, shaly, dense
Silstone, brown, dense
Sandstone, quartz, brown, carbonaceus, dense.

Siltstone, brown, dense

Siltstone, gradingdownward into brown shale


PALEOCENE
BRANI FORMATION

Conglomeratic sandstone, greenish red, contains quartz, feldspar, limestone


fragments, well sorted, hard, dense.
P R AT E R T I AR Y
Sumber : Satuan Kerja Kajian Operasi dan Pelaporan, PT. BA-UPO, 2004
GAMBAR 3. FORMASI BATUAN PADA CEKUNGAN OMBILIN
Stratigrafi daerah sawahlunto dapat dibagi ke dalam dua bagian utama,
yaitu komplek batuan Pra tersier dan batuan tersier.
a. Komplek batuan Pra-tersier terdiri dari :
1)Formasi Silungkang
Formasi ini dibedakan menjadi empat satuan, yaitu lava andesit, lava
basalt, tufa andesit dan tufa basalt. Formasi ini diperkirakan berumur Perm
sampai Trias.
2)Formasi Tuhur
Formasi ini dicirikan oleh lempung abu-abu kehitaman berlapisan baik,
dengan sisipan-sisipan batu pasir dan batu gamping hitam. Formasi ini
diperkirakan berumur Trias.
b Komplek batuan tersier terdiri dari :
1)Formasi Brani
Formasi ini terdiri dari konglomerat dan batu pasir kasar yang berwarna
coklat keungguan, dengan kondisi terpilah baik (well sorted), padat, keras
dan umumnya memperlihatkan adanya suatu perlapisan. Formasi ini
diperkirakan berumur Paleosen.
2). Formasi Sangkarewang
Formasi ini terdiri dari serpih gampingan sampai napal berwarna coklat
kehitaman, berlapis halus dan mengandung fosil ikan serta tumbuhan yang
diendapkan pada lingkungan air tawar. Formasi ini diperkirakan berumur
Paleosen.
3). Formasi Sawahlunto
Formasi ini merupakan formasi paling penting karena mengandung
batubara. Formasi ini dicirikan oleh batu lanau, batu lempung dan
berselingan dengan batubara. Formasi ini diendapkan pada lingkungan
sungai. Diperkirakan umur formasi ini Eosen.
Batubara yang ditambang sekarang ini terletak di bagian barat cekungan

Ombilin dan terdapat pada formasi Sawahlunto yang terdiri dari batu
lempung (claystone), batu pasir (sandstone), dan batu lanau (siltstone)
dengan sisipan batubara. Formasi Sawahlunto ini terletak pada dua jalur
yang terpisah yaitu jalur yang menjurus dari Sawahlunto sampai Sawah
Rasau dan dari Tanah Hitam terus ke Timur dan kemudian ke arah Utara
yang disebut Parambahan
C. Cadangan batubara
Cadangan batubara Ombilin diklasifikasikan menurt jumlah cadangan
terukur (Measured) dan Tertambang (Mineable) untuk tambang dalam yang
meliputi sawah luwung,Waringin-Sugar dan Sigalut dengan jumlah
cadangan terukur sebesar 90,296,700 ton dan jumlah cadangan tertambang
sebesar 42,986,300 ton.
Tabel. 1. Cadangan Batubara PT. Tambang Batubara Bukit Asam (persero)
Tbk, Unit Pertambangan Ombilin Pada Tambang Dalam
No
LOKASI
CADANGAN GEOLOGI

TERUKUR
TERUNJUK
JUMLAH
I
OMBILIN I

Sawah rasau V (lap C)


1,900.000
1,900,000
Sawah luwung :

Lapisan A
416,700
416,700
Lapisan C
1,800,000
1,800,000
II
OMBILIN II

Waringinsugar :

Lapisan A
14,572,000
4,650,000
19,222,000
Lapisan C
42,193,000
1,933,000
44,126,000
III
OMBILIN III

Sigalut :

Lapisan A
17,340,000
8,102,000
25,442,000
Lapisan C
12,075,000
6,473,000
18,548,000
Jumlah
90,296,700
21,158,000
111,454,700
Sumber : Satuan Kerja Eksplorasi. PT. BA-UPO, 2006
Note :*Cadangan tertambang daerah Waringin Sugar
berdasarkan kajian CDFI tahun 2004
D. Kualitas Batubara
Menurut klasifikasi ASTM Batu bara ombiln temasuk kedalam tingkat
Bituminus High Volatile dengan nilai kalori 6800 7.200 Kkal/kg. Hasil ini
di da[at dari analisa proximate (Analisa komponen pembentuk batu bara )
dan analisa Ultimate (Analisa unsur-unsur kimia yang terkandung pada batu
bara) yang menunjukan kadar belerang dan kadar abu yang rendah
sedangkan bobot isi rata-rata batubara dari hasil eksplorasi adalah 1,3 ton.
Tabel. 2. Kualitas Batubara Ombilin
NO
PARAMETER
SATUAN
RATA-RATA
1
Total moisture (AR)
%
11
2
Proximate Analisis (ADB)

- Inherent Moisture

%
6
- Volatile Matter
%
37
- Ash Content
%
7
- Fixed Carbon
%
50
3
Calorofic Value (ADB)
Kcal/Kg
6800 7200
4
Total Sulphur
%
0,6 1,0
5
Hardgrove Grindability Index, HGI
40 45
6
Coal Rank
Bituminous
Keterangan :
1.As received (Ar), yaitu batubara yang masih mengandung kandungan air
total.
2.Air dried base (Adb), yaitu kondisi batubara yang telah dikeringkan tetapi
masih
mengandung kandungan air bawaan (inherent moisture).
3.Dry base (db), yaitu kondisi batubara kering atau telah bebas dari
kandungan
airnya.

4.Dry ash free (daf), yaitu batubara yang hanya mengandung volatile matter
dan
fixed karbon dan bebas dari kandungan air dan kandungan abunya.
5.Dry mineral matter free (dmmf), yaitu kondisi batubara yang bebas dari
total
moisture dan bahan anorganik dalam batubara tersebut.
Sumber : Satuan Kerja Kajian Operasi dan Pelaporan, PT. BA-UPO, 2004
E. Peralatan Penambangan
1. Alat Tambang Utama (ATU)
a)Double Ended Ranging Drum Shearer (DERDS)
Alat ini berfungsi sebagai pemotong batubara pada coal face yang bergerak
di sepanjang chain conveyor jenis Armoured Flexible Conveyor (AFC).
Mesin ini juga mampu mengikis habis sisa pemotongan. Alat ini mampu
turun naik, memotong, mengisi, mengangkat atau menurunkan drum
sepanjang face dengan tenaga sendiri. Shearer juga dilengkapi dengan water
spray untuk mengatasi debu.
Untuk pemotongan Shearer menggunakan motor listrik yang bergerak naik
turun dengan menggerakkan drum ke atas dan ke bawah menggunakan
tenaga hidrolik pada mesin itu sendiri. Drum Sherer dapat memotong
sampai ketinggian 2 meter tergantung kepada tipe alat tersebut.
Gambar 4. Shearer

b)Road Header Dosco


Tipe alat ini adalah MK 2A yang lebarnya 2,4 meter yang berfungsi untuk
pembuatan lubang maju baik pada lapisan batu bara maupun lapisan batuan.
Untuk lubang maju pada lapisan batuan digunakan Slow speed motor (970
rpm) dengan jumlah Bit (mata potong) 24 buah.
Untuk pembuatan lubang maju pada lapisan batubara digunakan Fast speed
motor (1.462 rpm) dengan jumlah bit (mata potong)36 buah. Alat ini
memiliki tenaga hidrolik yang dihasilkan dari sebuah power pack yang
terdiri dari 4 bagian pompa yang digerakkan oleh motor listrik 75 Kw.
Gambar 5. Road header Dosco

c)Road Header Alpine Miner


Cara kerja Alpine miner sama dengan Dosco MK 2 A, tetapi pada front
pengumpul Alpine Miner terpasang tangan tangan pengumpul (arm
loading device) yang berfungsi untuk memasukkan material galian ke
dalam scrapper conveyor. Material yang telah digali terkumpul pada
gathering apron selanjutnya dengan bantuan arm loading device material
tersebut dimasukkan ke dalam chain conveyor yang terpasang pada Alpine
Miner tersebut. Tenaga penggerak alat ini berasal dari beberapa buah motor
listrik dengan jumlah keseluruhan sebesar 70 Kw. 2 buah motor listrik
sebagai penggerak track kiri kanan masing masing berkekuatan 6 Kw. 1
buah motor listrik berkekuatan 30 Kw untuk penggerak cutting head. 2
buah motor listrik masing masing berkekuatan 11 Kw sebagai penggerak
chain conveyor dan loading device. 1 buah motor listrik 6 Kw untuk
penggerak pompa hidrolik.
Gambar 6. Road header Alpine Miner
d)Road Header S 220 M
Cara kerja alat ini hampir sama dengan Dosco. Dimana material hasil
penggerusan akan diambil oleh gathering arm dan masuk ke chain
conveyor. Dari chain conveyor material kemudian diteruskan ke belt
conveyor. Setelah itu material dibawa keluar tambang. System penggerak
RH.S.220.M ini menggunakan system hidrolik.
Gambar .7 RH.S.220.M
2.Alat penunjang Tambang (APT)
Merupakan peralatan yang di gunakan untuk menjamin kelangsungan dari
kegiatan penambangan tersebut. Adapun jenis peralatan penunjang tambang
yang di gunakan adalah :
a) Powered Roof Support
Power Roof Support(PRS) berfungsi sebagai penyangga atap dari suatu
lubang buka yang biasanya digunakan pada front penambangan.
Kemampuan alat ini menahan beban adalah 325 ton dan bekerja dengan
system hidrolik. Alat ini merupakan pengaman pada saat melakukan
penambangan menggunakan Shearer dengan menggunakan metode
ambrukan. Pelaksanaan ambrukan atap (caving) dilakukan dengan cara

memajukan PRS sehingga terjadi ruang pada bagian belakang PRS. Karena
dipengaruhi gaya gravitasi atap akan ambruk dengan sendirinya.
Gambar 8. Power Roof Support (PRS)
b)Pompa
Merupakan perlatan yang digunakan untuk memindahkan zat cair atau
fluida yang ada dilubang tambang pada lokasi-lokasi tertentu keluar mulut
tambang. Jenis-jenis pompa yang digunakan adalah:
Pompa sentrifugal
Pompa summersible
Pompa tegak atau vertical
c)Chain Conveyor
Chain conveyor merupakan alat penunjang tambang yang menggunakan
rantai bergerak pada sisi kiri dan kanan di dalam talangan. Dimana pada
rantai tersebut dipasang Scrapper bar. Jika rantai bergerak maka material
yang ada di atas rantai tersebut akan terbawa oleh tarikan Scrapper bar.
Gambar 9. Chain Conveyor
d)Belt conveyor
Belt conveyor merupakan alat untuk mengangkut material yang telah
ditambang dengan menggunakan sabuk (belt). Sabuk tersebut dipasang
pada suatu struktur yang dimasukkan ke dalam ke dalam unit penggerak
(drive unit) sehingga bergerak pada struktur yang telah terpasang di
sepanjang lokasi yang telah ditentukan.

Gambar 10. Belt Conveyor


e)Mesin angin
Untuk menyuplai uadar segar ke dalam permuka kerja digunakan mesin
angin dengan daya 50 HP yang terletak di mulut lubang persiapan
penambangan di depan slope I. Mesin angin ini menggunakan pipa flat lay
diameter 75 cm dan 60 cm.
f) Kompresor
Dalam proses pembuatan lubang maju di slope II dibutuhkan pemboran dan
peledakan untuk membantu proses pembuatan lubang maju. Untuk

melakukan pemboran pada lubang pembuatan maju alat bor yang digunakan
mengunakan tenaga angin yang berasal dari kompresor karena jenis mesin
bor yang digunakan adalah rotary jack hammer (mesin bor Furukawa).
Tekanan angin yang dibutuhkan minimal 6 bar.
g)Hoist
Hoist merupakan peralatan yang berfungsi untuk menarik alat transportasi
yang membawa kebutuhan material maupun peralatan penambangan dari
mulut lubang ke dalam lubang tambang. Tipe tipe hoist antara lain :
1)Endless
2)Pickross

Gambar 11. hoist tipe Endless


F. Tenaga Kerja
TABEL 3. RENCANA KEBUTUHAN TENAGA KERJA PERSIAPAN
PENAMBANGAN SIGALUT (OMBILIN III) TAHUN : 2006
BAGIAN
DASAR TENAGA
BULAN RATA RATA
JUMLAH KEBUT MANSHIF
JML HK 300 KEBUT MANSHIF
RENCANA KEBUT MANSHIF

25 HARI KERJA

GILIR

2
3
4

NO
SIAPNAM (OMBILIN III)

1
RH S.220 M (BATU)

Supervisor
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Operator ATU(RH)
1

25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Juru Sangga
2
50
50
0
0
100
30.000
4 orang / hari
Rodian Ban
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Operator Belt Pengiring
2
50
50
0
0
100
30.000
4 orang / hari
Juru Ledak

0
0
0
0
0
0
00.000
0 orang / hari
Operator Kompresor
0
0
0
0
0
0
00.000
0 orang / hari
JUMLAH
7
175
175
0
0
350
105.000
14 orang / hari
2
DOSCO 3 (BATU)

Supervisor
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Operator ATU(RH)
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Juru Sangga
2
50
50
0
0
100
30.000
4 orang / hari
Rodian Ban
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari

Operator Belt Pengiring


2
50
50
0
0
100
30.000
4 orang / hari
Juru Ledak
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
Operator Kompresor
1
25
25
0
0
50
15.000
2 orang / hari
JUMLAH
9
225
225
0
0
450
135.000

18 orang / hari
3
PENGAWAS :

Manager
0
0
0
0
0
0
0
0 orang / hari
Ass. Manager
1
25
0
0
0
25
7.500
1 orang / hari
Adm & Juru Computer
1
25
0
0
0
25

7.500
1 orang / hari
Juru Gudang
1
25
0
0
0
25
7.500
1 orang / hari
JUMLAH
3
75
0
0
0
75
22.500
3 orang / hari
JUMLAH OMBILIN III
19
475
0
0
0
875
262.500
35 orang / hari

Tebel 4. Kapasitas Dan Umur Tambang


REALISASI PRODUKSI BATUBARA UPO
TAHUN 1892 S/D 2005

TAHUN
PRODUKSI (ton)
TAHUN
PRODUKSI (ton)
1892
48,000.00
1949
24,535.00
1893
47,833.00
1950
56,386.00
1894
72,452.00
1951
48,870.00
1895
107,943.00
1952
67,018.00
1896
126,284.00
1953
59,815.00
1897
142,850.00
1954
78,622.00
1898
149,434.00
1955
89,954.00
1899
181,225.00
1956

75,318.00
1900
196,207.00
1957
90,912.00
1901
198,074.00
1958
59,357.00
1902
180,702.00
1959
37,791.00
1903
201,292.00
1960
77,606.00
1904
207,280.00
1961
103,709.00
1905
221,416.00
1962
89,911.00
1906
277,097.00
1963
110,037.00
1907
300,999.00
1964
97,202.00
1908
314,065.00
1965
91,756.00
1909
339,694.00

1966
100,501.00
1910
387,522.00
1967
66,487.00
1911
406,395.00
1968
68,853.00
1912
407,452.00
1969
69,282.00
1913
411,017.00
1970
77,285.00
1914
443,140.00
1971
89,730.00
1915
453,141.00
1972
87,970.00
1916
505,366.00
1973
81,840.00
1917
508,226.00
1974
78,804.00
1918
504,201.00
1975
76,094.00
1919

510,821.00
1976
60,151.00
1920
567,142.00
1977
81,020.00
1921
602,853.00
1978
87,115.00
1922
544,022.00
1979
92,318.00
1923
508,374.00
1980
142,829.00
1924
606,423.00
1981
241,829.00
1925
53,328.00
1982
302,571.00
1926
488,482.00
1983
325,662.00
1927
504,014.00
1984
583,580.00
1928
507,179.00
1985
770,751.88

1929
582,252.00
1986
710,149.25
1930
424,212.00
1987
506,176.75
1931
507,545.00
1988
558,807.18
1932
347,170.00
1989
610,390.61
1933
396,658.00
1990
650,589.49
1934
835,321.00
1991
517,229.00
1935
376,684.00
1992
884,467.94
1936
400,990.00
1993
1,026,068.46
1937
463,317.00
1994
1,059,138.24
1938
516,825.00
1995

1,201,846.11
1939
509,743.00
1996
1,102,905.45
1940
577,616.00
1997
1,107,561.53
1941
537,733.00
1998
806,616.89
1942
301,221.00
1999
1,091,346.80
1943
228,724.00
2000
736,738.31
1944
92,878.00
2001
560,894.67
1945
75,780.00
2002
357,900.14
1946
50,324.00
2003
13,031.34
1947
49,728.00
2004
18,607.58
1948
40,947.00

2005
14,509.78
Kom
19,547,613.00
Kom
18,278,447.40
Total
37,826,060.40
Note : Realisasi produksi tahun 2005
Perenc. Tambang
berdasarkan data per, 15 Desember 2005.

BAB III
PERENCANAAN
A.Landasan Teori
1.Availability Index atau Mechanical Availability
Merupakan suatu cara untuk mengetahui kondisi mekanis yang
sesungguhnya dari alat yang sedang digunakan. Persamaannya adalah
sebagai berikut :
Dimana :
W = Working hours atau jumlah jam kerja alat
R = repair hours atau jumlah jam perbaikan
W adalah waktu yang dibebankan kepada seorang operator suatu alat yang
dalam kondisi dapat dioperasikan atau tidak rusak. Waktu ini meliputi pula
hambatan yang terjadi pada saat operasi berlangsung.
R adalah waktu untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena menganggu
saat perbaikan dan penyediaan suku cadang (spare part) serta waktu untuk
perawatan preventif.
2.Physical Availibility atau Operational Availibility
Merupakan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang
digunakan. Persamaannya adalah :
Dimana :
S = standby hours atau jumlah jam suatu alat yang tidak dapat

digunakan padahal alat tersebut tidak rusak dan dalam keadaan


siap operasi
W + R + S = scheduled hpurs atau jumlah seluruh jam jalan dimana alat
dijadwalkan untuk beroperasi
Physical Availibility pada umumnya lebih besar daripada Availibility Index.
Tingkat efesiensi dari sebuah alat mekanis naik jika angka Physical
Availibility mendekati angka Availability Index.
3.Use of Availibility
Menunjukkan persen waktu yang digunakan oleh suatu alat untuk
beroperasi pada saat alat tersebut dapat digunakan. Persamaannya sebagai
berikut :
Angka use of availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa efektif
suatu alat yang tidak rusak dapat dimanfaatkan. Hal ini dapat menunjukkan
seberapa baik pengelolaan peralatan yang digunakan.
4.Effective Utilization
Menunjukkan persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat
dimanfaatkan untuk kerja produktif. Effective Utilization sebenarnya sama
dengan efesiensi kerja. Persamaannya sebagai berikut :
Dimana :
W + R + S = total hour available atau scheduled hours (jumlah jam
yang tersedia)
B.Perencanaan
Kemajuan pembuatan lubang maju oleh Dosco MK-24 pada Februari 2006
AT = 3 jam
CT = 85 menit
MA = 50%
Kemajuan lubang =
=
= 1,059 m/shift x 2 shift / hari
= 2,118 m/hari x 20 hari/bulan
= 42,353 m/bln
BAB IV
PEMBAHASAN
A.Realisasi di Lapangan
TABEL 5. AVAILABLE TIME PEMBUATAN LUBANG MAJU DOSCO

MK-2A (DC-02)
Tanggal
A (jam)
B (menit)
C (menit)
D (menit)
E (menit)
F (menit)
G (menit)
H (menit)
01.02.06
02.02.06
03.02.06
06.02.06
07.02.06
08.02.06
09.02.06
10.02.06
13.02.06
14.02.06
15.02.06
16.02.06
17.02.06
20.02.06
21.02.06
22.02.06
23.02.06
24.02.06
27.02.06
28.02.06
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00

7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
20
18
20
21
19
23
22
60
53
55
50
45
48
54
47

52
55
38
40
50
52
49
45
39
43
50
47
28
25
24
24
26
25
28
24
25
25
26
28
25
24
24
26
23
29
25
24
21
19
17
19
20
20
21

19
20
22
21
20
22
18
21
23
24
24
23
25
8
7
10
12
12
13
10
12
9
14
8
9
10
10
12
11
10
13
12
10
140
130
153
150
145
152

155
160
143
150
154
170
165
168
145
160
158
166
170
147
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
14.00
Jumlah
143
972
508

419
212
3081
Rata-rata
7.00
7.15
48.6
25.4
20.95
10.6
154.05
14.00
Keterangan :
A = waktu tiba di emplacement Sawahlunto ( WIB )
B = waktu senam pagi dan safety talk ( menit )
C = waktu rapat koordinasi pembagian kerja dan persiapan masuk ke dalam
lubang ( menit )
D = waktu perjalanan menuju front dan transport material ( menit )
E = waktu perjalanan dari front kerja menuju ke luar lubang ( menit )
F = waktu pembuatan laporan hasil pekerjaan ( menit )
G = waktu istirahat, sholat/ ibadah, maka, dan persiapan pulang ( menit )
H = waktu meninggalkan emplacement Sawahlunto ( WIB )
Available time ( AT ) = ( H A ) ( B + C + D + E + F + G )
= ( 420 ) menit ( 266,75 ) menit
= 153,25 menit
= 2,554 jam
= 2 jam 33,25 menit
TABEL 6. OPERATION DELAY TIME DOSCO MK-2A
No
TM
HC
HL
RRH
HLL
1
2
3

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
15
13
17
5
7
10
32

28
25
10
5
12
15
7
10
12
14
-

5
5
10
5

Jumlah
67
170
25
Rata-rata
3.35
8.5
1.25
Keterangan :
TM = waktu transportasi material
HC = waktu hambatan conveyor
HL = waktu hambatan listrik
RRH = waktu rawatan roadheader
HLL = waktu hambatan lain-lain
Total hambatan ( ODT ) = TM + HC + HC + HL + RRH + HLL
= 3,35 + 8,5 + 0 + 0 + 1,25
= 13,1 menit
Jadi, Operation Time ( OT ) = AT ODT
= 153,25 menit 13,1 menit
= 140,15 menit
= 2,3358 jam
TABEL 7. SIKLUS OPERASI DOSCO MK-2A
Siklus Operasi Pembuatan LBU
( menit )
No
GMA
PYG
P.V
P.AR
P.BC
P.MR
1
2
3
4

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
54
71
62
56
60
69
70
62
75
68
58
70
65
62
66
26
33

27
28
29
25
26
25
27
29
27
25
28
30
27
20
18
-

10
15
94
92
88
-

10
12
Jumlah
968
412
38
25
274
22
Rata-rata
48,4
20,6
1,9
1,25
13,7
1,1

Keterangan :
GMA = waktu gali, muat, angkut
PYG = waktu pemasangan penyanggaan
P.V = waktu perpanjangan pipa ventilasi

P.AR = waktu perpanjangan pipa air


P.BC = waktu perpanjangan belt conveyor
P.MR = waktu perpanjangan monorel
Total Siklus Operasi = GMA + PYG + P.V + P.AR + P.BC + P.Mr
= 48,4 + 20,6 + 1,9 + 1,25 + 13,7 + 1,1
= 86,95 menit
Jadi kemajuan pembuatan lubang maju oleh Dosco MK-2A pada Februari
2006 di lapangan adalah :
AT = 2,554 jam
CT = 86,95 menit
MA =35 %
Kemajuan lubang =
=
= 0,529 m/shift x 2 shift / hari
= 1,058 m/hari x 20 hari/bulan
= 21,16 m/bln

B.Perbandingan antara Rencana dan Realisasi


1. Perencanaan kemajuan pembuatan lubang maju oleh Dosco MK-24 pada
Februari 2006
AT = 3 jam
CT = 85 menit
MA = 50%
Kemajuan lubang =
=
= 1,059 m/shift x 2 shift / hari
= 2,118 m/hari x 20 hari/bulan
= 42,353 m/bln

2. Realisasi kemajuan pembuatan lubang maju oleh Dosco MK-2A pada


Februari 2006 di lapangan adalah :
AT = 2,554 jam
CT = 86,95 menit
MA =35 %
Kemajuan lubang =
=
= 0,529 m/shift x 2 shift / hari

= 1,058 m/hari x 20 hari/bulan


= 21,16 m/bln

C.Kendala dalam Operasi Dosco


Pada pembuatan lubang maju tambang bawah tanah di LBU didapatkan
beberapa faktor yang mempengaruhi kemajuan lubang maju sehingga
menyebabkan waktu kerja aktif berkurang :
Adapun beberapa hambatan yang mempengaruhi kemajuan pembuatan
lubang maju tersebut dapat berupa :
a.Hambatan peralatan roadheadel dan jalur belt conveyor yang panjang
1)Hambatan mekanik, yaitu segala macam kerusakan mesin atau peralatan
tambang yang mendukung kegiatan persiapan (development) sehingga
mengakibatkan tidak adanya operasi. Contoh : kerusakan pada Alpine
Miner50, Dosco MK-2A, dan belt conveyor yang jumlahnya banyak.
2)Hambatan listrik, yaitu segala kerusakan listrik (listrik padam) yang
timbul baik dari sisi internal (PLN) maupun dari sisi internal tambang
bawah tanah Ombilin sehingga waktu operasi menjadi tertunda
b.Hambatan operasional, yaitu segala bentuk kegiatan yang dapat
menghambat kegiatan operasi yang sudah direncanakan sehingga kegiatan
operasi yang direncanakan tersebut menjadi tertunda
c.Hambatan sumber daya manusia (pekerja), yaitu keterampilan dan
kemampuan yang dimiliki para pekerja dalam melakukan kegiatan operasi.
Semakin baik keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang
pekerja, maka kegiatan operasi akan berjalan dengan lancar sesuai dengan
rencana.
D.Upaya untuk mengatasi kendala operasi
1.Menekan waktu terbuang semaksimal mungkin
a.Waktu persiapan
b.Waktu harus masuk lubang
c.Waktu perjalanan menuju front
d.Waktu untuk keluar lubang
2.Memberikan pengarahan dan rencana kerja/ hari, pencapaian target / hari
3.Pemeriksaan berkala pada mesin, mengganti suku cadang tepat pada
waktunya untuk menghindari seringnya terjadi kerusakan.

BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari hasil pengamatan di lapangan, maka penulis dapat mangambil
kesimpulan yaitu :
1.Untuk membuat lubang maju pada lubang persiapan penambangan,
PT.BA UPO memakai alat salah satunya Road Header Dosco MK-2A.
2.Untuk alat transportasi material,dipakai Belt Conveyor.
3.Karena adanya hambatan alam berbagai hal, maka pembuatan lubang
maju tersebut tidak dapat terealisasi sesuai rencana.
4.Efekitfitas dan produktifitaskerja pada pembuatan lubang maju tersebut
masih rendah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya waktu yang terbuang dan
kondisi peralatan yang kurang baik.
B. Saran
1.Menginat kondisi mesin yang sudah tua, maka perlu dilakukn
penjadwalan terhadap perawatan dan pemeriksaan secara berkala agar
kegiatan development tidak terhambat.
2.Dalam melakukan transport material di luar tambang hendaknya
dilakukan secara terjadwal, sehingga tidak mengganggu operasi pembuatan
lubang maju (development)
3.Agar rencana pembuatan lubang maju dapat terealisasi sepenuhnya,
diperlukan peningkatan disiplin para pekerja.

DAFTAR PUSTAKA

1.Yanto Indonesianto, Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik


Pertambangan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta,
2001
2.L. J. Thomas, An Introduction To Mining, Hicks Smith & Sons Pty Ltd,
Sydney, 1973
3.-------------, Sumber Informasi dan Data Perusahaan yang Diizinkan
untuk Dibaca, PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk Unit
Penambangan Ombilin.
Diposkan oleh taufik Hidayat di 21.31