Anda di halaman 1dari 3

Gejala Klinis Penyakit Distemper

(muhammad iqbal et al. )Pada temuan pemeriksaan klinisbiasanya


terdapat gejala-gejala seperti berikut :
- Demam
- Nafsu makan berkurang
- Depresi
(muhammad iqbal et al. ) Pada tahap lanjut gejala yang muncul dapat
berupa :
- Diare
- Pneumonia (radang paru)
- Rhinitis (radang selaput lendir hidung)
- Muntah-muntah
Semua anjing yang terinfeksi memperlihatkan tanda-tanda klinis
diare berat berdarah , konjungtivitis, ocular discharge, nasal discharge
dan batuk, demam dan penurunan berat badan pada 21 dpi. (tan et al.
2011)
Gejala klinis yang bervariasi. Variasi gejala klinis mulai dari
subklinis, gangguan pernafasan, gangguan saluran cerna, sampai dengan
adanya gangguan syaraf yang bersifatfatal (Zhao et al, 2009 dalam
kardena et al 2011).
Secara patologi, anjing yang terinfeksi virus distemper dapat
menyebabkan multi-sistemik infeksi. Gambaran klinis darah perifer dari
anjing yang terinfeksi virus ini mula-mula mengakibatkan terjadinya
lymphopenia, walaupun pada tingkat sub akut sampai kronis diikuti
dengan meningkatnya jumlah monosit / peripheral blood mononuclear
cells (Nielsenet al, 2009 dalam kardena et al 2011).
Pada anjing yang telah terinfeksi akan tampak lesu, depresi,
anoreksia, eksesif discharge pada bagian naso-ocular serta tidak jarang
diikuti dengan gejala diare (Lan et al, 2006 dalam Kardena et al 2011).
Pada stadium kronis anjing penderita akan tampak inkoordinasi sampai
tidak mampu mengontrol mikturisi. Hal ini disebabkan adanya kerusakan
pada sel-sel otak dan bahkan bisa menimbulkan kematian pada sel-sel
tersebut (Rudd et al, 2009 dalam Kardena et al 2011).
Gejala klinis penyakit distemper berupa demam, lemah, anorexia,
adanya eksudat mukopurulen di daerah mata dan hidung, serta adanya
diare sebelum dinekropsi. Pustula pada daerah kulit di bagian abdomen
juga teramati (Kardena et al, 2011).

Virus distemper menyerang dan menimbulkan gejala atau lesi pada mata, saluran
respirasi, gastrointestinal, urogenital, sistem saraf, dan kulit (Koutinas et al., 2004, Siegmund,
2008 dalam Krisna et al, 2009). Gejala klinik yang ditimbulkan sangat bervariasi. Gejala
dapat terjadi berat atau ringan, tanpa atau dengan memperlihatkan gejala-gejala saraf
(Dharmojono, 2001; Siegmund, 2008 dalam Krisna et al, 2009).

Gejala umum yang teramati oleh pemilik antara lain depresi,


kelemahan, eksudat dari mata dan hidung, batuk, muntah, atau diare,
namun pada infeksi yang sudah parah dapat teramati gangguan saraf
seperti kejang atau ataksia (Ct 2011 dalam Mudina, 2012). Gejala
tersebut merupakan infeksi kombinasi antara virus dan bakteri. Virus
distemper yang bersifat subklinis dan dalam jangka waktu yang lama juga
dapat menginfeksi kulit, sehingga telapak kaki anjing menjadi keras dan
menebal, dan disebut sebagai penyakit hard pad. Selain itu, virus juga
menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga merusak kemampuan tubuh
untuk melawan infeksi (Legendre 2005 dalam Mudita, 2012).
Temuan pemeriksaan fisik dapat berupa suara napas yang keras
saat dilakukan auskultasi, kaheksia, dehidrasi, dan peradangan pada mata
(anterior
uveitis,
optik
neuritis,
degenerasi
retina,
atau
keratokonjungtivitis) jika infeksi CDV bersifat sistemik (Ct 2011 dalam
Mudita, 2012). Setengah dari total anjing yang terinfeksi CDV mengalami
kerusakan saraf karena CDV tertarik dan bereplikasi cepat pada jaringan
saraf (Legendre 2005 dalam Mudita 2012). Kerusakan pada saraf
mengakibatkan kejang yang disebut sebagai chewing-gum seizures
karena membuka dan menutup mulut dengan keras secara berulangulang. Gejala lain yang menunjukkan infeksi CDV adalah mioklonus
kepala, leher, atau tungkai (Ct 2011 dalam Mudita 2012). Mioklonus
adalah kontraksi ritmik yang sangat kuat pada otot rangka (Widodo et al.
2011 dalam Mudita 2012). Kerusakan pada sumsum tulang dapat
mengakibatkan kelemahan dan paralisis, namun kerusakan pada saraf
juga dapat menyebabkan gerakan tidak terkoordinasi dari kaki (Legendre
2005 dalam Mudita 2012). Pada anjing yang pulih dari infeksi CDV
dimungkinkan mengalami anosmia persisten atau kehilangan daya
penciuman (Ct 2011 dalam Mudita 2012).

Gejala klinis distemper sangat bervariasi baik dalam durasinya maupum


keseriusannya. Kenaikan suhu terjdi pada hari 1-3, diikuti penurunan selama beberapa hari
kemudian naik lagi selama 1 minggu atau lebih. Saat awal kejadian segera akan diikuti
dengan leukopenia dan limfopenia. Selanjutnya terjadi netrofilia selama beberapa minggu.
(anonim, 2008)

Gangguan pada saluran pernafasan berupa keluarnya leleran hidung kental,


mukopurulen dan leleran mata yang menigkat (epifora) yang lama-lama juga bersifat
mukopurulen. (anonim, 2008)
Anjing akan tampak lesu, depresi, batuk-batuk, anoreksi dan mungkin diikuti diare
dengan tinja yang berbau busuk. Telapak kaki akan mengeras krena kekurangan cairan
(hardpad disease). Anjing yang terserang menunjukkan bau yang khas. Gejala dehidrasi
sangat menonjol dan mungkin penderita mengalamimkematian dan gagal ginjal akibat
dehidrasi yang sangat. (anonim, 2008)
Penyakit distemper ini lama kelamaan daoat menyerang bagian saraf dan gejalanya
berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Anjing tidak mampu mengontrol mikturisi
(pengeluaran kemih). Pada stadium terminal, moribund, terlihat adanya kejang dengan bola
mata mengalami nystagmus. (anonim, 2008)

Daftar pustaka
__________ . 2008. Distemper anjing atau canine distemper. Pusat
Kesehatan Hewan. http://www.vet-klinik.com
Iqbal, Muhammad. Klasifikasi Pasien Suspect Parvo dan Distemper pada
Data Rekam Medik Rumah Sakit Hewan IPB Menggunakan Voting
Feature Intervals. Institut Pertanian Bogor : Bogor
Tan et al. 2011. Pathogenesis and phylogenetic analyses of canine
distemper virus strain ZJ7 isolate from domestic dogs in China.
Virology Journal http://www.virologyj.com/content/8/1/520
Kardena I made. 2011. Gambaran Patologi Paru-paru Anjing Bali Lokal
yang Terinfeksi Penyakit Distemper. Buletin Veteriner Udayana :
Denpasar
Krisna et al. 2009. Analisis Faktor Risiko Penyakit Distemper pada Anjing
di Denpasar. Jurnal Veteriner. Universitas Udayana Denpasar
Natania, Mudita, 2012. Kejadian Penyakit Distemper dan Parvo pada
Anjing melalui Pendekatan Klinis, Studi di Rumah Sakit Hewan Institut
Peranian Bogor. Instutit Pertanian Bogor : Bogor