Anda di halaman 1dari 7

Garcinia mangostana, Linn.

adalah spesies tanaman yang telah banyak digunakan sebagai


obat tradisional. Tanaman ini telah diketahui menghasilkan berbagai macam metabolit yang aktif
secara biologis seperti benzofenon terisoprenilasi dan santon dengan -mangostin (10), mangostin (22), dan -mangostin (23) sebagai komponen utamanya. Ekstrak kulit buah
(periscarp) dengan n-heksana menghasilkan senyawa santon gartanin (26), 1- isomangostin, 1isomangostin hidrat, 3-isomangostin dan 3-isomangostin hidrat (Chaverry, 2008). Selain itu,
masih banyak kandungan senyawa dalam spesies ini yang belum diuji aktivitasnya sebagai
antidiabetes dan antiobesitas. Masyarakat di daerah Nganjuk yang merupakan daerah
tumbuhnya Garcinia mangostana L. ini juga memanfaatkan tumbuhan ini sebagia obat disentri.
Mereka mengambil kulit kayunya untuk digunakan sebagai obat tersebut. Oleh karena itu
dilakukan suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengisolasi berbagai jenis kandungan kimia
senyawa mangostin yang dapat dipisahkan pada ekstrak n- heksana dari kayu akar Garcinia
mangostana L.

Metodologi
1. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat gelas seperti
Erlenmeyer, beaker glass, gelas ukur, pengaduk, penyaring vakum, peralatan kolom
kromatografi (KCV). Peralatan lain yang digunakan adalah ekstraktor, Eyela Rotary
Evaporator N-1001, lampu ultraviolet (UV) dengan 254 dan 366 nm, Melting Point
Apparatus Fisher Johns, Spektrofotometer UV-VIS 1700 Pharmastec Shimadzu,
Spektrofotometer IR BUCK Scientific 500 dan Spektrometri 1H dan 13C- NMR Jeol JMN
ECA 500 MHz.
2. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu akar tanpa kulit
G.mangostana dalam bentuk serbuk kering, pelarut organic seperti n- heksana, metilen
klorida, kloroform, etil asetat, aseton dan metanol. Bahan bahan yang lain yang digunakan
adalah TLC aluminium sheets 20x20 cm Silica gel 60 F254 untuk KLT, Silica gel 60 untuk
impregnasi, Silica gel 60 G untuk kromatografi cair vakum, penampak noda serium sulfat
(Ce(SO4)2) 1,5% dalam H2SO4 2N.
3. Persiapan Bahan Tumbuhan Sebagai sampel digunakan kayu akar G. mangostana dari
Nganjuk sebanyak 3 kg. Selanjutnya kayu akar yang telah kering, dipotong kecil kecil,
digiling hingga menjadi serbuk halus dan siap digunakan.
Pemilihan pelarut untuk ekstraksi dilakukan dengan menyiapkan 5 vial masing masing diisi
10 ml pelarut n-heksana, metilen klorida, etil asetat, aseton dan metanol sebanyak masing
masing 2 gram serbuk halus dimasukkan ke dalam vial 50 ml kemudian didiamkan selama 1
x 24 jam. Setelah itu, masing masing ekstrak dimonitoring dengan KLT menggunakan eluen
kloroform : metanol (9,8 : 0,2) untuk mengetahui pelarut yang terbaik. Setelah itu noda

dideteksi dengan lampu UV, disemprot penampak noda 1,5% serium sulfat dalam H2SO4 2
N dan dipanaskan dalam oven.
4. Isolasi dan Identifikasi 2.4.1 Isolasi Senyawa 2.4.1.1 Maserasi Sebanyak 3 kg serbuk halus
kayu akar Garcinia mangostana dimaserasi dengan n-heksan selama 1 x 24 jam pada
suhu kamar. Maserasi pertama digunakan tujuh liter n heksana dan maserasi yang
kedua ditambah enam liter n- heksana. Setelah itu, keseluruhan ekstrak n-heksana
diuapkan pelarutnya dengan Rotary Evaporator sehingga diperoleh ekstrak padat nheksana sebanyak 3,4565 gram. Keseluruhan ekstrak padat yang diperoleh dimonitoring
KLT menggunakan eluen kloroform : metanol (9,8 : 0,2), noda dideteksi dengan lampu
UV kemudian disemprot penampak noda 1,5% serium sulfat dalam H2SO4 2 N dan
dipanaskan dalam oven.
Fraksinasi Ekstrak n-heksana Fraksi n-heksana (3,4565 g ) difraksinasi menggunakan
kromatografi cair vakum menggunakan eluen n-heksana : diklorometana yang
ditingkatkan kepolarannya. Pengelompokan fraksi dilakukan pada fraksi fraksi yang
memiliki kemiripan Rf dan pola noda pada KLT. Fraksi gabungan dari fraksinasi I menghasilkan
4 fraksi yaitu fraksi A, B, C dan D. Fraksi gabungan tersebut dimonitoring KLT dengan
menggunakan eluen kloroform : metanol (9,9 : 0,1), noda dideteksi dengan lampu UV
kemudian disemprot menggunakan penampak noda 1,5 % serium sulfat dalam H2SO4 2 N
dan dipanaskan dalam oven.
2.4.2 Pemurnian Senyawa Hasil Isolasi 2.4.2.1 Rekristalisasi Padatan kuning yang terdapat
pada fraksi A dan D, dipisahkan dari pelarutnya dengan cara menyaring dengan penyaring
vakum, kemudian direkristalisasi menggunakan campuran pelarut yang sama yaitu n-heksana :
aseton dalam keadaan panas, didinginkan dalam lemari es selama 1 x 24 jam. Kristal yang
diperoleh disaring dengan penyaring vakum, dicuci dengan campuran pelarut n heksana :
diklorometana dingin, kemudian dimonitoring KLT menggunakan eluen kloroform : methanol
(9,9 : 0,1), diklorometana : etil asetat (9,5 : 0,5), dan diklorometana : n-heksana (8 : 2) untuk
kristal A, sedangkan untuk kristal D menggunakan eluen diklorometana : etil asetat (9,5 :
0,5), kloroform : etil asetat (9 : 1), dan kloroform : metanol (9,9 : 0,1).
2.4.2.2 Uji Titik Leleh dan Kelarutan Uji titik leleh sampel murni dilakukan dengan meletakkan
padatan sampel murni pada apparatus kemudian diukur titik lelehnya. Uji kelarutan sampel
murni dilakukan dengan melarutkan padatan sampel dalam berbagai pelarut (n-heksana;
diklorometana; kloroform; etil asetat; aseton dan metanol) dan diamati kelarutannya.
2.4.2 Penentuan Struktur 2.4.2.1 Spektrofotometri Ultra Violet Analisa spektroskopi UV
dilakukan dengan peralatan spectrometer UV. Sampel dilarutkan dalam methanol p.a dan
dimasukkan dalam kuvet, sedangkan untuk larutan blanko digunakan methanol p.a yang
dimasukkan dalam kuvet lain. Kedua kuvet diletakkan dalam tempat sampel ( sampel cell) dalam
alat. Absorbansi sampel diukur pada panjang gelombang 200 600 nm. Kemudian larutan

sampel ditambahkan NaOH sebagai reagen geser dan dilakukan prosedur pengukuran UV yang
sama. Larutan sampel ditambahkan AlCl3 dan HCl untuk melihat pergeseran puncaknya dan
diukur panjang gelombangnya. Larutan sampel ditambah NaOAc dan H3BO3 untuk melihat
pergeseran puncaknya dan diukur panjang gelombangnya.
2.4.2.2 Spektrofotometri IR Analisa spektroskopi infra merah dilakukan dengan menggunakan
peralatan Spektrofotometer IR BUCK Scientific 500, sampel murni digerus dengan
menggunakan KBr sampai homogen kemudian dipadatkan sehingga menjadi pellet dengan
ketebalan 1 mm menggunakan alat pres tekanan. Kemudian pellet tersebut dimasukkan ke
dalam alat spektrofotometer IR dan dianalisis pada bilangan gelombang 400 4000 cm-1.
2.4.2.3 Spektroskopi NMR Padatan murni yang diperoleh diambil sebanyak 7-10 mg dan
dilarutkan dalam 0,5 ml pelarut bebas proton (aseton d6) yang dapat melarutkan dengan
sempurna. Larutan sampel dimasukkan dalam tabung injection kemudian diletakkan dalam alat
NMR Jeol JNM ECA 500 MHz untuk mengukur 1H- NMR, 13C-NMR, DEPT 135, dan NMR
2D yaitu HMBC.
3 Hasil dan Pembahasan
3.1 Uji Pendahuluan Kayu akar Garcinia mangostana tanpa kulit yang diperoleh dari Kabupaten
Nganjuk, Jawa Timur, mula mula dirajang hingga menjadi potongan potongan kecil dan
dikeringkan untuk menghilangkan kadar air dalam sampel tersebut. Sampel yang kering itu
dihaluskan hingga menjadi serbuk untuk memperluas permukaan dari sampel, sehingga
dihasilkan serbuk kering 3 kg. Kemudian dilakukan uji pendahuluan untuk mengetahui
kandungan senyawa senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam sampel. Kromatogram
hasil uji KLT menunjukkan adanya sekumpulan noda yang berwarna kuning, yang
mengindikasikan adanya senyawa fenolat. Metode KLT ini digunakan sebagai uji kualitatif,
dikarenakan kemampuannya untuk mengetahui distribusi senyawa dengan mudah dan cepat,
serta menghemat sampel sebab jumlah sampel yang dibutuhkan hanya sedikit.
3.2 Isolasi Senyawa Serbuk kering kayu akar G.mangostana ini diekstraksi menggunakan
metode maserasi pada suhu kamar. Pemilihan metode ini dikarenakan memiliki bebrapa
kelebihan yaitu praktis,
tidak melibatkan pemanasan yang dapat menyebabkan
terdekomposisinya senyawa senyawa target, dan cara penggunaannya mudah. Pelarut yang
digunakan pada maserasi ini adalah n-heksana karena pelarut tersebut mampu mengekstrak
kandungan senyawa target dan mudah untuk dipisahkan, yang dapat dilihat pada KLT uji
pendahuluan. Maserasi sampel dengan n-heksana dilakukan dalam waktu 2x24 jam. Ekstrak
cair n- heksana yang diperoleh dari tiap maserasi dimonitoring KLT. Ekstrak cair yang
diperoleh berwarna kuning bening diuapkan pelarutnya pada tekanan rendah menggunakan
rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak padat berwarna kuning sebanyak 3,4565 gram.
Proses penguapan pelarut menggunakan rotary evaporator karena prosesnya berjalan cepat,
filtrate dapat diperoleh kembali dan tidak memerlukan suhu yang tinggi. Maserasi dihentikan

setelah warna noda ekstrak n-heksana memudar. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa
senyawa yang dapat diekstrak oleh pelarut n-heksana hamper teresktrak semua. Fraksi nheksana padat (3,4565 g) diambil, kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi cair
vakum untuk memisahkan senyawa senyawa target ke dalam fraksi yang lebih sederhana.
Metode ini dipilih karena memiliki keunggulan yaitu dapat memisahkan bahan sampel dalam
jumlah yang cukup besar dalam waktu yang singkat. Eluen yang dipakai untuk kromatografi
cair vakum adalah eluen n-heksana : diklorometana yang ditingkatkan kepolarannya dan hasil
KCV dimonitoring KLT dengan eluen kloroform : metanol (9,8 : 0,2). Noda yang memiliki
nilai Rf yang relative sama digabung dan diperoleh empat fraksi gabungan.
Fraksi gabungan A terbentuk padatan kristal jarum berwarna kuning di dasar vial
sehingga dilakukan pemisahan dengan penyaringan vakum dan diperoleh kristal sebanyak
0,2714 g.
Fraksi gabungan B terbentuk padatan kristal yang mirip dengan fraksi gabungan A, tetapi
masih terdapat pengotor sehingga perlu pemurnian lebih lanjut.
Fraksi gabungan C terbentuk padatan kristal kuning, tetapi masih perlu pemisahan lebih
lanjut karena masih terdapat dua noda yang masih belum terpisah.
Fraksi gabungan A dan B itu merupakan kelompok noda yang relative non polar.
Sedangkan fraksi gabungan D terbentuk padatan kuning yang berbeda bentuknya dengan
fraksi gabungan A yaitu berupa serbuk kuning sebanyak 0,1691 g dan fraksi ini merupakan
kelompok noda yang relative polar dibandingkan fraksi gabungan A dan B, tetapi fraksi ini
masih ada pengotornya, sehingga perlu dimurnikan lagi melalui proses rekristalisasi.
Fraksi A terlihat pada kromatogram, noda tunggal yang relative non polar, sehingga dapat
disebut senyawa 1,
sedangkan fraksi D menunjukkan noda tunggal yang relative polar dibandingkan dengan
fraksi A, sehingga dapat disebut senyawa
Pemurnian senyawa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan rekristalisasi, uji tiga
eluen yang berbeda kepolarannya, serta uji titik leleh senyawa tersebut.
3.3.1 Rekristalisasi Padatan berwarna kuning yang terdapat pada fraksi A dan D
direkristalisasi mengunakan pelarut yang sama yaitu n-heksana : aseton. Pemilihan pelarut
tersebut didasarkan pada prinsip rekristalisasi yaitu sampel yang tidak larut dalam suatu
pelarut pada suhu kamar tetapi dapat larut dalam pelarut pada suhu kamar. Jadi
rekristalisasi meliputi tahap awal yaitu melarutkan senyawa yang akan dimurnikan dalam sedikit
mungkin pelarut atau campuran pelarut dalam keadaaan panas atau bahkan sampai suhu
pendidihan sehingga diperoleh larutan jernih dan tahapan selanjutnya yaitu mendinginkan larutan
yang akan dapat menyebabkan terbentuknya kristal, lalu dipisahkan melalui penyaringan.

3.3.2 Uji Tiga Eluen yang Berbeda Kepolarannya Kristal yang diperoleh dari rekristalisasi
fraksi A dan D dimonitoring KLT dalam berbagai eluen yang berbeda kepolarannya dan
data yang diperoleh menunjukkan bahwa kristal yang diperoleh telah murni. Eluen yang
digunakan untuk fraksi A antara lain : diklorometana : etil asetat (9,5 : 0,5); kloroform :
metanol (9,9 : 0,1) dan diklorometana : n- heksana (8 : 2). Sedangkan eluen yang
digunakan untuk
fraksi D antara lain : diklorometana : etil asetat (9,5 : 0,5); kloroform : etil asetat (9 : 1)
dan kloroform : metanol (9,9 : 0,1)
3.3.3 Uji Titik Leleh dan Kelarutan Senyawa 1 dan 2 diuji titik lelehnya menggunakan alat
pengukur titik leleh dan hasilnya menunjukkan nilai yang berbeda. Nilai titik leleh untuk
senyawa 1 adalah 172 173 C, sedangkan nilai titik leleh untuk senyawa 2 adalah 172 174
C. Senyawa 1 dan 2 diuji kelarutannya dengan pelarut n-heksana, diklorometana,
kloroform, etil asetat, aseton, dan metanol. Senyawa 1 larut baik dalam kloroform, etil asetat
dan aseton, tidak larut dalam metanol, sedikit larut dalam n-heksana dan diklorometana.
Sedangkan senyawa 2 larut dalam etil asetat, aseton, dan metanol, sedikit larut dalam nheksana, diklorometana,dan kloroform.
3.4 Penentuan Struktur Hasil Isolasi Senyawa 1 Spektrum UV (Gambar 2) untuk senyawa 1
memperlihatkan serapan pada pita 1 dengan maks 315 nm yang menunjukkan adanya eksitasi
elektron dari orbital n* yang menyatakan adanya sistem konjugasi dari suatu heteroatom
dengan ikatan rangkap terkonjugasi (-C=C-C=O). Sedangkan serapan dengan maks 244 nm
pada pita 2 yang menunjukkan adanya eksitasi elektron dari orbital * yang merupakan
gugus kromofor yang khas untuk sistem ikatan rangkap terkonjugasi (-C=C- C=C-) dari cincin
aromatik. Sehingga dapat disarankan bahwa senyawa 1 memiliki sistem aromatik dan karbonil
terkonjugasi (Nilar, et.al., 2005) yang khas untuk kerangka santon (Lannang, et.al., 2005; Kosela,
et.al., 2006; Ito, et.al., 1997). Selanjutnya penambahan basa (NaOH) sebagai pereaksi geser
mengakibatkan pergeseran batokromik pada pita 1 dari serapan dengan maks 315 nm menjadi
maks 356 nm yang menunjukkan adanya gugus penarik elektron (-C=O) pada posisi para
dengan gugus pendorong electron yang diakibatkan oleh keseimbangan keto enol yang khas
untuk senyawa fenolat (Ito, et.al., 1997; Sen, et.al., 1982).
Penambahan pereaksi geser AlCl3 mengakibatkan pergeseran batokromik dari maks 315 nm
menjadi 480 nm yang menunjukkan adanya gugus hidroksi pada posisi orto dengan karbonil
(Nedialkov, 2002), sedangkan dengan penambahan HCl tidak terjadi pergeseran lagi yang
menunjukkan bahwa senyawa ini tidak memiliki gugus hidroksi pada posisi orto. Spektrum IR
(Gambar 5) senyawa 1 hasil isolasi memperlihatkan serapan serapan yang khas untuk beberapa
gugus fungsi, diantaranya adalah pada bilangan gelombang (maks) 3402 cm-1 menunjukkan
adanya gugus hidroksil bebas,sedangkan serapan pada bilangan gelombang (maks) 2997 cm-1,
2962 cm-1, 2931 cm-1, 2858 cm-1 menunjukkan adanya gugus C-H alifatik. Serapan dengan

bilangan gelombang (maks) 1647 cm-1 menunjukkan adanya satu karbonil yang terkhelat oleh
gugus hidroksi, sedangkan serapan pada

Garcinia mangostana, Linn. adalah spesies tanaman yang telah banyak digunakan sebagai obat
tradisional. Tanaman ini telah diketahui menghasilkan berbagai macam metabolit yang aktif
secara biologis seperti benzofenon terisoprenilasi dan santon dengan -mangostin (10), mangostin (22), dan -mangostin (23) sebagai komponen utamanya. Ekstrak kulit buah
(periscarp) dengan n-heksana menghasilkan senyawa santon gartanin (26), 1- isomangostin, 1isomangostin hidrat, 3-isomangostin dan 3-isomangostin hidrat (Chaverry, 2008). Selain itu,
masih banyak kandungan senyawa dalam spesies
ini yang belum diuji aktivitasnya sebagai antidiabetes dan antiobesitas. Masyarakat di daerah
Nganjuk yang merupakan daerah tumbuhnya Garcinia mangostana L. ini juga memanfaatkan
tumbuhan ini sebagia obat disentri. Mereka mengambil kulit kayunya untuk digunakan sebagai
obat tersebut. Oleh karena itu dilakukan suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengisolasi
berbagai jenis kandungan kimia senyawa mangostin yang dapat dipisahkan pada ekstrak nheksana dari kayu akar Garcinia mangostana L.