Anda di halaman 1dari 6

Setelah membaca berita diatas, kami mengajak menelaah dari segi medis dan medikolegal.

Yang
pertama, kita menelaah dari kalimat adanya kelalaian dokter atau terjadi malpraktek, menurut
buku kajian bioetik edisi kedua malpraktek adalah praktek yang buruk; melakukan yang
seharusnya tidak dilakukan atauan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Sampai sekarang belum ada persamaan persepsi mengenai apa yang dimaksud dengan
malpraktek kedokteran. Dalam system perundang undangan di Indonesia saat ini pun belum ada
pengaturan tentang malpraktek medik. Nampaknya, masyarakat dan media massa saat ini
menganggap, bahwa setiap hasil perawatan dokter yang tidak sesuai harapan, misalnya tidak
sembuh, kecacatan, atau kematian adalah malpraktek.
Pihak kepolisian dan kejaksaan biasanya berpendapat bahwa kematian atau kecacatan pada
perawatan oleh dokter pasti bukan suatu kesengajaan, jadi tidak merupakan malpraktek. Akan
tetapi pihak kepolisian atau kejaksaan kadang kadang menganggap bahwa kematian atau
kecacatan pada perawatan oleh dokter mungkin akibat suatu kelalaian atau kealpaan ( negligence
), dan dapat diproses dengan menggunakan KUHP pasal 359, pasal 360, dan pasal 361, yaitu
kealpaan yang menyebabkan kematian atau kecacatan.
Kelalaian dalam memberikan perawatan yang secara langsung menyebabkan kerugian atau
perlukaan pada pasien dapat digolongkan sebagai malpraktek, karena secara mendasar kelalaian
dilator belakangi sifat acuh, tak peduli, dan sembrono. Namun, untuk menegakkan suatu
kelalaian harus mempunyai 4 syarat :
1. Adanya Kewajiban Profesi (Duty) mempergunakan segala kemampuannya untuk
menyembuhkan, bertindak hati hati dan teliti, bertindak sesuai standar profesi, dan
meminta persetujuan setelah penjelasan.
2. Penyimpangan kewajiban (Dereliction of the duty) Tindakan yang menyimpang dari apa
yang seharusnya; dilakukan tanpa indikasi, tidak sesuai standar profesi.
3. Kerugian yang diderita pasien (Damage)
4. Hubungan sebab akibat langsung (Direct Causation) bahwa kerugian yang dialami pasien
akibat langsung dari penyimpangan yang dilakukan oleh dokter.
Namun, adalagi suatu peristiwa yang disebut sebagai Adverse events/Sentinel Events, istilah ini
menunjukkan terjadinya peristiwa yang berakibat negative terhadap pasien yang sedang dirawat

dirumah sakit. Salah satu contohnya adalah pasien setelah dilakukan operasi, dan sudah pulang,
tiba tiba timbul keadaan memburuk atau peristiwa negative.
Biasanya jika terjadi error dalam bidang medis, yang disalahkan adalah si pelakunya. Namun
menyalahkan dokter sebagai pelaku tersebut tidak memecahkan permasalahan. Bisa jadi para
pelakunya bias berbeda dalam situasu yang sama. Semua ini akan berlangsung terus menerus
sampai yang memberi peluang terjadinya error sudah teridentifikasi dan dirubah. Biasanya error
tersembunyi dari suatu sistemnya.
Adverse events terbagi menjadi dua bagian, yaitu Tanpa ada kesalahan manusia dan Terdapat
kesalahan manusia (human error). Adverse events adalah suatu outcome negatif dari suatu proses
proses tatalaksana dari (Anamnesis, diagnosis, terapi, operasi, anestesi,terlambat penanganan)
suatu penyakit yang bias berupa bertambah buruknya kondisi pasien seperti harus masuk ICU
diberikan ventilator kemudian meninggal, atau akibat lain (emboli, alergi), atau timbul penyakit
lain.
Dari paparan penjelasan diatas kita tidak seharusnya menghakimi seorang dokter melakukan
suatu malpraktek atau suatu kelalaian, oleh karena itu kita harus mengkritisi suatu berita di
media. Seorang dokter akan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi pasiennya, walaupun
dalam perjalanan pekerjaannya seperti memakan buah simalakama.
Kemudian, bagaimana jika kita telaah dari sisi penyakitnya, dari kalimat awalnya sakit muntah
dan buang air besar terus dan sudah dilakukan pemberian infus karena indikasi dehidrasi ringan
dan diberikan penurun demam.
Dari paparan diatas kita simpulkan bahwa menurut pedoman klinis IDAI (Ikatan Dokter Anak
Indonesia) pasien menderita diare akut atau gastroenteritis akut, dan sudah dilakukan
penatalaksanaan sesuai pedoman terapi yaitu pergantian cairan tubuh dengan di infus (rehidrasi)
karena indikasi dehidrasi ringan dan diberikan obat simtomatis yaitu penurun demam, kemudian
dengan tatalaksana tersebut pasien mengalami perbaikan, namun kemudian pasien mengalami
perburukan, dengan gejala kehilangan kesadaran, perut kembung, timbul bercak merah, bibirnya
membiru, dan mulut berbusa.
Namun, untuk menegakkan suatu diagnosis tidaklah mudah, melihat dari paparan diatas ada
beberapa kemungkinan penyebab kejadian tersebut yaitu terjadinya syok anafilaktik karena

pemberian antibiotik atau terjadinya komplikasi dari infeksi saluran cerna (Diare akut) yaitu
Meningoensefalitis/ meningitis yang bias disebabkan karena virus ataupun bakteri merujuk
kepada komplikasi yang sering terjadi pada bayi karena daya tahan tubuhnya yang belum
sempurna sehingga dari keadaan tersebut pasien bias meninggal.
Mungkin dari penjelasan bisa merubah paradigm tentang malpraktek sehingga masyarakat makin
cerdas dan sadar begitu beratnya tugas seorang dokter. Semoga dokter di Indonesia selalu
memberikan pelayanan yang prima dan terbaik.