Anda di halaman 1dari 22

Kasus

Anton menikah dengan Dewi dengan perjanjian pemisahan harta memiliki 1 orang anak. Pada
tahun 2011 penghasilan netto anton Rp. 100.000.000 dan penghasilan netto Dewi Rp. 75.000.000
Pertanyaan:
a. Hitung PPh terutang baik Anton maupun Dewi untuk tahun 2011
b. Hitung PPh terutang baik Anton maupun Dewi untuk tahun 2011, bila status kawin pisah
hidup atau hidup berpisah.

Jawab:
a. Pisah harta
Penghasilan Netto Anton
Penghasilan netto Dewi
Jumlah Penghasilan Netto
PTKP (K/I/1)
PKP
PPh terutang Anton+Dewi
5% x 50.000.000
15% x 90.680.000
b. Pisah Hidup
Penghasilan Netto Anton
PTKP (TK/1)
PKP
PPh terutang Anton
5% x 50.000.000
15% x 32.840.000

Tanggal 30 September 2015

Rp. 100.000.000
Rp. 75.000.000
Rp. 175.000.000
Rp. 34.320.000
Rp. 140.680.000
Rp. 2.500.000
Rp. 13.602.000
Rp. 16.102.000
Rp. 100.000.000
Rp. 17.160.000
Rp. 82.840.000

Kasus:
Uswatun hasanah adalah ibu rumah tangga yang empunyai 2 orang anak bekerja
sebagai distributor multilevel marketing pada PT. Golden Chain. Suami Uswatun
Hasanah telah terdaftar sebagai WP dan mempunyai NPWP, dan yang
bersangkutan bekerja pada PT. Pelangi Antar Nusa. Uswatun hasanah telah
menyampaikan fotocopy kartu NPWP suami, surat nikah dan kartu keluarga
kepada pemotong pajak. Tahun 2009 penghasilan yang diterima sebagai berikut:
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni

Komisi Agen (Rp)


76.000.000
83.000.000
89.000.000
93.000.000
102.000.000
111.000.000

Hitunglah PPh pasal 21:


a. Januari s/d Juni 2009
b. Januari s/d Juni 2009, bila suami tidak mempunyai NPWP

A.
Bulan

Pengh.
Bruto

Pengh.
Netto

PTKP

PKP

1
Jan
Feb

2
76.000
83.000

3 = 50%x2
38.000
41.500

4
1.320
1.320

Mar
Apr
Mei
Juni

89.000
93.000
102.000
111.000

44.500
46.500
51.000
55.000

1.320
1.320
1.320
1.320

Jumlah

554.000

277.000

7.920

5=3-4
36.680
13.320
26.860
43.180
45.180
49.680
35.100
18.580
268.580

Pembuktian:

PKP
Kumulati
f
6
36.680
50.000
76.860
120.040
165.220
214.900
250.000
268.580

Tarif

PPH 21
Terutang

7
5%
5%
15%
15%
15%
15%
15%
25%

8=5x7
1.834
666
4.029
6.477
6.777
7.452
5.265
4.625
37.145

PKP

= 268.580.000

5% x 50.000.000

= 2.500.000

15% x 200.000.000

= 30.000.000

25% x 18.580.000

= 4.645.000

268.580.000

= 37.145.000

B.
Bulan

Pengh.
Bruto

Pengh.
Netto

1
Jan
Feb

2
76.000
83.000

Mar
Apr
Mei
Juni

89.000
93.000
102.000
111.000

Jumlah

554.000

3 = 50%x2
38.000
12.000
29.500
44.500
46.500
51.000
28.500
27.000
277.000

Pengh.
Netto
Kumulati
f
4
38.000
50.000
79.500
124.000
170.500
221.500
250.000
277.000

Tarif

Tarif
Non
NPWP

PPh 21
Terutang

5
5%
5%
15%
15%
15%
15%
15%
25%

6
120%
120%
120%
120%
120%
120%
120%
120%
120%

7=3x5x6
2.280
720
5.310
8.010
8.370
9.180
5.130
8.100
47.100

Tidak memiliki NPWP, PPH 21 dihitung tanpa dikurangi PTKP dan PPh 21 nya 20% > yang
memiliki NPWP.
Pembuktian:
PKP = 277.00.000
5% x 50.000.000

= 2.500.000x120%

15% x 200.000.000

= 30.000.000x120% = 36.000.000

25% x 27.000.000

= 6.750.000x120%

277.000.000

= 3.000.000

= 8.100.000
47.100.000

Kasus:
Ny. Fatimah, status kawin dan mempunyai seorang anak kandung, adalah
distributor multilevel marketing PT. Maju Bersama. Suami Fatimah adalah
pegawai PT. Berkembang. Fatimah tidak mempunyai penghasilan lain dan telah

menyerahkan fotocopy NPWP suami, surati nikah dan kartu keluarga kepada PT.
Maju Bersama. Tahun 2009 penghasilan yang diterima sebagai berikut:
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni

Komisi Agen (Rp)


114.000.000
124.500.000
133.500.000
139.500.000
153.000.000
444.000.000

Hitunglah PPh pasal 21:


c. Januari s/d Juni 2009
d. Januari s/d Juni 2009, bila suami tidak mempunyai NPWP

PERBEDAAN PPH PASAL 22,23, DAN 26

KETERANGAN
Objek

Subjek
Tarif

PPH PASAL 22
Pengadaan barang
dan jasa yang sumber
dananya dari
APBN/D, import dan
bidang usaha lain
yang ditentukan oleh
UU
WP dalam negeri
0,5% Industri
Pertanian
1,5% Pengadaan
Barang dan Jasa
2,5% Impor Punya
Api
7,5% Impor non Api
7,5% Barang lelang

PPH PASAL 23

PPH PASAL 26

Bunga, dividen,
Sama dengan objek
royalty, sewa dan jasa PPH pasal 23
lain2 yang ditentukan
oleh UU

WP dalam negeri
15% x Bruto
15% x Perk.
Penghasilan Netto

WP Luar negeri
20% x Bruto (Final)

Penyelesaian
a. Atas pembayran bunga pinjaman ke Bank NISP tidak terutang PPh pasal 23. Sesuai
dengan pasal 23 UU PPh, bahwa penghasilan yang dibayar kepada Bank bukan obyek
pemotongan PPh pasal 23

b. Atas pembayaran bunga pinjaman dan denda keterlambatan ke Tuan Badung terutang
PPh pasal 23=15%x(40.000.000 + 10.000.000) = 7.500.000. PPh pasal 23 dipotong dan
disetorkan oleh PT. Timbul Tenggelam dengan bukti potong PPh pasal 23 dibuat atas
nama Tuan Badung.
c. Atas hadiah lomba lari 10k yang diterima pak TUkiman (Wajib Pajak Luar Negeri)
terutang PPh pasal 26 sebesar 20% x penghasilan bruto. Jadi PPh pasal 26
20% x (100/80xRp 88.000.000) = Rp 22.000.000

2 a. Atas penerimaan Dividen dari PT. Angin Ribut tentang PPh pasal 23 sebesar 15% x
penghasilan bruto.
= 15% x (100/85 x Rp 170.000.000)
= Rp 30.000 PPh Pasal 23
Dipotong dan disetorkan oleh Pt angina rebut dengan bukti potong PPh pasal 23 dibuat atas
nama PT Timbul Tenggelam

Tanggal 28 Oktober 2015

Keuntungan/Kerugian Selisih Kurs


Punya Utang

Laba Selisih Kurs

Rp makin kecil terhadap Asing

Punya Piutang

Rugi Selisih Kurs

Melemah

Punya Utang

Rugi Selisih Kurs

Rp makin besar terhadap Asing

Punya Piutang

Laba Selisih Kurs

Menguat

Nilai Kurs

Kasus
PT. BAC pembukuannya rupiah, tahun buku sama dengan tahun kalender, pada tanggal 2
Januari 2000 memperoleh kredit dari HSBC sebesar USD 1.000.000,- diangsur tiap tahun
sebesar USD 100.000, mulai akhir tahun 2000. Kurs per USD:
No
1
2

Tanggal
2-01-2000
31-12-2000
31-12-2001

Kurs Realisasi (Rp)


7.200
9.600
10.500

Kurs Tengah BI (Rp)


7.180
9.595
10.400

3
4
5
6
7

31-12-2002
31-12-2003
31-12-2004
31-12-2005
31-12-2006

9.000
8.500
9.320
9.900
9.050

8.940
8.465
9.308
9.840
9.020

Pada akhir tahun 2007 sisa pinjaman dilunasi dengan kurs realisasi per USD= Rp 9.425.
Pertanyaan: Hitung Rugi Laba selisih kurs
a. Dengan kurs tengah BI pada tiap-tiap akhir tahun buku
b. Dengan kurs realisasi pada waktu pembayaran pinjaman
c. Buat perbandingannya

PENYELESAIAN
a. R/L SELISIH KURS BERDASARKAN KURS TENGAH BI
Tahun 2000
- Ralisasi = USD 100.000 (7.200-9.600)

Rugi

Rp

240.000.000

- Pinjaman = USD 900.000 (7.200-9.595)

Rugi

Rp.

2.155.500.000

Rugi Kurs thn 2000

(Rp.

2.395.500.000)

Tahun 2001
- Ralisasi = USD 100.000 (9.595-10.500)

Rugi

Rp

90.500.000

- Pinjaman = USD 800.000 (9.595-10.400)

Rugi

Rp.

644.000.000

(Rp.

734.500.000)

Rugi Kurs thn 2001

Tahun 2002
- Ralisasi = USD 100.000 (10.400-9.000)

Laba

Rp

140.000.000

- Pinjaman = USD 700.000 (10.400-8.940)

Laba

Rp.

1.022.000.000

Laba Kurs thn 2002

Tahun 2003

Rp. 1.162.000.000

- Ralisasi = USD 100.000 (8.940-8.500)

Laba

Rp

44.000.000

- Pinjaman = USD 600.000 (8.940-8.465)

Laba

Rp.

285.000.000

Laba Kurs thn 2003

Rp.

329.000.000

Tahun 2004
- Ralisasi = USD 100.000 (8.465-9.320)

Rugi

Rp

85.500.000

- Pinjaman = USD 500.000 (8.465-9.308)

Rugi

Rp.

421.500.000

(Rp.

507.000.000)

Rugi Kurs thn 2004

Tahun 2005
- Ralisasi = USD 100.000 (9.308-9.900)

Rugi

Rp

59.200.000

- Pinjaman = USD 400.000 (9.308-9.840)

Rugi

Rp.

212.800.000

(Rp.

272.000.000)

Rugi Kurs thn 2005

Tahun 2006
- Ralisasi = USD 100.000 (9.840-9.050)

Laba

Rp

79.000.000

- Pinjaman = USD 300.000 (9.840-9.020)

Laba

Rp.

246.000.000

Rp.

325.000.000

Rp

121.500.000

Rp.

Laba Kurs thn 2006

Tahun 2007
- Ralisasi = USD 300.000 (9.020-9.425)

Rugi

- Pinjaman = NIHIL
Rugi Kurs thn 2007

(Rp.

121.500.000)

b. R/L SELISIH KURS BERDASARKAN KURS REALISASI

Tahun 2000 = USD 100.000 (7.200-9.600)

Rugi

Rp.

240.000.000

Tahun 2001 = USD 100.000 (7.200-10.500)

Rugi

Rp.

330.000.000

Tahun 2002 = USD 100.000 (7.200-9.000)

Rugi

Rp.

180.000.000

Tahun 2003 = USD 100.000 (7.200-8.500)

Rugi

Rp.

130.000.000

Tahun 2004 = USD 100.000 (7.200-9.320)

Rugi

Rp.

212.000.000

Tahun 2005 = USD 100.000 (7.200-9.900)

Rugi

Rp.

270.000.000

Tahun 2006 = USD 100.000 (7.200-9.050)

Rugi

Rp.

185.000.000

Tahun 2007 = USD 300.000 (7.200-9.425)

Rugi

Rp.

667.500.000

Jumlah Rugi Kurs

Rp. 2.214.500.000

c. Perbandingan Rugi Laba Selisih Kurs

Tahun
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Rugi

Kurs Tengah BI
(2.395.500.000)
(734.500.000)
1.162.000.000
329.000.000
(507.000.000)
(272.000.000)
325.000.000
(121.500.000)
2.214.500.000
BEDA WAKTU

Kurs Realisasi
(240.000.000)
(330.000.000)
(180.000.000)
(130.000.000)
(212.000.000)
(270.000.000)
(185.000.000)
(667.500.000)
2.214.500.000

TUGAS UAS
PT. BAC pembukuannya rupiah, tahun buku sama dengan tahun kalender, pada tanggal 2
Januari 2000 memperoleh kredit dari HSBC sebesar USD 2.000.000,- diangsur tiap tahun
sebesar USD 225.000, mulai akhir tahun 2000. Kurs per USD:
No
1
2
3
4
5
6
7

Tanggal
2-01-2000
31-12-2000
31-12-2001
31-12-2002
31-12-2003
31-12-2004
31-12-2005
31-12-2006

Kurs Realisasi (Rp)


10.800
14.400
15.750
13.500
12.750
13.980
14.850
13.575

Kurs Tengah BI (Rp)


10.770
14.392,50
15.600
13.410
12.697,50
13.962
14.760
13.530

Pada akhir tahun 2007 sisa pinjaman dilunasi dengan kurs realisasi per USD =
Rp 14.137,50
Pertanyaan: Hitung Rugi Laba selisih kurs:
a. Dengan kurs tengah BI pada tiap akhir tahun buku
b. Dengan kurs realisasi pada waktu pembayaran pinjaman
c. Buat perbandingannya

PPh Pasal 24
1. PPh Pasal 24 adalah pajak yang tertang atau dibayarkan di luar negeri atas penghasilan
yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap PPh yang
terutang atas seluruh penghasilan wajib pajak di dalam negeri.
2. Batas maksimal paja yang boleh dikreditkan, dipilih mana yang terendah antara 3 (tiga)
kemungkinan berikut:
a. PPh yang terutang di luar negeri
b. PPh yang dihitung berdasarkan perbandingan antara penghasilan di luar negeri
dengan seluruh penghasilan
c. PPh yang terutang atas seluruh penghasilan
3. Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan / dikompensasikan
dengan penghasilan di dalam negeri.
Kasus
Tahun 2009 diketahui data berikut dibawah ini:
1. Wajib Pajak OP (K/-)
2. Mempunyai Penghasilan Kena Pajak (PKP) di :
a. Malaysia Rp 25 Juta, Tarif PPh 30%
b. Singapura Rp 50 Juta, Tarif PPh 20%
c. Australia Rp 25 Juta, Tarif PPh 35%
d. Dalam negeri Rp 25 Juta
Hitung PPh 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri!

Jawab
PKP Malaysia
PKP Singapura
PKP Australia
PKP Dalam Negeri
Total PKP

25.000.000
50.000.000
25.000.000
25.000.000
125.00.000

PPh Terutang:
5% x 50.000.000
15% x 75.000.000

2.500.000
11.250.000
13.750.000

PPh di Luar Negeri


Malaysia 30% x 25.000.000
SIngapura 20% x 50.000.000
Australia 35% x 25.000.000

7.500.000
10.000.000
8.750.000
26.250.000

PPh dihitung menurut Perbandingan


Malaysia 25/125 x 13.750.000 = 2.750.000 (<7.500.000)
Singapura 50/125 x 13.750.00 = 5.500.000 (<10.000.000)
Australia 25/125 x 13.750.000 = 2.750.000 (<8.750.000)
Jadi PPh yang dapat dikreditkan di dalam negeri
Malaysia
2.750.000
Singapura
5.500.000
Australia
2.750.000
11.000.000

Tanggal 4 November 2015


KASUS
Tahun 2009 diketahui data berikut ini:
1. Wajib pajak orang pribadi (K/-)
2. Mempunyai penghasilan netto di
a. Thaniland laba 2,5 M tariff pajak 15%
b. Vietnam rugi 3 M
c. Hongkong laba 4,5 M tariff pajak 40%
Dalam negeri 1,5 M
Hitung PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan!

Jawab
Laba di Thailand
Rugi di Vietnam

2.500.000.000
-

Laba di Hongkong
Laba di dalam negeri
Penghasilan Netto
PTKP (K/-)
PKP
PPh terutang:
5% x 50.000.000
15% x 200.000.000
25% x 250.000.000
30% x 7.982.840.000
8.482.840.000

4.500.000.000
1.500.000.000
8.500.000.000
17.160.000
8.482.840.000
=
=
=
=

2.500.000
30.000.000
62.500.000
2.394.852.000
2.489.852.000

PPh di Thailand 15% x 2.500.000.000 =


375.000.000
PPh di Hongkong 40% x 4.500.000.000 = 1.800.000.000
PPh di LN
2.175.000.000
PPh dihitung menurut perbandingan:

Thailand = (2.500.000.000/8.482.840.000) x 2.489.852.000 = 733.790.809,9

Hongkong = (4.500.000.000/8.482.840.000) x 2.489.852.000 = 1.320.823.451

Jadi, Thailand

= 375.000.000

Jadi, Hongkong =1.320.823.451


PPh 24 yang diperkenankan = 1.695.823.451

KASUS

Pada tahun 2011, PT Gita Sari di Yogyakarta menerima penghasilan dari beberapa dan dari usaha
di dalam negeri sebagai berikut:

Negara
Jepang

Laba/Rugi
Laba Usaha

Jumlah Penghasilan
750.000.000

Tarif Pajak
30%

Korea Utara
Singapura
Belanda

Rugi Usaha
Laba Usaha
Laba Usaha

250.000.000
300.000.000
420.000.000

40%
25%
35%

Sedangkan dari usaha di dalam negeri selama tahun 2011 menderita kerugian sebesar Rp.
270.000.000
Diminta:
Hitunglah PPh Pasal 24 yang boleh dikreditkan atas seluruh penghasilan PT Gita Sari tahun
2011!

Penyelesaian
Laba dari Jepang

750.000.000

Rugi dari Korut

Laba dari Singapura

300.000.000

Laba dari Belanda

420.000.000

Rugi dari dalam negeri


PKP

PPh Terutang

(270.000.000)
1.200.000.000

= 25% x 1.200.000.000 = 300.000.000

PPh yang dipotong di Luar Negeri


Jepang

= 30% x 750.000.000 = 225.000.000

Singapur

= 25% x 300.000.000 = 75.000.000

Belanda

= 35% x 420.000.000 = 147.000.000

PPh max yang telah dikreditkan untuk masing-masing Negara dihitung sbb:

PPh max = (Penghasilan Luar Negeri/PKP) x PPh seluruh penghasilan


Jepang

= (75/120) x 300.000.000

= 187.500.000

Singapura

= (3/12) x 300.000.000

= 75.000.000

Belanda

= (42/120) x 300.000.000

= 105.000.000

Negara
Jepang
Singapura
Belanda
Jumlah

Pajak yg dipotong LN
225.000.000
75.000.000
147.000.000
447.000.000

Kredit Pajak Max


187.500.000
75.000.000
105.000.000
367.500.000

PPh 24 yg boleh dikreditkan


187.500.000
75.000.000
105.000.000
367.500.000

Jadi, PPh 24 yang boleh dikreditkan = 367.500.000

Contoh perhitungan angsuran PPh 25


PPh terutang menurut SPT tahunan PPh 2000 sebesar

Rp. 50.000.000

Dikurangi:
a.
b.
c.
d.

PPh yang dipotong pemberi kerja (Pasal 21)


PPh yang dipungut pihak lain (Pasal 22)
PPh yang dipotong pihak lain (Pasal 23)
Kredit PPh luar negeri (Pasal 24)

= Rp 15.000.000
= Rp 10.000.000
= Rp 2.500.000
= Rp 7.500.000

Jumlah Kredit Pajak


Jumlah

Rp. (35.000.000)
Rp. 15.000.000

Besarnya angsuran yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2001 sebesar
1/12 x 15.000.000 = 1.250.000

Kredit Pajak Bagi


WP dalam negeri dan BUT
Pasal 28 ayat (1) dan (2)

Pasal 21

Pemotongan PPh dari pekerjaan, jasa dan kegiatan lain

Pasal 22

Pemungutan PPh dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain

Pasal 23

Pemotongan PPh dari dividen, bunga, royalty, sewa, hadiah dan penghargaan,
serta imbalan

Pasal 24

Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh
dikreditkan

Pasal 25
Pasal 26 ayat 5

Pembayaran yang dilakukan oleh wajib pajak sendiri


Pemotongan pajak atas penghasilan yang tidak bersifat final

Tidak boleh dikreditkan: Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi
pidana berupa denda

Contoh perhitungan kredit pajak


PPh terutang WP orang pribadi sebesar

Rp. 50.000.000

Kredit pajak:
a.
b.
c.
d.
e.

PPh yang dipotong pemberi kerja (Pasal 21)


PPh yang dipungut pihak lain (Pasal 22)
PPh yang dipotong pihak lain (Pasal 23 Modal)
Kredit PPh luar negeri (Pasal 24)
Dibayar sendiri oleh WP (pasal 25)
Jumlah PPh yang dapat dikreditkan
PPh yang masih harus dibayar

Lembar terakhir lihat adinda!

= Rp 5.000.000
= Rp 10.000.000
= Rp 5.000.000
= Rp 15.000.000
= Rp 10.000.000
Rp. (45.000.000)
Rp. 35.000.000

d. PPh terutang
= PKP {25% - 4.8M/15M x 12.5%}
= 800.000.000 {25% - 4.8M/15M x 12.5%}
= 200.000.000 4.8/15 x 100.000.000
= 200.000.000 24.000.000
PPH (22,23, dan 24)

= 176.000.000
= (30.500.000)
= 145.500.000

Jadi PPh 25 per bulan 2011 = 1/12 x 145.500.000 = 12.125.000


PPh terutang
PPh (22,23, dan 24)
PPh 25
PPh 29 kurang bayar

= 176.000.000
= (30.500.000)
= (7.500.000)
= 138.000.000

KASUS
Berikut data SPT PPh OP tahun 2009:
1. Penghasilan netto
2. PTKP (K/3)
3. PPh (21,22,23, dan 24)
Pertanyaan:

= 108.640.000
= 21.120.000
= 2.250.000

Hitung PPh 25 tahun 2010, bila:


a.
b.
c.
d.

Tahun 2008 rugi 20.000.000


Tahun 2008 rugi 158.640.000
Tahun 2008 rugi 225.640.000
Tahun 2004 rugi 158.640.000

Jawab:
a. Karena rugi 20.000.000 < 108.640.000 berarti 20.000.000 HABIS
DIKOMPENSASI, maka perhitungan PPh 25:
Penghasilan netto
PTKP
PKP
PPh terutang
5% x 50.000.000
15% x 37.520.000
PPh (21,22,23, dan 24)

108.640.000
21.120.000
87.520.000
= 2.500.000
= 5.628.000
8.128.000
2.250.000
5.878.000

Jadi, PPh 25 per bulan 2010 = 1/12 x 5.878.000 = 489.833


b. Karena rugi 158.640.000 > 108.640.000 berarti sisa rugi 50.000.000 <
108.640.000, maka perhitungan PPh 25:
Penghasilan netto
Rugi (sisa)
PTKP (K/3)
PKP

108.640.000
50.000.000
58.640.000
21.120.000
37.520.000

PPh terutang
5% x 37.520.000

= 1.876.000

PPh terutang
Jadi, PPh 25 per bulan 2010 = 1/12 x 5.878.000 = 489.833
c. Karena rugi 225.640.000 > 108.640.000 berarti sisa rugi 117.000.000 >
108.640.000 maka, PPh pasal 25 per bulan 2010 NIHIL
d. Karena rugi tahun 2004 sebesar 158.640.000 maka:
1. Sisa rugi 50.000.000 (158.640.000 108.640.000)
2. Tahun 2010 2004 = 6 tahun, berarti lebih dari 5 tahun (menurut UU PPh
rugi > 5 tahun tidak diperhitungkan hangus)

3. Maka, perhitungan PPH 25 sebagai berikut:


Penghitungan netto
108.640.000
PTKP (K/3)
21.120.000
PKP
87.520.000
PPh terutang:
5% x 50.000.000
15% x 37.520.000

= 2.500.000
= 5.628.000
8.128.000

PPH (21,22,23, dan 24)

= 2.250.000
5.878.000

Jadi, PPh 25 per bulan 2010 = 1/12 x 5.878.000 = 489.833

KASUS
Tn. Irawan adalah pedagang besar kertas dan alat kantor, status kawin tidak
mempunyai tanggungan. Dalam tahun 2009 menderita kerugian fiscal sebesar
Rp. 170.000.000. Dalam tahun 2010 memperoleh penghasilan netto fiscal
sebesar Rp. 250.000.000 dalam jumlah tersebut termasuk keuntungan karena
penjualan kendaraan operasional sebesar Rp. 25.000.000, PPh 22 dan PPh
pasal 23 yang telah dipungut/dipotong pihak ke-3 masing-masing Rp
1.500.000 dan Rp 1.800.000
Pertanyaan:
a. Besarnya PPh pasal 29 yang kurang/lebih bayar tahun 2010

b. Besarnya angsuran PPH pasal 25 tahun 2011 bila SPT tahunan PPh 2010
disampaikan ke KPP tanggal 30 Januari 2011

JAWAB:
a. Pengh. Netto
Kompensasi rugi
Penghasilan Netto setelah kompensasi
PTKP (K/-)
PKP
PPh terutang:
5% x 50.000.000
15% x 12.840.000
PPh terutang
Kredit pajak:
PPH Pasal 22
PPh pasal 23

= 2.500.000
= 1.926.000
= 4.426.000

= 1.500.000
= 1.800.000

PPh pasal 29 kurang bayar


b. Pengh. Netto
Pengh. Netto tidak teratur
Penghasilan Netto teratur
PTKP (K/-)
PKP
PPh terutang:
5% x 50.000.000
15% x 157.840.000
PPh terutang
Kredit pajak:
PPH Pasal 22
PPh pasal 23

= 250.000.000
= (170.000.000)
= 80.000.000
= 17.160.000
= 62.840.000

= 3.300.000
= 1.126.000
=
=
=
=
=

250.000.000
(25.000.000)
225.000.000
17.160.000
207.840.000

= 2.500.000
= 23.676.000
= 26.176.000

= 1.500.000
= 1.800.000

PPh pasal 29 kurang bayar

= 3.300.000
= 22.876.000

Jadi PPh pasal 25 = 1/12 x 22.876.000 = 1.906.333


CATATAN!
Dalam perhitungan angsuran PPh pasal 25, diatur:
a. Penghasilan tidak teratur, tidak boleh diperhitungkan

b. Rugi Rp. 170.000.000, tidak boleh diperhitungkan karena penghasilan


netto > ruginya (250.000.000 > 170.000.000)

Data penghasilan kena pajak tahun paja 2013 Tuan Harmanto, status kawin dengan 2
tanggungan yang bergerak di bidang industry makanan dari tepung untuk pengisian SPT
tahunannya adalah sebagai berikut:
Penghasilan Netto tahun 2013
PTKP (K/2)
PKP
PPh terutang
Kredit Pajak:
PPH 21
PPH 22
PPH 23
PPH 25

Rp 488.722.000
Rp 30.375.000
Rp. 458.347.000
Rp 84.586.750

Rp 4.462.100
Rp. 22.000.000
Rp. 1.500.000
Rp.123.000.000

PPh lebih bayar (PPh pasal 28A)

Rp. 150.962.100
Rp. 66.375.350

1. Berdasarkan data di atas dimana terdapat kelebihan bayar pada tahun pajak 2013, apakah
Tuan Harmanto mempunyai kewajiban membayar angsuran PPh pasal 25 untuk tahun
pajak 2014? Bila tidak, jelaskan jawaban saudara. Bila wajib, hitung besarnya PPh pasal
25 tersebut!
2. Seperti pertanyaan no. 1 bila ada PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan sebesar Rp.
65.000.000
Penyelesaian:
1. Tuan Hermanto tetap diwajibkan membayar PPh pasal 25 untuk tahun 2014 karena
besarnya PPh terutang Rp 84.586.750 > PPh yang dipotong/dipungut oleh pihak lain
yaitu Rp. 27.962.100 (4.462.100 + 22.000.000 + 1.500.000). Jadi SPT tahunan yang
menunjukkan lebih bayar tidak berarti bebas dari kewajiban menyetor PPh Pasal 25.
Perhitungan PPh 25 Th. 2014 sebagai berikut:
PPh terutang
Kredit pajak:
PPh 21 > 4.462.100
PPh 22 > 22.000.000
PPh 23 > 1.500.000
Dibayar sendiri
Jadi PPh 25 th. 2014 per bulan =

84.586.750

27.962.100
56.624.650