Anda di halaman 1dari 7

Panduan Skills Lab

Blok 3.3 Kelainan Sistem Urinarius

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU


KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014/2015
SIRKUMSISI

Sirkumsisi adalah membuang prepusium penis sehingga glans penis menjadi terbuka.
Tindakan ini murupakan tindakan bedah minor yang paling banyak dikerjakan di seluruh dunia,
baik dikerjakan oleh dokter, paramedis, ataupun oleh dukun sunat.
Sirkumsisi ini bertujuan / bermaksud untuk :
-

Menjaga hygiene penis dari smegma dan sisa-sisa urine


Mencegah terjadinya infeksi pada glans atau prepusium penis
Mencegah timbulnya karsinoma penis
Indikasi medis tindakan sirkumsisi adalah :

fimosis atau parafimosis


Balanitis rekuren
kondiloma akuminata
karsinoma skuamosa pada preputium
Kontraindikasi

Hipospadia
epispadia
korde
megalouretra
webbed penis(didapatkan jaringan diantara penis dan rafe skrotum) sedangkan kelainan
pembekuan darah (bleeding diarthesis) merupakan kontraindikasi relative untuk tindakan
ini
Prinsip dasar melakukan sirkumsisi yaitu tindakan asepsis, pengankatan kulit preputium

secara adekuat, hemostasis yang baik dan kosmetik. sirkumsisi yang dikerjakan pada umur
neonates <1 bulan dapat dikerjakan tanpa memakai anastesi, sedangkan anak yang lebih besar
harus dengan memakai anestesi umum guna menghindari terjadinya trauma psikologis.
Persiapan alat-alat yang diperlukan pada sirkumsisi adalah :
-

kain kassa steril


cairan desinfektan (povidon yodium)
Kain steril untuk mempersempit daerah operasi
semprit steril beserta jarumnya serta obat anastesi local (prokain/lidokain 0.5-1 %)
satu set peralatan pembedahan minor

TEKHNIK DALAM SIRKUMSISI


Adapun beberapa cara/teknik dalam melakukan tindakan sirkumsisi yaitu:
1) Metode Klasik,

Teknik klasik adalah teknik sirkumsisi dengan cara menjepit prepusium secara
melintang pada sumbu panjang penis, kemudian memotongnya. Insisi dapat dilakukan di
bagian proksimal atau distal dari klem tersebut. Cara ini lebih cepat dari cara dorsumsisi, tapi
membutuhkan kemahiran tersendiri. Bila operator belum terbiasa, hasilnya akan lambat,
karena harus menggunting mukosa atau kulit yang berlebihan. Pendarahan yang terjadi
dengan cara ini biasanya lebih banyak, karena insisi prepusium dilakukan sekaligus
(Bachsinar, tahun 1993). Keuntungan dalam menggunakan teknik klasik ini adalah:
1) Tekniknya relatif lebih sederhana
2) Hasil insisi lebih rata
3) Waktu pelaksanaan lebih cepat
Kerugian dalam menggunaka teknik klasik ini adalah
1) Pada operator yang tidak terbiasa, mukosa dapat berlebihan, sehingga memerlukan insisi
ulang
2) Ukuran mkosa-kulit tidak dapat dipastikan
3) Kemungkinan melukai glans penis dan insisi frenulum yang berlebihan lebih besat di
bandingkan teknik dorsumsisi
4) Perdarahan biasanya lebih banyak ( Bachsinar, tahun 1993)
Cara kerja dalam melakukan teknik klasik adalah:
1) Prepusium dijepit pada jam 6 dan 12
2) Klem melintang dipasang pada prepusium, secara melintang dari sumbu panjang penis.
Arah klem miring dengan melebihkan bagian yang sejajar frenulum
3) Prepusium di bagian proksimal atau distal dari klem melintang diinsisi
4) Perdarahan dirawat
5) Penjahitan mukosa-kulit di sekeliling penis. ( Purnomo, tahun 2003)
Pada metode klasik perlu diperhatikan:
1) Jepitan pada prepusium harus mengerah ke mukosa untuk mencegah mukosa yang
berlebihan

2) Klem melintang dipasang sedemikian rupa sehingga masih terdapat jarak longgar antara
bagian proksimal klem dengan glans penis.
3) Klem melintang dalam posisi miring dengan melebihkan bagian sejajar frenulum, untuk
mencegah frenulum terpotong secara berlebihan.
4) Ikatalah perdarahan dan jahitan mukosa-kulit

2) Metode Dorsumsisi,
Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong prepusium pada jam 12,
sejajar dengan sumbu panjang penis kearah proksimal, kemudian dilakukan petongan
melingkar ke kiri dan ke kanan sepanjang sulkus koronarius glandis.Cara ini lebih dianjurkan,
karena dianggap lebih etis dibanding cara guilotin. Dengan sering berlatih melakukan cara ini,
maka akan semakin terampil, sehingga hasil yang didapat juga lebih baik ( Bachsinar, tahun
1993). Keuntungan dengan menggunakan teknik dorsumsisi adalah:
1) Kelebihan mukosa-kulit bisa diatur.
2) Tidak terdapat insisi mukosa yang berlebihan seperti cara guilotin.
3) Kemungkinan melukai glands penis dan merusak frenulum prepusium lebih kecil.
4) Pendarahan mudah dilatasi, karena insisi dilakukan bertahap
Kerugian dengan menggunakan teknik dorsumsisi adalah:
1) Tekniknya lebih rumit dibandingakan cara guilotin

2) Bila tidak terbiasa, insisi tidak rata


3) Memerlukan waktu relatif lebih lama dibandingkan gulotin
Cara kerja dalam melakukan teknik dorsumsisi adalah:
1) Prepsium dijepit pada jam 11, 1 dan 6
2) Prepusium diinsisi di antara jam 11 dan 1 ke arah sulkus koronarius glandis, sisakan
mukosa-kulit 2-3 mm dari bagian distal sulkus; pasanglah tali kendali
3) Insisi melingkar ke kiri dan ke kanan sejajar sulkus
4) Pada frenulum prepusim insisi dibuat agak runcing(membentuk segitiga)
5) Perdarahan dirawat
6) Buatlah tali kendali pada jam 3 dan 9
7) Lakukan penjahitan frenlum-kulit dengan jahitan berbetuk angka 8.
8) Lakukan penjahitan mukosa-kulit di sekeliling penis ( Purnomo, tahun 2003)
Pada dorsumsisi perlu diperhatikan:
1) Ukurlah mukosa-kulit pada pemotongan antara jam 11 dan 1 sebagai patokan pada insisi ke
lateral.
2) Pada insisi ke lateral, kulit-mukosa tak boleh terlalu ditarik karena sisa mukosa dapat menjadi
terlalu sedikit, yang mempersulit penjahitan
3) Ikatan plain cat-gut pada perwatan perdarahaan dilakukan minimal tiga kali, untuk mencegah
terlepasnya benang dari simpul
4) Pada penjahitan keliling, jahitan harus serapat mungkin, tidak boleh terdapat tumpang tindih
( Purnomo, tahun 2003).
Gambar

3) Metode Lonceng,
4) Metode Klamp,
5) Metode Laser,
6) Metode Flashcutter.

NO

DAFTAR TILIK SIRKUMSISI

Perkenalkan diri anda kepada pasien dan orang tua pasien

secara sopan
Identifikasi pasien
Nama :
Umur :

Rekam medis :
Penilaian assessment
Nilai kondisi dari penis : normal/abnormal. jika terdapat

kontraindikasi lanjutkan dengan informed consent


Jelaskan prosedur, dan berikan jawaban yang detail ketika
orang tua/pasien bertanya mengenai prosedur dengan bahasa

5
6

yang dapat mudah dipahami


Implementasi
Cek instrument dan material yang dibutuhkan
Susunan peralatan
a. atur lampu sehingga mendapat cahaya dengan baik
b. susun area steril dan tidak steril
c. Buka spuit steril dengan cara merobek bungkus dengan

7
8
9

dua tangan lalu jatuhkan kekontainer steril


d. Buka larutan antiseptic dan kucurkan kebasin/ginjal
e. Siapkan larutan anestesi local
Step dari prosedur
Cuci tangan sesuai standar dengan sabun antiseptic
Pakai sarung tangan steril
Area genital secara hati-hati disiapkan dan dibersihkan

10

dengan povidone iodine


Tempatkan duk bolong steril sedemikian rupa hingga penis
berada ditengah lubang tempatkan duk yang tidak bolong

11

diatas paha
Berikan anestesi local blok dengan lidocain 2% tanpa
epinefrin dengan dosis 1-2 cc tepat diinferior simfisis pubis
(pastikan letak dengan palpasi terlebih dahulu). masukkan
secara tegak lurus, arahkan kearah jam 10, 0.25-0.5 cm
(hingga menembus fascia, terasa sensasi seperti menembus
kertas) lalu aspirasi, hindari injeksi
intravaskuler/intrakorporeal. Masukkan 0.5-1 cc. Cabut
kembali lalu lakukan pada posisi arah jam 2 dengan prosedur

12

yang sama.
Berikan anastesi infiltrasi secara subkutis didaerah dorsal dan

13

lateral dari pangkal penis secara melingkar/sirkumferensial


Tes efek anastesi dengan mencabut foreskin dengan forsep

14

surgical
Retrasikan foreskin, jika ditemukan fimosis, lakukan dilatasi
dengan memasukkan ujung klem hemostat kemudian buka.
Buang smegma dengan kassa steril dan buka smua adesi
granular dengan ujung klem hemostat atau kassa steril hingga
glans sepenuhnya terlihat.

Skor
0 1