Anda di halaman 1dari 14

Ditulis oleh Dr.

Untung Yuwono

Kamis, 05 Maret 2009 02:21

DARI KEPERAWANAN, PARTAI AWAY, KE SCUDETTO:


PERKEMBANGAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA
LARAS OLAHRAGA DALAM MEDIA MASSA
oleh Dr. Untung Yuwono
Abstrak
Kosakata bahasa Indonesia laras olahraga yang ditampilkan dalam media massa cetak dewasa
ini menunjukkan perkembangan yang mencolok. Derasnya kosakata asing yang masuk ke
alam pengetahuan orang Indonesia, perkembangan dunia olahraga yang pesat, kecenderungan
pers dalam pemilihan dan penampilan berita, serta kebebasan pegiat pers dalam menulis
dianggap sebagai penyebab perkembangan yang mencolok itu. Data kosakata yang dianggap
sebagai bagian dari khazanah kata laras olahraga sementara ini menunjukkan bahwa
khazanah kosakata bahasa Indonesia laras olahraga kaya akan metafora, kata serapan, dan
kata asing. Kekayaan itu di satu sisi dapat memperumit penyusunan glosarium dan kamus
istilah olahraga, namun di sisi lain dapat merupakan bahan baku bagi pembakuan istilah
olahraga.
1. Prawacana
Mens sana in corpore sano; di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Siapa pun
yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah dasar pasti fasih melafalkan semboyan dalam
dua bahasa itu. Tidak ada seorang pun penutur bahasa Indonesia, termasuk para ahli bahasa,
yang pernah mengomentari penggunaan semboyan yang pada galibnya dituturkan dalam dua
bahasa itu, seperti halnya orang Indonesia pun mengatakan Bhinneka Tunggal Ika; berbedabeda tetapi tetap satu. Semua seperti sepakat bahwa dalam pengujaran semboyan, yang asing
perlu didampingi yang lokal. Ini bukanlah suatu persoalan.
Di luar mens sana in corpore sano; di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat,
melimpah data kosakata bidang olahraga yang perlu dikaji dalam konteks diskusi tentang
perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Dari sudut perkembangan kosakata bahasa
Indonesia, belum tampak upaya pendaftaran kosakata bidang olahraga, entah dalam wujud
glosarium ataupun kamus istilah, sejak Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia dibentuk
pada tahun 1972, yang menjadi Panitia Kerja Sama Kebahasaan Indonesia-Malaysia pada
tahun 1979, hingga tersiar luas kabar tentang salah satu tugas pokok Majelis Bahasa Brunei
Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)Brunei Darussalam menyusul bekerja sama
sejam 1984)yaitu mengembangkan peristilahan bersama.
Tercatat oleh Sugono (dalam Sugono ed. 2003:318) bahwa sampai tahun 1999 saja telah
dihasilkan 215.062 istilah dari 134 bidang/subbidang ilmu. Namun, adakah di antara sekian
istilah dan bidang itu istilah bidang olahraga? Istilah dalam beberapa bidang telah disorot
dalam berbagai pertemuan ilmiah, terutama bidang ilmu dasar, seperti matematika, fisika,
kimia, dan biologi. Istilah bidang ilmu terapan, seperti pertanian dan peternakan, pun tidak
ketinggalan dikembangkan dan didokumentasi dalam bentuk glosarium dan kamus istilah.
Agaknya bidang olahraga menjadi anak tiri sehingga hingga kini tak satu pun glosarium
dan kamus istilah bidang olahraga dijumpai di pasar atau sumber pustaka.

Bagaimanapun, dapat kita pahami mengapa khazanah istilah laras olahraga dalam bahasa
Indonesia yang mewakili perkembangan mutakhir kosakata laras olahraga belum (rampung?)
didokumentasi hingga kini. Hal yang pertama adalah prioritas pengembangan kosakata.
Mustahil sebuah Mabbim mendokumentasi khazanah istilah semua bidang dalam waktu
yang bersamaan. Ada prioritas dalam hal ini. Bukti-bukti (seperti dalam Sugono 2003)
menunjukkan bahwa prioritas pengembangan kosakata dewasa ini diberikan pada bidang
ilmu dan teknologi. Bidang ilmu yang dimaksud tentu beberapa. Kuat asumsi bahwa bidang
ilmu tertentu, seperti ilmu alam, ekonomi, sosial, dan humaniora, serta teknologi menguasai
hajat hidup orang banyak. Bidang olahraga, yang sejak masa sekolah dasar telah dipelajari,
tentu tidak termasuk di dalamnya. Hal yang kedua, yang boleh jadi lebih objektif, adalah
makin banyaknya subbidang dalam bidang olahraga. Cabang olahraga bertambah dari waktu
ke waktu. Perkembangan bidang olahraga yang pesat dengan aneka cabang atau
subbidangnya ituyang diperkuat oleh makin beragamnya kebutuhan masyarakat penikmat
olahraga dan berkembangnya teknologi keolahragaanmenyebabkan khazanah kata bidang
olahraga bertambah melimpah, yang pada ujungnya memperumit inventarisasi istilah bidang
olahraga itu. Dalam tulisan ini saya menyoroti hal kedua di atas, yang menyebabkan
pengembangan dan inventarisasi khazanah bahasa Indonesia laras olahraga tidak secepat laras
yang lain. Pemaparan dalam tulisan ini ditekankan pada pemakaian kosakata dalam teks-teks
berlaras olahraga dewasa ini di dalam media massa cetak. Pemuatan teks-teks berlaras
olahraga dalam media massa cetak memperlihatkan bahwa bidang olahraga termasuk bidang
yang diberikan perhatian secara istimewa. Surat kabar harian apa pun yang terbit hingga saat
ini, sebagai contoh, menyediakan halaman khusus untuk teks-teks tentang olahraga. Belum
lagi media khusus, seperti tabloid dan majalah olahraga, yang menunjukkan bahwa bidang ini
diminati secara luas oleh masyarakat. Dengan demikian, telaah tentang perkembangan
kosakata laras olahraga perlu diajukan. Kekhasan kosakata laras olahraga, apabila
diketahui, akan membantu mempermudah penyusunan glosarium ataupun kamus istilah
olahraga.

2. Kekayaan Metafora
Khazanah kata olahraga menyimpan kekayaan metafora yang luar biasa. Luar biasa dalam hal
ini adalah dari segi kekerapan pemunculannya dan perkembangannya. Metafora, yang
dibatasi sebagai majas perbandingan dua hal secara langsung, dalam teks-teks berlaras
olahraga tidak hanya memperindah teks atau membuat teks menjadi menarik, tetapi, lebih
dari itu, membuat teks menjadi lebih mudah dipahami. Dalam hal ini metafora yang kaya
termuat dalam teks laras olahraga sebenarnya mempunyai fungsi yang lebih jauh lagi, yaitu
menciptakan struktur pada apa pun yang dialami oleh penulis atau penghasil teksini pula
yang dinyatakan oleh Lakoff dan Johnson (1980:45) tentang metafora, struktur konkret
yang memandu pembaca untuk memahami teks.
Apabila dinyatakan bahwa metafora merupakan suatu struktur, hal itu berarti bahwa metafora
pun berkategori. Kategori suatu metafora dapat dilihat secara lahiriah, yang menyangkut
kategori katanya, dan secara batiniah, yang menyangkut kategori maknanya. Dalam
klasifikasi metafora yang digunakan dalam teks-teks berlaras olahraga, dijumpai tiga jenis
metafora dari sudut kategori kata, yaitu metafora nominal, verbal, dan adjektival. Di dalam
ketiga jenis metafora itu kemudian ditemukan kategori maknanya seperti yang dibahas
berikut ini.

2.1 Metafora Nominal


Dalam kategori ini dijumpai metafora PERTARUNGAN. Kegiatan olahraga dibandingkan
secara langsung dengan kegiatan pertarungan dua pihak. Kata yang mewakili kategori ini
adalah pertarungan, duel, dan, yang baru meluas dewasa ini, laga. Berikut adalah contohnya
di dalam kalimatsingkatan di belakang kalimat di dalam kurung adalah singkatan sumber
data.
(1) Diperkirakan pertarungan akan berakhir imbang. (TS)
(2) Kecuali Cafu dan Ze Maria (cedera), mereka yang lain memang bisa ikut mewarnai duel
ala Brasil di San Siro. (TS)
(3) Itu artinya gelandang asal Italia bisa tampil dalam laga melawan Barcelona. (TS)
Kata yang digunakan untuk metafora PERTARUNGAN bagi olahraga tampaknya terbatas
pada kata yang mengacu pada kegiatan mengadu fisik secara individual alih-alih secara
berkelompok sehingga tidak pernah, misalnya, dipakai kata peperangan atau tawuran untuk
metafora jenis ini.
Sebuah metafora dapat menjadi dasar bagi kemunculan metafora lain (Lakoff dan Johnson
1980:4145). Metafora PERTARUNGAN tampak menjadi metafora dasar bagi metafora
lain yang berkaitan dengan metafora tersebut. Metafora TEMPAT BERHADAPAN atau
TEMPAT BERTARUNG ditemukan dalam pemakaian kata kancah dan kandang. Tempat
diselenggarakannya acara olahraga dibandingkan secara langsung dengan lapangan tempat
peperangan berlangsung ataupun tempat berkumpul hewan. Di samping kancah dan kandang
seperti yang tampak dalam kalimat berikut, digunakan pula secara produktif kata arena dan
ajang.
(4) Ronaldinho pertama kali tampil di kancah Eropa saat meninggalkan Gremio ke PSG, awal
musim 2001-02. (TS)
(5) Rekor pertandingan pun menunjukkan El Blanco tak pernah kalah melawan Malaga,
baik saat tandang, apalagi kandang. (TS)
Ditemukan pula tempat di lapangan yang lebih spesifik, yaitu mulut gawang seperti dalam
kalimat berikut.
(6) Setelah selama ini hanya menjadi ban serep, Oscar De Paula hidup lagi di mulut gawang
lawan. (B)
Yang dimaksud dengan mulut gawang adalah tepat di depan gawang.
Metafora PERTARUNGAN kembali menjadi dasar bagi metafora KELOMPOK YANG
BERTARUNG, yang dijumpai dalam pemakaian kata kubu. Kubu umumnya digunakan untuk
mengacu pada kelompok yang berhadapan dalam pertarungan atau kelompok yang berbeda
pendapat dengan kelompok yang lain. Dalam olahraga, yang dimaksud kubu adalah tim yang
berhadapan. Berikut adalah contoh kalimatnya.
(7) Kedua kubu tak menginginkan hasil damai tersebut. (TS)
Tidak hanya kelompok, tetapi juga pelaku individual (atlet) yang terlibat dalam olahraga
dinyatakan dengan metafora. Metafora TOKOH PERTARUNGAN digunakan untuk mengacu
pada pihak (atlet) yang memperoleh posisi terhormat, disegani, atau memiliki fungsi tertentu
dalam olahraga. Dalam metafora ini dijumpai kata-kata rival, rival bebuyutan, kampiun,
jawara, dan momok. Alih-alih lawan, metafora yang paling umum digunakan, dipakai kata

rival. Alih-alih juara, digunakan kata kampiun atau jawara. Alih-alih lawan yang menakutkan
dipakai kata momok. Alih-alih anggota tim, digunakan punggawa. Tujuan pemakaian
metafora ini oleh penulis teks olahraga tampaknya tidak hanya karena kebutuhan pemadanan
istilah asing dalam bahasa Indonesia, tetapi juga demi menampilkan efek emotif tertentu bagi
pembaca teks.
(8) Ia menggantikan posisi Julio Baptista ke Real Madrid, rival bebuyutan Barcelona. (B)
(9) Di ganda putra, Markis Kido/Hendra Setiawan berhasil menjadi kampiun setelah
mengalahkan seniornya, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto. (BS)
(10) Jawara enam kali Primera Division La Liga itu mematok 18 poin alias enam
kemenangan beruntun sebelum mengucapkan feliz navidad. (B)
(11) Kaka adalah momok bagi Inter. (TS)
(12) Satu hal yang menurut Rooben telah kembali membuat moral punggawa The Blues
meluap setelah mereka sempat terjegal 0-1 dari Manchester United (MU) di pekan ke-12.
(TS)
Metafora nominal berikutnya adalah metafora SENJATA/BENDA DALAM
PERTARUNGAN. Tercatat kuku dan taji sering digunakan. Tampak bahwa anggota tubuh
hewan yang lazim digunakan sebagai senjata untuk membela diri dipakai sebagai analogi
bagi sesuatu (kemampuan) untuk melawan.
(13) Kini dia tak punya taji. (BS)
Pemanfaatan benda lain sebagai metafora juga tampak pada pemakaian ban serep dalam
kalimat berikut.
(14) Setelah selama ini hanya menjadi ban serep, Oscar De Paula hidup lagi di mulut gawang
lawan. (B)
Yang dimaksud dengan ban serep atau ban cadangan dalam konteks di atas adalah atlet
cadangan. Tampak bahwa ada pergeseran maujud dari orang (atlet) dalam acuan ke benda
(ban serep) dalam metafora. Perbedaan benda itu tentu tidak menjadi persoalan dalam analogi
karena persamaan yang ditarik adalah cadangan.
Metafora lain yang ditemukan adalah metafora HASIL PERBUATAN. Metafora ini diwakili
oleh kata besutan, sayatan, dan gocekan yang menyatakan hasil perbuatan membesut,
menyayat, dan menggocek, yang di dalamnya terkandung pula makna gerakan dan arah
tertentu. Kalimatnya adalah sebagai berikut.
(15) Sayatan dan gocekannya membedah sisi kanan pertahanan lawan. (B)
(16) Kemenangan tim besutan Jean Tigana ini pada dua partai terakhir liga bisa menjauhkan
Galatasaray dari puncak klasemen. (B)
Ada pula metafora nominal yang tidak didasari oleh metafora PERTARUNGAN. Berikut ini
disajikan contohnya.
(17) Villarreal berencana melakukan tukar-guling dengan Deportivo La Coruna, Januari tahun
depan. (TS)
(18) Sejauh ini Reina telah sukses menjaga keperawanan gawang Liverpool dalam sembilan
pertandingan di berbagai ajang. (TS)

Tukar-guling dalam contoh (17) merupakan istilah yang dipinjam dari bidang ekonomi.
Sementara itu, sebagai hal yang luar biasa, keperawanan dalam contoh (18) merupakan istilah
yang dipinjam dari bidang kesehatan. Tukar-guling yang dimaksud dalam teks adalah tukar
pemain, sementara keperawanan yang dimaksud dalam teks adalah clean sheet (nomina)
atau tanpa pernah kemasukan gol, yang memang agak sulit dipadankan dengan nomina
dalam bahasa Indonesiaungkapan clean sheet saat ini sering digunakan dalam teks berlaras
sepakbola.
2.2 Metafora Verbal
Sungguh kaya metafora verbal dalam teks bahasa Indonesia berlaras olahraga. Metafora
verbal yang ditemukan dalam data berkenaan dengan BERTINDAK DENGAN TANGAN,
BERTINDAK DENGAN TUBUH, DALAM KEADAAN YANG DIALAMI TUBUH,
BERTINDAK DENGAN KAKI, DALAM KEADAAN YANG DIALAMI KAKI,
BERTINDAK DENGAN MULUT, BERTINDAK DENGAN MATA, BERTINDAK
DENGAN KEPALA, BERTINDAK DENGAN HIDUNG, DALAM KEADAAN YANG
DIALAMI HEWAN, dan DALAM KEADAAN YANG DIALAMI BENDA. Berikut ini
dijelaskan tiap-tiap metafora itu.
Metafora BERTINDAK DENGAN TANGAN mendominasi metafora verbal. Metafora
kategori ini mencakupi beberapa jenis tindakan, seperti metafora MEMBAWA DENGAN
TANGAN, metafora MENGUMPULKAN DENGAN TANGAN, metafora
MENGUMPULKAN DENGAN TANGAN DENGAN ALAT ATAU BAHAN, metafora
BERTINDAK DENGAN TANGAN SECARA KASAR, metafora BERTINDAK SECARA
KASAR DENGAN MENGGUNAKAN ALAT DI TANGAN, dan metafora BERTINDAK
DENGAN MENGGUNAKAN ALAT DI TANGAN.
Metafora MEMBAWA DENGAN TANGAN diwakili oleh kata seperti mengusung dan
menyandang, dan memboyong seperti dalam kalimat berikut.
(19) Tak hanya itu, di lapangan pun, meski mengusung pola berbeda, Roma dan Palermo
dikenal mengandalkan kekuatan lini tengah mereka. (TS)
(20) Pengumuman resmi soal siapa yang berhak menyandang gelar tersebut memang baru
akan digelar Senin (12/12) mendatang. (TS)
(21) Saat itu yang terpilih memboyong trofi Ballon dOr atau Bola Emas adalah striker AC
Milan, Andriy Shevchenko. (TS)
Tampak bahwa yang dimaksud dengan mengusung dalam konteks (19) adalah mempunyai,
sedangkan menyandang dalam konteks (20) adalah mendapatkan.
Metafora MENGAMBIL ATAU MENGUMPULKAN DENGAN TANGAN diwakili oleh
kata-kata bercetak miring dalam kalimat-kalimat contoh berikut.
(22) Pasalnya, pada pekan ke-15 ini, Juve maupun Fiorentina diperkirakan takkan sulit
memetik tiga poin tambahan. (TS)
(23) Kini pemain Barcelona tersebut dipastikan bakal menyabet gelar Pemain Terbaik Dunia
2005 versi FIFA. (TS)
(24) Adriano, misalnya, sudah mencetak 11 gol musim ini. (TS)
(25) Tak hanya gagal mempertahankan posisi ketiga, seperti di SEAG Vietnam dua tahun
lalu, tapi juga tak mampu mendulang medali emas seperti yang dijanjikan. (BS)
(26) Villa, yang mengoleksi 9 gol, kalah dari Etoo (12) dan Dinho (10). (B)
(27) Tim yang bermarkas di Stadion Riverside ini berniat mencuri poin demi memperbaiki
posisi mereka di klasemen sementara. (TS)

Metafora itu merupakan struktur lahiriah atas makna memperoleh.


Metafora MENGUMPULKAN/MENGHASILKAN DENGAN TANGAN DENGAN ALAT
ATAU BAHAN dijumpai dalam wujud kata-kata bercetak miring di dalam kalimat-kalimat
berikut.
(28) Tim A1 Prancis kembali diunggulkan untuk menuai poin maksimal (20 poin) di Dubai
setelah secara luar biasa, Lapierre mencatat waktu tercepat di empat sesi tes. (TS)
(29) Pesepakbola terkaya di dunia itu sudah mengantongi tujuh kartu merah. (BS)
(30) Kesempatan sapu bersih emas di perseorangan sebenarnya terbuka. (BS)
(31) Dia sudah mengemas tujuh gol dan ikut memberi andil saat timnya mengalahkan
Udinese 2-0. (TS)
(32) Setelah berhasil menjaringkan tiga gol ke gawang Inter, sekarang saya berpikir untuk
mencetak gol yang keempat . (TS)
(33) Dia mengakhiri musim itu dengan menyarangkan 22 gol di Seri A. (TS)
(34) Dia sudah bermain cemerlang dengan membukukan satu gol pertamanya. (TS)
(35) Jawara enam kali Primera Division La Liga itu mematok 18 poin alias enam
kemenangan beruntun sebelum mengucapkan feliz navidad. (B)
Metafora BERTINDAK DENGAN TANGAN SECARA KASAR produktif digunakan dalam
teks-teks berlaras olahraga, terutama olahraga yang melibatkan kontak fisik. Makna metafora
itu pada umumnya adalah menyebabkan kalah atau jatuh, seperti yang tampak dalam
kosakata bercetak miring dalam kalimat-kalimat berikut.
(36) Ronaldinho berada di urutan teratas dengan menyisihkan rekan satu timnya di
Abarcelona, Samuel Eto serta gelandang Chelsea, Frank Lampard. (TS)
(37) Saya akan senang hati jika kami mampu menyingkirkan Belanda. (TS)
(38) Saat itu, Jerman mencukur Arab Saudi 8-0 di Sapporo, Jepang. (TS)
(39) Itu artinya Keane rela gajinya dipangkas lebih dari setengah yang dia terima di MU. (TS)
(40) Pekan lalu, dengan telak Osasuna memukul Alaves dengan skor 3-0. (TS)
(41) Sudah tiga musim Sociedad gagal menekuk Villarreal di Anoeta. (B)
(42) Untuk sampai ke final, dia harus merontokkan dua pemain yang berperingkat jauh di
atasnya. (BS)
(43) Uus Susyansyah dan kawan-kawan membungkam Tim Apac Inti dengan skor telak 3-0
(25-15, 25-15, 25-22). (TS)
(44) Gairah Kaka saat ini sedang menggebu-gebu setelah Selasa (16/12) sukses mencetak dua
gol untuk mengantar Milan lolos ke 16 Besar Liga Champions seusai membekap Schalke 3-2.
(TS)
(45) Akankah striker El Che ini bisa tiga kali menjebol gawang Athletic Bilbao di Mestalla?
(B)
(46) Mereka terus menggebrak lewat kaki Manuel Belleri dan Inzaghi. (TS)
(47) Setelah dikalahkan Fiorentina 1-3, Milan mengamuk dengan membantai Fenerbahce 4-0.
(TS)
Metafora verbal BERTINDAK DENGAN TANGAN SECARA KASAR di atas berkoherensi
erat dengan metafora nominal PERTARUNGAN.
Metafora BERTINDAK SECARA KASAR DENGAN MENGGUNAKAN ALAT DI
TANGAN merupakan struktur lahiriah atas bertindak kasar yang dilakukan untuk
menjatuhkan atau mengalahkan lawan. Kosakata bercetak miring berikut merupakan contoh
metafora tersebut.

(48) Dua pemain belakang menggunting penyerang.


(49) Lewat Piala Dunia Klub di Tokyo, FIFA memberi kesempatan mereka untuk saling sikat.
(B)
Berbeda dengan metafora BERTINDAK SECARA KASAR DENGAN MENGGUNAKAN
ALAT DI TANGAN yang mengandung nilai rasa negatif, metafora BERTINDAK DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT DI TANGAN dijumpai dengan nilai rasa positif. Berikut ini
adalah contohnya.
(50) Dia juga harus bisa memoles timnya agar bisa menampilkan permainan menarik. (TS)
(51) Hasil itu langsung mendongkrak posisi mereka ke peringkat lima dengan nilai 25. (TS)
Metafora verbal BERTINDAK DENGAN TUBUH berkoherensi erat dengan metafora verbal
BERTINDAK DENGAN TANGAN SECARA KASAR dan metafora nominal
PERTARUNGAN. Berikut ini disajikan contoh-contohnya di dalam kalimat.
(52) Haris Nugroho bertarung melawan pesilat Malaysia pada pertandingan pencak silat kelas
E. (K)
(53) Saya tak ingin kami berduel atau satu grup dengan Ghana. (TS)
(54) Berkali-kali mantan kiper Persebaya Surabaya itu harus berjibaku seorang diri. (TS)
(55) Namun, putrinya dihadang Bandung Tectona di final. (BS)
(56) Jika kalah, itu sama saja dengan memberi peluang kepada MU atau Liverpool untuk
menyalip mereka. (TS)
(57) Keduanya terhitung pasangan yang masih hijau, sedangkan musuh yang siap menerkam
adalah pasangan kakak-adik Bona Septano/Pia Zebadiah. (B)
(58) Tanpa gol penaltinya di menit ke-39, Lazio seperti kesulitan untuk mendobrak lini
belakang Cittadella. (TS)
(59) Kini, di Liga Primer, Leverpool pun sudah merangsek ke posisi ketiga berkat enam
kemenangan beruntun. (TS)
(60) Dari sektor ini, Ronaldinho, Giovanni van Bronckhorst, atau Sylvinho biasa beroperasi
mengobrak-abrik pertahanan lawan. (B)
Metafora lain yang berkenaan dengan tubuh adalah metafora DALAM KEADAAN YANG
DIALAMI TUBUH seperti yang tampak dalam kosakata bercetak miring dalam kalimatkalimat berikut.
(61) Saat ini, Milan bercokol di urutan kedua dengan nilai 31. (TS)
(62) Begitu juga dengan Hernan Crespo yang masih berkutat dengan cedera tulang iga. (TS)
(63) AC Milan Terkapar di Kandang Chievo. (K)
(64) Namun, sesungguhnya prakiraan bahwa Indonesia bisa saja melorot di posisi lima besar
sudah pernah ditulis oleh harian Kompas edisi April lalu. (B)
(65) Atlet Indonesia berguguran. (K)
Tampak bawah metafora dalam (61), (62), dan (63) menunjukkan posisi tubuh pada satu
tempat, sedangkan (64) dan (65) menunjukkan gerak dan arah tubuh ke bawah.
Berikutnya adalah metafora BERTINDAK DENGAN KAKI. Terdapat dua kutub nilai rasa,
yaitu positif dan negatif. Nilai rasa positif tampak dalam metafora bercetak miring dalam
kalimat (66), sedangkan nilai rasa negatif tampak dalam metafora bercetak miring dalam
kalimat (67), (68), (69), dan (70).

(66) Mereka harus melawat ke kandang Vitesse Amhem, penghuni peringkat kelima. (TS)
(67) Ketegangan bakal kembali menyambangi Stadion Giuseppe Meazza, San Siro, saat Inter
Milan menjamu AC Milan, Minggu (11/12) atau Senin (12/12) WIB. (TS)
(68) Tapi, mereka kembali kalah dari Chievo 2-1 di pecan 14 sebelum bangkit lagi saat
mendepak Schalke 3-2. (TS)
(69) Manchester United menjungkalkan Wigan (K)
(70) Pilihan Ronaldinho untuk hengkang ke Barcelona dari Paris St Germain bisa disebut
sebagai keputusan yang paling tepat dalam hidupnya. (TS)
Metafora DALAM KEADAAN YANG DIALAMI KAKI ditemukan berstruktur verba
berafiks ter- seperti yang tampak dalam kosakata bercetak miring dalam kalimat-kalimat
berikut.
(71) Satu hal yang menurut Rooben telah kembali membuat moral punggawa The Blues
meluap setelah mereka sempat terjegal 0-1 dari Manchester United (MU) di pekan ke-12.
(TS)
(72) Akibatnya, mereka sempat terpuruk di papan bawah klasemen sementara. (TS)
(73) MU berharap kalau sang juara bertahan tergelincir dalam pertandingan mendatang. (TS)
Metafora BERTINDAK DENGAN MULUT mengandung makna memperoleh seperti
dalam kalimat berikut.
(74) Clippers memaksa tim tamu menelan kekalahan keempat mereka dari lima pertandingan
terakhir. (K)
(75) Nanda hanya mampu mencatat waktu terbaik di lap ke-9 dengan 1 menit 48,181 detik
setelah melahap 14 lap Sirkuit Dubai Autodrome yang memiliki panjang lintasan 5,93 km.
(TS)
(76) Faktanya, hanya satu poin yang dapat digondol Siena. (TS)
Metafora BERTINDAK DENGAN MATA, BERTINDAK DENGAN KEPALA, dan
BERTINDAK DENGAN HIDUNG dijumpai tidak produktif. Contoh-contohnya secara
berurutan adalah sebagai berikut.
(77) Menurut Rossi, pemainnya mampu membaca permainan lawan dengan baik. (TS)
(78) Di Piala Italia, Fiorentina gagal menundukkan Juve meski mereka telah unggul dua gol
terlebih dulu. (TS)
(79) Meski demikian, penalti tersebut sedikit berbau kontroversial karena Milani sebenarnya
hanya berusaha merebut bola dari Luciano Zauri. (TS)
Metafora DALAM KEADAAN YANG DIALAMI HEWAN dan DALAM KEADAAN
YANG DIALAMI BENDA turut meramaikan penggunaan metafora. Contoh (81)
menunjukkan metafora DALAM KEADAAN YANG DIALAMI HEWAN, sedangkan contoh
(82)(84) menunjukkan metafora DALAM KEADAAN YANG DIALAMI BENDA.
(80) Sementara Inter, bersama Fiorentina, bertengger di tangga ketiga dengan nilai 29. (TS)
(81) Namun, Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido/Hendra Setiawan, dan Simon Santoso tampil
tegang dan melempem hingga medali emas yang sudah di depan mata melayang. (B)
(82) Jala Pierobon, kiper Cittadella, akhirnya bobol juga lewat gol Goran Pandev. (TS)
(83) Apalagi pekan lalu Malaga tumbang 1-2 saat menjamu Osasuna. (B)

Pegiat pers tampaknya memiliki kreativitas yang tinggi dalam menghasilkan metafora.
Berikut ini disajikan beberapa contoh metafora baru yang dimuat dalam teks laras olahraga
pada media massa cetak.
(84) Lebih spesifik lagi, Adriano menggelontorkan lima gol dari empat penampilan
terakhirnya. (TS)
(85) Nanda menggeber mobilnya dengan kecepatan rata-rata 179,4 km/jam dengan kecepatan
tertinggi mencapai 267,1 km/jam. (TS)
(86) Roy Keane nampaknya masih kerasan merumput di Inggris. (TS)
(87) Kemudian Milan harus susah payah sebelum menumpas Lecce 2-1 di pekan 13. (TS)
(88) Yang pasti, Chelsea memang amat membutuhkan poin untuk terus mengangkangi
klasemen sementara Liga Primer. (TS)
Tampak bahwa metafora dalam teks laras olahraga datang dari bahasa daerah, yaitu
menggelontorkan (gelontor bahasa Jawa) dan menggeber (bahasa Jakarta?). Metafora verbal
merumput merupakan hasil penarikan persamaan benda, yaitu rumput, dan hal itu agak unik
karena jarang metafora verbal yang diciptakan dari persamaan bendabandingkan dengan
mendongkrak dan memoles yang merupakan hasil penarikan proses atau keadaan yang terjadi
dengan bendanya (kata dasar).
2.3 Metafora Adjektival
Metafora adjektival yang sementara ini ditemukan merupakan perbandingan langsung sifat
atau kualitas benda dengan kelebihan manusia (atlet). Contoh berikut menunjukkan hal itu.
(89) Lebih tajam lagi adu tajam Adriano (Inter) versus Ricky Kaka (Milan). (TS)
(90) Gelandang liat Claude Makelele dan Glen Johnson dipastikan tak bisa tampil lantaran
mengalami cedera lutut dan engkel. (TS)
Tajam dalam (89) merupakan sifat benda tajam seperti pisau yang dikenakan pada atlet,
sedangkan liat dalam (90) merupakan sifat benda yang kenyal, sulit dimamah, seperti daging,
yang dikenakan pula pada atlet.
Tidak hanya manusia, tetapi, sebaliknya, benda dapat diberikan sifat manusia. Berikut ini
contohnya.
(91) Pertandingan akan berlangsung sengit untuk menguasai bola di lini tengah. (TS)
3. Penggunaan dan Penyerapan Kata Asing
Kata asing sudah menjadi santapan sehari-hari penikmat teks laras olahraga dalam media
massa cetak. Ini menjadi persoalan yang dilematis; dilematis karena pada satu sisi ada
anggapan bahwa olahraga itu bersifat internasional sehingga dalam ajang olahraga selalu
dipakai istilah dalam bahasa internasional (bahasa Inggris). Pada sisi lain, demikian
melimpahnya kata asing dalam teks laras olahraga bukan membuat pembaca mudah
memahami teks, melainkan justru membuat pembaca berhadapan dengan teki-teki silang
yang tak berakhir.
Berikut ini diperlihatkan beberapa jenis kasus penggunaan kata asing dalam teks laras
olahraga.
Kasus yang pertama adalah kata asing yang telah lama masuk ke dalam khazanah kata bidang
olahraga namun belum juga diindonesiakan karena belum memiliki padanan. Berikut ini

disajikan contoh kosakata asing yang dipakai secara produktif dan telah akrab di telinga dan
mata kita.
play-off
kick-off
offside
injury time
homerun
back-hand
fore-hand
birdie
bogey
bye
deuce
fair play
total football
grand-final
grand-master
hole-in-one
wild card
lay-up
sit-up
push-up
pit stop
pitcher
rebound
slam dunk
shuttle cock
technical meeting
test-drive
time-out
underdog
victory lap
hook
uppercut
jab
stopper
knock-out
knock-down
Beberapa kata asing yang merupakan nama cabang olahraga dipertahankan, seperti american
football, softball, bridge, squash. Demikian pula dengan nomor-nomor pertandingan, seperti
snatch, clean and jerk, drag race, dan snooker.
Panduan praktis, seperti Pedoman Umum Pembentukan Istilah (1988), sebenarnya telah
memberikan bimbingan pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia, antara lain dengan
penyerapan, apabila istilah asing sulit diindonesiakan dengan jalan pemadanan dan
penerjemahan. Peminjaman (pemakaian kata asing) itu merupakan langkah terakhir apabila
tidak dapat dilakukan pemadanan dengan bahasa Indonesia, bahasa Indonesia arkais, bahasa

serumpun, bahasa serumpun arkais, penerjemahan, atau penyerapan. Kita tidak merasa aneh
menggunakan istilah bahasa Indonesia bek untuk back, reli untuk rally, bisbol untuk baseball,
ataupun yang baru-baru ini diupayakan untuk crosser menjadi kroser, tosser menjadi toser,
striker menjadi striker. Apakah kita merasa aneh dengan upaya memakai ofsait untuk offside,
jeb untuk jab, slemdang untuk slam dunk, sitap untuk sit-up, ribon untuk rebound, skuas
untuk squash, knokaut untuk knock-out, dan sebagainya? Barangkali nenek moyang kita
pertama kali merasa aneh juga memakai dan mendengar bek. Namun, bukankah alah bisa
karena biasa? Akan jauh lebih baik apabila kita mampu menemukan dan mempublikasikan
padanan untuk setiap istilah itu, seperti knock-down yang mungkin dapat dipadankan dengan
sempoyongan atau mungkin gelangsar, seperti halnya kita pun telah memadankan halfback
dengan gelandang dan playmaker yang baru saja mulai dipadankan dengan penata serang.
Beberapa kata asing baru laras olahraga pun mulai produktif dimuat dalam media massa dari
terbitan ke terbitan seperti dalam contoh-contoh berikut.
(92) Di giornata ke-14, kedua tim membuang keunggulan 2-0 dan akhirnya cuma bisa imbang
2-2. (B)
(93) Sekarang, Roma harus berpaling lagi kepada il capitano Francesco Totti. (B)
(94) Ya, dengan lima pertandingan tanpa kemenangan membuat pelatih Treviso yang juga
mantan allenatore Fiorentina ini realistis. (TS)
(95) Berita buruk buat Roma seakan tidak bisa berhenti. Minggu ini, Il Lupo mendapat
kepastian bahwa mereka tak akan dapat menggunakan calciomercato II untuk memperbaiki
tim. (B)
(96) Penyerang Empoli ini menjadi salah satu motivator utama dalam persaingan daftar
capocannonieri. (TS)
(97) Tapi, melihat materi materi skuad Roma tidak bias diutak-atik lagi, maka yang akan
menjadi korban apabila pencapaian I Giallorossi tak kunjung membaik tentu saja sang
allenatore. (B)
(98) Seperti Ronald di Real Madrid, LImperatore (Sang Kaisar) termasuk petualang cinta.
(B)
(99) Keberuntungan selalu memihak Juventus. Mungkin itulah pendapat rival-rival klub
berjuluk I Bianconeri itu. (TS)
(100) Cederanya Paolo Maldini menjadi masalah keempat yang dihadapi I Rossoneri
julukan Milan. (TS)
(101) Jadi, wajar jika penampilan Vieri adalah salah satu yang ditunggu-tunggu khususnya
bagi tifosi Inter. (TS)
(102) Ini partai spesial yang ingin kami menangkan untuk memelihara peluang di trek
scudetto. (TS)
(103) Pertandingan pada Rabu (7/12) itu berakhir ironis karena Benfica sebagai tim peringkat
keempat selepas matchday 5 justru akhirnya lolos sebagai runner-up. (B)
(104) Bahkan, menurut bek Empoli itu, derby melawan Siena sudah dipersiapkan sejak lama.
(TS)
(105) Kebiasaan clean sheet sudah dimulai Pepe musim itu dengan catatan tidak kemasukan
pada 17 partai di kandang. (B)
(106) Toh kenyataannya dia yang memecat Vicente del Bosque dari bangku el entrenador
sekaligus memensiundinikan karier Fernando Hierro. (B)
(107) Memang pria asal Brasil ini tak menyumbangkan trofi saat bertahta kurang dari
setahun. Tetapi, jugador-jugador Madrid jelas menaruh respek padanya. (B)
(108) Produktivitas OM, yang masih berada di posisi ke-9 hingga pekan ke-17, memang
tinggi meski kerap memasang satu attaquant saja. (B)

(109) Maksud sang hoofdtrainer adalah kemampuan seluruh pemain untuk turun sebagai satu
kesatuan utuh. (B)
Semua kosakata di atas dikutip dari teks tentang sepakbola. Tampak bahwa kosakata bahasa
Italia mendominasi contoh, seperti kosakata bercetak miring dalam (92102); sisanya adalah
kosakata bahasa Inggris, seperti kosakata bercetak miring dalam (103)(105); bahasa
Spanyol, seperti kosakata bercetak miring dalam (106) dan (107); bahasa Prancis, seperti
kosakata bercetak miring dalam (108); dan bahasa Belanda, seperti kosakata bercetak miring
dalam (109). Jelaslah kosakata asing laras olahraga masuk dari bahasa suatu negara yang
mendominasi olahraga itu. Sepakbola dikuasai oleh tim-tim Eropa asal kosakata tersebut.
Sejak acara pertandingan sepakbola Italia sering diberitakan, masuklah kosakata bahasa Italia
dengan deras dalam teks laras olahraga, yang dirintis dengan pemakaian kata azzura sebagai
julukan bagi tim sepakbola Italiaperhatikan bahwa julukan tim berbahasa Italia pun
produktif dalam contoh-contoh di atas, yakni dari (98) hingga (101), dan bandingkan dengan
upaya penerjemahan julukan sebelum kosakata bahasa Italia memaraki teks laras olahraga,
seperti Red Devil menjadi Setan Merah untuk tim sepakbola Manchester United asal
Inggris. Sampai-sampai nama acara sepakbola nasional Indonesia pun berbau Italia, yaitu
Copa Indonesia 2005yang seharusnya dilafalkan [copa] alih-alih [kopa]. Kesan
memaksakan sesuatu yang sedang trendi muncul di sini. Bukti lain pemaksaan itu adalah
pemakaian kata bahasa Spanyol jugador yang diulang mengikuti kaidah reduplikasi bahasa
Indonesia menjadi jugador-jugador pada contoh (107), yang tidak jelas dimaksudkan untuk
menyatakan pemain-pemain atau petaruh-petaruh.
Kasus yang berikutnya adalah kemalasan pegiat pers dalam menggunakan kosakata bahasa
Indonesia, yang sebenarnya telah lazim digunakan. Contoh berikut memperlihatkan hal
tersebut.
(110) Maklumlah rekor mereka masih bagus untuk partai away, 8-1. (B)
(111) Jefferson sangat merepotkan lawan saat menyerang dari wing. (B)
(112) Domenech membutuhkan left winger andal untuk mengimbangi kinerja lincah Ludovic
Giuly di sayap kanan. (B)
(113) Namun AS gagal menjadi yang terbaik pada event itu. (B)
(114) Striker veteran Umit Karan, yang menambah satu gol lagi pekan silam untuk bertahan
sebagai top scorer sementara dengan 12 gol, masih menjadi andalan Gerets di depan. (B)
(115) Di bawah Kementerian Olahraga Brasil, berkembang industri skala kecil dan menengah
yang membuat bola untuk sepak bola, futsal, bola voli, handball, bola basket ... . (K)
Partai tandang saat ini telah lazim digunakan alih-alih partai away; sayap telah akrab
digunakan alih-alih wing; sayap kiri alih-alih left winger; ajang alih-alih event; pencetak gol
terbanyak, atau penggol terproduktif jika ingin lebih efisien, alih-alih topscorer; bola tangan
alih-alih handball.
4. Penerapan Kaidah Tata Bahasa
Di tengah-tengah keruhnya pemakaian bahasa Indonesia laras olahraga akibat banyaknya
kata asing, ada pula hal yang patut dinilai baik. Hal baik yang menonjol adalah
diperhatikannya kaidah tata bahasa. Sebagai contoh yang tegas adalah diperhatikannya
pemakaian awalan pe- dan peN- untuk menyatakan atlet yang ber-. Berikut ini dipolakan
bagaimana awalan pe- itu digunakan.
Pola A:
Imbuhan peN-

Imbuhan pe-

orang yang meN-


(bukan atlet) (atlet)

orang yang ber-

pebulutangkis *pembulutangkis berbulutangkis *membulutangkis


pegulat *penggulat bergulat *menggulat
pejudo; judoka *penjudo berjudo *menjudo
pesilat *penyilat bersilat *menyilat
Pola B:
Imbuhan peN- Imbuhan peorang yang meN-
(bukan atlet) (atlet)

orang yang ber-

pesepakbola penyepak bola bersepakbola menyepak bola


petinju peninju bertinju
meninju
pedayung pendayung berdayung mendayung
petembak penembak *bertembak menembak
Pola C:
Imbuhan peN- Imbuhan peorang yang meN-
*orang yang ber-
(atlet dan bukan atlet) (atlet)
*pepanah pemanah berpanah memanah
*pebalap pembalap *berbalap membalap
Pola A menggambarkan hubungan pe- dengan ber-. Kosakata berimbuhan pe- menyatakan
atlet yang ber-. Imbuhan peN- tidak digunakan karena kosakata dasar tidak dapat
menggunakan meN-. Pola B menggambarkan hubungan pe- dengan ber- yang berkontras
makna dengan peN- yang berhubungan dengan peN-. Atlet yang ber- dinyatakan dengan
pe-, sementara orang (nonatlet) yang meN- dinyatakan dengan peN-. Sementara itu, pola C
menunjukkan justru peN- yang digunakan untuk menyatakan atlet yang ber- karena petidak dapat digunakan sebagai akibat tidak dapatnya ber- digunakan.
Bagaimanapun, di luar ketiga pola di atas dijumpai ketidakmampuan pe- atau peN- untuk
menyatakan atlet yang ber-, meskipun ber- dapat digunakan. Pola berikut dapat
diperhatikan.
Pola D:
Imbuhan peN- Imbuhan pe*orang yang meN-
orang yang ber-
(atlet)
*pekarate; karateka *pengarate berkarate *mengarate
*peaikido; aikidoka; *pengaikido beraikido
*mengaikido
aikidowan/wati (?)

Tampak bahwa atlet yang ber- dinyatakan dengan ka. Tampak jelas bahwa kosakata itu
diserap dari bahasa Jepang, meskipun ada upaya pula untuk memakai wan dan wati, seperti
dalam kalimat berikut dan meskipun tidak semua kosakata yang berasal dari bahasa Jepang
memakai bentuk ka, seperti pesumo.
(116) Emilia dan Lina dengan antusias menceritakan pengalamannya sebagai aikido-wati.
(K2)
Kosakata lain yang menyatakan atlet yang ber- tanpa mengikuti kaidah tata bahasa
Indonesia adalah lifter dan taekwondoin. Tentu saja lifter, yang diserap dari bahasa Inggris,
tidak dipadankan menjadi pengangkat besi yang acuannya berbeda, sedangkan taekwondoin
merupakan kata serapan dari bahasa asalnya, bahasa Korea. Bentuk lain yang dipakai untuk
menyatakan atlet yang ber- adalah wan, yang ditemukan pada kata binaragawan.
5. Simpulan
Telah dipaparkan beberapa ciri kosakata bahasa Indonesia laras olahraga dewasa ini yang
menonjol. Hal yang pertama adalah kosakata bahasa Indonesia laras olahraga menampilkan
kekayaan metafora. Bagaimana pemanfaatan metafora ini dalam pembentukan istilah
olahraga? Metafora yang telah lazim digunakan sebagai padanan atas istilah asing
membuktikan bahwa metafora pun dapat menjadi bahan baku pembentuk istilah. Istilah
seperti gelandang (padanan halfback dalam bahasa Inggris), serangan balik (terjemahan back
attack dalam bahasa Inggris), dan pertahanan (terjemahan defence dalam bahasa Inggris)
berasal dari metafora. Kata olahraga pun berasal dari sebuah metafora. Dalam perkembangan
pemakaian selanjutnya metafora itu tidak terasa lagi sebagai metaforamenjadi metafora
matisehingga dapat dibakukan menjadi istilah. Bagaimanapun, tidak semua metafora dapat
menjadi bahan baku istilah olahraga. Hal yang kedua adalah melimpahnya penggunaan kata
asing. Sudah menjadi amatan umum bahwa pegiat pers cenderung mengajukan begitu saja
istilah asing dalam teks laras olahraga apabila tidak ditemukan padanannya dalam bahasa
Indonesia tanpa upaya penerjemahan atau penyerapan. Bentuk-bentuk hasil penyerapan pun
menjadi bahan baku bagi pembakuan istilah olahraga, seperti yang terjadi pada kata bek
(serapan back dalam bahasa Inggris) dan striker (serapan striker dalam bahasa Inggris). Di
luar itu, kreativitas pegiat pers dalam menerapkan alat tata bahasa menjadi catatan tersendiri
pula. Salah satu contoh perhatian pegiat pers terhadap masalah tata bahasa adalah penerapan
pe- dan peN- untuk menyatakan atlet yang ber- atau atlet yang meN-.
Akhirnya, tulisan ini hanya merupakan sebagian kecil telaah kosakata bahasa Indonesia laras
olahraga. Telaah kosakata bahasa Indonesia laras olahraga perlu dilanjutkan, terutama yang
ditujukan untuk menyusun korpus data yang bermanfaat bagi penyusunan glosarium dan
kamus olahraga. Dalam konteks media massa, glosarium dan kamus olahraga mutlak
diperlukan untuk membantu pegiat pers menuliskan berita atau artikel berlaras olahraga.
Keseragaman istilah juga diperlukan untuk tidak membingungkan pembaca, khususnya
pencinta olahraga di Indonesia yang jumlahnya pastilah besar.