Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kota Banjarmasin terletak sekitar 50 km dari muara Sungai Barito dan
dibelah Sungai Martapura. Secara topografis, Kota Banjarmasin didominasi oleh
daerah yang datar dan berawa-rawa dengan kemiringan tanah 0% - 2% serta
berada pada ketinggian rata-rata 0,16 mdpl. Satuan morfologi ini merupakan
daerah dominan yang terdapat di wilayah Kota Banjarmasin. Kondisi ini sangat
menunjang bagi perkembangan perkotaan sebagai area fisik terbangun. Namun, di
beberapa daerah yang memiliki ketinggian di bawah permukaan laut
menyebabkan sebagian besar wilayah KotaBanjarmasin merupakan lahan gambut
yang sangat dipengaruhi kondisi pasang surut air laut (Pujirahayu, 2010).
Pada tahun 2011 pemerintah pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum
telah mengakui pembentukan Kota metropolitan Banjarbakula di Provinsi
Kalimantan Selatan dan salah satu pusat kota adalah Kota Banjarmasin.
Banjarbakula diambil dari nama lima kota/kabupaten yaitu, Kota Banjarmasin,
Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Barito
kuala. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan daerah Kalimantan Selatan yang
tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) tahun
2005-2025 bahwa Kalimantan Selatan 2025 Maju Dan Sejahtera Sebagai
Wilayah Perdagangan Dan Jasa Berbasis Agro Industri. Visi ini mengandung

makna bahwa pembangunan yang dilaksanakan berorientasi pada perdagangan


dan jasa dengan menumbuhkan agro industri sebagai pilar utama.
Visi pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Selatan ini sejalan dengan
misi

pembangunan

Kota

Banjarmasin

yang

tertuang

dalam

Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Banjarmasin yaitu


mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota jasa dan perdagangan. Untuk
merealisasikan itu, kegiatan penting yang telah dilakukan adalah pemindahan
perkantoran pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dari Kota Banjarmasin ke
Kota Banjarbaru. Pemindahan ini adalah upaya dalam mewujudkan proyeksi
fokus Kota Banjarmasin sebagai kota berbasis industri dan perdagangan. Dengan
demikian

Kota

Banjarmasin

nantinya

diharapkan

akan

menjadi

pusat

pembangunan industri dan kegiatan perdagangan.


Dalam rangka mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota berbasis jasa
dan perdagangan, pemusatan kegiatan dan peningkatan pembangunan di bidang
industri akan memberikan dampak terhadap adanya suatu perubahan kepadatan
baik itu pada sektor kependudukan, permukiman, transportasi dimana pada
akhirnya akan terjadi eksploitasi penggunaan lahan yang melebihi kapasitasnya.
Kodoatie (2013) menjelaskan bahwa setiap individu dalam kedudukannya sebagai
makhluk sosial akan memiliki berbagai macam tingkat kebutuhan dan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut akan mempengaruhi peningkatan di bidang sosial,
ekonomi dan lingkungan. Akibatnya akan terjadi eksploitasi alam yang
berlebihan, perubahan tata guna lahan yang tak terkendali dan menurunnya daya
dukung lingkungan.

Laju pertumbuhan penduduk (LPP) Kota Banjarmasin pertahun selama


sepuluh tahun terakhir yakni antara 2000-2010 adalah sebesar 1,72 persen per
tahun. Angka ini jauh diatas LPP nasional pertahun yang sebesar 1,47 persen
(BPS Kota Banjarmasin, 2011). Laju pertumbuhan penduduk terlepas dari
kenaikan angka kelahiran disebabkan kegiatan migrasi dan urbanisasi yang tinggi.
Kemudahan sistem di bidang informasi, komunikasi dan transportasi mendorong
pergerakan masyarakat untuk melakukan perpindahan ke wilayah perkotaan,
namun sering kali urbanisasi yang terjadi secara alami hasilnya tidak merata dan
berpeluang menimbulkan kesenjangan (Soetomo, 2009).
Pada umumnya masyarakat menengah ke atas yang ada di Provinsi
Kalimantan Selatan yang bertempat tinggal di daerah selain Kota Banjarmasin
menjadikan Kota Banjarmasin sebagai tempat untuk berbagai tujuan antara lain:
pariwisata, pendidikan, aktivitas perdagangan, karena selain merupakan ibu kota
Provinsi, Kota Banjarmasin juga merupakan pusat aktivitas dan pertumbuhan
ekonomi. Kondisi ini menjadikan masyarakat tersebut baik masyarakat lokal
maupun masyarakat luar berlomba untuk berinvestasi lahan di kawasan pinggiran
perkotaan dengan anggapan ketika pusat kegiatan ekonomi dan pengembangan
wilayah nantinya mendekati lahan mereka, maka nilai jual lahan akan meningkat
pesat. Alonso (1964) dalam Yunus (2012) mengemukakan bahwa lahan yang
mendekati pusat kota akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sebaliknya.
Hal ini didukung oleh pendapat Rateliff (1949) yang menjelaskan tentang teori
sewa lahan dimana pembangunan industri cenderung menjauhi pusat kota dan

lebih memilih ke arah pinggiran dengan konsep berada di antara zona retail dan
perumahan karena memiliki nilai ekonomi lahan yang lebih murah.
Pengembangan kawasan perkotaan masih terus dilakukan hingga saat ini.
Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi meningkatnya kepadatan di pusat Kota
Banjarmasin itu sendiri dan untuk menghindari bercampur aduknya berbagai
aktivitas masyarakat dalam suatu fungsi tata guna lahan yang tidak jelas. Dengan
keterbatasan lahan yang ada, memaksa pihak pemerintah daerah untuk
memanfaatkan lahan-lahan yang belum terbangun yang berada di wilayah
pinggiran kota. Burges dalam Yunus (2012) menjelaskan teori konsentrisnya
bahwa pengembangan kawasan akan menghasilkan zona-zona baru dimana pusat
kota sebagai intinya dan zona-zona baru tersebut akan bergerak ke arah luar dan
pada akhirnya akan menyentuh wilayah pinggiran kota. Sampai dengan saat ini
kenampakan tingkat perkembangan wilayah perkotaan Banjarmasin ke arah
pinggiran kota mulai terlihat jelas dimana kondisi ini mendorong munculnya
permasalahan lingkungan perkotaan dimana menurut Gallion (1963) masalah
lingkungan yang paling sering terjadi adalah perubahan fungsi tata guna lahan dan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Isu masalah lingkungan perkotaan di Banjarmasin diperparah dengan
kondisi dan karakteristik lahan di perkotaan Banjarmasin dimana sebagian besar
wilayah perkotaan didominasi oleh lahan gambut. Tingkat perkembangan wilayah
yang tinggi, ditandai dengan adanya lahan terbangun dan fasilitas sosial ekonomi
sebagai sarana dan infrastruktur akan memberikan risiko lingkungan yang tinggi
dan dapat mengakibatkan bencana bagi masyarakat itu sendiri jika tidak

mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungannya. Sebagai contoh bahwa


tidak jarang ditemukan adanya bangunan baik itu bangunan gedung bertingkat
atau rumah hunian yang mengalami kondisi miring bahkan runtuh akibat
terjadinya penurunan muka tanah, penyebaran api akibat kebakaran satu rumah
sangat cepat terjadi karena kerapatan bangunan permukiman dan jenis bahan
bangunan yang digunakan didominasi kayu, hingga bencana banjir akibat
kenaikan muka air dan sistem drainase perkotaan yang buruk.
Selain permasalahan lingkungan di atas masih banyak aspek lingkungan di
perkotaan Banjarmasin yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam
menentukan kebijakan pembangunan wilayah perkotaan (Bappeda Kota
Banjarmasin, 2010) :
1. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang
diamanatkan bahwa suatu wilayah harus menyediakan ruang terbuka hijau
seluas 30 % dari luas wilayah dengan rincian 10 % ruang terbuka hijau
privat dan 20 % ruang terbuka hijau publik. Kondisi saat ini untuk Kota
Banjarmasin belum dapat memenuhi 20 % ruang terbuka hijau publik
tersebut, sedangkan permasalahan yang dihadapi adalah mahalnya biaya
didalam upaya menambah luasan ruang terbuka hijau publik tersebut.
2. Sempadan Sungai
Banjarmasin kota yang tumbuh secara alami, pemukiman banyak berada
dibantaran sungai karena pada jaman dulu sarana perhubungan yang utama
dari Banjarmasin kedaerah hulu sungai menggunakan transportasi sungai.

Seiring dengan perkembangan laju pembangunan dimana sarana


perhubungan darat semakin lancar serta pertambahan jumlah penduduk,
maka masyarakat mulai kurang memperhatikan arti penting sungai,
sehingga bantaran-bantaran sungai banyak dijadikan pemukiman.
3. Pertumbuhan kota dalam bentuk sprawl
Kota Banjarmasin tumbuh dengan tidak terarah, kawasan pemukiman
cendrung tumbuh padat mengikuti arah pusat perdagangan mupun pusatpusat kegiatan publik lainnya seperti sekolah, perkantoran dan lain-lain.
Akibatnya bercampurnya antara aktivitas yang satu dengan aktivitas
lainnya. Permasalahan akan timbul apabila tercampur kawasan yang tidak
saling menunjang, seperti kawasan pergudangan dengan kawasan
perkantoran pemerintah atau dengan kawasan pendidikan, maka kondisi
yang demikian ini mengakibatkan terganggunya aktivitas kegiatan yang
lain.
4. Ketinggian air pasang cenderung meningkat
Kota Banjarmasin berada 0,16 m dari permukaan laut, disamping itu
adanya pengaruh pemanasan global yang mnyebabkan permukaan air laut
naik, maka berakibat memperparah terjadinya genangan-genangan air
dikota Banjarmasin. Genangan yang cukup besar terjadi apabila turun
hujan bersamaan dengan pasang besar air laut.
Melihat kondisi perkotaan Banjarmasin yang ada dengan berbagai
permasalahan lingkungannya, peneliti merasa perlu melakukan penelitian di
pinggiran kawasan perkotaan Banjarmasin dan mengkajinya secara komprehensif

untuk mengantisipasi permasalahan lingkungan perkotaan yang lebih besar akibat


kegiatan pengembangan wilayah perkotaan di Banjarmasin.

1.2. Permasalahan Penelitian


Perkembangan industri dan perdagangan di Kota Banjarmasin akan
meningkat

pesat

seiring

dengan

kebijakan

pemerintah

daerah

yang

memproyeksikan Kota Banjarmasin sebagai kota berbasis perdagangan dan agro


industri. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi perubahan fungsi lingkungan.
Lingkungan satu dan lingkungan lainnya memiliki kemampuan berbeda terhadap
beban sesuai dengan peruntukan lingkungan tertentu, sehingga perubahan fungsi
lingkungan akan menimbulkan risiko lingkungan.
Uraian di atas melatarbelakangi perumusan masalah sebagai dasar dalam
melakukan penelitian:
1. Bagaimana tingkat perkembangan wilayah di perkotaan Banjarmasin ?
2. Seberapa besar nilai risiko lingkungan pada unit lahan yang menjadi sasaran
perkembangan wilayah di perkotaan Banjarmasin?
3. Bagaimana pengaruh tingkat perkembangan wilayah terhadap variasi risiko
lingkungan di perkotaan Banjarmasin?

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari Penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut ini.
1. Menganalisis tingkat perkembangan wilayah di perkotaan Banjarmasin.
2. Menilai

risiko

lingkungan

pada

daerah

yang

menjadi

sasaran

pengembangan wilayah di perkotaan Banjarmasin.


3. Menganalisis pengaruh tingkat perkembangan wilayah terhadap variasi

risiko lingkungan di perkotaan Banjarmasin.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah :


1. memberikan informasi tentang tingkat perkembangan wilayah di
perkotaan Banjarmasin.
2. memberikan informasi tentang risiko lingkungan akibat pembangunan
dalam pengembangan wilayah di perkotaan Banjarmasin.
3. Memberikan informasi tentang pengaruh tingkat perkembangan wilayah
terhadap variasi risiko lingkungan di perkotaan Banjarmasin.

1.5. Keaslian Penelitian


Penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh Suryanto (2007) dengan
topik Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Untuk Pengembangan
Kawasan Permukiman (Studi Kasus Das Beringin Kota Semarang) mengkaji
tentang daya dukung lingkungan pada DAS Beringin di Kota Semarang kemudian
dikaitkan dengan potensi pengembangan pemukiman di DAS Beringin Kota
Semarang. Dalam melakukan aktivitas pengembangan kawasan perkotaan,
eksploitasi dalam pemanfaatan lahan yang terbatas akan terus dilakukan termasuk
pada daerah pesisir. Tidak jarang ditemukan banyaknya aktivitas pembangunan
industri dan permukiman yang berada di wilayah pesisir sehingga dapat

memberikan dampak lingkungan yang besar apabila tidak sesuai dengan


kesesuaian lahannya (Sun Xiang et.al, 2007). Pengembangan fungsi tata guna
lahan yang sesuai dengan tingkat kesesuaian lahannya tidak hanya akan mencegah
lingkungan dari bencana tetapi juga akan meningkatkan produktivitas lahan
tersebut.
Dalam melakukan kajian tentang dampak lingkungan perlu memperhatikan
berbagai kriteria lingkungan dan dampak dengan mempertimbangkan berbagai
kepentingan stakeholder dalam pengelolaannya sehingga mampu meminimalisasi
dampak dan menghindari terjadinya bencana lingkungan (Ramanathan, 2001 dan
Setioko, 2008). Permasalahan lingkungan perkotaan sangat didasari oleh
pertumbuhan penduduk kota yang meningkat pesat melebihi jumlah penduduk
perdesaan sehingga dapat mengubah struktur internal kota menjadi sangat tidak
jelas sulit untuk digeneralisasi, akibatnya kondisi ini dapat berpotensi
menyebabkan kondisi pengembangan kawasan ke arah pinggiran kota (sprawl)
(Setioko, 2008), serta munculnya permukiman kumuh (slums) di kawasan
perkotaan (Bolay, 2006). Keadaan ini akan diperparah jika pada kawasan tersebut
juga terjadi peningkatan pembangunan industri, dimana dengan lahan yang sempit
dan semakin terbatas akan memberikan dampak pada lingkungan fisik seperti
adalah perubahan kemiringan dan ketinggian lahan, jalan menjadi bergelombang,
retak dan rusak, berkurangnya daerah resapan air, cadangan air tanah berkurang ,
terjadi kemacetan lalu lintas pada jam-jam pergantian waktu kerja (Irianta, 2008).
Isu permasalahan lingkungan perkotaan di berbagai wilayah di Indonesia
sangat

beraneka

ragam

dan

memiliki

perbedaan

sesuai

karakteristik

lingkungannya masing-masing. Karakteristik lahan pada penelitian sebelumnya


yang menjadikan pembeda utama dimana penelitian yang saya lakukan berada
pada kawasan perkotaan yang didominasi oleh lahan gambut. Penelitian berjudul
Kajian Perkembangan Wilayah dan Penilaian Risiko Lingkungan di Perkotaan
Banjarmasin mengkaji tentang dugaan adanya perubahan kualitas lingkungan
yang disebabkan oleh tingkat perkembangan wilayah berdasarkan sebagian besar
indikator kekotaan yang dianalisis. Variabel risiko lingkungan yang digunakan
tentunya di sesuaikan dengan karakteristik lahan yang digunakan. Tingkat
perkembangan wilayah kemudian akan dihubungkan dengan variasi risiko
lingkungan yang telah dinilai untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara
tingkat perkembangan wilayah dengan risiko lingkungan yang dihasilkan. Secara
jelas keaslian penelitian yang akanpeneliti lakukan disajikan pada Tabel 1.

10

Tabel 1.Perbandingan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan


No.
1

Nama peneliti
dan tahun
Suryanto,
2007

Bolay, 2006

Judul penelitian

Tujuan

Daya Dukung
Lingkungan Daerah
Aliran Sungai Untuk
Pengembangan
Kawasan
Permukiman (Studi
Kasus Das Beringin
Kota Semarang
Slums and Urban
Development:
Question on Society
and Globalisation

Mengkaji tentang daya


dukung lingkungan pada
DAS Beringin di Kota
Semarang kemudian
dikaitkan dengan potensi
pengembangan
pemukiman di DAS
Beringin Kota Semarang.
Mengkaji mengenai
fenomena terbentuknya
pemukiman kumuh

Data yang
dikumpulkan
- Data
penggunaan
lahan
- Data
penduduk
- Fasilitas
umum
Data sekunder
dari penelitian
sebelumnya

Metode
-

Wawancara (interview)
Observasi/ Pengamatan
Dokumentasi
Metode overlay pada
analisis kesesuaian lahan

Studi literature dengan


deskriptif kualitatif

Hasil
Informasi tentang daya dukung
lingkungan DAS Beringin yang
sesuai dan tidak sesuai untuk
pengembangankawasan
permukiman.

Lingkungan perkotaan sangat


kompleks, dan pemukiman
kumuh merupakan elemen
penting dari urbanisasi
kontempore. Di masa lalu,
kebijakan publik telah ditetapkan
untuk mengatasi lingkungan
kumuh, tanpa memperhitungkan
potensi penduduk dalam
menyelesaikan masalah tersebut.
Untuk itu solusi masalah
pemukiman di perkotaan perlu
dilakukan oleh berbagai pihak
baik pihak pemangku
kewenangan, swasta, maupun
masyarakat yang mendiami
pemukiman tersebut di perkotaan.

11

Lanjutan
3

Ramanathan,
2001

A note on the use of


the analytic
hierarchy process
for environmental
impact assessment

Mengkaji penggunaan
analytic hierarchy
process (AHP) dalam
penilaian dampak
lingkungan dengan
memperhatikan berbagai
kriteria dan kepentingan
berbagai stakeholder.
Dalam penelitian ini
diambil contoh studi
kasusSEIA (Sosio
Economic Impact
Assesment) dalam
tujuanrecovery tanaman
di area industri.

- Data sekunder
dari aplikasi
SIE
sebelumnya.
- Pengumpulan
data : jaringan
transportasi,
ketersediaan
air, dan
sanitasi.

AHP (Analytic Hierarchy


Process) dan studi literatur

AHP memiliki fleksibilitas untuk


menggabungkan faktor kuantitatif
dan kualitatif, untuk menganalisis
dampak yang mungkin terjadi.
Penggunaan AHP digambarkan
untuk sebuah studi kasus yang
melibatkan penilaian dampak
sosial ekonomi. Dalam studi kasus
ini, AHP telah digunakan untuk
menangkap persepsi para
pemangku kepentingan dan
menganalisa dampak sosialekonomi yang berbeda, yang akan
membantu pihak berwenang
dalam memprioritaskan rencana
pengelolaan lingkungan, juga
dapat membantu dalam
mengalokasikan anggaran yang
tersedia untuk mengurangi
dampak sosial-ekonomi yang
buruk.

Sun Xiang et
al., 2007

Land Suitability
Analysis for Urban
Planning
Environmental
assessment in an
EcologicallySensitive
Costal Area of
Eastern China Based

Menggabungkan
penggunaan mekanisme
multi-kriteria dengan
pendekatan fuzzy dalam
GIS untuk mengevaluasi
kesesuaian lahan dalam
kebutuhan
pengembangan

- Data
penggunaan
lahan

Langkah analisis:
- mengembangkan faktor
geo-lingkunganuntuk
masing-masing
penggunaan lahan secara
terpisah
- penilaian multikriteria
menggunakan logika

Metode evaluasi overlay dengan


mekanisme multi- kriteria dan
multi-tujuan dapat digunakan
sebagai dasar untuk analisis
kesesuaian lahan perencanaan
lingkungan perkotaan di daerah
yang masih dalam proses
pembangunan pada ekologi

12

Lanjutan
upon Multi-Criteria
Mechanism

pembangunan wilayah.

fuzzy dan kombinasi


linear yang dirasa
diperlukan untuk
menentukan nilai
kesesuaian danmembuat
peta kesesuaian untuk
setiap penggunaan lahan
secara terpisah.
- Evaluasi berbagai tujuan
penggunaan lahan ke
dalam kelompok
kesesuaian, berdasarkan
evaluasi multikriteria
untuk masing-masing
sektor, dengan
caraclassication numerik
multivariat, melalui
ISODATA.
- Kelompok-kelompok
kesesuaian lahan
dikaitkan dengankonflik
lingkungan berdasarkan
tujuan dari tiap kelompok
kesesuaian, sehingga
penggunaan lahan dapat
dialokasikan dalam pola
yangakan meminimalkan
konflik dan
memaksimalkan
konsensus di antara para
pemangku kepentingan.

daerah pesisir, dalam penelitian ini


dilakukan di Lianyungang, Cina.

13

Lanjutan
5

Setioko, 2008

Pertumbuhan Fisik
Kota dan Bencana
Lingkungan (Studi
Kasus Kota
Semarang)

- Data Geologi
Mengkaji fenomena
perubahan struktur
Kota Semarang
internal kota, yang
- Data sebaran
semula struktur kota lama
penduduk Kota
menjadi kota menjadi
Semarang
sangat ruwet dan sulit
untuk digeneralisasi, dan
terjadinya pergeseran
peran pusat kota kearah
pinggiran.

Overlay perkembangan kota


semarang dari tahun ke
tahun

Penduduk yang tinggal di pusat


kota ada kecenderungan pindah ke
kawasan pinggiran. Proses
perpindahan penduduk ini di
dorong oleh adanya degradasi
kualitas lingkungan di pusat kota
dan meningkatnya suplai
perumahan baru yang rata-rata
berlokasi di kawasan pinggiran.
Limpahan kegiatan dari pusat kota
ke kawasan pinggiran terjadi
secara sporadis dan inkremental.
Struktur kotanya pun berubah dari
struktur kota yang sederhana
menjadi struktur kota yang ruwet.

Irianta, 2009

Kajian Dampak
Perkembangan
Industri Terhadap
Kondisi Lahan Di
Kawasan Bawen
Kabupaten
Semarang.

- Metode analisis Sistem


informasi Geografis
(SIG)
- Teknik scoring
- Metode Matriks Interaksi
Leopold

Ahmad Zaky
Maulana,
2014

Kajian
Perkembangan
Wilayah dan
Penilaian Risiko
Lingkungan di

- Data primer
Mengkaji dampak
perkembangan industri
melalui survey
terhadap perubahan
dan wawancara
kondisi lahan di Kawasan - Data sekunder
Bawen Kabupaten
mengenai
Semarang.
Intensitas jalan,
data fisik lahan,
penyebaran
penggunaan
lahan industri
1. Menganalisis tingkat - Kepadatan
Bangunan
perkembangan
- Intensitas jalan
wilayah di perkotaan
- Fasilitas sosial
Banjarmasin.
ekonomi

Dampak yang terjadi akibat


adanya perkembangan industri di
daerah Bawen diantaranya adalah
perubahankemiringan dan
ketinggian lahan, jalan menjadi
bergelombang, retak dan rusak,
berkurangnya daerah resapan air,
cadangan air tanah berkurang ,
terjadi kemacetan lalu lintas pada
jam-jam pergantian waktu kerja.
1. Klasifikasi tingkat
perkembangan wilayah di
perkotaan Banjarmasin
2. Data klasifikasi risiko
lingkungan.

- Analisis citra quickbird


tahun 2002 dan tahun
2014
- Teknik scoring dan
pengelompokan risiko

14

Lanjutan
Perkotaan
Banjarmasin

2. Menilai risiko
lingkungan pada
daerah yang menjadi
sasaran
pengembangan
wilayah di perkotaan
Banjarmasin.
3. Menganalisis
pengaruh tingkat
perkembangan
wilayah terhadap
variasi risiko
lingkungan di
perkotaan
Banjarmasin.

- Data sekunder
mengenai
lingkungan
fisik
- Data sekunder
mengenai
lingkungan
biotik
- Data sekunder
mengenai
lingkungan
sosial.
- Data Primer

dengan pendekatan
konsep Probabilistic Risk
Assesment
Analisis overlay peta
dengan Sistem Informasi
Geografis (SIG)
Sampling dan wawancara
Interpretasi data sekunder
Cross-tabulation

3. Peta Risiko Lingkungan.


4. Rekomendasi pembangunan
wilayah.

Sumber: Peneliti, 2014

15