Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KONSTRUKSI JALAN RAYA

NAMA

: SOLEMAN LUDJI NGURU

NIM

: 1301111005

PRODI

: PEND TEK. BANGUNAN

SEMESTER

: II (DUA)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANG
KUPANG
2014

DAFTAR ISI
Halaman
COVER
KATA PENGANTAR.................................................................................................1
DAFTAR ISI.... 2

BAB I
PENDAHULUAN

BAB II
PEMBAHASAN

1. Klasifikasi, Spesifikasi dan Tingkat Pelayanan .3


A. Jalan Raya Menurut Fungsi Pelayanan..4
B. Jalan Raya Menurut Kelas Jalan lintas ..5
A.Volume Lalu Lintas Lintas..6
B. Sifat dan Komposisi Lalu Lintas ..7
C.. Saluran Samping ...8
D.Penempatan trotoar..9
-Gambar Macam-macam Kereb Sistem Drainase...10

BAB III
PENUTUP..11
1.Kesimpulan ..12

2.Saran..1
3
DAFTAR PUSTAKA

Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas makalah konstuksi
jalan raya

makalah Ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Pendidikan konstuksi
jalan raya, yang Saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di
kerjakan oleh Saya dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makala ini Saya dapat bermanfaat bagi Para Mahasiswa, Pelajar, Umum
Khususnya pada diri saya sendiri dan semua yang membaca makalah Saya ini, dan mudahmudahan Juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca . Terima kasih.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama
dalam mendukung kegiatan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan. Jalan
dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan
pemerataan pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkukuh kesatuan nasional untuk
memantapkan pertahanan dan keamanan nasional, serta membentuk struktur ruang dalam rangka
mewujudkan sasaran pembangunan nasional. Dalam mewujudkan prasarana transportasi darat
yang melalui jalan, harus terbentuk wujud jalan yang menyebabkan pelaku perjalanan baik orang
maupun barang, selamat sampai di tujuan, dan dalam mendukung kegiatan ekonomi, sosial,
budaya dan lingkungan, perjalanan harus dapat dilakukan secepat mungkin dengan biaya
perjalanan yang adil sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Disamping itu,
adalah hal yang ideal untuk pelaku perjalanan, selain dapat dilakukan dengan selamat, cepat dan
murah, juga nyaman, sehingga perjalanan tidak melelahkan. Agar kita dapat mendesain sebuah
jalan raya yang aman, nyaman dan efisien maka kita terlebih dahulu mengetahui bagaimana
ketentuan yang harus dilakukan. Salah satunya dengan mengetahui penampang melintang jalan
raya (
Cross Section
). Dengan demikian kita dapat mendesain sebuah jalan raya yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN
Klasifikasi, Spesifikasi, Tingkat Pelayanan dan Cross
Section

1. Klasifikasi, Spesifikasi dan Tingkat Pelayanan


Dalam perencanaan geometrik jalan raya harus memenuhi persyaratan desain, yaitu terpenuhinya
syarat kenyamanan, keamanan dan memiliki nilai ekonomis yang layak serta efesiensi yang
optimal. Oleh karena itu perencana harus memahami yang mendalam tentang berbagai landasan
teoritis konseptual perencanaan geometrik jalan raya itu sendiri. Jalan raya adalah suatu lajur
tanah yang di sediakan khusus untuk sarana/prasarana perhubungan darat yang dibuat
sedemikian rupa untuk melayani kelancaran arus lalu lintas. Sarana prasarana perhubungan
tersebut meliputi semua bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukan bagi pelayanan arus lalu lintas, guna untuk memindahkan orang dan barang dari
suatu tempat ketempat lain. Kelancaran lalu lintas di jalan raya sangat dipengaruhi oleh tingkat
kemampuan pelayanan yang dapat diberikan oleh setiap bagian jalanraya tersebut, antara lain
oleh lebar jalan dan jumlah jalur. Semakin bertambah banyak jenis dan jumlah lalu lintas yang
melewati suatu jalan raya, maka lalu lintas menjadi semakin ramai. Keadaan seperti ini diartikan
bahwa kepadatan lalu lintas menjadi semakin tinggi dan tingkat pelayanan yang dapat diberikan
oleh bagian-bagian jalan raya menjadi semakin rendah. Agar terdapat kesuaian antara kepadatan
lalu lintas dengan tingkat pelayanan jalan, maka ditetapkan klasifikasi dan spesifikasi suatu jalan
raya. Klasifikasi dan spesifikasi tersebut sangat berguna dan dapat memberikan kejelasan
mengenai tingkat kepadatan lalu lintas yang perlu dilayani oleh setiap bagian-bagian jalan.
Klasifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat dibedakan menurut fungsi pelayanannya, menurut
kelas jalan, menurut keadaan topografi, penggolongan layanan administrasi dan menurut jenisjenis jalan raya.

A. Jalan Raya Menurut Fungsi Pelayanan


Sesuai dengan
PERATURAN PERENCANAAN JALAN RAYA No.13/1970 dari
Direktorat Explorasi, survai dan perencanaan, Direktorat Jendral Bina Marga Departemen P.U.,
maka jalan dibagi dalam klasifikasi-klsifikasi berdasarkan : a.
Sistem Jalan Raya Primer Sistem jalan raya primer adalah system jaringan jalan dengan peranan
pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah pada tingkat Nasional, yaitu
dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota. Pada sistem ini jaringan
jalan raya primer menhubungkan simpul-simpul jasa distribusi penting meliputi : Jalan raya dalam satu satuan wilayah pengembangan yang menghubungkan secara menerus Ibu
Kota Propinsi, Ibu kota Kabupaten/Kota, Kota-kota Kecamatan dan kota-kota yang lebih kecil
pada jenjang dibawahnnya. Menghubungkan antara Ibukota Propinsi yang satu dengan Ibu Kota Propinsi yang lainnya Jalan
raya primer di peruntukan melayani keperluan lalu lintas kendaraan berat (High Vehicle) seperti
bus, truck 2 As, Truck 3 As, Truck gandengan Semi Trailer dan Trailer dengan kecepatan 60
km/jam sampai 120 km/jam, serta untuk melayani tingkat kepadatan lalu lintas yang sangat
tinggi. Jalan raya primer disebut juga dengan
Jalan Arteri atau Jalan Raya Utama
yaitu jalan raya yang berperan sebagai urat nadi perekonomian bangsa, berfungsi untuk
menjamin kelancaran lalu lintas orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya, serta
menjamin kelancaran pengangkutan dan pendistribusian bahan-bahan pokok keperluan
masyarakat sehari-hari. Oleh sebab itu jalan raya primer umumnya menghubungkan antar kota
yang bernilai strategis dan potensial, seperti menghubungkan wilayah perkebunan dan pertanian
dengan pusat-pusat perdagangan, serta jalan menuju ke wilayah pelabuhan sebagai pintu gerbang
pusat kegiatan ekspor untuk pengiriman barang-barang industry dan produksi luar negeri atau
sebaliknnya.

4
Ciri-ciri jalan arteri primer meliputi:

1. Melayani lalu lintas kendaraan dengan kecepatan rencana diatas 60 km/jam


2. Lebar lalu lintas minimal 2 x 3,75m
3. Jalan raya arteri primer tidak boleh terganggu oleh berbagai kegiatan lalu lintas lokal
4. Kapasitas jalan harus lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
5.Jalan masuk dibatasi secara efisien, sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan dapat
tercapai
6. Jalan raya arteri primer tidak boleh terputus sekalipun jaln tersebut memasuki/melintas
wilayah perkotaan Ciri-ciri dari Jalan Kolektor Primer, yaitu jaringan jalan yang
menghubungkan antar kota Kabupaten/Kota, atau menghubungkan kota Kabupaten dengan kota
Kecamatan ini meliputi :
1. Melayani lalu lintas kendaraan dengan kecepatan rencana diatas 40 km/jam 80 km/jam
2.Lebar jalur perkerasan jalan minimum 2 x 3,5m
3. Jalan raya kolektor primer tidak boleh terganggu terputus, sekalipun memasuki daerah atau
wilayah perkotaan
4. Kapasitas jalan harus lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
5. Jalan masuk dibatasi secara efisien, sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan dapat
tercapai Ciri-ciri dari Jalan Lokal Primer, yaitu jaringan jalan yang menghubungkan antar kota
Kecamatan, antar Kota Kecamatan dengan kota pada jenjang dibawahnnya sampai persil dengan
syarat antara lain meliputi :
1. Kecepatan rencana kendaraan dibawah 40 km/jam
2.Lebar jalan minimala adalah 6meter

5
b. Sistem Jalan Raya Sekunder Jalan raya sekunder merupakan jaringan jalan dengan peranan
pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat dalam kota. Ini berarti bahwa jaringan jalan sekunder

direncanakan menurut ketentuan pengaturan tata ruang pembangunan perkotaan, yaitu berfungsi
menghubungkan wilayah yang mempunyai fungsi primer dan fungsi sekunder serta pelayanan
jaringan jalan dari rumah ke rumah.
Oleh sebab itu jaringan jalan sekunder disebut juga
jalan kolektor (pengumpul/pembagi ), yaitu berfungsi menjamin kelancaran mengumpulkan dan
mendistribusikan bahan-bahan pokok kebutuhan masyarakat dari kota-kota penting tertentu ke
kota-kota yang lebih kecil. Selain itu juga berfungsi untuk melayani keperluan lalu lintas pada
daerah disekitarnnya. Selain itu, jaringan jalan sekunder juga berfungsi untuk melayani
keperluan lalulintas mulai dari jenis kendaraan berat (High Vehicle) hingga kendaraan ringan
(Low Vehicle), dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi. Jenis kendaraan tersebut
adalah kendaraan Bus, Truck 2 As, Mobil penumpang, mobil hantaran barang (pick up) dan lain
sebagainnya dengan kecepatan sedang hingga cepat, yaitu 40 km/jam sampai 80 km/jam.
Menurut fungsi pelayanan lalu lintas jalan raya di bedakan atas jalan arteri, jalan kolektor dan
jalan local. Jalan arteri adalah jalan yang melayani angkutan utama dengan cirri antara lain,
kendaraan menempuh perjalanan jarak sedang dengan kecepatan rata-rata sedang dan jumlah
jalan masuk dibatsi. Sedangkan jalan local adalah jalan yang melayani angkutan setempat
dengan cirri antara lain melayani perjalanan jarak pendek (dekat), kecepatan rata-rata rendah dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Ciri-ciri jala arteri sekunder, meliputi:
1.Melayani lalu lintas dengan kecepatan rencana diatas 30 km/jam
2.Lebar lalu lintas minimum 2 x 3,75m
3.Kapasitas jalan sama dengan atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata, dan tidak boleh
terganggu oleh lalu lintas lambat

6
Ciri-ciri dari Jalan Kolektor Sekunder, yaitu jalan yang menghubungkan antar kawasan sekunder
dan antara kawasan sekunder ke I, atau jalan yang menghubungkan antar kawasan sekunder ke II
dengan kawasan sekunder II; dengan syarat melayani kecepatan rendah dan lebar jalur lalu lintas
minimal adalah 2 x 3,00 meter. Ciri-ciri dari Jalan Lokal Sekunder, yaitu jalan yang

menghubungkan antar kawasan sekunder I, kawasan sekunder II dan ke III masing-masing


dengan kawasan pemukiman/perumahan, yaitu dengan melayani kecepatan rencana sangat
rendah kurang dari 30 km/jam dan dengan lebar jalur lalu lintas minimum 2 x 2,5 meter.

B.Jalan Raya Menurut Kelas Jalan


Jalan raya di klasifikasikan berdasarkan karakteristik lalu lintas yang lewat, yaitu menurut
tingkat kepadatan arus lalu lintas pada waktu-waktu tertentu, serta menurut jenis dan ukuran
daya angkut kendaraan, Tingkat kepadatan lalu lintas, Besarnya muatan suatu roda terberat
(MST), Kepadatan menurut kapasitas yaitu jumlah kendaraan yang lewat dalam satuan ter tentu
melalui satu titik pengamatan. Volume lalu lintas menyatakan jumlah lalu lintas per- hari dalam
satu tahun untuk kedua jurusan.Untuk ini memerlukan penyelidikan lapangan selama 24 jam
selama 1 tahun dan dilaksanakan tiap tahun dengan mencatat setiap jenis kendaraan bermotor
dan kendaraan fisik. Jumlah lalu-lintas per-hari dalam satu tahun dinyatakan sebagai lalu- lintas
harian rata- rata (
disingkat sebagai LHR = Lalu
-lintas Harian Rata-rata).
Berhubung pada umumnya lalu-lintas pada jalan raya terdiri dari campuran kendaraan cepat,
kendaraan lambat, kendaraan berat, kendaraan ringan dan kendaraan tak bermotor (kendaraan
fisik), maka dalam hubungannya dengan kapasitas jalan (jumlah kendaraan maximum yang
melewati satu titik / tempat dalam satu satuan waktu) mengakibatkan adanya pengaruh dari
setiap jenis kendaraan tersebut terhadap keseluruhan arus lalu-lintas. Pengaruh ini
diperhitungkan dengan meng-ekivalenkan terhadap kendaraan standard.
Jalan raya berdasarkan kelengkapan fasilitasnnya dapat di bedakan menjadi 4 (empat) jenis,
yaitu jalan Exspres way, free way, collector dan local road. Jalan cepat (exspress way)
sesungguhnya adalah jalan raya primer atau jalan arteri, akan tetapi pada jalan exspress prioritas
jalan diberikan pada kendaraan untuk lalu lintas menerus (bergerak lurus). Pada daerah
persimpangan yang arus lalu lintasnnya saling memotong (Crossing) jalan raya utama
seharusnnya dilengkapi dengan persimpangan jalan yang tidak sebidang (Flyover). Kecepatan
kendaraan rata-rata di perkenankan hingga 100 km/jam, dan disertai dengan pengendalian jalan
masuk yang di batasi secara efisien. Pengendalian jalan masuk ini dilakukan secara penuh/
sebagian terhadap pemakai jalan dan penghuni di daerah sekitarnnya. Adapun yang dimaksud
dengan jalan bebas hambatan (free way) adalah jalan raya arteri yang memungkinkan kendaraan
bergerak dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Dengan tanpa mengalami rintagan apapun,
baik rintangan yang disebabkan oleh adannya persimpangan jalan, oleh gerakan kendaraan
membelok, maupun oleh para penyebrang jalan, dan hambatan-hambatan lain. Selain itu jalan
free way ini harus di sertai dengan sistim pengendalian jalan masuk secara penuh. Dengan
7
adanya sistim pengendalian jalan masuk tersebut, maka dapat dihindari terjadinnya gesekan tepi
pada perkerasan jalan, sehingga kendaraan dapat bergerak sepanjang waktu dengan kecepatan
tinggi, konstan tanpa rintangan. Oleh sebab itu pada jalan bebas hambatan tidak di perkenankan
adannya persimpangan atau perpotongan jalan sebidang. Dibandingkan dengan jenis jalan raya

lainnya jalan raya bebas hambatan merupakan jalan raya yang memiliki fasilitas tingkat tertinggi,
dibangun dengan biaya yang sangat mahal, akan tetapi jalan raya bebas hambatan ini juga
memilki beberapa keuntungan atau kelebihan tertentu, antara lain:
1. Dapat mengurangi waktu tempuh, yang disebabkan oleh waktu hilang oleh di tiadakannya
beberapa rintangan dalam perjalanan, seperti di tiadakannya penyebrangan jalan, kendaraan
dilarang membelok dan di tiadakannya persimpangan jalan sebidang
2. Dapat mengurangi tejadinnya konflik lalu lintas, terutama pada daerah persimpangan jalan
dan kecelakaan lalu lintas.
3. Lebih nyaman dan memenuhi persyaratan keamanan di sepanjang perjalanan, karena di
sepanjang jalan dibatasi oleh pagar pemisah dan pejalan kaki ditempatkan diluar daerah milik
jalan (DMJ).
4. Bersifat permanen, dengan pengendalian jalan msuk di sepanjang jalan dapat mencegah
terjadinnya pertumbuhan sector social ekonomi. Jika dibandingkan dengan tanpa pengendalian
jalan masuk, maka pada sepanjang jalan akan terjadi pertumbuhan sector soial ekonomi yang
lebih cepat, seperti pembangunan pemukiman disepanjang jalan dan pertumbuhan social budaya.
Hal ini akan menimbulkan berbagai aktifitas yang dapat menurunkan kapasitas jalan dan
kemungkinan meningkatnnya kecelakaan lalu lintas.
5. Mengurangi biaya oprasi kendaraan, antara lain pengurangan pemakaian bahan bakar dan
bahan pelumas, mengurangi kebisingan dan polusi udara serta meningkatnya daya tahan mesin
dan perangkat kendaraan lainnya. Perhitungan sudut belok patokan dalam perhitungan sudut
belok patokan di gunakan asumsi, bahwa sudut drajat lengkung adalah sama dan sebanding
dengan sudut luar tikungan () Rumus yang digunakan
Penampang Melintang Jalan (Crossection)
Penampang melintang jalan merupakan potongan melintang secara tegak lurus dengan sumbu
jalan. Dari potongan melintang jalan dapat dilihat dan diketahui bagian-bagian dari jalan,
diantaranya :
2.1 Jalur Lalu Lintas
Jalur Lalu Lintas
(Traveled Way)
adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan (Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993), termasuk pada simpang, bukaan median, taper (jalur
untuk tanjakan - percepatan - perlambatan - belok) Fisik berupa perkerasan, dibatasi oleh
median, bahu, trotoar, pulau jalan atau separator. Beberapa tipe jalan, diantaranya:
8
1 .2/2 TB (2/2 UD) : 2 lajur, 2 jalur, tak terbagi
2. 2/1 TB (2/1 UD) : 2 lajur, 1 jalur, tak terbagi

3. 4/2 B (4/2 D) : 4 lajur, 2 jalur, terbagi


4. n/2 B (n/2 D) : n lajur, 2 jalur, terbagi Adapun lebar jalur untuk jalan antara kota, yang
ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur sesuai dengan volume arus lalu lintas harian rencana
(VLHR), dikemukakan tabel di bawah ini.
10 . Lebar jalur minimum untuk ruas jalan antar kota adalah 4.5 meter dan untuk ruas jalan
perkotaan adalah 4,0 meter, yang maish memungkinkan 2 kendaraan kecil dapat saling
berpapasan. Namun bila yang saling berpapasan dua kendaraan besar atau salah satunya
kendaraan besar, maka dapat kendaraan-kendaraan tersebut dapat menggunakan bahu jalan.
Lebar lajur kendaraan ditentukan berdasarkan pertimbangan beberapa hal sebagai berikut:
1 .Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapatdiikuti oleh lintasan kendaraan lain
dengan tepat.
2. Lajur kendaraan tak mungkin tepat samadengan lebar kendaraan maksimum. Untuk keamanan
dan kenyamanan setiap pengemudi membutuhkan ruang gerak antar kendaraan.
3 .Lintasan kendaraan tak mungkin dibuat tetap sejajar sumbu lajur lalu lintas, karena kendaraan
selama bergerak akan mengalami gaya-gaya samping seperti tidak
Tabel Lebar Jalur Ideal & Minimum Untuk Jalan Antar Kota (meter)
VLHR (smp/jam) Arteri Kolektor Lokal Ideal Minimum Ideal Minimum Ideal Minimum < 3000
6.0 4.5 6.0 4.5 6.0 4.5 3000 - 10000 7.0 6.0 7.0 6.0 7.0 6.0 10001 - 25000 7.0 7.0 7.0 ** - - >
25000 2n x 3.5* 2 x 7.0* 2n x 3.5* ** - - Keterangan, **) Mengacu pada persyaratan ideal *) 2
jalur terbagi, masing-masing n x 3.5 m, n: jumlah lajur perjalur. - Tidak ditentukan Sumber : Tata
Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 1997
9. Penampang Melintang Jalan (Crossection)
Penampang melintang jalan merupakan potongan melintang secara tegak lurus dengan sumbu
jalan. Dari potongan melintang jalan dapat dilihat dan diketahui bagian-bagian dari jalan,
diantaranya :
2.1 Jalur Lalu Lintas
Jalur Lalu Lintas
(Traveled Way)
adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan (Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993), termasuk pada simpang, bukaan median, taper (jalur
untuk tanjakan - percepatan - perlambatan - belok) Fisik berupa perkerasan, dibatasi oleh
median, bahu, trotoar, pulau jalan atau separator. Beberapa tipe jalan, diantaranya:

9
1. .2/2 TB (2/2 UD) : 2 lajur, 2 jalur, tak terbagi
2. .2/1 TB (2/1 UD) : 2 lajur, 1 jalur, tak terbagi

3. .4/2 B (4/2 D) : 4 lajur, 2 jalur, terbagi


4. .n/2 B (n/2 D) : n lajur, 2 jalur, terbagi Adapun lebar jalur untuk jalan antara kota, yang
ditentukan oleh jumlah dan lebar lajur sesuai dengan volume arus lalu lintas harian rencana
(VLHR), dikemukakan tabel di bawah ini.
10 . Lebar jalur minimum untuk ruas jalan antar kota adalah 4.5 meter dan untuk ruas jalan
perkotaan adalah 4,0 meter, yang maish memungkinkan 2 kendaraan kecil dapat saling
berpapasan. Namun bila yang saling berpapasan dua kendaraan besar atau salah satunya
kendaraan besar, maka dapat kendaraan-kendaraan tersebut dapat menggunakan bahu jalan.
Lebar lajur kendaraan ditentukan berdasarkan pertimbangan beberapa hal sebagai berikut:
1. Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapatdiikuti oleh lintasan kendaraan lain
dengan tepat.
2. Lajur kendaraan tak mungkin tepat samadengan lebar kendaraan maksimum. Untuk
keamanan dan kenyamanan setiap pengemudi membutuhkan ruang gerak antar kendaraan.
3. Lintasan kendaraan tak mungkin dibuat tetap sejajar sumbu lajur lalu lintas, karena kendaraan
selama bergerak akan mengalami gaya-gaya samping seperti tidak
Tabel Lebar Jalur Ideal & Minimum Untuk Jalan Antar Kota (meter)
VLHR (smp/jam) Arteri Kolektor Lokal Ideal Minimum Ideal Minimum Ideal Minimum < 3000
6.0 4.5 6.0 4.5 6.0 4.5 3000 - 10000 7.0 6.0 7.0 6.0 7.0 6.0 10001 - 25000 7.0 7.0 7.0 ** - - >
25000 2n x 3.5* 2 x 7.0* 2n x 3.5* ** - - Keterangan, **) Mengacu pada persyaratan ideal *) 2
jalur terbagi, masing-masing n x 3.5 m, n: jumlah lajur perjalur. - Tidak ditentukan Sumber : Tata
Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 1997
11 . ratanya permukaan, gaya sentrifugal di tikungan dan gaya angin akibat kendaraan lain
menyiap. Lajur
(Lane)
adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki
lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor (Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993). Lebar lajur tergantung dari kecepatan
rencana dan kendaraan rencana, di samping fungsi dan kelas jalan, sebagaimana tabel 2.2.
Jumlah lajur ditetapkan berdasar tingkat kinerja ruas jalan (v-c ratio, MKJI 1994) Untuk
kelancaran sistem drainase permukaan jalan, maka lajur lalu lintas pada alinyemen lurus harus
diberi kemiringan melintang normal sebesar:
a. 2 - 3 % untuk jalan dengan perkerasan aspal atau beton.
b .4 - 5 % untuk jalan dengan perkerasan kerikil
10
Tabel Lebar Lajur Jalan Ideal Untuk Jalan Antar Kota
Fungsi Jalan Kelas Jalan Lebar Lajur Ideal (m) Arteri I, II, IIIA 3.75 3.50 Kolektor IIIA, IIIB
3.00 Lokal IIIC 3.00 Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 1997

12 . Dalam perencanaan lebar lajur didasarkan atas lebar kendaraan rencana ditambah dengan
kebebasan samping antar kendaraan. Kebebasan samping sangat ditentukan oleh keamanan dan
kenyamanan yang diharapkan. Bina Marga menentukan lebar kendaraan rencana untuk
kendaraan kecil 2.10 meter dan 2.60 meter untuk kendaraan rencana besar. Pada jalan lokal yang
kecepatan rendah Bina Marga menentukan lebar jalur lalu lintas minimal 4.50 meter (2 x 2.25
meter) cukup memadai untuk jalan 2 lajur 2 arah, dan idealnya adalah 6 meter (2 x 3.00 meter).
Untuk jalan arteri yang direncanakan untuk kecepatan tinggi dan volume tinggi lebar lajur
kendaraan minimal 3.50 meter.

11
13 .A.Volume Lalu Lintas.

Volume lalu- lintas menyatakan jumlah lalu- lintas per- hari dalam satu tahun untuk kedua
jurusan.Untuk ini memerlukan penyelidikan lapangan selama 24 jam selama 1 tahun dan
dilaksanakan tiap tahun dengan mencatat setiap jenis kendaraan bermotor dan kendaraan fisik.
Jumlah lalu- lintas per- hari dalam satu tahun dinyatakan sebagai lalu- lintas harian ratarata ( disingkat sebagai LHR = Lalu
-lintas Harian Rata-rata ). LHR = Jumlah lalu-lintas dalam 1 tahun Jumlah hari dalam 1 tahun
(365 hari) Berhubung pada umumnya lalu-lintas pada jalan raya terdiri dari campuran kendaraan
cepat, kendaraan lambat, kendaraan berat, kendaraan ringan dan kendaraan tak bermotor
(kendaraan fisik), maka dalam hubungannya dengan kapasitas jalan (jumlah kendaraan
maximum yang melewati satu titik / tempat dalam satu satuan waktu) mengakibatkan adanya
pengaruh dari setiap jenis kendaraan tersebut terhadap keseluruhan arus lalu-lintas. Pengaruh ini
diperhitungkan dengan meng-okivalenkan terhadap kendaraan standard. Faktor ekivalen (FE)
yang digunakan untuk menilai setiap kendaraan terhadap kendaraan standard didasarkan pada
penelitian AASHO (American Association Stato Higway Officials) dengan menggunakan
kendaraan penumpang sebagai kendaraan standard yang dinyatakan dengan faktor ekivalen =
( Fx E = 1). Maka dengan demikian satuan LHR dengan satuan mobil penumpang (smp) atau
passanger car unit (PCU). Faktor Ekivalen berdasarkan penelitian AASTHO : a.
Sepeda FE = 0,5 b.
Mobil penumpang / sepeda motor FE = 1 c.
Truk ringan (berat kotor < 5 ton) FE = 2 d.
Truk sedang (berat kotor > 5 ton) FE = 2,5 e.
Truk berat (berat kotor < 10 ton) FE= 3 f.
Bus FE = 3 g.
Kendaraan tak bermotor (kendaraan fisik seperti gerobak) FE = 7
14 . Seperti telah di katakan sebelumnya, bahwa untuk ini harus diketahui jumlah lalu lintas per
hari dalam satu tahun serta arah dan tujuan lalu lintas, sehingga perlu penyelidikan lapangan
terhadap setiap jenis kendaraan untuk mendapatkan data LHR. Data LHR sudah cukup
memuaskan untuk perencanaan jalan dengan arah lalu lintas rendah, akan tetapi tidak
menggambarkan secara memuaskan untuk lalu lintas tinggi, disebabkan data LHR untuk
perencanaan jalan lalu lintas tinggi ada kelemahannya yaitu, tidak dapat menggambarkan
keadaan lalu lintas dalam satu hari secara berturut

turut. Dalam hal tersebut diatas, maka untuk perencanaan jalan dengan lalu lintas tinggi
perlu di ambil sebesar volume jam per hari yang harganya 10-15% LHR, tergantung dari
fungsi jalan.
12
B. Sifat dan Komposisi Lalu Lintas

Sifat lalu lintas meliputi lambat dan cepatnya kendaraan yang bersangkutan sedangkan
komposisi lalu lintas menggambarkan jenis kendaraan yang melaluinya. Dalam penggunaannya
hanya dipakai kendaraan bermotor saja yang dibagi dalam kelompok :
1 .Kendaraan penumpang (P) termasuk golongan ini semua jenis mobil penumpang dan truk
ringan seperti pick-up dengan ukuran sifat operasinya sesuai dengan mobil penumpang.
2. Kendaraan truk (T), termasuk golongan ini adalah truc tunggal, truk gandengan (berat kotor
3,5 ton) dan kendaraan bis.
3. Volume Lalu-lintas Harian Rata-rata (VLHR), adalah prakiraan volume lalu lintas harian
pada akhir tahun rencana lalu-lintas dinyatakan dalam smp/ hari.
4. Satuan Mobil Penumpang (smp)
5. Satuan arus lalu-lintas, dimana arus dari berbagai tipe kendaraan telah diubah menjadi
kendaran ringan (termasuk mobil penumpang) dengan menggunakan emp
6. Ekivalensi Mobil Penumpang (emp)
7. Faktor konversi berbagai jenis kendaran dibandingkan dengan mobil penumpang atau
kendaraan ringan lainnya sehubungan dengan dampaknya pada perilaku lalu-lintas (untuk mobil
penumpang dan kendaraan ringan lainnya, emp = 1,0)
18 Bahu jalan tidak diperlukan bila jalur lalu lintas telah dilengkapi dengan median, jalur
pemisah (separator) atau jalur parkir. Jenis bahu jalan berdasarkan tipe konstruksinya, bahu jalan
dapat dibedakan menjadi :
a) Bahu jalan yang diperkeras,
yaitu bahu jalan yang dibuat dengan mempergunakan bahan pengikat sehingga lebih kedap air.
Bahu jenis ini digunakan jalan-jalan dimana kendaraan yang akan berhenti dan memakai bagian
tersebut besar jumlahnya. Seperti jalan tol, disepanjang jalan arteri yang melintasi kota dan
tikungan-tikungan jalan.
b) Bahu jalan yang tidak diperkeras,
yaitu bahu jalan yang dibuat dibuat dengan bahan perkerasan jalan tanpa bahan pengikat. Bahu
jalan yang tidak diperkeras biasanya digunakan untuk daerah- daerah yang tidak penting, dimana
kendaraan yang berhenti dan menggunakan bahu jalan tidak begitu banyak. Dilihat dari letak
bahu terhadap arah lalu lintas, maka bahu jalan dapat dibedakan atas :
a) Bahu kiri/bahu luar
(left shoulder/outer shoulder),
yaitu bahu jalan yang terletak di tepi sebelah kiri dari jalur lalu lintas
13
b) Bahu kanan/bahu dalam
(right shoulder/inner shoulder),

yaitu bahu yang terletak di tepi sebelah kanan dari jalur lalu lintas.
Tabel Lebar Minimum Bahu Sebelah Kanan/Dalam Jalan Perkotaan
Tipe Jalan Kelas Lebar bahu Kanan/Dalam (m) Tipe I 1 1.00 2 0.75 Tipe II 1 0.50 2 0.50 3 0.50 4
0.50 Sumber : Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan (1992)
19 .Besarnya lebar bahu jalan sangat dipengaruhi oleh :
a) Fungsi Jalan Jalan Arteri direncanakan untuk kecepatan yang lebih tinggi dari pada jalan
lokal, dengan demikian jalan arteri membutuhkan kekebasan samping, keamanan dan
kenyamanan yang lebih besar, hal ini menuntut lebar bahu yang lebih besar juga.
b) Volume lalu lintas Volume lalu lintas yang tinggi membutuhkan lebar bahu yang lebih besar
dibanding dengan volume lalu lintas yang lebih rendah.
c) Kegiatan disekitar jalan Jalan yang melintasi daerah perkotaan, pasar, sekolah,
membutuhkan
d) lebar bahu yang lebih besar dari pada jalan yang melintasi daerah rural, karena bahu
jalatersebut akan dipergunakan pula sebagai tempat parkir dan pejalan kaki.
d) Ada atau tidaknya trotoar
e) Biaya yang tersedia sehubungan dengan biaya pembebasan tanah dan biaya konstruksi.
Lereng Melintang Bahu Jalan
a) Lereng melintang bahu jalan berfungsi untuk mengalirkan air hujan yang jatuh diatasnya
dan meneruskan pengaliran air yang jatuh diatas perkerasan jalan. Kemiringan bahu jalan
yang tidak baik dan tidak bisa mengalirkan air hujan dari perkerasan dan yang jatuh
diatasnya, akan mengakibatkan air tergenang dipermukaan jalan, hal ini akan
mengakibatkan penurunan masa layan dari jalan tesebut. Air yang tergenang di atas
permukaan jalan secara konstruksi akan mempercepat terjadinya kerusakan konstruksi
jalan
b) Pada daerah tikungan tajam, kemiringan melintang jalur perkerasan juga ditentukan dari
kebutuhan akan keseimbangan gaya akibat gaya sentrifugal yang bekerja. Besar dan arah
kemiringan melintang bahu jalan juga disesuaikan demi keamanan pengemudi dan fungsi
drainase it u endiri.
20 . E. Saluran Samping
Fungsi saluran samping adalah untuk mengalirkan air (hujan-utamanya) dari permukaan
perkerasan jalan ataupun dari bahu jalan, dan juga untuk menjaga agar konstruksi (perkerasan)
jalan selalu pada keadaan kondisi kering (tidak terendam air hujan) Bentuk saluran sampIng
umumnya trapesium dan empat persegi panjang. Untuk daerah perkotaan, dimana daerah
pembebasan jalan sangat terbatas, maka saluran samping dapat dibuat empat persegi panjang dari
konstruksi beton dan ditempatkan di bawah trotoar. Sedangkan didaerah rural dimana
pembebasan lahan bukan menjadi masalah, saluran samping umumnya berbentuk trapesium.
Dinding saluran dapat berupa pasangan batu ataupun tanah asli. Sedangkan dimensi saluran,
hendaknya diestimasikan dengan metode saluran ekonomis, yang didesain sesuai dengan debit
air yang diperkirakan mengalir. Kelandaian memanjang saluran biasanya
mengikuti/menyesuaikan kelandaian jalan;
14

dan bila terlalu besar (terjal) bisa didesain dengan metode terasiring - boleh tidak mengikuti
kelandaian jalannya.
Penampang saluran samping jalan tanpa pasangan.
Ketentuan-ketentuan untuk menentukan dimensi saluran samping tanpa pasangan :
a. Luas minimum penampang saluran samping tanpa pasangan adalah 0,50 m2.
b. Tinggi minimum saluran (T) adalah 50 cm.
Tabel Tinggi Saluran Samping jalan tanpa pasangan (T) (Dengan lebar dasar saluran (D) 50 cm)
L=100m L=200m L=300 m L=400m T (%) Tinggi(cm) Tinggi(cm) Tinggi(cm) Tinggi(cm)
(Kemiringan Saluran) (Luas Cm2) (Luas Cm2) (Luas Cm2) (Luas Cm2
) 50 60 70 80 0 - 1 (5000) (6600) (8400) (10400) 50 50 60 70 1-2 (5000) (6600) (6600) (8400)
50 50 50 50 2-5 (5000) (5000) (5000) (6600) 50 50 50 50 5-10 (5000) (5000) (5000) (5000) L =

15

PANJANG SALURAN

25. Penempatan trotoar


Fasilitas pejalan kaki berupa trotoar ditempatkan di
: a) Daerah perkotaan secara umum yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi
b) alan yang memiliki rute angkutan umum yang tetap
. c) Daerah yang memiliki aktivitas kontinyu yang tinggi, seperti misalnya jalan-jalan dipasar
dan pusat perkotaaan.
17
d) Lokasi yang memiliki kebutuhan/permintaan yang tinggi dengan periode yang pendek,
seperti misalnya stasiun-stasiun bis dan kereta api, sekolah, rumah sakit, lapangan olahraga.

e) Lokasi yang mempunyai permintaan yang tinggi untuk hari-hari tertentu, misalnya
lapangan/gelanggang olahraga, masjid.
I.Kereb
Kereb adalah penonjolan atau peninggian tepi perkerasan atau bahu jalan, terutama dimaksudkan
untuk keperluan drainase, mencegah keluarnya kendaraan dari tepi perkerasan dan memberikan
ketegasan tepi perkerasan. Kereb pada umumnya digunakan pada jalan di daerah perkotaan,
sedangkan jalan antar kota kereb hanya digunakan jika jalan tersebut direncanakan untuk
kecepatan tinggi atau melintasi perkampungan. Bagian-bagian dari kereb yang merupakan
parameter penting dan banyak diatur dalam standar ini terdiri atas alas, dinding dalam, muka,
penyambung, dan parit. Perbedaan tipe kereb didasarkan pada tinggi dan perbedaan tinggi
dinding dalam, kelandaian muka, tingkat halangan yang mungkin ditimbulkan oleh komponen
vertikal, dan ada tidaknya lubang masuk
(inlet)
untuk mengalirkan air.
26 Gambar Komponen Kereb
Berdasarkan fungsinya kereb dibedakan menjadi
: a) Kereb peninggi
(Mountable Curb),
adalah kereb yang direncanakan agar dapat didaki kendaraan, biasanya terdapat di tempat parkir
di pinggir jalan/jalur lalu lintas
(Parking on Street).
Untuk kemudahan didaki kendaraan maka kereb peninggi harus mempunyai bentuk lengkung
permukaan yang baik. Tingginya berkisar antara 10 - 15 cm
. b) Kereb penghalang
(Barrier Curb),
adalah kereb yang direncanakan untuk menghalangi atau mencegah kendaraan meninggalkan
jalur lalu lintas, terutama dimedian, trotoar, pada jalan-jalan tanpa pagar pengaman. Tingginya
berkisar antara 25 - 30 cm
. c) Kereb berparit
(Gutter Curb),
adalah kereb yang direncanakan untuk membentuk system drainase perkerasan jalan. Kereb ini
dianjurkan untuk jalan yang memerlukan system drainase perkerasan yang lebih baik. Pada jalan
lurus diletakkan di tepi luar perkerasan, sedangkan pada tikungan diletakkan pada tepi dalam.
Tingginya berkisar antara 10 - 20 cm.
18
d). Kereb penghalang berparit

(Barrier gutter Curb),


adalah kereb penghalang yang direncanakan untuk membentuk system drainase perkerasan
jalan. Tingginya berkisar antara 20 - 30 cm.

19
27. Gambar Macam-macam Kereb

Struktur kereb adalah sebagai berikut:


1. Kereb dibuat dari beton dengan mutu fc=300 MPa (sebelumnya disebut beton K300);
ketentuan dan standar yang berlaku untuk perencanaan, pemeriksaan, dan evaluasi beton
dengan mutu fc=300 MPa berlaku untuk spesifikasi ini;
2. Ukuran butir agregat maksimum 20 mm;
3. Kereb dibuat tanpa penulangan, seluruh ketentuan yang berlaku untuk persyaratan
struktur tanpa tulangan berlaku untuk spesifikasi ini;
4. Kereb tidak boleh dicor di tempat, kecuali untuk kereb yang dipasang pada suatu tepian
jalan membentuk kurva dengan diameter < 2000 mm. Konfigurasi kereb bersangkutan
dengan tipe, bentuk, dan dimensi kereb harus diatur secara optimum, sehingga rangkaian
kereb dapat berfungsi:
5. 1.Sebagai pembatas tepian badan jalan agar dapat memudahkan pengemudi untuk
mengidentifikasi jalur lalu lintas
6. . 2. Sebagai pembatas dan fasilitas pejalan kaki untuk melindungi agar perjalan kaki tidak
tertabrak oleh kendaraan yang mengalami lepas kendali.
7. 3.Sebagai bagian dari sistem drainase untuk mengalirkan air permukaan sehingga
perkerasan jalan terbebas dari genangan
8. . 4.Sebagai elemen estetika dari jalan sehingga harmonis dengan lingkungan disekitarnya.

20
32 Keterangan :

a. Perkerasan
b. Lajur maksimum 3,5 meter
c. Bahu min 1 meter
d. Saluran Drainase 1 meter
e. Jalur hijau 1 meter
f. Jalur pejalan kaki 1.5 meter
g. Sempadan bangunan minimum 10.5 meter
h. Damaja
i. Damija
j. Dawasja
k. Damaja > 5 meter di atas sumbu jalan
l.. Damaja > 1.5 meter di bawah sumbu jalan
m Infrastruktur lain (kabel, saluran air kotor dsb)
Sistem Drainase
Tipe sistem drainase ditentukan berdasarkan tingkat pelayanan saluran drainase dalam fungsinya
sebagai sarana dalam penyaluran air hujan yang jatuh di dalam kawasan permukiman.
Sistem drainase permukaan pada konstruksi jalan raya pada umumnya berfungsi sebagai berikut:
a) Mengalirkan air hujan/air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan selanjutnya
dialirkan lewat saluran samping; menuju saluran pembuang akhir.
b) b)Mencegah aliran air yang berasal dari daerah pengaliran disekitar jalan masuk ke daerah
perkerasan jalan.
c) c)Mencegah kerusakan lingkungan di sekitar jalan akibat aliran air. Tipe sistem drainase,
dimensi, fungsi dan penempatannya dapat dilihat pada tabel.
33 Tabel Sistem drainase permukiman hubungannya dengan fungsi dan penempatannya
Catatan :
Definisi Tidak Terpadu : Saluran drainase yang mengikuti sistem jaringan jalan dan berfungsi
sebagai saluran yang menyalurkan air hujan yang jatuh di DAMAJA, bukan sebagai saluran
primer drainase permukiman.
Definisi Terpadu : Saluran drainase yang mengikuti sistem jaringan jalan dan berfungsi sebagai
saluran yang menyalurkan air hujan yang jatuh di DAMAJA dan yang jatuh di seluruh kawasan
permukiman.
Keterangan:
a. Perkerasan jalan
b . Bahu jalan
c. Saluran drainase.
21

22

34. Tabel Fasilitas pendukung, perlengkapan jalan, angkutan umum dan klasifikasi

jalan
Catatan;
: a. Rambu dapat berupa : rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah, rambu petunjuk.
b. Marka jalan terdiri dari : marka membujur, marka melintang, marka serong, marka
lambang, marka lainnya.
c .Alat pengendali dan pengaman pemakai jalan:
- Pengendali : alat pembatas kecepatan, alat pembatas tinggi dan lebar kendaraan
- Pengaman : pagar pengamanan, cermin tikungan, delineator, pulau lalu lintas, pita
penggaduh
d. Fasilitas pendukung:
- fasilitas pejalan kaki
- parkir pada badan jalan
- halte
- tempat istirahat pejalan kaki
- penerangan jalan

24

BAB III
PENUTUP
1.Kesimpulan
Jalan adalah serangkaian simpul atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas
hingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas
dan angkutan jalan. Ditetapkannya klasifikasi dan spesifikasi jalan raya untuk memberikan
kejelasan mengenai tingkat kepadatan lalu lintas. Klasifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat
dibedakan menurut fungsi pelayanannya, menurut kelas jalan, menurut keadaan topografi,
penggolongan layanan administrasi dan menurut jenis-jenis jalan raya. Klasifikasi dan spesifikasi
tersebut sangat berguna dan dapat memberikan kejelasan mengenai tingkat kepadatan lalu lintas
yang perlu dilayani oleh setiap bagian-bagian jalan.
Penampang melintang jalan merupakan potongan melintang secara tegak lurus dengan sumbu
jalan. Dari potongan melintang jalan dapat dilihat dan diketahui bagian-bagian dari jalan,
diantaranya :
a. Jalur Lalu Lintas
b.Bahu Jalan
c.Saluran Samping
d. Talud
e. Median
f. Trotoar
g. Pengaman Tepi
h. Daerah Manfaat Jalan
i. Daerah Milik Jalan
j. Daerah Pengawasan Jalan
k. Sistem Drainase

2.Saran
Perencanaa jalan raya hendaknya selalu memenuhi syarat teknis perencanaan jalan raya. Karena
kemanan untuk kendaraan dan kenyamanan penumpang sangatlah penting. Jalan raya sebagai
sarana pembangunan dan pembantu pengembang wilayah adalah penting sekali maka dari itu
lalu lintas diatas jalan raya harus terselenggara secara lancar dan aman sehingga pengangkutan
berjalan dengan cepat, aman, tepat, efisien, dan ekonomis. Untuk itu jalan raya harus memenuhi
syarat-syarat teknis dan ekonomis menurut fungsinya dan volume serta sifat lalu lintas.
25

D FTAR PUSTKA

Agus, Supratman. 2002


. Geometrik Jalan Raya.
Teknik Sipil FPTK UPI. Sugondo, Soetrisno. 1976. Bahan Kuliah Perencanaan Geometri Jalan,
Pasca Sarjana Jalan Raya PUTL-ITB. Hendryanto, Notosoegondo (November, 2007): "Standar
Jalan dan Jembatan untuk Keselamatan Transportasi Darat". Makalah disajikan pada Konferensi
Nasional Badan Standarisasi Nasional, BSN, di Jakarta. Iskandar, Hikmat.
Klasifikasi Jalan Sesuai Regulasi.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan Dan Jembatan Badan Penelitian dan Pengembangan,
Departemen Pekerjaan Umum. Dalimin, 1979.
Pelaksanaan Pembangunan Jalan
. Lestari Sukirman, Silvia. 1990. Diktat Kuliah Jurusan Teknik Sipil UKM dan Itenas,
Perencanaan Geometri. Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 1993 (PP 43/1993), tentang
Prasarana dan Lalu- lintas Jalan Peraturan pemerintah nomor 34 tahun 2006 (PP 34/2006),
tentang Jalan.