Anda di halaman 1dari 14

ACARA IV

TEKNIK PENGENDALIAN IKAN SAKIT

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

: Naimatul Mubarokah
: B0A013003
: VI
:I
: Ahmad Abdurrahman

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGELOLAAN KESEHATAN


ORGANISME AKUATIK

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI DIII PENGELOLAAN SUMBERDAYA
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Budidaya perairan di era industrialisasi semakin meningkat pesat, karena
untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia dengan nilai gizi yang tinggi.
Permintaan hasil perikanan yang semakin tinggi mengakibatkan masyarakat
menerapkan sistem budidaya intensif bahkan super intensif. Intensifikasi budidaya
ikan ditandai dengan peningkatan padat penebaran. Kondisi ini tentunya akan
menimbulkan kendala, salah satunya meningkatnya peluang terserangnya
penyakit pada beberapa ikan. Penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh parasit,
jamur, bakteri, dan virus (Siti Nurjanah, 2014).
Penyakit ikan merupakan kendala penting dan umum dialami dalam
budidaya ikan. Penyakit ikan menyerang baik di tingkat perbenihan maupun di
pembesaran. Semakin luas dan semakin intensif usaha budidaya ikan, maka akan
semakin meningkat pula intensitas serangan penyakit. Penyakit terdiri atas
berbagai macam organisme yang dapat bersifat sebagai wabah dan menyerang
semua jenis dan ukuran ikan peliharaan baik di perairan tawar, payau maupun
laut. Pada umumnya penyakit tidak hanya disebabkan oleh jasad pathogen
melainkan juga oleh faktor lingkungan dan pakan. Perlu diperhatikan bahwa
semua penyebab kematian ikan adalah karena penyakit. Sehingga dalam
menangani masalah kematian ikan, tindakan penanggulangan perlu dilakukan
dengan hati-hati dan telitisehingga tidak akan menimbulkan tindakan yang salah
bahkan merugikan. Didalam melakukan penanggulangan penyakit ada beberapa
hal yang perlu dilakukan, yaitu lingkungan perairan, baik fisik, kimia dan biologi,
teknik yang akan dipakai dan sosial dan ekonomi agar tindakan yang dilakukan
menguntungkan dan diterima masyarakat (Romi Novriadi, 2010).
Ikan merupakan indikator biologis kualitas air karena mereka lebih sensitif
terhadap racun. Setiap perubahan dalam perilaku dan fisiologi ikan seperti
berenang,

reproduksi,

kerentanan

terhadap

predasi,

terganggu

respirasi,

osmoregulator gangguan dan pertumbuhan diubah menunjukkan penurunan


kualitas air. Perubahan perilaku dan fisiologis respon telah digunakan sebagai
ukuran sensitif stres sindrom dalam organisme. Menentukan konsumsi oksigen
hewan air tidak diragukan lagi tentang pengaruh racun pada fisiologi kehidupan
air (Muniswamy David, 2015).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Menyiapkan sarana dan prasarana pengendalian ikan sakit.
2. Melaksanakan penanganan pengandalian ikan sakit.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan yang dipelihara tidak akan terlepas dari gangguan atau serangan
hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit ikan biasa datang dan
menyerang ikan secara tiba-tiba tanpa diketahui sebelumnya. Hama dan penyakit
tersebut dapat mengancam kelangsungan hidup ikan dari stadia telur, larva, benih
sampai dewasa. Serangan hama dan penyakit ini dapat menyebabkan produksi
ikan menurun dan dapat menimbulkan kematian secara masal sehingga gagal
panen. Oleh karena itu, penanganan hama dan penyakit pada gurami merupakan
factor yang perlu mendapat perhatian (Irawan, 2004).
Penyakit ikan merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi oleh
para pembudidaya ikan karena berpotensi menimbulkan kerugian yang tidak
sedikit. Kerugian tersebut dapat berupa kematian ikan dan penurunan kualitas ikan
sehingga secara ekonomis akan berakibat pada penurunan harga. Timbulnya
penyakit ikan merupakan interaksi antara jasad patogen (jasad penyebab
penyakit), ikan (inang) dan lingkungan.

Penyakit yang menyerang ikan

merupakan suatu proses hubungan antara tiga factor, yaitu lingkungan, ikan dan
jasad penyakit. Ikan yang terserang jasad penyakit merupakan hasil interaksi yang
tidak serasi antara lingkungan, ikan dan organisme penyebab penyakit. Misalnya
lingkungan yang tidak sesuai (perubahan suhu yang mendadak) menyebabkan
ikan stress, sehingga ikan menjadi lemah dan mudah terserang penyakit
(Manoppo, 1995).
Apabila terjadi perubahan pada salah satu faktor maka akan terjadi ketidak
seimbangan. Hal ini akan dapat menimbulkan masah penyakit ikan. Dengan
semakin luasnya sebaran areal budidaya ikan, dan semakin majunya perdagangan
serta lalu-lintas ikan hidup, maka penyebaran penyakit ikan akan semakin cepat.
Demikian juga dengan semakin intensif sistem budidaya ikan maka akan semakin
banyak masalah penyakit ikan yang timbul. Dalam keadaan demikian maka kita
harus sudah siap dengan teknologi penanggulangan penyakit ikan yang meliputi
tehnik diagnosa cepat, teknik pencegahan penyakit dan teknik pengobatannya.
Demikian juga untuk menjaga semakin meluasnya penyebaran penyakit ikan
maka peran Karantina Ikan akan sangat berarti (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Penyebab penyakit dapat dibagi dua golongan yaitu non hayati yang
bersifat non infeksius dan hayati yang bersifat infeksius. Penyebab penyakit non
hayati terutama kualitas air yang rendah, pakan yang kurang tepat dan kelainan
genetik. Penyebab penyakit hayati ditinjau dari tingkat intensitas serangan dan
kerugian dan kesulitan pengendalian adalah virus, bakteri, protozoa, jamur dan
parasit (Romi Novriadi, 2010).
Beberapa usaha untuk menanggulangi penyakit ikan telah banyak
dilakukan. Berbagai macam bahan kimia dan antibiotika telah banyak dipakai
dalam pengobatan penyakit ikan. Pemakaian vaksin dan immunostimulan telah
mulai digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit pada ikan. Penggunaan
bakteri probiotik telah pula digunakan dalam usaha penanggulangan penyakit
pada ikan. Usaha pencegahan terhadap timbunya penyakit ikan juga telah
dilakukan dengan jalan memperbaikai kualitas air baik dengan jalan pengguanaan
filter biologi maupun dengan menggunakan proses bio-remediasi (Ghufron,
2004).
Usaha pengendalian penyakit dengan menggunakan bahan kimia dan
antibiotik telah lama dilaksanakan oleh pembudidaya ikan. Namun dengan cara ini
telah pula banyak menimbulkan masalah diantaranya berupa pencemaran
lingkungan, timbulnya organisme yang resisten terhadap bahan-bahan tersebut
serta timbulnya masalah residu pada produk perikanan (Irawan, 2004).
Obat yang digunakan pembudidaya untuk mengobati ikan sakit yaitu obat
yang beredar dipasaran. Obat tersebut mengandung berbagai macam antibiotik
dengan indikasi tertentu. Obat ikan menurut Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan (2012) yaitu sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati ikan,
membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh kutivan
budidaya. Pemakaian bahan kimia dalam jangka panjang dapat menimbulkan
dampak negatif antara lain dikhawatirkan munculnya strain-strain bakteri resisten
terhadap obat tersebut. Akumulasi bahan obat ikan di dalam tubuh kultivan
budidaya akan menimbulkan resisten bakteri pada obat tersebut. Penyebab utama
resistensi antibiotik adalah penggunaannya yang meluas dan irasional. Dosis
antibiotik yang tidak sesuai, kesalahan dalam menetapkan etiologi penyakit

sehingga menyebabkan penggunaan antibiotik menjadi tidak efektif (Siti


Nurjanah, 2014).
III.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuarium, alat timbang,
seser, pipet, alat tulis dan spuit plastik.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yang diduga
berpenyakit, bahan kimia (Kalium Permanganat, formalin, Methylen Blue,
Malachyte Green, fisca dan heart), antibiotika (amphicillin, chloramphenitol dan
terramycin) dan vitamin (C, B dan B komplek).
B. Metode
Cara kerja yang dilakukan adalah :
1. Disiapkan bahan kimia dan antibiotika yang direncanakan untuk pengobatan.
2. Ditentukan cara aplikasi pemberiannya.
3. Ikan yang diduga sakit disiapkan dengan pengangkat seser.
4. Dilakukan beberapa penanganan ikan sakit.
5. Hasil penanganan dicermati dan diulangi beberapa kali serta dicatat hasilnya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 4.1.1. Hasil Pengamatan Teknik Pengendalian Ikan Sakit
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Waktu
menit ke-1
menit ke-2
menit ke-3
menit ke-4
menit ke-5
menit ke-6
menit ke-7
menit ke-8
menit ke-9
menit ke-10
menit ke-11
menit ke-12
menit ke-13
menit ke-14
menit ke-15

Perilaku
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang ditengah dan berkoloni
Berenang ditengah dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang dipermukaan dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang ditengah dan berkoloni
Berenang tengahr dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni
Berenang dipermukaan dan berkoloni
Berenang didasar dan soliter sesaat
Berenang dipermukaan dan berkoloni
Berenang didasar dan berkoloni

Hasil Pengamatan Teknik Pengendalian Ikan Sakit adalah :


Jenis
: Kalium Permanganat (PK).
Dosis
: 0,5 ppm.
Pengenceran : 10 L
Tindakan
: Perendaman.
Perhitungan :
Vair = 10 L.
Dosis = 0,5 ppm.
Bahan kimia yang dibutuhkan = Vair x dosis
= 10 L x 0,5 ppm
= 5 mg
= 0,5 gram.

Gambar. 4.1.1. Ikan direndam Kalium Permanganat

B. Pembahasan
Menurut Manoppo (1995), menyatakan bahwa terdapat beberapa teknik
untuk mengendalikan serangan penyakit ikan, antara lain :
a. Pembersihan kolam
Pembersihan (dekontaminasi) kolam dimaksudkan untuk membersihkan
organisme parasit, virus, jamur, bakteri dan hama yang terdapat didalamnya.
Dekontaminasi dilakukan dengan pengeringan/penjemuran kolam atau dengan
menggunakan bahan kimia telah umum diterapkan. Bahan kimia yang sering
digunakan adalah kalium permanganat (PK) dan methylene blue (MB).
b. Pembersihan peralatan

Dalam melakukan aktivitas budidaya ikan, pembudidaya menggunakan


berbagai peralatan sebagai alat bantu, seperti seser, baskom, ember, kantong
plastik dan lain-lain. Peralatan ini sering digunakan oleh organisme lain sebagai
media untuk menimbulkan penyakit. Untuk mencegah timbulnya serangan
penyakit, semua peralatan yang akan atau telah digunakan segera dibersihkan agar
kolam dan organisme penyebab penyakit yang menempel pada alat tersebut dapat
dihilangkan. Peralatan tersebut dapat dibersihkan dengan mencelupkannya pada
larutan PK dosis rendah sekitar 3-20 ppm selama 30 menit. Pembersihan alat juga
dapat dilakukan dengan menggunakan chlorin.
c. Pembersihan ikan peliharaan
Pembersihan ikan dapat dilakukan dengan sistem karantina. Caranya,
dengan memelihara ikan-ikan tersebut dalam wadah khusus selama waktu
tertentu. Dengan cara ini, dapat diketahui apakah ikan tersebut bersih atau
mengandung jenis organisme tertentu yang mampu menyebabkan penyakit
sehingga dapat segera diambil langkah pengamanannya. Cara lainnya adalah
dengan membersihkan benih sebelum ditebar ke kolam. Benih yang telah
diperoleh terlebih dahulu disucihamakan sebelum ditebar ke dalam kolam
terpal dengan menggunakan larutan kalium permanganat (PK) sebanyak 4
mg/liter air selama 30 menit atau dapat pula direndam dalam air garam dapur
sebanyak 10 mg/liter air selama 15-30 menit.

d. Meningkatkan kekebalan ikan


Teknik lain untuk mencegah serangan penyakit pada ikan adalah
meningkatkan kekebalan (imunitas) pada ikan. Salah satu caranya adalah
melakukan imunisasi, yaitu penyuntikan antibodi ke dalam tubuh ikan untuk
mendapatkan kekebalan (imun) terhadap infeksi penyakit. Peningkatan kekebalan
tubuh ikan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi, yaitu menyuntikkan vaksin
tertentu ke tubuh ikan. Selain penyuntikan, pemberian vaksin juga dapat
dilakukan dengan teknik perendaman, pencelupan, penyemprotan atau melalui
pakan. Vaksin adalah suatu antigen yang digunakan untuk memvaksinasi ikan
terbuat dari organisme penyakit yang telah dilemahkan dengan menggunakan
senyawa kimia tertentu.

Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering


digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri
terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan
ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies
ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini. Bahan ini diketahui efektif
mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur. Meskipun demikian,
penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya
hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu, harus
dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK secara umum akan
meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin. Potasium permanganat
tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet (Sarig, 1997).
Kalium permanganat merupakan alkali kaustik yang akan tersdisosiasi
dalam air membentuk ion permanganat dan juga mangan oksida bersamaan
dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh karena itu, efek utama
bahan ini adalah sebagai oksidator. Kalium permanganat juga merupakan bahan
aktif beracun yang mampu membunuh berbagai parasit dengan merusak dindingdinding sel mereka melalui proses oksidasi. Mangan oksida membentuk kompleks
protein pada permukaan epithelium, sehingga menyebabkan warna coklat pada
ikan dan sirip, juga membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit
ikan yang akhirnya menyebabkan mereka mati. Kalium permangat dapat
membunuh Saprolegnia, Costia, Chilodinella, Ich, Trichodina, Gyrodactylus dan
Dactylogyrus, Argulus, Piscicola, Lernea, Columnaris dan bakteri lainnya seperti
Edwardsiella, Aeromonas, Pseudomonas, plus Algae dan Ambiphrya. Meskipun
demikian Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon apabila PK
digunakan dalam perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90 menit). Begitu
pula dengan Costia dan Chilodinella, dilaporkan resiten terhadap PK, kecuali
apabila PK digunakan sebagai terapi perendaman (Sarig, 1997).
Kalium permangat sebagai terapi perendaman bersifat sangat kaustik, hal
ini dapat menyebabkan penggumpalan nekrosis (ditandai dengan memutihnya
jaringan yang mati) pada sirip. Kerusakan insang juga dapat terjadi, sehingga
dapat menyebabkan kematian pada ikan beberapa minggu kemudian setelah
dilakukan terapi perendaman. Ikan mas koki, diketahui lebih sensitif terhadap PK

sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan spesies lainnya. Dengan alasanalasan seperti itu, maka sering tidak direkomendasikan untuk menggunakan PK
sebagai terapi perendaman, dan juga karena efek terapeutiknya tidak lebih baik
dibandingakan dengan terapi terus-menerus dengan dosis 2 - 4 ppm. Beberapa
khasiat lain dari Kalium permangat yang dilaporkan diantaranya adalah sebagai
disinfektan luka, dapat mengurangi aeromanoas (hingga 99%) dan bakteri gram
negatif lainnya, dapat membunuh Saprolegnia yang umum dijumpai sebagai
infeksi sekunder pada Ulcer, dan tentu saja sebagai oksidator yang akan
mengkosidasi bahan organik (Sarig, 1997).
Kegiatan pengendalian penyakit viral dilakukan dengan mengaplikasikan
pemberian vitamin C, multivitamin dan mineral untuk meningkatkan dan menjaga
daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit. Pemberian vitamin C, multivitamin dan
mineral dilakukan secara oral, yaitu melalui pemberian pakan dengan cara
dicampurkan kepada pakan/pellet ikan menggunakan perekat tertentu. Secara
umum perekat yang biasa digunakan adalah telur ayam atau minyak goreng. Dosis
vitamin C yang diberikan secara umum adalah 500mg/kg pakan yang diberikan
berturut-turut selama dua minggu. Aplikasi dosis disesuaikan dengan petunjuk
pada label kemasan. Pemberian vitamin diprioritaskan pada masa-masa rentan
serangan penyakit di kolam pemeliharaan di unit kolam air deras (Sarig, 1997).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil pengamatan
pada ikan nilem dengan perendaman menggunakan kalium permanganat (PK)
adalah ikan tetap hidup. Pada menit ke-1 sampai menit ke-12 ikan berenang secara
berkelompok (koloni), berenang stabil di dasar, tengah dan permukaan air. Pada
menit ke-13 ikan berenang di dasar dengan soliter. Pada menit ke-14 dan menit
ke-15 ikan kembali berenang dengan stabil dan berkoloni. Hal ini sesuai dengan
literatur dari Sarig (1997), yang menyatakan bahwa ikan lebih sensitif terhadap
PK sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan pengobatan lainnya. Kalium
permanganat juga merupakan bahan aktif beracun yang mampu membunuh
berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka melalui proses
oksidasi. Mangan oksida membentuk kompleks protein pada permukaan
epithelium, sehingga menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga

membentuk kompleks protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya
menyebabkan mereka mati.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Sarana dan prasarana pengendalian ikan sakit yang harus disiapkan adalah
sumber dan pengelolaan air, sarana isolasi, sarana pemeliharaan dan sarana
pengobatan.
2. Penanganan pengendalian ikan sakit dilakukan dengan cara perendaman
menggunakan bahan kimia sesuai dengan takaran dosis yang tepat.

DAFTAR REFERENSI
Afrianto, E., E. Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit
Kanisius. Jakarta.
David, M., Jeyabalan Sangeetha, Etigemane Harish. 2013. Sodium Cyanide
Induced Alteration in the Whole Animal Oxygen Consumption and
Behavioural pattern of Freshwater fish Labeo rohita. Department of Studies
in Zoology, Kamatak University. Dharwad.
Ghufran. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka Cipta.
Yogyakarta.
Irawan. 2004. Menanggulangi Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit PT. Aneka. Solo.
Manoppo. 1995. Parasit dan Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan, UNSRAT.
Manado.
Novriadi, R., 2010. Monitoring pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan di
Wilayah Pulau Melur, Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang- Kota
Batam. Balai Budidaya Laut Batam. Batam.
Nurjanah, S., Slamet Budi Prayitno, Sarjito. 2014. SENSITIVITAS BAKTERI
Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. YANG DIISOLASI PADA IKAN
MAS (Cyprinus carpio) SAKIT TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT
BEREDAR. Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Diponegoro. Semarang.
Sarig, S. 1971. Diseases of Warmwater Fishes. TFH Publ., Neptune City. New
Jersey.