Anda di halaman 1dari 11

Scabies

Yohana Anggreini Inangele


102011380
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat
email : renysayangpapa@yahoo.com

Pendahuluan
Penyakit scabies merupakan suatu jenis penyakit yang sering ditemukan di negara tropis,
seperti Indonesia. Nama yang sering kita dengar di masyarakat untuk penyakit ini adalah kudis.
Secara umum penyakit kulit di Indonesia prevalensinya masih tinggi. Penyakit kulit menempati
jenis penyakit ketiga yang paling sering ditemukan kasusnya setelah penyakit saluran pernapasan
dan saluran pencernaan. Oleh karena itu belajar tentang penyakit kulit merupakan hal yang penting
bagi seorang calon dokter. Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang salah satu jenis
penyakit kulit yang jamak ditemukan di masyarakat yaitu scabies.
Harapan penulis makalah ini dapat digunakan sebagai suatu pedoman bagi para calon dokter bila di
kemudian hari mengalami kasus seperti ini dalam praktek kedokterannya.

Pembahasan
Anamnesis
Pada kasus yang kita bahas kali ini seorang anak berumur 9 tahun di bawa ibunya ke
poliklinik dengan keluhan gatal terutama pada sela jari sejak 1 minggu yang lalu. Gejalanya
terutama pada malam hari, dan anak tersebut tinggal di asrama.
Pada scabies biasanya pasien datang dengan keluhan gatal-gatal. Yang perlu kita tanyakan
pada skabies adalah waktu terjadinya gatal-gatal. Umumnya pada pasien skabies rasa gatal
memuncak pada waktu malam sehingga mengganggu tidurnya. Kemudian setelah itu perhatikan
riwayat kontak dengan orang lain. Skabies merupakan penyakit yang menyerang manusia secara
kelompok. Tanyakan pada pasien apakah orang-orang yang tinggal bersamanya juga mengalami hal
yang sama. Kontak personal yang dekat selama setidaknya 15 menit dengan individu yang
menderita skabies dapat menyebabkan terjadinya penularan. Biasanya gejala klinik akan muncul 2
minggu setelah terjadi kontak.1
Kemudian perhatikan tempat predileksinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menanyakan pada
pasien secara langsung maupun pada pemeriksaan fisik. Umumnya daerah yang sering terkena
infestasi parasit ini adalah sela jari tangan dan kaki, lutut, perut, genitalia, dan pantat. Pada bayi

dapat mengenai seluruh daerah kulit. Gambaran yang timbul umumnya polimorf akan dibahas lebih
lanjut pada pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang kita perlu lihat adalah tempat predileksi skabies. Umumnya pada
sela jari dan kaki hingga telapaknya. Gambaran timbul sebagai akibat sensitasi terhadap sekret
tungau yaitu menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, dan urtika. Keluhan gatal
sering menyebabkan pasien menggaruk daerah tersebut sehingga dapat timbul lesi sekunder seperti
erosi dan ekskoriasi. Bila telah mengering biasanya terlihat sebagai krusta. Selain itu perhatikan
apakah timbul infeksi sekunder seperti folikulitis, furunkulosis dan pustula. Seringkali infeksi
sekunder ini dapat mempersulit diagnosis. Infeksi sekunder ini dapat dipergunakan sebagai
diagnosis banding dari penyakit ini. Pada orang yang imunocompromised dapat timbul bentuk
skabies norwegia yang lesinya lebih parah. Umumnya krusta akan lebih jelas dan luas terlihat.1
Bila diperhatikan secara seksama dengan menggunakan kaca pembesar maka akan terlihat adanya
gambaran seperti terowongan di bawah permukaan kulit penderita skabies.1

Pemeriksaan Penunjang
Pembantu diagnosis yang paling baik adalah menemukan Sarcoptes scabei yang menyebabkan
terjadinya penyakit skabies. Sebelum menemukan tungau penyebab penyakit ini, maka harus
ditemukan terowongan tempat tungau ini berjalan dalam stratum korneum. Cara mengetahui adanya
terowongan adalah dengan melakukan tes tinta terowongan.2
Tes tinta terowongan dilakukan dengan menggosok tinta pada papula yang timbul pada kulit
kemudian didiamkan setelah 30 menit. Setelah itu tinta yang ada pada permukaan kulit dihapus
dengan kapas alkohol. Apabila terlihat gambaran zig-zag pada permukaan kulit, berarti tinta masuk
ke daerah yang kosong pada lapisan kulit dibawahnya. Hal ini menunjukan kemungkinan adanya
terowongan yang dibuat oleh tungau penyebab skabies.
Bila tes tinta terowongan ini positif, maka untuk lebih memastikan diagnosis adalah dengan
ditemukannya Sarcoptes scabiei. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan
tungau ini, yaitu:
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel
dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas kaca objek kemudian ditutup dan dilihat
dibawah mikroskop cahaya.
2. Menyikat dengan sikat dan ditampung pada selembar keras putih kemudian dilihat pada kaca
pembesar.

3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya dengan menjepit lesi dengan 2 jari kemudian dibuat
irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya.
4. Dengan biopsi eksisi kemudian diperiksa dengan pewarnaan H.E.
Bila diperiksa dengan mikroskop cahaya akan didapatkan gambaran tungau penyebab skabies.
Morfologi tungau tersebut akan dibahas pada bagian etiologi.2

Work Diagnosis
Scabies
Dari hasil Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka dapat di diagnosis
bahwa anak tersebut menderita penyakit scabies.
Scabies merupakan penyakit kulit akibat infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit skabies ini
merupakan penyakit yang umum ditemukan di daerah tropik dan subtropik. Diagnosis penyakit ini
ditegakkan dengan empat tanda utama, yaitu:
1. Pruritus nokturna, yaitu rasa gatal pada malam hari yang disebabkan karena peningkatan
aktivitas tungau ini pada suhu yang lebih lembab dan panas. Reaksi gatal yang timbul biasanya
disebabkan oleh adanya hipersensitivitas tubuh terhadap tungau skabies dewasa. Pruritus yang
terjadi dapat menyebabkan impeginisasi. Vesikel dan bula yang muncul merupakan gejala
klinis lainnya. Selain itu rasa gatal ini tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan salep
kortikosteroid. Karena salep tersebut tidak mampu menghilangkan penyebabnya yang
merupakan parasit.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga yang
terkena infeksi. Selain itu biasanya daerah yang padat seperti penjara maupun asrama dimana
banyak manusia yang tinggal bersama. Pada keadaan ini timbul hiposensitisasi, dimana seluruh
anggota keluarga terkena infestasi tungau namun minim gejala klinis. Penderita ini bersifat
sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi. Warnanya bisa putih maupun keabuabuan, berbentuk garis lurus maupun berkelok dengan panjang 1 cm. Pada ujung terowongan
biasanya ditemukan papul maupun vesikel.
4. Menemukan tungau yang biasanya ditemukan pada ujung terowongan. Merupakan hal yang
paling diagnostik dan bentuk tungau yang ditemukan bisa dalam berbagai stadium.1,3
Selain itu tempat predileksi skabies pada manusia dewasa ialah daerah tangan, lipatan siku,
lipatan ketiak, perut, daerah genitalia, bokong, lutut hingga kaki.
Gambaran eflorensi yang dapat terlihat adalah eflorensi primer dan sekunder. Jenis eflorensi
primer yang dapat terlihat adalah:

Vesikel : merupakan gelembung yang berisi cairan serum, beratap, berukuran kurang dari
cm garis tengah dan mempunyai dasar.

Nodul : masa pada sirkumskrip yang terletak kutan atau subkutan, dapat menonjol dengan
diameter yang lebih besar dari 1 cm. Bila diameter kurang dari 1 cm disebut sebagai
nodulus.

Papul : Penonjolan zat padat berukuran kurang dari cm dan berisikan zat padat.

Selain itu dapat timbul bentuk eflorensi sekunder, yaitu:

Krusta : merupakan cairan badan yang mengering dan dapat bercampur dengan jaringan
nekrotik maupun benda asing lainnya.

Erosi : ialah hilangnya jaringan yang tidak melampaui stratum basale. Biasanya hanya
akan terdapat serum tanpa darah.

Ekskoriasi : ialah hilangnya jaringan sampai ujung papila dermis sehingga terdapat darah
dan serum.

Bentuk yang khas pada skabies selain efloresensi diatas adalah adanya semacam liang atau
terowongan yang berwana lebih gelap dari warna kulit penderita dengan panjang 0,5 sampai 1
cm. Biasanya terowongan ini bisa terlihat berkelok-kelok maupun lurus dan pada ujung
terowongan akan ditemukan vesikel dan papula.3
Etiologi
Penyebab skabies adalah Sarcoptes scabiei varietas homonis. Kutu ini bukanlah serangga dari
golongan insekta melainkan tungau dari Familia Sarcoptidae yang memiliki empat pasang kaki
(bukan tiga pasang seperti pada golongan insekta) sehingga lebih dekat dengan keluarga
sengkenit. Kutu ini ditularkan dengan hubungan kontak langsung pada kulit termasuk ketika
berhubungan seks.3,4

Gambar 1: Sarcoptes scabiei


Diunduh dari : http://www.bayeranimal.com.au/default.aspx?page=99

Yang menimbulkan skabies pada manusia adalah jenis yang betina. Hal ini dikarenakan yang
jantan mati setelah kopulasi. Bentuk parasit skabies bulat 0,3-0,4 mm dengan 4 pasang kaki, 2
pasang terletak di depan dan 2 pasang kaki lainnya di belakang.
Segera setelah kopulasi, betina akan menggali lubang ke stratum korneum membentuk
terowongan yang berkelok-kelok dan terlihat keabu-abuan. Terowongan ini digunakan sebagai
tempat tinggal dan bertelur oleh spesies yang betina. 2-3 butir telur dihasilkan dalam satu hari.
Untuk nutrisinya, betina akan memakan cairan sel yang ada disekitarnya sambil terus membangun
terowongan untuk meletakkan telur. Telur menetas 3-4 hari kemudian menjadi larva yang berkaki
tiga. Larva kemudian akan membutuhkan waktu 3 hari untuk menjadi nimfa dan 3 hari kemudian
menjadi bentuk dewasa. Total siklus ini memakan waktu 2 minggu.
Pada hewan juga bisa terdapat infestasi tungau skabies. Skabies hewan menyerang berbagai
jenis hewan mamalia, seperti kambing, sapi, domba, kerbau, babi dan kelinci. Kutu ini bersifat host
spesific artinya ia hanya memilih hewan tertentu saja. Infeksi silang antara hewan dan manusia
pernah dilaporkan kasusnya. Namun, jika sampai terjadi infeksi, umumnya kutu hewan ini tidak
akan berkembang lebih lanjut dan akan mati dengan sendirinya.4

Epidemiologi
Di Indonesia sendiri awalnya ada kecenderungan penurunan angka penderita skabies.
Namun pada beberapa dasawarsa terakhir angkanya kembali meningkat. Peningkatan angka ini
dianggap oleh sebagian ahli sebagai akibat dari meningkatnya hubungan seksual bebas dan
berganti-ganti pasangan, sanitasi lingkungan yang buruk serta malnutrisi serta menurunnya daya
tahan tubuh pada penderita HIV/AIDS. Selain itu urbanisasi, tingginya mobilisasi pergerakan dan
kepindahan penduduk juga dianggap sebagai penyebabnya. Faktor bencana alam dan peperangan
yang menyebabkan penduduk harus tinggal bersama di pengungsian juga mempermudah terjadinya
penularan skabies.3 Semua golongan umur dapat terkena skabies. Namun penyakit ini cenderung
lebih rentan pada anak-anak dan orang tua.3

Patogenesis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit
yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh
sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah
infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.5

Cara penularan

Penyakit scabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. Yang
paling sering adalah kontak langsung dan erat atau dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur,
handuk, dan pakaian. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara
penderita dengan orang yang sehat.1

Gambar 2 Scabies di unduh dari : https://www.google.com/search?q=scabies&hl

Diagnosis Diferensial
Penyakit skabies merupakan penyakit dengan banyak diagnosis banding. Hal ini disebabkan
karena skabies memiliki keluhan gatal yang banyak terjadi pada penyakit lainnya. Adapun diagnosis
banding skabies antara lain:
Prurigo
Merupakan suatu bentuk erupsi papular yang kronik dan rekurens. Selain papul juga kerap
timbul vesikel yang dapat menjadi lesi sekunder seperti krusta, erosi dan ekskoriasi. Lesi yang
ditemukan hampir menyerupai lesi yang ditemukan pada skabies. Prurigo sering ditemukan
pada bayi akibat reaksi hipersensitivitas terhadap gigitan kutu loncat, nyamuk, agas dan
kepiting. Prurigo juga cenderung muncul dalam bentuk kelompok papula pada malam hari dan
menetap selama kurang lebih 2 minggu.4
Perbedaan prurigo dan skabies bisa dilihat dari tempat predileksi. Prurigo cenderung ada di
daerah badan dan ekstensor ekstremitas, dapat pula mengenai muka dan kulit kepala yang
berambut. Selain itu jika skabies sering ditemukan pada segala jenis usia, maka prurigo paling
sering ditemukan pada anak bayi.

gambar 3. Prurigo di unduh dari :


Ptiriasis rosea

Ptiriasis rosea merupakan suatu penyakit kulit akut dan bersifat swasirna. Lesi inisial :
sebuah plak tipis oval erimatosa dengan skuama halus koleret pada batang tubuh (herald
patch) dan diikuti oleh sejumlah lesi serupa yang lebih kecil. Penyakit ini kemungkinan
besar sebagai viral exanthem yang berkaitan dengan reaktivasi human herpesvirus 7 (HHV7) dan HHV-6. Gejala klinik nya mulai dengan satu lesi di tubuh, bebrapa hari sampe
beberapa minggu muncul banyak lesi serupa yang lebih kecil, bisa di sertai gatal ataupun
tidak, bisa flu-like symptoms, skuama koleret di tepi plak. Erupsi primer herald patch 24cm, oval, erimatosa gelap. Erupsi sekunder timbul dalam waktu 2 minggu, lesi sekunder
banyak terdapat di tubuh dan ekstremitas proximal.

Gambar 4. Ptiriasis rosea


Pediculosis corporis
Pedikulosis adalah penyakit kulit menular akibat infestasi pediculus (tuma), sejenis kutu
yang hidup dari darah manusia, pada rambut kepala & kemaluan atau baju, memberi
keluhan gatal akibat gigitannya. Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa terutama
pada orang dengan higiene yang buruk, misalnya penggembala, disebabkan mereka jarang
mandi atau jarang mengganti dan mencuci pakaian. Maka itu penyakit ini sering disebut
penyakit vagabound. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat
kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah.
Penyebaran penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin
karena orang memakai baju yang tebal serta jarang dicuci. Cara penularan dapat melalui
pakaian maupun kontak langsung. Umumnya ditemukan kelainan berupa bekas-bekas
garukan pada badan karena gatal baru berkurang dengan garukan yang lebih intensif.
Kadang-kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

Gambar 5. Pediculosis corporis


Dermatitis dishidrosis/pompholix

Dermatitis dishidrosis meruapakan dermatitis vesicular palmoplantar yang bersifat rekuren


atau kronik, di mana etiologinya belum di ketahui secara pasti. Dermatitis dishidrosis di
sebut juga pompholyx, yang di ambil dari istilah Yunani cheiropompholyx yang artinya
tangan dan gelembung. Gejala klinis berupa keluhan gatal-gatal (pruritus) disertai
munculnya vesikel/bula secara mendadak di telapak tangan dan kaki. Biasanya rasa nyeri
dan gatal itu muncul sebelum munculnya vesikel. Bebrapa faktor yang digali dari anamnesis
dapat terkait dengan dermatitis dishidrosis, antara lain stress emosional, riwayat atopic diri
sendiri atau keluarga, pajanan terhadap antigen tertentu (seperti kobalt, nikel, balsam, krom,
dll) riwayat pengobatan dengan terapi immunoglobulin intrvena, atau riwayat penyakit HIV.

Gambar 6. Dermatitis dishidrosis

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan meliputi cara medika mentosa dan non-medika mentosa.
Medika mentosa
Obat yang sering digunakan dalam penanganan skabies adalah obat yang berbentuk
topikal. Ada beberapa jenis obat yang dapat kita gunakan, antara lain:
1. Permetrin, digunakan dengan kadar 5%. Cara kerja krim ini adalah mempengaruhi
aliran kanal natrium yang akan menyebabkan depolarisasi, paralisis dan kematian
parasit. Krim ini sangat efektif untuk semua stadium namun bersifat toksik. Oleh
karena itu biasanya digunakan malam hari sebelum tidur dan harus dicuci setelah
bangun tidur. Karena sifatnya yang toksik, permetrin dikontraindikasikan terhadap ibu
hamil dan bayi. Permetrin adalah first line dalam pengobatan untuk skabies.
Permetrin hanya digunakan dalam dosis tunggal karena sifatnya yang toksik. Jika
belum sembuh maka dapat digunakan lagi satu minggu setelah pemakaian yang
pertama kali.6
2. Malathion, merupakan second line skabies tersedia dalam bentuk lotion dengan kadar
0,5 %. Seperti permetrin, malathion juga digunakan sebelum tidur dan harus dicuci
setelah bangun tidur.

3. Ivermektin, dosisnya sebesar 200 g/kg. Obat ini digunakan untuk pasien dengan
penurunan status imun yang mengalami skabies. Contohnya ialah pada penderita
HIV/AIDS. Obat ini tidak dapat digunakan pada wanita hamil dan anak dengan berat
badan dibawah 15 kg.
4. Belerang endap (sulfur presipitat) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep dan krim.
Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur sehingga penggunaan minimalnya
adalah 3 hari, yaitu waktu yang dibutuhkan telur untuk menetas menjadi larva.
Kekurangannya berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan
iritasi. Obat ini dapat digunakan pada anak usia dibawah 2 tahun. Kombinasi yang
sering kita temukan di pasaran ialah acidum salicylicum % dan sulfur precipitatum 4%
yang dikenal sebagai salep 2-4.6
5. Benzil benzoat, tersedia dalam bentuk emulsi dengan kadar 20-25% dan efektif
terhadap semua stadium. Diberikan secara topikal setiap malam sebelum tidur selama
tiga hari.
6. Gama Benzena Heksa Klorida (Gammexane) dengan kadar 1%, tersedia dalam bentuk
krim atau lotio. Termasuk obat pilihan yang efektif terhadap semua stadium, mudah
digunakan dan jarang memberi iritasi. Obat ini juga tidak dianjurkan untuk anak
berusia dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena bersifat toksik terhadap sistem saraf
pusat.
7. Krotamiton, tersedia dalam bentuk krim atau lotio dalam kadar 10%. Mempunyai efek
antiskabies dan anti gatal. Penggunaannya harus dijauhkan dari daerah mata, mulut
dan uretra.
8. Doxepin, digunakan sebagai anti-pruritus. Bentuk sediaannya ialah krim dengan kadar
5%. Doxepin bekerja sebagai antihistamin baik pada reseptor H1 maupun H2. Hindari
penggunaan Doxepin untuk penderita narrow-angle glaucoma dan retensi urin.6
Perlu diperhatikan juga, bahwa dapat timbul resistensi dari parasit ini ini. Sehingga bila
dicurigai terjadi resistensi terhadap insektisida, maka dapat pengobatan dapat dilanjutkan
dengan mengganti obat yang kelas insektisidanya berbeda dengan obat pertama.
Non Medika mentosa
Ada beberapa penatalaksanaan non medika-mentosa yang dapat kita lakukan, yaitu:
1. Mandi berendam dalam waktu yang cukup lama dalam air hangat. Parasit ini tetap
memerlukan oksigen, sehingga bila terendam dalam air dalam jangka waktu lama
parasit akan mati akibat kurang oksigen.

2. Mencuci serta mengganti pakaian dalam, handuk dan seprai. Parasit mungkin berdiam
sementara di pakaian penderita sehingga mencuci dengan baik dan mengganti pakaian
secara teratur dapat membantu usaha pemberantasan skabies.
3. Hindari kontak dengan orang terdekat yang belum terkena skabies. Sebaiknya hal ini
dilakukan agar skabies tidak menyebar.2
Harus pula diingat bahwa penyakit ini menular dalam manusia secara kelompok sehingga
sangat penting bagi kita untuk menanyakan apakah ada keluarga maupun kerabat pasien
yang tinggal di dekatnya yang memiliki keluhan yang sam dengan pasien. Bila ada maka
harus dengan segera kita tangani.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah akibat infeksi sekunder. Jenis-jenis infeksi
sekunder yang terjadi adalah folikulitis serta furunkolosis. Folikulitis ialah pioderma yang
terjadi pada folikel rambut. Umumnya bakteri yang menyebabkan folikulitis ialah
Staphylococcus aureus. Bakteri ini masuk melalui lapisan kulit yang tidak utuh akibat infestasi
tungau skabies. Proses peradangan yang terjadi dapat menyebabkan timbulnya pustula,
furunkel dan karbunkel. Yang dimaksud dengan furunkel ialah abses akut pada lebih dari satu
folikel rambut akibat bakteri tersebut. Kumpulan dari beberapa furunkel disebut sebagai
karbunkel.1
Penggunaan obat kortikosteroid sebagai anti-pruritus tanpa kombinasi dengan insektisida lain
dapat menyebabkan pasien tidak menggaruk kulitnya sehingga pada akhirnya jumlah tungau
bertambah banyak. Hal ini dapat menimbulkan skabies berat. Selengkapnya tentang skabies
berat telah dibahas di bagian diagnosis kerja dan gejala klinik.5

Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan ialah menjaga kebersihan pribadi. Hal ini dapat dilakukan
dengan mandi secar teratur dan bersih, mengganti seprai dan pakaian secara teratur dan
menghindari penggunaan pakaian dan handuk secara bersama-sama.
Selain itu bila ada anggota keluarga maupun kerabat yang terkena skabies, sebaiknya individu
yang belum terkena menghindari kontak personal yang dekat dengannya sehingga menurunkan
penularan skabies tersebut.3

Prognosis
Secara umum baik bila mendapat pengobatan dan serta edukasi tentang cara pemakaian obat
yang tepat. Faktor predisposisi seperti higienitas juga perlu diperharikan agar prognosis
semakin baik. Kondisi prognosis yang buruk mungkin terjadi pada pasien dengan sistem imun
yang rendah.1

Kesimpulan
Skabies merupakan penyakit kulit yang sering ditemukan di masyarakat. Penyakit ini
merupakan penyakit dengan manifestasi gatal dan efloresensi vesikel serta papula yang dapat
menjadi krusta, erosi dan ekskoriasi.
Penyakit ini dapat menyerang semua umur dan tempat predileksinya meliputi sela jari tangan
dan kaki, lipat siku, lipat ketiak, inguinal, genitalia, bokong dan lutut.
Manifestasi klinik utama penyakit ini ialah rasa gatal pada malam hari. Diagnosis ke arah
skabies dapat diperkuat dengan adanya kerabat terdekat pasien yang menderita penyakit ini,
ditemukan gambaran seperti terowongan pada permukaan kulit dan ditemukannya tungau
Sarcoptes scabiei varietas homonis sebagai hal yang paling diagnostik.
Terjadinya penyakit ini akibat infestasi Sarcoptes scabiei varietas homonis pada stratum
korneum kulit. Sekret yang dikeluarkan oleh tungau ini menyebabkan reaksi alergi tipe 1 dan 4
sehingga memicu timbulnya rasa gatal, vesikel dan papula.
Pengobatan penyakit ini adalah dengan membasmi tungau menggunakan insektisida yang
biasanya tersedia sebagai bentuk obat topikal. Tidak kalah pentingnya adalah menjaga
kebersihan diri pasien untuk mendukung tercapainya kesembuhan sekaligus sebagai usaha
preventif agar tidak terkena penyakit ini.

Daftar pustaka
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2010.h.119-26.
2. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran ditijau dari organ tubuh yang diserang.
Jakarta: EGC; 2009.h.289-95.
3. Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K. Dermatology in general medicine. 4 th edition. New York:
McGraw Hill Medical Publisher; 2003.p.2182-3.
4. Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Parasitologi kedokteran
edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009.h.265-8
5. Brooks GF, Butel JS, Ornston LN. Mikrobiologi kedokteran. edisi 20. Jakarta : EGC;
2004.h.116-139
6. Buxton PK, Jones M. Abc of dermatology. 5 th edition. London: Willey Blackwell Publisher;
2009.p.124-6.