Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah mengenai kedudukan dan peran wanita memang ramai diperbincangkan,
dalam sejarah jika dibandingkan dengan laki laki peran wanita masih dikatakan sedikit.
Baik itu peran dalam bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Peran wanita hanya
ditonjolkan melalui peran domestiknya, yaitu peran sebagai istri, ibu dan peran yang
berkaitan dengan hal hal yang sifatnya rumah tangga. Terlepas dari sedikitnya peran
wanita daripada laki laki dalam sejarah baik peran politik, ekonomi maupun sosial,
penulisan mengenai sejarah wanita tidak boleh dilupakan.
Wanita tentu memiliki peran dalam sejarah, tidak terkecuali peran wanita di Surabaya.
Sebagai kota Industri dan kota perjuangan, sejarah serta peran wanita Surabaya tentu akan
menarik jika diteliti. Surabaya dengan kemajuannya tentu juga menimbulkan perubahan
sosial yang membuat wanita itu sendiri ikut dalam perubahan tersebut. Sebagai kota
Industri tentu Surabaya menjadi tujuan penduduk pada masa itu untuk mendapatkan
pekerjaan, yang tentu manjadikan kota Surabaya sebagai kota yang maju dan plural terdiri
dari berbagai ras, agama, budaya, maupun kelompok kelompok yang lainnya.
Kemajuan kota Surabaya sebagai akibat dari berkembangnya Surabaya sebagai kota
Industri ini terlihat seperti dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan untuk wanita
mulai diperhatikan. Selain itu dalam bidang pers kota Surabaya juga mulai terbit beberapa
surat kabar meskipun sebatas surat kabar seperti surat kabar perhimpunan pekerja dalam
pabrik atau bidang Industri. Sebagai kota yang plural dan dengan kemajuan pendidikan
untuk wanita serta surat kabar di kota Surabaya maka menarik untuk dibahas mengenai
wanita pada kota tersebut. Maka dari itu dalam makalah ini penulis memilih judul
Wanita Ditengah tengah Pluralitas Masyarakat Surabaya Awal Abad 20

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pluralitas kota Surabaya?
2. Bagaimana Perkembangan Wanita surabaya Awal Abad ke 20?
3. Bagaimana permasalahan wanita dalam pluralitas kota Surabaya?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana pluralitas kota Surabaya.
2. Untuk mengetahui perkembangan wanita surabaya awal abad ke 20.
3. Untuk mengetahui permasalahan wanita dalam pluralitas kota Surabaya awal abad
ke-20.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pluralitas Kota Surabaya
Pluralitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan masyarakat yang
majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya termasuk juga berbagai

kebudayaan yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat). Dalam hal ini kota surabaya
sebagai kota yang plural berarti surabaya sebagai kota yang memiliki kemajemukan atau
keaneka ragaman. Keaneka ragaman tersebut seperti keaneka ragaman suku, ras, budaya
maupun agama.
Pluralitas atau lebih khususnya kemajemukan di Surabaya tidak dapat dipungkiri
merupakan efek dari semakin berkembangnya kota Surabaya sebagai kota industri pada
awal abad ke- 20. Pada awalnya sebelum kota Surabaya menjadi kota Industri Modern,
kota ini merupakan kota industri rakyat. Beralih menjadi kota dengan industri modern
sejak masuknya kekuatan asing dan menjadi kekuatan yang memerintah. Masuknya
kekuatan asing dalam hal ini yaitu penjajah Belanda.
Sebelum kekuatan asing masuk ke Surabaya, kota ini merupakan kota industri rakyat
(industri kecil) yang proses produksinya dikerjakan secara manual. Setelah kekuatan asing
masuk, Surabaya beralih menjadi kota industri modern yang sistem produksinya
dikerjakan secara massal dengan dibantu menggunakan kekuatan mesin. Surabaya
semakin berkembang menjadi kota industri modern di Indinesia setelah dibangunnya
kawasan industri terpadu pertama di Surabaya dan di Indonesia yaitu kawasan industri
terpadu dikawasan tanah bekas pabrik gula Ngagel pada tahun 1916.
Pembangunan kota Surabaya sebagai kawasan Industri terpadu

tentu membawa

dampak bagi kota tersebut. Banyaknya pabrik pabrik di Surabaya tentu menjadi daya
tarik tersendiri bagi pribumi pada masa itu untuk melakukan urbanisasi ke Surabaya.
Urbanisasi ini tentu didorong oleh perkembangan Surabaya sebagai kota Indistri modern
yang memiiki banyak pabrik yang tentu membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Pada
waktu itu pribumi bekerja pada pabrik sebagai buruh kasar. Pada tahun 1921 Surabaya
tercatat memiliki industri manufaktur sejumlah 293 dean menyerap tenagakerja sebanyak
18.254 orang. Para pekerja yang sebagian juga merupakan pendatang ini tentu memiliki
latar belakang yang berbeda beda seperti ras, suku, agama maupun kebudayaan. Maka
dari itu dari penjelasan tersebut dapat disimpulakan bahwa pluralitas atau kemajemukan
masyarakat Surabaya merupakan efek dari perkembangan kota tersebut dari kota Industri
Rakyat/tradisional menjadi kota industri modern.
B. Perkembangan Wanita surabaya Awal Abad ke 20
Perkembangan wanita di Surabaya berkembang pesat, banyak dari mereka yang
bekerja sebagai buruh pabrikan dan yang tak kalah penting adalah kiprah wanita Surabaya
pada media Masanya. Jadi merespons kemajuan kota dan pertumbuhan media masa yang
begitu pesat pada awal abad ke-20.

Di Surabaya kemudian munculah media masa perempuan. Dimana menurut Mutiah


amin dalam, jurnalnya : Perempuan dan Media Massa Surabaya Awal Abad Ke-20, media
massa perempuan ini awalnya sengaja diterbitkan untuk kalangan wanita saja. Namun
pada perkembangannya, media massa wanita juga dibaca oleh laki-laki sehingga tak
sedikit dari merekayang memberikan beragam argumentasi (respons) terhadap pemberitan
yang dimuat di dalam edia massa perempuan itu.
Selain itu mengenai pendidikanwanita, yang ternyata juga menjadi faktor penting
dalam menumbuh kembangkan media massa perempuan. Karena adanya keterbukaan di
bidang pendidikan menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan wanita. Sehingga
muncul pula sekolah khusus wanita pertama yang didirikan di kota Surabaya yaitu:
meisjesschool. Yang pada awalnya bertujuan untuk memberikan pendidikan khusus
kepada anak-anak bangsa Eropa, terutama anak-anak industrialis gula.
Selain itu di Surabaya berdiri pula sekolah khusus untuk wanita Jawa. Sekolah
pertama bagi wanita Jawa yang didirikan di Surabaya adalah sekolah Kartini. Sekolah
Kartini ini merupakan sekolah khusus wanita dengan konsep pengajaran yang disesuaikan
cita-cita Kartini, yaitu memberikan bekal pengetahuan yang cukup bagi perempuan.
Disekolah itu, perempuan diberikan berbagai ilmu dan pengetahuan umum, selain juga
dididik untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang menguasai beberapa jenis
pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menjahit dan membatik.
Tidak hanya itu saja, bahkan yayasan-yayasan keagamaan turut menyelenggarakan
sekolah-sekolah untuk perempuan, seperti sekolah perempuan Kristen, Islam maupun
Katolik. Akan tetapi sebagaimana parasiswa sekolah Kartini, siswa sekolah perempuan
Kristen, Islam maupun Katolik masih terbatas pada kalangan masyarakat kelas atas.
Dalam tulisan Mutiah amini juga telah dibahas berbagai macam lembaga-lembaga dan
organisasi sosial yang juga sering mengadakan pendidikan dan pelatihan berupa kursuskursus tentang wanita dari mulai Aisyiyah termasuk juga PPII ( Persatoean Perhimpuanan
Poetri Indonesia), selain itu organisasi wanita yang cukup popular di Surabaya yaitu pada
tahun 1919 ketika Siti Soendari mendirikan organisasi "Putri Budi Sejati". Di Surabaya
Organisasi ini merupakan organisasi wanita yang cukup besar serta berdikari, dan
mendasarkan perjuangannya pada cita-cita kebangsaan.
Munculnya berbagai artikel-artikel yang mengulas tentang wanita di media massa,
baik media massa wanita maupun media massa umum ternyata membawa dampak pada
pembentukan gya hidup baru wanita Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari pemuatan iklaniklan produk-produk khusus untuk wanita di media massa, seperti took pakaian, perhiasan,
kosmetika, dan lain sebaginya

C. Permasalahan Wanita Kota Surabaya Awal Abad 20.


Berkembangnya Surabaya sebagai kota Industri tentu tidak hanya menimbulkan
keuntungan bagi kota tersebut dan juga sebagai kota yang plural , tetapi juga berbagai
permasalahan termasuk permasalahan perempuan. Permasalahan perempuan di Surabaya
pada awal abad 20 tentu tidak dapat terlepas dari berkembangnya kota Surabaya sebagai
kota industri. Perkebangan sebagai koata Industri menjadikan Surabaya memiliki banyak
pabrik atau bidang Industri yang sebagian besar tentu dimiliki oleh orang Belanda.
Dengan semakin banyaknya jumlah industri inilah maka selakin banyak pula orang
Belanda yang datang atau berada di Surabaya. Dengan banyaknya orang Belanda yag
bermukim di Surabaya maka hal ini tentu menimbulkan permasalahan baru di kota
tersebut khususnya bagi perempuan yaitu pergundikan. Gundik merupakan perempuan
yang dijadikan sebagai istri tidak resmi oleh orang Belanda, namun tentu istri disini
tentu tidak merujuk pada artian istri yang sebenarnya karena perlakuan orang Belanda
(tuan) terhadap gundiknya tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan pperlakuan suami
tehadap istrinya (dalam arti suami istri yang sebenarnya). Gundik diperlakuakan layaknya
pembantu aau pemuas nafsu dari para leleki Belanda yang datang ke Indonesia tanpa
disertai dengan istrinya. Maka dari itu praktek pergundikan menjadi salah satu cara aman
yang ditempuh orang Eropa/Belanda untuk memuaskan nafsunya daripada harus pergi ke
tempat prostitusi.
Selain masalah pergundikan, masalah perempuan yang lainnya di Surabaya pada awal
abad 20 yaitu maraknya praktekpelacuran/ prostitusi. Praktek prostitusi ini juga tidak lain
sebagai akibat dari perkembangan kota Surabaya sebagai kota Industri. Kota surabaya
sebagai kota Industri, pelabuhan serta pangkalan militer kolonial Belanda menyebabkan
prosentase jumlah laki laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan menjadikan
praktek prostitusi marak di Surabaya. Selain itu pelacuran terjadi sebagai akibat dari
merosotnya tingkat kesejahteraan masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke 20. Hal
ini didasarkan pada angket besar yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda dari
tahun 1904-1920 mangenai kemerosotan kesejahteraan penduduk pribumi yang
notabene menghasilkan lebih dari empat puluh terbitan, menunjukkan betapa dahsyatnya
dampak sosial dari urbanisme yang melanda Jawa. Dampak yang muncul adalah
khususnya untuk wanita yang terdesak secara ekonomi akan menjadi pelacur.
Permasalahan perempuan berupa perundikan serta pelacuran tentu akan melahirkan
permasalahan baru yang mengikutinya. Permasalahan tersebut yaitu adalah praktek aborsi.
Praktek tentu akan ada dimana ada praktek pergundikan serta pelacuran. Pada masalah
pergundikan aborsi dilakuakan diantaranya untuk mempertahankan statusnya(tetap

dipelihara) sebagai gundik untuk tuannya. Tujannya adalah agar kehamilannya tidak
berlanjut, karena bagi wanita atau gundik tugas mereka adalah untuk senantiasa
menyediakan diri sebagai pasangan seks pria Belanda.
Sementara dalam permasalahan wanita berupa pelacuran, aborsi dilakukan karena
karena dorongan ekonomi secara individual, timbul karena kekhawatiran terhadap
kemiskinan, tidak ingin memiliki anak yang banyak karena takut menjadikan beben
ekonomi. Selain itu anorsi juga dilakuakan karena dorongan moral yang muncul biasannya
karena wanita yang hamil tidak sanggup menerima sanksi sosial dari masyarakat,
disebabkan hubungan biologis yang tidak memperhatikan moral dan agama seperti
kehamilan tanpa nikah atau akibat dari pelacuran. Selain itu dorongan lingkungan juga
memengaruhi insiden pengguguran kehamilan muda, misalnya sukap para medis atau
dukun beranak, norma agama serta moral tentang seksualitas yang longgar. Aborsi sendiri
juga mengakibatkan tingkat kematian wanita menjadi meningkat karena praktek aborsi
yang tidak sesuai standar medis yaitu berupa tindakan aborsi ilegal yang dilakuakan tidak
sesuai standar medis. Praktek aborsi ilegal ini dilakukan karena pemerintah kolonial
melarang aborsi sejak tahun 1917 (staatsblaad 1917 No. 645).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
Mutiah Amini. Perempuan dan Media Massa Surabaya Awal Abad Ke-20. Yogyakarta :
Jurnal Lembaran Sejarah, 2004.
Purnawan, Basundoro. PENGANTAR SEJARAH KOTA. Yogyakarta: Ombak, 2012.
Sri, Margana dan M. Nursam. KOTA KOTA DI JAWA: IDENTITAS, GAYA HIDUP DAN
PERMASALAHAN SOSIAL.Yogyakarta: Ombak, 2010.

WANITA DITENGAH TENGAH PLURALITAS MASYARAKAT SURABAYA AWAL


ABAD KE- 20
Disusunn Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah
Sejarah Wanita

Oleh:
Abdi Raga (13406241021)
Andi Nurrahmawan (1340624402)
Siti Nurjanah (13406241021)
Eka Tamara (13406241021)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

Kata Pengantar
Pujisyukur kami panjatkankepada Allah SWT karenaatasRahmat-NYA kami
dapatmenyusunmakalahSejarahWanitamengenaiWanita

Ditengah

tengah

Pluralitas

Masyarakat Surabaya Awal Abad 20. Kami jugamengucapkanterimakasihkepadasemuapihak


yang

membantudalam

proses

pembuatanmakalahini.

Kami

menyadaridenganadanyabantuansertamasukanmembuatmakalahinilebihlengkapdandapatsema
kinbermanfaat.
Makalahinidisusunsebagaitugas

Mata

KuliahSejarahWanita,

sertasupayadapatbermanfaatsebagaipengetahuanmengenaiperjalanansejarahwanita

di

Indonesia.Makalahini kami harapdapatmemberikanwawasanmengenai sejarah wanita di


Indonesia khususnya Kota Surabaya.
Kami

mengucapkanterimakasihkepadaDosen

Mata

KuliahSejarahWanita

yang

banyakmemberikanbantuan, saran, kemudian kami jugaberterimakasihkepadakelas A


PendidikanSejarah 2013 yang

membantumemberikan saran sertamotivasidalam proses

penyusunanmakalahini.
Kami
Olehkarenaitu

menyadariakankekurangan
kami

yang

masihterdapatpadaMakalah

senantiasamenerimamasukan,

saran

membangun.Akhirnyasemogamakalahinidapatbermanfaat.Amin.

serta

kami

kritik

ini.
yang

Yogyakarta, 15 September 2015

Tim Penyusun