Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL PENELITIAN

PENELUSURAN BANJIR SUNGAI OPAK DENGAN METODE MUSKINGUM


Diajukan sebagai syarat lulus mata kuliah Metodologi Penelitian

Disusun oleh :
DHESTIANA SULISTYANINGSIH
5125111026

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu unsur terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan di
dunia ini, semua makluk hidup memerlukan air untuk dapat bertahan hidup. Air akan
mengalami proses daur hidrologi atau siklus hidrologi yaitu proses yang berlangsung
secara continue dimana air bergerak dari bumi ke atmosfer dan kemudian kembali ke
bumi dan kembali lagi ke atmosfer. Jumlah air yang ada di bumi adalah 1,386 milyar
km2, yang sebesar 96,5% berupa air laut, 1,7% air tanah dan es dikutub dan sisanya
0,1% berupa air permukaaan (Chow, V.T., 1988). Jumlah air yang sangat besar ini pasti
akan memberi dampak yang positif maupun negative bagi kehidupan di bumi. Salah
satu dampak negative yang dapat ditimbulkan dengan adanya air berlebih yaitu
terjadinya banjir. Banjir adalah salah satu peristiwa alam yang terjadi karena curah
hujan yang tinggi, intensitas atau karena kerusakan alama akibat penggunaan lahan.
Penelusuran banjir (flood routing) merupakan bagian analisis hidrologi untuk
menentukan waktu dan debit aliran(hidrograf aliran)di suatu titik pada aliran
berdasarkan hidrograf yang diketahui di sebelah hulu. Penelusuran ini banyak
dilakukan untuk menelusuri banjir di sungai maupun waduk. Salah satu metode yang
digunakan dalam penelusuran banjir di sungai adalah metode Muskingum (Triatmodjo.
B.,2013).
Sungai Opak adalah salah satu sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan
bermuara di Samudra Hindia, mengalir melewati Kabupaten Sleman dan Kabupaten
Bantul. Masuk dalam DAS OPAK dengan luas 2394 km2, Panjang sungai ini 65 km
dengan kemiringan 1,59% dan base flow 1,89 %. Sungai Opak ini banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mencari penghasilan, baik dengan
menambang pasir yang ada di bantaran sungai, bercocok tanam di bantaran sungai,
mencari ikan, mencari kayu dan lainnya. Banyaknya aktifitas yang dilakukan
nmasyarakat ini tentunya juga memberi dampak bagi bantaran sungai Opak, antara lain
kerusakan bibir sungai akibat penambangan pasir, pergeseran bibir sungai yang
meyebabkan hilangnya lahan masyarakat untuk bercocok tanam, serta turunnya debit

sungai Opak ketika musim kemarau datang dan peningkatan debit yang tinggi ketika
musim penghujan datang.

Salah satu cara yang dilakukan untuk melestarikan

lingkungan, baik di daerah muara, tengah, maupun hulu.


Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu melakukan penelitian mengenai analisis
hidrograf aliran dengan Metode Muskingum ada aliran sungai Opak ini.
1.2 Rumusan Masalah
Pembahasan mengacu pada masalah-masalah yang ditemukan, yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik hidrograf aliran banjir Sungai Opak?
2. Berapa nilai parameter k dan x terbaik berdasarkan hidrograf aliran?
3. Bagaimana hasil Penelusuran banjir maksimum Sungai Opak dengan Metode
Muskingum untuk kala ulang 2,5,10,25, 50 dan 100 tahun?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan jawaban dari permasalah-permasalahan yang
ada pada perumusan masalah dengan langkah langkah penyelesaian sebagai berikut :
1. Mengetahui karakteristik hidrograf aliran banjir Sungai Opak.
2. Mengetahui nilai parameter k dan x terbaik.
3. Mengetahui hasil penelusuran banjir dengan Metode Muskingum pada kala ulang
2, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun.
1.4 Batasan Penelitian
Batasan penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian di Sungai Opak pada DAS OPAK.
2. Analisa banjir yang dilakukan dengan menggunakan Metode Muskingum.
3. Tidak membahas tentang sedimen secara detail, karena sedimen akan dibahas
secara umum.
4. Tidak membahas fungsi pengaliran dan pemanfaatan aliran Sungai Opak secara
mendetail.
5. Tidak menjelaskan secara detail bangunan air yang terdapat di sepanjang aliran
Sungai Opak.
6. Tidak memebahas secara detail tentang pemanfaatan daerah sempadan sungai.

1.5 Manfaat Penelitian


Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan acuan dalam memprediksi besarnya debit aliran
sungai dengan gambara hidrograf hulu dan hilir pada sungai Opak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS)


Daerah aliran sungai adalah daerah yang dianggap sebagai wilayah dari suatu titik
tertentu pada suatu sungai dan dipisahkan

dari DAS-DAS disebelahnya oleh suatu

pembagi, atau punggung bukit/gungungyang dapat ditelusur di atas peta topografi. Semua
air permukaan yang berasal dari daerah yang dikelilingi oleh pembagi tersebut dialirkan
melalui titik terrndah dari pembagi, yaitu tepat yang dilalui oleh sungai utama dari DAS
yang bersangkutan (Linsey, R.K.,dll 1985).
DAS ditentukan dengan menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis
garis kontur. Garis kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan permukaan.
Limpasan yang berasal dari titik tertinggi dan bergerak menuju titik yang lebih rendah
dalam tegak lurus dengan garis kontur. Luas DAS diperkirakan dengan mengukur daerah
itu pada peta topografi. Luas DAS sangat berpengaruh terhadap debit sungai, semakin
besar jumlah limpasan permukaan maka semakin besar pula aliran permukaan atau jumlah
debitnya. (Triatmodjo,B., 2013)
Karakteristik DAS dalam merespon curah hujan yang terjatuh di tempat tersebut dapat
memberikan pengaruh terhadap besar kecilnya aliran sungai (Asdak, 2010)
Jaringan sungai dan anak - anak sungainya mempunyai bentuk seperti percabangan
pohon. Parit parit bergabung membentuk alur yang lebih besar, selanjutnya beberapa alur
bergabung membentuk anak sngai, dan anak sunagi tersebut berganbung membentuk
sungai utama. Tingkatan sungai ditetapkan berdasar ukuran alur dan posisinya, tingkatan
terendah untuk alluir terkecil yang merupakan sungai sungai paling ujung dan tingkat
ayng lebih tinggi untuk alur yang lebih besar yang berada di daerah hilir.

Menurut Strahler, 1952 anak sungai paling ujung adalahsungai tingakat satu, untuk dua
alur denga tingkat yang sama bergabung, maka tingkat alur di bawah percabangan
tersebutmeningkat satu tingkat, dan begitu seterusnya samapai dengan tingkat tiga yang
merupakan sungai utama.
Panjang sungai diukur dengan menggunakan peta, pengukuran beberapa kali untuk
mendapatkan panajng sungai reratanya. Panjang sungai adalah panajng yang diukur
sepanjang sungai, dari stasiun yang ditinjau sampai ujung hulunya. Sungai utama adalah
sungai terbesar pada daearah tangkapan dan membawa aliran menuju muara sungai.
Kemiringan sunagi adalajh kurva yang menunjukan hubungan antara elevasi dasar sungai
dan jarak yang diukur sepanjanbg sungai dari hulu sampai muara sungai. Fungsi dari
kemiringan sungai ini adalah untuk memetukan kemiringan DAS. Kemiringan sungai
ditentukan dengan cara membagi sungai ke dalam beberapa piar ndan kemiringan dihitung
untuk setiap piasnya. Air bergerak menuju muara karena adanya gaya grafitasi, semakin
besar kemiringan sungai maka semakin cepat aliran sungai dan semakin singkat waktu
yang dibutuhkan air untuk sampai muara. Kemiringan yang curam akan mennyebabkan
kecepatan limpasan meningkat sehingga waktu untuk infiltrasi berkurang sehinga
menyebabkan aliran permukaan lebih banyak.
2.2 Sungai
Sungai mempunyai fungsi untuk menampung curah hujan setelah aliran permukaan
dan mengaklirkanya ke laut dengan kata lain sungai adalah wadah yang menampung dan
mengalirkan air yang terbawadari DAS menuju tempat yang lebih rndah dan bermuara
dilaut. Sungai dapat diartikan juga sebagai wadah atau penampung dan penyalur aliran air
yang terbawa dari DAS ke tempat yang lebih rendah dan bermuara di laut.
Sungai berfungsi untuk mengumpulakn curah hujan dalam suatu daerah tertentu, selain
itu sungai juga dapat berfungsi dalam bidang lain, misalnya dalam bidang pertanian sungai
dapat berfungsi sebagai sumber air irigasi, dll.
2.3 Debit

Data debit merupakan informasi yang paling penting dalam pengelolaan sumberdaya
air. Data debit puncakk diperlukan untuk merancang banguan pengendali banjir dan data
debit aliran kecil digunakan untuk perencanaan alokasi air untuk berbagai macam keerluan
terutama pada musim kemarau panajng.
Debit aliran adalah laju aliran yangmelewati suatu penampang melintang sungai per
satuan waktu. Debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik. Debit aliran biasanya
ditunjukan dalan bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran ini adala suatu perikalu debit
sebagai respon adanya perubahan karakteristik yang berlangsng dalam suatu DAS.
Pengukuran debit dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah ssatu metode yang
umum digunkan adalah dengan metode tampang rerata yaitu tampang lintang sungai
dianggap tersusun dari bebrapa pias yang masinhg-masig dibatasi dua vertical yang
berdampingan (Bambang Triatmodjo, 2008).
Kecepatan aliran pada setiap tampang aliran berbeda, kecepata aliran ditentukan bentuk
aliran, geometri saluran dan factor-faktor lainnya. Kecepatan aliran sungai diperoleh dari
rata-rata kecepatan aliran pada tiap bagian penampang sungai tersebut. Pengukuran
kecepatan aliran banyak digunakan metode current meter. Langkah pengukuran dengan
menggunakan Current meter yaitu ;
Pilih lokasi pengukuran yang relative lurus dan tidak banyak pusaran air.
Bagi penampang melintang sungai ke dalam beberapa bagian yang sama dengan interval
yang sudah ditentukan.
Ukur kecepatan aliran pada kedalaman tertentu sesuai dengan kedalaman suangi pada
setiap titik interval yang telah dibuat sebelumnya.
Hitung kecepatan aliran rata-ratanya.
2.4 Hidrograf

Hidrograf adalah diagram yang menggambarkan variasi debit atau permukaan air
menurut waktu. Kurva tersebut menggambarkan mengenai berbagai kondisi yang ada doi
daerah tersebut. Jika karakteristik aliran berubah maka hidrograf tersebut juga akan
berubah.
Hidrograf adalah kurva yang memberi hubungan antara parameteraliran dan waktu,
biasanya berupa kedalama aliran atau debit aliran.
Hidrograf terdiri dari tiga bagian yaitu sisi naik, puncak dan sisi resensi. Sifat pokok
hidrograf saat sisi puncak yaitu yaitu hidrograf yang diukur pada saat muali naik sampai
terjadinya debit puncak. Debit puncak adalah debit maksimum yang terjadi dalam suatu
keadaan tertentu.
2.5 Banjir
Banjir adalah kenaikan tinggi permukaan air sungai yang melebihi keadaan normalnya
atau meluap melewati batas kapasitas saluran yang normal. Bankjir dapat disebsbkan
banyak hal, misalnya karena saluran yang sudah tidak mampu menampung debit yang
masuk ke dalaam saluran, adanya kerusakan alam, dll.
2.6 Penelusuran aliran
Penelusuran aliran adalah prosedur untuk menentukan waktu dan debit laliran di suatu
titik padaaliran berdasarkan hidrograf yang diketahui di sebelah hulu. Ada dua macam
penelusuranaliran, yaitu

penelusuran hidrolis dan penelusuran hidraulis. Penelusuran

hidrolis dicari hidrograf debit di suatu titik dihilir berdasr hidrograf di hulu, dapat berupa
penelusuran waduk atau sungai.
2.7 Penelusuran banjir sungai
Penelusuran banjir di sungai biasanya menggunakan metode Muskingum, yaitu metode
yang memodelkan volume tampungan banjir di alur sungai, yang merupakan gabungan
antara tampungan prisma dan tampungan baji.

Metode Muskingum hanya berlaku dalam kondisi sebagi berikut :


1. Tidak terdapat anak sungai yang masuk ke dalam bagian memanjang palung sungai
yang ditinjau.
2. Penambahan atau kehilangan air oleh curah hujan, alirana masuk atau keluar air
tanah dan evaporasi, semuanya diabaikan.
3. Prinsip dasar dalam penyelesaian penelusuran banjir sungaoi dengan Metode
Muskingum adalah kelengkapan data pengukuran debit pada bagian hulu dan hilir
sungai yang didapatkan pada waktu yang bersamaan. Pengukuran ini sangat
penting untuk mendapatkan niali tampungan yang terjadi pada penampang sungai
yang ditinjau. Nilai inilah yang akan digunakan untuk menentukan niali X dan K.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut
3.3.1 Penentuan lokasi
Lokasi titik pengukuran ditetapkan dengan langkah-langkah sebagi berikut :
a. Mencari lokasi pengukuran dengan bantuan Google Earth daerah yang akan
diteliti.
b. Mengambil titk koordinat setiap lokasi penelitian.
c. Data koordinat lokasi penelitian
3.3.2 Pengambilan data
a. Mengukur profil penampang sungai dengan metode tampang rerata.
b. Menghitung tinggi muka air dan mengukur kecepatan aliran sungai, lalu ambil
c.
d.
e.
f.
g.

reretanya setelah beberapa kali pengukuran.


Mengambil data tinggi muka air.
Menghitung debit sungai berdasar hasil pengukuran.
Menngamati tinggi muka air dengan cara menancapkan papan skala.
Mencatat perubahan tinggi muka air setiap jeda waktu tertentu.
Membuat hidrograaf aliran sungai bagian hulu dan hilir.

3.3.3 Penelusuran Banjir menggunakan Metde Muskingum


a. Memasukan data inflow dan outflow hidrograf bagian hulu dan hilir.
b. Menentukan nilai koefisien K dan X dengan cara menghitung.
c. Menghitung nilai koefisien c0, c1, dan c2.
d. Membuat hidrograf aliran outflow menggunakan meode Muskingum.

MULAI

Peta Sungai Opak dan


pemanfaatannya

Penentuan Lokasi pengukuran

Pengukuran kecepatan dan profil


penampang Sungai Opak

Analisis Debit

Persamaan Debit

Hidrograf debit aliran bagian hulu dan hilr,


hidrograf debit muskingum

Hidrograf outflow

SELESAI

Gambar Diagram Alir Penelitian