Anda di halaman 1dari 18

INFORMED CONSENT DALAM KONDISI KEGAWATDARURATAN

Persetujuan tindakan medik adalah terjemahan yang sering dipakai untuk istilah
informed consent. Informed consent dirumuskan sebagai suatu kesepakatan atau
persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap
dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis yang
dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala
resiko yang mungkin terjadi.
Informed consent mempunyai fungsi ganda. Bagi dokter, informed consent dapat
membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis pada pasien, sekaligus
dapat digunakan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan adanya
tuntutan atau gugatan dari pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang
tidak dikehendaki. Bagi pasien, informed consent merupakan penghargaan
terhadap hak-haknya oleh dokter dan dapat digunakan sebagai alasan gugatan
terhadap dokter apabila terjadi penyimpangan praktik dokter dari maksud
diberikannya persetujuan pelayanan kesehatan (informed consent).
Pasien sebagai individu mempunyai otonomi harus memberikan persetujuan
terlebih dahulu terhadap pemeriksaaan medis, pengobatan, atau tindakan medis
yang akan dilakukan terhadap tubuhnya setelah mendapat penjelasan dari
dokter. Persetujuan yang diberikan oleh pasien memerlukan beberapa masukan
sebagai berikut :
1. Penjelasan lengkap mengenai prosedur yang akan digunakan dalam tindakan
medis tertentu (yang masih berupa upaya, percobaan), yang diusulkan oleh
dokter serta tujuan yang ingin dicapai (hasil dari upaya, percobaan).
2. Deskripsi mengenai efek-efek sampingan serta akibat-akibat yang tak
diinginkan yang mungkin timbul.
3. Deskripsi mengenai keuntungan-keuntungan yang dapat diantisipasi bagi atau
untuk pasien.
4. Penjelasan mengenai perkiraan lamanya prosedur berlangsung.
5. Penjelasan mengenai hak pasien untuk menarik kembali persetujuan tanpa
adanya prasangka (jelek) mengenai hubungannya dengan dokter dan lembaga.
6. Prognosis mengenai kondisi medis pasien jika ia menolak tindakan medis
tertentu tersebut.
Persetujuan tindakan medik diatur dalam UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran. Menurut pasal 45 (1) dinyatakan bahwa Setiap tindakan kedokteran
atau kedokteran gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Pada ayat
(2) dijelaskan Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. Lebih lanjut pada ayat (4)
dijelaskan Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan
secara tertulis maupun lisan dan pada ayat (5) di jelaskan Setiap tindakan
kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung resiko tinggi harus diberikan
dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan. Ketentuan lebih mendalam tentang persetujuan tidakan medik
akan diatur dengan peraturan menteri sebagaimana yang dijelaskan pada ayat

(6).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik Pasal 1 ayat (1)
dijelaskan bahwa Persetujuan tindakan medik kedokteran adalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien atau keluarganya setelah mendapatkan penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
dilakukan terhadap pasien.
Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik, pengaturan
mengenai informed consent pada kegawatdaruratan lebih tegas dan lugas.
Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1) dijelaskan bahwa
Dalam keadaan darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
Disahkannya Permenkes No. 290/MENKES/PER/III/2008 sekaligus mengggugurkan
Permenkes sebelumnya yaitu pada Permenkes No 585/Men.Kes/Per/IX/1989
masih terdapat beberapa kelemahan. Pada pasal 11 hanya disebutkan bahwa
yang mendapat pengecualian hanya pada pasien pingsan atau tidak sadar.
Beberapa pakar mengkritisi bagaimana jika pasien tersebut sadar namun dalam
keadaan darurat. Guwandi (2008) mencontoh pada kasus pasien yang
mengalami kecelakaan lalu-lintas dan terdapat perdarahan serta membahayakan
jiwa di tubuhnya tetapi masih dalam keadaan sadar. Contoh lain apabila
seseorang digigit ular berbisa dan racun yang sudah masuk harus segera
dikeluarkan atau segera dinetralisir dengan anti-venom ular.
Jika ditinjau dari hukum kedokteran yang dikaitkan dengan doktrin informed
consent, maka yang dimaksudkan dengan kegawatdaruratan adalah suatu
keadaan dimana :
a. Tidak ada kesempatan lagi untuk memintakan informed consent, baik dari
pasien atau anggota keluarga terdekat (next of kin)
b. Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda
c. Suatu tindakan harus segera diambil
d. Untuk menyelamatkan jiwa pasien atau anggota tubuh.
Seperti yang telah dijelaskan pada Permenkes No 209/Menkes/Per/III/2008 pada
pasal 4 ayat (1) bahwa tidak diperlukan informed consent pada keadaan gawat
darurat. Namun pada ayat (3) lebih di tekankan bahwa dokter wajib memberikan
penjelasan setelah pasien sadar atau pada keluarga terdekat. Berikut pasal 4
ayat (3) Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dokter atau dokter gigi wajib memberikan penjelasan sesegera
mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga terdekat.
Hal ini berarti, apabila sudah dilakukan tindakan untuk penyelamatan pada
keadaan gawat darurat, maka dokter berkewajiban sesudahnya untuk
memberikan penjelasan kepada pasien atau kelurga terdekat.

Selain ketentuan yang telah diatur pada UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 209/Menkes/Per/III/2008,
apabila pasien dalam keadaan gawat darurat sehingga dokter tidak mungkin
mengajukan informed consent, maka KUH Perdata Pasal 1354 juga mengatur
tentang pengurusan kepentingan orang lain. Tindakan ini dinamakan
zaakwaarneming atau perwalian sukarela yaitu Apabila seseorang secara
sukarela tanpa disuruh setelah mengurusi urusan orang lain, baik dengan atau
tanpa sepengetahuan orang itu, maka secara diam-diam telah mengikatkan
dirinya untuk meneruskan mengurusi urusan itu sehingga orang tersebut sudah
mampu mengurusinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian perikatan yang
timbul tidak berdasarkan suatu persetujuan pasien, tetapi berdasarkan suatu
perbuatan menurut hukum yaitu dokter berkewajiban untuk mengurus
kepentingan pasien dengan sebaik-baiknya. Maka dokter berkewajiban
memberikan informasi mengenai tindakan medis yang telah dilakukannya dan
mengenai segala kemungkinan yang timbul dari tindakan itu.
Dalam istilah ilmu hukum perdata yang melakukan pengurusan kepentingan
orang lain dinamakan zaakwaarnemer atau gestor (dokter) sedangkan yang
mempunyai kepentingan dinamakan dominus (pasien). Untuk menentukan
apakah suatu perbuatan seseorang merupakan zaakwaarneming atau tidak,
perlu dilihat apa yang terdapat di dalam perbuatan itu. Syarat-syarat adanya
zaakwaarneming adalah sebagai berikut:
a. Yang diurus (diwakili) oleh zaakwaarnemer adalah kepentingan orang lain,
bukan kepentingan dirinya sendiri.
b. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus dilakukan
zaakwaarnemer dengan sukarela, artinya karena kesadaran sendiri tanpa
mengharapkan imbalan/upah apapun, dan bukan karena kewajiban yang timbul
dari undang-undang maupun perjanjian.
c. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus dilakukan oleh
zaakwaarnemer tanpa adanya perintah (kuasa) melainkan atas inisiatif sendiri.
d. Harus terdapat suatu keadaan yang membenarkan inisiatif seseorang untuk
bertindak sebagai zaakwaarnemer misalnya, keadaan yang mendesak untuk
berbuat.
Dalam konteks kesehatan, dalam keadaan yang mendesak seperti dalam
keadaan kegawatdaruratan maka dokter dapat melakukan tindakan medik untuk
menyelamatkan jiwa atau penyelamatan anggota tubuh pasien tanpa
persetujuan.
KESIMPULAN
Tindakan dalam kegawatdaruratan medik di perbolehkan tanpa melakukan
persetujuan atau informed consent terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 290/MENKES/PER/III/2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran dan diperjelas oleh KUH Perdata pasal
1354.
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, E.K. 2009. Transaksi Terapeutik Dalam Upaya Pelayanan Medis Di Rumah
Sakit. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Chazawi, A. 2007. Malpraktik Kedokteran. Malang: Bayumedia.
Guwandi, J. 2008. Informed consent. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Komalawati, V. 1989. Hukum dan Etika Dalam Praktek Dokter. Jakarta : Pustaka
Sinar Harapan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
Pramana, B.T. 2007. Tinjauan Yuridis Terhadap Informed consent Sebagai Dasar
Dokter Dalam Melakukan Penanganan Medis Yang Berakibat Malpraktek. Skripsi :
Universitas Islam Indonesia.
Subekti dan Tjitrosudibio. 2008. KUH Perdata. Jakarta: PT. Pradya Paramita.
Supriadi, W. C. 2001. Hukum Kedokteran. Bandung : Mandar Maju.
Syahrani, R. 2006. Seluk-Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata. Bandung: PT.
Alumni.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran.
I.1

LATAR BELAKANG

Clavikula (tulang selangka) adalah tulang menonjol di kedua sisi di bagian depan
bahu dan atas dada. Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau clavicula
adalah tulang yang membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas pada
batang tubuh. serta memberikan perlindungan kepada penting yang mendasari
pembuluh darah dan saraf.
Fraktur clavicula merupakan 5% dari semua fraktur sehingga tidak jarang terjadi.
Fraktur clavicula juga merupakan cedera umum di bidang olahraga seperti seni
bela diri, menunggang kuda dan balap motor melalui mekanisme langsung
maupun tidak langsung.
I.2

RUMUSAN MASALAH

I.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, pemeriksaan fisik, diagnosis dan


penatalaksanaan fraktur clavicula?
I.3

TUJUAN

I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, pemeriksaan fisik, diagnosis dan


penatalaksanaan fraktur clavicula.
I.4

MANFAAT

I.4.1
Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya fraktur
clavicula.
I.4.2
Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah orthopedi.
BAB I

STATUS PENDERITA
A.

IDENTITAS PENDERITA

Nama

: Sdr. A

Umur

: 21 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: swasta

Agama

: Islam

Alamat

: panggung rejo kepanjen

Status perkawinan : Belum Menikah


Suku

: Jawa

Tanggal MRS

: jumat, 8 april 2011

Tanggal periksa

: jumat, 15 april 2011

No. Reg

: 151573

B.

ANAMNESA

Keluhan utama

: bahu sebelah kiri terasa nyeri

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang ke UDG RSUD kanjuruhan kepanjen diantar polisi dalam keadaan
pingsan setelah jatuh dari sepeda ontel 1 jam sebelum MRS. Setelah sadar
pasien bercerita bahwa bahu kirinya terasa nyeri sesaat setelah kejadian.
Pasien mampu menceritakan kronologis kejadian yaitu saat kejadian pasien
sedang dalam perjalanan kerumah temannya. Pasien jatuh dari sepeda ontel
yang ditarik menggunakan tali oleh temannya yang mengendarai sepeda motor.
Awalnya pasien masih bisa mengimbangi, namun saat kecepatan sepeda motor
yang mengikatnya mulai bertambah kira-kira 60 km/jam, maka pasien oleng dan
terjatuh ke tanah dengan posisi kepala terlebih dahulu disusul oleh bahu kiri.
Saat kejadian pasien tidak mengalami mual ataupun muntah, tapi pasien
mengaku kepalanya pusing. Pasien tidak mengalami gangguan BAK ataupun
gangguan BAB.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat trauma sebelumnya tidak ditemukan
Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya
riwayat pengobatan

mengkonsumsi obat-obatan untuk DM tidak ditemukan

mengkonsumsi obat-obatan untuk hipertensi tidak ditemukan

penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama tidak ditemukan

PRIMARY SURVEY
Airway : tidak ada gangguan jalan nafas
Breathing : Pernafasan 24x/mnt
Circulation : tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi; 87x/mnt
Disability : GCS E4 V5 M6
Exposure : Suhu 36,8 oC
D.

SECONDARY SURVEY

Status Lokalis : Regio clavicula sinistra


Look
: Tak tampak luka, tidak terdapat penonjolan abnormal, oedem
(+), deformitas (+) , tampak pemendekan dibandingkan dengan clavicula
dekstra, angulasi (+), tak tampak sianosis pada bagian distal lesi
Feel
: Nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+), cekungan pada 1/3 mid
clavicula (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat, NVD (neurovaskuler
disturbance) (-): kapiler refil (+), arteri brachialis teraba (+)
Move
: Gerakan aktif dan pasif terhambat, Gerakan abduksi lengan kiri
terhambat, gerakan adduksi lengan kiri tidak terhambat, gerakan rotasi sendi
bahu terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan persarafan tidak ada, tampak
gerakan terbatas (+), sendi-sendi pada pada bagian distal dapat digerakkan
RESUME
laki-laki umur 21 tahun datang dengan keluhan nyeri pada bahu kiri setelah
jatuh dari sepeda ontel sejak 1jam sebelum MRS, pingsan (+), muntah(-),
kepala pusing (+).
Primary survey tidak didapatkan kelainan. Secondary survey region clavicula
sinistra didapatkan oedem (+), deformitas (+) , tampak pemendekan
dibandingkan dengan clavicula dekstra, angulasi (+), nyeri tekan setempat (+),
krepitasi (+),gerakan aktif dan pasif terhambat, Gerakan abduksi lengan kiri
terhambat, gerakan rotasi sendi bahu terhambat, sakit bila digerakkan tampak
gerakan terbatas (+).
F. DIAGNOSA KERJA
close fracture clavicula sinistra
G.

PLANNING DIAGNOSA

Planning pemeriksaan

Foto rontgen regio clavicula sinistra AP, rontgen Thorax + Rontgen cervical
AP Lateral

Lab : DL, CT, BT, HbSAg

Planning Terapi
Non operatif
Medikamentosa
Analgetik
Non medikamentosa
Pemasangan mitela atau ransel verband
Operatif
Reposisi terbuka dan fiksasi interna : ORIF
BAB III
PEMBAHASAN PENYAKIT
DEFINISI FRAKTUR
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang
rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang
umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan
tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma
langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah
yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi
dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan
lunak tetap utuh.
B.

MEKANISME PENYEBAB FRAKTUR

Trauma penyebab fraktur dapat bersifat:


Trauma langsung
Frakur terjadi di daerah yang mengalami tekanan langsung
Biasanya kopmunitif
Jaringan lunak mengalami kerusakan
Trauma dihantarkan dari daerah yang lebih jauh dari fraktur
Jaringan lunak utuh

Trauma tidak langsung


C.

ANATOMI CLAVICULA

Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau clavicula adalah tulang yang
membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas pada batang tubuh.
Clavicula berbentuk kurva-ganda dan memanjang. Ini adalah satu-satunya tulang
yang memanjang horizontal dalam tubuh. Terletak di atas tulang rusuk pertama.
Pada ujung medial, clavicula bersendi pada manubrium dari sternum (tulang
dada) pada sendi sternoclavicularis. Pada bagian ujung lateral bersendi dengan
acromion dari scapula (tulang belikat) dengan sendi acromioclavicularis.
Pada wanita, clavicula lebih pendek, tipis, kurang melengkung, dan
permukaannya lebih halus.
Fungsi clavicula berguna untuk:
Sebagai pengganjal untuk menjauhkan anggota gerak atas dari bagian dada
supaya lengan dapat bergerak leluasa.
Meneruskan goncangan dari anggota gerak atas ke kerangka tubuh (aksial).
Walaupun dikelompokkan dalam tulang panjang, clavicula adalah tulang satusatunya yang tidak memiliki rongga sumsum tulang seperti pada tulang panjang
lainnya. Clavicula tersusun dari tulang spons.
Perlekatan
Otot-otot dan ligamentum yang berlekatan pada clavicula:
Permukaan superior:
Otot deltoideus pada bagian tuberculum deltoideus
Otot trapezius
Permukaan inferior
Otot subclavius pada sulcus musculi subclavii
Ligamentum conoideum (bagian medial dari ligamentum coracoclaviculare) pada
tuberculum conoideum
Ligamentum trapzoideum (bagian lateral dari ligamentum coracoclaviculare
pada linea trapezoidea
Batas anterior:
Otot pectoralis mayor
Otot deltoideus
Otot sternocleidomastoid

Otot sternohyoideus
Otot trapezius
Perkembangan
Clavicula adalah tulang pertama yang mengalami proses
pengerasan osifikasi selama perkembangan embrio minggu ke-5 dan 6. Clavicula
juga yang merupakan tulang terakhir yang menyelesaikan proses pengerasan
yakni pada usia 21 tahun.
D.

FRAKTUR CLAVICULA

Cukup sering sering ditemukan (isolated, atau disertai trauma toraks, atau
disertai trauma pada sendi bahu ).
Lokasi fraktur klavikula umumnya pada bagian tengah (1/3 tengah)
Deformitas, nyeri pada lokasi taruma.
Foto Rontgen tampak fraktur klavikula
E.

KLASIFIKASI FRAKTUR KLAVIKULA

Fraktur mid klavikula ( Fraktur 1/3 tengah klavikula)


paling banyak ditemui
terjadi medial ligament korako-klavikula ( antara medial dan 1/3 lateral)
mekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung ( dari lateral
bahu)
Fraktur 1/3 lateral klavikula
fraktur klavikula lateral dan ligament korako-kiavikula, yang dapat dibagi:
type 1: undisplaced jika ligament intak
type 2 displaced jika ligamen korako-kiavikula rupture.
type 3 : fraktur yang mengenai sendi akromioklavikularis.
Mekanisme trauma pada type 3 biasanya karena kompresi dari bahu.
Fraktur 1/3 medial klavikula
Insiden jarang, hanya 5% dan seluruh fraktur klavikula. Mekanisme trauma dapat
berupa trauma langsung dan trauma tak langsung pada bagian lateral bahu
yang dapat menekan klavikula ke sternum . Jatuh dengan tangan terkadang
dalam posisi abduksi.
F.

PATOFISIOLOGI

Pada fraktur sepertiga tengah klavikula otot stemokleidomastoideus akan


menarik fragmen medial keatas sedangkan beban lengannya akan menarik
fragmen lateral ke bawah. Jika fraktur terdapat pada ligament korako-klavikula
maka ujung medial klavikula sedikit bergeser karena ditahan ligament ini.
Fraktur yang terjadi kearah medial terhadap fragment maka ujung luar mungkin
tampak bergeser kearah belakang dan atas, sehingga membentuk benjolan
dibawah kulit.
G.

PEMERIKSAAN KLINIS

Fraktur klavikula sering terjadi pada anak-anak. Biasanya penderita datang


dengan keluhan jatuh dan tempat tidur atau trauma lain dan menangis saat
menggerakkan lengan. Kadangkala penderita datang dengan pembengkakan
pada daerah klavikula yang terjadi beberapa hari setelah trauma dan kadangkadang fragmen yang tajam mengancam kulit. Ditemukan adanya nyeri tekan
pada daerah klavikula.
H.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan rontgen anteroposterior dan klavikula biasanya dapat membantu


menegakkan diagnosis dan fraktur. Fraktur biasanya terjadi pada 1/3 tengah dan
fragmen luar terletak dibawah fragmen dalam. Fraktur pada 1/3 lateral klavikula
dapat terlewat atau tingkat pergeseran salah dikira kecil, kecuali kalau diperoleh
foto tambahan pada bahu.
I.

INDIKASI OPERASI

Fraktur terbuka.
Fraktur dengan gangguan vaskularisasi
Fraktur dengan scapulothorcic dissociation (floating shoulder)
Fraktur dengan displaced glenoid neck fraktur
Brachial plexus injury
Ruptur ligamentum korakoklavikulare
Delayed/ non union
penderita aktif yang segera akan kembali pada pekerjaan semula.
Kosmetik
J.

TEKNIK PENANGANAN TERAPI KONSERVATIF DAN OPERASI

Penatalaksanaan Fraktur Klavikula:


Fraktur 1/3 tengah

Undisplaced fraktur dan minimal displaced fraktur diterapi dengan menggunakan


sling, yang dapat mengurangi nyeri.
Displaced fraktur fraktur dengan gangguan kosmetik diterapi dengan
menggunakan commersial strap yang berbentuk angka 8 (Verband figure of
eight) sekitar sendi bahu, untuk menarik bahu sehingga dapat
mempertahankan alignment dan fraktur. Strap harus dijaga supaya tidak terlalu
ketat karena dapat mengganggu sirkulasi dan persyarafan. Suatu bantal dapat
diletakkan di antara scapula untuk menjaga tarikan dan kenyamanan. Jika
commersial strap tidak dapat digunakan balutan dapat dibuat dari tubular
stockinet, ini biasanya digunakan untuk anak yang berusia <10 tahun.
Pemakaian strap yang baik:
menarik kedua bahu, melawan tekanan dipusat, dan daerah interscapula selama
penarikan fraktur.
tidak menutupi aksila, untuk kenyamanan dan hygiene.
menggunakan bantalan yang bagus.
tidak mengganggu sirkulasi dan persyarafan kedua lengan.
Plating Clavikula
Gunakan insisi sesuai garis Langer untuk mengekspos permukaan superior
clavikula. Hindari flap kulit undermining dan kerusakan saraf supraklavikula.
Hindari juga diseksi subperiosteal pada fracture site.
Lakukan reduksi fragmen fraktur jika memungkinkan pasang lag screw melintasi
fraktur. Plate diletakkan di sisi superior clavikula dengan 3 screw pada masingmasing sisi fraktur untuk mencapai fiksasi yang solid.
Jika diperlukan diletakan subkutaneus drain, luka operasi ditutup dengan jahitan
subcuticular.
Fraktur lateral
Undisplaced fraktur dapat diterapi dengan sling. Displaced fraktur dapat diterapi
dengan sling atau dengan open reduction dan internal fiksasi.
Jika pergeseran lebih dari setengah diameter klavikula harus direduksi dan
internal fiksasi. Bila dibiarkan tanpa terapi akan terjadi deformitas dan dalam
beberapa kasus rasa tidak enak dan kelemahan pada bahu karena itu terapi
diindikasikan melalui insisi supraklavikular, fragmen diaposisi dan dipertahankan
dengan pen yang halus, yang menembus kearah lateral melalui fragmen sebelah
luar dan akromion dan kemudian kembali ke batang klavikula. Lengan ditahan
dengan kain gendongan selama 6 minggu dan sesudah itu dianjurkan melakukan
pergerakan penuh.
K.

KOMPLIKASI OPERASI

Komplikasi dini
kerusakan pada pembuluh darah atau saraf ( jarang terjadi)
Komplikasi lanjut
non-union : jarang terjadi dapat diterapi dengan fiksasi interna dan
pencangkokan tulang yang aman.
mal-union :
meninggalkan suatu benjolan, yang biasanya hilang pada waktunya.
untuk memperoleh basil kosmetik yang baik dan cepat dapat menjalani terapi
yang lebih drastis yaitu fraktur direduksi dibawah anastesi dan dipertahankan
reduksinya dengan menggunakan gips yang mengelilingi dada ( wirass)
kekakuan bahu sering ditemukan, hanya sementara, akibat rasa takut untuk
menggerakkan fraktur. Jari juga akan kaku dan membutuhkan waktu berbulanbulan untuk memperoleh kembali gerakan, kecuali kalau dilatih.
L.

PERAWATAN PASCABEDAH

Rehabilitasi
Commersial strap yang berbentuk angka 8, harus di follow up apakah sudah
cukup kencang. Strap ini harus dikencangkan secara teratur. Anak anak <10
tahun menggunakan strap atau splint selama 3-4 minggu sampai bebas nyeri,
sedangkan orang dewasa biasanya membutuhkan waktu 4-6 minggu. Pasien
dianjurkan untuk melakukan pergerakan seperti biasa begitu nyeri berkurang
(strap/splint/sling sudah dilepas).
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa didapatkan Sdr. A laki-laki umur 21 tahun dibawa ke UGD
RSUD kanjuruhan kepanjen dengan nyeri pada bahu kiri setelah jatuh dari
sepeda ontel sejak 1jam lalu, pingsan (+), muntah (-), kepala pusing (+).
Primary survey didapatkan circulation : tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi;
102x/mnt, disability : GCS E3 V5 M6.
Secondary survey didapatkan, Look: oedem (+), terdapat deformitas (+) pada
sepertiga mid clavicula, angulasi (+). Feel: nyeri tekan setempat (+), krepitasi
(+), cekungan pada 1/3 mid clavicula (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat,
kapiler refil (+). Move: Gerakan aktif dan pasif terhambat, Gerakan abduksi
lengan kiri terhambat, gerakan rotasi sendi bahu terhambat, sakit bila
digerakkan tampak gerakan terbatas (+).
Berdasarkan anamnesa, primary survey dan secondary survey didapatkan
diagnose close fracture mid 1/3 clavicula sinistra.

DAFTAR PUSTAKA
Penanganan konservatif dan operatif fraktur clavicula 1/3 Tengah.
Availablehttp://bedahumum.wordpress.com/?s=fraktur+clavicula. Diakses
tanggal 19 april 2011.
Indah Kusuma Dewi. 2010. presentasi kasus Fraktur Clavicula dan Fraktur
Costae.available at http//:Scribs.com. diakses tanggal 19 april 2011.
Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., fraktur clavicula, dalam Buku Ajar Ilmu
Bedah,Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005,hlm. 858.
Harri Prawira Ezzedin. 2009. Fraktur. Faculty of Medicine University of Riau
Pekanbaru, Riau. available at (http://www.Belibis17.tk. Di akses tanggal 6 april
2011.
M, Kevin. Fraktur klavikula. Klinik Olahraga dan Orthopedi Singapura. Available
athttp://indonesian.orthopaedicclinic.com.sg/?p=940. Diakses tanggal 19 april
2011.
FRAKTUR CLAVICULA

PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulangrawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Untuk mengetahui
mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita harusmengetahui
keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkantulang patah.
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahantekanan terutama
tekanan membengkok, memutar dan tarikan.1

INSIDENS & EPIDEMIOLOGI


Terdapat 5-10% fraktur clavicula dari semua jenis fraktur. Fraktur inikebanyakan
terjadi pada pria yang berusia kurang dari 25 tahun, namun jugalebih sering
terjadi pada pria yang lebih tua, yaitu >55 tahun dan pada wanita>75 tahun.2

ETIOLOGI
Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang seringterjadi
akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar (outstrechedhand)
dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan sampaiklavikula, namun
baru-baru ini telah diungkapkan bahwa sebenarnyamekanisme secara umum

patah tulang klavikula adalah hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan
yang keras ke bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras.3

KLASIFIKASI
Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidaknya hubungan antara patahan
tulang dengan dunia luar, yaitu:4
Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masihutuh, tulang
tidak menonjol melalui kulit.
Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karenaadanya
hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi.

Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. FL Allmantahun


1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang membagi patahtulang
klavikula menjadi 3 kelompok :5
Kelompok 1: patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula(insidensi
kejadian 75-80%).
Pada daerah ini tulang lemah dan tipis.
Umumnya terjadi pada pasien yang muda.
Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%)
Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni (yakni,
conoid dan trapezoid).
a.Tipe 1. Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa
adanya perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular.
b. Tipe 2 A. Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, danligament
coracoclavicular masih melekat pada fragmen.
c. Tipe 2 B. Terjadi ganguan ligament. Salah satunya terkoyak ataupunkeduaduanya.
d. Tipe 3. Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yangmelibatkan AC
joint.
e. Tipe 4. Ligament tetap utuk melekat pata perioteum, sedangkanfragmen
proksimal berpindah keatas.
f. Tipe 5. Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen.
3. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%). Pada
kejadian ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.

ANATOMI
Os clavicula (tulang selangka) berhubungan dengan os sternum disebelah medial
dan di lateral tulang ini berhubungan dengan os scapula padaacromion yang
dapat diraba sebagai tonjolan di bahu bagian lateral. Tulang initermasuk jenis
tulang pipa yang pendek, walaupun bagian lateral tulang initampak pipih.
Bentuknya seperti huruf S terbalik, dengan bagian medial yangmelengkung ke
depan, dan bagian lateral agak melengkung ke belakang.Permukaan atasnya
relatif lebih halus dibanding dengan permukaan inferior.Ujung medial atau ujung
sternal mempunyai facies articularis sternalis yang berhubungan dengan discus
articularis sendi atau articulatiosternoclavicularis.6

Gambar 1. Anatomi Clavicula1

PATOMEKANISME
Fraktur clavicula paling sering disebabkan oleh karena mekanismekompressi
atau penekanan, paling sering karena suatu kekuatan yang melebihikekuatan
tulang tersebut dimana arahnya dari lateral bahu apakah itu karena jatuh,
keeelakaan olahraga, ataupun kecelakaan kendaraan bermotor.1
Pada daerah tengah tulang clavicula tidak di perkuat oleh otot ataupunligamentligament seperti pada daerah distal dan proksimal clavicula.Clavicula bagian
tengah juga merupakan transition point antara bagian lateraldan bagian medial.
Hal ini yang menjelaskan kenapa pada daerah ini palingsering terjadi fraktur
dibandingkan daerah distal ataupun proksimal.1

Gambar 2. Fraktur Clavicula

DIAGNOSIS

Gambaran klinis pada patah tulang klavikula biasanya penderita datangdengan


keluhan jatuh atau trauma. Pasien merasakan rasa sakit bahu dandiperparah
dengan setiap gerakan lengan. Pada pemeriksaan fisik pasien akanterasa nyeri
tekan pada daerah fraktur dan kadang-kadang terdengar krepitasi pada setiap
gerakan. Dapat juga terlihat kulit yang menonjol akibat desakandari fragmen
patah tulang. Pembengkakan lokal akan terlihat disertai perubahan warna lokal
pada kulit sebagai akibat trauma dan gangguansirkulasi yang mengikuti fraktur.
Untuk memperjelas dan menegakkandiagnosis dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang.7
Evaluasi pada fraktur clavicula yang standar berupa proyeksi anteroposterior
(AP) yang dipusatkan pada bagian tengah clavicula. Pencitraan yang dilakukan
harus cukup luas untuk bisa menilai juga kedua AC joint danSC joint. Bisa juga
digunakan posisi oblique dengan arah dan penempatan yang baik. Proyeksi AP
20-60 dengan cephalic terbukti cukup baik karena bisa meminimalisir struktur
toraks yang bisa mengganggu pembacaan. Karena bentuk dari clavicula yang
berbentuk S, maka fraktur menunjukkan deformitasmultiplanar, yang
menyebabkan susahnya menilai dengan menggunakanradiograph biasa. CT
scan, khususnya dengan 3 dimensi meningkatkan akurasi pembacaan.7

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada fraktur clavicula ada dua pilihan yaitu dengantindakan


bedah atau operative treatment dan tindakan non bedah ataukonsevatif.5
Pada orang dewasa dan anak-anak biasanya pengobatannya konservatif tanpa
reposisi, yaitu dengan pemasangan mitela. Reposisi tidak diperlukan,apalagi
pada anak karena salah-sambung klavikula jarang menyebabkangangguan pada
bahu, baik fungsi maupun keuatannya. Kalus yang menonjolkadang secara
kosmetik mengganggu meskipun lama-kelamaan akan hilangdengan proses
pemugaran. Yang penting pada penggunaan mitela ialah letak tangan lebih
tinggi daripada tingkat siku, analgetik, dan latihan gerak jari dantangan pada
hari pertama dan latihan gerak bahu setelah beberapa hari.4

Tidakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal berikut :5


1.Fraktur terbuka.
2.Terdapat cedera neurovaskuler.
3.Fraktur comminuted.
4.Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih.
5.Rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion).
6. Masalah kosmetik, karena posisi penyatuan tulang tidak
semestinya(malunion).

KOMPLIKASI
Komplikasi akut :7
Cedera pembuluh darah
Pneumouthorax
Haemothorax
Komplikasi lambat :7
Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalamwaktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan

PROGNOSIS
Prognosis jangka pendek dan panjang sedikit banyak bergantung pada berat
ringannya trauma yang dialami, bagaimana penanganan yang tepat danusia

penderita. Pada anak prognosis sangat baik karena proses penyembuhansangat


cepat, sementara pada orang dewasa prognosis tergantung dari penanganan,
jika penanganan baik maka komplikasi dapat diminimalisir.7

XIII. PROGNOSIS 5,7


Pasien dengan pneumotoraks spontan mengalami pneumotorak ulangan, tetapi
tidak ada komplikasi jangka panjang dengan terapi yang berhasil.5 Kesembuhan
dari kolap paru secara umum membutuhkan waktu 1 sampai 2 minggu.
Pneumotoraks tension dapat menyebabkan kematian secara cepat berhubungan
dengan curah jantung yang tidak adekuat atau insufisiensi oksigen darah
(hipoksemia), dan harus ditangani sebagai kedaruratan medis.