Anda di halaman 1dari 37

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

BAB II
STRUKTUR ORGANISASI PROYEK
II.1. Gambaran Umum Proyek
Nama Proyek

: Grand Jati Junction

Lokasi

: Jl. Perintis Kemerdekaan

Pemilik Proyek

: PT. Mahardika Agung Lestari

Project Manager

: Nasipta Sembiring

Site Supervisor

: Krisno Sibarani

Admin Project dan Document Control

: Aldrige

Admin Logistik

: Fina

Admin Keuangan

: Dedek

Humas

: Martin Silalahi

Status

: Proyek Swasta

Luas Lahan

: 8000 m2

Dimensi Tiang Pancang

: 45x45 cm

Foto Lokasi Proyek


Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


II.2 Umum
Struktur organisasi sangatlah penting di dalam pengerjaan sebuah proyek
pembangunan. Dengan adanya struktur organisasi proyek yang jelas maka semua pihak yang
terlibat dalam pengerjaan proyek dapat saling mengerti kedudukan dan fungsinya masingmasing sehingga terjalin kerja sama yang baik dan pembangunan proyek tersebut juga dapat
berjalan dengan lancar.
Walaupun pihak yang terlibat di dalamnya sudah mengerti akan posisinya, tetapi
untuk memperlancar hubungan kerja maupun komunikasi maka dibuatlah struktur organisasi
baik antara partner (kontraktor, konsultan perencana, dan pemilik proyek) maupun sesama
atasan dan bawahan untuk lebih mempertanggungjawabkan tugas yang telah diberikan
kepadanya.
Adapun pihak yang termasuk dalam struktur organisasi proyek pembangunan
Apartemen Jati Junction adalah sebagai berikut:
1. Pemilik proyek (Owner)
2. Kontraktor
3. Konsultan Pengawas
II.3 Pemilik Proyek (Owner)
Pemilik Proyek atau pemberi pekerjaan adalah seorang atau perkumpulan atau
badan hukum maupun jawatan yang mempunyai keinginan untuk mendirikan suatu
bangunan, kemudian orang tersebut menyampaikan keinginannya kepada para ahli bangunan
dan menyerahkannya agar dapat direncanakan bangunan yang diinginkan beserta biaya yang
diperlukan. Dalam hal pembangunan Apartemen Jati Junction, pemilik proyeknya adalah PT.
Mahardika Agung Lestari.
Pemilik proyek mempunyai kewajiban sebagai berikut:

Memberikan tugas kepada pemborong untuk melaksanakan pekerjaan pemborong seperti


diuraikan dalam pasal - pasal rencana kerja, berita acara penjelasan, maupun berita acara

klasifikasi menurut syarat syarat teknis sampai pekerjaan seluruhnya dengan baik.
Harus memberikan keterangan kepada pemborong mengenai pekerjaan dengan sejelas
jelasnya dan menyediakan segala gambar-gambar kerja dan Buku Rencana Kerja dan
Syarat yang diperlukan untuk pelaksanaan dengan baik.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Bila pemborong mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai atau menyimpang dari gambar
kerja, rencana kerja dan syarat - syarat lainnya, pemborong tersebut harus dengan segera
memberitahukan kepada owner secara tertulis, menguraikan ketidaksesuain atau
penyimpangan itu, dan pemberi tugas harus mengeluarkan petunjuk mengenai hal
tersebut.

II.4 Kontraktor/Pemborong
Kontraktor adalah seseorang atau organisasi atau badan hukum yang mengerjakan
pekerjaan menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan dengan dasar imbalan pembayaran
menurut jumlah tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dalam proyek ini,
kami bekerja praktek pada kontraktor PT Sabang Subur yang hanya melakukan pekerjaan
pemancangan.
Adapun tugas dan wewenang umum kontraktor adalah sebagai berikut:

Kontraktor harus menyelesaikan pekerjaan secara langsung sesuai dengan dokumen


perjanjian.

Kontraktor harus menunjuk Manager Proyek sebagai wakil penuh dari perusahaannya
untuk menyelesaikan masalah-masalah berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan dalam

hal manajemen proyek.


Harus menempatkan Site Manager yang bertanggung jawab dan mempunyai kekuasaan

penuh atas pelaksanaan pekerjaan dalam hal tersebut.


Kontraktor wajib menanggung biaya pembuatan dokumen kontrak termasuk gambar
kontrak dan wajib menyediakan satu set dokumen kontrak di lapangan untuk digunakan
sebagai dasar pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor tidak diperbolehkan melaksanakan
pekerjaan tanpa kelengkapan dokumen kontrak.

Kontraktor harus menjamin pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan peraturan


dalam dokumen kontrak. Kontraktor wajib meneliti dokumen kontrak. Jika terdapat
perbedaan - perbedaan yang dapat membawa akibat terhadap segi konstruksi, arsitektural
fungsi teknik, baik

menyangkut segi kemudahan pelaksanaan, pelayanan (operator),

maupun perawatan (maintenance), ataupun pembiayaan, kontraktor harus segera


memberitahukan kepada direksi lapangan/konsultan pengawas yang akan menetapkan
kebijaksanaan yang harus diambil.

Kontraktor wajib mengindahkan petunjuk, teguran dan perintah tertulis Direksi


Lapangan.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Kontraktor bertanggung jawab atas perawatan, pengawasan dan penjagaan keamanan


fisik dan teknis selama dan dalam hubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, sejak

mulainya pelaksanaan pekerjaan sampai dengan penyerahan pekerjaan / proyek.


Kontraktor wajib menyediakan kemudahan dan fasilitas bagi pemberi tugas, direksi
lapangan dan perencana untuk bebas memasuki dan mengunjungi tapak / lokasi selama

penyelenggaraan pembangunan.
Kontraktor diwajibkan hadir dalam setiap rapat pertemuan, rapat koordinasi proyek dan

atau rapat lain yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.


Kontraktor harus melakukan perbaikan-perbaikan atas kerusakan
atau kurang
sempurnanya pekerjaan akibat kelalaian selama pelaksanaan pembangunan.
Berikut ini merupakan orang-orang yang terlibat langsung dari badan pelaksana

lapangan (kontraktor):
1. Project Manager
Pada pembangunan Apartemen Jati Junction, PT Sabang Subur menunjuk yang menjadi
Manager Proyek adalah Bapak Nasipta Sembiring.
Fungsi Manager Proyek

Sebagai wakil perusahaan dalam mengelola proyek sedemikian rupa sehingga tercapai
tujuan proyek tepat waktunya dengan kualitas dan mutu yang memenuhi dan
memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Tugas Manager Proyek

Mempelajari dengan seksama, menilai dan bila perlu menyajikan


usul-usul perubahan kepada pimpinan perusahaan terhadap buku petunjuk
pelaksanaan (juklak) proyek yang ditanganinya kemudian melaksanakan proyek
sesuai dengan pedoman, yaitu juklak proyek tersebut.

Mengelola tugas-tugas perencanaan teknis, pengendalian operasi


serta pengawasan mutu dan keselamatan kerja pada proyek.

Mengelola tugas-tugas pembelian material yang diperlukan proyek,


pergudangan dan peralatan-peralatan yang diperlukan proyek.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


2. Site Supervisor
Pada pembangunan Apartemen Jati Junction yang menjadi Site Supervisor adalah Bapak
Krisno Sibarani.
Fungsi Site Supervisor:

Membantu Manager Proyek dalam melaksanakan pengelolaan operasi fisik


pelaksanaan proyek di lapangan, sehingga tujuan proyek dapat tercapai, antara lain
tepat waktu dan memberikan keuntungan yang optimal pada perusahaan.
Tugas Site Manager

Mempelajari, menganalisa dan melaksanakan semua perencanaan

yang diterima dari pemberi tugas atau direksi.


Mengadakan pengecekan transaksi-transaksi pelaksanaan proyek,

serta membandingkannya dengan rencana semula.


Menghentikan pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan

standar mutu yang telah ditetapkan


Wewenang Site Supervisor

Mengadakan hubungan langsung dengan unit-unit dibawahnya untuk mendapatkan


informasi yang berkaitan dengan tugasnya.
Tanggung Jawab Site Manager

Bertanggung jawab langsung kepada manager proyek.


3. Admin Project and Document Control
Pada proyek ini yang ditugaskan oleh PT. Sabang Subur sebagai Admin Project and
Document Control adalah Aldrige, Yang memiliki tugas sebagai berikut :
-. Menginventaris semua barang barang milik PT. Sabang Subur yang digunakan pada
proyek ini
-. Membuat pembukuan arsip arsip selama pelaksanaan proyek yang berlangsung
-. Memelihara peralatan administrasi dan bangunan kantor PT. Sabang Subur yang berada
di proyek
-. Mempersiapkan seluruh keperluan administrasi dan alat-alat kantor yang menunjang
kelancaran proyek.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


Pada proyek ini, Bapak Aldrige juga ditugaskan untuk menjadi mentor kami selama
melakukan kerja praktek. Karena kebetulan Bapak Aldrige merupakan alumni Teknik
Sipil Universitas Sumatera Utara angkatan 2008. Bapak Aldrige yang sangat membantu
kami dalam kerja praktek,
4. Administrasi Keuangan
Pada proyek ini, PT. Sabang Subur menempatkan Bapak Dedek bertugas sebagai
Administrasi Keuangan. Tugas dari Administrasi Keuangan adalah :
-. Membuat laporan keuangan mengenai seluruh pengeluaran di proyek
-. Membuat secara rinci pembukuan keuangan proyek
-. Bertanggung jawab terhadap uang kas PT. Sabang Subur dalam pelaksanaan proyek ini
-. Menyelenggarakan pengurusan keuangan baik bersifat penerimaan, penyimpanan dan
pengeluaran serta bertanggung jawab sepenuhnya atas pengolahan keuangan di proyek
5. Administrasi Logistik
PT. Sabang Subur menugaskan Fina sebagai Administrasi Logistik pada proyek ini. Tugas
dari Administrasi Logistik adalah :
-. Mencari dan mensurvey data alat beserta harga dari beberapa supplier sebagai data
untuk memilih harga alat termurah dan memenuhi standar kualitas yang telah
ditetapkan.
-. Melakukan pembelian alat ke supplier dengan melaksanakan seleksi sebelumnya
sehingga bisa mendapatkan harga alat termurah pada supplier terpilih.
-. Menyediakan dan mengatur tempat penyimpanan alat yang sudah didatangkan ke area
proyek sehingga dapat tertata rapi dan terkontrol dengan baik jumlah pendatangan dan
pemakaianya.
-. Membuat label keterangan pada barang yang disimpan untuk menghindari kesalahan
penggunaan akibat tertukar dengan barang lain.
-. Melakukan pencatatan keluar masuknya barang serta bertanggung jawab atas
pendatangan dan ketersediaan alat yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pembangunan.
-. Membuat dan menyusun laporan alat sesuai dengan format yang sudah menjadi standar
perusahaan
-. Menyusun macam-macam laporan logistic yang diminta oleh perusahaan.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

10

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


-. Berkoordinasi dengan pelaksana lapangan dan bagian teknik proyek mengenai jumlah
dan schedule pendatangan alat yang dibutuhkan pada masing-masing waktu
pelaksanaan pembangunan.
6. Humas
Pada proyek ini yang bertugas sebagai Humas adalah Martin Silalahi. Tugas dari Humas pada
pengerjaan proyek ini adalah :
-. Melakukan sosialisasi dengan masyarakat setempat tentang sedang dilakukan pelaksanaan
proyek dan kemungkinan adanya gangguan yang akan terjadi selama proses pengerjaan
-. Berhubungan dengan pihak keamanan setempat untuk bekerja sama dalam proses
pengamanan proyek
-. Membantu menjaga keamanan dalam proyek. Bapak Martin Silalahi adalah anggota
Brimob. Sehingga selain sebagai Humas, juga membantu keamanan proyek.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

11

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

BAB III
BAHAN DAN PERALATAN
III.1 Umum
Bahan Konstruksi (Construction Materials) adalah bahan-bahan yang digunakan
untuk melaksanakan kegiatan konstruksi bangunan.Bahan konstruksi terus mengalami
kemajuan seiring dengan adanya perkembangan zaman dan kemajuan pada bidang teknologi.
Bahan utama konstruksi bangunan antara lain: beton, baja dan kayu.
Bahan-bahan yang digunakan dalam perencanaan suatu bangunan haruslah
mengikuti persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Dalam proyek ini, tiang pancang yang
digunakan berasal berasal dari PT. Wijaya Karya Beton. Spesifikasi material yang digunakan
disesuaikan dengan peraturan yang ada, yaitu :

SNI 03-2847-2002

: Indonesian Concrete Code.

SNI 15-2049-2004

: Portland Cement.

ACI 543R - 00

: Design, Manufactured and Installation of Concrete

Piles

JIS A 5335 - 1987

: Prestressed Concrete Spun Piles.

JIS G 3536 1999

: Uncoated Stress-Relieved Steel Wire and Strand for


Prestressed Concrete

JIS G 3137 1994

: Small Size Deformed Steel Bars for Prestressed

Concrete

JIS G 3532 2000

: Low Carbon Steel Wire

JIS G 3101 2004

: Rolled Steel for General Structure

ASTM C33 - 1999

: Standard specification of Concrete Aggregates.

ASTM C494 - 1985

: Standard Specification for Chemical Admixture for


Concrete

NI 2 PBI 1971

: Indonesian Concrete Code

ANSI / AWS D1. 1 1990

: Structural Welding Code-Steel

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

12

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Wika BETON-09-IK-005 : Piles Manufacturing Work Instruction

III.2 Bahan-bahan konstruksi


Dalam proyek ini, PT. Sabang Subur hanya melakukan pekerjaan pondasi. Proyek
ini menggunakan pondasi berupa tiang pancang. Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan oleh
beberapa factor yang sudah ditinjau ketika dalam masa perencanaan. Faktor faktor tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Fungsi bangunan atas (upper structure) yang akan dipikul oleh pondasi
tersebut.
2. Besarnya beban dan berat dari bangunan atas.
3. Kondisi tanah pada lokasi bangunan tersebut yang akan didirikan.
4. Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas.
Dikarenakan begitu pentingnya peranan dari pondasi tiang pancang tersebut,
maka jika

pembuatannya dibandingkan dengan pembuatan pondasi lain, pondasi tiang

pancang ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :


1. Biaya pembuatannya kemungkinan besar (dengan melihat letak lokasi dan
lainnya), lebih murah bila dikonversikan dengan kekuatan yang dapat
dihasilkan.
2. Pelaksanaannya lebih mudah, karena pemancangan menggunakan mesin
pemancang.
3. Peralatan yang digunakan tidak sulit untuk didapatkan
4. Para pekerja yang sudah cukup terampil untuk melaksanakan proses
pembangunan yang mempergunakan pondasi tiang pancang, karena adanya
pelatihan yang dilakukan sebelum menjadi pekerja.
5. Waktu pelaksanaannya relatif lebih cepat.
Dengan melihat faktor faktor yang telah disebutkan diatas dan maka pemilihan
pondasi yang digunakan adalah tiang pancang, karena bangunan berupa apartemen 29 lantai,
dan setelah proses perencanaan didapati bahwa beban yang dimiliki oleh bangunan tersebut
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

13

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


besar dan ditambah setelah dilakakukan peninjauan pada kondisi tanah pada lokasi proyek
yang menunjukkan kondisi tanah yang kurang stabil, maka diambil keputusan pondasi yang
digunakan adalah tiang pancang. Tiang pancang yang digunakan ada 2 jenis, yaitu :
-. Tiang pancang bottom

: tiang pancang ini digunakan pada saat pertama kali proses

pemancangan 1 titik dimulai. Bentuk salah satu ujungnya runcing, karena langsung menekan
tanah. Pada ujung yang satunya berbentuk rata dan dilapisi plat baja yang berfungsi untuk
disambungkan ke tiang pancang upper dengan cara dilas.
-. Tiang pancang upper

: tiang pancang ini digunakan untuk disambungkan ke tiang

pancang bottom, jika tiang pancang bottom belum cukup mencapai kedalaman yang
ditentukan pada saat perencanaan ataupun belum mencapai lapisan tanah yang keras. Salah
satu ujung tiang pancang upper berbentuk rata dan tanpa dilapisi baja karena tidak mengalami
pengelasan dengan tiang pancang bottom. Pada ujungnya yang lain, tiang pancang upper
dilapisi baja karena akan dilas ke tiang pancang bottom. Jika sudah mencapai kedalam yang
diinginkan, tiang pancang upper akan dipotong.
Tabel dibawah berisikan spesifikasi tiang pancang yang digunakan dalam proyek ini :

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

14

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Bottom Square Pile

Upper Square Pile

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

15

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

III.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk pembangunan baik bangunan gedung, irigasi, jembatan
maupun jalan haruslah memperhatikan nilai ekonomis dan kemudahan pelaksanaannya di
lapangan. Dalam proyek ini alat yang digunakan dimiliki oleh PT. Sabang Subur. Dibawah ini
dijelaskan alat alat apa saja yang digunakan :
1. Hydraulic Static Pile Driver: Pada proyek pembangunan apartemen jati junction,
metode pelaksanaan yang digunakan untuk pembuatan pondasi adalah metode jack in
pile. Jack in pile adalah suatu sistem pemancangan pondasi tiang yang
pelaksanaannya ditekan masuk ke dalam tanah dengan menggunakan dongkrak
hidraulis yang diberi beban counterweight sehingga tidak menimbulkan getaran dan
gaya tekan dongkrak langsung dapat dibaca melalui manometer sehingga gaya tekan
tiang setiap mencapai kedalaman tertentu dapat diketahui. Sebelum melakukan jackin, maka diadakan tes sondir dan boring. Dari hasil tes sondir tersebut, rata-rata
kedalaman tanah kerasnya akan diketahui yang kemudian dibandingkan dengan
perencanaan panjang dan kedalaman tiang. Pengerjaan dengan menggunakan Jack-in
Pile ini memiliki keuntungan-keuntungan antara lain, bebas dari kebisingan/getaran
dan polusi serta pondasi tipe ini cocok digunakan pada daerah perkotaan atau daerah
padat penduduk. Mampu memancang pondasi dengan berbagai ukuran mulai dari
200x200 mm sampai 500x500 mm atau juga dapat untuk spun pile dengan
diameter 300 sampai dengan 600 mm. Mobilisasi mudah. Lokasi proyek

yang terletak ditengah kota membuat proses pengerjaannya harus ramah lingkungan.
Penggunaan alat Hydraulic Static Pile Driver sangat baik digunakan untuk proses
pemancangan pada lokasi proyek ini, karena getaran dan kebisingan yang ditimbulkan
lebih sedikit. Alat ini memiliki mobilisasi yang baik dan mampu melakukan
pemancangan dengan dimensi tiang pancang yang besar. Alat ini juga memiliki crane
sendiri, sehingga pengangkatan dan proses memasukkan tiang pancang lebih mudah.
Jumlah Hydraulic Static Pile Driver yang digunakan dalam proyek ini ada 3 buah,
dengan 2 jenis yang berbeda. Jenis yang digunakan sebagai berikut :
-. Hydraulic Static Pile Driver ZYJ 600 : Alat ini digunakan untuk pemancangan sampai
pembacaan di manometer mencapai 22 Mpa. Jenis ini hanya ada 1 buah yang
dioperasikan pada proyek.
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

16

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


-. Hydraulic Static Pile Driver ZYJ 420 : Alat ini digunakan untuk pemancangan sampai
pembacaan di manometer mencapai 16 Mpa. Umumnya pemancangan yang dilakukan
alat ini tidak lebih dalam daripada Hydraulic Static Pile Driver ZYJ 600. Ada 2 alat jenis
ini yang dioperasikan dalam proyek ini. Hanya 1 yang digunakan untuk pemancangan,
alat yang 1 lagi digunakan hanya untuk proses pemindahan tiang pancang.

Hydraulic Static Pile Driver

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

17

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


2. Generator, berfungsi sebagai sumber utama tenaga listrik. Hydraulic Static Pile
Driver menggunakan listrik untuk bekerja sehingga membutuhkan generator yang
diletakkan pada masing masing mesin. Ada 3 buah generator yang digunakan yang
diletakkan pada masing masing mesin Hydraulic Static Pile Driver.

Generator
3. Pemberat : karena proses pemancangan menggunakan metode jack in pile dan alat
yang digunakan adalah hydraulic static pile driver, maka diperlukan pemberat untuk
alat hydraulic static pile driver. Karena proses pemancangan yaitu melakukan
penekanan tiang pancang ke dalam tanah sampai menemui lapisan tanah keras, maka
akan terjadi perlawanan tanah terhadap penekanan tersebut. Maka dibutuhkanlah
pemberat pada mesin hydraulic static pile driver untuk menambah berat, sehingga
apabila terjadi perlawanan tanah pada proses penekanan yang memungkinkan
terjadinya getaran dan terangkatnya mesin hydraulic static pile driver karena adanya
pemberat yang diletakkan diatas mesin tersebut akan mengurangi getaran. Pemberat
hanya diletakkan pada 2 mesin hydraulic static pile driver yang melakukan
pemancangan saja. Pada mesin hydraulic static pile driver yang tidak melakukan
pemancangan, tidak diperlukan pemberat.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

18

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pemberat pada Hydraulic Static Pile Driver


4. Berbagai peralatan sederhana lainnya yang digunakan dalam proses penyambungan
tiang pancang upper dan bottom, proses pemotongan sisa tiang pancang upper yang
berlebih dan tidak digunakan lagi dan alat alat yang membantu perbaikan alat utama
jika terjadi kerusakan yang sekiranya masih bisa dilakukan di lokasi proyek; seperti
sekop, pacul, tang, alat las dan lain lain yang mendukung pembangunan proyek.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

19

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

BAB IV
PEKERJAAN DI LAPANGAN
IV.1 Umum
Dalam pembangunan suatu proyek konstruksi diperlukan menejemen yang baik
dalam hal pengerjaan di lapangan. Oleh sebab itu pekerjaan di lapangan dikerjakan secara
bertahap dan disusun secara teratur dalam time schedule master, akan tetapi hal ini tidak
cukup untuk mengontrol pekerjaan di lapangan sehingga untuk proyek pembangunan yang
besar diperlukan time schedule mingguan maupun harian. Pada proyek ini, PT. Sabang Subur
hanya melakukan pekerjaan pondasi. Tahap yang dikerjakan adalah :

Pekerjaan persiapan.

Pekerjaan pemancangan.

Pekerjaan finishing.

IV.2 Pekerjaan Persiapan


Dalam proyek konstruksi pekerjaan yang pertama kali dikerjakan adalah
pekerjaan pondasi. Sebelum memulai pekerjaan pondasi lahan proyek harus dipersiapkan
dahulu.dengan menggunakan alat berat. Jadi yang pertama kali dilakukan dalam proyek
adalah pekerjakan persiapan. Pada proyek ini, karena PT. Sabang Subur hanya melakukan
pekerjaan pondasi saja, maka pekerjaan persiapan yang dilakukan hanya dua yaitu mobilisasi
demobilisasi dan pematangan lahan.
1. Mobilisasi dan demobilisasi.
Mobilisasi dan demobilisasi merupakan pekerjaan di lapangan yang dilakukan pada saat
persiapan dan akhir proyek. Pada awal persiapan proyek, peralatan dan tenaga kerja
merupakan komponen penting yang harus dipersiapkan dengan baik agar proses
pembangunan dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan time schedule. Biasanya ada
persyaratan yang sudah ditetapkan dalam dokumen kontrak tentang peralatan yang harus
sudah ada dilapangan setelah dikeluarkan surat perintah kerja (SPK). Pada saat pekerjaan
pemancangan sudah mulai dilakukan, sisa sisa potongan tiang pancang yang sudah
tidak digunakan lagi harus diangkut dari lokasi proyek agar tidak mengganggu. Begitu
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

20

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


juga pada saat akhir penyelesaian proyek, harus dilakukan pemulangan dan
pengembaliaan secara bertahap komponen tersebut guna perapihan lapangan dan juga
dalam memanajemen output cost ( apabila ada peralatan yang merupakan rentalan).
2. Pekerjaan stripping area proyek untuk mengeluarkan top soil / lumpur.
-

Pekerjaan stripping dilakukan pada semua area proyek minimum sedalam 20 cm

menggunakan dozer (D-3) dan excavator ( PC 200 ).


Pemadatan semua areal untuk mengeluarkan/mengurangi kadar air dalam tanah
sehingga tanah memiliki kekuatan yang lebih baik, pemadatan dilakukan dengan

vibro roller 25 ton.


Ketinggian elevasi timbunan inilah yang menjadi titik acuan awal pekerjaan
pembangunan.

Pekerjaan stripping

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

21

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pembuangan hasil stripping

IV.3 Pekerjaan Struktur Bawah ( Pondasi)


Pondasi adalah struktur bawah tanah dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai
pendistribusi beban (meneruskan) dari kontruksi di atasnya ke lapisan tanah pendukung,
sehingga tanah dapat menerima beban tersebut dengan baik dan aman.
Dalam perencanaan bangunan sipil, pondasi adalah suatu bagian yang sangat
penting. Kestabilan suatu bangunan terletak pada perencanaan pondasinya. Pondasi terdiri
dari beberapa jenis, dilihat dari lapisan tanah, jenis bahan yang digunakan, jenis bangunan
atau konstruksi yang didukungnya dan cara pemasangannya.
Pada proyek pembangunan Apartemen Jati Junction, pondasi yang digunakan
adalah jenis pondasi Tiang Pancang. Alat yang digunakan untuk pemancangan adalah
Hydraulic Static Pile Driver. Cara kerja proses pemancangan sebagai berikut :
-. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengatur Hydraulic Static Pile Driver berposisi
horizontal sesuai dengan level indicator yang berada pada cabin ruangan operator yang
berposisi tepat diatas titik yang akan dilakukan pemancangan dan mengatur alat ini
berkedudukan tegak sehingga tiang pancang yang akan dipancang tidak miring.
-. Setelah posisi mesin sudah tepat pada titik pemancangan, Posisikan Hydraulic Cylinder
dalam keadaan bebas dan Pressing Box diangkat pada posisi bagian atas. Tiang diberi skala
(Marking) panjang tiap 50 cm untuk mengetahui kedalaman berapa tiang terpancang. Tiang
diikat pada posisi 1/3 x panjang tiang. Lalu tiang pancang diangkat dan dimasukkan ke
dalam lubang sentral yang terdapat dalam Clamping Box. Tiang pancang bottom diangkat
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

22

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


dan dimasukkan perlahan ke dalam lubang pengikat tiang yang disebut grip, kemudian sistem
jack-in akan naik dan mengikat atau memegangi tiang bottom tersebut. Ketika tiang bottom
sudah dipegang erat oleh grip, maka tiang pancang bottom mulai ditekan. Dua unit Clamping
Cylinder diberikan tekanan sehingga Clamping Cylinder menjepit tiang yang terdapat pada
lubang sentral Clamping Box. Dengan menggunakan handle yang terdapat pada ruang
kemudi, operator mengatur Pressing Valve, Pressing Cylinder agar tiang dalam keadaan
terjepit oleh Clamping Cylinder, kemudian Clamping Box yang telah menjepit ditekan,
sehingga berakibat tiang dapat masuk ke dalam tanah

Proses pengangkatan dan memasukkan tiang pancang bottom


ke dalam Hydraulic Static Pile Driver

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

23

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


-. Penekanan terus dilakukan. Setelah selesai melaksanakan satu stroke, Clamping Cylinder
dibuat keadaan bebas (tidak menjepit tiang lagi), sehingga tiang pancang terbebas dari
jepitan, dan Clamping Box diangkat kembali pada posisi semula. Penekanan diberhentikan
jika grip hanya mampu menekan tiang pancang sampai bagian pangkal lubang mesin saja
maka penekanan dihentikan dan grip bergerak naik ke atas untuk mengambil tiang pancang
upper yang telah disiapkan.
-. Tiang pancang upper kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam grip. Setelah itu sistem
jack-in akan naik dan mengikat atau memegangi tiang upper tersebut. Ketika tiang sudah
dipegang erat oleh grip, maka tiang mulai ditekan mendekati tiang pancang bottom. Lalu
posisikan tiang pancang bottom bawah kurang lebih 75 cm dari permukaan tanah dengan
menggunakan batang tiang pancang upper. Penekanan dihentikan ketika posisi tiang pancang
bottom sudah mencapai kurang lebih 75 cm. Hal ini dilakukan guna mempersiapkan
penyambungan ke dua tiang pancang dengan cara pengelasan.

Proses pengangkatan dan pemasukkan tiang pancang upper

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

24

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


-. Untuk menyambung tiang bottom dan tiang upper digunakan sistem pengelasan. Agar
proses pengelasan berlangsung dengan baik dan sempurna, maka ke dua ujung tiang pancang
yang diberi plat harus benar-benar tanpa rongga. Lalu posisi tiang pancang upper harus lurus
dengan tiang pancang bottom, tidak boleh ada kemiringan. Karena akan membuat tiang
pancang tidak dapat menyalurkan beban yang diterima dari struktur atas ke tanah dan akan
sangat bahaya karena sangat besar kemungkinan terjadinya pelepasan tiang pancang bottom
dan upper. Pengelasan harus dilakukan dengan teliti karena kecerobohan dapat berakibat
fatal, yaitu beban tidak tersalur sempurna.

Proses penyambungangan tiang pancang bottom


dan tiang pancang upper dengan pengelasan

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

25

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


-. Setelah proses pengelesan sudah selesai, penekanan tiang upper dilanjutkan lagi.
Pemberhentian penekanan dilakukan sampai manometer yang berada di Hydraulic Static Pile
Driver ZYJ 600 mencapai bacaan 22MPa dan 16 MPa pada Hydraulic Static Pile Driver ZYJ
420.
-. Setelah pemberhentian penekanan tiang pancang, maka sisa dari tiang pancang upper yang
tidak masuk kedalam tanah akan dipotong. Lalu diangkat dan dibuang.

Proses pemotongan tiang pancang sisa


-. Apabila sudah selesai proses pengangkatan dan pembuangan tiang pancang sisa, maka
dilanjutkan pemancangan di titik yang lain dengan proses yang sama seperti diawal.
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

26

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


IV.6 Pekerjaan Finishing
Pada proyek pembangunan apartemen Jati Junction ini, pekerjaan finishing yang dilakukan
oleh PT. Sabang Subur hanya pembongkaran alat dan pembersihan lahan. Hydraulic Static
Pile Driver yang dimiliki PT. Sabang Subur, setelah selesai semua pengerjaan pemancangan
dibongkar dan dipulangkan ke gudang peralatan PT. Sabang Subur ataupun dipindahkan ke
lokasi proyek yang lain yang sedang dikerjakan oleh PT. Sabang Subur. Karena sudah selesai
tugas PT. Sabang Subur diproyek tersebut, dan akan dimulai proses struktur atas yang
dilaksanakan oleh pihak kontraktor lain. Sehingga alat alat yang dimiliki PT. Sabang Subur
tidak mengganggu jalannya proses pengerjaan tahap selanjutnya pada proyek apartemen Jati
Junction. Lalu pembersihan lahan proyek Apartemen Jati Junction dari sisa-sisa potongan
tiang pancang yang tidak terpakai juga diangkut dan dibuang. Walaupun dari awal
pemancangan dilakukan pembuangan sisa-sisa potongan tiang pancang yang tidak terpakai
lagi, tetapi pada akhir proyek yang paling banyak sisa potongan karena ada potongan
potongan yang belum sempat terangkut dari awal sampai akhir pemancangan. Sehingga
setelah pemancangan terakhir dilakukan, harus dilakukan pembersihan dari sisa potongan
potongan tiang pancang yang tidak terpakai lagi. Agar tidak mengganggu jalannya
pelaksanaan struktur atas yang dikerjakan oleh kontraktor lain yang sudah ditetapkan owner.
IV.5 Permasalahan
IV.5.1. Keadaan Cuaca yang Tidak Stabil
Keadaan cuaca yang tidak stabil sangat mengganggu proses berjalannya proyek ini. Proses
pengerjaan awal proyek ini dimulai akhir bulan Desember yang sedang mengalami musim
hujan. Sehingga dari awal proyek berjalan saja sudah terhambat karena turunnya hujan.
Proses pemancangan yang dikerjakan oleh PT. Sabang Subur, pada awal perencanaan
ditargetkan pada awal bulan Maret. Tapi karena banyaknya permasalahan, maka target yang
sudah direncanakan tidak terpenuhi. Pada bulan Maret yang seharusnya sudah mulai musim
kemarau, ternyata hujan masih sering turun. Jadi sampai semakin banyak waktu yang
terbuang karena keadaan cuaca yang tidak stabil, sehingga target yang sudah ditentukan
menjadi semakin mundur.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

27

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


IV.5.2. Permasalahan Umur Tiang Pancang yang Belum Cukup Pada Sampai Lokasi
Proyek
Tiang pancang yang digunakan dalam pembangunan apartemen ini berasal dari PT. Wika
Beton dan yang menyediakan tiang pancang tersebut adalah PT. Mahardika Agung Lestari
selaku dari owner proyek pembangunan apartemen ini. PT. Sabang Subur hanya melakukan
penyediaan alat, pekerja pemancangan dan proses pemancangan tiang pancang. Jadi PT.
Sabang Subur hanya menerima tiang pancang yang sudah disediakan oleh owner yaitu PT.
Mahardika Agung Lestari. Pada saat tiang pancang yang disediakan sampai ke lokasi proyek,
tiang pancang tersebut belum semuanya cukup umur. Sehingga pekerjaan pemancangan yang
dilakukan PT. Sabang Subur terhambat, karena harus menunggu tiang pancang yang
disediakan owner sampai umur yang cukup untuk dipancang. Jika tiang pancang yang belum
cukup umur tersebut dipaksakan untuk pemancangan, ditakutkan akan terjadi patah atau retak
pada tiang pancang tersebut, sehingga tidak bisa menyalurkan beban dengan baik ke tanah.
Akibat dari tiang pancang yang belum cukup umur tersebut, proses pemancangan terhambat.
Sehingga tidak dapat tercapainya target yang disudah direncanakan diawal.

IV.5.3. Kerusakan Alat dan Kecelakaan Pada Saat Proses Pengerjaan


Selama kami menjalani kerja praktik di pembangunan apartemen Jati Junction, sempat terjadi
beberapa kali kerusakan alat dan kecelakaan. Alat utama dari PT. Sabang Subur untuk
melakukan pemancangan yaitu Hydraulic Static Pile Driver pernah mengalami kerusakan.
Perbaikan yang dilakukan memakan waktu 3 hari. Sehingga hanya ada 1 alat Hydraulic Static
Pile Driver yang beroperasi untuk pemancangan. Lalu generator listrik yang merupakan
sumber penggerak Hydraulic Static Pile Driver juga pernah mengalami kerusakan, sehingga 1
alat tidak bisa dioperasikan. Walaupun waktu perbaikan untuk generator listrik tidak begitu
lama, tetapi proses pengerjaan kurang maksimal karena cuman 1 alat yang dapat beroperasi.
Lalu kecelakaan juga pernah menyebabkan kerusakan alat, sehingga proses perngerjaan
terhambat lagi. Pada saat crane yang menyatu dengan alat Hydraulic Static Pile Driver sedang
melakukan pengangkatan tiang yang akan dimasukkan ke alat dan dipancang, terjadi
kesalahan yang menyebabkan pada saat tiang pancang yang sedang diangkat dan digerakkan
malah bergerak salah arah dan malah menabrak ruang kabin operator crane tersebut. Tetapi
untung tidak terjadi korban jiwa, karena operator yang mengoperasikan crane tersebut dapat
Alvin Hogan M. Situmorang
11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

28

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


keluar dari kabin operator tersebut sebelum tiang pancang menabraknya. Tetapi kejadian
tersebut membuat kabin operator rusak dan memerlukan waktu untuk dilakukan perbaikan.
Sehingga proses pemancangan terhambat dan mundurnya target dari yang sudah direncakan.
IV.6. Kesesuaian teori dengan praktik
Dalam proses pemancangan yang dilakukan oleh PT. Sabang Subur, ada beberapa
ketidaksesuain dalam teori yang kami pelajari pada proses kuliah dan pelaksanaan yang
terjadi pada saat proses pengerjaan di lapangan. Tanah pada lokasi proyek pembangunan
apartemen Jati Junction, termasuk kurang stabil. Daya dukung tanah berbeda-beda pada
banyak titik, sehingga hasil dari pengujian daya dukung tanah pada saat sebelum proses
pemancangan dimulai yang lalu digunakan dalam proses perencanaan pondasi berbeda.
Kedalaman tiang pancang yang direncanakan dan proses pelaksanaan yang dilakukan
berbeda. Pada beberapa titik pemancangan, ada tanah yang memiliki daya dukung yang kuat.
Sehingga sebelum sampai pada kedalaman yang direncanakan, manometer yang terdapat
pada Hydraulic Static Pile Driver sudah menunjukkan bacaan yang diinginkan. Proses
pemancangan tersebut dihentikan dan sisa tiang pancang yang cukup panjang harus dipotong
karena daya dukung yang ditargetkan sudah dipenuhi sebelum mencapai perencanaan awal
kedalaman tiang pancang. Ada juga titik pemancangan yang ketika sudah mencapai
kedalaman yang direncanakan, tetapi ketika dilihat pada manometer yang terdapat pada
Hydraulic Static Pile Driver belum mencapai bacaan yang direncanakan. Pada titik tersebut
daya dukung tanah kurang baik, sehingga pemancangan dilakukan sampai melewati
kedalaman yang direncanakan. Tetapi karena dalam perencanaan dalam 1 titik hanya
direncanakan 2 tiang pancang dan keterbatasan jumlah tiang pancang, maka pemancangan
harus dihentikan, dengan anggapan tidak terlalu jauhnya perbedaan daya dukung tanah yang
direncakan dan pada saat pemancangan titik tersebut dihentikan. Lalu keadaan alat juga
sangat mempengaruhi proses pemancangan, karena semua pengerjaan dilakukan dengan alat.
Keadaan alat yang sudah tua mengharuskan dilakukan kalibrasi, karena keadaan alat yang
dipelajari pada teori dan pelaksanaan berbeda. Keadaan alat pada lapangan mungkin
melakukan kesalahan pembacaan pada manometer, sehingga alat harus dikalibrasi melebihi
dari fungsi normalnya alat tersebut dalam teori. Sehingga walaupun terjadi kesalahan pada
alat, besar kemungkinan daya dukung yang didapat melebihi rencana awal.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

29

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Kegiatan pekerjaan di lapangan yang kami ikuti selama kerja praktek meliputi
pekerjaan persiapan, pekerjaan pemancangan tiang pancang dan pekerjaan finishing.
Berdasarkan hasil pengamatan kerja praktek di lapangan, maka kami menyimpulkan bahwa:
1. Peralatan yang digunakan cukup baik, lengkap dan disesuaikan dengan kebutuhan yang
diperlukan dalam pekerjaan di lapangan.
2. Pekerjaan di lapangan susah diperkirakan waktu siapnya, karena di lapangan faktor-faktor
penyebab keterlambatan itu banyak, dapat berupa keterlambatan penyediaan material,
kerusakan alat, kecelakaan, kondisi cuaca, dan sebagainya.
3. Penyusunan/penempatan bahan di lapangan tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan
maupun lalu lintas pengiriman bahan di lapangan, namun bertumpuk pada suatu area.
4. Adanya pembagian kerja secara terstruktur di lapangan sehingga tercipta kerja sama yang
baik satu dengan yang lainnya.
5. Pengawasan yang teratur di lapangan menyebabkan pembangunan di lapangan dapat
terkoordinir dengan baik.
6. Jika terdapat masalah dalam pengerjaan di lapangan, maka hal ini dirundingkan dan
dibahas secara bersama-sama pada rapat kerja.
7. Sistem penjagaan keamanan yang cukup ketat, terlihat adanya pos satpam di gerbang
yang mewajibkan tamu harus melapor terlebih dahulu.
8. Adanya sistem kerja yang teratur, hal ini terlihat dari keteraturan jam masuk dan jam
istirahat pekerja.

V.2 Saran
Sebagai penutup dari laporan kerja praktek ini, ada beberapa saran yang perlu
dipertimbangkan antara lain:

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

30

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


1. Komunikasi terhadap para pekerja di lapangan harus terus di jaga dengan memberikan
pengarahan yang jelas dan pengawasan yang baik dalam mengerjakan suatu
pekerjaan, untuk menghindari kesalahan dalam pekerjaan.
2. Peralatan yang berbahaya sebaiknya digunakan secara hati-hati dan diberikan
petunjuk pemakaian peralatan sehingga keselamatan kerja lebih terjamin.
3. Alat berat yang digunakan harus dioperasikan oleh operator yang sudah
berpengalaman agar mengurangi resiko kesalahan dan kecelakaan.
Memberikan kesempatan yang lebih banyak lagi bagi mahasiswa yang ingin melakukan kerja
praktek, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa di lapangan.

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

31

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Ujung tiang pancang


nomor tiang pancangg

Lokasi proyek
Persiapan pemancangan

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

32

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Sisa sisa potongan tiang pancang


Penyusunan tiang pancang

Pengangkatan tiang pancang


Lokasi Proyek

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

33

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Keadaan lokasi proyek


Mobilisasi mesin HSPD

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

34

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur


Perbaikan mesin HSPD
HSPD tanpa pemberat

Mesin

Tampak samping mesin HSPD


samping mesin HSPD

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Tampak

Geraldy Patar P. Sitompul

35

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pemberat pada mesin HSPD


dibawah mesin HSPD

Keadaan

Keadaan lokasi setelah hujan


lokasi setelah hujan

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Keadaan

Geraldy Patar P. Sitompul

36

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Bagian bawah dari mesin HSPD


lokasi setelah hujan

Pemotongan tiang pancang


Static Pile Driver

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Keadaan

Hydraulic

Geraldy Patar P. Sitompul

37

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Keadaan lokasi setelah hujan


pemotongan tiang pancang

Proses

Hydraulic Static Pile Driver


Pemotongan tiang pancang

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

38

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pelepasan sisa tiang pancang


dengan alat las

Pemotongan

Pengangkatan sisa tiang pancang


pemotongan tiang pancang

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

Kondisi setelah

39

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pemancangan tiang bottom


Pengangkatan tiang pancang

Proses pengelasan
Pengangkatan tiang pancang

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

40

Laporan Kerja Praktek

Proyek Pembangunan Apartemen PT Sabang Subur

Pengangkatan tiang pancang


Tiang pancang

Alvin Hogan M. Situmorang


11 0404 105
11 0404 151

Geraldy Patar P. Sitompul

41