Anda di halaman 1dari 14

Komala Sari (066113006), Ajeng Fauziyyah (066113013), Denti Agustina.

S
L (066113019), Tri Hardianti (066113025), Tiara Riyanti (066133030),
Ikhwansyah (066113031).
Laboratorium Farmasi, Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Pakuan Bogor
ABSTRAK
Dalam system reproduksi, jantan memiliki organ genetalia primer yang
berfungsi memproduksi spermatozoa, yang di sebut testis. Spermatozoa
di produksi oleh testis. Proses pembentukan spermatozoa oleh testis di
sebut spermatogenesis. Spermatozoa adalah unit penting yang
berperan

dalam

system

reproduksi

agar

dapat

menghasilkan

keturunan. Pada praktikum evaluasi semen menggunakan hewan


unggas sebagai percobaan yaitu itik yang

dilakukan berdasarkan

makroskopik dan mikroskopis. Secara makroskopis, itik memiliki bau


yang khas yang berwarna kream atau kekuningan pada volume 0,5ml
dengan PH 7 sedangkan secara mikroskopik dilakuakan dengan
berbagai perlakuan yaitu mengitung persentase spermatozoa hidup,
gerakan massa, motilitas dan konsentrasi spermatozoa
Kata kunci: spermatozoa, itik, makroskopis dan mikroskopis

PENDAHULUAN

prosentase sperma hidup dan


konsentrasi sperma

TUJUAN PERCOBAAN
1. Menetapkan kualitas semen
dengan

pemeiksaan

LATAR BELAKANG
Analisa

semen

makroskopis meliputi: warna,

dilakukan

bau,

dan

gangguan fertilitas (kesuburan)

viskositas
2. Menetapkan kualitas semen

yang disertai dengan atau tanpa

pH,

volume

dengan

pemeriksaan

mikroskopis,

meliputi:

gerakan

motilitas,

massa,

disfungsi

untuk

dapat

hormon

mengevaluasi

androgen.

Dalam hal ini hanya beberapa


parameter ejakulat yang diperiksa

(dievaluasi)

berdasarkan

buku

dan mengalami meiosis. Satu

petunjuk WHO Manual for the

spermatosit

examination of the Human Semen

menghasilkan dua sel anak,

and Sperm-Mucus Interaction .

yaitu spermatosit sekunder.


2. Tahapan Meiois
Spermatosit
I
(primer)

Peralihan dari bakal sel kelamin


yang aktif membelah ke sperma
yang masak serta menyangkut
berbagai

macam

perubahan

struktur yang berlangsung secara


berurutan.

Spermatogenesis

berlangsung

pada

seminiferus
hormone

dan

tubulus

diatur

oleh

gonadtotropin

dan

testosterone. Tahap pembentukan


spermatozoa dibagi atas tiga tahap
yaitu :

mengalami

berkali-kali

mitosis

yang

akan

menjadi spermatosit primer.


Spermatogonia

merupakan

struktur primitif dan dapat


melakukan
(membelah)
mitosis.

menjauh dari lamina basalis,


sitoplasma makin banyak dan
segera mengalami meiosis I
yang kemudian diikuti dengan
meiosis II. Sitokenesis pada
meiosis I dan II ternyata tidak
membagi

sel

benih

yang

lengkap terpisah, tapi masih


berhubungan

sesame

lewat

suatu jembatan (Interceluler


bridge). Dibandingkan dengan

1. Spermatocytogenesis
Merupakan
spermatogonia
yang

akan

reproduksi
dengan

Spermatogonia

cara
ini

mendapatkan nutrisi dari selsel sertoli dan berkembang


menjadi spermatosit primer
Sedangkan spermatosit primer
mengandung

kromosom

diploid (2n) pada inti selnya

spermatosit I, spermatosit II
memiliki inti yang gelap.
3. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan
transformasi
spermatid

menjadi

spermatozoa yang meliputi 4


fase yaitu fase golgi, fase
tutup, fase akrosom dan fase
pematangan.
berupa

empat

Hasil

akhir

spermatozoa

masak. Dua spermatozoa akan


membawa kromosom penentu
jenis kelamin wanita X.
Apabila

salah

spermatozoa

satu
ini

dari

bersatu

dengan ovum, maka pola sel


somatik manusia yang 23

pasang kromosom itu akan

7,7 karena sperma bersifat basa.

dipertahankan.

mengelompokkan

Spermatozoa

masak terdiri dari :


a) Kepala (caput),

dalam dua katagori, yaitu primer


tidak

hanya mengandung inti


(nukleus)

dengan

kromosom

dan

genetiknya,

tetapi

bahan
juga

ditutup oleh akrosom yang


mengandung

enzim

hialuronidase

yang

mempermudah

fertilisasi

(yang

meliputi

kepala

dan

abnormalitas

bentuk

midpiece,

abnormalitas midpiece dan tightly


coiled tails) dan sekunder (kepala
normal yang terputus, droplet dan
ekor yang membengkok).
Peningkatan

kualitas

sperma beku sangat ditentukan


oleh pemrosesan spermatozoa dari

ovum.
b) Leher
menghubungkan
dengan badan.
c) Badan

(servix),

saat penampungan, pengenceran

kepala

sampaidengan dibekukan. Bahan

(corpus),

bertanggungjawab

untuk

memproduksi tenaga yang


dibutuhkan

untuk

motilitas.
d) Ekor (cauda), berfungsi

pengencer spermatozoa berfungsi


untuk

memperbanyak

cold

shock,

spermatozoa

masak

elektrolit .

defern

dan

ductus ejakulotorius.
Spermatozoid/ sel sperma/

nutrisi,

serta mempertahankan tekanan


osmotik

vas

sumber

mencegah pertumbuhan kuman

mendorong
ke

volume,

melindungi spermatozoa terhadap

untuk
dalam

abnormalitas

dan

Daya

keseimbangan

tahan

hidup

spermatozoa dalam semen yang


diencerkan

diantaranya

spermatozoa berarti benih dan

dipengaruhi oleh jenis pengencer

makhluk hidup atau

yang

sel dari

terdiri

atas

pengencer

sistem reproduksi jantan. Sperma

anorganik (bahan kimia seperti

lazimnya berwarna putih keabuan

Tris, Na-Sitrat, Na-fosfat dan lain-

agak

lain)

keruh,

atu

sedikit

kekuningan. Ph nya 7,2 sampai

dan

pengencer

organik

(bahan alami seperti air susu,

Prinsip metode pewarnaan eosin-

santan kelapa, dan air kelapa).

nigrosin

Dasar pembedaan sperma


hidup

dan

mati

adalah

permeabilitas

membran.

Dijelaskan lebih lanjaut bahwa


sperma

mati

mempunyai

permeabilitas

membran

lipoprotein pada kepala sperma


lebih tinggi daripada lebih tinggi
daripada sperma hidup, sehingga
sperma mati mudah menyerap zat
pewarna.

Zat

pewarna

adalah

terjadinya

penyerapan 15 zat warna eosin


pada spermatozoa yang mati pada
saat pewarnaan tersebutdilakukan.
Hal ini terjadi karena membran
pada spermatozoa yang mati tidak
permeabel terhadap zat warna
atau

memiliki

rendah

afinitas

sehingga

yang

menyebabkan

spermatozoa yang mati berwarna


merah.

eosin

Hampir

semua

spesies

memberikan warna merah pada

hewan tingkat tinggi terutama

sperma

mamalia

mati,

pewarna

sedangkan

nigrosin

zat
akan

mempunyai

spermatogenesis

yang

proses
hampir

memberikan latar belakang biru

sama, dalam pembahasan ini akan

hitam.

di
Pengamatan hidup mati

spermatozoa atau viabilitas dapat


dilakukan

dengan

pewarnaan

metode
diferensial

jelaskan

mengenai

spermatogenesis
manusia.Berikut

proses
pada

adalah

proses

pembentukan dari sperma itu


sendiri

menggunakan zat warna eosin

Spermatogenesis terjadi di

saja ataudengan kombinasi eosin-

testis. Didalam testis terdapat

nigrosin. Eosin adalah zat warna

tublus

khusus

spermatozoa,

tubulus seminiferus terdiri dari

sedangkan nigrosin hanya dipakai

jaringan epitel dan jaringan ikat,

untuk pewarnaan dasar untuk

pada jaringan epithelium terdapat

memudahkan melihat perbedaan

sel sel spermatogonia dan sel

antara

yang

sertoli yang berfungsi memberi

berwarna dan tidak berwarna.

nutrisi pada spermatozoa. Selain

untuk

spermatozoa

seminiferus.

Dinding

itu

pada

tubulus

seminiferus

pembelahan meiosis II, kedua

terdapat pula sel leydig yang

spermatosit sekunder membelah

mengsekresikan

lagi

hormone

menghasilkan

empat

testosterone yang berperan pada

spermatid. Selanjutnya spermatid

proses spermatogenesis.

berdiferensi menjadi sel kelamin

Pada

masa

spermatogonia
secara

membelah

mitosis

menghasilkan

pubertas,
diri

sehingga

lebih

banyak

spermatogonia.

Pada

manusia,spermatogonia
mengandung

23

pasang

kromosom atau 46 kromosom


(diploid).

Beberapa

spermatogonia
kembali,

membelah

sedangkan

diri

lainnya

berkembang menjadi spermatosit


primer yang juga mengandung
kromosom

sebanyak

46

kromosom. Sel sel spermatosit


primer

tersebut

kemudian

membelah secara meiosis nebjadi


dua spermatosit sekunder yang
jumlah

kromosomnya

dewasa(masak)

yang

disebut

spermatozoa atau sperma. Ini juga


memiliki 23 kromosom (haploid).
Pada

manusia

spermatogenesis
setiap

proses
berlangsung

hari.

Siklus

spermatogenesis berlangsung rata

rata

74

hari.

Artinya

perkembangan sel spermatogonia


menjadi

spermatozoa

matang

memerlukan waktu rata rata 74


hari. Sementara itu pemasakan
spermatosit

menjadi

memerlukan

sperma

waktu

hari.proses

dua

pemasakan

spermatosit

menjadi

sperma

dinamakan spermatogenesis dan


terjadi didalam epidemis.

menjadi

Sperma dewasa terdiri dari

(23kromosom

tiga bagian yaitu kepala, bagian

haploid). Selanjutnya spermatosit

tengah dan ekor (flagelata. Kepala

sekunder membelah lagi secara

sperma

meiosis menjadi empat spermatid.

Bagian

Jadi, spermatid.jadi, spermatosit

mengandung

akrosom

yang

primer mengalami pembelahan

menghasilkan

enzim

yang

meiosis I yang menghasilkan dua

berfungsi

spermatosit

lapisan lapisan sel telur pada

setengahnya

sekunder.

Selama

mengandung
ujung

nucleus.

kepala

untuk

ini

menembus

waktu fertilisasi. Bagian tengah

kontaminasi

tergantung

sperma mengandung mitokondria

pada

yang menghasilkan ATP sebagai

Warna

sumber energy untuk pergerakan

adanya pigma riboflavin.

sperma. Ekor s

Warna

konsentrasi
ini

disebabkan
kemerahan

menunjukkan

HIPOTESIS

nya.

adanya

darah segar dan warna

Diduga pada pemeriksaan

kecoklatan

menunjukkan

warna makroskopik warna dari

adanya darah yang sudah

semen

yaitu

krem

mengalami dekomposisi .

dengan

pH

dan

Warna hijau kekuningan

berwarna
yang

netral

merupakan semen yang bagus.

menunjukkan

Diduga pula pada pemeriksaan

kontaminasi dengan nanah

mikroskopis

gerakan

massa

spermatozoa [ +++ ] yang berarti


sangat baik. Di mana pergerakan
ini belum diencerkan dan masih
dalam semen yang segar. Pada
gerakan individual akan bergerak
progresif [ gerakan maju ke depan
]. Persentase spermatozoa yang
hidup di tandai dengan kepala
spermatozoa yang tidak berwarna
karena tidak menyerap warna.

adanya

dan kuman.
b) Volume
Volume
semen

yaitu

jumlah ml semen setiap


ejakulat. Volume ejakulat
berbeda-beda
bangsa,

menurut

umur,

badan,

ukuran

nutrisi

frekuensi
Volume

dan

ejakulasi.
ejakulasi

yang

rendah tidak merugikan


apabila

konsentrasinya

tinggi.

METODE KERJA
1. Pemeriksaan Makroskopis
a) Warna dan Bau
Semen
yang
normal

c) pH
Daya

tahan

spermatozoa

hidup

dipengaruhi

berwarna krem atau putih

oleh derajat keasaman atau

kekuningan

pH

Tingkat

dan

keruh.

kekeruhannya

menunjukkan

adanya

semen

Peningkatan
keasaman

tersebut.
derajat
(=penurunan

pH)

disebabkan

akumulasi

asam

oleh
laktat

dilakukan
menggunakan

sebagai hasil fruktolisis

lakmus.

pada

metabolisme

akurat

anaerobik.

Pemeriksaan

meter.

pH

secara

menggunakan

pipet pada objek glass


yang sudah dibersihkan
dengan alkohol Diamati
dibawah mikroskop, maka
akan timbul gelombang
massa dari spermatozoa,
yang

kemudian

dapat

diterapkan sebagai berikut:


Sangat baik: gelombanggelombang

kecil

tetapi

banyak, tebal dan gelap


dan

cepat

berpindah-

pindah. Baik : gelombanggelombang tipis, jarang


dan lambat Cukup : tidak
ada gelombang, terlihat
gerakan sperma sendirisendiri,

bukan

gerakan

massa. Buruk atau N:


hanya sedikit atau tidak
ada

kertas

Untuk

lebih

digunakan

pH

sederhana

2. Pemeriksaan Mikroskopis
a) Gerakan Massa
3. Diambil satu tetes semen
dengan

dengan

gerakan-gerakan

individu(N=nekrospermia)
b) Motilitas

4. Diteteskan setetes NaCl


fisiologis

diatas

sebuah

objek

glass.

Dengan

batang

pengaduk

yang

telah dicelupkan kedalam


tabung

semen

yang

homogen, aduklah secara


merata. Ditutup dengan
cover

glass

untuk

menipiskan preparat agar


mudah

diamati

mengurangi

dan

kecepatan

penguapan sehingga tidak


cepat

kering.

dibawah

Diperiksa
mikroskop

dengan perbesaran 45x10


dan dilakukan penilaian
seperti dibawah ini: P:
gerakan

progersif

atau

gerakan maju kedepan O:


gerakan oscillatoris atau
vibratoris gerakan ayun
berputar-putar dan lamban
C: gerakan sirkulair atau
melingkar

R:

gerakan

reverse atau mundur N:

nekrospermia atau tidak


ada gerakan.
c) Presentase sperma hidup
5. Disediakan dua buah
objek glass yang tipis,
dibersihkan

dengan

alkohol,diteteskan

zat

warna eosin pada ujung


salah satu objek glass.
Diambil
2%

sedikit

dari

semen

volume

zat

warna, kemudian diaduk


dengan merata. Tempelkan
ujung objek glass yang
lain

sehingga

tetesan

semen+zat warna menjadi


seperti

garis.

Didorong

objek glass yang kedua


dengan membentuk sudut
450 dengan cepat untuk
mendapatkan preparat ula
yang baik dan tipis. Segera
dipanaskan

dan

dikeringkan. Pekerjaan ini


harus dikerjakan dengan
cepat tidak lebih dari 15
detik. Diamati
mikroskop,

dibawah
mula-mula

dengan perbesaran 10x10,


kemudian 45x10. Dihitung
jumlah sperma hidup dan
mati

dan

presentasenya.

ditentukan

d) Konsentrasi spermatozoa
6. Dihisap semen dengan
pipet (yang biasa dipakai
untuk

mengencerkan

eritrosit) sampai skala 0,5.


Diencerkan

dengan

menghisap

secara

berkesinambungan

NaCl

fisiologis

skala

sampai

101.

Dikocok

perlahan

agar

homogen

dengan

membentuk

angka

delapan.

Disimpan

sementara

sambil

menyiapkan bilik hitung.


Dibersihkan bilik hitung
dengan

menempelkan

kapas beralkohol dengan


hati-hati, ditutup dengan
kaca

penutup

(cover

glass).

Dilihat

dibawah

mikroskop dan pastikan


bilik hitung akan tampak.
Dimasukkan semen yang
sudah

diencerkan

ke

dalam bilik hitung (dengan


cara mengocoknya terlebih
dahulu

agar

homogen

kembali)

dengan

menempelkan ujung pipet


pada

perbatasan

bilik

hitung dan kaca penutup.


Dibiarkan

spermatozoa

mengisi

seluruh

bilik

hitung, bilasudah tidak ada


aliran,

maka

mulailah

menghitungnya.
Spermatozoa

dihitung

dalam lima kotak mejadi


16

kotak

keseluruhan

kecil,

jadi

dihitung

dalam 5x16 = 80 kotak.


Konsentrasi
diperoleh

sperma
dengan

cara

mengalikan jumlah sperma


7.

terhitung dengan 106


HASIL
DAN

PEMBAHASAN
8.
DATA PENGAMATAN

wS

Vo

20.

0,5 ml

10. 2.
Makroskopis
Mikroskopis
13. 14.
15.
4.12.%

9.

21.

26.
1.
3
K31.

36.

t
o

41.
6

19.

18.

17.

Cream

16.

7. K
o

5.

6.

ns

Ge

e
nt
ra
si

46.

47.h

48.

49.

50.

cr i
d

0,

8.

51.

52.

9. 7
5

10.
++

13.
2

14.

15.

69

++

19.

20.

78,5

++

23.
4

24.

25.

68,5

++

28.
5

29.

30.

92,5

++

33.
6

34.
73
%

38.
x

39.
76,1
6
%

11.

1013x

1
06

18.

12.

35.
++

16.
P

21.
P

26.
P

31.
P

17.
353x1
06

22.
973x1
06

27.
349x1
06

32.
957x1
06

36.

37.

363x1
06

40.

41.

42.

2,

668x1
06

53.
54. PERHITUNGAN
55. Konsentrasi sperma
56. Konsentrasi sperma =
57. sperma hidup x 106
58.

= 349 x 106

59. Persentasi sperma hidup


(%)

60.

=
61.
62.

Persentasi sperma hidup (%) =

137
200

sperma h idup
sperma total

x 100 %

x 100 % = 68,5 %

PEMBAHASAN
63.

Pada praktikum evaluasi semen menggunakan hewan unggas


sebagai percobaan yaitu itik yang

dilakukan berdasarkan

makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan makroskopik yaitu


pemeriksaan semen secara garis besar tanpa memerlukan alat bantu
yang rumit, sedangkan pemeriksaan mikroskopik bertujuan melihat
kondisi semen lebih dalam lagi serta memerlukan alat bantu yang
cukup lengkap. Evaluasi makroskopik meliputi : volume semen,
warna semen, bau semen, kekentalan semen, dan pH semen
sedangkan evaluasi mikroskopik meliputi persentase spermatozoa
hidup, gerakan massa, motilitas dan konsentrasi spermatozoa.
Percobaan ini dilakuakan oleh 6 kelompok yang memiliki nilai
konsentrasi yang berbeda-beda.
64.

Pada percobaan evaluasi makroskopis,

itik memiliki bau

yang khas yang berwarna kream atau kekuningan pada volume


0,5ml dengan PH 7. Warna kream atau kekuningan pada itik
disebabkan adanya pigmen Riboflavin yang dibawa oleh gen
autosomal resesif dan tidak berpengaruh terhadap fertilitas.Pada
percobaan evaluasi mikroskopis,

persentase spermatozoa yang

sangat tinggi terjadi pada kelompok 5 yaitu 92,5% sedangkan yang


paling rendah terjadi pada kelompok 4 yaitu 68,5%. Hal ini terjadi
karena sperma itik pada kelompok 4 didiamkan terlalu lama,
sehingga spermatozoa yang hidup hanya sedikit. Gerakan massa dari
rata-rata semua kelompok termasuk sangat baik dan motilitas yang
dihasilkan rata-rata dari semua kelompok 1:6 yaitu progressif 6 dan
1 yaitu c ( gerakan sirkuliar atau melingkar). Hal ini terjadi pada

kelompok 6 yang memiliki 2 gerakan yaitu P(Progressif) dan C


(Gerakan silkulair atau melingkar). Sedangkan pada konsentrasi
yang paling tinggi didapatkan pada kelompok 1 yaitu 1013x106,
65. hal ini sesuai dengan teori yaitu semen yang baik akan
66. memiliki

spermatozoa

yang

diteruskan

yang banyak (konsentrasi

kedalam testis membentuk

tinggi), tingkat kekentalan

kerangka penunjang

tinggi dan warna lebih

tenunan testis

pekat dan yang paling

manusia yaitu testis turun

rendah
kelompok

terjadi

pada

dalam skrotum. Skrotum

yaitu

merupakan kulit pelindung

349x106.
67.

testis yang berada di luar

Itik
kedalam
unggas

sedangkan

jenis
.

tubuh.

termasuk
hewan

Semen

yang

paling bagus adalah kream


atau kekuningan . Hal ini
terjadi pada semua jenis
hewan termasuk manusia.
Namun

tingkat

perbedaannya,

jika pada

68. KESIMPULAN
69. Dari hasil praktikum yang
telah dilakukan yaitu praktikum
evaluasi semen dapat disimpulkan
bahwa:
1) Hipotesis pada percobaan
makroskopis

diterima

hewan unggas yaitu testis

karena warna sperma yang

tidak turun dalam skrotum

berwarna krem dengan pH

tetapi tetap dalam rongga

badan dan Testis yang

bahwa

sperma

berbentuk

berada

dalam

bulat

kacang

tersebut besarnya berbedabeda menurut umur dan


besar unggas. Permukaan
testis diselaputi oleh suatu
jaringan fibrosa yang kuat

yang

menunjukkan
masih
keadaan

baik.
2) Hipotesis pada percobaan
mikroskopis ditolak karna
persentase

spermatozoa

yang hidup kecil yaitu

68,5% dengan konsentrasi


349x106

hal

ini

menunjukkan
yang

ada

Diakses
tanggal:

hanya sedikit.
70. DAFTAR PUSTAKA
71. Cain.2008.
Cryopreservation

and

Methanol

Effects

Burbot

Sperm

Motility

rmatozoa.html.

bahwa

spermatozoa

on

blogspot.com/2013/05/spe

and Egg

Fertilization.Volume 70.
American Fisheries
Society.

Hall. 1997.Buku
Kedokteran, Ed

75. Hafez, E.S.E and Hafez,


B.2000.
Reproduction

in

animals.

7th

Edition.
Baltimore:
Lippicott

76. Isnaeni,

Williams &

Wiwi.

2006.

Fisiologi
Hewan.Yogyakarta:

Reece, dan Lawrence G.


2004.

9.

Jakarta:EGC

pukul13:25

Campbell, Neil A., Jane B.


Mitchell.

Ajar

Fisiologi

Wilkins.

WIB
72.

&

Januari

tanggal: 2
2015

pada

pukul13:25

74. Guyton

d/artikel_detailhtml. Diakses

Januari

WIB

farm

mufidafk12.web.unair.ac.i

2015

http://w-

afif-

pada

Kanisius.

Biologi

Jilid 3. Jakarta: Erlangga

77. Jensen,

N.R.,

M.

D.

Zuccarelli, S. J. Patton, S.
73. Faisal, Nugraha. 2013.
Spermatozoa.http://
embriologifkh.

R. Williams, S.
reland, dan K.

C.

78. Moerfiah. 2014. Penuntun

manusia:dari sel ke

Praktikum
Anatomi

system, Ed 2.

Fisiologi

Manusia.Bogor

FMIPA UNPAK
79. Putra,

Angga.

Jakarta:EGC.
81. Sistina,

Yulia.

Biologi

2013.

Reproduksi.

Kumpulan

laporan

Fakultas

praktikum

embriologi

Unsoed,

mahasiswa

Fakultas

Kedokteran

Hewan

Unsyiah,

Banda

Aceh. http://
projectembriologi.blogspo

2000.

Biologi

Purwokerto.
82. WHO Team. 1999. WHO
Laboratory Manual
For

Theexamination of

Human

Semen and

Sperm-Cervocal Mucus
t.com/2013/05/laporanspermatozoa.html
80. Sherwood,
2001.Fisiologi
83.

Lauree.

Interaction
Edition.

Fifth

Inggris:

Cambridge
University Press