Anda di halaman 1dari 15

INTERNAL AUDITING

CONTROL SELF-ASSESSMENT

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI S1
TAHUN 2015

Nama Kelompok 3:
1. Agustin Tri W
2. Risma Rusnawati N.K
3. Ikke Chyntia Apriliasari
4. Linda Sekarmawarti
5. Lalita Nur M.

(12430241)
(13430097)
(13430207)
(13430212)
(13430222)

Kata Pengantar
Pertama-tama saya ucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kami kesehatan sehingga kami dapat menyusun makalah tentang Internal
Auditing pada bab CONTROL SELF-ASSESSMENT yang akan menjelaskan tentang sebuah
inovasi terbaru untuk mendukung beberapa kasus yang sedang dikerjakan untuk
mengumpulkan informasi yang terbukti sulit untuk dikumpulkan, yang diharapkan dapat
diterapkan oleh para auditor sektor publik maupun swasta.
Sekian kami ucapkan dan haturkan pada makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat
untuk kita semua yang membacanya, dan jika ada salah kata ataupun salah dalam
menjabarkan pengertian berikut ini kami mohon maaf sebesar-besarnya.
Surabaya, November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
1.3 Tujuan .................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Control Self-assessment ....................................................................... 3

2.1.1 Control self-assessment Mengapa Diperlukan? ............................. 3


2.1.2 Definisi Control Self-assessment ...................................................... 4
2.2 Alat dan Teknik yang digunakan Control Self-Assessment ................................... 5
2.3 Variasi Tema ........................................................................................................... 6
2.4 Implikasi bagi Karyawan, Manajemen, Auditor, dan Dewan ................................ 6
2.5 Independensi, objektivitas, dan etika fasilitator ..................................................... 7
2.6 Hubungan antara CSA dan Kegiatan Audit Internal yang lain .............................. 8
2.7 Kualitas yang dibutuhkan untuk tim fasilitator CSA ............................................. 8
2.8 Kesulitan-Kesulitan yang terjadi di Control Self-Assessment ............................... 9

BAB III PENUTUP .......................................................................................11


3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Control Self-Assessment merupakan inovasi yang relative baru yang sedang diterapkan
oleh banyak organisasi yang berukuran besar untuk mendukung beberapa kasus yang
menggantikan proses audit internal mereka. Pendukung teknik ini berhati-hati untuk
menyatakan bahwa tidak ada niat untuk menggantikan sepenuhnya fungsi audit internal.
Control Self-Assessment ini ditunjukan khusus untuk pekerjaan lapangan yang informasinya
terbukti sulit untuk dikumpulkan oleh staf audit tradisional. Jika diterapkan dengan alasan
wajar dan tulus maka audit partisipatif terbukti efektif dan memberi efisiensi dan efektivitas
yang lebih besar dalam mencapai tujuan audit. Control Self-Assessment merupakan salah
satu jenis audit partisipatif dalam bentuknya yang paling sederhana hal tersebut tidak
sepenuhnya baru. Auditor, baik dalam sektor public ataupun swasta, sedikit banyak telah
mempraktikkannya. Audit tersebut diterapkan untuk mendapat informasi yang terbukti sulit
untuk dikumpulkan oleh staf audit tradisional.
Dengan adanya latar belakang ini, maka kelompok kami ingin membahas lebih lanjut
tentang Control Self-Assessment dan memberikan suatu metode dan cara mempraktikannya
dalam mendapatkan informasi di lapangan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang diangkat dalam makalah ini yaitu:
1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan Control Self-Assessment ?


Alat dan Teknik apa yang digunakan Control Self-Assessment ?
Apa saja variasi tema pada CSA ?
Bagaimana cara mengimplikasi CSA untuk karyawan, manajemen, auditor, dan

5.
6.
7.
8.

dewan ?
Maksud dari Independensi, objektivitas, dan etika fasilitator ?
Bagaimana hubungan antara CSA dengan kegiatan audit internal yang lain ?
Kualitas apa saja yang dibutuhkan untuk tim fasilitator CSA ?
Kesulitan-Kesulitan apa yang terjadi di Control Self-Assessment ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk memahami pengertian dari control self-assessment.
2. Untuk memahami Alat dan Teknik apa yang digunakan Control Self-assessment.
3. Untuk memahami variasi tema pada CSA.
1

4. Untuk memahami Implikasi bagi Karyawan, Manajemen, Auditor, dan Dewan.


5. Untuk memahami Independensi, objektivitas, dan etika fasilitator.
6. Untuk memahami hubungan antara Control Self-assessment dengan kegiatan audit
internal yang lain.
7. Untuk memahami Kualitas yang dibutuhkan untuk tim fasilitator Control Selfassessment.
8. Untuk memahami Kesulitan-Kesulitan terjadi di Control Self-assessment.
1.4 Manfaat
1.
2.
3.
4.

Agar mahasiswa lebih mendalami tentang Control Self-assessment.


Mahasiswa tau cara dan penggunaan CSA.
Manfaat untuk laporan auditor klien yang menggunakan metode CSA.
Memberikan inovasi terbaru dalam mngerjakan laporan dan pengumpulan bukti.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Control Self-assessment
2.1.1 Control self-assessment Mengapa Diperlukan?
Pada era setelah skandal Watergate di amerika serikat pada tahun 1970 an, banyak
perusahaan multinasional besar diperiksa unuk menetapkan apakah mereka telah
menyalurkan dana secara illegal. Kemudian segera diketahui bahwa banyak organisasi
memiliki rekening bank rahasia yang di gunakan untuk menyalurkan dana tidak hanya ke
partai-partai politik Amerika Serikat, tetapi juga ke pegawai pemerintah dalam maupun luar
negeri untuk mendukung perolehan kontrak yang berbau korupsi.
Pada tahun 1987, setelah penelitian yang ekstensif, komisi tersebut memublikasikan
temuan-temuannya yang saat ini dikenal sebagai laporan Treaway. Sebagai hasilnya, komisi
2

tersebut membentuk sebuah organisasi, committee of sponsoring organizations (COSO).


Komite tersebut sepakat untuk berkalaborasi dalam mengembangkan kerangka control yang
terintegritasi untuk membantu memusatkan perhatian kembali pada kemampuan manajemen,
auditor, dan dewan.
Treandway dan COSO telah menemukan bahwa proses audit terlalu sempit berfokus
pada akuntansi keuangan dan mengabaikanlingkungan kontrol yang lebih luas, lingkungan
yang mewadahi keputusan manajemen dan akuntansi. Mereka berpendapat bahwa lingkungan
control memiliki dampak yang pervasive pada cara penyiapan laporan keuangan. Tetapi
manajemennya memaklumi praktik-praktik operasi yang tidak etis. Cepat atau lambat
praktik-praktik tersebut akan terungkap dan mengakibatkan denda dalam jumlah yang besar
atau bahkan kebangkrutan perusahaan. COSO juga merekomendasikan auditor untuk
menelaah dan mempertimbangkan factor-faktor yang berhubungan dengan manusia sebelum
memberikan opini.

2.1.2 Definisi Control Self-assessment


Untuk memahami CSA, maka terlebih dahulu perlu pahami prinsip-prinsip ini.
1. control (control) berarti kerangka kerja terintegrasi secara luas yang
mempertimbangkan semua faktor internal utama yang mempengaruhi pencapaian
tujuan-tujuan organisasi. Lingkungannya cenderung holistik atau sistematik. Sampai
saat ini, satu-satunya publikasi atas kerangka kerja yang sesuai dengan definisi
tersebut adalah COSO di Amerika Serikat, Cadbury di inggris, dan CoCo (the
Criteria of Control) yang dibuat oleh Canadian Institute of Chartered Accountants.
Semua model ini mempertimbangkan manusia sebagai faktor terpenting yang
mempengaruhi control.
2. Self dalam self assessment juga merupakan criteria fundamental untuk CSA. Kata
ini membedakan CSA dari proses audit proses audit lainnya. Seorang auditor
dianggap memiliki pengetahuan dan keahlian yang memadai untuk secara
independen membentuk penentuan risiko yang akurat atas control. Tidak seperti
audit, dimana disamping audit investigasi klien menyumbangkan informasi kepada

auditor sehingga auditor dapat membentuk suatu penentu risiko, partisipan dalam
proses CSA justru membentuk penentuanrisiko sendiri.
3. Assessment istilah yang lebih akurat dibandingkan dengan pengukuran untuk
mengartikan evaluasi control. Begitu banyak factor yang akan memengaruhi hasil
kerja keras organisasi yang ketepatan matematis tidak bias diindari akan
menghasilkan intuisi dan pertimbangan. Ingat bahwa CSA bukanlah sebuah survey
yang bias dikumpulkan dengan cepat dari banyak individu, survey seperti ini
mengumpulkan data yang kemudian diproses para ahli untuk memberikan opini
eksternal.
Maka dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan CSA adalah sebuah proses
dimana tim karyawan dan manajemen, di tingkat lokal dan eksekutif, terus menerus menjaga
kesadaran semua faktor material yang cenderung mempengaruhi pencapaian tujuan
organisasi, sehingga memungkinkan mereka membuat penyesuaian-penyesuaian yang tepat.
Untuk meningkatkan independensi, objektivitas, dan kualitas dalam proses tersebut, serta
tata kelola yang efektif, maka diharapkan auditor internal terlibat dalam proses tersebut dan
bahwa mereka secara independen melaporkan hasil-hasilnya ke manajemen senior dan
dewan komisaris.
2.2 Alat dan Teknik yang digunakan Control Self-Assessment
Ada lima komponen kunci untuk rapat kerja yang sukses:
1. Fasilitator akan melakukan wawancara dengan manajemen dan partisipan lainnya
sebelum pertemuan dimulai. Mereka mendapatkan pemahaman mengenai tujuan utama
tim, tujuan saat ini, dan signifikan dalam hubungan dengan keseluruhan strategi
organisasi.
2. Tim yang menghadiri rapat kerja tersebut membutuhkan waktu untuk berpikir dan
menggali ide-ide yang muncul. Biasanya,setiap kelompok orang ingin berbicara
mengenai ide mereka sendiri sebelum mendengarkan agenda dari pihak luar.
3. Bisa muncul bila peserta puas karena masalah mereka telah diidentifikasi dan dibahas.
Dengan menggunaka keranga kerja control sebagai pedoman, peserta bias menjawab
serangkaian pertanyaan yang menjamin bahwa semua spectrum masalah control ditelaah
dengan cermat dalam kerja tersebut. Banyak tim CSA menggunakan teknologi
pemungutan suatu elektronik untuk mengumpulkan suara mengenai masalah-masalah ini
dan sebuah computer laptob untuk menangkap elemen-elemen kunci dari pembahasan.

4. Mengembalikan dengan segera ringkasan pembahasan dan pengumpulan suara, jika ada,
ke peserta. Pertama-tama, ringkasan dan penentuan risiko yang tercakup di dalamnya
merupakan milik im tim partisipasi; ringkasan tersebut merupakan catatan diskusi mereka
dan harus dikembalikan kepada mereka sesegara mungkin, lebih baik di hari berikutnya.
Mereka membutuhkan catatan pemikiran mereka sehingga mereka bias mulai mengambil
tindakan perbaikan atas masalah-masalah penting. Jika tim fasilitas menghabiskan waktu
merapikan dokumen sebagaimana yang bias dilakukan untuk laporan audit, maka dua hal
buruk bias terjadi; pertama, peserta kembali ke tempatnya, kembali berkutat dengan
tugas-tugas rutin, walaupun apa yang pernah dibahas, dan menunda pengambilan
tindakan perbaikan; kedua, saat dokumen akhirnya muncul, kebanggaan akan
kepemilikan atas temuan-temuan telah menguap dan diperlakukan sebagai sebuah laporan
oleh pihak luar.
5. Yang menentukan kesuksesan adalah tindakan. Dengan tindakan ini, auditor bias
membantu tim dan manajemen local dengan mengarahkan perhatian manajemen senior
atau dengan memfasilitasi kerja sama tim. Kadang-kadang masalahnya bias tampak
sangat nyata tetapi membutuhkan analisis atau investasi yang sangat untuk
mendefinisikan luas permasalahan yang ada. Dalam hal ini, alat audit yang lain bias
membantu
2.3 Variasi Tema
Di akhir tahun 1990-an konsep manajemen risiko telah diadopsi secara luas. Tidak
seperti kerangka kerja control internal, konsep risiko mencakup factor-faktor eksternal yang
dapat memengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya. Pendukung
manajemen kualitas juga menemukan tumpang tindih dengan kerangka kerja seperti model
Baldridge. Akhirnya saat ini terdapat beberapa bentuk self-assessment-CSA, QSA, RSA,
GSA, ESA menggunakan metodelogi dan indicator-indikator yang sama untuk menelusuri
control, kualitas, risiko, manajemen, tata kelola, dan etika. Kesuksesan rapat kerja CSA
menciptakan permintaan dari organisasi.
Sering kali dihadapkan CSA diberikan secara internal, karena merupakan proses
pembelajaran integral bagi organisasi. Namun, dalam tiga situasi berikut ini mungkin lebih
baik mencari sumber daya dari luar :
1. Dalam pelatihan dan implementasi awal dengan target tinggi tetapi kemampuan
peserta masih rendah: penggunaan orang yang professional dan berpengalaman
bias menjembatani kesengajaan ini.
2. Pada saat manajemen puncak,dewam, atau komite dewan memutuskan untuk
menyelenggarakan pertemuan CSA.

3. Terjadi saat program CSA yang telah berjalan baik membutuhkan penelaahan
dari pihak luar atau penyegaran (Tune-up). Hal ini bagus untuk dilakukan secara
periodic karena praktik dan teknologi CSA berkembang dengan cepat sejalan
dengan peningkatan dalam pemahaman kita atas control,psikologi, dan
penerapan teknologi.
2.4 Implikasi bagi Karyawan, Manajemen, Auditor, dan Dewan
Dari sudut pandang klien, auditor CSA merupakan fasilitator yang menyediakan forum
dan agenda yang berguna yang memungkinkan klien menemukan sendiri keadaan sebenarnya
dan memutuskan perubahan yang dilakukan. Independensi dan objektivitas auditor dipandang
sebagai asset yang akan membawa fokus tambahan bagi masalah-masalah penting yang
membutuhkan dukungan atau resolusi.
Bagi manajemen senior, CSA menawarkan penelaahan sangat baik atas informasi terbaru
mengenai risiko dan peluang yang muncul. Hal ini memberikan manajemen suatu peluang
untuk membandingkan strategi mereka dengan realitas saat ini dan membuat penyesuaian
yang diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan bersifat reaistis dan akan tercapai-tujuan
kontrol.
Bagi direksi, komisaris, komite audit dan pihak-pihak lain dalam tata kelola perusahaan,
CSA memeiliki implikasi yang signifikan. Fokus yang sempit dari profesi audit eksternal
pada pelaporan keuangan sering kali menghasilkan keterkejutan dan memalukan bila terjadi
kecurangan yang tidak diharapkan karena faktor-faktor kontrol yang utama tidak diperiksa.
COSO, CoCo, Cadbury, dan berbagai kerangka risiko telah memperluas lingkup penelaahan
audit internal untuk mencakupkan setiap faktor yang secara signifikan mempengaruhi
efisiensi,efektivitas, atau legalitas operasional.
2.5 Independensi, objektivitas, dan etika fasilitator
Meskipun CSA menyebabkan hubungan auditor/fasilitator dengan klien menjadi lebih
dekat, tetapi sangat penting menjaga independensi dan objektivitas. Tahap riset sebelum rapat
kerja sangatlah penting karena fasilitator mendapatkan tolok ukur eksternal yang independen
untuk digunakan sebagai perbandingan.
Fasilitator juga harus menjaga etika sendiri dalam dua hal penting:

Pertama, penting untuk mengakui bahwa CSA teragantung pada keterbukaan partisipan
dan kejujuran mereka sendiri mengenai individu-individu. Biasanya mereka enggan
menanggung resiko bagi karier mereka sendiri. Karena harus menanggung kritik atau celaan
dari manajer atau rekan-rekannya. Pendekatan yang benar adalah meletakan opini dan
pertimbangan tindakan individu diluar dan mengeksplorasi akar masalah, menanyakan
kelompok apa yang dapat mereka lakukan untuk menghilangkan masalah. Masalah-masalah
utama biasanya berakar dari budaya atau system, bukan dari individu.
Aspek kedua yang harus dipahami fasilitator adalah mereka juga manusia dan bisa
berbuat salah sehingga perlu mengelola potensi konflik kepentingan yang ada. Seorang
fasilitator dapat tergoda untuk membawa maslah penting ke menejemen senior sebelum tim
memiliki cukup waktu untuk membahasnya.

2.6 Hubungan antara CSA dan Kegiatan Audit Internal yang lain
Berbeda dengan kegiatan audit konvensional, CSA memiliki lingkup yang luas,
mengumpulkan informasi yang material secara tepat dan interaktif, dan menghabiskan sedikit
waktu untuk verifikasi dan pelaporan. Dari sudut pandang manajer audit, CSA merupakan
metode penentuan risiko yang cepat dan biasanya andal di tingkat makro tetapi tidak seperti
beberapa alat audit, CSA tidak dirancang untuk penyelidikan lebih dalam. Bila CSA
dilakukan secara berkesinambungan di organisasi maka CSA merupakan alat ideal untuk
mengidentifikasi risiko dan bidang-bidang bernilai tinggi yang akan bermanfaat untuk
dilakukan audit. Partisipan rapat kerja biasanya pandai dalam mengidentifikasi bidang-bidang
masalah utama.
Jika masalah bersifat jelas dan organisasi bergerak cepat untuk membahasnya, mungkin
tidak perlu dilakukan audit, karena tindakan pendeteksian, penerimaan dan perbaikan telah
dilakukan. Tetapi, bila masalah terlihat besar namun tidak teridefinisikan dengan baik, atau
masalah bersifat sensitif sehingga haris digali lebih dalam, atau jika tidak dianggap serius,
maka sebaiknya digunakan audit.
2.7 Kualitas yang Dibutuhkan Untuk Tim Fasilitator CSA
7

Meskipun pelatihan dan teknologi bisa sangat membantu fasilitator, kualitas pribadi tetap
menjadi hal utama bagi fasilitator CSA. Kejujuran, empati dan mengahargai orang lain jauh
lebih penting daripada teknik-teknik. Fasilitator juga tidak boleh mempunyai agenda
tersembunyi dalam rapat kerja. Bila memiliki agenda tersembunyi maka rapat kerja akan
kacau. Kepercayaan dihasilkan secara perlahan, melalui keterbukaan komunikasi dan
ditunjukkannya sikap yang baik; namun bias hilang dengan cepat dengan kecerobohan atau
perbuatan yang tidak tulus.
Fasilitator juga harus memiliki sikap menghargai orang lain, memiliki keahlian
interpersonal, rasa ingin tahu, pendengar yang baik dan terdorong untuk memberikan nilai
bagi klien dan organisasi. Selain itu, fasiliator juga tetap dituntut untuk memiliki pengetahuan
mendalam tentang konrol sistemik, skeptimisme yang sehat, keahlian dalam pemberian
fasilitas, kemampuan organisasional, ahli software dan hardware yang digunakan dalam rapat
kerja atau dalam proses pelaporan. Fasilitator terbaik juga memiliki keahlian analitis dan
pembelajaran yang baik dan cepat yang mereka gunakan untuk memahami apa yang telah
dikemukakan dan membuat sebuah kesimpulan yang bermanfaat bagi organisasi.
2.8 Kesulitan-Kesulitan yang terjadi di Control Self-Assessment
CSA bersifat sederhana sekaligus kompleks. Ini dikarenakan CSA melibatkan manusia
yang selalu bersifat dinamis. Beberapa kesulitan yang umum terjadi dalam CSA adalah :
1. Terlalu banyak rapat kerja dan kurang memadainya analisis merupakan kesalahan yang
biasa terjadi, khususnya bila tim audit baru pertama kali menerapkan CSA. Rapat kerja
memang menarik dan memberikan arus informasi yang kaya, sehingga tergoda untuk
diselenggarakan sebanyak mungkin. Jika tim CSA tidak mengalokasikan waktu untuk
menelaah hasilnya, belajar dari hasil tersebut, memperbaiki cara bertanya, dan
mengomunikasikannya kembali ke organisasi, mereka jelas telah gagal mencapai nilai yang
potensial. Partisipan rapat kerja memang telah diuntungkan tetapi tidak demikian bagi
karyawan lainnya di organisasi.
2. Tidak menepati janji atau terlalu banyak membaut janji adalah kesalahan lainnya yang bias
terjadi. Fasilitator akan belajar bahwa penting untuk tidak hanya membuat janji mengenai hal
yang dapat mereka sampaikan, misalnya mereka bias berjanji untuk mengomunikasikan
masalah-masalah kemanajemen senior tetapi bukan tindakan itu yang akan diambil oleh
manajemen senior, kecuali komitmen perusahaan telah didapatkan. Setiap rapat kerja
8

menghasilkan sekumpulan harapan dan janji; jika tidak ada tindak lanjutnya maka akan
terjadi penurunan moral dan kepercayaan.
3. Tidak sensitif terhadap kebutuhan dan kekhawatiran partisipan juga merupakan kesalahan
yang biasa terjadi pada fasilitator yunior. Saat bekerja dengan setiap kelompok maka akan
membantu untuk menyadari faktor-faktor social ekonomi. Tidak setiap orang dalam
kelompok akan berada pada puncak kinerja: seseorang mungkin memiliki masalah-masalah
keluarga: yang lain mungkin mengalami kesulitan keuangan: yang lain lagi mungkin
memiliki masalah pelecehan yang parah atau mengalami krisis separuh baya. Kebanyakan
rapat kerja memiliki sedikit partisipan yang khawatir bahwa apa yang mereka katakana akan
membahayakan kariernya. Memang inilah watak manusia. Kesadaran akan kemungkinankemungkinanini akan membantu fasilitator menyesuaikan sikapnya dan sensitive dalam
mensyaratkan keterbukaan.
4. Kuesioner, dengan beberapa pengecualian bukan termasuk self-assessment. Banyak
organisasi menggunakan kuesioner yang bagus untuk mensurvei karyawan tetapi penilaian
dilakukan oleh pihak ketiga yang menginterpretasikan data tersebut. Bagi responden, tidak
ada rasa memiliki, tidak ada komitmen pribadi untuk membuat perubahan, tidak ada kerja
sama menghadapi kesulitan. Sering kali tidak ada masukan dari orang-orang yang sangat
sibuk atau sangat kritis. Jika anggaran audit atau sumber daya Anda hanya sedikit, mungkin
perlu mengumpulkan data melalui kuesioner tetapi penting untuk menambah data dengan
bertemu langsung dan berbincang langsung, berupaya memahami alas an mereka
memberikan suatu pendapa, dan mencari orang-orang yang tidak memberikan kontribusi.
Orang-orang yang berwatak ramah adalah kelompok besar lainnya dalam populasi yang tidak
menyukai kuesioner tetapi menikmati berbicara langsung dalam suatu wawancara.
5. Terlalu dalam masuk ke dalam masalah tanpa tahu caranya berenang mungkin merupakan
pendekatan yang beralasan dalam bidang yang sama sekali baru. Inilah yang dilakukan Gulf
sebagai pionir upaya pertama dilakukan tahun 1987. Kita sekarang tahu lebih banyak
tentang CSA dan informasi ini tersedia melalui beberapa pelatihan yang bagus, Pusat CSA di
IIA, dan literatur yang terus berkembang meskipun masih belum sempurna. Sebagai auditor
professional kita punya tanggung jawab untuk belajar sebanyak mungkin sebelum
menawarkan jasa ke organisasi kita.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Control Self Assessment merupakan adalah sebuah proses dimana tim karyawan dan
manajemen, di tingkat lokal dan eksekutif, terus menerus menjaga kesadaran semua faktor
material yang cenderung mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.
Ada lima komponen kunci untuk rapat kerja (CSA) yang sukses, empat diantaranya
merupakan tanggung jawab tim fasilitator. Pertama, fasilitator akan melakukan wawancara
dengan manajemen dan partisipan lain sebelum pertemuan dimulai. Kedua, tim yang
menghadiri rapat kerja membutuhkan waktu untuk berpikir dan menggali ide-ide yang
muncul. Ketiga bisa muncul bila peserta puas karena masalah mereka telah diidentifikasi dan
dibahas. Keempat adalah mengembalikan dengan segera ringkasan pembahasan dan
pengumpulan suara (jika ada) ke peserta. Kelima adalah tindakan atas semua yang telah
dibahas.
Kualitas yang Dibutuhkan Untuk Tim Fasilitator CSA yaitu Kejujuran, empati,
mengahargai orang lain, memiliki keahlian interpersonal, rasa ingin tahu, pendengar yang
baik dan terdorong untuk memberikan nilai bagi klien dan organisasi. Selain itu, fasiliator
juga tetap dituntut untuk memiliki pengetahuan mendalam tentang konrol sistemik,
skeptimisme yang sehat, keahlian dalam pemberian fasilitas, kemampuan organisasional, ahli
software dan hardware, dan memiliki keahlian analitis yang baik untuk membuat sebuah
kesimpulan yang bermanfaat bagi organisasi.

10

DAFTAR PUSTAKA
Sawyer,Lawrence B. 2009. Sawyer Internal Auditing. edisi 5 buku 1. Salemba empat. Jakarta
Reference. Control Self Assessment (CSA). pada 27 Februari 2013.
https://pogentertainment.wordpress.com/2013/02/27/control-selfassessment-csa/
Wisnu, Pradipha Wibisono. CONTROL SELF-ASSESSMENT DALAM PENGAUDITAN
INTERNAL. Kamis, 27 Februari 2014.
(http://pradipha.blogspot.co.id/2014/02/control-self-assessment-dalam.html)

11