Anda di halaman 1dari 86

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke khadirat Allah SWT, atas karunia serta ridho-Nya kami dapat

menyusun Laporan Pendahuluan yang merupakan salah satu tahapan awal

pelaporan dalam pelaksanaan pekerjaan Identifikasi Infrastruktur

Pemerintahan di Lokasi Prioritas I Pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan

Provinsi Kalimantan Barat , Tahun 2013.

Laporan Pendahuluan ini disusun dalam Lima Bab dengan sistematika

penyajian sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan yang memaparkan: latar belakang, maksud dan tujuan,

dasar hukum, ruang lingkup, dan keluaran;

Bab II Tinjauan Kebijakan dan Teoritis

Bab III

Gambaran Umum Wilayah Perencanaan yang memuat tentang kondisi

umum wilayah perbatasan Kecamatan Paloh, Kecamatan Jagoi Babang,

Kecamatan Entikong, Kecamatn Ketungau Hulu dan Kecamatan Badau

Bab IV

Metodelogi Pelaksanaan Kegiatan yang memuat tentang: pendekatan

pekerjaan dan metode pelaksanaan pekerjaan;

Bab V Rencana Kerja yang memuat mobilisasi tenaga dan peralatan, jadwal

pelaksanaan dan jadwal penugasan personil atau tenaga ahli serta

program kerja berikutnya.

Semoga Laporan Pendahuluan ini dapat memenuhi harapan dan ketentuan

teknis yang ditetapkan. Dengan kerendahan hati kami ucapkan terima kasih,

terutama kepada Kepala Badan Pembangunan Perbatasan dan Daerah Tertinggal

Provinsi Kalimantan Barat beserta jajaran Kepala Bidang dan Stafnya, Pejabat

Pembuat Komitmen dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang telah banyak

memberikan masukan teknis tentang pekerjaan ini. Mohon saran, agar laporan ini

secara substansi lebih dapat disempurnakan. Terima Kasih.

i

Pontianak,

Agustus 2013

Konsultan Pelaksana

DAFTAR ISI

Halaman

I.

PENDAHULUAN

1.1

1.1.

Latar belakang

1.1

1.2.

Tujuan

1.3

1.3.

Sasaran dan Manfaat

1.4

1.4.

Ruang lingkup Pekerjaan

1.4

1.4.1. Ruang Lingkup Wilayah

1.4

1.4.2. Ruang Lingkup Materi Kegiatan

1.5

1.5.

Keluaran Hasil Pekerjaan

1.5

1.6.

Sistematika Pembahasan

1.6

II.

TINJAUAN KEBIJAKAN DAN TEORITIS

2.1

2.1.

Tinjauan Kebijakan

2.1

2.1.1. RPJP dan RPJMN

2.1

2.1.2. Kebijakan Pengembangan Wilayah Perbatasan

2.6

2.2.

Landasan Teoritis

2.18

2.3.

Standar Nasional Indonesia (SNI 03-1733-2004)

2.20

III.

GAMBARAN UMUM WILAYAH

3.1

3.1.

Kecamatan Paloh

3.2

3.1.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Paloh

3.2

3.1.2. Kependudukan

3.2

3.2.

Kecamatan Jagoi Babang

3.6

3.2.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Jagoi Babang

3.7

3.2.2. Kependudukan

3.8

i

3.3.

Kecamatan Entikong

3.10

 

3.3.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Entikong

3.10

3.3.2. Kependudukan

3.11

3.4.

Kecamatan Ketungau Hulu

3.10

3.4.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Ketungau Hulu

3.13

3.4.2. Kependudukan

3.16

3.3.

Kecamatan Badau

3.17

3.3.1. Wilayah Administrasi Kecamatan Badau

3.17

3.3.2. Kependudukan

3.18

IV.

METODOLOGI DAN PENDEKATAN

4.1

4.1.

Pendekatan Pekerjaan

4.1

4.2.

Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data

4.4

4.2.1. Teknik Pengumpulan Data

4.4

4.2.2. Teknik Pengolahan Data

4.4

4.2.3. Teknik Penyajian Data

4.5

4.2.4. Teknik Analisis

4.5

V.

RENCANA KERJA

5.1

5.1.

Organisasi Personil

5.1

5.1.1

Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan

5.2

5.1.2.

Jadwal Penugasan Personil

5.4

5.1.3

Kebutuhan Tenaga Ahli

5.4

5.2.

Waktu Pelaksanaan Pekerjaan

5.10

5.3.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

5.10

5.4.

Sistem Pelaporan

5.10

ii

Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

1.1. Latar Belakang

Bab

Pendahuluan

1
1

Dalam berbagai rencana dan strategi operasional dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat, kita diperhadapkan pada berbagai permasalahan yang beragam yang memerlukan langkah penyelesaian yang tidak selalu sama antara masyarakat kota maupun masyarakat yang ada di desa. Karena itu, diperlukan suatu perencanaan yang efektif yang diawali dengan kegiatan identifikasi. Kegiatan identifikasi dalam rangka upaya peningkatan kualitas pelayanan pemerintah terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan melihat fenomena pertumbuhan dan perkembangan wilayah yang menunjukkan tumbuh dan berkembang sejalan dengan makin meningkatnya jumlah penduduk baik karena adanya tingkat urbanisasi yang tinggi ataupun perkembangan alamiah yang berakibat pada semakin bertambahnya beban infrastruktur pemerintahan yang sudah ada dalam melayani kebutuhan masyarakatnya. Begitu pula dengan kondisis wilayah kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat, dengan letak spasial yang berbatasan dengan negara lain, mengakibtakan pelayanan infrastruktur pemerintah begitu sangat sensitif. Karena secara umum banyakmasyarakat perbatasan yang langsung ataupun tidak langsung lebih nyaman mendapatkan pelayanan dari negara tetangga, yaitu Negara Malaysia. Dengan demikian seharusnya pembangunan wilayah kawasan perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat, terutama kecamatan dengan status lokasi prioritas I harus lebih diarahkan pembangunannya pada upaya-upaya peningkatan produktivitas, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan terutama dengan meningkatkan pembangunan dan pengelolaan infrastruktur pemerintahannya. Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan memelihara sustainabilitas wilayah kawasan perbatasan Provinsi kalimantan Barat, maka perlu adanya konsep pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan untuk lebih meningkatkan pelayanan

pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan untuk lebih meningkatkan pelayanan Laporan Pendahuluan 1-1
pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan untuk lebih meningkatkan pelayanan Laporan Pendahuluan 1-1
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

pemerintah terhadap masyarakatnya. Sampai saat ini kecenderungan pembangunan sarana dan prasarana lebih besar ke arah perkotaan. Untuk memacu pertumbuhan pembangunan dan produktivitas di wilayah kawasan Provinsi Kalimantan Barat, diperlukan upaya sungguh-sungguh dalam mengelola pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur pemeintahan di Wilayah Kecamatan Prioritas (WKP) I kawasan perbatasan. Kegiatan ini diawali dengan identifikasi dan inventarisasi infrastruktur pemeintahan. Kegiatan ini semestinya mencerminkan adanya mekanisme dari bawah ke atas (bottom-up planning) dan dari atas ke bawah (top-down planning). Hal ini penting karena sesungguhnya masyarakatlah yang lebih tahu apa yang mereka butuhkan untuk menunjang aktivitas kehidupan dan perekonomian mereka, maka perlu mekanisme bottom-up planning. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat diwilayah kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat masih memiliki berbagai kelemahan/keterbatasan dalam membuat perencanaan dan menyediakan sumber daya (sumber daya manusia, dana dan material) sehingga perlu diintegratifkan dengan mekanisme top-down planning dari level pemerintah yang lebih tinggi.

1.2.

Tujuan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan kegiatan Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dititikberatkan pada:

a. Pemetaan eksisting infrastruktur pemerintahan pada masing-masing lokasi prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat. Infrastruktur pemerintahan yang dimaksud adalah:

Kantor Kecamatan

Balai Desa/Sejenisnya

Mesin Tik/Komputer

Almari Arsip

Kantor Desa/RW

Kantor BPP

Kendaraan dinas

Infrastruktur pemerintahan lainnya sesuai kondisi sektor ekonomi wilayah.

b. Identifikasi dan inventarisasi infrastruktur pemerintahan pada masing-masing lokasi prioritas

I pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimnatan Barat.

masing-masing lokasi prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimnatan Barat. Laporan Pendahuluan 1-2
masing-masing lokasi prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimnatan Barat. Laporan Pendahuluan 1-2
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Perumusan skala prioritas pembangunan infrastuktur pemerintahan pada masing-masing lokasi prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

1.3. Sasaran dan Manfaat

Sasaran dari pelaksanaan kegiatan Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut :

a. Teridentifikasinya kondisi infrastruktur, persebaran Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

b. Tersusunnya konsep penataan infrastruktur di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima)

Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan sesuai dengan tingkat kelayakan hunian

yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan aspek regulasi mengenai penataan ruang dan tingkat kehidupan sosial ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

c. Terumuskannya rekomendasi arah kebijakan dalam mengembangkan Infrastruktur Pemerintahan di lokasi prioritas I pada 5(lima) Kabupaten di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

Sedangkan Manfaat yang dapat diperoleh adalah :

a. Membantu pemerintah dalam penyediaan data dan informasi tentang kondisi eksisting Infrastruktur Pemerintahan lokasi prioritas I diwilayah kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

b. Dengan adanya hasil pekerjaan yang tersusun secara lengkap dan praktis, akan memberikan kemudahan bagi stakeholder dalam melihat kondisi Infrastruktur Pemerintahan lokasi prioritas I diwilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat, sehingga memberikan kemudahan dalam membuat perencanaan pembangunan daerah selanjutnya pada kawasan tersebut.

kemudahan dalam membuat perencanaan pembangunan daerah selanjutnya pada kawasan tersebut. Laporan Pendahuluan 1-3
kemudahan dalam membuat perencanaan pembangunan daerah selanjutnya pada kawasan tersebut. Laporan Pendahuluan 1-3
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

1.4.

Ruang Lingkup Pekerjaan

1.4.1.

Ruang Lingkup Wilayah

Lokasi kegiatan identifikasi yang ditetapkan merupakan kecamatan yang termasuk dalam

Wilayah Kecamatan Prioritas (WKP) I diwilayah kawasan perbatasan Provinsi Kalimantan Barat, yang

meliputi:

Kecamatan Paloh di Kabupaten Sambas;

Kecamatan Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang;

Kecamatan Entikong di Kabupaten Sanggau;

Kecamatan Ketungau Hulu di Kabupaten Sintang; serta

Kecamatan Badau di Kabupaten Kapuas Hulu.

1.4.2. Ruang Lingkup Materi Kegiatan

Secara umum lingkup kegiatan Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I

pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat yang akan

dilaksanakan adalah :

1. Langkah persiapan, yaitu interpretasi, koordinasi konsultan dengan pihak proyek yang

berhubungan dengan kegiatan, agar diperoleh persepsi yang sama tentang pekerjaan

yang akan dilaksanakan.

2. Penyusunan Laporan Pendahuluan.

3. Survey dan pengumpulan data, baik primer maupun sekunder dan data-data pendukung

lainnya yang terkait.

4. Identifikasi dan verifikasi data.

5. Penyusunan Laporan Antara.

6. Kajian, analisis dan kompilasi data.

7. Penyusunan Draf Laporan Akhir.

8. Asistensi dan Pembahasan Laporan.

9. Penyusunan Laporan Akhir Pekerjaan.

Draf Laporan Akhir. 8. Asistensi dan Pembahasan Laporan. 9. Penyusunan Laporan Akhir Pekerjaan. Laporan Pendahuluan 1-4
Draf Laporan Akhir. 8. Asistensi dan Pembahasan Laporan. 9. Penyusunan Laporan Akhir Pekerjaan. Laporan Pendahuluan 1-4
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

1.5. Keluaran Hasil Pekerjaan

Hasil kegiatan Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat adalah tersusunnya data dan informasi hasil analisis dan rekomendasi kegiatan dalam bentuk laporan-laporan hasil pekerjaan yang dilengkapi dengan peta dan gambar-gambar terkait.

1.6. Sistematika Penyusunan Laporan

Sistematika penyajian laporan pendahuluan pekerjaan Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan di Lokasi Prioritas I pada 5 (lima) Kabupaten diwilayah kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB

I PENDAHULUAN

BAB

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, tujuan dan sasaran kegiatan, lingkup pekerjaan, keluaran pekerjaan dan sistematika penyajian laporan pendahuluan. II TINJAUAN KEBIJAKAN DAN TEORITIS

BAB

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan kebijakan dan tinjauan teoritis infrastruktur. III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kondisi umum wilayah studi yang meliputi Kawasan Perbatasan Provinsi Kalimantan Barat. IV METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai konsep pendekatan dan metodologi pendekatan, dalam metodologi diuraikan mengenai tahapan maupun analisis yang akan digunakan. V RENCANA KERJA Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan kegiatan, jadwal pelaksanaan kegiatan, organisasi pekerjaan dan personil (tenaga ahli) serta pelaporan.

jadwal pelaksanaan kegiatan, organisasi pekerjaan dan personil (tenaga ahli) serta pelaporan. Laporan Pendahuluan 1-5
jadwal pelaksanaan kegiatan, organisasi pekerjaan dan personil (tenaga ahli) serta pelaporan. Laporan Pendahuluan 1-5
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Bab

TINJAUAN KEBIJAKAN DAN TEORITIS

2
2

2.1

Tinjauan Kebijakan

2.1.1

Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional

Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintan No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN Tahun 2005 2025 adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan nasional, (b) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah, (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan, (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan, dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

Visi merupakan penjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi, sejahtera dan cerdas serta berkeadilan.

Visi pembangunan nasional tahun 2005 2025 adalah: INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR

Visi pembangunan RPJPN 2005-2025 tersebut memberikan arah pencapaiannya melalui delapan (8) misi pembangunannya, yaitu: (1) Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila, (2) Mewujudkan bangsa yang berdaya- saing, (3) Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum, (4) Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu, (5) Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan, (6) Mewujudkan Indonesia asri dan lestari, (7) Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional, (8) Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

nasional, (8) Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional. Laporan Pendahuluan 2-1
nasional, (8) Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional. Laporan Pendahuluan 2-1
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Arah pembangunan jangka panjang nasional Tahun 2005 2025 terkait penataan ruang di daerah dan mewujudkan Misi (5) yang terkait langsung dengan tujuan penataan ruang di Kecamatan Tanimbar Utara, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan wilayah diselenggarakan dengan memperhatikan potensi dan peluang keunggulan sumberdaya darat dan/atau laut di setiap wilayah, serta memerhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan daya dukung lingkungan. Pelaksanaan pengembangan wilayah tersebut dilakukan secara terencana dan terinteg*rasi dengan semua rencana pembangunan sektor dan bidang. Rencana pembangunan dijabarkan dan disinkronisasikan ke dalam rencana tata ruang yang konsisten, baik materi maupun jangka waktunya.

b. Percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh didorong sehingga dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal disekitarnya dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang sinergis, tanpa mempertimbangkan batas wilayah administrasi, tetapi lebih ditekankan pada pertimbangan keterkaitan mata-rantai proses industri dan distribusi (pengembangan produk unggulan daerah, serta mendorong terwujudnya koordinasi, sinkronisasi, keterpaduan dan kerja sama antarsektor, antarpemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung peluang berusaha dan investasi di daerah)

c. Mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dan terpencil sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengurangi ketertinggalan pembangunannya dengan daerah lain.

d. Pembangunan kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil diseimbangkan pertumbuhannya dengan mengacu pada sistem pembangunan perkotaan nasional.

e. Percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah ditingkatkan, terutama di luar Pulau Jawa dengan memenuhi kebutuhan pelayanan dasar perkotaan sesuai dengan tipologi kota masing-masing.

f. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan didorong secara sinergis (hasil produksi wilayah perdesaan merupakan backward linkages dari kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan) dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi .

g. Rencana tata ruang digunakan sebagai acuan kebijakan spasial bagi pembangunan di setiap sektor, lintas sektor, maupun wilayah agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan

setiap sektor, lintas sektor, maupun wilayah agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan Laporan Pendahuluan 2-2
setiap sektor, lintas sektor, maupun wilayah agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan Laporan Pendahuluan 2-2
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

berkelanjutan. Rencana Tata Ruang Wilayah disusun secara hierarki. Dalam rangka

mengoptimalkan penataan ruang perlu ditingkatkan (a) kompetensi sumber daya manusia dan

kelembagaan di bidang penataan ruang, (b) kualitas rencana tata ruang, dan (c) efektivitas

penerapan dan penegakan hukum dalam perencanaan, pemanfaatan, maupun pengendalian

pemanfaatan ruang.

h. Pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya.

i. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang berupa air minum dan sanitasi diarahkan pada

(1) peningkatan kualitas pengelolaan asset (asset management) dalam penyediaan air minum

dan sanitasi; (2) pemenuhan kebutuhan minimal air minum dan sanitasi dasar bagi masyarakat;

(3) penyelenggaraan pelayanan air minum dan sanitasi yang kredibel dan profesional; dan (4)

penyediaan sumber-sumber pembiayaan murah dalam pelayanan air minum dan sanitasi bagi

masyarakat miskin.

Sesuai Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Nasional menyatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah ke-2 Tahun 2010-

2014 diarahkan untuk memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang, dengan

menekankan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia termasuk pengembangan

kemampuan ilmu dan teknologi, serta penguatan daya saing perekonomian dan pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi dalam mendukung pengembangan perekonomian nasional.

Kerangka Visi Indonesia 2014 adalah :

TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA, DEMOKRATIS, DAN BERKEADILAN

Usaha-usaha Perwujudan visi Indonesia 2014 akan dijabarkan dalam misi pemerintah Tahun 2010-

2014 sebagai berikut :

1. Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera.

2. Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi.

3. Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang, termasuk pengurangan kesenjangan pendapatan, pengurangan kesenjangan pembangunan antar daerah (termasuk desa-kota), dan kesenjangan jender.

Kerangka pembangunan yang berkelanjutan salah satunya adalah didukung dengan meningkatnya

kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya

kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya Laporan Pendahuluan 2-3
kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya Laporan Pendahuluan 2-3
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.

Terkait dengan RDTR Kecamatan Tanimbar Utara dan Pembangunan Kecamatan Tanimbar Utara, maka disusun dengan rujukan beberapa permasalahan mengenai penataan ruang agar dapat menjadi acuan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, secara nasional, sasaran dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam bidang penataan ruang diantaranya adalah :

1. Terwujudnya sinkronisasi program pembangunan antarsektor dan antarwilayah yang mengacu kepada RTRW menjadi sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan koordinasi baik lintas sektor maupun wilayah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pembangunan atau pemanfaatan ruang suatu wilayah telah sesuai dengan indikasi program yang tercantum dalam RTRWN.

2. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan ruang dan pengawasan teknis sebagai suatu sasaran dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang membuat kegiatan penyelenggaraan penatan ruang sesuai dengan yang direncanakan.

3. Terwujudnya kesepakatan kerjasama pembangunan antarwilayah, yaitu antarwilayah perbatasan, antara negara, dan antarkawasan metropolitan yang terwujud dalam pembentukan badan kerjasama sehingga diharapkan terjadi peningkatan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan pemanfaatan ruang lintas wilayah.

Dalam RPJMN ke-2, maka Misi (3) merupakan salah satu arah pembangunan bagi semua daerah di pelosok Indonesia, dimana pada misi ini dilakukannya sinergi antarbidang pembangunan, salah satunya adalah dengan bidang Wilayah dan Tata Ruang, dimana dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamanatkan pentingnya integrasi dan keterpaduan antara Rencana Pembangunan dengan Rencana Tata Ruang di semua tingkatan pemerintahan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) dalam Pembangunan Bidang Wilayah dan Tata Ruang pada tahun 2010 - 2014, dilaksanakan dengan tujuan untuk mengurangi kesenjangan wilayah, yang dilaksanakan melalui 3 (tiga) arah kebijakan dan strategi utama, yaitu (1) pelaksanaan pengendalian dan pelaksanaan penataan ruang, (2) koordinasi dan integrasi pembangunan wilayah, baik dalam lingkup perkotaan dan perdesaan, maupun dalam lingkup kawasan-kawasan prioritas (kawasan-kawasan strategis, kawasan tertinggal, kawasan perbatasan, dan daerah rawan bencana), yang diperkuat dengan (3) penyelenggaraan desentralisasi dan pemerintahan daerah, dan dilaksanakan melalui 12 prioritas bidang.

desentralisasi dan pemerintahan daerah, dan dilaksanakan melalui 12 prioritas bidang. Laporan Pendahuluan 2-4
desentralisasi dan pemerintahan daerah, dan dilaksanakan melalui 12 prioritas bidang. Laporan Pendahuluan 2-4
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Arah kebijakan dalam prioritas bidang penyelenggaraan penataan ruang adalah mewujudkan

penyelenggaraan penataan ruang yang berkelanjutan dengan meningkatkan kualitas rencana tata

ruang, mengoptimalkan peran kelembagaan, dan diacunya rencana tata ruang dalam pelaksanaan

pembangunan.

Untuk mencapai arah kebijakan tersebut, dirumuskan strategi, yaitu :

1. Mempercepat penyusunan dan pengesahan Rencana Tata Ruang dan peraturan perundangan

pelaksanaan sebagai amanat UU No. 26 Tahun 2007.

2. Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.

3. Meningkatkan sosialisasi dan advokasi peraturan perundangan tata ruang dan NSPK Penataan

Ruang kepada stakeholders terkait di tingkat pusat dan daerah.

4. Mempercepat penyelesaian sistem informasi penataan ruang terpadu, peta dasar dan tematik

serta memanfaatkan pendekatan KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) sebagai salah satu

acuan dalam penyusunan rencana tata ruang dalam rangka peningkatan kualitas

penyelenggaraan penataan ruang.

5. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penataan ruang dengan meningkatkan kualitas SDM dan koordinasi antar sektor dan wilayah, dan membangun kerjasama dan kesepakatan antar wilayah.

6. Meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang.

7. Mengoptimalkan pengawasan penyelenggaraan penataan ruang termasuk didalamnya melalui pengendalian pemanfaatan ruang dan terbentuknya PPNS.

8. Fokus prioritas bidang penyelenggaraan penataan ruang adalah penyelesaian peraturan perundangan sesuai amanat undang-undang penataan ruang.

9. Peningkatan kualitas produk rencana tata ruang.

10. Sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang.

11. Peningkatan kesesuaian pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang.

Sementara itu, didalam 11 prioritas nasional Kabiner Indonesia Bersatu II (2009-2014) dapat terlihat

keterkatan antara pembangunan nasional dengan pengembangan wilayah perbatasan, dimana

Pengelolaan batas wilayah negara & KWSN Perbatasan (PBWNKP) Dalam Kerangka Program

Prioritas Nasional, terdapat pada prioritas ke 10 yaitu daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca

konflik. Oleh karena itu, pada kawasan perbatasan perlu segera dilengkapi dengan perencanaan

yang berjenjang sepereti Grand Design, Rencana Induk dan Rencana Aksi.

dengan perencanaan yang berjenjang sepereti Grand Design, Rencana Induk dan Rencana Aksi. Laporan Pendahuluan 2-5
dengan perencanaan yang berjenjang sepereti Grand Design, Rencana Induk dan Rencana Aksi. Laporan Pendahuluan 2-5
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan

Gambar 2.1 11 Prioritas Pembangunan Nasi onal Kebiner Indonesia Bersatu II Tahun 2009 - 2014

Nasi onal Kebiner Indonesia Bersatu II Tahun 2009 - 2014 2.1.2 Kebijakan Pengembang an Wilayah Perbatasan
Nasi onal Kebiner Indonesia Bersatu II Tahun 2009 - 2014 2.1.2 Kebijakan Pengembang an Wilayah Perbatasan
Nasi onal Kebiner Indonesia Bersatu II Tahun 2009 - 2014 2.1.2 Kebijakan Pengembang an Wilayah Perbatasan

2.1.2 Kebijakan Pengembang an Wilayah Perbatasan Nasional

Negara, kawasan

perbatasan adalah bagian dari

wilayah Indonesia dengan Nega ra lain, dalam hal batas wilayah Negara di darat, kawasan perbatasan

berada di kecamatan.

wilayah Negara yang Terletak pada sisi dal am sepanjang batas

Sesuai dengan Ketentuan um um UU No 43 Tahun 2008 tentang Wilayah

perbatasan Negara.

Untuk kawasan perbatasan lau t, diperhitungkan dengan memposisikan keca matan yang menjadi

lokasi pulau-pulau kecil terluar.

Hasil identifikasi (2010), terdap at 187 kecamatan yang berada pada kawasan

Dalam rangka pengembangan w wilayah perbatasan perlu disusun Standar Pelay anan Minimal (SPM)

untuk mempermudah pelaksa anaan pembangunan wilayah perbatasan ya ang dilakukan oleh

pemerintah pusat dan daera h. SPM ini merupakan penjabaran dari ra ncangan peraturan

perundangan pelaksanaan kewe nangan antar level pemerintah.

penjabaran dari ra ncangan peraturan perundangan pelaksanaan kewe nangan antar level pemerintah. Laporan Pendahuluan 2-6
penjabaran dari ra ncangan peraturan perundangan pelaksanaan kewe nangan antar level pemerintah. Laporan Pendahuluan 2-6
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan

Gambar 2.2

(Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan Gambar 2.2 Pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota harus memiliki
(Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan Gambar 2.2 Pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota harus memiliki
(Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan Gambar 2.2 Pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota harus memiliki
(Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan Gambar 2.2 Pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota harus memiliki

Pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota harus memiliki kewenangan yan g dapat menjamin

sinergi pelaksanaan pembangun an kawasan perbatasan. Kewenagan antar level pemerintah dalam

PBWNKP seperti yang tertuang

dalam UU. No 43 tahun 2008 tentang Wilayah N egara

Tabel 2.1 Kewenangan Antar Le vel Pemerintah Dalam PBWNKP (pasal 9 & 10 U U 43/2008)

PUSAT

PROVINSI

 

KAB/KOTA

Menetapkan kebijakan pengelol aan & pemanfaatan wilayah negara & Kawasan Perbatasan

Melaksanakan kebijakan Pembangunan dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah & TP

Mel aksanakan kebij

Pem

bangunan dan

me netapkan kebijakan lain nya dalam rangka oto nomi daerah & TP

Mengadakan perundingan batas

Membangun tanda batas

 

Me njaga & memelihara tan da batas

Mendata & menamai pulau/kep serta unsur geografis lainnya

Melakukan koordinasi pembangunan di Kawasan Perbatasan

Memberikan izin terbang

Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar Pemda dan/ atau antar pemda

Mel akokan Koordinasi dala m rangka pela ksanaan

Memberikan izin lintas damai

(laut)

 

pem

bangunan di

m rangka pela ksanaan Memberikan izin lintas damai (laut)   pem bangunan di Laporan Pendahuluan 2-7
m rangka pela ksanaan Memberikan izin lintas damai (laut)   pem bangunan di Laporan Pendahuluan 2-7
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
 

dengan pihak ketiga

Kawasan Perbatasan & di wilayah lainny

Melaksanakan pengawasan di zona tambahan & gakkum bid CIQS

Melakukan pengawasn pelaksanaan pembangunan Kawasan Perbatasan yang dilaksanaankan Pemkab/Kota

Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar Pemda & atau antara Pemda degan pihak ketiga

Menetapkan wil udara yg dilarang (hankam)

Membuat & Memperbaharui peta wilayah negara (1 x 5 thn), lapor DPR

Wajib:

Menetapkan biaya pembangunan Kawasan Perbatasan

Menjaga keutuhan, kedaulatan & Keamanan Wilayah negara & Kawasan Perbatasan

Tabel 2.2 Pelaksanaan Kewenangan Daerah Dalam PBWNKP

PROVINSI

KAB/KOTA

Melaksanakan kebijakan Pembangunan & menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah dan TP

Melaksanakan kebijakan Pembangunan dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah & TP

Menjaga & memelihara tanda batas

Melakukan koordinasi pembangunan di Kawasan Perbatasan

Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar Pemda dan/ atau antar pemda dengan pihak ketiga

Melakukan Koordinasi dalam rangka pelaksanaan pembangunan di Kawasan Perbatasan & di wilayah lainnya

Melakukan pengawasn pelaksanaan pembangunan Kawasan Perbatasan yg dilaksanakan Pemkab/Kota

Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar Pemda & atau antara Pemda dengan pihak ketiga

Wajib:

Menetapkan biaya pembangunan Kawasan Perbatasan

Tugas Badan Pengelola sebagaimana yang tertuang dalam Amanat UU 43 Tahun 2008 tentang

Wilayah Negara ( Pasal 15 UU 43 ) dan pasal 3 Perpres 12/2010 tentang Tugas Badan Pengelola (di

Pusat dan daerah) adalah sebagai berikut:

harus ditetapkan kebijakan & program.

harus ada rencana kebutuhan anggaran.

Pelaksanaan PBWNKP terkoordinasi

haruss ada fasilitasi, monev.

harus diawasi (utk akuntabilitas)

PBWNKP terkoordinasi haruss ada fasilitasi, monev. harus diawasi (utk akuntabilitas) Laporan Pendahuluan 2-8
PBWNKP terkoordinasi haruss ada fasilitasi, monev. harus diawasi (utk akuntabilitas) Laporan Pendahuluan 2-8
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan

Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan

Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah
Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah
Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah
Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah
Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah
Gambar 2.3 Tug as Pokok Badan Pengelolan Perbatasan Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah

Dalam rangka mewujudkan perc epatan pembangunan di wilayah perbatasan, BN PP disusun dalan

unit organisasi beradasrkan asas

12/2010 tentang BNPP sebagaim

koordinasi, Keanggotaan BNPP menuruj pada P asal 6, Perpres

ana dalam tabel berikut ini.

Tabel 2.3 Organisa si Badan Nasional Pengembangan Perbatasan

JABATAN

KEDUDUKAN

Menko Polhukam

KETUA PENG ARAH

Menko Perekonomian

WK. KETUA P ENGARAH

Menko Kesra

WK. KETUA P ENGARAH

Mendagri

KEPALA BNPP

Menlu, Menhan, Menhukham,

Menkeu, Menteri Pu, Menhut,

ANGGOTA

Menteri Kkp, Menteri Ppn/Kepa la Bappenas, Menteri PDT

Panglima Tni, Kapolri, Kepala Bin , Kepala Bakorsurtanal

Gubernur provinsi terkait (nad, sumut, riau, kepri, kalbar, kaltim, sulut, ntt, maluku, malut, papua barat, papua)

terkait (nad, sumut, riau, kepri, kalbar, kaltim, sulut, ntt, maluku, malut, papua barat, papua) Laporan Pendahuluan
terkait (nad, sumut, riau, kepri, kalbar, kaltim, sulut, ntt, maluku, malut, papua barat, papua) Laporan Pendahuluan
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan

Semenatra itu, untuk pengemba angan wilayah-wilayah perbatasan, terdapat lem baga yang diberikan

kewenangan mengelola wilayah

perbatasan seperti Badan Pengembangan Perb atasan untuk daerah.

Koordinasi antara Badan Nasio nal Pengembangan Perbatasan (BNPP) dan Ba dan Pengembangan

Perbatasan (BPP) perlu dilakuka an. Terdapat 14 kementerian, 4 lembaga dan 1 2 Gubernur/propinsi

yang bertugas mendukung pelak ksanaan pengembangan wilayah perbatasan di In donesia.

Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola

In donesia. Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola Pada umumnya terdapat 4 kon sep
In donesia. Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola Pada umumnya terdapat 4 kon sep
In donesia. Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola Pada umumnya terdapat 4 kon sep
In donesia. Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola Pada umumnya terdapat 4 kon sep
In donesia. Gambar 2.4 K edudukan Dan Peran Badan Pengelola Pada umumnya terdapat 4 kon sep

Pada umumnya terdapat 4 kon sep dasar pengelolaan wilayah negara dan per batasan, diantaranya

adalah menetapkan

negara tetangganya.

ditentukan batasnya

dengan negara tetangga, pene gasan batas adalah setelah garus batas ditetap kan didalam sebuah

Penetapan batas adalah mengi dentikasi area-area yang overlaping dan harus

cakupan wilayah negara, terma suk dimana wilayah yang berbatasan dengan

adalah alokasi, penetapan bat as, penegasan batas dan manajemen. Alokasi

perjanjian batas, dibuat penega san dengan koordinat titik-titik batas dan dilam pirkan pera ilustrasi

umum pada batasnya. S edangkan manajemen adalah terdiri

dari administrasi,

pengelolaan/pembangunan di g aris batas, pembangunan kawasan perbatasan.

dari administrasi, pengelolaan/pembangunan di g aris batas, pembangunan kawasan perbatasan. Laporan Pendahuluan 2-10
dari administrasi, pengelolaan/pembangunan di g aris batas, pembangunan kawasan perbatasan. Laporan Pendahuluan 2-10
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi
Identifikasi Infrastruktur Pemerinta han Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Pe rbatasan Provinsi Kalimantan

Gambar 2.5 Konsep Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan

Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan

Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP

Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan
Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan
Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan
Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan
Dasar Peng elolaan batas wilayah negara dan Kawasan Per batasan Gambar 2.6 Kebijakan PBWNKP Laporan Pendahuluan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

7 (tujuh) arah kebijakan pengelolaan batas wilayah negara dan Kawasan Perbatasan dalam GRAND DESIGN (PBWNKP), diantaranya adalah:

1. Reorientasi Arah Kebijakan Pengelolaan Perbatasan Mengubah arah kebijakan dari kecenderungan orientasi inward looking, ke orientasi outward looking sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Elemen Strategi:

Pengembangan Pendekatan Komprehensif Tiga Dimensi (kesra, hankam, dan lingkungan)

Pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional sbg entry point pertumbuhan

Pengembangan Dukungan Kebijakan Lintas Sektoral

2. Reposisi Peran Strategis Kawasan Perbatasan Mengubah posisi kawasan perbatasan sebagai halaman belakang negara yang kurang perhatian & terlantar, ke posisi sebagai beranda depan negara yang memiliki peran strategis pemacu perkembangan ekonomi regional maupun nasional Elemen Strategi:

Penyediaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Pusat Pertumbuhan Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat Peningkatan Pengamanan dan Penegakan Hukum

3. Rekonsolidasi Daya Dukung Pengelolaan Perbatasan Menata ulang daya dukung, kekuatan, dan peluang yang ada untuk dikonsolidasikan ulang agar secara efektif dan efisien mampu dioptimalkan untuk kepentingan perbatasan, baik dalam rangka percepatan penyelesaian batas wilayah negara maupun pembangunan perbatasan. Elemen Strategi:

Pengembangan Sinergitas Pengelolaan Perbatasan Optimalisasi pemanfaatan SDA dan SDM Pengembangan Sistem Pelayanan Khusus Pengembangan Wawasan Kebangsaan

4. Reformulasi Basis Pemikiran Dan Pengaturan Pengelolaan Perbatasan Melakukan review dan merumuskan kembali pengaturan dan pedoman dalam penetapan kebijakan program, penyusunan kebutuhan anggaran, koordinasi pelaksanaan, serta monev dan pelaporan pengelolaan perbatasan agar lebih terfokus, responsif, dan terpadu Elemen Strategi:

Pengembangan Basis Manajemen

agar lebih terfokus, responsif, dan terpadu Elemen Strategi: Pengembangan Basis Manajemen Laporan Pendahuluan 2-12
agar lebih terfokus, responsif, dan terpadu Elemen Strategi: Pengembangan Basis Manajemen Laporan Pendahuluan 2-12
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Pengembangan Mekanisme dan Komitmen

Pengembangan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria

5. Restrukturisasi Kewenangan Penanganan Perbatasan Menata ulang kembali kewenangan penanganan perbatasan dari pola ad hoc, ke arah pengelolaan penanganan perbatasan yang lebih bersifat khusus dan permanen dengan terbentuknya struktur badan pengelola perbatasan di pusat maupun di Daerah perbatasan Elemen Strategi:

Pembangian Kewenangan Pusat-Daerah dalam pengelolaan perbatasan

1. Penataan Ulang Struktur Penanganan Batas : dari ad hoc ke permanen

6. Revitalisasi Kemitraan Dan Kerjasama Memperkuat jejaring kemitraan dan kerjasama percepatan penyelesaian permasalahan batas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kaidah-kaidah hubungan antara negara Elemen Strategi:

Peningkatan Kerjasama Ekonomi Regional

Peningkatan Ketahanan Regional

Pengembangan Fasilitas Insentif

Mengembangkan Kemitraan Pengelolaan Perbatasan

7. Reformasi Tata Laksana Menata dan menerapkan sistem tata laksana pengelolaan perbatasan sesuai prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam upaya mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance) Elemen Strategi:

Pengembangan Prinsip-prinsip Good Governance : AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI, DAN PARTISIPASI Penataan ulang Manajemen Pengelolaan perbatasan YANG KOMPREHENSIF

AGENDA PRIORITAS

1. Percepatan penetapan dan penegasan batas wilayah negara

2. Penguatan Hankam dan penegakan hukum

3. Pengembangan ekonomi kawasan perbatasan, Sumber Daya Alam (SDA), dan lingkungan hidup

4. Peningkatan pelayanan sosial dasar dan budaya

5. Penguatan kapasitas kelembagaan pengelolaan perbatasan

pelayanan sosial dasar dan budaya 5. Penguatan kapasitas kelembagaan pengelolaan perbatasan Laporan Pendahuluan 2-13
pelayanan sosial dasar dan budaya 5. Penguatan kapasitas kelembagaan pengelolaan perbatasan Laporan Pendahuluan 2-13
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Tabel 2.4 Komparasi Agenda Prioritas Dgn Program/Kegiatan

AGENDA

PROGRAM

PRIORITAS

PENETAPAN &

Penyusunan Cetak Biru (blueprint) Perundingan batas negara pada segmen bermasalah. Penataan struktur kelembagaan perundingan batas negara. Pemasangan tanda batas negara di perbatasan. Pembuatan peta batas negara. Pemeliharaan tanda batas negara. Sosialisasi batas negara kepada masyarakat. dsb

PENEGASAN BTS

WIL NEG

PERTAHANAN,

Penyusunan Cetak Biru (blueprint) Peningkatan kuantitas dan kualitas sarana prasarana Pos Pengamanan perbatasan. Peningkatan cakupan pengawasan dan pengamanan pada Lokasi Prioritas. Peningkatan ketersediaan fasillitas dan kualitas pelayanan PLB dalam mengawasi dan memfasilitasi arus barang dan manusia antar negara pada exit/entry point di Lokasi Prioritas. Penanganan pelanggaran lintas batas oleh instansi terkait di PLB. dsb.

KEAMANAN,

PENEGAKAN

HUKUM

PERTUMBUHAN

Penyusunan Cetak Biru (blueprint) Penyusunan Sistem Informasi Potensi Pengemb Pusat Pelayanan Satu Atap (one stop centre); Pengembangan Dana/Modal Ventura Pengemb Sistem Pemasaran Bersama Pembangunan Pusat Inkubasi Penyusunan Rencana dan Promosi Pariwisata Pemb infrastruktur dan pasar Pengembangan Kawasan/Klaster Usaha

EKONOMI

PELAYANAN

Penyusunan Cetak Biru (blueprint) Pemb sarpras pendiidkan dasar & menengah Pemb sarpras aparatur pendidikan Penyusunan Sistem Pendidikan Berbasis Lokal Penyediaan tenaga medis Pemb Sarpras Pendukung Tenaga Medis Pemb Sarpras Rawat Inap Penyediaan Peralatan Medis Pemb sarpras pasar Pemb terminal produksi lokal Pengemb Usaha Mikro dan Kecil Pemb. jalan poros, jembatan & dermaga Pengemb Moda Transportasi Darat dan Laut. Pemb Sarpras Komunikasi dan Informasi

SOSIAL DASAR

PENGUATAN

Penyusunan Cetak Biru (blueprint). Pengemb Sistem Perencanaan & Penganggaran Terpadu. Pengemb Sistem Koordinasi Pembangunan KP Penguatan Kapasitas Daerah Dalam Pelaksanaan Kewenangan Penyusunan SPM & NSPK Pelaksanaan Urusan Pemerintahan Pengemb Sarpras Pelayanan Pemerintahan Peningkatan Kapasitas Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan Desa.

KELEMBAGAAN

Peningkatan Kapasitas Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan Desa. KELEMBAGAAN Laporan Pendahuluan 2-14
Peningkatan Kapasitas Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan Desa. KELEMBAGAAN Laporan Pendahuluan 2-14
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Penguatan Kapasitas Organisasi dan Tatalaksana Bdn Pengelola Perbatasan. Pembangunan Sistem Informasi dan Database

Penguatan Kapasitas Organisasi dan Tatalaksana Bdn Pengelola Perbatasan. Pembangunan Sistem Informasi dan Database PBWNKP. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Data dan Informasi. Penguatan Wawasan Kesatuan Bangsa Pemberdayaan Nilai-Nilai Sosial Budaya

Tabel 2.5 Uraian Kegiatan Dari Perspektif TUPOKSI Badan Pengelola (Pusat & Daerah)

NO

TUPOKSI

KEGIATAN

SUB KEGIATAN

1.

PENETAPAN KEBIJAKAN PROGRAM PBWNKP

PENYUSUNAN RENCANA INDUK & RENCANA AKSI;

Penyusunan Rencana Kebutuhan Infrastruktur Lokpri/Kawasan; JARING ASMARA PER LOKPRI &

KAWASAN (Optimalisasai Peran Camat & Pemdes/Kel); Rakor Kawasan Perbatasan Kab/Kota (Pramusrenbang Perbatasan); Musrenbang Kab/Kota (Hsl Rakor KP menjadi input); Rakor Perbatasan Prov (Pramusrenbang Perbatasan); Musrenbang Prov; Rakornas Perbatasan (Pramusrenbangnas); Musrenbangnas;

Disseminasi (Pst & Daerah) Dst

 

PENETAPAN

PENYUSUNAN PEDOMAN PENETAPAN ANGGARAN TERPADU PBWNKP;

Rakor Lintas K/L dan SKPD; Optimalisasai Kerja Sama Antar Daerah, Antar Pusat dan Daerah, dan Antar Pemerintah dan Swasta (Public Private) Penetapan Regulasi Penganggaran (Peraturan BNPP, Permendagri ttg Pedoman Penyusunan APBD, PerKada).

RENCANA

KEBUTUHAN

ANGGARAN

   

PENYUSUNAN RENCANA KEBUTUHAN ANGGARAN PBWNKP PER LOKPRI/KAWASAN;

Koord & Supervisi Penyusunan KUA PPAS PBWNKP (Kebijakan Umum Anggaran & Penetapan Plafon Anggaran Sementara); Optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah, Antar Pusat dan Daerah, dan Antar Pemerintah dan Swasta (Public Private) Penetapan Regulasi Penganggaran (Peraturan BNPP, Permendagri ttg Pedoman Penyusunan APBD setiap tahun, dan Perkada).

(Peraturan BNPP, Permendagri ttg Pedoman Penyusunan APBD setiap tahun, dan Perkada). Laporan Pendahuluan 2-15
(Peraturan BNPP, Permendagri ttg Pedoman Penyusunan APBD setiap tahun, dan Perkada). Laporan Pendahuluan 2-15
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

NO

TUPOKSI

KEGIATAN

SUB KEGIATAN

3.

KOORDINASI

PENYUSUNAN

Rakor Lintas K/L dan SKPD; FGD lintas pelaku (Pst dan Daerah); Penetapan Regulasi ttg Mekanisme Koordinas (Perpres, Peraturan BNPP, PerKada).

PEMBANGUNAN

MEKANISME

KAWASAN

KOORDINASI;

PERBATASAN

   

PELAKSANAAN KOORD PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR KP;

Disseminasi Kegiatan K/L & Daerah (DAK, Dekon, TP, BLM dsb); Pilot Project Bersama di KP; Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Bersama (Gerbangdutas, PNPM Perbatasan dsb).

4.

FASILITASI,

PENGENDALIAN,

EVALUASI &

PENYUSUNAN PEDOMAN PENGENDALIAN, EVALUASI & PENGAWASAN

Fasilitasi FGD K/L & antar SKPD; Fas. Penyusunan Instrumen Pengendalian; Fas. Penyusunan Instrumen Evaluasi Fas. Penyusunan Instrumen Pengawasan.

PENGAWASAN

   

PENGENDALIAN PEMBANGUNAN KP

Fasilitasi Monitoring Bersama (lintas K/L & SKPD); Fas. Penyusunan Laporan Hasil Monitoring; Disseminasi Hasil Monitoring.

   

FASILITASI PENGUATAN KELEMBAGAAN

Fasilitasi Penguatan Kapasitas Aparatur Bdn Pengelola & Aparatur Pem KP dlm Perencanaan, Pelaksanaan, Pemanfaatan & Monev; Fas. Pelaksanaan Perencanaan Partisipatip; Fas. Pengembangan Kegiatan Stimulus berbasis Masy; Fas. Pengembangan Kemitraan. Dsb

 
   

EVALUASI PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR KP

Fasilitasi FGD Lintas Pelaku di Lokpri/KP; Fasilitasi FGD/Forum Lintas SKPD; Fasilitasi Kunjungan Lapangan; Penyusunan Laporan Evaluasi.

 
Lintas SKPD; Fasilitasi Kunjungan Lapangan; Penyusunan Laporan Evaluasi.   Laporan Pendahuluan 2-16
Lintas SKPD; Fasilitasi Kunjungan Lapangan; Penyusunan Laporan Evaluasi.   Laporan Pendahuluan 2-16
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Tabel 2.6 Klusterisasi Kawasan Perbatasan Negara

NO

LOKPRI

 

KATEGORI

PRGRM PRIORITAS

1.

DARAT

terpencil dan terisolasi: (belum ada jalan & sarpras pendukung, moda transp.tradisional).

pembangunan jalan

poros,dermaga dll.

rehabilitasi &

revitalisasi,

Tertinggal: (ada jalan, jembatan tapi kondisi rusak berat, tidak ada moda transportasi yang secararutin melayani) Berkembang: (ada jalan, jembatan tapi kondisi rusak berat, ada moda transportasi tapi tidak rutin namun sangat memungkinkan untuk ditingkatkan /feasible). Maju: (semua jenis sarpras dan pendukung nya tersedia secara kuantitas & kualitas)

pengembangan moda transportasi Peningkatan sarpras & moda transportasi. Peningkatan dan Pemliharaan.

2.

LAUT

KLUSTER I: (PPKT tidak dapat dihuni secara permanen, berkelanjutan dan alamiah baik oleh masyarakat, penjaga suar dan unsur TNI). KLUSTER II: (PPKT dapat dihuni namun sampai saat ini hanya oleh unsur TNI dan penjaga suar). Cat: Berhala. KLUSTER III: (PPKT dihuni oleh masyarakat, penjaga suar dan unsur TNI, memiliki unsur-unsur /struktur pem an sederhana, termasuk pulau-pulau yg dikelola pihak swasta).cat: miangas.

pembangunan sarpras pemeliharaan pulau sebagai titik terluar batas negara. pembangunan sarpras hankam & gakum. pembangunan sarpras fisik, ekonomo, kesra & pemerintahan. Pemeliharaan & Peningkatan Sarpras. Pengadaan Sarpras Pendukung Oprasional.

Tabel 2.7 Arah Kebijakan Berdasarkan Kategori Lokpri

NO

KATEGORI LOKPRI

 

ARAH KEBIJAKAN

 

1. DARAT:

Pembangunan Jalan Poros Membuka Keterisolasian/Aksessibilitas).

Terpencil &

Terisolasi

Peningkatan Fungsi Infrastruktur Yang Ada (Existing).

Tertinggal

pembangunan sarpras pendukung peningkata kapasitas sdm, kesehatan dan perekonomian lokal . Pebangunan Kawasan Pusat Pertumbuhan. pengembangan sarpras pelayanan publik kawasan terisolasi/terpencil (mobile public services)

Berkembang

Maju

 

2. LAUT:

Pembangunan Sarpras Pelayaran Untuk Peningkatan Konnektifitas & Membuka Keterisolasian (Aksessibilitas Antar Pulau). Pembangunan Infrastruktur Pendukung Peningkatan Potensi. Pembangunan Pusat Pertumbuhan. Pembangunan Lumbung Pangan (sebagai kawasan yang sulit dijangkau).

KLUSTER I

KLUSTER II

KLUSTER III

Pangan (sebagai kawasan yang sulit dijangkau). KLUSTER I KLUSTER II KLUSTER III Laporan Pendahuluan 2-17
Pangan (sebagai kawasan yang sulit dijangkau). KLUSTER I KLUSTER II KLUSTER III Laporan Pendahuluan 2-17
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

2.2. Landasan Teoritis

Infrastruktur diistilahkan mengacu pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara ekonomi dan sosial. Atau dengan kata lain merupakan prasarana lingkungan

Menurut Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.378/1987 tentang Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, Lampiran 22 menyebutkan: Prasarana Lingkungan adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, saluran air hujan, pembuangan sampah, jaringan listrik . Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No.59/1988 tentang Petunjuk Pelaksanaan PerMenDagri No.2/1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota menyebutkan bahwa Sistem utama jaringan utilitas kota (pola jaringan fungsi primer dan sekunder) seperti air bersih, telepon, listrik, gas, air kotor/drainase, air limbah .

Enam kategori besar infrastruktur menurut Grigg meliputi:

1)

Kelompok jalan (jalan, jalan raya, jembatan);

2)

Kelompok pelayanan transportasi (transit, jalan rel, pelabuhan, bandar udara);

3)

Kelompok air (air bersih, air kotor, semua sistem air, termasuk jalan air);

4)

Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat);

5)

Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga luar;

6)

Kelompok produksi dan distribusi energi (listrik dan gas);

Sedangkan kelompok fasilitas fisik menurut Grigg meliputi:

1) Sistem penyediaan air bersih, termasuk dam, reservoir, transmisi, treatment, dan fasilitas distribusi; 2) Sistem manajemen air limbah, termasuk pengumpulan, treatment,

3)

4)

pembuangan, dan sistem pemakaian kembali; Fasilitas manajemen limbah padat; Fasilitas transportasi, termasuk jalan raya, jalan rel dan bandar udara. Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol;

termasuk jalan raya, jalan rel dan bandar udara. Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol;
jalan rel dan bandar udara. Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol; Laporan Pendahuluan 2-18
jalan rel dan bandar udara. Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol; Laporan Pendahuluan 2-18
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

5)

Sistem transit publik;

6)

Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusi;

7)

Fasilitas pengolahan gas alam;

8)

Fasilitas pengaturan banjir, drainase, dan irigasi;

9)

Fasilitas navigasi dan lalu lintas/jalan air;

10) Bangunan publik seperti sekolah, rumah sakit, kantor polisi, fasilitas pemadam kebakaran; 11) Fasilitas perumahan;

12) Taman, tempat bermain, dan fasilitas rekreasi, termasuk stadion.

Infrastruktur dasar dalam suatu wilayah atau kawasan dibutuhkan secara vital oleh masyarakat. Dalam implementasinya kebutuhan tersebut harus dipenuhi baik secara pribadi maupun kelompok masyarakat. Pemenuhan tersebut sudah seharusnya menjadi kewajiban pemerintah mengingat ketersediaan infrastruktur dasar memerlukan modal yang sangat besar dan program berkesinambungan yang tidak bisa dipenuhi secara swadaya oleh masyarakat. Berkaitan dengan itu maka dikenal istilah Standar Pelayanan Minimal yang harus dipenuhi oleh pemerintah, terutama terkait dengan penyediaan infrastruktur dasar. Untuk infrastruktur di wilayah perbatasan Indonesia Malaysia maka dibedakan menjadi dua kategori yaitu:

1. Infrastruktur wilayah. Berdasarkan Permen PU No. 14 Tahun 2010 tentang SPM bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, maka infrastruktur dasar wilayah terkait dengan sistem jaringan antar wilayah, yang meliputi:

a. Air baku

b. Irigasi

c. Jaringan jalan

d. Air Minum

e. Drainase

f. Air limbah

g. Persampahan

a. Air baku b. Irigasi c. Jaringan jalan d. Air Minum e. Drainase f. Air limbah
a. Air baku b. Irigasi c. Jaringan jalan d. Air Minum e. Drainase f. Air limbah
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Sedangkan untuk mendukung infrastruktur wilayah tersebut perlu didukung pula jaringan sebagai berikut:

a. Telekomunikasi

b. Energi (kelistrikan dan bahan bakar)

c. Transportasi

2. Infrastruktur khusus wilayah perbatasan. Infrastruktur khusus ini terkait dengan fasilitas umum dan sosial untuk kegiatan sosial ekonomi dan pertahanan keamanan. Infrastruktur ini meliputi antara lain:

a. Fasilitas pendidikan, berupa taman kanak-kanak, sekola dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dll.

b. Fasilitas peribadatan, berupa masjid, gereja, vihara, klenteng, dll.

c. Fasilitas perekonomian, berupa pasar, ruko, gudang, pos dll.

d. Fasilitas kesehatan, berupa puskesmas, posyandu, dll.

e. Fasilitas pemerintahan, berupa kantor kecamatan, desa, KUA, dll.

f. Fasilitas perumahan/permukiman, berupa kelompok dan tipe perumahan/permukiman.

g. Fasilitas pertahanan dan keamanan berupa kantor polsek, koramil, pos lintas batas, dll.

h. Fasilitas keimigrasian, berupa kantor imigrasi dan bea cukai, dll.

2.3. Standar Pelayanan Minimal Untuk Infrastruktur Wilayah

1. SPM Bidang Air Baku

a. Indikator Pelayanan Minimal Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari hari.

b. Pengertian:

Kinerja Sistem Jaringan Penyediaan Air Baku adalah kemampuan sistem jaringan untuk membawa sejumlah air dari sumbernya ke Instalasi Pengolah Air sesuai waktu dan tempat berdasarkan rencana pencapaian akses terhadap air bersih yang ditetapkan dalam target MDGs bidang Air Minum.

c. Definisi Operasional

terhadap air bersih yang ditetapkan dalam target MDGs bidang Air Minum. c. Definisi Operasional Laporan Pendahuluan
terhadap air bersih yang ditetapkan dalam target MDGs bidang Air Minum. c. Definisi Operasional Laporan Pendahuluan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

1) Bahwa kewajiban pemerintah berdasarkan target MDGs adalah menyediakan air bersih secara kontinyu yang dapat diakses paling tidak oleh 68.87 % (rata-rata) masyarakat Indonesia.

2) Kebutuhan minimal setiap orang akan air bersih per hari adalah 60 liter atau 0,06 m3.

3)

Sistem Jaringan penyediaan air baku terdiri dari bangunan penampungan

4)

air , bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan saluran pembawa/transmisi beserta bangunan pelengkapnya yang membawa air dari sumbernya ke Instalasi Pengolah Air. Nilai SPM keandalan ketersediaan air baku merupakan rasio ketersediaan

d.

air baku secara nasional yang merupakan kumulatif dari masing-masing Instalasi Pengolah Air terhadap target MDGs kebutuhan air baku secara nasional yang telahditetapkan. Target Persentase Target pencapaian Standar Pelayanan Minimal penyediaan air baku untuk kebutuhan pokok minimal sehari-hari adalah 100% dari Minimal Kebutuhan Air Baku pada Instalasi Pengolah Air di tiap kabupaten/kota.

2. SPM Bidang Irigasi

a. Indikator pelayanan minmal tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada.

b. Pengertian:

Kinerja jaringan irigasi adalah kemampuan jaringan untuk membawa sejumlah air dari sumbernya ke petak petak sawah sesuai waktu dan tempat berdasarkan rencana tata tanam yang telah ditetapkan.

c. Definisi Operasional 1) Kriterianya adalah bahwa masyarakat petani yang tergabung dalam perkumpulan petani pemakai air dan petani pada sistem pertanian rakyat

yang tergabung dalam perkumpulan petani pemakai air dan petani pada sistem pertanian rakyat Laporan Pendahuluan 2-21
yang tergabung dalam perkumpulan petani pemakai air dan petani pada sistem pertanian rakyat Laporan Pendahuluan 2-21
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

pada daerah irigasi yang sudah ada berhak memperoleh dan memakai air untuk kebutuhan pertanian; 2) Hak guna pakai air untuk irigasi diberikan kepada masyarakat petani melalui perkumpulan petani pemakai air, dan bagi pertanian rakyat yang berada dalam sistem irigasi yang sudah ada diperoleh tanpa izin; 3) Izin sebagaimana dimaksud pada butir 2) diberikan dalam bentuk keputusan gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya; 4) Hak guna pakai air bagi petani yang tergabung dalam perkumpulan petani pemakai air dan petani untuk pertanian rakyat sebagaimana disebut pada butir 2) harus diwujudkan dalam Rencana Tata Tanam yang ditetapkan oleh Gubernur/bupati/walikota; 5) Nilai SPM keandalan ketersediaan air irigasi merupakan rasio ketersediaan air irigasi di petak-petak sawah dalam jumlah, waktu dan tempat pada setiap musim tanam terhadap kebutuhan air irigasi berdasarkan rencana tata tanam yang telah ditetapkan. d. Target Target pencapaian SPM adalah sebesar 70% (kinerja baik) pada tahun 2014. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 32 Tahun 2007 tentang

Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi, Indeks Kinerja Sistem Irigasi dengan nilai :

- 80-100 : kinerja sangat baik

- 70-79 : kinerja baik

- 55-69 : kinerja kurang dan perlu perhatian

- < 55 : kinerja jelek dan perlu perhatian

3. SPM Bidang Jaringan Jalan a) Aspek Aksesibilitas

1. Indikator Pelayanan Minimal Tersedianya jalan yang menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota.

2. Definisi Operasional

menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota. 2. Definisi Operasional Laporan Pendahuluan 2-22
menghubungkan pusat pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota. 2. Definisi Operasional Laporan Pendahuluan 2-22
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Kriteria aksesibilitas adalah bahwa setiap pusat kegiatan (PK) dalam suatu wilayah terhubungkan oleh jaringan jalan sesuai statusnya sehingga tidak ada satupun PK yang belum terhubungkan (terisolasi). Jika masih ada PK yang belum terhubungkan, maka perlu diketahui tentang rencana pembangunan jalan penghubung yang menghubungkan PK yang terisolasi tersebut. Nilai SPM aksesibilitas adalah panjang jalan yang menghubungkan seluruh PK, dinyatakan dalam prosentase panjang jalan yang terbangun pada tahun akhir pencapaian SPM terhadap panjang total jalan yang menghubungkan seluruh PK dalam wilayah sesuai statusnya.

3. Target SPM Aksesibilitas adalah 100% pada tahun 2014. Target diberikan untuk pemerintah daerah yang mempunyai rencana pengembangan infrastruktur jalan. Apabila ada PK yang belum terhubungkan dengan infrastruktur jalan namun dalam program Pemerintah Daerah sampai dengan 2014 PK tersebut dihubungkan dengan moda transportasi lainnya, maka pencapaian SPM Aksesibilitas dianggap tercapai.

b) Aspek Mobilitas

1. Indikator pelayanan minimal Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat per individu melakukan perjalanan. a. Definisi Operasional 1) SPM Mobilitas jaringan jalan dievaluasi dari keterhubungan antarpusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan sesuai statusnya dan banyaknya penduduk yang harus dilayani oleh jaringan jalan tersebut;

Angka mobilitas adalah rasio antara jumlah total panjang jalan yang menghubungkan semua pusat-pusat kegiatan terhadap jumlah total penduduk yang ada dalam wilayah yang harus dilayani

2)

kegiatan terhadap jumlah total penduduk yang ada dalam wilayah yang harus dilayani 2) Laporan Pendahuluan 2-23
kegiatan terhadap jumlah total penduduk yang ada dalam wilayah yang harus dilayani 2) Laporan Pendahuluan 2-23
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

b.

jaringan jalan sesuai dengan statusnya, dinyatakan dalam satuan Km/(10.000 jiwa); 3) Pencapaian nilai SPM mobilitas dinyatakan oleh persentase pencapaian mobilitas pada akhir tahun pencapaian SPM terhadap angka mobilitas yang ditentukan. Target SPM Mobilitas adalah 100% pada tahun 2014.

c) Aspek Keselamatan

1. Indikator pelayanan minimal Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan

selamat.

2. Definisi Operasional SPM Keselamatan untuk jaringan jalan adalah pemenuhan kondisi fisik ruasruas jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah yang dilayani oleh jaringan jalan terhadap:

a. Parameter perencanaan teknis jalan sebagaimana termuat di dalam dokumen rencana teknis dari ruas-ruas jalan yang bersangkutan (jika dokumen rencana teknis tidak ada, gunakan Tabel 1).

b. Persyaratan teknis dan administrasi Laik Fungsi Jalan ruas-ruas jalan yang bersangkutan, yang penetapannya diatur dalam Peraturan Menteri nomor 11/PRT/M/2010 tentang Tatacara, Persyaratan, dan Penetapan Laik Fungsi Jalan;

Nilai SPM Keselamatan adalah prosentase panjang ruas-ruas jalan yang memenuhi semua kriteria keselamatan terhadap seluruh panjang jalan yang menghubungkan semua PK.

3. Target SPM Keselamatan adalah 60% pada tahun 2014.

jalan yang menghubungkan semua PK. 3. Target SPM Keselamatan adalah 60% pada tahun 2014. Laporan Pendahuluan
jalan yang menghubungkan semua PK. 3. Target SPM Keselamatan adalah 60% pada tahun 2014. Laporan Pendahuluan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

d) Kondisi Jalan

1. Indikator pelayanan minimal Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan selamat dan nyaman.

2. Definisi Operasional SPM kondisi jalan adalah kondisi kerataan permukaan perkerasan jalanyang harus dicapai sesuai dengan nilai kerataan perkerasan jalan seperti tercantum dalam Tabel 1. Kriteria kondisi jalan adalah bahwa setiap ruas jalan harus memiliki kerataan permukaan jalan yang memadai bagi kendaraan untuk dapat dilalui oleh kendaraan dengan cepat, aman, dan nyaman. Nilai SPM Kondisi Jalan adalah prosentase panjang jalan yang memenuhi kriteria kondisi jalan terhadap seluruh panjang jalan yang menghubungkan seluruh pusat-pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota. Nilai kondisi jalan diukur menggunakan alat ukur kerataan permukaan jalan (roughometer) atau diukur secara visual (Penilaian Kondisi Jalan).

3. Target SPM Kondisi Jalan adalah 60% pada tahun 2014.

e) Kecepatan

1. Indikator pelayanan minimal Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai dengan kecepatan rencana.

2. Definisi Operasional Kriteria Kecepatan adalah bahwa setiap ruas jalan telah terbangun sesuai dengan kecepatan rencananya. Nilai SPM Kecepatan adalah prosentase panjang jalan yang memenuhi kriteria kecepatan terhadap seluruh panjang jalan yang menghubungakan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten/kota. Nilai kecepatan diukur oleh kecepatan bebas ruas jalan tersebut.

wilayah kabupaten/kota. Nilai kecepatan diukur oleh kecepatan bebas ruas jalan tersebut. Laporan Pendahuluan 2-25
wilayah kabupaten/kota. Nilai kecepatan diukur oleh kecepatan bebas ruas jalan tersebut. Laporan Pendahuluan 2-25
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

3. Target

SPM Kecepatan adalah 60% pada tahun 2014.

4. SPM Bidang Air Minum AKSES AIR MINUM YANG AMAN

a. Indikator pelayanan minimal:

Tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan Jaringan Perpipaan dan Bukan Jaringan Perpipaan.

b. Pengertian

- Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

- Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.

- Sistem penyediaan air minum dengan jaringan perpipaan yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum yang unit distribusinya melalui perpipaan dan unit pelayanannya menggunakan sambungan rumah/sambungan pekarangan, hidran umum, dan hidran kebakaran.

- Sistem penyediaan air minum bukan jaringan perpipaan yang selanjutnya disebut SPAM BJP merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum baik bersifat individual, komunal, maupun komunal khusus yang unit distribusinya dengan atau tanpa perpipaan terbatas dan sederhana, dan tidak termasuk dalam SPAM.

- SPAM BJP terlindungi adalah SPAM BJP yang dibangun dengan mengacu pada ketentuan teknis yang berlaku dan melalui ataupun tanpa proses pengolahan serta memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai persyaratan kualitas berdasarkan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

- SPAM BJP tidak terlindungi adalah SPAM BJP yang dibangun tanpa mengacu pada ketentuan teknis yang berlaku dan belum memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai persyaratan kualitas berdasarkan

dan belum memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai persyaratan kualitas berdasarkan Laporan Pendahuluan 2-26
dan belum memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai persyaratan kualitas berdasarkan Laporan Pendahuluan 2-26
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

- peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

- Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non-fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.

- Skala individu adalah lingkup rumah tangga.

- Skala komunal adalah lingkup penyediaan air minum yang menggunakan SPAM BJP, dan unit distribusinya dapat menggunakan perpipaan terbatas dan sederhana (bukan berupa jaringan perpipaan yang memiliki jaringan distribusi utama, pipa distribusi pembawa, dan jaringan distribusi pembagi).

- Skala komunal khusus adalah lingkup penyediaan air minum di rumah susun bertingkat, apartemen, hotel, dan perkantoran bertingkat, yang dapat meliputi perpipaan dari sumber air atau instalasi pengolahan air tersendiri dan tidak tersambung dengan SPAM ke masing-masing bangunan bertingkat tersebut, serta tidak termasuk jaringan perpipaan (plambing) di dalam bangunan tersebut.

c. Definisi Operasional

- Kriteria air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari adalah bahwa sebuah kabupaten/kota telah memiliki SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi (sesuai dengan standar teknis berlaku) dengan penyelenggara baik BUMN, BUMD, Badan Usaha Swasta, Koperasi, maupun kelompok masyarakat, dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari dan diharapkan dapat meningkatkan cakupan pelayanannya.

- Kebutuhan pokok minimal merupakan kebutuhan untuk mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif, dengan penggunaan air

kebutuhan untuk mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif, dengan penggunaan air Laporan Pendahuluan 2-27
kebutuhan untuk mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif, dengan penggunaan air Laporan Pendahuluan 2-27
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

hanya untuk minum masak, cuci pakaian, mandi (termasuk sanitasi), bersih rumah, dan ibadah.

- Nilai SPM cakupan akses terhadap air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi adalah peningkatan jumlah unit pelayanan baik melalui Sambungan Rumah, Hidran Umum, maupun Terminal Air yang dinyatakan dalam persentase peningkatan jumlah masyarakat yang mendapatkan pelayanan SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan

perpipaan terlindungi pada akhir tahun pencapaian SPM terhadap jumlah total masyarakat di seluruh kabupaten/kota. d. Target

1. Target pencapaian SPM air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari pada tahun 2014.

2. Akses aman terhadap air minum meliputi Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi.

5. SPM Bidang Air Limbah Permukiman

a. Indikator Pelayanan Minimal:

1. Tersedianya Sistem Air Limbah Setempat yang Memadai

2. Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota

b. Pengertian

- Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.

- Sistem pembuangan air limbah setempat adalah sistem permbuangan air limbah secara individual yang diolah dan dibuang di tempat. Sistem ini meliputi cubluk, tanki septik dan resapan, unit pengolahan setempat lainnya, sarana pengangkutan, dan pengolahan akhir lumpur tinja.

- Unit pengolahan setempat lainnya yang dimaksud di atas adalah unit atau paket lengkap pengolahan air limbah yang dikembangkan dan dipasarkan,

di atas adalah unit atau paket lengkap pengolahan air limbah yang dikembangkan dan dipasarkan, Laporan Pendahuluan
di atas adalah unit atau paket lengkap pengolahan air limbah yang dikembangkan dan dipasarkan, Laporan Pendahuluan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

baik oleh lembaga-lembaga penelitian maupun oleh produsen-produsen tertentu untuk digunakan oleh perumahan, gedung-gedung perkantoran, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan gedung-gedung komersial setelah dinyatakan layak secara teknis oleh lembaga yang berwenang.

- Tangki septik adalah bak kedap air untuk mengolah air limbah, berbentuk empat persegi panjang atau bundar yang dilengkapi tutup, penyekat, pipa masuk/keluar dan ventilasi. Fungsinya untuk merubah sifat-sifat air limbah, agar curahan ke luar dapat dibuang ke tanah melalui resapan tanpa mengganggu lingkungan.

- Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja adalah Instalasi pengolahan air limbah yang didesain hanya menerima lumpur tinja melalui mobil atau gerobak tinja (tanpa perpipaan).

- Baku mutu air limbah domestik adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah domestik yang akan dibuang atau dilepas ke air permukaan.

- Sewerage Skala Komunitas adalah upaya pembuangan air limbah dari rumah rumah langsung dimasukkan ke jaringan pipa yang dipasang di luar pekarangan yang dialirkan kesatu tempat (pengolahan) untuk diolah sampai air limbah tersebut layak dibuang ke perairan terbuka dan diutamakan untuk kawasan permukiman kumuh dengan maksimum pelayanan 200 KK. Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) adalah rangkaian unit-unit pengolahan pendahuluan, pengolahan utama, pengolahan kedua dan pengolahan tersier bila diperlukan, beserta bangunan pelengkap lainnya, yang dimaksudkan untuk mengolah air limbah agar bisa mencapai standar kualitas baku mutu air limbah yang ditetapkan.

c. Definisi Operasional 1. Kriteria tingkat pelayanan adalah bahwa sebuah kabupaten/kota dengan jumlah masyarakat minimal 50.000 jiwa yang telah memiliki tangki septik (sesuai dengan standar teknis berlaku) diharapkan memiliki sebuah IPLT

memiliki tangki septik (sesuai dengan standar teknis berlaku) diharapkan memiliki sebuah IPLT Laporan Pendahuluan 2-29
memiliki tangki septik (sesuai dengan standar teknis berlaku) diharapkan memiliki sebuah IPLT Laporan Pendahuluan 2-29
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

yang memiliki kualitas efluen air limbah domestik tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan.

d.

2. Nilai SPM tingkat pelayanan adalah jumlah masyarakat yang dilayani dinyatakan dalam prosentase jumlah masyarakat yang memiliki tangki septik pada tahun akhir SPM terhadap jumlah total masyarakat yang memiliki tangki septik di seluruh kabupaten/kota.

3. Kriteria ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah bahwa pada kepadatan penduduk > 300 jiwa/ha diharapkan memiliki

sebuah sistem jaringan dan pengolahan air limbah skala komunitas/kawasan/kota dengan kualitas efluen instalasi pengolahan air limbah tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan.

4. Nilai SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah nilai tingkat pelayanan sistem jaringan dan pengolahan air limbah dinyatakan dalam prosentase jumlah masyarakat yang terlayani sistem jaringan dan pengolahan air limbah skala komunitas/kawasan/kota pada tahun akhir SPM terhadap jumlah total penduduk di seluruh kabupaten/kota tersebut. Target

1. SPM tingkat pelayanan adalah 60% pada tahun 2014.

2. SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah 5% pada tahun 2014.

6. SPM Bidang Pengelolaan Sampah

a. Indikator Pelayanan Minimal

1. Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan.

2. Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan.

b. Pengertian

- Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah.

kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. Laporan Pendahuluan 2-30
kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. Laporan Pendahuluan 2-30
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

- Penanganan sampah terdiri dari kegiatan pemilahan, pengumpulan,pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.

- Pemilahan sampah adalah pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.

- Pengumpulan sampah adalah pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu.

- Pengangkutan sampah adalah membawa sampah dari sumber dan/atau daritempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.

- Pengolahan sampah adalah bentuk mengubah karakteristik, komposisi,

dan jumlah sampah.

- Pemrosesan akhir sampah adalah proses pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.

c. Definisi Operasional

1. Definisi pengurangan sampah;

- Setiap sampah dikumpulkan dari sumber ke tempat pengolahan sampahperkotaan, yang selanjutnya dipilah sesuai jenisnya, digunakan kembali, didaur ulang, dan diolah secara optimal, sehingga pada akhirnya hanya residu yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir.

- SPM fasilitas pengurangan sampah di perkotaan adalah volume sampah diperkotaan yang melalui guna ulang, daur ulang, pengolahan di tempat pengolahan sampah sebelum akhirnya masuk ke TPA terhadap volume seluruh sampah kota, dinyatakan dalam bentuk prosentase.

2. Definisi sistem penanganan sampah:

- Pelayanan minimal persampahan dilakukan melalui pemilahan, pengumpulan, pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA secara

dilakukan melalui pemilahan, pengumpulan, pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA secara Laporan Pendahuluan 2-31
dilakukan melalui pemilahan, pengumpulan, pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA secara Laporan Pendahuluan 2-31
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

berkala minimal 2 (dua) kali seminggu, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.

- Penyediaan lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ramah lingkungan adalah jumlah TPA yang memenuhi kriteria dan dioperasikan secara layak (controlled landfill/sanitary landfill)/ramah lingkungan terhadap jumlah TPA yang ada di perkotaan, dinyatakan dalam bentuk prosentase.

3. Dalam rangka perlindungan lingkungan dan makhluk hidup, TPA harus:

- Dilengkapi dengan zona penyangga.

- Menggunakan metode lahan urug terkendali (controlled landfill) untuk kota sedang dan kecil.

- Menggunakan metode lahan urug saniter (sanitary landfill) untuk kota besar dan metropolitan.

- Tidak berlokasi di zona holocene fault.

- Tidak boleh di zona bahaya geologi.

- Tidak boleh mempunyai muka air tanah kurang dan 3 meter (bila tidak memenuhi maka harus diadakan masukan teknologi).

- Tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dan 10-6cm/det (bila tidak memenuhi maka harus diadakan masukan teknologi).

- Jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dan 100 meter di hilir aliran (bila tidak memenuhi maka harus diadakan masukan teknologi).

- Kemiringan zona harus kurang dan20 %.

- Jarak dan lapangan terbang harus lebih besar dan 3.000 meter untuk penerbangan turbo jet dan harus Iebih besar dan 1.500 meter untuk jenis lain.

- Tidak boleh pada daerah lindung/cagar alam dan daerah banjir dengan periode ulang 25 tahun.

- Memantau kualitas hasil pengolahan leachate yang dibuang ke sumber air baku dan/atau tempat terbuka, dilakukan secara berkala oleh instansi yang berwenang.

sumber air baku dan/atau tempat terbuka, dilakukan secara berkala oleh instansi yang berwenang. Laporan Pendahuluan 2-32
sumber air baku dan/atau tempat terbuka, dilakukan secara berkala oleh instansi yang berwenang. Laporan Pendahuluan 2-32
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

4. SPM pelayanan sampah adalah jumlah penduduk yang terlayani dalam sistem penanganan sampah terhadap total jumlah penduduk di Kabupaten/Kota tersebut, dinyatakan dalam bentuk prosentase.

d. Target

1. SPM Timbulan sampah yang berkurang ke TPA adalah 20% untuk 2014.

2. SPM Pengangkutan Sampah 70% untuk 2014.

7. SPM Bidang Drainase

a. Indikator Pelayanan Minimal

1. Tersedianya Sistem Jaringan Drainase Skala Kawasan dan Skala Kota.

2. Tidak Terjadinya Genangan > 2 Kali/Tahun.

b. Pengertian

1. Adalah sistem jaringan saluran-saluran air yang digunakan untuk

pematusan air hujan, yang berfungsi menghindarkan genangan (inundation) yang berada dalam suatu kawasan atau dalam batas administratif kota.

2. Yang disebut genangan (inundation) adalah terendamnya suatu kawasan permukiman lebih dari 30 cm selama lebih dari 2 jam.

Terjadinya genangan ini tidak boleh lebih dari 2 kali pertahun.

c. Definisi Operasional

1. Tersedianya sistem jaringan drainase adalah ukuran pencapaian kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan penyediaan sistem drainase diwilayahnya, baik bersifat struktural yaitu pencapaian pembangunan fisik yang mengikuti pengembangan perkotaannya, maupun bersifat non-struktural yaitu terselenggaranya pengelolaan dan pelayanan drainase oleh Pemerintah Kota/Kabupaten yang berupa fungsionalisasi institusi pengelola drainase dan penyediaan peraturan

yang mendukung penyediaan dan pengelolaannya.

2. Genangan (inundation) yang dimaksud adalah air hujan yang terperangkap didaerah rendah/cekungan di suatu kawasan, yang tidak bisa mengalir ke badan air terdekat. Jadi bukan banjir yang merupakan

suatu kawasan, yang tidak bisa mengalir ke badan air terdekat. Jadi bukan banjir yang merupakan Laporan
suatu kawasan, yang tidak bisa mengalir ke badan air terdekat. Jadi bukan banjir yang merupakan Laporan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

d.

limpasan air yang berasal dari daerah hulu sungai di luar kawasan/kota yang membanjiri permukiman di daerah hilir. Target

1. SPM sistem jaringan drainase skala kawasan dan kota ditargetkan sebesar 50% pada tahun 2014.

2. Pencapaian 100% diharapkan bertahap mengingat saat ini banyak Pemerintah Kota/Kabupaten yang belum mempunyai Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan maupun penerapan O/P secara konsisten.

3. SPM ditargetkan sebesar 50% pada tahun 2014.

4. Pencapaian 100% dilakukan secara bertahap, mengingat Kabupaten/Kota yang mempunyai wilayah yang sering tergenang akan memerlukan kolam retensi (polder). Tidak semua daerah akan mampu membangunnya, sehingga Memerlukan upaya dan waktu agar Pemerintah dan Pemerintah Provinsi memberikan dana stimulan.

2.4 Standar Nasional Indonesia (SNI 03-1733-2004) mengenai Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan

Dalam menentukan besaran standar untuk perencanaan lingkungan perumahan kota yang meliputi perencanaan sarana hunian, prasarana dan sarana lingkungan, menggunakan pendekatan besaran kepadatan penduduk.

Dalam merencanakan kebutuhan lahan untuk sarana lingkungan, didasarkan pada beberapa ketentuan khusus, yaitu:

1. besaran standar ini direncanakan untuk kawasan dengan kepadatan penduduk <200 jiwa/ha;

2. untuk mengatasi kesulitan mendapatkan lahan, beberapa sarana dapat dibangun secara bergabung dalam satu lokasi atau bangunan dengan tidak mengurangi kualitas lingkungan secara menyeluruh;

3. untuk kawasan yang berkepadatan >200 jiwa/ha diberikan reduksi 15-30% terhadap persyaratan kebutuhan lahan; dan

4. perencanaan prasarana lingkungan, utilitas umum dan sarana lingkungan harus direncanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan keberadaan prasarana dan

lingkungan harus direncanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan keberadaan prasarana dan Laporan Pendahuluan 2-34
lingkungan harus direncanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan keberadaan prasarana dan Laporan Pendahuluan 2-34
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

sarana

menyeluruh.

yang

telah

ada

dengan

tidak

mengurangi

kualitas

dan

kuantitas

secara

a. Sarana pemerintahan dan pelayanan umum

Yang termasuk dalam sarana pemerintahan dan pelayanan umum adalah:

kantor-kantor pelayanan / administrasi pemerintahan dan administrasi kependudukan; kantor pelayanan utilitas umum dan jasa; seperti layanan air bersih (PAM), listrik (PLN), telepon, dan pos; serta pos-pos pelayanan keamanan dan keselamatan; seperti pos keamanan dan pos pemadam kebakaran. Dasar penyediaan sarana pemerintahan dan pelayanan umum untuk melayani setiap unit administrasi pemerintahan baik yang informal (RT dan RW) maupun yang formal (Kelurahan dan Kecamatan), dan bukan didasarkan semata-mata pada jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana tersebut. Dasar penyediaan sarana ini juga mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan sarana mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.

b. Prasarana/Utilitas Jaringan jalan

Lingkungan perumahan harus disediakan jaringan jalan untuk pergerakan manusia dan kendaraan, dan berfungsi sebagai akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat. Dalam merencanakan jaringan jalan, harus mengacu pada ketentuan teknis tentang pembangunan prasarana jalan perumahan, jaringan jalan dan geometri jalan yang berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan jalan pergerakan kendaraan dan manusia, dan akses penyelamatan dalam keadaan darurat drainase pada lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu pedoman teknis jaringan jalan diatur dalam

pada lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu pedoman teknis jaringan jalan diatur dalam Laporan Pendahuluan 2-35
pada lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu pedoman teknis jaringan jalan diatur dalam Laporan Pendahuluan 2-35
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Pedoman Teknis Prasarana Jalan Perumahan (Sistem Jaringan dan Geometri Jalan), Dirjen Cipta Karya, 1998.

Jenis prasarana dan utilitas pada jaringan jalan yang harus disediakan ditetapkan menurut klasifikasi jalan perumahan yang disusun berdasarkan hirarki jalan, fungsi jalan dan kelas kawasan/lingkungan perumahan. Penjelasan dalam tabel ini sekaligus menjelaskan keterkaitan jaringan prasarana utilitas lain, yaitu drainase, sebagai unsur yang akan terkait dalam perencanaan jaringan jalan ini.

c. Prasarana/ Utilitas Jaringan drainase

Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan drainase sesuai ketentuan dan

telah

berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan drainase lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satu ketentuan yang berlaku adalah SNI 02-2406-1991 tentang Tata cara perencanaan umum drainase perkotaan.

persyaratan

teknis

yang

diatur

dalam

peraturan/

perundangan

yang

Jaringan drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan, yang harus

Bagian dari jaringan

disediakan pada drainase adalah:

lingkungan perumahan di

perkotaan.

Badan penerima air

1. Sumber air di permukaan tanah (laut, sungai, danau)

2. Sumber air di bawah permukaan tanah (air tanah akifer)

Bangunan pelengkap

1. Gorong-gorong

2. Pertemuan saluran

3. Bangunan terjunan

4. Jembatan

5. Street inlet

6. Pompa

7. Pintu air

2. Pertemuan saluran 3. Bangunan terjunan 4. Jembatan 5. Street inlet 6. Pompa 7. Pintu air
2. Pertemuan saluran 3. Bangunan terjunan 4. Jembatan 5. Street inlet 6. Pompa 7. Pintu air
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

d. Prasarana/ Utilitas Jaringan air bersih

Secara umum, setiap rumah harus dapat dilayani air bersih yang memenuhi persyaratan untuk keperluan rumah tangga. Untuk itu, lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan air limbah sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan/perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan air bersih lingkungan perumahan di perkotaan. Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan air bersih yang harus disediakan

pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:

kebutuhan air bersih; jaringan air bersih; kran umum; dan hidran kebakaran

e. Prasarana/ Utilitas Jaringan air limbah

Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan air limbah sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan / perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan air limbah lingkungan perumahan di perkotaan. Salah satunya adalah SNI-03-2398-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan, serta pedoman tentang pengelolaan air limbah secara komunal pada lingkungan perumahan yang berlaku. Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan air limbah yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:

septik tank; bidang resapan; dan

septik tank; bidang resapan; dan

jaringan pemipaan air limbah.

perumahan di perkotaan adalah: septik tank; bidang resapan; dan jaringan pemipaan air limbah. Laporan Pendahuluan 2-37
perumahan di perkotaan adalah: septik tank; bidang resapan; dan jaringan pemipaan air limbah. Laporan Pendahuluan 2-37
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

f. Prasarana/ Utilitas Jaringan persampahan

Lingkungan perumahan harus dilayani sistem persampahan yang mengacu pada:

5. SNI 19-2454-2002 tentang Tata cara teknik operasional pengolahan sampah perkotaan;

6. SNI 03-3242-1994 tentang Tata cara pengelolaan sampah di permukiman; dan

7. SNI 03-3241-1994 tentang Tata cara pemilihan lokasi tempat pembuangan

akhir sampah. Jenis-jenis elemen perencanaan yang harus disediakan adalah gerobak sampah;

bak sampah; tempat pembuangan sementara (TPS); dan tempat pembuangan akhir (TPA).

g. Prasarana/ Utilitas Jaringan listrik

ketentuan dan persyaratan teknis yang mengacu pada:

1. SNI 04-6267.601-2002 tentang Istilah kelistrikan (Bab 601: Pembangkitan, Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik Umum);

2. SNI 04-8287.602-2002 tentang Istilah kelistrikan (Bab 602: Pembangkitan); dan

3. SNI 04-8287.603-2002 tentang Istilah kelistrikan (Bab 603: Pembangkitan,

Penyaluran dan Pendistribusian Tenaga Listrik Perencanaan dan

Manajemen Sistem Tenaga Listrik); Pemasangan seluruh instalasi di dalam lingkungan perumahan ataupun dalam bangunan hunian juga harus direncanakan secara terintegrasi dengan berdasarkan peraturanperaturan dan persyaratan tambahan yang berlaku, seperti:

1. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL);

2. peraturan yang berlaku di PLN wilayah setempat; dan

3. peraturan-peraturan lain yang masih juga dipakai seperti antara lain AVE.

Jenis-jenis elemen perencanaan pada jaringan listrik yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah:

kebutuhan daya listrik; dan jaringan listrik.

kebutuhan daya listrik; dan jaringan listrik.
pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah: kebutuhan daya listrik; dan jaringan listrik. Laporan Pendahuluan 2-38
pada lingkungan perumahan di perkotaan adalah: kebutuhan daya listrik; dan jaringan listrik. Laporan Pendahuluan 2-38
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

h. Prasarana/ Utilitas Jaringan telepon

Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:

1)

Penyediaan kebutuhan sambungan telepon

a)

tiap lingkungan rumah perlu dilayani sambungan telepon rumah dan telepon umum sejumlah 0,13 sambungan telepon rumah per jiwa atau dengan menggunakan asumsi berdasarkan tipe rumah sebagai berikut:

-

R-1, rumah tangga berpenghasilan tinggi : 2-3 sambungan/rumah

-

R-2, rumah tangga berpenghasilan menengah : 1-2 sambungan/rumah

-

R-3, rumah tangga berpenghasilan rendah : 0-1 sambungan/rumah

b)

dibutuhkan sekurang-kurangnya 1 sambungan telepon umum untuk setiap 250 jiwa penduduk (unit RT) yang ditempatkan pada pusat-pusat kegiatan lingkungan RT tersebut;

c)

ketersediaan antar sambungan telepon umum ini harus memiliki jarak radius bagi pejalan kaki yaitu 200 - 400 m;

d)

penempatan pesawat telepon umum diutamakan di area-area publik seperti ruang terbuka umum, pusat lingkungan, ataupun berdekatan dengan bangunan sarana lingkungan; dan

2)

penempatan pesawat telepon harus terlindungi terhadap cuaca (hujan dan panas matahari) yang dapat diintegrasikan dengan kebutuhan kenyamanan pemakai telepon umum tersebut. Penyediaan jaringan telepon

e)

a) tiap lingkungan rumah perlu dilayani jaringan telepon lingkungan dan jaringan telepon ke hunian;

b) jaringan telepon ini dapat diintegrasikan dengan jaringan pergerakan (jaringan jalan) dan jaringan prasarana / utilitas lain;

c) tiang listrik yang ditempatkan pada area Damija ( daerah milik jalan, lihat Gambar 1 mengenai bagian-bagian pada jalan) pada sisi jalur hijau yang tidak menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar; dan

d) stasiun telepon otomat (STO) untuk setiap 3.000 10.000 sambungan dengan radius pelayanan 3 5 km dihitung dari copper center, yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan tempat pengaduan pelanggan.

center , yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan tempat pengaduan pelanggan. Laporan Pendahuluan 2-39
center , yang berfungsi sebagai pusat pengendali jaringan dan tempat pengaduan pelanggan. Laporan Pendahuluan 2-39
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Adapun data dan informasi yang diperlukan untuk merencanakan penyediaan sambungan telepon rumah tangga adalah:

a) rencana tata ruang wilayah (RTRW) kota dan perkembangan lokasi yang direncanakan, berkaitan dengan kebutuhan sambungan telepon;

b) tingkat pendapatan keluarga dan kegiatan rumah tangga untuk mengasumsikan kebutuhan sambungan telepon pada kawasan yang direncanakan;

c) jarak terjauh rumah yang direncanakan terhadap Stasiun Telepon Otomat (STO), berkaitan dengan kebutuhan STO pada kawasan yang direncanakan;

d) kapasitas terpasang STO yang ada; dan

e) teknologi jaringan telepon yang diterapkan, berkaitan radius pelayanan.

i. Prasarana/ Utilitas Jaringan transportasi lokal

Lingkungan perumahan direkomendasikan untuk dilalui sarana jaringan transportasi local atau memiliki akses yang tidak terlampau jauh (maksimum 1 km) menuju sarana transportasi tersebut. Lingkungan perumahan harus dilengkapi jaringan transportasi sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang

diatur dalam peraturan / perundangan yang telah berlaku, terutama mengenai tata cara perencanaan umum jaringan transportasi lingkungan perumahan di perkotaan. Perencanaan lingkungan permukiman dalam skala besar berpengaruh terhadap peningkatan pergerakan penduduk/warga, sehingga harus diimbangi dengan ketersediaan prasarana dan sarana jaringan transportasi umum lokal, jaringan sirkulasi pedestrian yang mendukung pergerakan dari menuju pusat kegiatan dan lingkungan hunian, serta jaringan parkir yang terintegrasi dalam daya dukung lingkungan yang disesuaikan dengan pusat kegiatan yang ada. Berbagai jenis elemen perencanaan terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana yang harus direncanakan dan disediakan pada jaringan transportasi lokal adalah:

1. sistem jaringan sirkulasi kendaraan pribadi dan kendaraan umum berikut terminal / perhentiannya;

2. sistem jaringan sirkulasi pedestrian; dan

3. sistem jaringan parkir.

/ perhentiannya; 2. sistem jaringan sirkulasi pedestrian; dan 3. sistem jaringan parkir. Laporan Pendahuluan 2-40
/ perhentiannya; 2. sistem jaringan sirkulasi pedestrian; dan 3. sistem jaringan parkir. Laporan Pendahuluan 2-40
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Bab

GAMBARAN UMUM WILAYAH

3
3

Kawasan Perbatasan mencakup seluruh Kecamatan yang berbatasan langsung dengan garis batas negara dengan panjang daratan kurang lebih 2.004 (dua ribu empat) kilometer yang terdiri atas kurang lebih 966 (sembilan ratus enam puluh enam) kilometer di Provinsi Kalimantan Barat dan kurang lebih 1.038 (seribu tiga puluh delapan) kilometer di Provinsi Kalimantan Timur. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan garis batas negara meliputi 15 (lima belas) Kecamatan di provinsi Kalimantan Barat yang terdiri atas: Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Besar di Kabupaten Sambas; Kecamatan Jagoi Babang, Kecamatan Siding, dan Kecamatan Seluas di Kabupaten Bengkayang; Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayam di Kabupaten Sanggau; Kecamatan Ketungau Hulu dan Kecamatan Ketungau Tengah di Kabupaten Sintang; Kecamatan Puring Kencana, Kecamatan Badau, Kecamatan Batang Lupar, Kecamatan Embaloh Hulu, Kecamatan Putussibau Utara, dan Kecamatan Putussibau Selatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan mempertimbangkan kendala (constraints) bahwa:

1. Kemampuan keuangan pemerintah terbatas

2. Potensi masing-masing kawasan perbatasan berbeda-beda

3. Tidak semua titik di garis perbatasan perlu dibangun dengan intensitas bobot dan waktu yang sama

4. Tidak semua titik di perbatasan sudah disepakati oleh negara tetangga Untuk itu perlu ditetapkan lokasi-lokasi prioritas di kawasan perbatasan darat dan laut

dengan kriteria penentuan sebagai berikut;

1. Kecamatan di kawasan darat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau terdapat exit/entry point;

2. Kecamatan di kawasan laut yang secara tradisional memiliki interaksi intensif dari sisi sosial, budaya, maupun ekonomi dengan penduduk negara tetangga di sebelahnya (ditandai dengan adanya exit/entry point yang disepakati dengan negara tetangga).

3. Kecamatan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN).

negara tetangga). 3. Kecamatan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Laporan Pendahuluan 3-1
negara tetangga). 3. Kecamatan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Laporan Pendahuluan 3-1
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

4. Kecamatan yang memiliki Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT).

5. Pertimbangan khusus Lokasi prioritas Penanganan Tahun 2010-2014 Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan

Kawasan Perbatasan Kalimantan Barat dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini

Tabel 3.1 Lokasi Prioritas Penanganan Tahun 2010-2014 Kalimantan Barat

Provinsi

Kab

Batas

 

Kecamatan

D/L

Lokpri I

Lokpri II

Lokpri III

KALBAR

Sambas

D

Paloh

Sajingan

-

Besar

Bengkayang

D

Jagoi Babang

Siding

-

Sanggau

D

Entikong

Sekayam

-

Sintang

D

Ketungau

-

Ketungau

Hulu

Tengah

Kapuas Hulu

D

Badau

Puring

Batang Lupar

Kencana

D

-

-

Embaloh

Hulu

D

-

-

Puttussibau

Utara

D

-

-

Puttussibau

Selatan

3.1

Kecamatan Paloh

3.1.1

Wilayah Administrasi Kecamatan Paloh Kecamatan Paloh merupakan kecamatan pantai yang berada di wilayah Kabupaten Sambas dan terletak di wilayah perbatasan dengan Negara Malaysia Timur (Serawak). Kecamatan Paloh terletak dipesisir pantai laut Natuna. Kota kecamatanya terletak di Liku dengan luas wilayah Kecamatan Paloh 1.148,48 Km², dengan batas adminstrasi sebagai berikut:

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Teluk Keramat Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Natuna

Selatan berbatasan dengan Kecamatan Teluk Keramat Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Natuna Laporan Pendahuluan 3-2
Selatan berbatasan dengan Kecamatan Teluk Keramat Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Natuna Laporan Pendahuluan 3-2
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Sebelah Timur berbatasan dengan Serawak (Malaysia Bagian Timur)

Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna

Kecamatan Paloh semula dibawah administratif Kecamatan Teluk Keramat. Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan efektifitas penyelengaraan pemerintahan, serta pembangunan maka Kecamatan Teluk Keramat dikembangkan dengan membentuk Kecamatan Paloh pada tahun 1963 yang meliputi 10 Desa yaitu : Desa Sebubus, Nibung, Mentibar, Tanah Hitam Peradah, Matang Danau, Matang Putus, Desa Kalimantan dan Desa sungai Bening.Tetapi Desa Sungai Bening sekarang telah masuk dalam wilayah baru yaitu Kecamatan Sajingan Besar.

Sebelum dibentuk Kecamatan Paloh,wilayah ini termasuk daerah terbelakang, jalur transportasi utama hanya mengandalkan sungai dan laut,sehingga sering terjadi kerawanan pangan, terutama disaat bulan Oktober sampai Februari, sebab pada bulan tersebut gelombang laut sangat kuat dan hasil pertanian sulit untuk diangkut dan dipasarkan. Kondisi ini diperburuk oleh adanya Konfrontasi dengan Malaysia serta PGRS tahun 1965 sampai 1967. Setelah kerusuhan karena PGRS/PARAKU berakhir, pembangunan di Kecamatan Paloh mulai berjalan. Pada tahun 1980 pemerintah membangun arus transportasi darat dari Teluk Kalong (Kecamatan Teluk Keramat) hingga ke Liku dan Setingga dan Merbau (Kecamatan Paloh).

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Barat Nomor 353 Tahun1987 tentang Regruping desa (Penyatuan/merger desa yang penduduknya sedikit) maka Kecamatan Paloh yang semula terdiri dari 10 Desa menjadi 7 desa yaitu : Desa Sebubus, Desa Nibung, Malek (regrouping Desa Malek dan Desa Mentibar), Tanah Hitam (Regruping Desa Tanah Hitam dengan Desa Danau Peradah), Matang Danau (Regruping Desa Matang Danau dan Matang Putus), Kalimantan ,dan Sungai Bening.

Matang Danau (Regruping Desa Matang Danau dan Matang Putus), Kalimantan ,dan Sungai Bening. Laporan Pendahuluan 3-3
Matang Danau (Regruping Desa Matang Danau dan Matang Putus), Kalimantan ,dan Sungai Bening. Laporan Pendahuluan 3-3
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

Tabel 3.2 Luas Wilayah Kecamatan Paloh

No

Desa

Luas Wilayah (Km 2 )

Prosentase (%)

1

Sebubus

326,21

12,78

2

Nibung

147,85

5,79

3

Malek

136,70

8,20

4

Tanah Hitam

125,06

4,90

5

Matang Danau

44,01

1,72

6

Kalimantan

64,87

2,54

7

Temajok

231,00

9,05

8

Mentibar

72,58

6,32

 

Jumlah

1.148,28

100,00

Sumber : Kabupaten Sambas Dalam Angka, 2012

Kecamatan Paloh termasuk kedalam wilayah KPE (Kawasan Pengembangan Ekonomi)

Temajuk-Aruk. Kecamatan Paloh memiliki potensi sumberdaya alam di berbagai sektor,

yaitu sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, pariwisata, dan industri

kayu. Sarana dan prasarana di Kecamatan Paloh ini sepenuhnya sudah berjalan dengan baik

hanya saja masih ada bagian dari daerah Paloh yang dekat dengan Malaysia yaitu daerah

Temajuk yang belum terpenuhi jaringan listrik dan sarana prasarana lainnya.

yaitu daerah Temajuk yang belum terpenuhi jaringan listrik dan sarana prasarana lainnya. Laporan Pendahuluan 3-4
yaitu daerah Temajuk yang belum terpenuhi jaringan listrik dan sarana prasarana lainnya. Laporan Pendahuluan 3-4
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

GAMBAR 3.2 ADMINISTRASI KECAMATAN PALOH

I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan GAMBAR 3.2 ADMINISTRASI KECAMATAN PALOH Laporan Pendahuluan 3-5
I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan GAMBAR 3.2 ADMINISTRASI KECAMATAN PALOH Laporan Pendahuluan 3-5
I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan GAMBAR 3.2 ADMINISTRASI KECAMATAN PALOH Laporan Pendahuluan 3-5
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

3.1.2 Topografi

Struktur tanah di Kecamatan Paloh sama dengan struktur tanah di Kabupaten Sambas, yaitu

sebagian besar terdiri dari tanah alluvial dan tanah podsolid merah kuning. Jenis tanah

alluvial mendominasi di kecamatan Paloh yaitu seluas 75.100 Ha dan 26.814 Ha jenis tanah

podsolid merah kuning, serta sebagian kecil wilayah seluas 12.970 Ha merupakan jenis tanah

organosol.

3.1.3 Kependudukan

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2012, penduduk Kabupaten Sambas pada tahun

2012 berjumlah 23.892 jiwa dengan kepadatan penduduk sekitar 21 jiwa per kilometer

persegi atau 1.086 jiwa per dusun. Karena itu, persoalan mendesak bagi daerah adalah

minimnya sumber daya manusia untuk mengelola pembangunan di daerah yang potensinya

amat besar.

Penyebaran penduduk di Kecamatan paloh tidak merata antar desa yang satu dengan desa

yang lainnya. Desa Matang Danau merupakan desa dengan tingkat kepadatan tertinggi yaitu

90 jiwa/km 2 . Sebaliknya, desa Temajuk dengan luas sekitar 20,12 persen dari total wilayah

Kecamatan paloh hanya di huni 8 jiwa/km 2 .

TABEL 3.3 Penduduk Kecamatan Paloh Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kecamatan Tahun 2012

NO

KECAMATAN

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

TOTAL

1 Kalimantan

805

807

1.612

2 Matang Danau

1.958

2.001

3.959

3 Tanah Hitam

1.476

1.526

3.002

4 Malek

865

895

1.760

5 Nibung

1.237

1.239

2.476

6 Sebubus

3.689

3.669

7.358

7 Temajuk

914

896

1.810

8 Mentibar

979

936

1.915

Jumlah

11.923

11.969

29.892

Sumber : Kabupaten Sambas Dalam Angka 2012

936 1.915 Jumlah 11.923 11.969 29.892 Sumber : Kabupaten Sambas Dalam Angka 2012 Laporan Pendahuluan 3-6
936 1.915 Jumlah 11.923 11.969 29.892 Sumber : Kabupaten Sambas Dalam Angka 2012 Laporan Pendahuluan 3-6
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

TABEL 3.4 Kepadatan Penduduk Kecamatan Paloh Tahun 2012

 

Luas (Km 2 )

 

Kepadatan Penduduk

No

Kecamatan

Penduduk

Per Km 2

Per Dusun

1

Kalimantan

326,21

1.612

25

806

2

Matang Danau

147,85

3.959

90

990

3

Tanah Hitam

136,70

3.002

24

1.001

4

Malek

125,06

1.760

13

880

5

Nibung

44,01

2.476

17

825

6

Sebubus

64,87

7.358

23

1.840

7

Temajuk

231,00

1.810

8

905

8

Mentibar

72,58

1.915

26

958

 

Jumlah

11.923

29.892

21

1.086

Sumber : Kabupaten Sambas Dalam Angka 2012

3.2

Kecamatan Jagoi Babang

3.2.1

Wilayah Administrasi Kecamatan Jagoi Babang

Kecamatan Jagoi Babang merupakan kecamatan yang terletak paling utara Kabupaten

Bengkayang yang dibentuk pada tahun 1999. Secara geografis Kecamatan Jagoi Babang terletak

di 1015 16 Lintang Utara sampai 1030 00 Lintang Utara dan 109033 95 Bujur Timur dan

110010 00 Bujur Timur. Secara administratif, batas wilayah Kecamatan Jagoi Babang adalah:

Utara : Serawak-Malaysia Timur

Selatan : Kecamatan Seluas

Timur : Kecamatan Siding

Barat : Kabupaten Sambas

Luas wilayah Kecamatan Jagoi Babang adalah sebesar 655,00 km2 dan terbagi dalam 6 desa.

Pada tahun 2003, berdasarkan Perda nomor 26 tahun 2003, Kecamatan Jagoi Babang yang

sebelumnya membawahi 5 desa dengan luas wilayah sebesar 1.218,30 km2 dipecah menjadi 2

kecamatan yaitu Kecamatan Jagoi Babang dan Kecamatan Siding. Kecamatan Jagoi Babang

wilayahnya mencakup 2 desa lama yaitu Desa Jagoi dan Desa Kumba. Berdasarkan Perda nomor

5 tahun 2003, dua desa yang ada dipecah menjadi 6 desa. Desa Jagoi dipecah menjadi 2 desa

yaitu: Desa Jagoi dan Desa Jagoi Sekida. Sedangkan Desa kumba dipecah menjadi 4 desa, yaitu:

Desa Kumba, Desa Sinar Baru, Desa Gersik, dan Desa Semunying Jaya. Luas wilayah desa yang

paling besar adalah Desa Sinar Baru dengan luas sebesar 250 km2 atau sekitar 38,17 persen dari

total luas Kecamatan Jagoi Babang dan yang paling kecil adalah Desa Jagoi dengan luas sebesar

51,69 km2 atau sekitar 7,89 persen dari total luas Kecamatan Jagoi Babang. Dilihat dari jarak

51,69 km2 atau sekitar 7,89 persen dari total luas Kecamatan Jagoi Babang. Dilihat dari jarak Laporan
51,69 km2 atau sekitar 7,89 persen dari total luas Kecamatan Jagoi Babang. Dilihat dari jarak Laporan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan
Identifikasi Infrastruktur Pemerintahan Di Lokasi Prioritas I Pada 5 (Lima) Kabupaten Perbatasan Provinsi Kalimantan

antara ibukota kecamatan dengan ibukota desa, letak ibukota desa yang paling jauh adalah Desa

Sinar Baru dan yang paling dekat adalah Desa Jagoi.

Tabel 3.4 Luas Wilayah Kecamatan Jagoi Babang

No

Desa

Luas Wilayah (Km 2 )

Prosentase (%)

1

Jagoi

51,69

7,89

2

Jagoi Sekida

12.079

18,44

3

Kumba

65,52

10,00

4

Sinar Baru

250,00

38,17

5

Gersik

92,00

14,05

6

Semunyin Jaya

7.500

11,45

 

Jumlah

655,00

100,00

3.2.2.

Sumber : Kabupaten Bengkayang Dalam Angka, 2012

Kependudukan

Salah satu modal penting dalam pembangunan adalah penduduk karena penduduk

merupakan obyek sekaligus sebagai subyek dalam pembangunan itu sendiri. Penduduk

sebagai subyek berarti penduduk yang ada menjadi pelaku pembangunan yang akan

dilaksanakan. Penduduk sebagai obyek berarti penduduk merupakan tujuan dari

pembangunan itu, yaitu membangun manusia yang ada. Jumlah penduduk Kecamatan Jagoi

Babang pada akhir tahun 2011 adalah sebanyak 8.277 jiwa dengan 1.985 kepala keluarga.

Jika dirinci menurut jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki ada sebanyak 4.568 jiwa dan

jumlah penduduk perempuan ada sebanyak 3.709 jiwa. Kepadatan penduduk yang ada di

Kecamatan Jagoi Babang adalah sebanyak 13 jiwa per kilometer persegi. Rata-rata jumlah

anggota keluarga untuk setiap keluarga di Kecamatan Jagoi Babang adalah 4 jiwa per

keluarga. Dilihat menurut desa, yang memiliki tingkat kepadatan penduduk paling tinggi

adalah Desa Jagoi dengan kepadatan penduduk sebesar 40 jiwa per kilometer persegi

sedangkan yang paling rendah tingkat kepadatannya penduduknya adalah Desa Sinar Baru

dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 5 jiwa per kilometer persegi. Dilihat dari rasio

jenis kelamin, secara umum di Kecamatan Jagoi Babang, jika terdapat 123 laki-laki maka

maka terdapat juga 100 perempuan. Dari rasio jenis kelamin tersebut, dapat disimpulkan

bahwa di Kecamatan Jagoi Babang pada tahun 2011 penduduk lakilaki lebih banyak

dibandingkan dengan penduduk perempuan.

Babang pada tahun 2011 penduduk lakilaki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Laporan Pendahuluan 3-8