Anda di halaman 1dari 4

VII - 1

BAB
7

ALTERNATIF LOKASI TERMINAL

7.1.

BEBERAPA ALTERNATIF LOKASI TERMINAL

Kota Ponjong sampai dengan studi ini dilaksanakan


belum memiliki lokasi terminal yang permanen. Saat ini
lokasi terminal menempati lahan milik pribadi di dekat Pasar
Karanijo. Meskipun demikian harapan untuk memiliki
terminal yang permanen di Kota Ponjong ini telah termuat
dalam Review RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kawasan)
Kota Ponjong Tahun 2005. Terdapat 3 (tiga) alternatif lokasi
terminal yang ditawarkan dalam Review RDTRK Kota Ponjong
(Gambar 7.1) , yaitu:

Alternatif 1, terletak di depan lokasi pasar. Dari


hasil survei diperoleh data bahwa lahan tersebut
adalah lahan Hak Milik atas nama 2 (dua) orang
yaitu Bapak Bambang dan Bapak Paryadi.

Alternatif 2, terletak di pinggir jalan menuju


Kecamatan Semin dan Eromoko (Kabupaten
Wonogiri) dan relatif masih dekat dengan Simpang
Lima Kota.Ponjong Dari hasi survei pendahuluan
diperoleh data bahwa lahan tersebut adalah Letter
C atas nama Sri Poningsih. .

Alternatif 3, terletak di dekat Simpang Lima


Ponjong. Dari hasi survei diperoleh data bahwa
sebagian lahan tersebut adalah tanah kas desa dan
sebagian lagi adalah lahan Hak Milik (atas nama Ny
Siswa dan Ny Karto Sentono).

Alternatif 4, terletak di desa Sidorejo, dengan luas


+/- 9000 m2. Merupakan hasil audiensi dengan
pemuka masyarakat setempat.
7.2.

a.

Ketersediaan lahan.
Yang dimaksud ketersediaan lahan ini adalah, luas
lahan yang siap untuk dibebaskan/ dimanfaatkan
untuk lokasi terminal. Batas atas luas lahan
didasarkan pada peruntukan
terminal tipe C,
dimana kebutuhan akan luas lahan perkiraan
diperoleh dari cara interpolasi kebutuhan lahan
terminal tipe A (min. 5 ha = 250.000 m2) dan B
(min. 3 ha = 90.000 m2), sehingga didapat nilai
sekitar 1 ha = 10.000 m2. Sedangkan batas bawah
diperkirakan dari kebutuhan minimal terminal kota
Ponjong berdasarkan kondisi eksisting saat ini. Saat
ini luas lahan yang terpakai untuk terminal adalah
sekitar 1.400 m2. Karena dengan luas lahan yang
ada sudah tidak mampu menampung aktivitas
kebutuhan terminal, maka perkiraan kebutuhan luas
lahan harus lebih besar dari kondisi yang ada dan
diperkirakan seluas minimal 2.000 m2.
Selanjutnya berdasarkan batas bawah dan batas
atas luas lahan ini dibuat angka skor dari 1 s/d 5.
makin kecil nilainya menunjukkan makin berkurang
pula kebutuhan akan lahan, dan ini berarti makin
cepat pula lokasi tersebut akan tidak lagi dapat
menampung untuk aktivitas terminal. Adapun nilai
angka skor ketersediaan lahan adalah sebagai
berikut:

nilai
nilai
nilai
nilai
nilai

:4
:5

b.

Harga Lahan
Yang dimaksud harga lahan disini adalah nilai harga
tanah per-meter persegi pada masing-masing lahan
yang akan menjadi alternatif lokasi terminal berada.
Harga tanah diperoleh dari hasil survai langsung
pada lokasi yang menjadi alternatif terminal. Batas
atas didasarkan pada nilai harga tanah yang
tertinggi (Rp 500.000,- per m2), sedangkan batas
bawah didasarkan pada nilai harga tanah terendah
(Rp. 100.000,- per m2).
Selanjutnya berdasarkan batas bawah dan batas
atas harga lahan ini dibuat angka skor dari 1 s/d 5.
Makin kecil nilainya menunjukkan makin mahal
biaya untuk pembebasan lahan yang akan
dikeluarkan, dan makin besar nilainya berarti makin
murah biaya untuk pembebasan lahan yang akan
dikeluarkan. Adapun nilai angka skor harga lahan
adalah sebagai berikut:

Harga Rp.400.001 s/d Rp. 500.000 nilai


:1

Harga Rp.300.001 s/d Rp.400.000 nilai


:2

Harga Rp.200.001 s/d Rp.300.000 nilai


:3

Harga Rp.100.001 s/d Rp.200.000 nilai


:4

Harga 0 s/d Rp. 100.000


nilai
:5

c.

Aksesibilitas
Yang
dimaksud
dengan
aksesibilitas
adalah
kemudahan mencapai lokasi alternatif terminal.
Kemudahan
untuk
mencapai
lokasi
diukur
berdasarkan banyaknya jalan/akses penghubung
menuju dan keluar dari lokasi alternatif yang ada.
Batas atas dibuat berdasarkan jumlah akses
terbanyak pada alternatif lokasi, sedangkan batas
bawah ditentukan dari jumlah akses terkecil.
Dengan berdasarkan batas atas dan bawah tersebut
selanjutnya dibuat angka skor dari 1 s/d 5. Makin
kecil nilai angka skor berarti makin sedikit akses
penghubung, hal ini menggambarkan makin kecil
kemudahan untuk mencapai lokasi tersebut, hal ini
tentunya makin jelek. Sebaliknya semakin besar
nilai angka skor, besar pula tingkat kemudahan
untuk menuju lokasi tersebut, hal ini tentunya
makin baik. Adapun nilai angka skor aksesibilitas
adalah sebagai berikut:

Terhubung dengan 1 jalan


nilai
:1

Terhubung dengan 2 jalan


nilai
:2

Terhubung dengan 3 jalan


nilai
:3

Terhubung dengan 4jalan


nilai
:4

Terhubung dengan 5 jalan


nilai
:5

d.

Dampak lalu lintas.


Dampak lalu lintas adalah efek gangguan yang bisa
timbul pada jaringan jalan sehingga mengakibatkan
kinerja jalan sekitar lokasi alternatif menjadi turun.
Kinerja jalan sering turun terutama pada simpul
keramaian. Sehingga jika alternatif lokasi terminal
ditempatkan
pada
simpul-simpul
keramaian
tersebut tentunya akan semakin menurunkan pula
kinerja jalan yang sudah ada. Ada 3 simpul
keramaian yang dianggap sebagai penurun utama
kinerja jalan, yaitu pasar, simpang,dan pertokoan.

KRITERIA PENILAIAN

Terdapat
beberapa
kriteria
penilaian
untuk
menentukan alternatif lokasi terminal, yaitu: ketersediaan
lahan, harga lahan, aksesibilitas, dampak lalu lintas, dampak
sosial, ketersediaan fasilitas, hinterland, dan pengembangan
wilayah. Agar obyektif dan tepat dalam menentukan
penilaian, diberikan angka skor dan pembobotan untuk
masing-masing kriteria. Selanjutnya untuk menentukan
perankingan beberapa Alternatif yang ada didasarkan pada
hasil total skor yang didapat dari jumlah nilai dikalikan bobot
masing-masing kriteria. Makin besar harga total skor yang
didapat, berarti makin baik alternatif tempat tersebut
dipergunakan sebagai lokasi Terminal. Adapun nilai angka
skor masing-masing kriteria beserta penjelasannya adalah
sebagai berikut:

Luas 2.000 s/d 3.999 m2


:1
Luas 4.000 s/d 5.999 m2
:2
Luas 6.000 s/d 7.999 m2
:3
Luas 8.000 s/d 99.999 m2
Luas 10.000 keatas

VII - 2
Pasar dianggap sebagai daerah yang sering paling
sulit dikendalikan, sehingga pasar menempati posisi
sebagai faktor gangguan terbesar. Faktor gangguan
selanjutnya berurut dari yang berat ke yang lebih
ringan adalah simpang, kemudian baru pertokoan.
Selanjutnya berdasarkan batasan-batasan diatas
dan kondisi kemungkinan yang bisa terjadi, dibuat
angka skor 1 s/d 5. Nilai angka skor makin kecil
menandakan bahwa alternatif lokasi terminal
ditempatkan dilokasi pusat keramaian (dalam radius
jarak sekitar 50 m ), kemungkinan besar akan
menimbulkan gangguan lalu lintas yang makin
besar. Sebaliknya angka skor besar diberikan untuk
dampak lalu lintas yang mungkin timbul adalah
kecil. Adapun nilai angka skor terhadap dampak
lalu lintas adalah sebagai berikut:

Dekat pasar, simpang, pertokoan


nilai
:1

Dekat pasar, simpang


nilai
:2

Dekat pasar, pertokoan


nilai
:3

Dekat simpang, pertokoan


nilai
:4

Dekat pertokoan
nilai
:5
e.

f.

Dampak sosial
Yang dimaksud dampak sosial disini adalah
gangguan sosial pada masyarakat sekitar yang
mungkin terjadi bila suatu lokasi dibangun terminal.
Dari berbagai macam kemungkinan, terdapat
beberapa lingkungan yang dianggap peka terhadap
gangguan yang mungkin terjadi bila suatu lokasi
dibangun terminal. Bila disusun secara berurut dari
lingkungan yang paling peka menuju kurang peka
terhadap gangguan adanya bangunan terminal
yaitu:
lingkungan
pendidikan,
rumahsakit,
perkantoran dan perumahan. Dengan berdasarkan
kondisi ini, selanjutnya dibuat nilai angka skor
dampak sosial dari 1 s/d 5 dari berbagai
kemungkinan kombinasi kejadian yang ada di
sekitar lokasi terminal. Angka skor makin kecil
menunjukkan lingkungan tersebut makin peka
terhadap gangguan lingkungan, dan ini kejadian ini
berarti makin jelek. Sebaliknya makin besar angka
skor berarti makin kecil kepekaan terhadap
gangguan lingkungan. Adapun nilai angka skor
terhadap dampak sosial adalah sebagai berikut:

Dekat pendidikan.
nilai
:1

Dekat rumahsakit
nilai
:2

Dekat perumahan
nilai
:3

Dekat perkantoran
nilai
:4

Dekat lahan kosong nilai


:5
Ketersediaan Fasilitas
Pengertian tentang ketersediaan fasilitas disini
adalah
adanya/tersedianya
jaringan
untuk
penyedian
fasilitas
penunjang
pokok
dalam
terminal. Beberapa jaringan fasilitas penunjang
pokok tersebut secara berurutan dari yang kurang
penting menuju yang penting adalah adanya
jaringan telepon, listrik dan air bersih. Dari ke tiga
fasilitas penunjang tersebut, dapat dibuat beberapa
kombinasi yang mungkin terjadi di lapangan. Dari
beberapa kombinasi tersebut kemudian dibuat nilai
angka skor 1 s/d 5. Angka skor makin kecil
menggambarkan bahwa lokasi alternatif terminal
tersebut terisi oleh jaringan yang kurang penting
untuk penyediaan fasilitas penunjang, dan ini
berarti merupakan kondisi yang kurang ideal.
Sebaliknya
makin
besar
angka
skor
menggambarkan bahwa lokasi tersebut telah
tersedia jaringan-jaringan yang mendukung untuk
penyediaan fasilitas penunjang pokok di terminal.
Adapun nilai angka skor untuk ketersediaan fasilitas
adalah sebagai berikut:

Telepon
nilai
:1

Listrik, telepon
:2
Air bersih, telepon
:3
Air bersih, listrik
:4
Air bersih, listrik, telepon
:5

nilai
nilai
nilai
nilai

g.

Hinterland
Hinterland biasanya tercermin dengan kepadatan
trayek
angkutan
umum. Di kota
ponjong,
permintaan (demand) angkutan umum terutama
berasal dari dan ke arah Semanu, Karangmojo, serta
Eromoko. Hanya saja permintaan akan angkutan
umum berurut dari yang besar ke kecil adalah
Semanu, Karangmojo, Eromoko. Saat ini keterkaitan
ekonomi perdagangan kota Ponjong lebih besar ke
arah Semanu-Wonosari. Sehingga daerah-daerah
sekitar tersebut merupakan hinterland-nya kota
Ponjong.
Berdasarkan kondisi inilah selanjutnya dibuat nilai
angka skor 1 s/d 5. Makin kecil angka skor
menunjukkan
makin
kecilnya
demand
akan
angkutan umum dan ini menggambarkan makin
jauh dari hinterland. Sebaliknya makin besar angka
skor berarti makin menuju menjadi hinterland-nya
kota Ponjong. Adapun nilai angka skor hinterland
adalah sebagai berikut:

Diluar kondisi jalur utama


nilai
:1

Tidak dalam jalur utama langsung nilai


:2

Jalur Ponjong Eromoko


nilai
:3

Jalur Ponjong Karangmojo


nilai
:4

Jalur Ponjong Semanu


nilai
:5

h.

Pengembangan wilayah
Pengembangan wilayah yang dimaksud disini
adalah bagaimana keberadaan terminal diharapkan
bisa mempercepat pengembangan suatu kawasan.
Dikota Ponjong sebagaimana hasil yang didapat dari
survai dan RDTR kota Ponjong 2005, terdapat 7
simpul daerah inti kota, dan 3 simpul daerah
pinggiran kota. Karena karakteristik kota Ponjong
merupakan kota kecil (kota kecamatan ) dengan
pertumbuhan kota yang cukup lambat, maka untuk
mempercepat pengembangan perlu diprioritaskan
pada kawasan antar simpul daerah inti kota,
sehingga posisi ini menjadi batas atas penilaian/
pemberian angka skor untuk pengembangan
wilayah. Nilai angka skor terkecil sebagai batas
bawah diberikan pada simpul daerah inti kota,
sebab kawasan dalam simpul daerah inti kota sudah
tidak membutuhkan pengembangan lagi. Dengan
berdasarkan alasan dan batas atas maupun bawah
dari penilaian tersebut diatas, selanjutnya dibuat
nilai angka skor 1 s/d 5. Dengan berbagai kombinasi
kemungkinan yang ada, nilai skor pengembangan
wilayah adalah sebagai berikut:

Berada dalam simpul


dalam kota
nilai
:1

Berada antara simpul


pinggir kota dengan luar kota
nilai
:2

Berada antara simpul


pinggiran kota
nilai
:3

Berada antara simpul


dalam kota dengan simpul pinggiran
nilai
:4

Berada antara simpul


dalam kota
nilai
:5

VII - 3
Agar masing masing penilaian bisa proporsional sesuai
dengan kebutuhan yang diprioritaskan, bobot nilai untuk
masing-masing kriteria perlu dilakukan. Adapun bobot
masing-masing kriteria adalah sebagai berikut:

Dampak lalu lintas = 3,


Dampak lalu lintas diberi bobot terbesar (3), hal ini
disebabkan permasalahan lalu lintas akan bisa
berdampak pada berbagai macam bidang yang
berantai. Misalnya, kejelekan dalam kinerja jalan
bisa menjadikan pembengkaan dalam masalah
ekonomi dan selanjutnya akan mempengaruhi
permasalahan investasi.

Pengembangan Wilayah = 3,
Pengembangan Wilayah diberi bobot 3, hal ini
terkait
dengan
misi pembangunan
terminal
diarahkan agar terjadi percepatan pengembangan
wilayah kota Ponjong. Adanya terminal tipe C di kota
Ponjong,
diharapkan
nantinya
memberikan
kontribusi yang signifikan untuk percepatan
pembangunan di segala bidang.

Hinterland = 2,
Hinterland perlu diberi bobot 2, dikarenakan
peruntukan/ pengguna terminal sangat terkait
dengan demand akan angkutan umum. Pihak yang
terlibat disamping masyarakat pemakai jasa
angkutan umum juga operator. Jika permasalahan
ini
tidak
diberi
bobot
yang
lebih,
bisa
mengakibatkan terminal terbangun akan tidak bisa
bermanfaat secara optimum, dan memungkinkan
terjadinya terminal bayangan.

Kriteria yang lain diberi bobot 1.


Kondisi ini diberikan, karena kriteria-kriteria ini
cenderung bernilai sama.
7.3.
PENILAIAN
Dengan berpijak pada hasil survai lapangan dan
Review RDTRK kota Ponjong 2005, diperoleh kondisi untuk
masing-masing alternatif terminal yang ada adalah sebagai
berikut:
Alternatif 1

Ketersediaan lahan
: 1.400 m2 (skor = 1)

Harga lahan
: Rp. 500.000,-/m2 (skor
= 1)

Aksesibilitas
: 2 jalan (skor = 2)

Dampak lalu lintas


: dekat pasar, simpang
dan pertokoan. (skor = 1)

Dampak sosial
:
dekat
pendidikan,
perumahan. (skor = 2)

Ketersediaan fasilitas
: jaringan air, listrik dan
telepon (skor = 5)

Hinterland
: tidak berada
pada jalur langsung (skor = 2)

Pengembangan wilayah
: berada dalam simpul
daerah inti kota (skor = 1)
Alternatif 2

Ketersediaan lahan
: 3.375 m2 (skor = 1)

Harga lahan
: Rp. 200.000,-/m2 (skor
= 3)

Aksesibilitas
: 2 jalan (skor = 2)

Dampak lalu lintas


: dekat simpang dan
pertokoan. (skor = 4)

Dampak sosial
:
dekat
pendidikan, perumahan. (skor = 2)

Ketersediaan fasilitas : terdapat jaringan listrik


dan telepon (skor = 2)

Hinterland
: berada pada jalur
Ponjong - Eromoko (skor = 3)

Pengembangan wilayah
:
berada
antara
simpul daerah inti
kota
dengan
simpul
pinggiran
kota (skor = 4)
Alternatif 3

Ketersediaan lahan

Harga lahan
= 3)

Aksesibilitas

: 5.790 m2 (skor = 2)
: Rp. 200.000,-/m2 (skor
: 5 jalan (skor = 5)

Dampak lalu lintas


= 5)
Dampak sosial
perumahan. (skor = 3 - 4)
Ketersediaan fasilitas
telepon (skor = 5)
Hinterland
Ponjong - Semanu (skor =
Pengembangan wilayah

Alternatif 4

Ketersediaan lahan

Harga lahan
= 5)

Aksesibilitas

Dampak lalu lintas


(skor = 5)

Dampak sosial
(skor = 5)

Ketersediaan fasilitas
listrik (skor = 4)

Hinterland
= 1)

Pengembangan wilayah

: dekat pertokoan. (skor


:

dekat

perkantoran,

: jaringan air, listrik dan


: berada pada jalur
5)
:
berada
antara
simpul daerah inti
kota
dengan
simpul daerah inti
kota (skor = 5)
: 10.000 m2 (skor = 5)
: Rp. 100.000,-/m2 (skor
: 3 jalan (skor = 3)
: dekat lahan kosong.
:

dekat

lahan

kosong.

: terdapat jaringan air,


: diluar jalur utama (skor
: berada
antara
simpul
daerah
pinggir
kota
dengan luar kota
(skor = 2)

Selanjutnya dari data tersebut di atas dapat dibuat matrik


penilaian berdasarkan kriteria yang ada terhadap daerah
lokasi alternatif terminal. Matrik hasil skor penilaian sebelum
dan setelah terbobot diperlihatkan dalam Tabel 7.1.
Tabel 7.1. Hasil perhitungan skor penilaian 4 alternatif
lokasi terminal
No KRITERIA

SKOR
Alt-1

Alt-2

Alt-3

Alt-4

1 Ketersediaan Lahan

2 Harga Lahan

3 Aksesibilitas

4 Dampak lalu lintas.

5 Dampak sosial

6 Ketersediaan Fasilitas

7 Hinterland

8 Pengembangan wilayah
JUMLAH
7.4.

ALTERNATIF LOKASI TERMINAL TERPILIH

Berdasarkan skor penilaian akhir yang telah terbobot


sebagaimana telah tercantum dalam Tabel 7.1, maka dapat
ditarik kesimpulan:
1.

Alternatif
lokasi
terminal
terpilih
adalah
alternatif 3, dengan catatan
Alternatif 3 ini bisa
digunakan untuk jangka pendek, dan harus segera
dipindahkan bila simpul pusat kegiatan kota antara
sekitar pasar dengan simpang lima sudah merata.
Disamping itu ditinjau dari RDTRK kota Ponjong lokasi ini
sudah dalam kawasan BWK A.

2.

Alternatif 2, merupakan lokasi terminal untuk jangka


menengah
(
jika
prioritas
diutamakan
untuk
mempercepat pengembangan kawasan daerah inti
kota),
dimana
jika
dibangun
berfungsi
untuk

VII - 4
mempercepat pengembangan kawasan kota Ponjong ke
arah Utara yang berada dalam kawasan BWK B.
3.

Alternatif 4, merupakan jawaban untuk jangka


panjang. Tujuan alternatif 4 ini adalah mengembangkan
kota Ponjong ke arah Semanu/ Wonosari. Hal ini
sekaligus untuk menjawab agar kota Ponjong makin
hidup. Sebab jika kawasan ini dikembangkan, kota
Ponjong menjadi jalur penghubung antara Wonosari ke
Wonogiri (DIY ke JATENG).

4.

Alternatif 1, sudah tidak memungkinkan untuk


dipakai sebagai lokasi terminal. Hal ini disebabkan
bahwa lokasi ini sudah tidak mungkin lagi untuk
dikembangkan. Disamping itu, jika dipaksakan untuk
dibangun terminal, kinerja jaringan jalan kota ponjong
jadi jelek dan juga tidak akan terjadi percepatan
pengembangan kota Ponjong.