Anda di halaman 1dari 7

PNEUMONIA

Landia Setiawati, Makmuri M.S., Retno Asih S.

BATASAN
Pneumonia dalah penyakit peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh
bermacam etiologi seperti bakteri, virus, mikoplasma, jamur atau bahan kimia/benda
asing yang teraspirasi dengan akibat timbulnya ketidakseimbangan ventilasi dengan
perfusi (ventilation perfusion mismatch).
PATOFISIOLOGI
Paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme : filtrasi partikel di
hidung, pencegahan aspirasi dengan refleks epiglotis, ekspulsi benda asing melalui
refleks batuk, pembersihan ke arah kranial oleh mukosilier, fagositosis kuman oleh
makrofag alveolar, netralisasi kuman oleh substansi imun lokal dan drainase melalui
sistem limfatik. Faktor predisposisi pneumonia : aspirasi, gangguan imun, septisemia,
malnutrisi, campak, pertusis, penyakit jantung bawaan, gangguan neuromuskular,
kontaminasi perinatal dan gangguan klirens mukus/sekresi seperti pada fibrosis kistik ,
benda asing atau disfungsi silier.
Mikroorganisme mencapai paru melalui jalan nafas, aliran darah, aspirasi
benda asing, transplasental atau selama persalinan pada neonatus. Umumnya
pneumonia terjadi akibat inhalasi atau aspirasi mikroorganisme, sebagian kecil terjadi
melalui aliran darah (hematogen). Secara klinis sulit membedakan pneumonia bakteri
dan virus. Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia tersering pada bayi dan
anak kecil. Pneumonia lobaris lebih sering ditemukan dengan meningkatnya umur.
Pada pneumonia yang berat bisa terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis
respiratorik, asidosis metabolik dan gagal nafas.
DIAGNOSIS
Anamnesis
-

Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi
saluran nafas akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus
menerus, sesak, kebiruan disekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada
bayi) dan nyeri dada. Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit.
Pada bayi muda sering menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi,

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

28

penurunanan kesadaran, kejang atau kembung sehingga sulit dibedakan dengan


meningitis, sepsis atau ileus.
Pemeriksaan fisis
-

Tanda yang mungkin ada adalah suhu 39 0 C, dispnea : inspiratory effort ditandai
dengan takipnea, retraksi (chest indrawing), nafas cuping hidung dan sianosis.
Gerakan dinding toraks dapat berkurang pada daerah yang terkena, perkusi normal
atau redup. Pada pemeriksaan auskultasi paru dapat terdengar suara nafas utama
melemah atau mengeras, suara nafas tambahan berupa ronki basah halus di
lapangan paru yang terkena.

Pemeriksaan penunjang
-

Pada pemeriksaan darah tepi dapat terjadi leukositosis dengan hitung jenis
bergeser ke kiri.

Bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan


keadaan hipoksemia (karena ventilation perfusion mismatch). Kadar PaCO2 dapat
rendah, normal atau meningkat tergantung kelainannya. Dapat terjadi asidosis
respiratorik, asidosis metabolik, dan gagal nafas.

Pemeriksaan kultur darah jarang memberikan hasil yang positif tetapi dapat
membantu pada kasus yang tidak menunjukkan respon terhadap penanganan awal.

Pada foto dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat ditemukan di seluruh lapangan
paru. Luasnya kelainan pada gambaran radiologis biasanya sebanding dengan
derajat klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang gambaran
radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran lain yang dapat
dijumpai :
o Konsolidasi pada satu lobus atau lebih pada pneumonia lobaris
o Penebalan pleura pada pleuritis
o Komplikasi

pneumonia

seperti

atelektasis,

efusi

pleura,

pneumomediastinum, pneumotoraks, abses, pneumatokel


DIAGNOSIS BANDING PNEUMONIA

Bronkiolitis

Payah jantung

Aspirasi benda asing

Abses paru

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

29

Khusus pada bayi :

Meningitis

Ileus

KOMPLIKASI
-

Pleuritis

Efusi pleura/ empiema

Pneumotoraks

Piopneumotoraks

Abses paru

Gagal nafas

TATALAKSANA
1. Indikasi MRS :
a. Ada kesukaran nafas, toksis
b. Sianosis
c. Umur kurang 6 bulan
d. Ada penyulit, misalnya :muntah-muntah, dehidrasi, empiema
e. Diduga infeksi oleh Stafilokokus
f. Imunokompromais
g. Perawatan di rumah kurang baik
h. Tidak respon dengan pemberian antibiotika oral
2. Pemberian

oksigenasi : dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor

dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi
mekanik.
3. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu cairan parenteral). Jumlah
cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi.
4. Bila sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai diet enteral bertahap melalui selang
nasogastrik.
5. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
6. Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.
PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

30

7. Pemilihan antibiotik berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan dugaan


penyebab Evaluasi pengobatan dilakukan setiap 48-72 jam. Bila tidak ada
perbaikan klinis dilakukan perubahan pemberian antibiotik sampai anak
dinyatakan sembuh. Lama pemberian antibiotik tergantung : kemajuan klinis
penderita, hasil laboratoris, foto toraks dan jenis kuman penyebab :

Stafilokokus : perlu 6 minggu parenteral

Haemophylus influenzae/Streptokokus pneumonia : cukup 10-14 hari

Pada keadaan imunokompromais (gizi buruk, penyakit jantung bawaan, gangguan


neuromuskular, keganasan, pengobatan kortikosteroid jangka panjang, fibrosis
kistik, infeksi HIV), pemberian antibiotik harus segera dimulai saat tanda awal
pneumonia didapatkan dengan pilihan antibiotik : sefalosporin generasi 3.
Dapat dipertimbangkan juga pemberian :
-

Kotrimoksasol pada Pneumonia Pneumokistik Karinii

Anti viral (Aziclovir , ganciclovir) pada pneumonia karena CMV

Anti jamur (amphotericin B, ketokenazol, flukonazol) pada pneumonia karena


jamur

Imunoglobulin

DAFTAR PUSTAKA
1. Andriano G, Arguedas, Stutman HR, Marks MI. Bacterial pneumonias. Dalam :
Kendig EL, Chernick V, penyunting. Kendigs Disorders of the Respiratory Tract
in Children. Edisi ke-5. Philadelphia : WB Saunders, 1990 : 371-80.
2. Lichenstein R, Suggs AH, Campbell J. Pediatric pneumonia. Emerg Med Clin N
Am 2003; 21 : 437-51.
3. Glezen WP. Viral pneumonia. Dalam : Kendig EL, Chernick V, penyunting.
Kendigs Disorders of the Respiratory Tract in Children. Edisi ke-5. Philadelphia :
WB Saunders, 1990 : 394-402.
4. Sectish TC, Prober CG. Pnemonia. Dalam : Behrman RE, Kleigman RM, Jenson
HB, penyunting. NelsonTextbook of Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia : WB
Saunders, 2003 : 1432-5.
5. Stokes DC. Respiratory infections in Immunocompromized Hosts. Dalam :
Taussig LM, Landau LI, penyunting. Pediatric Respiratory Medicine. St. Louis:
Mosby Inc, 1999 : 664-81.
PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

31

Lampiran 1. : Pilihan pengunaan antibiotika pada pneumonia


Umur
< 3 bln

3 bln - 5 thn

> 5 thn

Pilihan antibiotik

Penyebab
- Enterobacteriace
(E. Colli, Klebsiella,
Enterobacter)
- Streptococcus
pneumonia
- Streptococcus group
B
- Staphylococcus

- Streptococcus
pneumonia
- Staphylococcus
- H. influenzae

- Streptococcus
pneumonia
- Mycoplasma
pneumonia

Rawat inap

Rawat jalan

- Kloksasilin iv dan
aminoglikosida
(gentamisin, netromisin,
amikasin) iv/im atau
- Ampisilin iv dan
aminoglikosida atau
- Sefalosporin gen 3 iv
(cefotaxim, ceftriaxon,
ceftazidim, cefuroksim)
atau
- Meropenem iv dan
aminoglikosida iv/im

- Ampisilin iv dan
kloramfenikol iv atau
- Ampisilin dan Kloksasilin
iv atau
- Sefalosporin gen 3 iv
(cefotaxim,ceftriaxon,
ceftazidim, cefuroksim)
atau
- Meropenem iv dan
aminoglikosida iv/im
- Ampisilin iv atau
- Erytromisin po atau
- Claritromycin po atau
- Azitromycin po atau
- Kotrimoksasol po atau
- Sefalosporin gen 3

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

- Amoksisilin atau
- Kloksasilin atau
- amoksisilin asam
klavulanik atau
- Erytromicin atau
- Claritromycin atau
- Azitromycin atau
- Sefalosporin oral
(Cefixim, cefaclor)
- Amoksisilin atau
- Erytromisin po atau
- Claritromycin po
atau
- Azitromycin po atau
- Kotrimoksasol po
atau
- Sefalosporin oral
(Cefixim, cefaclor)

32

Lampiran 2. : Jenis obat dan dosis


OBAT
Ampisilin
Amoksisilin
Amoksisilin
klavulanik
Amikasin
Azithromycin
Eritromisin
Gentamisin
Cefotaxim
Cefixim
Ceftazidim
Ceftriaxon
Cefuroksim
Clarithromycin
Kloramfenikol
Kloksasilin
Kotrimoksazol
Meropenem
Netromisin

DOSIS/KgBB/24 jam
50-100 mg
30-75 mg
asam 30-75 mg
15 mg
7,5-15 mg
50 mg
5-7 mg
50-100 mg
5 mg
50-100 mg
50 100 mg
25-50 mg
15-30 mg
50 -100 mg
50 mg
6 mg (TMP)

30-50 mg
5-7 mg/kg

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

CARA PEMBERIAN
im/iv, 4x/hari
po/im/iv, 3-4x/hari
po, 3-4x/hari
im/iv, 1x/hari
po, 1x/hari
po, 4x/hari
im/iv, 1-2x/hari
iv, 3-4x/hari

po, 2x/hari
im/iv, 2-3x/hari
im/iv, 1-2x/hari
iv/oral, 3-4x/hari
po, 2x / hari
iv/oral, 4x/hari
im/iv, 4x/hari
po, 2x/hari

iv, 3x/hari
im /iv, 1x/hari

33

Lampiran 3. : Sistem Skoring Pernafasan


0

Sianosis

(-)

(+) pada udara kamar

(+) pada 40% O2

Aktifitas
otot-otot
pernafasan tambahan

(-)

Sedang

Nyata

Pertukaran udara

Baik

Sedang

Jelek

Keadaan mental

Normal

Depresi/gelisah

Koma

< 10

10-40

>40

70-100

70 pada udara kamar

70 pada 40%
O2

< 40

40-65

> 65

Pulsus paradoksus (Torr)


PaO2 (Torr)
PaCO2 (Torr)

Skor :
0.4

: tidak ada bahaya

5.6

: akan terjadi gagal nafas siapkan UGD

: gagal nafas

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

34