Anda di halaman 1dari 11

A.

Teknologi Proses pada Minyak Nabati


1. Degumming

Degumming merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan fosfatida, wax,
dan pengotor lainnya dengan cara penambahan air, larutan garam, atau larutan asam.
Degumming mengkonversi fosfatida menjadi gum terhidrasi yang tidak larut dalam minyak dan
selanjutnya akan dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi. Proses ini disertai pemanasan
untuk mengoptimalkan proses degumming, biasanya pemanasan dilakukan sampai suhu sekitar
60oC. Ada sumber lain yang mengatakan bahwa proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan
air saja (Yulianto. 2010).
Pada pabrik sederhana, degumming dilakukan dengan cara memanaskan CPO hingga
temperatur 90-130oC dimana temperatur ini adalah temperatur yang dibutuhkan untuk
berlangsungnya reaksi CPO dengan asam fosfat. Setelah itu, CPO dipompa ke dalam mixer
statis dengan penambahan 0,35-0,45 kg/ton CPO. Pengadukan yang terus-menerus di dalam
mixer bertujuan untuk menghilangkan gum. Proses ini akan mempermudah penghilangan gum
pada proses penyaringan berikutnya sehingga ukuran deodorizer tidak terlalu besar
(Widyastuti. 2010).

Komposisi minyak sawit :

2. Netralisasi
Proses netralisasi konvensional dengan penambahan soda kaustik merupakan proses yang
paling luas digunakan dan juga proses purifikasi terbaik yang dikenal sejauh ini. Penambahan
larutan alkali ke dalam CPO menyebabkan beberapa reaksi kimia dan fisika sebagai berikut:
1. Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk sabun.
2. Fosfatida mengabsorb alkali dan selanjutnya akan terkoagulasi melalui proses
hidrasi.
3. Pigmen mengalami degradasi, akan terabsorbsi oleh gum.
4. Bahan-bahan yang tidak larut akan terperangkap oleh material terkoagulasi.
Efisiensi pemisahan sabun dari minyak yang sudah dinetralisasi, yang biasanya dilakukan
dengan bantuan separator sentrifugal, merupakan faktor yang signifikan dalam netralisasi
kaustik. Netralisasi kaustik konvensional sangat fleksibel dalam memurnikan minyak mentah
untuk menghasilkan produk makanan (OBrien, R.D.1998).

Netralisasi dengan menggunakan soda kaustik dapat dilakukan untuk minyak kelapa sawit
yang mengandung 8 sampai 10% Asam lemak bebas. Proses netralisasi ini antara lain:
prapemanasan minyak sawit mentah hingga 54-71 oC, netralisasi dengan soda kaustik
secukupnya, pemanasan hingga 82-88oC untuk mengendapkan fasa sabun dan langsung
disentrifugasi. Minyak yang telah ternetralisasi kemudian dicuci dengan air dan selanjutnya
dipisahkan sekali lagi melalui proses settling atau sentrifugasi untuk menghilangkan sisa
pengotor dan sisa sabun. Selanjutnya minyak dikeringkan dengan bantuan vacuum dryer atau
langsung dilakukan proses bleaching (Widyastuti. 2010).
3. Bleaching
Bleaching adalah memucatkan minyak atau menghilangkan komponen warna yang tidak
diinginkan. Proses pemucatan ini ada 4 macam:
1. Pemucatan dengan absorbsi : Biasanya digunakan bleaching earth (tanah pemucat) dan
karbon aktif sebagai absorben.
2. Pemucatan dengan oksidasi : Proses ini dikembangkan di industri sabun.
3. Pemucatan dengan panas : Pada umumnya, pada suhu tinggi warna akan menjadi lebih
pucat, karena zat-zat warna akan menguap. Namun proses ini, biasanya kondisi di bawah
atmosfir atau vakum, karena untuk menghindari rusaknya minyak karena suhu yang
terlalu tinggi.
4. Pemucatan dengan hidrogenasi : Hal ini dilakukan dengan penambahan hidrogen, reaksi
yang terjadi adalah reaksi adisi, pemecahan rantai. Misalnya untuk beta karoten yang
mempunyai

ikatan

rangkap

kemudian

diadisi,

warna

menjadi

lebih

pucat

(Yulianto. 2010).
Proses bleaching pada kelapa sawit :

Minyak kelapa sawit yang sudah dinetralisasi mengandung residu sabun, logam, produkproduk oksidasi, dan pigmen warna. Untuk itu dilakukan proses pemucatan (bleaching)

untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut. Pemucatan minyak sawit dapat dilakukan


dengan bleaching earth atau dengan perusakan dengan panas. Karena tingginya
kandungan pigmen di dalam minyak sawit, dibutuhkan bleaching earth yang lebih banyak
dan waktu pemucatan yang lebih lama dibandingkan proses pemucatan minyak nabati
lainnya.

Menurut Arumughan et al. (1985) kondisi optimal pemucatan didapat dengan


penambahan 3% bleaching earth yang mengandung karbon aktif dengan perbandingan
9:1 dan pemucatan pada temperatur 150oC dalam keadaan vakum 700 mmHg. Menurut
Iyung Pahan (2008), kondisi proses pemucatan optimal dapat dicapai pada temperatur
100 130oC selama 30 menit dengan injeksi uap bertekanan rendah ke dalam bleacher
untuk mengaduk konsentrasi slurry. Setelah melewati proses bleaching, minyak sawit
disaring untuk menghilangkan bleaching earth yang masih terbawa di dalamnya
(Widiyastuti. 2010).

Namun yang pada umumnya yang digunakan dalam industri refinery minyak nabati adalah
pemucatan dengan menggunakan absorben, dengan tanah pemucat (bleaching earth) disertai
pemanasan dan pada kondisi vakum.
Kelemahan proses pemurnian secara kimia:
1. Tidak dapat dilakukan untuk FFA tinggi.
2. Losses banyak.
3. Tidak ekonomis untuk kapasitas yang besar, karena membutuhkan bahan kimia dan
proses yang panjang.
4. Produk samping yang dihasilkan memerlukan treatment yang lebih lanjut, seperti sabun
yang dihasilkan perlu proses lanjut.
Oleh karena itu, ada proses fisika yang lebih simple, tapi menggunakan alat yang rumit. Namun,
kedua proses ini masih digunakan, semuanya tergantung dari bahan baku, kapasitas, dan biaya
(Yulianto. 2010).

4. Deodorisasi

Minyak sawit yang keluar dari proses pemucatan mengandung aldehida, keton, alkohol,
asam lemak berberat molekul ringan, hidrokarbon, dan bahan lain hasil dekomposisi
peroksida dan pigmen. Walaupun konsentrasi bahan-bahan tersebut kecil, bahan-bahan
tersebut dapat terdeteksi oleh rasa dan aroma minyaknya. Bahan-bahan tersebut lebih
volatil pada tekanan rendah dan temperatur tinggi. Proses deodorisasi pada intinya adalah
distilasi uap pada keadaan vakum. Distilasi uap pada tekanan vakum untuk menguapkan
aldehid dan senyawa aromatik lainnya menggunakan prinsip hukum Raoult.

Sebelum masuk ke dalam alat deodorisasi, minyak yang sudah dipucatkan dipanaskan
sampai 210-250oC. Alat deodorisasi beroperasi dengan 4 cara, yaitu deaerasi minyak,
pemanasan minyak, pemberian uap ke dalam minyak, dan pendinginan minyak. Di dalam
kolom, minyak dipanaskan sampai 240-280oC dalam kondisi vakum. Manfaat pemberian
uap langsung menjamin pembuangan sisa-sisa asam lemak bebas, aldehida, dan keton
(Widiyastuti. 2010)

5. Fraksinasi

Proses fraksinasi dibutuhkan untuk memisahkan trigliserida yang memiliki titik leleh
lebih tinggi sehingga minyak sawit tidak teremulsi pada temperatur rendah. Proses
fraksinasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu fraksinasi kering, fraksinasi basah, dan
fraksinasi dengan solvent. Pada fraksinasi kering, minyak sawit didinginkan perlahan dan
disaring untuk memisahkan fraksi-fraksinya. Pada fraksinasi basah, kristal pada fraksi
stearin dibasahi dengan menggunakan surfaktan atau larutan deterjen. Pada fraksinasi
dengan solvent, minyak sawit diencerkan dengan menggunakan solvent seperti heksan,

aseton, isopropanol, atau n-nitropropan. Proses fraksinasi kering lebih disukai karena
lebih ramah lingkungan. Fraksinasi dilakukan untuk
mendapatkan minyak dengan kestabilan dingin yang
baik. Titik leleh merupakan suatu indikasi jumlah
unsaturated fatty acid dan asam lemak yang
memiliki rantai pendek. Titik leleh akan meningkat
seiiring dengan bertambahnya panjang rantai dan
menurun seiiring dengan bertambahnya jumlah
unsaturated bond (Widiyastuti. 2010).
B. Pengolahan minyak nabati
Pada Pengolahan minyak dan lemak, pengerjaan
yang dilakukan tergantung pada sifat alami minyak
atau lemak tersebut dan juga tergantung dari hasil
akhir yang dikehendaki.
Ekstraksi adalah pengolahan dengan pemisahan
suatu zat dari campurannya dengan pembagian
sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat
terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain.
.Adapun ekstraksi minyak atau lemak itu bermacam-macam,yaitu rendering (dry
rendering dan wet rendering), mechanical expression dan solvent extraction.
Rendering
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga
mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi

Wet Rendering
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama
berlangsungnya proses tersebut.

Dry Rendering
Dry rendering adalah proses rendering tanpa penambahan air selama proses
berlangsung

(Suhendri, dkk. 2013)

C. Pembuatan Oleokimia dan Oleopangan.


Upaya yang dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah minyak sawit dengan mengubah
menjadi oleopangan dan oleokimia. Hidrolisis minyak nabati menghasilkan asam lemak dan
gliserol, merupakan bahan dasar bagi industri oleopangan maupun oleokimia (Wikanta.
2010).
Pada

akhir-akhir

ini

oleopangan

dan oleokimia dari bahan nabati lebih disenangi para

konsumen dibandingkan dengan oleopangan dan oleokimia yang berasal dari bahan sintetis
karena sifatnya yang biodegradable dan harganya yang lebih murah.
Salah satu produk oleokimia yang dapat diperoleh dari minyak sawit adalah asam lemak. Bagi
Indonesia, kebutuhan akan asam lemak ini akan

semakin

meningkat

pada

tahun-tahun

mendatang, karena asam lemak ini banyak dipakai pada berbagai industri seperti industri
ban, kosmetik, plastik, cat, farmasi, deterjen dan sabun. Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu
langkah dalam pemenuhan asam lemak di Indonesia. Selama ini penyebab utama
kurangnya minat para pengusaha untuk memproduksi asam lemak adalah karena proses
pembuatannya yang dinilai tidak ekonomis, dan juga karena minyak sawit pada saat ini
sudah memiliki pangsa pasar yang baik sebagai bahan minyak makan (Tambun. 2007).
Berkaitan dengan ekstraksi asam lemak bebas dalam minyak sawit,dua kajian yang
diperlukan,antara lain:
Kesetimbangan cair-cair sistem minyak nabati- asam lemak bebas-metanol
Perpindahan massa dalam ekstraksi asam lemak bebas

(Wahyuningsih. 2011).
Kebutuhan dunia akan asam lemak tidak kurang dari 1.000.000 ton per tahun. Oleh
karenanya, selain dapat memberikan nilai tambah, hidrolisis minyak nabati menjadi asam
lemak dan gliserol akan dapat menjaga stabilitas harga dan memacu perkembangan industri
oleokimia dan oleopangan di Indonesia.
Metode konvensional lain yang digunakan adalah dengan menghidrolisa minyak nabati
secara enzimatik, yaitu dengan menggunakan enzim lipase. Akan tetapi, harga enzim yang
tersedia secara komersial masih mahal. Ditinjau dari segi ekonomi dan teknik, kedua cara
ini dinilai kurang efisien, karena untuk pembuatan asam lemak diperlukan terlebih dahulu
satu pabrik pengolahan minyak nabati sebagai bahan bakunya. Untuk mengatasi hal ini,
maka perlu dikaji suatu alternatif lain proses pembuatan asam lemak yang lebih murah.
Alternatif proses yang akan ditelaah adalah dengan memproduksi secara langsung asam
lemak dari buah segar kelapa sawit secara enzimatik, yaitu dengan cara mengaktifkan
enzim lipase yang terdapat pada kelapa sawit dalam bioreaktor hidrolisis enzimatis. Adapun
keunggulan

utama

proses yang diusulkan adalah tidak dibutuhkan pabrik minyak

sawit

sebagai bahan bakunya. Selain itu, bioreaktor ini memiliki keunggulan seperti keseragaman
waktu tinggalnya, intensitas (Wikanta. 2010).
D. Teknologi yang Digunakan dalam Oleokimia.
Salah satu produk oleokimia yang dapat diperoleh dari minyak sawit adalah asam lemak.
Selama ini penyebab utama kurangnya minat para pengusaha untuk memproduksi asam
lemak adalah karena proses pembuatannya yang dinilai tidak ekonomis, dan juga karena
minyak sawit pada saat ini sudah memiliki pangsa pasar yang baik sebagai bahan minyak
makan.
Selama ini produksi asam lemak dari kelapa sawit diperoleh dengan cara hidrolisa
minyak sawit dengan menggunakan air pada suhu sekitar 240 oC 260 oC dan tekanan 45
50 bar. Cara lain yang digunakan adalah dengan menghidrolisa minyak sawit secara
enzimatik, yaitu dengan menggunakan enzim lipase. Ditinjau dari segi ekonomi dan teknik,
kedua cara ini dinilai kurang efisien karena untuk pembuatan asam lemak ini diperlukan

terlebih dahulu satu pabrik pengolahan CPO sebagai bahan bakunya. Untuk mengatasi hal
ini, maka perlu dikaji suatu alternatif proses pembuatan asam lemak yang lebih murah.
Alternatif proses yang dikaji adalah dengan memproduksi secara langsung asam lemak dari
buah segar kelapa sawit secara enzimatik, yaitu dengan cara mengaktifkan enzim lipase
yang terdapat pada buah kelapa sawit.
Proses ini dilakukan dengan cara mengaktifkan enzim lipase yang terdapat pada buah
kelapa sawit yang akan menghidrolisa trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Di
samping itu, dengan proses seperti ini diharapkan kandungan karoten (provitamin A) yang
terdapat pada kelapa sawit tidak mengalami kerusakan dan kemungkinan lebih mudah
dipisahkan, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin A.

Sumber :
Widyastuti

Sinta.

2010.

Proses

Pemurnian

Minyak

Sawit.

http://agroindustriindonesia.blogspot.co.id/2010/09/prosespemurnian-minyak-sawit.html.
Yulianto. 2010. Pure Plant Oil, Pemurnian secara Fisika. POLITEKNIK KELAPA
SAWIT

CITRA

WIDYA

EDUKASI.

https://politeknikcitrawidyaedukasi.wordpress.com/tag/refinery/.
Suhendri, dkk. 2013. Pengolahan Minyak dan Lemak Nabati. Makalah
Pengilangan Minyak Nabati. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknik.
Universitas Riau: Pekan Baru.
Tambun, Rondang. 2007. Hidrolisa Buah Kelapa Sawit Secara Enzimatik.
Jurnal
Teknologi Proses. Departemen Teknik Kimia. Fakultas Teknik.
Universitas Sumatera Utara.
Wikanta, D. Kurniawan, dkk. 2010. PENGEMBANGAN PROSES THERMOKIMIA
UNTUK

PENINGKATAN

KONVERSI

ASAM

LEMAK

MELALUI

INTERFACIAL ACTIVATION LIPASE BUAH SEGAR KELAPA SAWIT


DENGAN

TUNING UP MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO.

JurusanTeknik

Kimia

PSD

III

Fakultas

Teknik

Universitas

Diponegoro: Semarang.
Wahyuningsih, dan Yulianto E. M. 2011. EKSTRAKSI ASAM LEMAK BEBAS DARI
MINYAK NABATI DENGAN METANOL KAJIAN PERPINDAHAN MASSA.

Program

Studi

Diploma

III

Teknik

Fakultas Teknik Universitas Diponegoro: Semarang.

Kimia