Anda di halaman 1dari 14

SASBEL

LI 1. MM Asam-basa
Lo 1.1 Definisi
1.2 Klasifikasi
LI 2. MM Ukuran keasaman / pH
Lo 2.1 Definisi
2.2 Indikator Asam basa
2.3 Cara Menetukan pH
2.4 Keseimbangan Asam-Basa (Al/Bl)
LI 3. Aspek Biokim dan Fisiologis keseimbangan AsamBasa
Lo 3.1 Definisi
3.2 Mekanisme
LI 4. Gangguan Keasaman Asam-Basa
Lo 4.1 Definisi
4.2 Etiologi
4.3 Gejala
4.4 Penatalaksanaan

LI 1. MM ASAM BASA
LO 1.1 Definisi
Definisi Asam dan basa
Asam : sekelompok zat yang mengandung hidrogen yang mengalami disosiasi atau
terpisah
dalam larutan untuk menghasilkan H+
Basa: Bahan yang dapat berikatan dengan H+
Teori Arhenius
Asam : Zat yang terdisosiasi dalam air yang membentuk ion hidrogen (H+)
Basa : Zat yang terdiososiasi dalam air yang membentuk ion hidroksil (OH-)
Teori Bronsted lowry
Asam : suatu zat/bahan yang cenderung memberikan sebuah proton
Basa: suatu zat/bahan yang cenderung menerima sebuah proton
Asam basa adalah proses memberi dan menerimanya proton serta pembentukan ion
hidrogen dan hidroksil
Diperkenalkan oleh Johannnes Bronsted & Thomas Lowry pada tahun 1923
Asam didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat memberikan ion hidrogen,
dan sebuah basa adalah suatu zat yang dapat menerima ion hidrogen
Dalam reaksi asam basa, ion hidrogen dipindahkan dari asam ke basa
CH3COOH(aq) + H2O(l)
H3O+(aq) + CH3COO-(aq)
Asam 1
Basa 1
Asam 2
Basa 2
Asam-basa terdapat sebagai pasangan konyugat. CH3COO- adalah basa
konyugat dari CH3COOH dan sebaliknya. H3O+ dan H2O juga membentuk
pasangan asam-basa konyugat.
HCl(dalam NH3) + NH3(l) NH4+(dalamNH3) + Cl-(dalamNH3)
Asam 1
Basa 1
Asam 2
Basa 2
Contoh asam basa bronsted lowry pada pelarut non-H2O
Beberapa molekul dan ion dapat berfungsi sebagai asam maupun sebagai basa
tergantung konsidi reaksi sehingga disebut amfoter. Sebagai contoh air dan ion
hidrogen karbonat
CH3COOH(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + CH3COO-(aq)
H2O(l)

+ NH3(aq)

NH4+(aq) + OH-(aq)

H2CO3-(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + CO22-(aq)


H2O(l)
Asam 1

+ HCO3-(aq) H2CO3(aq) + OH-(aq)


Basa 1

Asam 2

Basa 2

TEORI ASAM BASA LEWIS


Basa Lewis merupakan jenis basa yang menyumbangkan sepasang elektron
bebas (donor elektron)
Asam Lewis adalah jenis asam yang menerima sepasang elektron bebas
(akseptor elektron)
Salah satu contohnya reaksi molekul yang kekurangan elektron BF3 dengan
molekul kaya elektron NH3 membentuk BF3NH3
Definisi Lewis mensistematiskan kimia berbagai macam oksida biner yang
dapat dianggap sebagai anhidrida asam atau basa
Anhidrida asam didapatkan dengan mengambil air dari suatu asam okso
sampai hanya tertinggal oksidanya, dengan demikian CO2 merupakan anhidrida
asam karbonat (H2CO3)
CO2(g) + H2O(l) H2CO3(aq)
Oksida logam Golongan I dan II adalah anhidrida basa, yang diperoleh dengan
menghilangkan air dari hidroksida yang sesuai. Contoh kalsium oksida, CaO,
adalah anhidrida basa dari kalsium hidroksida Ca(OH)2

CaO(s) + H2O(l) Ca(OH)2(s)

Reaksi oksida asam dan basa Lewis


CaO(s) + CO2(g)
CaCO3(s)

LO.1.2 Klasifikasi Asam Basa


Berdasarkan kekuatannya
ASAM KUAT

Asam kuat adalah asam yang seluruhnya terionisasi di dalam larutan air.
Contohnya HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, dan HClO4

Kekuatan asam dari seluruh asam kuat sama besar (efek perataan) dalam
pelarut air, walaupun kemampuan untuk menyumbangkan hidrogen berbeda

Kesetimbangan reaksi asam kuat bergerak ke arah kanan (=1)

BASA KUAT
Basa kuat yaitu basa yang bereaksi sempurna menghasilkan ion OH- bila
dilarutkan dalam air. Ion amida (NH2-) dan hidrida (H-) merupakan basa kuat

Kekuatan basa dari seluruh basa kuat sama besar (efek perataan) dalam
pelarut air, walaupun kemampuan untuk menyumbangkan OH- berbeda

Kesetimbangan reaksi basa kuat bergerak ke arah kanan (=1)

ASAM LEMAH

Asam lemah jika perpindahan ion hidrogen ke air tidak berlangsung sampai
selesai (mencapai kesetimbangan)

Asam lemah merupakan elektrolit lemah


Asam lemah menghasilkan sifat koligatif yang lebih kecil daripada asam kuat
Reaksi kesetimbangan asam lemah
HA(aq) + H2O(l)H3O+(aq) + A-(aq)

Rumus kesetimbangan

[H3O+] [A-]= Ka[HA]


Ka adalah tetapan kesetimbangan asam pada suhu tertentu

BASA LEMAH

Penjelasan asam lemah mirip dengan basa lemah


Kb = ketetapan kesetimbangan basa
Basa lemah bereaksi dengan air untuk menghasilkan OHJumlah ion yang dihitung [OH-]
Kb dari basa lemah lebih kecil dari 1 dan semakin lemah suatu basa, semakin
kecil nilai Kb-nya

Berdasarkan bentuk ion


Asam anion (-), contohnya: H2SO4, SO3
Asam Kation (+), contohnya: NH4, H3O
Basa anion (-), contohnya : Cl, C
Basa kation (+), contohnya: Na+
Asam yang berasal dari proses metabolisme
1. Asam volatil : Asam yang mudah menguap, dapat berubah bentuk menjadi
cair maupun gas
Contoh : CO2
2. Asam non-volatil : Asam yang tidak mudah menguap, tidak dapat berubah
bentuk menjadi gas untuk diekskresikan oleh paru-paru, tetapi harus
diekskresikan oleh ginjal.
Dapat berupa : - Asam organik
Asam anorganik
Berdasarkan kemampuan ionisasinya asam dan basa
1. Asam dan basa monoprotik
Dapat melepaskan suatu ion H+/OH- (ionisasi primer)
2. Asam dan basa protipotik
Dapat melepaskan 3/lebih ion H+/OH- (ionisasi tersier)
3. Asam basa diprotik
Dapat melepaskan ion H+/OH- (ionisasi sekunder

LI 2. MM UKURAN KEASAMAN / pH
Lo 2.1 Definisi
Nilai pH darah menunjukkan tingkat keasaman darah dalam tubuh. Nilai normal pH
darah adalah 7,35-7,45. Nilai pH darah ini berkaitan erat dengan keseimbangan asam

basa dalam tubuh. Pada kondisi asidosis (pH darah menurun) afinitas Hb terhadap
oksigen berkurang,sehingga oksigen yg dapat ditranspor oleh darah berkurang. Pada
kondisi alkalosis (pH darah meningkat) afinitas Hb thd oksigen meningkat.
Akibatnya, uptake oksigen dlm paru-paru meningkat,tetapi pelepasan oksigen ke
jaringan-jaringan terganggu sehingga tubuh tetap kekurangan oksigen.
Asmadi,2008

Lo 2.2 Indikator Asam Basa


larutan indikator adalah zat-zat yang mempunyai warna berbeda dalam larutan
yang bersifat asam, basa, dan netral, sehingga dapat digunakan untuik membedakan
larutan yang bersifat asam, basa, dan netral. Larutan indikator akan berubah warna
jika PH (derajat keasaman) berubah. Pada suhu 25 derajat celcius maka pH + pOH =
14, untuk larutan netral pH = pOH = 7, sedangkan untuk larutan asam pH lebih kecil
7 dan larutan basa lebih besar 7. Jadi, pH merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen
atau ukuran keasaman larutan. Ada dua macam indikator, yaitu:
Indikator penunjuk asam adalah indikator yang akan berubah
warnanya, jika konsentrasi asam berubah sedikit saja. Daerah
perubahan warna untuk indikator ini kurang dari 7.
Indikator penunjuk basa adalah indikator yang akan berubah
warnanya, jika konsentrasi basa (OH) berubah sedikit saja. Daerah
perubahan warnanya lebih dari 7.

Di laboratorium, indikator yang sering digunakan adalah larutan fenolftalein (PP),


metil merah, dan metil orange.
Table beberapa indicator Asam-Basa yang lazim
Indikator

Warna
Dalam Asam

Dalam Basa

Kisaran pH

Timol biru

merah

Kuning

1,2-2,8

Bromofenol biru

Kuning

Ungu kebiruan

3,0-4,6

Metil jingga

Jingga

Kuning

3,1-4,4

Metil merah

Merah

Kuning

4,2-6,3

Klorofenol biru

Kuning

Merah

4,8-6,4

Bromotimol biru

Kuning

Biru

6,0-7,6

Kresol merah

Kuning

Merah

7,2-8,8

fenolftalein

Tidak berwarna

Pink kemerahan

8,3-10,0

*kisaran pH didefinisikan sebagai kisaran di mana indicator berubah dari


warna asam ke warna basa

Lo 2.3 Cara menentukan pH


Yang digunakan untuk mengukur pH suatu larutan adalah:
- Kertas lakmus, kertas lakmus berubah menjadi merah bila keasaman
larutan naik (asam), sedangkan berubah menjadi warna biru bila jika
tingkat keasamaan larutan turun (basa). Penggunaan kertas lakmus ini
adalah pengukuran yang paling sederhana, tetapi tidak dapat menentukan
nilai pasti pH tersebut, hanya menunjukkan asam atau basa.
- Indikator universal, substansi yang dapat berubah warna diantara berbagai
ukuran pH. Indikator tidak memberikan gambaran lebih spesifik terhadap
nilai pH dibandingkan dengan kertas lakmus. Indikator universal
merupakan gabungan berbagai indikator yang diikuti dengan perubahan
warna dari pH 2 10. Berbagai macam indikator universal, yaitu :
Thimol biru 1 pH 1,2 2,2 merah oranye
Metil merah pH 4,4 6,2 merah kuning
Bromtimol biru pH 6,0 7,6 kuning biru
Thimol biru 2 pH 8,0 9,6 kuning biru
Fenolphtalein pH 8,3 10 tdk berwarna ungu
- Menggunakan alat pH meter yaitu alat yang digunakan di lab untuk
menentukan pH dari suatu larutan dan nilainya tertera sangat jelas.
pH meter bekerja berdasarkan prinsip elektrolit atau konduktivitas
suatu larutan. (http //chem-is-try.org/pengukuran pH/oleh Jim Clark
Lo 2.4 Keseimbangan Asam-Basa (Asam lemah / Basa lemah)

LI 3. MM ASPEK BIOLOGIS DAN FISIOLOGIS


KESEIMBANGAN ASAM BASA

Lo 3.1 Definisi
Keseimbangan asam-basa adalah keseimbangan ion [H+]. Suatu keadaan
dimana konsentrasi ion H yang diproduksi setara dengan kosentrasi ion
Hyang di keluarkan oleh sel. Pada proses kehidupan keseimbangan asam
pada tingkat molekular umumnya berhubungan dengan asam lemah dan basa
lemah, begitu pula pada tingkat kosentrasinya ion H atau ion OH yang sangat
lemah.
Lo 3.2 Mekanisme
Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengatur keseimbangan asam basa
dalam darah yaitu:
1. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk
ammonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau
basa yang dibuang yang biasanya berlangsung selama beberapa hari
2. Tubuh menggunakan penyangga pH atau buffer dalam darah sebagai
pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba tiba dalam pH
darah. Suatu penyangga pH bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan
perubahan pH suatu larutan.
Penyangga pH yang paling penting dalam darah menggunakan
bikarbonat. Bikarbonat adalah komponen basa yang berada dalam
keseimbangan dengan karbondioksida (suatu komponen asam).
Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan
dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida, jika
lebih banyak basa yang masuk ke aliran tubuh, maka akan dihasilkan lebih
banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat
3. pembuangan karbondioksida
karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolism oksigen
dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel.
Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru karbondioksida
dikeluarkan (dihembuskan).
Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang
dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman
pernafasan.

Jika pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah menurun


dan darah menjadi lebih basa. Jika pernafasan menurun, kadar
karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam.
Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat
pernafasan dan paru mampu mengatur pH darah menit demi menit.
Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hidrogen, Karena ion [
] berpengaruh besar dalam keseimbangan asam-basa, maka faktor yang
mempengaruhi [

] juga mempengaruhi keseimbangan asam basa, yaitu:

a) Lebihnya kadar [

Pembentukan

] yang ada dalam cairan tubuh, berasal dari


C

yang sebagian berdisosiasi menjadi H+ dan

HC

Katabolisme zat organik


Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedik, contoh pada
metabolik lemak terbentuk asam lemak dan laktat yaitu melepaskan

[H+]
b) Keseimbangan intake dan output ion [H+] tubuh
Bervariasi tergantung dari:
Diet ( makanan ), H+ naik, jika kebanyakan makan asam (asidosis),
sedangkan dengan mengkonsumsi sayur dan buah bersifat basa
banyak menghasilkan HC

Aktivitas yaitu lari cepat membuat tubuh kita asam karena

menghasilkan banyak CO2 sehingga pH turun


Proses anaerob yaitu lebih banyak penumpukan asam laktat seperti
olahraga berat sehingga menimbulkan reaksi asam dan membuat
pH turun

Pengaturan keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui koordinasi


dari tiga sistem,yaitu :
1. Sistem buffer

Sistem buffer kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam basa


sementara. Jika dengan buffer kimia tidak cukup memperbaiki, maka
pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru paru yang merespon secara
cepat terhadap perubahan ion H+ dalam darah karena rangsangan
kemoreseptor dan pusat pernafasan mempertahankan kadar [H+] sampai
ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, ginjal mampu
meregulasi ketidakseimbangan ion H+ dengan mensekresikan ion H+ dan
menambahkan HC

baru dalam darah karena memiliki dapar fosfat.

Fungsi utama sistem buffer ini adalah mencegah perubahan pH yang


disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organik pada cairan
ekstraseluler. Sistem ini memiliki keterbatasan, yaitu :
Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang

disebabkan karena peningkatan CO2


Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendali

sistem pernafasan bekerja normal.


Kemampuan menyelenggarakan sistem buffer tergantung pada
tersedianya ion bikarbonat.

Didalam tubuh terdapat beberapa sistem buffer, yaitu :


Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat
Sistem buffer ini merupakan suatu komponen yang paling penting pada
pengaturan pH cairan ekstraseluler. sistem buffer bikarbonat ini dengan
pengaturan kadar karbondioksida di paru dan bikarbonat di ginjal. Bila
terjadi peningkatan ion hidrogen, terjadi interaksi dengan ion bikarbonat
sehingga terbentuk asam karbonat. Asam karbonat yang terbentuk akan
mengalami disosiasi menjadi CO2 dan air, dan CO2 yang dihasilkan akan
dikeluarkan melalui paru.
Sistem buffer hemoglobin
Buffer hemoglobin (Hb) merupakan buffer intraseluler yang bekerja di
dalam sel darah merah. Buffer utama cairan ekstraseluler adalah sistem
bikarbonat dan hemoglobin. Hb penting untuk pengangkutan oksigen ke
jaringan, pengangkut CO2 dan sebagai sistem buffer yang kuat.
Sistem buffer protein

Sistem buffer protein berfungsi mengatur pH cairan ekstraserselular dan


interstitial.
Sistem buffer Fosfat
Sistem dapar ini berperan penting dalam pendaparan cairan tubulus ginjal
dan cairan intrasel. Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat
sangat penting dalam mengatur pH darah.
(Guyton, 2008)
2.

Sistem respiratorik (sistem paru)


Sistem pernapasan berperan penting bagi keseimbangan asam-basa
karena kemampuannya mengubah ventilasi paru-paru sehingga dapat
mengubah kecepatan ekskresi C
konsentrasi

penghasil

yang diatur oleh

arteri.

Jika konsentrasi

meningkat, pusat pernapasan di batang otak secara

refleks terangsang untuk meningkatkan C

ventilasi paru-paru yang

mengakibatkan kedalaman nafas meningkat sehingga lebih banyak yang


dikeluarkan sehingga jumlah
tubuh berkurang. Karena C

yang ditambahkan ke dalam cairan


membentuk asam, pengeluaran C

pada

dasarnya adalah pengeluaran asam dari tubuh. Jadi, pH tubuh dapat


kembali ke pH normal. Jadi, peningkatan ventilasi alveolus menurunkan
konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler dan meningkatkan pH.
Begitu pula sebaliknya.
3. Sistem metabolik (sistem ginjal)
Ginjal mampu memulihkan pH hampir tepat ke normal walaupun

membutuhkan waktu yang lebih lama.


Ginjal mengontrol pH cairan tubuh dengan menyesuaikan 3 faktor yaitu :
a. Ekskresi ion hidrogen
b. Ekskresi bikarbonat
c. Sekresi amonia

LI 4. MM GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM-BASA

Penyimpangan status asam-basa normal dibagi menjadi empat kategori umum,


bergantung pada sumber dan arah perubahan abnormal [H +]. Kategori-kategori
tersebut adalah asidosis respiratorik, alkalosis respiratorik, asidosis metabolik, dan
asidosis respiratorik.
Pemeriksaan gas darah di arteri dapat menunjukkan kondisi asam basa di dalam
tubuh, dengan menggunakan 3 indikator : pH, PaC O2 dan HCO3.
1. pH netral di dalam cairan ekstra seluler : 7,35 7,45
pH < 7,35
: asidosis
pH > 7,45
: alkalosis
2. PaCO2, merupakan komponen respirasi : normal 35 45 mmHg
PaCO2 > 45 mmHg : asidosis respirasi
PaCO2 < 45 mmHg : alkalosis respirasi
3. HCO3, merupakan ginjal atau metabolik : normal 24 28 mEq/L
HCO3 > 28 mmHg
: alkalosis metabolik
HCO3 < 24 mmHg
: asidosis metabolik
4. Base Excess, nilai normalnya 2 s/d +2 berkaitan dengan nilai bikarbonat 24
28 mEq/L ( 2 = 24 mEq/L dan + 2 = 28 mEq/L)
(Suyoto,2009)
1. Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik (kekurangan HC

) adalah gangguan sistemik yang

ditandai dengan penurunan primer kadar bikarbonat plasma, sehingga


menyebabkan terjadinya penurunan pH (peningkatan [

]). [HC

] ECF

adalah kurang dari 22 mEq/L dan pH-nya kurang dari 7.35. Kompensasi
pernapasan kemudian segera dimulai untuk menurunkan PaC

melalui

hiperventilasi sehingga asidosis metabolik jarang terjadi secara akut.


Etiologi
- Pembentukan asam yang berlebihan di dalam tubuh
- Berkurangnya kadar ion HC

dalam tubuh

- Retensi ion H+ dalam tubuh.


- Penambahan asam
Oksidasi lemak tak sempurna pada asidosis dibetika / kelaparan
Oksidasi karbohidrat tak sempurna pada asidosis laktat
- Pengurangan bikarbonat : asidosis tubulus ginjal, diare, kolostomi, dan
ileostomi
- Berbagai gangguan, seperti gagal ginjal, asidosis laktat, produksi badan
keton naik, hyperaldosteron, keracunan
Manifestasi
Gejala serta tanda asidosis metabolik cenderung tidak jelas, dan pasien dapat
asimtomatik, kecuali jika [HCO3-] serum turun sampai di bawah 15 mEq/L.
Pernafasan kussmaul (nafas dalam dan cepat yang menunjukan adanya
hiperventilasi kompensatorik) mungkin lebih menonjol pada asidosis akibat
ketoasidosis diabetik dibandingkan pada asidosis akibat gagal ginjal. Gejala
dan
tanda
utama
asidosis
metabolik
adalah
kelainan
kardiovaskular,neurologis, dan fungsi tulang.

2. Alkalosis Metabolik
Alkalosis metabolik (kelebihan HCO3-) adalah suatu gangguan sistemik yang
dicirikan dengan adanya peningkatan primer kadar HCO 3- plasma, sehingga
menyebabkan peningkatan pH (penurunan [H+]. [HCO3-] ECF lebih besar
dari 26 mEq/L dan pH lebih besar dari 7.45. Alkalosis metabolik sering
disertai dengan berkurangnya volume ECF dan hipokalemia.
Etiologi
- Kekurangan H+ dari ECF (Muntah,penyedotan nasogastrik, diare dengan
kehilangan
klorida, diuretik, hipokalemia)
- Retensi HCO3- (Pemberian natrium bikarbonat berlebihan, sindrom susu
alkali)
Manifestasi
Tidak terdapat gejala dan tanda alkalosis metabolik yang spesifik. Adanya
gangguan ini harus dicurigai pada pasien yang memiliki riwayat muntah,
penyedotan, nasogastrik, pengobatan diuretik atau pasien yang baru sembuh
dari gagal nafas (Hiperkapnia)
3. Asidosis Respiratorik
Asidosis respiratorik (kelebihan H2CO3) ditandai dengan peningkatan primer
PaCO2
(hiperkapnia), sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pH: PaCO2 lebih
besar dari 45 mmHg dan pH kurang dari 7.35. Kompensasi ginjal
mengakibatkan peningkatan HCO3- serum. Asidosis respiratorik dapat timbul
secara akut maupun kronis.
Etiologi
Hambatan pada pusat pernafasan di medula oblongata (henti jantung
akut), terapi oksigen pada hiperkapnia kronis, apnea saat tidur, obatobatan:overdosis opiat, sedatif)
Gangguan pada otot-otot pernafasan
(penyakit neuromuskular, kifoskoliosis, obesitas yang berlebihan,
cedera dinding dada)
Gangguan pertukaran gas
(emfisema dan bronkitis, edema paru akut, pneumonia, pneumotoraks)
Obstruksi saluran nafas atas akut
(aspirasi benda asing atau muntah, langiospasme atau edema laring)
Manifestasi
Gejala dan retensi CO2 tidak bersifat khas dan pada umumnya tidak
mencerminkan kadar PaCO2 selain itu asidosis respiratorik akut maupun
kronis selalu disertai oleh hipoksemia sehingga hipoksemia bertanggung
jawab atas banyak tanda-tanda klinik akibat retensi CO2.
4.

Alkalosis Respiratorik
Alkalosis respiratorik (kekurangan asam karbonat) adalah penurunan
primer PaCO2 (hipokapnia), sehingga terjadi penurunan pH. PaCO2 <35
mmHg dan pH >7,45. Kompensasi ginjal berupa penurunan ekskresi H +
akibat lebih sedikit absorpsi HCO3- serum berbeda-beda, bergantung pada
keadaannya yang akut atau kronis.

Etiologi
Rangsangan pusat pernafasan
(Hiperventilasi, hipermetabolik, tumor otak, cedera kepala, intoksikasi
salisilat)
Hipoksia
(Gagal jantung kongestif, fibrosis paru, tinggal ditempat yang tinggi,
asma, edema paru)
Ventilasi mekanisme yang berlebihan
Mekanisme yang belum jelas
(Sepsis gram negatif, sirosis hepatis)
Latihan fisik
Manifestasi
Terdapat pola pernafasan yang berbeda-beda pada sindrom hiperventilasi
yang diinduksi oleh kecemasan; mulai dari pernafasan yang normal
sampai pernafasan yang jelas tampak lebih cepat, dalam, dan panjang.
Pasien seringkali terlihat banyak menguap dan gejala mencolok lainnya
adalah kepala terasa ringan, parestasi sekitar mulut. Apabila alkalosis
yang terjadi cukup parah dapat timbul tetani seperti spasme karpopedal.
Pasien dapat mengeluh kelelahan kronis, jantung berdebar-debar, cemas,
mulut terasa kering, dan tidak bisa tidur. Gejala alkalosis respiratorik
berat dapat disertai dengan ketidakmampuan berkonsentrasi, kekacauan
mental, dan sinkop.
(Prince & Wilson,2006)

Kompensasi Gangguan Keseimbangan asam basa


Bila terjadi keadaan asidosis atau alkalosis maka tubuh akan melakukan
mekanisme kompensasi oleh paru-paru dan ginjal, dengan merubah komponen
PaCO2 dan HCO3.
- Asidosis Respiratorik
Respon kompensasi adalah peningkatan HCO3 plasma, yang disebabkan
oleh penambahan bikarbonat baru ke dalam cairan ekstrasel oleh ginjal.
Peningkatan bikarbonat membantu mengimbangi peningkatan PCO2,
sehingga mengembalikan pH plasma kembali normal.
- Asidosis Metabolik
Kompensasi primernya meliputi peningkatan kecepatan ventilasi, yang
mengurangi PCO2 dan kompensasi ginjal, yang dengan menambahkan
bikarbonat baru ke cairan ekstrasel membantu memperkecil penurunan
awal konsentrasi HCO3 ekstrasel.
- Alkalosis Respiratorik
Respon kompensasi terhadap pengurangan PCO2 primer pada alkalosis
respiratorik adalah pengurangan konsentrasi HCO3 plasma, yang
disebabkan oleh peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal.
- Alkalosis Metabolik
Kompensasi utamanya adalah penurunan ventilasi, yang meningkatkan
PCO2 dan peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal, yang membantu
mengkompensasi peningkatan awal konsentrasi HCO3 cairan ekstrasel.
(Prince & Wilson,2006)