Anda di halaman 1dari 49

Gambar Sampul DC 105 corrosion missionment system

1

ISSN : 2089-3396 Volume 46, No. 2 Agustus 2012 Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi
ISSN : 2089-3396
Volume 46, No. 2 Agustus 2012
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi adalah media untuk mempromosikan kegiatan penelitian
dan pengembangan teknologi di bidang minyak dan gas bumi yang telah dilakukan oleh
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”
Pemimpin Redaksi
:
Dra. Yanni Kussuryani, M.Si. (Kimia)
Wakil Pemimpin Redaksi
: Ir. Daru Siswanto (Teknik Kimia)
Redaktur Pelaksana
: Drs. Heribertus Joko Kristadi, M.Si. (Geo fi sika)
Dewan Redaksi
:
1. Prof. Dr. Maizar Rahman (Teknik Kimia)
2. Ir. E. Jasjfi , M.Sc., APU (Teknik Kimia)
3. Prof. Dr. Suprajitno Munadi (Geofi sika)
4. Prof. M. Udiharto (Biologi)
5. Prof. Dr. E. Suhardono (Kimia Industri)
6. Dr. Ir. Bambang Widarsono, M.Sc. (Teknik Perminyakan)
Redaksi
:
1. Dr. Ir. Usman, M.Eng. (Teknik Perminyakan)
2. Ir. Sugeng Riyono, M.Phil. (Teknik Kimia)
3. Dr. Ir. Eko Budi Lelono (Ahli Palinologi)
4. Abdul Haris, S.Si., M.Si. (Lingkungan dan Kimia)
5.
Ir. Bambang Wicaksono T.M., M.Sc. (Geologi Perminyakan)
Mitra Bestari
:
1. Prof. Dr. Ir. Septoratno Siregar (Teknik Perminyakan)
2. Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata (Teknik Geologi))
3. Prof. Dr. Wahjudi Wiratmoko Wisaksono (Energi dan Lingkungan)
4. Dr. Ir. M. Kholil, M.Kom. (Manajemen Lingkungan)
5. Ferry Imanuddin Sadikin, S.T., M.E. (Teknik Elektro)
Sekretaris
:
Urusan Publikasi
Penerbit
: Bidang A fi liasi dan Informasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”
Pencetak
:
Grafi ka LEMIGAS
Alamat Redaksi
Sub Bidang Informasi, Bidang Afiliasi dan Informasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas
Bumi “LEMIGAS” Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230. Tromol Pos : 6022/
KBYB-Jakarta 12120, INDONESIA, STT : No. 119/SK/DITJEN PPG/STT/1976, Telepon : 7394422 - ext. 1222, 1223,
1274, Faks : 62 - 21 - 7246150, E-mail: management@lemigas.esdm.go.id
Majalah Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi diterbitkan sejak tahun 1970 dengan nama awal Lembaran Publikasi
LEMIGAS (LPL), 3 kali setahun. Redaksi menerima Naskah Ilmiah tentang hasil-hasil Penelitian, yang erat hubungannya
dengan Penelitian Minyak dan Gas Bumi.
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak
dan Gas Bumi “LEMIGAS”. Penanggung Jawab : Dra. Yanni Kussuryani, M.Si., Redaktur : Ir. Daru Siswanto.
ISSN : 2089-3396 Volume 46, No. 2, Agustus 2012 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ii
ISSN : 2089-3396
Volume 46, No. 2, Agustus 2012
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI
ii
PENGANTAR
iii
LEMBAR SARI DAN ABSTRACT
iv
PENGEMBANGAN METODA UJI DISTILASI TEKANAN VAKUM
ASTM D1160 PADA PENGUJIAN SIFAT PENGUAPAN BIODIESEL
Muhammad Fuad
53 - 59
PENGARUH PENAMBAHAN DIMETHYL ETHER PADA LPG
TERHADAP EMISI GAS BUANG HASIL PROSES PEMBAKARAN
BURNER INDUSTRI KECIL
Cahyo Setyo Wibowo, Bambang Heru S dan Richo Candra RB
61 - 67
KAJIAN KOMPOSISI HIDROKARBON DAN SIFAT FISIKA-KIMIA
LPG UNTUK RUMAH TANGGA
Lisna Rosmayati
69 - 77
KINERJA MESIN PENGGERAK GENERATOR 4,8 KVA
BERBAHAN BAKAR CAMPURAN DME-LPG
Maymuchar
79 - 84
EKSPLORASI DAN PENGEMBANGAN MIGAS NON-KONVENSIONAL
RAMAH LINGKUNGAN
Djoko Sunarjanto
85 - 93
PENGANTAR Pembaca yang Budiman, Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi mempunyai peranan penting dalam penyebaran
PENGANTAR
Pembaca yang Budiman,
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi mempunyai peranan penting dalam penyebaran
informasi hasil-hasil penelitian dan kajian migas bagi masyarakat dunia ilmu pengetahuan dan industri
migas di Indonesia.
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Volume 46 No. 2 Agustus 2012 menyajikan beberapa
tulisan hasil studi dan penelitian, yakni:
1. Pengembangan Metode Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat
Penguapan Biodiesel; 2. Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG terhadap Emisi Gas
Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil; 3. Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat
Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga; 4. Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8KVA Berbahan
Bakar Campuran DME-LPG; 5. Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah
Lingkungan. Tim Redaksi berharap Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi edisi Agustus 2012
ini bisa menjadi rujukan bagi para penulis/peneliti. Oleh karena itu saran dan masukan pembaca
sangat diharapkan untuk lebih sempurnanya terbitan Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi
berikutnya.
Dewan redaksi dan dewan penerbit, serta penanggung jawab majalah Lembaran Publikasi
Minyak dan Gas Bumi mengucapkan terima kasih kepada para penulis, penelaah dan penyunting
yang telah bekerja keras hingga terbitnya majalah Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi
edisi ini.
Jakarta,
Agustus 2012
Redaksi
LEMBARSARI DANABSTRACT ISSN : 2089-3396 Terbit : Agustus 2012 Kata Kunci yang dicantumkan adalah istilah
LEMBARSARI DANABSTRACT
ISSN : 2089-3396
Terbit : Agustus 2012
Kata Kunci yang dicantumkan adalah istilah bebas. Lembaran Abstrak ini boleh disalin tanpa izin dan biaya.
Muhammad Fuad (Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi
”LEMIGAS”)
Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan
Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat
Penguapan Biodiesel
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46
No. 2 Agustus 2012 hal. 53 - 59
ABSTRACT
ABSTRAK
Biodiesel Volatility is determined by reduced
pressure distillation ASTM D1160 Test method. Ac-
cording to SNI specifi cation, sets biodiesel volatility
temperature at level 90% vol. distillate recovery, not
exceed of 360 o C AET. To measure precisely biodiesel
volatility at reduced pressure distillation, depend on
parameter of vacuum pressure, Initial Heating power,
Initial Heating time, second heating power and cooling
media temperature. ASTM D1160 specifi ed distillate
Metoda uji distilasi tekanan vakum ASTM
D1160 merupakan metoda uji yang digunakan
untuk menentukan sifat penguapan biodisel. Sifat
penguapan biodisel sangat penting, karena terkait
dengan mutu proses pembakaran di mesin disel.
Keakuratan metoda distilasi, sangat ditentukan oleh
variabel kondisi operasi alat seperti: daya pemanasan
awal, daya pemanasan lanjutan, waktu pemanasan,
suhu media pendingin dan tekanan vakum yang
dipakai. Keakuratan hasil uji sesuai acuan ASTM
D-1160, ditentukan berdasarkan sifat kestabilan
tetesan distilat, yang besarnya antara 6-8 ml/menit
pada tingkat perolehan distilat 10% sampai 90% vol.
Dari hasil pengembangan kombinasi Program File
pada alat distilasi tekanan vakum ASTM D-1160
otomatis, untuk keakuratan hasil uji penguapan
biodisel dengan densitas antara 0.879-0.900 gr/ml,
yang relatif baik, dicapai pada kondisi alat: tekanan
vakum 3 mmhg, suhu media pendingin 30 o C, daya
pemanasan awal 180 Watt, waktu pemanasan
7 menit, daya pemanasan lanjutan 75-80 watt.
Sedangkan untuk biodisel dan produk biodisel
ringan dengan densitas antara 0.8330-0.8560 gr/ml,
dicapai pada kondisi alat: daya pemanasan awal 175
watt, waktu pemanasan 6 menit, daya pemanasan
lanjutan 70 watt, suhu media pendingin 30 o C. Durasi
operasi kerja alat dari IBP-EP antara 32-35 menit.
Kata kunci: distilasi vakum, biodisel, metoda uji,
sifat penguapan, IBP
fl ow rate of sample normally 6-8 ml/minutes at level
10%-90% vol. Based on simulation fi le program on
automatic reduced pressure distillation ASTM D1160,
precise data result of biodiesel volatilty is achieved
at operation condition: pressure of 3 mmhg, cooling
media temperature of 30 o C, Initial Heating of 180 watt,
Initial Heating time of 7 minutes, second heating of 80
watt , for sample by density 0,8790-0.9003 gr/ml. Du-
ration of distillation running from IBP to EP average
is 35 minutes. For sample by density 0.8330-0.8560
gr/ml, at operation condition: pressure of 3 mmhg,
cooling media temperature of 30 o C, Initial Heating
of 175 watt, Initial Heating time of 6 minutes, second
heating of 70 watt. Duration of distillation running
from IBP to EP average is 32-35 minutes.
Author
Keywords: vacuum distillation, biodiesel, test method,
volatility, IBP
Cahyo Setyo Wibowo 1) , Bambang Heru S 2) dan Richo Candra RB 3) (
Cahyo Setyo Wibowo 1) , Bambang Heru S 2) dan Richo
Candra RB 3) ( 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” ,
2), Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas
Indonesia, 3) Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia)
Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG
terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pemba-
karan Burner Industri Kecil
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46
No. 2 Agustus 2012 hal. 61 - 67
ABSTRAK
Adanya program konversi minyak tanah ke LPG
menyebabkan pemakaian LPG untuk keperluan ru-
mah tangga meningkat drastis, sehingga terjadi ke-
langkaan LPG di pasaran. Oleh karena itu, pemerintah
bermaksud menggunakan DME sebagai alternatif
pengganti LPG, mengingat DME mempunyai sifat
yang hampir sama dengan LPG. Dalam penelitian ini
telah dilakukan pencampuran dimethyl ether (DME)
dan lique fi ed petroleum gas (LPG) sebagai bahan
bakar, kemudian menguji emisi gas buang serta nyala
api dari hasil pembakaran bahan bakar tersebut pada
burner industri kecil. DME yang ditambahkan pada
LPG sebesar 10%, 20%, 30%, 35%, 40% dan 50%
(v/v). Emisi gas yang di analisis adalah gas oksida-
oksida sulfur (SOx), oksida-oksida nitrogen (NOx),
dan karbon monoksida (CO). Pengambilan sampel
gas emisi SOx dan NOx menggunakan alat Stack gas
sampler (SGS), sedangkan gas CO menggunakan alat
gas analyzer. Gas SOx dianalisis menggunakan spek-
trofotometer dengan metode turbidimetri sedangkan
gas NOx dianalisis dengan metode phenol disulfonic
acid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek pe-
nambahan DME pada LPG dapat menurunkan emisi
gas buang SOx, NOx dan CO. Masing-masing nyala
yang dihasilkan pada campuran gas LPG-DME lebih
biru dibandingkan gas LPG.
Kata Kunci: DME, LPG, emisi, nyala api
ties of DME are almost the same as LPG. In the study
research of DME and LPG has been carried out. The
exhaust emissions produced by burning fuel on the
stove are being examined. In this research has been
done mixing dimethyl ether (DME) and LPG as fuel,
and then rest the exhaust emissions and fl ames from
the burning fuel on the stove. DME is added to LPG
by 10%, 20%, 30%, 35%, 40%, and 50% (v/v). Gas
emissions in the analysis are the gas sulfur oxide
(SOx), nitrogen oxides (NOx) and carbon monoxide
(CO). The sampling of gas emission of SOx and NOx
using a Stack gas sampler (SGS), while the CO gas
using a gas analyzer. SOx gases were analyzed using
a spectrophotometer by the turbidimetri method while
NOx gases were analyzed by the phenol disulfonic
acid method. The result showed that the Effect the ad-
dition of DLME to LPG is to lower emission of SOx,
NOx and CO. Each fl ame generated in LPG-DME
gas mixture is bluer than the LPG gas.
Author
Keywords: DME, LPG, emission, fl ame
Lisna Rosmayati (Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” )
Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat
Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46
No. 2 April 2012 hal. 69 - 77
ABSTRAK
ABSTRACT
Due to the conversion program from kerosene to
LPG, the consumption of LPG for domestic increase
dramatically. There is a shortage of LPG at the market
occurs. Therefore government has a policy to use the
DME as an alternative, instead of LPG. The proper-
Spesifi kasi bahan bakar LPG (Liquefi ed Petro-
leum Gases) untuk rumah tangga yang ditentukan
pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi mensyaratkan
batasan-batasan komposisi hidrokarbon dan sifat
fi sika kimia LPG yang digunakan di dalam negeri.
Parameter yang ditetapkan adalah C 2 , C 3 , C 4 dan
C 5 , vapour pressure, weathering test, copper strip
corrosion, total sulfur dan kandungan air. Kuali-
tas dan mutu LPG sebagai bahan bakar gas untuk
rumah tangga yang beredar di dalam negeri harus
selalu dijaga untuk meningkatkan rasa aman dan
meminimalkan potensi bahaya dalam penggunaan
bahan bakar tersebut. Monitoring LPG sebagai bahan
bakar rumah tangga ini akan melihat batasan-batasan
komposisi hidrokarbon dan sifat fisika-kimia sampel
LPG yang dibandingkan atau disesuaikan dengan
spesi fi kasinya. Sampel LPG diambil di beberapa depot, stasiun pusat pengisian bulk LPG (SPPBE)
spesi fi kasinya. Sampel LPG diambil di beberapa
depot, stasiun pusat pengisian bulk LPG (SPPBE)
dan agen di beberapa wilayah di Indonesia. Tulisan
ini membahas kajian komposisi hidrokarbon dan sifat
fisika-kimia bahan bakar LPG rumah tangga terhadap
spesifikasinya. Adanya penyimpangan dalam batasan
mutu komposisi LPG tersebut akan ditindaklanjuti
terkait kegiatan pengawasan mutu LPG oleh pihak
yang berwenang.
Kata Kunci: LPG, komposisi, spesifi kasi
ABSTRACT
LPG (Liquefied Petroleum Gases) specification is
for residential determined by government regulation
that declares some limitation in LPG hydrocarbon
composition and physical-chemical properties in
domestic. LPG speci fi cation covering C2, C3, C4
and C5, vapour pressure, weathering test, copper
strip corrosion, total sulphur and water content.
Quality of LPG as gas fuel for residential should
be maintained to increase its safety and to minimize
hazardous potential in using that LPG fuel. The
laboratory result of LPG monitoring is compared to
LPG specifi cation. LPG fuel samples were obtained
from some depots, terminal, SPPBE ( LPG Bulk Fill-
ing Station) and agent in some location in Indonesia.
This paper will cover hydrocarbon composition,
physical and chemical properties of LPG gas fuel
refer to its specifi cation. Deviation in LPG quality
will be warned by authority.
kar pengganti LPG, maka perlu dilakukan pengujian.
Pengujian pada penelitian ini dilaksanakan terhadap
mesin pembangkit listrik (generator) berkapasitas 4.8
KVA berbahan bakar LPG. Variasi campuran DME
pada LPG pada penelitian ini adalah 10%, 20%, 30%
40%, dan 50% dan variasi pembebanan dari 500 sam-
pai dengan 4.500 watt. Parameter pengujian kinerja
mesin penggerak generator ini dilakukan dengan
mengamati emisi gas buang seperti CO, CO 2 , HC dan
NOx serta secara kualitatif kestabilan operasi mesin.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata
emisi CO 2 mengalami peningkatan dengan bertam-
bahnya komposisi DME pada setiap kenaikan beban.
Sedangkan emisi CO dan HC mengalami penurunan
pada kondisi tersebut. Emisi NOx juga mengalami
peningkatan dengan penambahan komposisi DME
dan setiap kenaikan beban. Operasi mesin tidak stabil
terjadi pada kondisi pembebanan 4.000 watt dengan
komposisi DME 50% dalam LPG.
Kata Kunci: DME, LPG, mesin pembangkit listrik
ABSRACT
Author
Keywords: LPG, composition, specifi cation
Maymuchar (Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” )
Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8KVA
Berbahan Bakar Campuran DME-LPG
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46
No. 2 Agustus 2012 hal. 79 - 84
ABSTRAK
Dimetil eter (DME) memiliki karakteristik yang
hampir sama dengan LPG. Dengan kemiripin tersebut
DME dapat dijadikan sebagai bahan bakar yang dapat
dalam bentuk campuran dengan LPG bahkan dapat
menggantikan LPG sepenuhnya. Untuk mengetahui
sejauh mana DME dapat berperan sebagai bahan ba-
Dimethyl Ether (DME) has similar character-
istics to LPG. DME can be used either as fuel in
the form of a mixture with LPG or even as a fuel
substitute LPG completely. In order to fi nd out the
extent of DME’s role as an alternative fuel replac-
ing LPG, a test should be carried out.The test was
carried out on engine power (generator) with the
capacity of 4.8 KVA LPG fuel. The variaty on LPG
DME mixture in this study were 10%, 20%, 30%
40%, and 50% and the variaty of electrical load from
500 watt up to 4.500 watt. The testing parameter
for the generator engine performance was done by
observing the emissions of CO, CO 2 , HC and NOx as
well as the engine operation stability qualitatively.
The result of the test on the average CO 2 emissions
shows that the emmission increases for every addi-
tion of DME at the increasing of electrical load, on
the other hand CO emmision and HC concentration
decreases. NOx also increases for every addition of
DME at the increasing of electrical load. The engine
is unstable at the 4.000 watt eletrical load with 50%
DME compotition in LPG.
Author
Keywords: DME, LPG, engine generator
Djoko Sunarjanto (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” ) Eksplorasi dan
Djoko Sunarjanto (Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” )
Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-
Konvensional Ramah Lingkungan
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 46
No. 2 Agustus 2012 hal. 85 - 93
Kata kunci: eksplorasi, migas non-konvensional,
lingkungan
ABSTRACT
ABSTRAK
LEMIGAS sebagai lembaga litbang milik pemer-
intah telah mengawali pengembangan Gas Metana
Batubara (GMB) di Indonesia. Kegiatan ini telah
berhasil dengan baik dan diikuti dengan ditanda-
tanganinya sebanyak 50 kontrak kerjasama pengem-
bangan GMB selama kurun waktu lima tahun terakhir
(2008-2012). Pada akhir tahun 2011, telah berhasil
mengkonversi GMB menjadi tenaga listrik yang ra-
mah lingkungan dalam program CBM to power.
Analisis komparatif mengikuti sukses eksplorasi
GMB LEMIGAS, saat ini sedang dilakukan peneli-
tian shale gas di dua cekungan migas, di Cekungan
Sumatra Utara dan Cekungan Barito. Dari ke dua
cekungan tersebut akan dipilih satu cekungan untuk
dilakukan uji coba (pilot test) dengan tujuan untuk
mengetahui dapat tidaknya potensi shale gas di
cekungan tersebut dikembangkan dalam skala ko-
mersial. Diharapkan GMB, shale gas/oil, tight sand
gas segera dapat dikembangkan guna mulai meng-
gantikan migas konvensional.
LEMIGAS as the government research and de-
velopment institutions has initiated the development
of Coal Bed Methane (CBM) in Indonesia. This
activities has worked well and was followed by the
signing of 50 Production Sharing Contracts of CBM
development during the period of fi ve years (2008-
2012). At the end of 2011, has managed to convert
CBM into electricity is environment friendly in the
CBM to Power program.
Comparative analysis with following the suc-
cessful exploration of CBM LEMIGAS, currently
is conducted research on shale gas in two oil and
gas basins, in the North Sumatra Basin and Barito
Basin. Of the two basins one will be selected as a
pilot basin for trials, conducted with the aim to de-
termine whether or not the potential of shale gas in
the basin can be developed on a commercial scale.
Expected coal methane gas, shale gas/oil, tight sand
gas can be developed to initiate the replacement of
conventional oil and gas.
Author
Keywords: exploration, non-conventional oil and
gas, environment

Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat Penguapan Biodiesel (Muhammad Fuad)

Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat Penguapan Biodiesel

Muhammad Fuad

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telepon: 62-21-7394422, Fax: 62-21-7246150 Email : mfuad@lemigas.esdm.go.id Teregistrasi I tanggal 5 Maret 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 9 Juli 2012 Disetujui terbit tanggal : 31 Agustus 2012

ABSTRAK

Metoda uji distilasi tekanan vakum ASTM D1160 merupakan metoda uji yang digunakan untuk menen-

tukan sifat penguapan biodisel. Sifat penguapan biodisel sangat penting, karena terkait dengan mutu proses pembakaran di mesin disel. Keakuratan metoda distilasi, sangat ditentukan oleh variabel kondisi operasi alat seperti: daya pemanasan awal, daya pemanasan lanjutan, waktu pemanasan, suhu media pendingin dan tekanan vakum yang dipakai. Keakuratan hasil uji sesuai acuan ASTM D-1160, ditentukan berdasarkan sifat kestabilan tetesan distilat, yang besarnya antara 6-8 ml/menit pada tingkat perolehan distilat 10% sampai 90% vol. Dari hasil pengembangan kombinasi Program File pada alat distilasi tekanan vakum ASTM D-1160 otomatis, untuk keakuratan hasil uji penguapan biodisel dengan densitas antara 0.879- 0.900 gr/ml, yang relatif baik, dicapai pada kondisi alat: tekanan vakum 3 mmhg, suhu media pendingin 30 o C, daya pemanasan awal 180 Watt, waktu pemanasan 7 menit, daya pemanasan lanjutan 75-80 watt.

Sedangkan

untuk biodisel dan produk biodisel ringan dengan densitas antara 0.8330-0.8560 gr/ml, dicapai

pada kondisi alat: daya pemanasan awal 175 watt, waktu pemanasan 6 menit, daya pemanasan lanjutan 70 watt, suhu media pendingin 30 o C. Durasi operasi kerja alat dari IBP-EP antara 32-35 menit.

Kata kunci: distilasi vakum, biodisel, metoda uji, sifat penguapan, IBP

ABSTRACT

Biodiesel Volatility is determined by reduced pressure distillation ASTM D1160 Test method. According to SNI specication, sets biodiesel volatility temperature at level 90% vol. distillate recovery, not exceed of 360 o C AET. To measure precisely biodiesel volatility at reduced pressure distillation, depend on param- eter of vacuum pressure, Initial Heating power, Initial Heating time, second heating power and cooling media temperature. ASTM D1160 specied distillate ow rate of sample normally 6-8 ml/minutes at level 10%-90% vol. Based on simulation le program on automatic reduced pressure distillation ASTM D1160, precise data result of biodiesel volatilty is achieved at operation condition: pressure of 3 mmhg, cooling media temperature of 30 o C, Initial Heating of 180 watt, Initial Heating time of 7 minutes, second heating of 80 watt , for sample by density 0,8790-0.9003 gr/ml. Duration of distillation running from IBP to EP average is 35 minutes. For sample by density 0.8330-0.8560 gr/ml, at operation condition: pressure of 3 mmhg, cooling media temperature of 30 o C, Initial Heating of 175 watt, Initial Heating time of 6 minutes, second heating of 70 watt. Duration of distillation running from IBP to EP average is 32-35 minutes.

Keywords : vacuum distillation, biodiesel, test method, volatility, IBP

I. PENDAHULUAN

Biodisel merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan yang potensial untuk dikembangkan

sebagai energi elternatif pengganti BBM dari minyak bumi. Biodisel dapat diproduksi dari berbagai sumber bahan baku, seperti minyak sawit, jarak pagar, biji bunga matahari dan sebagainya. Oleh sebab itu, sifat

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 53 - 59

karakteristik biodisel hasil produksi dari berbagai macam bahan baku tanaman bervariasi. Salah satu sifat karakteristik biodisel yang sangat penting adalah sifat penguapan. Sifat penguapan bio- disel sangat penting, karena terkait langsung dengan mutu proses pembakaran di mesin disel. Untuk menentukan sifat penguapan biodisel di- gunakan alat distilasi tekanan vakum ASTM D1160. Pada standar spesikasi SNI, sifat penguapan bio- disel ditetapkan, untuk perolehan distilat 90% vol., suhu uap tidak boleh melebihi 360 o C AET (Atmo- spheric Equivalent Temperature-Suhu pada Tekanan Atmos r). Keakuratan hasil uji metoda distilasi tekanan va- kum otomatis, sangat ditentukan oleh kombinasi ideal kondisi operasi alat seperti: daya pemanasan awal, daya pemanasan lanjutan, waktu pemanasan, suhu media pendingin dan tekanan vakum yang dipakai. Sesuai acuan standar ASTM D-1160, keakuratan hasil uji ditentukan berdasarkan sifat kestabilan tete- san distilat, yang nilainya antara 6-8 ml/menit pada tingkat perolehan distilat 10% s/d 90% vol. Berbeda dengan distilasi pada tekanan atmosr, pada distilasi tekanan vakum, dibutuhkan pengaturan tekanan yang tepat, sesuai dengan sifat karakteristik sampel yang akan diuji. Sifat karakteristik yang ber- pengaruh pada sifat penguapan biodisel adalah den- sitas. Sama halnya dengan senyawa hidrokarbon dari minyak bumi, semakin besar nilai densitas biodisel semakin tinggi titik didihnya. Demikian sebaliknya, semakin rendah densitasnya semakin rendah pula titik didihnya. Selain tekanan, parameter lainnya yang berpengaruh pada alat uji distilasi tekanan vakum ASTM D1160 adalah: daya pemanasan awal, daya pemanasan lanjutan, waktu pemanasan dan suhu media pendingin. Oleh sebab itu, untuk mengatur tingkat kestabilan tetesan distilat sesuai acuan standar yang ditetapkan ASTM D1160, dibutuhkan pengkajian mendalam terkait kombinasi variabel kondisi operasi ideal bagi alat distilasi tekanan vakum otomatis sebagai uji sifat penguapan berbagai jenis biodisel/FAME.

II. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan studi ini adalah mencari kondisi operasi optimum alat uji otomatis distilasi te- kanan vakum ASTM D1160 untuk menentukan sifat penguapan dari berbagai jenis biodisel dan FAME. Dan diharapkan dari hasil studi ini, kondisi optimum

operasi alat uji dapat dijadikan acuan standar pada pengujian sifat penguapan biodiesel sesuai acuan standar ASTM D1160 .

III. METODA UJI DISTILASI DI LABORATORIUM

Metoda distilasi adalah suatu proses pemisahan suatu senyawa secara sika berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi merupakan metoda proses pemisahan yang sudah lama digunakan pada berbagai bidang penelitian, laboratorium maupun di kilang minyak bumi. Pada uji di laboratorium minyak bumi ada beberapa metoda uji ASTM yang memakai prin- sip distilasi antara lain:

ASTM D86 – Distilasi Produk Minyak Bumi pada Atmos r

ASTM D1160 – Distilasi Produk Minyak Bumi pada TekananVakum

ASTM D2892 – Distilasi TBP minyak Bumi

ASTM D5236 – Distilasi Vakum Tinggi Potstill untuk produk Hidrokarbon Berat

ASTM D2887 – Distribusi Titik didih Fraksi Minyak Bumi <538°C dengan alat Kromatogragas

HTSD – Simulasi Distilasi sampel dengan titik didih residu >720 C

Gambar 1, menunjukkan beberapa metoda uji ASTM yang memakai prinsip distilasi dan kemam- puan metoda tersebut dalam mengidentikasi daerah titik didih dan jumlah atom karbon sampel. Walaupun metoda ASTM diatas memakai prinsip yang sama, namun sesungguhnya metoda-metoda uji tersebut memiliki maksud dan kegunaan yang berbeda.

Salah satu maksud dan kegunaan metoda distilasi pada metoda uji produk minyak bumi adalah untuk menentukan sifat karakteristik penguapan suatu se- nyawa terkait dengan fungsinya sebagai Bahan bakar kendaraan. Pada metoda Uji ASTM, untuk maksud dan kegunaan tersebut terdapat pada Metoda uji ASTM D86 dan ASTM D1160. Metoda Uji ASTM D86 digunakan untuk menentukan sifat penguapan produk bahan bakar yang tidak terdekomposisi bila didistilasi pada tekanan atmosr. Misalnya produk BBM bensin, miyak tanah dan solar (ADO-automo- tive diesel oil). Sementara itu, Metoda Uji ASTM

Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat Penguapan Biodiesel (Muhammad Fuad)

D1160, digunakan untuk menentukan sifat penguapan produk bahan bakar yang mung- kin terdekomposisi bila didistilasi pada teka- nan atmosr. Metoda Uji ini biasa juga disebut Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160. Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 awalnya dikembangkan sebagai alat uji sifat penguapan produk minyak bumi berat seperti vakum residu atau produk distilat berat (heavy distillat) yang memiliki titik didih sangat tinggi, mulai dari 350 o C sampai 550 o C. Pada metoda uji ini umumnya kondisi operasi alat yang digunakan pada kondisi vakum 1 mmhg. Data hasil uji sifat penguapan produk minyak bumi, biasanya digunakan untuk desain alat proses di kilang minyak bumi. Sementara itu biodisel/FAME umumnya memiliki titik didih antara 315-357 o C pada tekanan atmosr lebih rendah titik didihnya dibandingkan sampel uji Distilasi D1160 pada umumnya. Ada juga produk biodisel ringan seperti green disel (produk hidrotreat- ing FAME) dan campuran biodisel dan solar (B20, B10 atau B5), yang memiliki kisaran titik didih lebih rendah. Untuk menguji sifat penguapan biodisel tidak dapat digunakan distilasi tekanan atmos- r, karena biodisel dapat terdekomposisi. Oleh sebab itu untuk menentukan sifat penguapan biodisel harus dilakukan dengan distilasi va- kum. Dan dari gambar 1, terlihat metoda uji distilasi tekanan vakum ASTM D 1160 adalah metoda uji yang paling tepat untuk maksud pengujian tersebut.

IV. METODA PENGUJIAN DAN MATERIAL

A. Metodologi

Penelitian dilakukan dengan tahapan sep- erti diagram alir dibawah ini:

1. Preparasi sampel

Sampel terdiri dari 4 sampel biodisel dan produk green diesel (produk hidropemurnian biodisel) dengan densitas antara 0,8330- 0,8560 dan 4 Sampel biodiesel berat dengan densitas antara 0.8790-0.9003 gr/ml.

Gambar 1 Metoda uji ASTM yang menggunakan prinsip distilasi dan kisaran titik didih dan jumlah

Gambar 1 Metoda uji ASTM yang menggunakan prinsip distilasi dan kisaran titik didih dan jumlah atom karbon yang terdeteksi

Gambar 2 Diagram alir tahapan penelitian

Gambar 2 Diagram alir tahapan penelitian

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 53 - 59

2. Prosedur kerja alat

Alat yang digunakan adalah Alat Uji Distilasi Tekanan Vakum D1160 otomatis merk ISL. Alat uji bekerja secara otomatis dan dikendalikan melalui berkas program (program le) yang disimpan dalam database komputer. Seperti telah dijelaskan diatas, alat uji ini sebenarnya direkayasa untuk kondisi pengujian produk minyak bumi berat seperti residu dan fraksi berat lainnya. Sedangkan untuk pengujian sifat penguapan produk biodisel belum tersedia. Oleh sebab itu, berkas program komputer untuk produk harus dibuat sendiri dan disimulasikan pada alat uji tersebut.

3.

Pembuatan Berkas Program Komputer Untuk Uji Biodisel

Berkas program untuk pengujian biodisel dibuat secara langsung pada layar komputer, dengan mengisi kolom-kolom kondisi operasi yang tersedia dalam database. Parameter kondisi operasi alat yang di- simulasikan adalah :

- Tekanan Operasi

Kondisi tekanan operasi memiliki pengaruh besar pada metoda distilasi. Karena seiring berubahnya tekanan operasi, suhu titik didih senyawa akan menu- run. Simulasi kondisi tekanan alat ditentukan melalui Program Excel yang dibuat sendiri secara terpisah melalui persamaan Maxwelll dan Bonnel.

secara terpisah melalui persamaan Maxwelll dan Bonnel. Keterangan: Suhu AET = suhu pada tekanan atmos fi

Keterangan:

Suhu AET = suhu pada tekanan atmosr, C

T

= suhu pada kondisi aktual, C

A

= Konstanta

P

= Tekanan operasi Alat, mmhg

Rumus diatas digunakan untuk memperkira- kan suhu aktual kondisi operasi tekanan alat, agar IBP (Initial Boilling Point-tetesan pertama) sampel diharapkan tidak terjadi pada suhu sangat rendah misalnya terjadi pada suhu ambien. IBP yang terlalu cepat, akan mengakibatkan kecepatan laju alir distilat

yang tidak stabil. Berdasarkan standar acuan ASTM D1160, kecepatan distilat diatur besarnya antara 6-8 ml/menit.

- 1st level heating: Daya Pemanasan Awal Heater

Besarnya daya Pemanasan Awal berpengaruh pada tercapainya suhu IBP. Pemanasan yang terlalu besar akan menyebabkan IBP terlalu cepat terjadi. Demikian sebaliknya.

- 1st level time: Durasi pemanasan awal

Waktu pemanasan terkait dengan besarnya daya pemanasan. Durasi diatur sesuai besarnya pemanasan awal dan jenis sampel agar IBP sampel tercapai sesuai yang diinginkan .

- 2nd level heating; Daya pemanasan lanjutan

Setelah IBP tercapai, maka peran pemanasan dialihkan ke 2nd level heating. Pada tahap ini, pema- nasan diatur, agar tetesan distilat memiliki kecepatan 6-8 ml/mn.

- Condenser temperature: Suhu media pendingin.

Suhu media pendingin berpengaruh pada kecepa- tan tetesan distilat. Untuk sampel dengan suhu Titik Tuang tinggi, harus dikondensasikan menggunakan media pendingan dengan suhu tinggi. Bila dikonden- sasikan pada suhu rendah,setelah terjadi perubahan fase uap menjadi cairan, kemungkinan distilat akan membeku dan menjadi padat pada suhu ambiaen. Hal ini biasanya terjadi untuk sampel produk minyak bumi berat seperti residu dan sebagainya. Sementara itu, biodisel umumnya memiliki Titik Tuang yang

relatif rendah, yakni antara -5 - 10 C. Oleh sebab itu suhu media pendingin dapat digunakan pada suhu

30 o C.

4. Kalibrasi Kalibrasi alat uji distilasi ASTM D1160 di- lakukan dengan menggunakan Certied Reference Material-Heksadekana. Alat uji dapat dinyatakan valid dan dapat digunakan sesuai standar ASTM bila memenuhi persyaratan: suhu rata-rata distilasi pada perolehan distilat 10%-90% pada tekanan operasi adalah sebagai berikut:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil uji sifat penguapan jenis biodisel ringan dengan densitas antara 0,8383-0,8560 gr/ml, kondisi optimum dicapai pada kondisi: daya pemanasan awal 175 watt, waktu pemanasan

Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat Penguapan Biodiesel (Muhammad Fuad)

6 menit, daya pemanasan lanjutan 70 watt dan suhu media pendingin 30 o C. Contoh hasil uji penguapan produk biodisel ringan, dapat dilihat pada Tabel 2 dan gambar 2 di bawah ini:

Pada Gambar 2 dan Tabel 2 terlihat bahwa kecepataan tetesan distilat nilainya telah sesuai dengan standar acuan ASTM D 1160 yakni rata-rata 6-8 ml/mn pada level 10%-90% vol. distilat. Artinya adalah pemilihan kondisi operasi alat telah sesuai dengan hasil uji yang ditetapkan standar acuan. Umumnya pada sampel biodisel ringan, IBP tercapai sangat cepat, yakni antara 3-5 menit. Namun hal ini tidak berpengaruh pada stabilitas tetesan distilat, karena pada 2nd level heating, daya pemanasan diatur tidak terlalu tinggi. B. Hasil uji jenis biodisel berat atau FAME dengan densitas antara 0,8790- 0,9003 gr/ml, kondisi optimum dicapai pada: tekanan vakum 3 mmhg, daya pemanasan awal 180 Watt, waktu pemanasan 7 menit, daya pemanasan lanjutan 75-80 watt dan suhu media pendingin 30 o C. Data hasil uji distilasi sampel biodisel dengan densitas 0.8790-0,9003 pada kondisi operasi diatas menunjukkan hasil yang memuaskan. Pada Gambar 3 dan Tabel 3 tampak bahwa kecepatan tetesan distilat sesuai standar acuan ASTM D1160 yakni rata-rata 6-8 ml/mn pada level 10%- 90% vol. distilat. Umumnya pada sampel biodisel berat, IBP tercapai lebih lama dibandingkan sampel biodisel ringan yakni, yakni antara 14-15 menit. Dari gambar juga terlihat, bahwa kurva distilasi cederung berbentuk garis lurus. Ini adalah ciri khas prol kurva FAME yang umumnya hanya memiliki jumlah atom karbon sedikit. Umumnya FAME memiliki atom karbon antara C12- C22. Sebagian besar (>90%) merupakan fatty acid beratom karbon C16 - C18. Pada Suhu diatas 90% vol. kurva cenderung naik. Ini mengindikasikan adanya senyawa seperti gum atau produk tidak jenuh (poliunsatutated) yang bertitik didih tinggi.

Tabel 1 Kondisi kalibrasi alat uji pada level 10%-90% Vol. distilat

Tabel 1 Kondisi kalibrasi alat uji pada level 10%-90% Vol. distilat

Tabel 2 Hasil uji biodisel dengan densitas : 0.8383 gr/ml

Tabel 2 Hasil uji biodisel dengan densitas : 0.8383 gr/ml

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 53 - 59

Gambar 3 Kurva distilasi sampel biodisel dengan densitas : 0.8383 gr/ml

Gambar 3 Kurva distilasi sampel biodisel dengan densitas : 0.8383 gr/ml

Tabel 3 Hasil uji sifat penguapan biodisel dengan densitas: 0.8795%

Tabel 3 Hasil uji sifat penguapan biodisel dengan densitas: 0.8795%

V. KESIMPULAN

tekanan

vakumASTM D 1160 pada pengujian sifat penguapan biodisel dapat disimpulkan:

Dari simulasi kondisi operasi alat uji

Gambar 4 Kurva distilasi sampel biodisel dengan densitas : 0.8795 gr/ml

Gambar 4 Kurva distilasi sampel biodisel dengan densitas : 0.8795 gr/ml

Gambar 5 Rangkaian alat uji

Gambar 5 Rangkaian alat uji

- Kondisi operasi hasil simulasi dapat digunakan secara baik untuk pengujian sampel biodisel ringan maupun berat.

- Hasil pengujian yang relatif baik untuk hasil

Pengembangan Metoda Uji Distilasi Tekanan Vakum ASTM D1160 pada Pengujian Sifat Penguapan Biodiesel (Muhammad Fuad)

uji penguapan biodisel ringan/green diesel (0.835-0.856 gr/ml) diperoleh pada kondisi operasi: Tekanan vakum 3 mmhg, daya pemanasan awal 175 watt, waktu pemanasan 6 menit, daya pemanasan lanjutan 70 watt, suhu media pendingin 30 o C. Sedangkan untuk FAME/ biodisel berat(densitas 0.8790-0.9003 gr/ ml, dicapai pada kondisi operasi alat:

tekanan vakum 3 mmhg, suhu media pendingin 30 o C, daya pemanasan awal 180 Watt, waktu pemanasan 7 menit, daya pemanasan lanjutan 75-80 watt. Durasi operasi kerja alat dari IBP-EP antara 32- 35 menit.

- Hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan acuan standar prosedur kerja alat uji sifat penguapan biodisel berdasarkan acuan ASTM D1160.

KEPUSTAKAAN

1. Annual Book of ASTM Standar , Vol.05.01.,2009. ASTM D 1160-06, “Standard Test method for petroleum product at Reduced pressure distilation”, USA: ASTM International.

2. National Renewable Energy Laboratory, U.S. Department of Energy Ofce of Energy Efciency & Renewable Energy, 2009, “ Biodiesel Handling And Use Guide “ NREL/TP-540-463672, http://www.osti. gov/bridge .

3. Users and service Manual of Automated Vacuum distillation Analyzer D1160, 2001, ISL, PAC, France.

4. Villalanti, D, et al.,1997, Yield Correlation between Crude Assay Distillation and High Temperature Simu- lated Distillation (HTSD), AIChE Spring national Meeting, Houston, USA, March.

Gambar 6 Contoh biodisel

Gambar 6

Contoh biodisel

Gambar 7 Alat uji distilasi tekanan vakum ASTM D1160

Gambar 7 Alat uji distilasi tekanan vakum ASTM D1160

Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil (Cahyo Setyo Wibowo, dkk.)

Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG Terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil

Cahyo Setyo Wibowo 1) , Bambang Heru S 2) dan Richo Candra RB 3)

1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” 2) Teknik Kimia Fakultas Teknik, Universitas Indonesia 3) Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telepon: 62-21-7394422, Fax: 62-21-7246150 Teregistrasi I tanggal 13 Maret 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 7 Mei 2012 Disetujui terbit tanggal : 31 Agustus 2012

ABSTRAK

Adanya program konversi minyak tanah ke LPG menyebabkan pemakaian LPG untuk keperluan ru- mah tangga meningkat drastis, sehingga terjadi kelangkaan LPG di pasaran. Oleh karena itu, pemerintah bermaksud menggunakan DME sebagai alternatif pengganti LPG, mengingat DME mempunyai sifat yang hampir sama dengan LPG. Dalam penelitian ini telah dilakukan pencampuran dimethyl ether (DME) dan liqueed petroleum gas (LPG) sebagai bahan bakar, kemudian menguji emisi gas buang serta nyala api dari hasil pembakaran bahan bakar tersebut pada burner industri kecil. DME yang ditambahkan pada LPG sebesar 10%, 20%, 30%, 35%, 40% dan 50% (v/v). Emisi gas yang di analisis adalah gas oksida-oksida sulfur (SOx), oksida-oksida nitrogen (NOx), dan karbon monoksida (CO). Pengambilan sampel gas emisi SOx dan NOx menggunakan alat Stack gas sampler (SGS), sedangkan gas CO menggunakan alat gas analyzer. Gas SOx dianalisis menggunakan spektrofotometer dengan metode turbidimetri sedangkan gas NOx dianalisis dengan metode phenol disulfonic acid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek penam- bahan DME pada LPG dapat menurunkan emisi gas buang SOx, NOx dan CO. Masing-masing nyala yang dihasilkan pada campuran gas LPG-DME lebih biru dibandingkan gas LPG.

Kata Kunci: DME, LPG, emisi, nyala api

ABSTRACT

Due to the conversion program from kerosene to LPG, the consumption of LPG for domestic increase dramatically. There is a shortage of LPG at the market occurs. Therefore government has a policy to use the DME as an alternative, instead of LPG. The properties of DME are almost the same as LPG. In the study research of DME and LPG has been carried out. The exhaust emissions produced by burning fuel on the stove are being examined. In this research has been done mixing dimethyl ether (DME) and LPG as fuel, and then rest the exhaust emissions and ames from the burning fuel on the stove. DME is added to LPG by 10%, 20%, 30%, 35%, 40%, and 50% (v/v). Gas emissions in the analysis are the gas sulfur oxide (SOx), nitrogen oxides (NOx) and carbon monoxide (CO). The sampling of gas emission of SOx and NOx using a Stack gas sampler (SGS), while the CO gas using a gas analyzer. SOx gases were analyzed using a spectrophotometer by the turbidimetri method while NOx gases were analyzed by the phenol disulfonic acid method. The result showed that the Effect the addition of DLME to LPG is to lower emission of SOx, NOx and CO. Each ame generated in LPG-DME gas mixture is bluer than the LPG gas.

Keywords: DME, LPG, emission, ame

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 61 - 67

I. PENDAHULUAN

Program Nasional Konversi Minyak Tanah ke Liqueed Petroleum Gas (LPG) merupakan salah satu program mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) guna meringankan beban keuangan Negara. (pertamina, 2009) Akibat dari program konversi minyak tanah ke LPG, pemakaian LPG untuk keperluan rumahtangga meningkat drastis, sehingga terjadi kelangkaan LPG di pasaran. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah bermaksud menggunakan DME (Dimethyl Ether) sebagai alternatif pengganti LPG, mengingat DME mempunyai sifat yang hampir sama dengan LPG, yaitu berwujud gas dalam kondisi ruang dan mem- punyai titik didih yang berdekatan dengan LPG, sehingga DME mudah dicairkan seperti LPG. (BPPT,

2009).

Di samping itu DME adalah gas yang dapat terba- rukan (renewable), tidak beracun, ramah lingkungan, dan harganya lebih murah daripada LPG (Kadarwati, 2010). Untuk karakteristik DME, propane dan butane dapat dilihat pada tabel 1. Pada tahun 2009, PPPTMGB LEMIGAS dan PT. Pertamina bekerja sama melakukan pengujian karakteristik dan Kinerja pada DME dan LPG mix DME sebagai substitusi LPG dan LPG yang dicam- pur dengan DME pada penggunaan kompor rumah tangga. Hasil penelitian menunjukan tidak semua kompor LPG dapat digunakan secara sempurna dengan DME sebagai bahan bakar. M.Marchionna et al. (2008), melakukan serang- kaian studi eksperimental dan model untuk menilai potensi penerapan DME sebagai bahan bakar peng- ganti LPG. Penelitian yang dilakukan meliputi uji pembakaran, percobaan daya tahan dan stabilitas- menggunakan DME murni dan LPG dalam berbagai variasi konsentrasi campuran DME pada burner, untuk mengevaluasi keamanan dan kompatibilitas bahan bakar. Kesimpulan dari hasil penelitian terse- but adalah campuran DME/LPG (DME:Vol15-20%) membawa perbaikan lebih signikan dibandingkan dengan DME murni. Selain kinerja bahan bakar cam- puran diperlukan juga uji emisi untuk keselamatan dan kesehatan manusia sebagai pengguna. Gas-gas emisi yang dihasilkan dari pembakaran, seperti gas CO, NOx, SOx dan hidrokarbon, sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia diatas ambang batas karena dapat menyebabkan penyakit bahkan

Tabel 1 Karakteristik DME, propane, dan butane

Tabel 1 Karakteristik DME, propane, dan butane

kematian dan memberikan efek yang tidak baik bagi lingkungan. CO dalam darah dapat mengikat He- moglobin dan menyebabkan kematian. Hujan asam dapat terjadi karena adanya gas NOx dan SOx. Berkaitan dengan rencana pemerintah untuk mensubstitusi DME dengan LPG, maka diperlukan penelitian tentang efek penambahan DME pada LPG terhadap emisi gas buang yang dihasilkan pada proses pembakaran pada kompor atau burner baik untuk industri kecil maupun rumah tangga.

II. METODOLOGI

Persiapan Contoh Uji

Tahap awal penelitian yang akan dilakukan yaitu menyiapkan contoh uji yaitu LPG 100%, DME 100%, campuran LPG dan DME dengan variasi volume DME 10 %, 20%, 30%, 35%, 40% dan 50%. Pencampuran LPG dan DME dilakukan dengan menggunakan alat blender gas, selang regulator, tabung gas dan timbangan. Sebelum memasang selang regulator yang menghubungkan tabung LPG dan tabung DME ke alat blender, tabung gas yang berisi LPG dan DME harus dibalik hal ini agar LPG dan DME yang berfase cair berada dibagian bawah dekat keluaran gas. Tabung yang digunakan untuk menampung campuran gas LPG dan DME di letakkan diatas timbangan agar dapat diketahui berat kosong- tabung dan sebagai alat pemantau kapan pengisian gas harus dihentikan. Gas campuran LPG-DME dibuat dengan volume 10 Liter. Untuk menentukan berat LPG dan DME yang dibutuhkan untuk membuat campuran gas LPG- DME dengan komposisi tertentu maka digunakan rumus sebagai berikut:

DME yang dibutuhkan untuk membuat campuran gas LPG- DME dengan komposisi tertentu maka digunakan rumus sebagai

Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil (Cahyo Setyo Wibowo, dkk.)

Dengan menggunakan rumus diatas didapat data kebutuhan berat LPG dan DME sebagai berikut:

Tabel 2 Berat LPG dan DME untuk diblending

Tabel 2 Berat LPG dan DME untuk diblending

Pengambilan Sampel Gas Emisi Untuk pengambilan sampel emisi gas, peralatan yang digunakan yaitu kompor gas, ow meter dan- Stack Gas Sampler. Gambar 3 merupakan gambar rangkaian uji emisi gas. Pada penelitian ini menggunakan meja dengan tinggi 1 meter. Cerobong yang digunakan terbuat dari seng yang berbentuk seperti balok yang ko- song tengahnya dengan tinggi 2 meter dan panjang sisi-sisinya 35cm. Luas lubang pada sisi-sisi bagian bawah cerobong sebesar 190 cm 2 (15cm x 10cm + 5cm x 8cm). Luas lubang pada sisi-sisi bagian bawah cerobong tersebut telah dapat memenuhi ammability limit dari LPG dan DME, sehingga nyala api dapat terbentuk.

Analisis Sampel Gas SOx dianalisis dengan menggunakan metode acuan uji SNI 19-7117.3.1-2005. Metode ini meng- gunakan cara turbidimeter dengan spektrofotometer sebagai alat ujinya. Sedangkan gas NOx dianalisis dengan metode acuan uji SNI 19-7117.5-2005 yang menggunakan spektrofotometer dengan senyawa- phenol disulfonic acid sebagai reagen-nya. Untuk gas CO analisis dilakukan dengan alat gas analyzer otomatis yang dilengkapi dengan sensor berbasis elektrokimia.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam percobaan ini dipakai tabung gas LPG 12 kg sebagai wadah gas campuran LPG-DME. Gas campuran LPG-DME dibuat dengan volume 10 Liter. Dengan membuat gas campuran 10 liter maka akan menghasilkan gas campuran LPG-DME dengan berat tidak melebihi 8 kg. Dari data pada Tabel 2 diatas

Gambar 1 Alat pencampur LPG-DME

Gambar 1 Alat pencampur LPG-DME

Gambar 2 Skema alat pengambilan sampel gas emisi

Gambar 2 Skema alat pengambilan sampel gas emisi

dapat diketahui bahwa dengan penambahan DME mengakibatkan bertambahnya berat total campuran gas LPG-DME. Bertambahnya berat total gas campuran LPG dengan penambahan DME disebabkan oleh densitas DME yang lebih besar dibandingkan dengan LPG. Sehingga semakin besar jumlah DME pada LPG pada volume yang sama maka semakin berat gas campuran yang terbentuk. Kadar gas SOx yang terdapat pada sampel gas LPG-DME di ukur dengan menggunakan spektrofo- tometer, sehingga didapat data sebagai berikut:

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 61 - 67

Tabel 3 Kadar SO 2 pada sampel gas LPG-DME

Tabel 3 Kadar SO 2 pada sampel gas LPG-DME

Dari gambar grak di atas terlihat bahwa semakin besar kandungan DME dalam LPG maka semakin kecil gas SOx yang terbentuk. Pembentukan gas SOx dipengaruhi oleh ada tidaknya kandungan sulfur di dalam bahan bakar (fuel). LPG yang berasal dari minyak bumi biasanya mengandung sulfur sebagai zat pengotornya. Berdasarkan data sifat sik gas DME dari penelitian terdahulu, kandungan sulfur dalam DME adalah 1,13 grain/cuft dan kandungan sulfur pada gas LPG adalah sebesar 2,21grain/cuft. Sedangkan kandungan sulfur pada campuran gas 80% LPG: 20% DME adalah sebesar 1,61 grain/cuft. Hal tersebut menunjukan bahwa kandungan sulfur pada LPG 100% paling besar jika dibandingkan dengan DME dan campuran LPG dengan DME.

Setelah melakukan sampling gas emisi NOx, kemudian mengukur gas emisi tersebut dengan spek- trofotometer, didapat data sebagai berikut:

Tabel 4 Kadar Gas NO 2 pada Sampel Gas LPG-DME

Tabel 4 Kadar Gas NO 2 pada Sampel Gas LPG-DME

Pembentukan gas NOx membutuhkan sumber nitrogen (N2), yang bisa berasal dari udara atau nitrogen yang terikat dalam bahan bakar. - Reaksi Pembentukan NO adalah sebagai berikut:

bahan bakar. - Reaksi Pembentukan NO adalah sebagai berikut: Gambar 3 Rangkaian uji emisi gas Gambar
Gambar 3 Rangkaian uji emisi gas

Gambar 3 Rangkaian uji emisi gas

Gambar 4 Gra fi k %DME terhadap total berat gas campuran LPG-DME

Gambar 4 Gra k %DME terhadap total berat gas campuran LPG-DME

Gambar 5 Kurva % volume DME Vs Kadar gas emisi SO 2

Gambar 5 Kurva % volume DME Vs Kadar gas emisi SO 2

Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil (Cahyo Setyo Wibowo, dkk.)

Reaksi diatas dapat terjadi saat keadaan oksigen berlebih.

Untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya gas NOx, maka digunakan teori dari Westenberg (1971) yang mengatakan bahwa dalam keadaan steady state, kecepatan pembentukan NO ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:

pembentukan NO ditentukan dengan persamaan sebagai berikut: Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi

Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi temperatur akan makin banyak NO yang terbentuk. Semakin besar jumlah konsentrasi O 2 , maka makin banyak NO yang terbentuk.

Dari gambar.6 diatas dapat disimpulkan bahwa pada pembakaran LPG 100% dapat menghasilkan emisi gas NOx yang paling tinggi dibandingkan dengan campuran gas LPG-DME. Hal ini berarti mengindikasikan bahwa panas pembakaran yang ter- jadi dari pembakaran gas LPG 100% lebih tinggi dari pada panas pembakaran yang terjadi dari pembakaran campuran gas LPG-DME, sehingga gas NOx yang terbentuk semakin banyak. Hal tersebut disebab- kan DME memiliki nilai kalori yang lebih rendah (28,41 MJ/kg) dibandingkan dengan LPG (50,06 MJ/kg). Selain itu adanya kemungkinan terdapatnya impurities unsur N pada gas LPG yang lebih besar dibandingkan dengan DME, Sehingga emisi gas NOx pada LPG 100% semakin besar. Analisis gas CO menggunakan gas analyzer dengan menggunakan sensor elektrokimia. Pada tabel 5 terdapat hasil pengujian emisi gas CO. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan DME pada LPG maka emisi gas CO yang dihasilkan dari proses pembakaran akan berkurang. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:

akan berkurang. Reaksi yang terjadi sebagai berikut: Gambar 6 Kurva% volume DME dalam LPG Vs Konsentrasi
Gambar 6 Kurva% volume DME dalam LPG Vs Konsentrasi NO 2

Gambar 6 Kurva% volume DME dalam LPG Vs Konsentrasi NO 2

Gambar 7 Kurva % DME dalam LPG Vs Konsentrasi gas CO

Gambar 7 Kurva % DME dalam LPG Vs Konsentrasi gas CO

Tabel 5 Hasil uji gas emisi CO

Tabel 5 Hasil uji gas emisi CO

Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon yang terjadi pada proses pembakaran. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran.

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 61 - 67

Dilihat dari rumus kimia masing-masing gas, gas DME memiliki rumus kimia CH 3 - O-CH 3 dan LPG memiliki rumus kimia C 3 H 8 (propana) dan C 4 H 10 (butana).

Berdasarkan struktur kimianya, DME memiliki kandungan unsur oksigen, (seki- tar 35% berat) sehingga dapat mengurangi terjadinya proses pembakaran yang tidak sempurna akibat kekurangan oksigen. Oleh

sebab itulah emisi gas CO yang dihasilkan dari proses pembakaran campuran LPG-DME lebih rendah dibandingkan gas LPG 100%.

Nyala api dari masing-masing gas dapat dilihat pada gambar 9. Dilihat secara visual oleh mata da- pat diketahui bahwa nyala api yang dihasilkan oleh campuran gas LPG dan DME lebih biru dibandingkan dengan gas LPG 100%. Pada nyala apli gas LPG 100% terdapat warna kuning diujung lidah api.

Fenomena menunjukkan bahwa pembakaran yang terjadi pada campuran LPG-DME lebih sempurna dibandingkan pembakaran yang terjadi pada LPG 100%. Kandungan unsur O yang terdapat pada DME membuat nyala api lebih sempurna karena pasokan oksigen yang lebih banyak. Ketika partikel-partikel karbon yang berpendar mencapai bagian puncak nyala, hampir semuanya mendapatkan oksigen yang memadai untuk terbakar.

Warna kuning yang timbul pada nyala api disebabkan oleh udara tidak dapat mengalir cukup cepat untuk membuat bahan bakar terbakar selu- ruhnya menjadi karbon dioksida dan air. Di bawah pengaruh panas, sebagian paran yang tidak terbakar terurai, antara lain menjadi partikel-partikel karbon sangat kecil. Partikel-partikel ini, karena panas dari pembakaran menjadi berpendar, membara dengan cahaya berwarna kuning benderang.

IV. KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek pe- nambahan DME pada LPG dapat menurunkan emisi gas buang S0x (22%), NOx (63%) dan CO (44%) sampai dengan pencampuran DME (20%) pada proses pembakaran burner. Masing-masing nyala yang dihasilkan pada campuran gas LPG-DME lebih biru dibandingkan gas LPG.

Gambar 8 Struktur kimia DME dan LPG (propana & butana)

Gambar 8 Struktur kimia DME dan LPG (propana & butana)

Gambar 9 a.nyala api LPG 100%, b.nyala api DME 10%, c.nyala api DME 20%, d.nyala

Gambar 9 a.nyala api LPG 100%, b.nyala api DME 10%, c.nyala api DME 20%, d.nyala api DME 35% dan e.nyala api DME 50%

KEPUSTAKAAN

1. BPPT. (2009). Pemanfaatan Dimethyl Eter (DME) se- bagai bahan pengganti LPG pada penggunaan Kompor Rumah Tangga. BPPT Annual Report 2009.

2. Kadarwati, Sri. (2010). Kajian Penerapan SNI 7368:2007 Syarat Mutu Kompor Gas LPG Dan SNI Terkait Lainnya Untuk Bahan Bakar Dimethyl Ether (DME). Jurnal Standarisasi vol.12 No.2 tahun 2010.

3. LEMIGAS dan PT. Pertamina. (2009). Kajian Pengujian Karakteritik Dan Kinerja DME dan LPG mix DME Sebagai Substitusi LPG dan Blended LPG Pada Penggunaan Kompor Rumah tangga. Jakarta:

Author.

Pengaruh Penambahan Dimethyl Ether pada LPG terhadap Emisi Gas Buang Hasil Proses Pembakaran Burner Industri Kecil (Cahyo Setyo Wibowo, dkk.)

4. M.Marchionna et al. (2008). Fundamental Investi- gations on dimethyl ether (DME) as LPG Substitute or Make-Up for Domestic Uses. Fuel Processing Technology 89.1255-1261

5. Pertamina. (2009).Program Konversi Minyak Tanah ke LPG.http://blog.unila.ac.id/redha/2009/11/19/

program-nasional-konversi-minyak-tanah-ke-lpg/

6. S.Lee, S.Oh, Y.Choi, K.Kang. (2011). Effect of n- Butane and Propane on Performance and Emission Characteristic of an SI Engine Operated with DME- blended LPG Fuel. Fuel 90. 1678-1680

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga (Lisna Rosmayati)

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga

Lisna Rosmayati

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telepon: 62-21-7394422, Fax: 62-21-7246150 Teregistrasi I tanggal 25 Juni 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 20 Juli 2012 Disetujui terbit tanggal : 31 Agustus 2012

ABSTRAK

Spesi kasi bahan bakar LPG (Lique ed Petroleum Gases) untuk rumah tangga yang ditentukan pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi mensyaratkan batasan- batasan komposisi hidrokarbon dan sifat sika kimia LPG yang digunakan di dalam negeri. Parameter yang ditetapkan adalah C 2 , C 3 , C 4 dan C 5 , vapour pressure, weathering test, copper strip corrosion, total sulfur dan kandungan air. Kualitas dan mutu LPG sebagai bahan bakar gas untuk rumah tangga yang beredar di dalam negeri harus selalu dijaga untuk meningkatkan rasa aman dan meminimalkan potensi bahaya dalam penggunaan bahan bakar tersebut. Monitoring LPG sebagai bahan bakar rumah tangga ini akan melihat batasan-batasan komposisi hidrokarbon dan sifat sika-kimia sampel LPG yang dibandingkan atau disesuaikan dengan spesikasinya. Sampel LPG diambil di beberapa depot, stasiun pusat pengisian bulk LPG (SPPBE) dan agen di beberapa wilayah di Indonesia. Tulisan ini membahas kajian komposisi hidrokarbon dan sifat sika-kimia bahan bakar LPG rumah tangga terhadap spesikasinya. Adanya penyimpangan dalam batasan mutu komposisi LPG tersebut akan ditindaklanjuti terkait kegiatan pengawasan mutu LPG oleh pihak yang berwenang.

Kata Kunci: LPG, komposisi, spesikasi

ABSTRACT

LPG (Liqueed Petroleum Gases) specication is for residential determined by government regulation that declares some limitation in LPG hydrocarbon composition and physical-chemical properties in domestic. LPG specication covering C2, C3, C4 and C5, vapour pressure, weathering test, copper strip corrosion, total sulphur and water content. Quality of LPG as gas fuel for residential should be maintained to increase its safety and to minimize hazardous potential in using that LPG fuel. The laboratory result of LPG monitoring is compared to LPG specication. LPG fuel samples were obtained from some depots, terminal, SPPBE ( LPG Bulk Filling Station) and agent in some location in Indonesia. This paper will cover hydrocarbon composition, physical and chemical properties of LPG gas fuel refer to its specication. Deviation in LPG quality will be warned by authority.

Keywords : LPG, composition, specication

I. PENDAHULUAN

LPG (liquied petroleum gas) adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam atau kilang crude oil. Dengan menambah teka- nan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi

cair. Komponennya didominasi propana (C 3 H 8 ) dan butana (C 4 H 10 ). Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana (C 2 H 6 ) dan pentana (C 5 H 12 ). Saat ini pemakaian bahan ba- kar LPG untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga terus meningkat, seiring dengan semakin su-

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 69 - 77

litnya pemenuhan energi di dalam negeri jika hanya bergantung pada bahan bakar minyak. Untuk men- dukung dan memenuhi kebutuhan energi tersebut, perlu adanya penyediaan energi yang sesuai dengan spesi kasi yang telah ditetapkan Dirjen Migas dan merupakan salah satu upaya untuk meminimalkan terjadinya potensi bahaya dalam penggunaannya. Dalam kondisi atmosfer, LPG akan berbentuk gas. Volume LPG dalam bentuk cair lebih kecil dibandingkan dalam bentuk gas untuk berat yang sama. Karena itu LPG dipasarkan dalam bentuk cair dalam tabung-tabung logam bertekanan. Untuk memungkinkan terjadinya ekspansi panas (thermal expansion) dari cairan yang dikandungnya, tabung LPG tidak diisi secara penuh, hanya sekitar 80-85% dari kapasitasnya. Rasio antara volume gas bila menguap dengan gas dalam keadaan cair bervariasi tergantung komposisi, tekanan dan temperatur, tetapi biasanya sekitar 250:1. LPG dipasarkan dengan cara disimpan sebagai cairan bertekanan dalam tabung dengan spesikasi yang ketat, termasuk pembatasan tekanan uap gas (Reid Vapour Pressure) dengan kisaran 6-7 kg/cm 2 . Botol LPG yang beredar di Indonesia, dirancang untuk tekanan kerja maksimum 8,6 kg/cm 2 . Mutu dan kualitas LPG yang memenuhi spesikasi merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi karena dengan komposisi LPG yang memenuhi spesikasi, maka akan dihasilkan nilai kalor atau nilai panas yang dibutuhkan dan menghindari kerusakan yang diaki- batkan oleh mutu bahan bakar LPG yang keluar dari spesi kasi (outspec). Mutu bahan bakar LPG yang tersedia harus benar-benar baik dalam arti memiliki dampak seminimal mungkin terhadap konsumen. Untuk memonitor ketentuan spesifikasi ba- han bakar agar penyediaan LPG yang bermutu dan berkualitas sesuai dengan spesikasi yang ditetap- kan pemerintah, maka sangatlah penting dilakukan pemantauan atau pengawasan mutu LPG di seluruh Indonesia. Evaluasi komposisi LPG ini dilakukan dengan membandingkan hasil analisis sifat sika dan kimia percontoh LPG terhadap LPG reference atau standar. Monitoring mutu LPG untuk seluruh Indonesia bertujuan untuk memantau mutu LPG yang meliputi komposisi dan sifat sika kimianya sebelum didistri- busikan kepada konsumen sehingga dapat diketahui apakah kualitas/mutunya telah sesuai atau tidak

dengan ketentuan pemerintah yang tercantum dalam masing-masing spesifikasinya. Monitoring mutu LPG ini juga merupakan upaya untuk melindungi konsumen dan produsen dari kemungkinan penyim- pangan mutu LPG yang berdampak negatif terhadap keselamatan pengguna LPG, terhadap lingkungan dan peralatan.

II. BATASAN PENGUJIAN DALAM MONI- TORING LIQUIFIED PETROLEUM GAS (LPG)

Monitoring bahan bakar LPG rumah tangga meliputi analisis komposisi dan sifat sika-kimia LPG, meliputi komposisi hidrokarbon, vapor pressure, weathering test, copper strip corrossion, kadar air dan total sulfur. Spesi kasi LPG yang ditentukan pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi mensyaratkan batasan-batasan komposisi hidrokarbon dan sifat sika kimia LPG yang digunakan di dalam negeri. Parameter-parameter yang ditetapkan adalah kandungan C 2 , C 3 , C 4 , dan C 5 , vapour pressure, weathering test, copper strip corrosion, total sulfur dan kandungan air. Kegiatan dalam monitoring mutu LPG meliputi pengujian terhadap parameter tersebut. Spesi kasi LPG campuran yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam hal ini Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi mensyaratkan bahwa LPG tersebut harus tidak mengandung air bebas (no free water) secara visual. Kandungan maksimum etana (C 2 ) dalam spesifikasi LPG adalah 0,2% volume. Sesuai spesifikasi LPG, kandungan minimum propana

(C 3 ) dan butana (C 4 ) adalah 97,5% volume. Sesuai

spesi kasi, kandungan maksimum pentana adalah sebesar 2,0 % volume. Kandungan total sulfur di dalam batasan spesifikasi LPG campuran yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, memiliki batasan maksimum kandungan total sulfur adalah 15 grain/100 cuft dengan catatan LPG tersebut belum ditambah Etil atau butil merkaptan. Kandungan total sulfur dalam Liquied Petroleum Gas (LPG) dinyatakan dalam satuan grains/100 cuft.

III. DATA LABORATORIUM

Hasil analisa komposisi hidrokarbon dan sifat sika-kimia LPG yang akan dibahas dalam tulisan ini merupakan sebagian dari hasil kegiatan monitor-

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga (Lisna Rosmayati)

ing atau evaluasi mutu LPG yang pelaksanaannya dilakukan pada pertengahan tahun 2011.

A. Komposisi LPG di beberapa Depot dan Ter- minal LPG

Berikut adalah tabel data laboratorium hasil analisa komposisi LPG di beberapa depot dan termi-

nal LPG dengan hasil pengukuran nilai kalor kotor dan nilai kalor bersihnya.

B. Komposisi LPG di beberapa SPPBE

Berikut adalah tabel data laboratorium hasil analisa komposisi hidrokarbon LPG di beberapa SP- PBE dengan hasil pengukuran nilai kalor kotor dan nilai kalor bersihnya.

Tabel 1 Hasil analisa Komposisi LPG di beberapa Depot di Indonesia

Tabel 1 Hasil analisa Komposisi LPG di beberapa Depot di Indonesia

Tabel 2 Analisa Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa Depot di Indonesia

Tabel 2 Analisa Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa Depot di Indonesia

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 69 - 77

Tabel 3 Hasil analisa Komposisi LPG di beberapa SPPBE di Indonesia

Tabel 3 Hasil analisa Komposisi LPG di beberapa SPPBE di Indonesia

Tabel 4 Analisa Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa SPPBE di Indonesia

Tabel 4 Analisa Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa SPPBE di Indonesia

C. Komposisi LPG di beberapa Agen LPG

Berikut adalah tabel data laboratorium hasil analisa komposisi hidrokarbon LPG di beberapa agen LPG dengan hasil pengukuran nilai kalor kotor dan nilai kalor bersihnya.

D. Spesi kasi mutu bahan bakar LPG campuran

Terdapat 3 (tiga) jenis LPG di Indonesia yaitu LPG propane, LPG butane dan LPG campuran. Ke- tiga jenis LPG tersebut dibedakan atas komposisinya,

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga (Lisna Rosmayati)

Tabel 5 Komposisi hidrokarbon LPG di beberapa Agen

Tabel 5 Komposisi hidrokarbon LPG di beberapa Agen

Tabel 6 Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa Agen

Tabel 6 Sifat Fisika-Kimia LPG di beberapa Agen

karena berbeda komposisi maka tekanan uap, SG dan nilai kalornya akan berbeda pula. Ketiga jenis LPG tersebut dibedakan untuk peruntukan yang berbeda pula. LPG yang umumnya digunakan untuk keper-

luan rumah tangga sebagai bahan bakar adalah jenis LPG campuran, yaitu komponen utamanya adalah campuran propane dan butane. Tabel 7 berikut ini adalah table spesikasi LPG yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Migas terbaru pada tahun 2009.

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 69 - 77

Tabel 7 Standar Mutu Spesikasi Bahan Bakar LPG Campuran untuk rumah tangga

Tabel 7 Standar Mutu Spesi fi kasi Bahan Bakar LPG Campuran untuk rumah tangga

IV.EVALUASI DAN PEMBAHASAN

A. Evaluasi Komposisi Hidrokarbon dalam LPG

Monitoring kualitas mutu LPG rumah tangga sudah seharusnya dilakukan di seluruh wilayah In- donesia yang dilakukan secara rutin minimal sekali dalam setahun untuk mengantisipasi sedini mungkin gejala penyimpangan mutu atau kualitas LPG. Moni- toring ini secara teknis dilakukan di beberapa Depot, SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji) dan agen. Hasil pengujian Liquefied Petroleum Gas (LPG) campuran adalah meliputi tekanan uap, total sulfur, kandungan air dan komposisi LPG seperti etana, propana, propena, butana, butena dan pentana. Kandungan maksimum etana (C 2 ) dalam spesikasi LPG adalah 0,2% volume. Sesuai spesikasi LPG, kandungan minimum propana (C 3 ) dan butana (C 4 ) adalah 97,0 % volume. Sesuai spesikasi, kandungan maksimum pentana adalah sebesar 2,0% volume. Etana merupakan senyawa hidrokarbon ringan yang mempunyai titik didih dan energi per volume lebih rendah dibandingkan dengan propana atau C 3 . Sebagai gambaran, kandungan energi etana adalah 1618,7 Btu/ft 3 , sedangkan propana sebesar 2314,9 Btu/ft 3 . Oleh karena itu, LPG yang mengandung etana dalam jumlah yang banyak atau melebihi batas ketentuan yang ditetapkan akan mempunyai

kandungan energi yang lebih rendah. Spesikasi LPG menetapkan batasan kandungan C3 + C4 minimum sebesar 97,0%Vol. Nilai kandungan C3 + C4 merupakan penjumlahan kandungan C 3 (propana, propena) dan C 4 (butana dan butene). Pengaruh adanya senyawa tidak jenuh (propena dan butena) dalam percontoh LPG dapat diketahui dengan melihat kandungan energi masing- masing komponen. Propana mempunyai kandungan energi 2314,9 Btu/ft 3 , sedangkan propena 2182 Btu/ ft 3 . Rata-rata kandungan energi butana 3006 Btu/ft 3 , sedangkan rata-rata kandungan energi butene adalah 2876 Btu/ft 3 . Jadi kandungan energi senyawa tidak jenuh lebih rendah dari kandungan energi senyawa jenuh dengan jumlah atom karbon yang sama dalam senyawa tersebut. Olehkarenanya dengan adanya senyawa tidak jenuh akan menurunkan kandungan energi LPG. Dilihat dari data pada tabel 1 hasil analisa komposisi LPG, jumlah konsentrasi hidrokarbon C 3 dan C 4 dari beberapa depot dan terminal berada di atas batasan minimum spesi kasi yang dipersyaratkan yaitu 97,00% mol :

Dari hasil analisa komposisi, produk LPG dari depot A berasal dari rening crude oil karena kom- posisi hidrokarbon C 3 dan C 4 nya terdiri dari rantai karbon jenuh dan tak jenuh. Selain Propana, juga terdeteksi adanya propilena, 1-butena, Iso butilen dan senyawa alkene lainnya. Sedangkan Depot B, termi-

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga (Lisna Rosmayati)

nal C dan D gasnya dihasilkan dari hasil kondensasi gas alam (Condensation of natural gas) karena tidak ditemukan adanya senyawa alkena (hidrokarbon tak jenuh) jumlah konsentrasi hidrokarbon C 3 dan C 4 dari beberapa SPPBE juga berada di atas batasan minimum spesi kasi yang dipersyaratkan yaitu 97,00% mol. Begitu pula dengan jumlah konsentrasi hidrokarbon C 3 dan C 4 di beberapa agen di Indonesia.

Propana dan butana merupakan senyawa kimia yang berbeda, tetapi keduanya merupakan hidrokarbon jenuh (saturated). Sifat keduanya hampir mirip dan jika dicampur, keduanya tidak bereaksi satu sama lain. Hanya saja butana bersifat kurang volatile jika dibandingkan dengan propana. Nilai kalor propana dan butana hampir sama dan dalam produk LPG untuk bahan bakar rumah tangga (residensial), propana dan butana biasanya dicampur dengan perbandingan tertentu untuk memperoleh tekanan uap (vapor pressure) yang diperlukan oleh pengguna (user). Kandungan hidrokarbon etana di depot, SPPBE dan agen, umumnya lebih kecil dari batasan maksimum spesifikasi yaitu 0,8% mol kecuali terminal D sedikit lebih tinggi dari nilai maksimum spesi kasi LPG yaitu 0,8635% mol. Kandungan hidrokarbon etana dalam LPG harus dibatasi karena akan berpengaruh langsung pada besarnya nilai kalor dan vapor pressure produk LPG yang dihasilkan. Konsentrasi etana yang tinggi dan melebihi batas spesi kasi nilai etana yang telah ditetapkan pemerintah akan menaikkan nilai tekanan uapnya yang memiliki batasan maksimum 145. Kandungan hidrokarbon C5 da-

lam LPG di depot, SPPBE dan agen, seluruhnya berada pada konsentrasi di bawah batasan maksimum spesi kasi yaitu 2,0% mol. Kandungan n-pentane, iso pentane dan neopentana dengan kon- sentrasi yang melebihi batas maksimum spesikasi LPG, akan berpengaruh selain pada besaran nilai kalornya, kemampuan untuk terjadinya pembakaran memerlu- kan entalpi yang lebih besar. B. Evaluasi Sifat Fisika-Kimia LPG Dalam monitoring mutu LPG, Sifat sika-kimia yang diuji adalah tekanan uap (Reid Vapor Pressure), Weathering Test, Copper Strip Corrossion, kandun- gan total sulfur dan kadar air.

Gambar 1 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di Depot dan Terminal

Gambar 1 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di Depot dan Terminal

Gambar 2 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di SPPBE

Gambar 2 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di SPPBE

Gambar 3 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di Agen-agen di wilayah Indonesia

Gambar 3 Konsentrasi campuran hidrokarbon C3+C4 dalam LPG di Agen-agen di wilayah Indonesia

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 69 - 77

1. Reid Vapor Pressure (RVP)

Tekanan uap LPG merupakan indikasi adanya komponen yang mudah menguap dalam LPG. Tekanan uap LPG terkait erat dengan ketahanan material tabung, tangki penyimpan, container dan alat rumah tangga untuk menjamin keamanan dalam penggunaan produk LPG. Batas maksimum RVP LPG pada 100 o F dalam spesi kasi adalah 145 psig. Hal ini berarti RVP sampel LPG tidak diperbolehkan me- lebihi batasan maksimum tersebut untuk menjamin keamanan dan keselamatan dalam penggunaan bahan bakar LPG. Nilai RVP ini terkait erat dgn perbandin- gan komposisi propana dan butana yang menjadi komponen utama dalam produk LPG, dimana propana memiliki tekanan uap yang lebih tinggi dari butana. Untuk menurunkan nilai RVP LPG, kita dapat menurunkan perbandingan konsentrasi propananya. Nilai RVP baik di Depot, terminal, SPPBE dan Agen di beberapa wilayah di Indonesia hasil monitoring 2011 masih be- rada di bawah batasan maksimumnya yaitu 145 psig. Jika ada Depot, SPPBE dan Agen yang memiliki parameter di luar spesikasi LPG, maka pihak yang berwenanglah yang akan memberikan peringatan.

2. Weathering Test

Weathering test merupakan salah satu

parameter uji LPG untuk menentukan adanya komponen LPG yang mudah menguap. Batasan minimum spesi kasi adalah 95% vol pada suhu 36 o F. Dari data laboratorium, hasil analisa weathering test di Depot, Terminal, SPPBE dan Agen berkisar antara 98 dan 99% volume. Dibandingkan dengan persyaratan minimalnya, komposisi LPG yang terkandung di dalam tabung masih masuk dalam persyaratan spesikasi, artinya kandungan komponen yg mudah menguap masih berada dalam batasan spesikasi.

3. Copper Strip Corrossion

Nilai Copper Strip Corrossion sampel LPG dari Depot, Terminal, SPPBE dan Agen menunjukkan bahwa komposisi LPG tidaklah bersifat korosif, dili-

Gambar 4 Konsentrasi etana dalam LPG di Depot dan Terminal

Gambar 4 Konsentrasi etana dalam LPG di Depot dan Terminal

Gambar 5 Konsentrasi C5 dalam LPG di Depot dan Terminal

Gambar 5 Konsentrasi C5 dalam LPG di Depot dan Terminal

hat dari hasil laboratorium menunjukkan nilai 1a dan 1b. Dalam spesikasi dicantumkan bahwa nilai Cop- per Strip Corrossion tidak boleh lebih dari 1. Nilai yang lebih dari 1 menunjukkan hasil yang off spec dan berarti komposisi LPG tersebut bersifat korosif. Korosi tas LPG dikaitkan pula dengan kandungan kadar air dan total sulfurnya.

4. Total Sulfur

Kandungan sulfur dalam LPG merupakan salah satu parameter yang menunjukkan sifat korosif. Tu- juannya untuk mengetahui kandungan total sulfur dalam LPG pada konsentrasi yang cukup rendah,

Kajian Komposisi Hidrokarbon dan Sifat Fisika-Kimia LPG untuk Rumah Tangga (Lisna Rosmayati)

lalu dibandingkan dengan spesikasi. Seperti telah diketahui bahwa kandugan sulfur dapat menyebab- kan terjadinya korosi pada logam. Dalam spesikasi

Dirjen Migas, nilai maksimum dari total sulfur adalah

15. Sampel LPG di Depot menunjukkan bahwa total

sulfur LPG berkisar 0,67 sampai dengan 4,07. Di SPPBE berkisar 0,01 s/d 6,56 dan di agen berkisar 0,02 s/d 1,40. Secara keseluruhan, hasil analisa total sulfur LPG di 12 lokasi pengambilan sampel tidak bersifat korosif.

5. Kadar Air

Kadar air dalam komposisi LPG juga sangatlah perlu diperhatikan karena adanya uap air dalam LPG dengan konsentrasi yang signifikan akan mengakibatkan kerusakan peralatan karena dapat bereaksi dengan kandungan sulfur sehingga membentuk asam sulfat yang sangat korosif pada tabung dan bersifat racun. Hasil data laboratorium menunjukkan tidak adanya kandungan uap air dalam LPG di Depot, Terminal, SPPBE dan agen.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Parameter C 2 (etana), C 3 (propana), C 4 (butana), C 5 (pentana), vapour pressure (RVP), weathering test, copper strip corrosion, total sulfur dan kandungan air merupakan parameter yang mewakili persyaratan kualitas dan mutu LPG sebagai bahan bakar gas untuk rumah tangga.

2. Jumlah konsentrasi hidrokarbon C 3 dan C 4 dari beberapa depot, terminal, SPPBE dan agen di Indonesia berada di atas batasan minimum spesi kasi yang dipersyaratkan yaitu 97,00% mol .

3. Dari hasil analisa komposisi, produk LPG dari depot A berasal dari re ning crude oil karena komposisi hidrokarbon C 3 dan C 4 nya terdiri dari rantai karbon jenuh (alkana) dan tak jenuh (alkena). Sampel LPG di Depot A selain propana, juga terdeteksi adanya propilena, 1-butena, Iso butilen dan senyawa alkena lainnya. Sedangkan Depot B, terminal C dan D gasnya dihasilkan dari hasil kondensasi gas alam (Condensation of natural gas) karena tidak ditemukan adanya senyawa alkena (hidrokarbon tak jenuh).

4. Kandungan hidrokarbon etana di depot, SPPBE dan agen, umumnya lebih kecil dari batasan maksimum spesi kasi yaitu 0,8% mol kecuali terminal D sedikit lebih tinggi dari nilai maksimum spesi kasi LPG yaitu 0,8635% mol.

5. Kandungan hidrokarbon C 5 dalam LPG di depot, SPPBE dan agen, seluruhnya berada pada konsentrasi di bawah batasan maksimum spesikasi yaitu 2,0% mol.

6. Hasil monitoring sifat sika dan kimia LPG menunjukkan tidak ada penyimpangan dari spesi kasi LPG yang ditetapkan pemerintah.

7. Jika ditemukan adanya analisis sampel yang tidak memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan, akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang dan selanjutnya akan ditindaklanjuti untuk pemberian peringatan pada pihak terkait.

8. Monitoring kualitas mutu LPG rumah tangga sangat penting dilakukan secara rutin di seluruh wilayah Indonesia minimal sekali dalam setahun untuk mengantisipasi sedini mungkin gejala penyimpangan mutu atau kualitas LPG.

KEPUSTAKAAN

1. ASTM D 2163-07 Standard Test Method for Deter- mination of Hydrocarbons in Lique ed Petroleum (LP) Gases and Propane/Propene Mixtures by Gas Chromatography

2. ASTM D 1267-02 (reapproved 2007) Standard Test Method for gage Vapor Pressure of Liqueed Petro- leum (LP) Gases

3. ASTM D 1838-03 Standard Test Method for Copper Strip Corrosion by Liqueed Petroleum (LP) Gases

4. ASTM D 1142-95 (reapproved 2006) Standard Test Method for Water Vapor Content of Gaseous Fuels by Measurement of Dew-Point Temperature

5. ISO 19739 Natural Gas-Determination of sulphur compounds using gas chromatography

6. Pengawasan Mutu Gas Bumi dan Liqueed Petroleum (LP) Gases, Workshop PPPTMGB “LEMIGAS” Ja- karta, Mei 2007

Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8KVA Berbahan Bakar Campuran DME-LPG (Maymuchar)

Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8 KVA Berbahan Bakar Campuran DME-LPG

Maymuchar

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telepon: 62-21-7394422, Fax: 62-21-7246150 Teregistrasi I tanggal 2 Agustus 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 23 Agustus2012 Disetujui terbit tanggal: 31 Agustus 2012

ABSTRAK

Dimetil eter (DME) memiliki karakteristik yang hampir sama dengan LPG. Dengan kemiripin tersebut DME dapat dijadikan sebagai bahan bakar yang dapat dalam bentuk campuran dengan LPG bahkan dapat menggantikan LPG sepenuhnya. Untuk mengetahui sejauh mana DME dapat berperan sebagai bahan bakar pengganti LPG, maka perlu dilakukan pengujian. Pengujian pada penelitian ini dilaksanakan terhadap mesin pembangkit listrik (generator) berkapasitas 4.8 KVA berbahan bakar LPG. Variasi campuran DME pada LPG pada penelitian ini adalah 10%, 20%, 30% 40%, dan 50% dan variasi pembebanan dari 500 sampai dengan 4.500 watt. Parameter pengujian kinerja mesin penggerak generator ini dilakukan dengan mengamati emisi gas buang seperti CO, CO 2 , HC dan NOx serta secara kualitatif kestabilan operasi mesin. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata emisi CO 2 mengalami peningkatan dengan bertambahnya komposisi DME pada setiap kenaikan beban. Sedangkan emisi CO dan HC mengalami penurunan pada kondisi tersebut. Emisi NOx juga mengalami peningkatan dengan penambahan komposisi DME dan setiap kenaikan beban. Operasi mesin tidak stabil terjadi pada kondisi pembebanan 4.000 watt dengan komposisi DME 50% dalam LPG.

Kata Kunci: DME, LPG, mesin pembangkit listrik

ABSRACT

Dimethyl Ether (DME) has similar characteristics to LPG. DME can be used either as fuel in the form of a mixture with LPG or even as a fuel substitute LPG completely. In order to nd out the extent of DME’s role as an alternative fuel replacing LPG, a test should be carried out.The test was carried out on engine power (generator) with the capacity of 4.8 KVA LPG fuel. The variaty on LPG DME mixture in this study were 10%, 20%, 30% 40%, and 50% and the variaty of electrical load from 500 watt up to 4.500 watt. The testing parameter for the generator engine performance was done by observing the emissions of CO, CO 2 , HC and NOx as well as the engine operation stability qualitatively. The result of the test on the average CO 2 emissions shows that the emmission increases for every addition of DME at the increasing of electrical load, on the other hand CO emmision and HC concentration decreases. NOx also increases for every addition of DME at the increasing of electrical load. The engine is unstable at the 4.000 watt eletrical load with 50% DME compotition in LPG.

Keywords : DME, LPG, engine generator

A. PENDAHULUAN

Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden RI Nomor 05

Tahun 2006 memberikan panduan diversi- kasi energi dengan mengembangkan energi alternatif. Dimethylether (DME) adalah bahan bakar yang memiliki sifat yang mirip

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 79 - 84

dengan LPG mempunyai potensi cukup besar untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai bahan bakar pengganti atau campuran dengan LPG. Pemanfaatan bahan bakar gas memegang peranan penting dalam menyukseskan program langit biru. Selain bahan bakar gas produk dari gas bumi, DME

(Dimethyl Ether) merupakan bahan bakar gas yang dewasa ini menjadi suatu alternatif energi yang dapat mensubstitusikan peranan bahan bakar gas lainnya seperti LPG, LNG maupun CNG. Hal tersebut di- sebabkan terutama oleh karakteristiknya yang mirip dengan LPG. DME selain dapat diproduksi dari bahan bakar fosil yaitu gas bumi - yang dalam tahun- tahun belakangan ini pertambahan produksi gas bumi nasional tidak signikan dengan peningkatan konsumen bahan bakar gas - juga bisa diproduksi dari gasikasi batubara yang secara nasional cadangan- nya masih berlimpah serta dapat pula diproduksi dari biomassa. Selain pabrik DME yang sudah ada,

2 pabrik DME dengan kapasitas 800 juta ton dan

150.000 ton - 200.000 ton DME per tahun akan didirikan di Indonesia. Pabrik DME yang ada saat ini memproduksi DME sebagai bahan baku aerosol dan kosmetik. Suksesnya konversi minyak tanah kebahan bakar LPG memberi dampak Indonesia terpaksa harus meng-impor LPG lebih dari 700 ribu ton pertahun. Maka dengan adanya DME yang juga dapat men- substitusi atau dicampurkan dengan LPG dan LGV, diharapkan Indonesia bisa mengurangi bahkan tidak lagi meng-impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik. DME-LPG mix adalah bahan bakar yang merupakan campuran DME dan LPG pada be- berapa variasi komposisi. Pemanfaatan DME juga merupakan implementasi dari Peraturan Presiden

Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 Bab I Pasal

1 ayat 7, tentang konservas energi yaitu penggunaan

energi secara esien dan rasional tanpa mengurangi

penggunaan energi yang memang diperlukan. Penelitian pemanfaatan DME-LPG mix di-

maksudkan untuk mempelajari pen- garuh pemakaian beberapa variasi campuran DME dalam LPG pada kinerja mesin pembangkit listrik skala kecil berkapasitas 4,8 KVA. Parameter yang diamati pada peman- faatan bahan bakar ini adalah emisi gas buang, kestabilan operasional mesin dan kemudahan start

B. BAHAN DAN METODOLOGI

1. Bahan

Penelitian dilaksanakan dengan persiapan bahan bakar uji berupa LPG dan DME murni. Bahan bakar LPG yang digunakan dalam pengujian ini adalah LPG yang dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan diperoleh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) sedangkan DME diperoleh dari pabrik DME di Indonesia yaitu PT Bumi Tangerang Gas Industri, yang saat ini memproduksi DME sebagai bahan aerosol dan kosmetik. Campuran LPG mix DME dengan berbagai variasi dapat diperoleh dengan menggunakan satu unit instalasi yang terdiri dari pompa membran, perpipaan dan tabung gas. Sebelum pengujian di- laksanakan pada mesin generator, bahan bakar LPG, DME dan campurannya perlu diuji sifat-sifat sika kimianya dengan metode uji standar ASTM dan/ atau metode uji baku lainnya. Dalam penelitian ini besarnya komposisi DME yang digunakan adalah 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%.

2. Metodologi

Masing-masing campuran LPG mix DME akan diaplikasikan pada mesin pembangkit listrik yang

diberi beban bervariasi mulai dari 500 sampai dengan

4500 watt. Pembangkit listrik yang dipakai dalam

studi ini adalah bermerek Krisbow LPG Generator yang spesifikasinya ditunjukkan dalam Tabel 1, sedangkan bentuk visualisasinya dapat dilihat pada Gambar 1. Parameter yang diamati pada pemanfaatan bahan bakar ini adalah emisi gas buang, kestabi- lan operasional mesin dan kemudahan dinyalakan (start).

Evaluasi kinerja pada generator dilakukan dengan membandingkan hasil uji kinerja mesin pembangkit listrik berbahan bakar LPG dengan kinerja mesin pembangkit listrik berbahan bakar campuran DME dalam LPG pada beberapa komposisi.

Tabel 1 Spesikasi mesin pembangkit listrik

Tabel 1 Spesi fi kasi mesin pembangkit listrik

Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8KVA Berbahan Bakar Campuran DME-LPG (Maymuchar)

Gambar 1 menunjukan mesin pembangkit listrik yang digunakan sebagai mesin uji.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Karakteristik Fisika Kimia LPG, DME dan Campurannya

Hasil pengujian sifat sika dan kimia bahan bakar uji baik LPG dan DME murni serta beberapa variasi campuran LPG mix DME dapat dilihat pada Tabel 2. LPG yang digunakan pada pengujian ini telah sesuai dengan spesi kasi sedangkan karakteristik DME untuk beberapa parameter pengujian juga telah sesuai dengan spesi kasi LPG kecuali parameter komposisi, begitu juga dengan LPG mix DME hasil pencampuran.

Spesic gravity dan vapour pressure campuran LPG mix DME mengalami peningkatan dengan penambahan kadar DME dalam LPG, dikarenakan sifat specic gravity dan vapour pressure yang dimi- liki DME lebih besar dari LPG. Peningkatan kedua karakteristik pada campuran LPG mix DME ini masih dalam batasan maksimal spesikasi LPG.

Karakeristik lain seperti cooper corrosion tidak mengalami perubahan dengan bertambahnya jumlah DME dalam LPG, sebab kandungan unsur yang bersifat korosif dalam DME sangat kecil sekali sehingga tidak mempengaruhi penambahan DME sampai 50%.

2. Emisi Gas Buang Mesin Generator

Dalam penelitian ini pengukuran unjuk kerja mesin generator dilakukan dengan mengamati perubahan pada emisi gas buang seperti CO, CO 2 , HC dan NOx. Selain itu diamati juga secara kuali- tatif kestabilan operasi mesin pembangkit listrik dan kemudahan penyalaan awal. Emisi gas buang merupakan cerminan dari proses pembakaran yang berlangsung di ruang bakar mesin. Pembakaran yang baik akan menghasilkan emisi CO 2 yang lebih besar serta emisi CO dan HC yang lebih rendah.

Gambar 1 Mesin Uji

Gambar 1

Mesin Uji

Tabel 2 Hasil pengujian sika kimia LPG, DME dan LPG mix DME

Tabel 2 Hasil pengujian fi sika kimia LPG, DME dan LPG mix DME

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 79 - 84

Dari hasil pengamatan pada pengujian ini diper-

oleh

bahwa emisi hidrokarbon (HC) yang dikeluarkan

oleh

mesin generator memiliki kecenderungan akan

berkurang dengan penambahan DME tetapi kon-

sentrasi HC meningkat sampai pada beban tertentu

dan selanjutnya menurun pada setiap penambahan

beban. Penurunan rata-rata emisi HC pada semua beban masing masing adalah 38,5%, 59,5%, 173%, 216.3%, 219,2% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Pola emisi HC yang dihasilkan mesin pembangkit listrik ini ditunjukkan dalam Gambar 2.

Pada pengamatan emisi NOx yang dihasilkan

oleh mesin generator terlihat bahwa konsentrasi emisi

NOx akan meningkat dengan penambahan beban dan penambahan konsentrasi DME pada campuran LPG

mix DME. Peningkatan rata-rata emisi NOx pada

semua beban masing masing adalah 23%, 36%, 57%, 66%, dan 64% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Gambar 3 menunjukkan emisi

Nox yang dihasilkan mesin uji untuk setiap kenaikan

beban dan komposisi DME dalam LPG. Emisi CO yang dikeluarkan oleh mesin pem- bangkit listrik yang berbahan bakar LPG mix DME menunjukan kecenderungan menurun dengan se- makin besarnya konsentrasi DME dalam campuran LPG dan semakin besarnya beban yang diberikan. Penurunan rata-rata emisi CO pada semua beban masing masing adalah 38%, 77%, 109%, 140%, 144% untuk konsentrasi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Gambar 4 menunjukkan hasil pengukuran emisi CO yang dihasilkan oleh generator. Fenomena yang berlawanan terjadi pada emisi

CO 2 dimana konsentrasi emisi CO 2 dalam gas buang ini semakin meningkat dengan bertambahnya beban

dan meningkatnya konsentrasi DME dalam LPG.

Kecenderungan ini dapat terjadi karena dalam proses pembakaran yang lebih baik akan menghasilkan emisi CO yang rendah dan emisi CO 2 yang lebih

tinggi. Peningkatan rata-rata konsentrasi emisi CO 2

pada semua beban masing masing adalah 14%, 14%,

15%, 23%, 31% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Dari hasil pengukuran emisi gas buang menun- jukkan bahwa emisi CO dan HC mengalami penu- runan sedang emisi CO 2 mengalami kenaikan. Kom- posisi emisi gas buang seperti ini mengidentikasikan bahwa terjadi pembakaran yang lebih baik dengan penambahan DME dalam LPG. Adanya oksigenat

Gambar 2 Emisi HC yang dihasilkan mesin generator

Gambar 2 Emisi HC yang dihasilkan mesin generator

Gambar 3 Gra fi k Emisi NOx

Gambar 3 Gra k Emisi NOx

Gambar 4 Gra fi k Emisi CO

Gambar 4 Gra k Emisi CO

pada senyawa DME membantu memperbaiki proses pembakaran di ruang bakar mesin. Kondisi ini ini juga ditunjukan dengan kestabilan operasi mesin tetap terjaga dengan penambahan beban. Perbedaan waktu penyalaan yang tidak signikan menunjukkan

Kinerja Mesin Penggerak Generator 4,8KVA Berbahan Bakar Campuran DME-LPG (Maymuchar)

bahwa kandungan DME tidak mempengaruhi proses penyalaan awal mesin. Akan tetapi terjadi kondisi yang kurang baik yaitu terjadinya peningkatan emisi NOx. Pening- katan emisi NOx ini disebabkan tingginya kadar O 2 dan temperatur yang tinggi di ruang bakar. Adanya penambahan komposisi DME akan mengakibatkan semakin banyaknya kandungan O 2 dalam proses pembakaran sehingga terdapat kelebihan O 2 yang tidak bereaksi dengan bahan bakar. Dalam kondisi normal nitrogen adalah gas inert yang sangat stabil, tetapi dalam kondisi temperatur tinggi dan tekanan tinggi dalam ruang bakar nitrogen akan sangat mudah berikatan dengan O 2 . Salah satu penyebab temperatur tinggi terjadi dalam ruang bakar adalah perbandingan udara dan bahan bakar yang terlalu kurus yang berarti O 2 terlalu banyak dalam AFR.

3. Kemudahan Mesin Dinyalakan

Selain parameter unjuk kerja diatas, pada pengujian ini juga diamati kemudahan generator untuk dioperasikan (di-start) dan kestabilan pada saat terjadi penambahan beban. Hasil pengamatan terhadap kemudahan start dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk masing-masing bahan bakar uji yaitu sekitar 1,4 - 2,3 detik.

4. Kestabilan Operasi Mesin Generator

Pengamatan terhadap kestabilan operasi generator dilakukan secara kualitatif yaitu dengan mengamati kestabilan operasi mesin generator pada setiap beban. Dari hasil pengamatan kestabilan generator yang beroperasi dengan bahan bakar LPG mix DME menunjukan bahwa untuk komposisi DME 10% sam- pai dengan 40%, generator dapat beroperasi dengan baik dan stabil pada semua beban (500-4.500 Watt). Akan tetapi untuk campuran 50% DME, genera- tor beroperasi tidak stabil mulai pada beban 4.000 Watt. Kondisi operasi yang tidak stabil pada peningkatan konsentrasi DME dalam LPG akan menyebabkan penurunan nilai kalori bahan bakar campuran ini. Kalori yang dikandung DME lebih kecil dibanding- kan LPG yaitu 6900 kCal/kg sedang LPG memiliki nilai kalori sebesar 11.000 – 12.000 kCal/kg sehingga bahan bakar campuran ini tidak cukup energi untuk menahan beban sampai dengan 4.000 watt.

Gambar 5 Gra fi k Emisi CO 2

Gambar 5 Gra k Emisi CO 2

D. KESIMPULAN

Dari hasil pengujian campuran bahan bakar DME pada LPG terhadap kinerja mesin pembangkit listrik skala kecil dapat disimpulkan bahwa:

1. Bahan bakar LPG mix DME dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif mesin pembang- kit listrik skala kecil untuk menggantikan bahan bakar LPG maupun bahan bakar minyak se- hingga konsumsi bahan bakar LPG akan semakin berkurang.

2. Beberapa keuntungan yang didapat dari penggu- naan bahan bakar LPG mix DME untuk mesin pembangkit listrik skala kecil dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar LPG antara lain yaitu :

- Emisi CO 2 yang dihasilkan lebih tinggi untuk semua pembebanan dan semua komposisi DME dalam campuran LPG. Peningkatan rata-rata emisi CO2 pada semua beban masing masing 14%, 14%, 15%, 23%, 31% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%.

- Emisi beracun CO yang dihasilkan lebih rendah untuk semua pembebanan dan semua komposisi DME dalam campuran LPG. Penurunan rata-rata emisi CO pada semua beban masing masing 38%, 77%, 109%, 140%, 144% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%.

- Emisi beracun HC yang dihasilkan lebih rendah untuk semua pembebanan dan semua komposisi DME dalam campuran LPG. Penurunan rata- rata emisi HC pada semua beban masing masing 38,5%, 59,5%, 173%, 216.3%, 219,2% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan

50%.

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 79 - 84

- Pada umumnya operasi mesin pembangkit listrik tetap stabil untuk semua pembebanan dan semua komposisi DME dalam campuran LPG, kecuali untuk komposisi 50% dan beban 4.000 dan 4.500 watt.

- Penambahan komposisi DME dalam LPG tidak mempengaruhi secara signifikan untuk menghidupkan awal mesin pembangkit listrik. 3. Sedangkan kelemahan pada penggunaan bahan bakar LPG mix DME untuk mesin pembangkit listrik skala kecil dibandingkan dengan bahan bakar LPG antara lain:

- Emisi NOx yang dihasilkan lebih tinggi untuk semua pembebanan dan semua komposisi DME dalam campuran LPG. Dengan temperatur operasi yang tinggi maka mesin pembangkit listrik ini tidak dapat dioperasikan lebih lama. Peningkatan rata-rata emisi NOx pada semua beban masing masing 23%, 36%, 57%, 66%, dan 64% untuk komposisi DME 10%, 20%, 30%, 40% dan

50%.

- Semakin besar kandungan DME dalam LPG me- nyebabkan penurunan nilai kalori, sehingga tidak mampu menahan beban yang lebih tinggi.

KEPUSTAKAAN

1. Bartok. W, Sarofin Adel. F, 1991, ”Fossil Fuel Combustion”, A Wiley-interscience Publication, John Wiley & Son Inc, Canada

2. Christopher F, Blazek, 1980, ”Use of Alternative

Fueled Vehicles, Institute of Gas Technology, Chicago, Illinois, USA

3. Dirjen MIGASmenurut SK Ditjen No. 25 K/36/ DDJM/1990, ” Spesi kasi LPG mix”, 1990

4. Heywood, John B, 1989, “Internal Combustion Engine Fundamentals”, McGraw Hill, International Edition, Singapore

5. Japan DME Forum (JDF), DME Handbook, Ohmsha, 2007, Tokyo

6. Owen Keith, Coley Trevor, 1985, “Automatic Fuels Reference Book”, SAE Inc, Warrentale,

7. Pallawagau La Puppung, 1986, Penggunaan LPG sebagai Bahan Bakar untuk Motor Bakar, Pusat Pe- nelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, Jakarta

8. Proceeding 7th Asian DME Conference, DME, Toki Messe Niigata Convention Centre, 2011, Japan

9. PT PLN JASDIKLAT. (1997). Generator. PT PLN Persero. Jakarta

10. Strehlow Roger. A, 1985, “Combustion Fundamen- tals, McGraw Hill, International Edition, Singapore.

11. Van Der Weide, et.al, 1981, Gaseous Fuels for Inter- nal Combustion Engines, Internal Agency, New Enegy Conservation Technologies and Their Commercializa- tion, Vol 2, Springer-Verlag, Berlin Heidelberg, New York

12. http://www.gasifikasibatubara.com/berita/berita- gasi kasi-batubara/59-pt-pertamina-serap-dme-17- juta-tontahun

13. http://industri.kontan.co.id/news/ferrostaal-siap-

investasi-us-900-juta-di-papua

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan (Djoko Sunarjanto)

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan

Djoko Sunarjanto

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telepon: 62-21-7394422, Fax: 62-21-7246150 Email: djokosnj@lemigas.esdm.go.id Teregistrasi I tanggal 6 Juli 2012; Diterima setelah perbaikan tanggal 25 Juli 2012 Disetujui terbit tanggal : 31 Agustus 2012

ABSTRAK

LEMIGAS sebagai lembaga litbang milik pemerintah telah mengawali pengembangan Gas Metana Batubara (GMB) di Indonesia. Kegiatan ini telah berhasil dengan baik dan diikuti dengan ditanda-tanganinya sebanyak 50 kontrak kerjasama pengembangan GMB selama kurun waktu lima tahun terakhir (2008-2012). Pada akhir tahun 2011, telah berhasil mengkonversi GMB menjadi tenaga listrik yang ramah lingkungan dalam program CBM to power. Analisis komparatif mengikuti sukses eksplorasi GMB LEMIGAS, saat ini sedang dilakukan penelitian shale gas di dua cekungan migas, di Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Barito. Dari ke dua cekungan tersebut akan dipilih satu cekungan untuk dilakukan uji coba (pilot test) dengan tujuan untuk mengetahui dapat tidaknya potensi shale gas di cekungan tersebut dikembangkan dalam skala komersial. Diharapkan GMB, shale gas/oil, tight sand gas segera dapat dikembangkan guna mulai menggantikan migas konvensional.

Kata kunci: eksplorasi, migas non-konvensional, lingkungan

ABSTRACT

LEMIGAS as the government research and development institutions has initiated the development of Coal Bed Methane (CBM) in Indonesia. This activities has worked well and was followed by the signing of 50 Production Sharing Contracts of CBM development during the period of ve years (2008-2012). At the end of 2011, has managed to convert CBM into electricity is environment friendly in the CBM to Power program. Comparative analysis with following the successful exploration of CBM LEMIGAS, currently is conducted research on shale gas in two oil and gas basins, in the North Sumatra Basin and Barito Basin. Of the two basins one will be selected as a pilot basin for trials, conducted with the aim to determine whether or not the potential of shale gas in the basin can be developed on a commercial scale. Expected coal methane gas, shale gas/oil, tight sand gas can be developed to initiate the replacement of conventional oil and gas.

Keywords: exploration, non-conventional oil and gas, environment

I. PENDAHULUAN

Pengelolaan minyak dan gas bumi (migas) serta batubara khususnya gas non-konvensional dengan cerdas dan esien merupakan bagian penting untuk terlaksananya pembangunan nasional berkelanju- tan. Muaranya agar dapat menunjang terwujudnya suatu masyarakat adil dan makmur yang merata dan

seimbang. Pemanfaatan migas dan batubara pada dasarnya bertujuan untuk sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Tersedia cukup banyak reservoar gas non- konvensional yang terpendam di bawah permukaan

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 85 - 93

bumi. Indonesia memiliki total sumberdaya GMB sebesar 453,30 TCF dan shale gas sebesar 570 TCF (Ditjend Migas 2012). Sumberdaya gas non- konvensional yang telah diketahui adalah sumber- daya gas yang berasal dari batubara dan sumber- daya minyak dan gas bumi yang terjebak di dalam batuan serpih (shale) tertentu. Khusus yang terakhir, keberadaannya dianggap banyak karena di Indonesia sedikitnya telah terbukti memiliki lebih dari 20 cekungan hidrokarbon dan 15 cekungan diantaranya telah diklasikasikan sebagai cekungan prolic untuk produksi minyak dan gas bumi konvensional. Kebutuhan gas domestik yang terus meningkat dan tantangan untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi minyak bumi tentunya harus disikapi dengan melakukan eksplorasi dan pengembangan sumberdaya gas, termasuk gas non-konvensional. Energi yang dikenal ramah lingkungan menjadi ke- untungan lain bagi pelestarian lingkungan yang tidak ternilai secara nominal. Selain sumber energi fosil, inovasi harus terus dilakukan guna mengolah sumber energi non fosil dan mewujudkannya menjadi sebuah sumber energi murah yang bisa dikembangkan untuk saat ini hingga masa depan. Pemerintah fokus pada pengembangan sumber- sumber gas baru non konvensional seperti Gas Metana Batubara (GMB) dan shale gas. Kepu- tusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor:

1669K/30/MPE/1998 menjadi awal landasan hukum tentang Pelaksanaan Pengembangan GMB. Kemu- dian Tahun 2006 dikeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 33 Tahun 2006 tentang pengusahaan GMB, sebagai landasan hukum untuk mengembangkan bisnis GMB di Indo- nesia. Tahun 2012 direncanakan diterbitkan peraturan tentang pengembangan shale gas termasuk ketentuan investasinya.

II. PERMASALAHAN DAN METODA ANALISIS

A. Permasalahan Migas Non-konvensional

Kondisi geologi di Indonesia dikenal cukup kompleks. Namun secara struktur geologi, stratigra, thermal, kualitas dan kuantitas material organik me- mungkinkan dijumpainya shale gas reservoir yang dapat diproduksi secara ekonomis. Namun masih diperlukan usaha-usaha dalam rangka penemuan cadangan gas dari shale gas reservoir. Reservoar

tersebut merupakan reservoar non-konvensional selain dari reservoar konvensional yang selama ini sudah dikembangkan. Percepatan eksplorasi dan pengembangan gas non-konvensional sudah sering diusulkan oleh berbagai pihak. Direktorat Jenderal Migas seba- gai regulator sudah menyiapkan kebijakan untuk pengembangannya. Sedangkan Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM sudah melakukan pilot project pemboran eksplorasi dan produksi Gas Metana Batubara (GMB). Optimasi eksplorasi dan pengembangan GMB, shale gas/oil, tight sand gas sebagai upaya atau mencari alternatif solusi guna mulai menggantikan migas konvensional.

B. Metoda Analisis

Untuk memecahkan permasalahan eksplorasi dan pengembangan gas non-konvensional, dilaku- kan dengan berbagai cara termasuk penelitian dan pengkajian. Salah satunya adalah analisis komparatif antara eksplorasi GMB, dan shale gas/pasir gas guna mengembangkan gas non-konvensional pada waktu yang akan datang. Kompilasi hasil penelitian tentang GMB sudah dilakukan pada awal kegiatan eksplorasi shale gas. Hasil identikasi awal dan kompilasi lapo- ran terdahulu disusun menjadi suatu tinjauan (review) untuk eksplorasi shale gas. Selanjutnya berdasarkan pengalaman pada waktu eksplorasi GMB, tahun 2011 sudah dilakukan eksplorasi di 2 (dua) wilayah yang memiliki potensi shale gas, yaitu Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Barito Kalimantan Selatan.

III. TINJAUAN LITERATUR

A. Sejarah Pengembangan Gas Non-Konvensional

Umumnya batubara yang mengandung gas bumi dianggap sangat membahayakan pada penggalian ”tambang-dalam” batubara. Dalam istilah pertam- bangan batubara, GMB umum juga disebut sebagai gas emisi, karena keberadaannya saat itu hanya se- bagai pengotor. Telah lama para penambang batubara membuang GMB untuk keamanan ketika mereka menambang batubaranya. Jika kandungannya besar, maka gas emisi tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit untuk menghidupkan blower dan penerangan lapangan tambang. Dengan dimanfaat- kannya GMB untuk keperluan sendiri, maka akan menguntungkan para penambang batubara, karena

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan (Djoko Sunarjanto)

gas emisinya telah habis sehingga lapisan betubara tersebut aman untuk ditambang. Sedangkan gas yang terperangkap dalam batuan shale yang tidak bisa bermigrasi ke dalam perangkap geologi diperkirakan jumlahnya masih sangat besar. Denisi lain menyebutkan shale gas adalah gas yang

diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat ter- bentuknya gas bumi. Keberadaan gas tersebut berada sekurang-kurangnya dalam cekungan hidrokarbon

di Indonesia. Teknologi yang tersedia saat ini masih

terbatas ekonomis jika diaplikasikan di daratan

(on-shore) saja. Oleh karena itu pengembangan gas non-konvensional saat ini masih dikonsentrasikan

di daratan. Pada saatnya nanti diharapkan secara

bersamaan dikembangkan juga shale gas di lepas pantai. Penampang keberadaan sumberdaya migas non-konvensional seperti pada Gambar 1. Dengan telah dimanfaatkannya gas non-kon- vensional yang terbukti ekonomis untuk menopang kebutuhan manusia, maka bisnis pengusahaan gas non-konvensional di beberapa negara telah berjalan dengan baik. Keberadaan potensi gas non-konven- sional di Indonesia sampai saat ini sedang terus dikembangkan. Khususnya GMB masih memerlu- kan evaluasi untuk peningkatan ke tahapan produksi skala komersial. Hal ini disebabkan karakter reservoir GMB sangat berbeda dengan reservoar konvensional. Sehingga produksi gas metana dari reservoar batu- bara harus diawali dengan kegiatan rekayasa untuk meningkatkan permeabilitas lapisan reservoarnya sampai gas metana dapat mengalir ke lobang bor. Kegiatan rekayasa ini membutuhkan waktu relatif lama, sehingga para operator maupun investor yang tidak “mampu” dapat mengalami apa yang disebut fatigue management (Sosrowidjojo, 2008). Selain itu juga kemungkinan dikarenakan Indonesia masih memiliki cadangan gas konvensional yang cukup besar.

B. Sumberdaya Gas Non-konvensional

Terminologi non-konvensional dimaksudkan untuk mendiskripsikan permeabilitas reservoir yang super kecil. Saat ini ada tiga jenis tight reservoir yang popular disebut sebagai reservoir gas non-kon- vensional meliputi batubara, shale dan pasir dengan permeabilitas sangat rendah. Gambar 2 menunjukkan jenis play non-konvensional dari tight sand, shale gas dan GMB.

Gambar 1 Penampang menunjukkan posisi keberadaan sumberdaya migas non konvensional (Sumber EIA dalam Tamba, 2011)

Gambar 1 Penampang menunjukkan posisi keberadaan sumberdaya migas non konvensional (Sumber EIA dalam Tamba, 2011)

Dalam teori pengembangan GMB, batubara selain sebagai batuan sumber (source rock) dari gas juga berfungsi sebagai reservoar gas. Sebagai batuan sumber penghasil gas, semakin tinggi tingkatan atau rank batubara akan semakin besar gas yang terben- tuk. Sehingga salah satu metoda untuk mengetahui kandungan GMB dapat dengan mengetahui rank batubara tersebut. Berhubungan dengan proses pembentukan gas, maka semakin dalam formasi batubara berada akan semakin besar juga gas yang terbentuk (Rogers, 1994). Keberadaan GMB yang selama ini sudah diproduksi pada kedalaman lebih besar dari 200 meter. Demikian juga kedalaman lapisan batuan yang mempunyai potensi shale gas berkualitas baik diduga pada kedalaman lebih dalam dari 1.000 meter.

IV. HASIL ANALISIS DAN KAJI ULANG

Sumber energi pada dasarnya dapat dibagi dalam dua golongan berdasarkan asalnya. Sumber energi yang berasal dari fosil dan sumber energi yang be- rasal dari non fosil. Sumber energi yang berasal dari fosil merupakan sumber energi tak terbarukan seperti energi berbasis hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Sumber energi ini terdapat di bawah permukaan setelah mengalami proses pembentukan yang lama dalam kisaran umur geologi (jutaan tahun). Setelah terbentuk, sebagian darinya akan berpindah (bermi- grasi) akhirnya terperangkap di suatu reservoar yang disebut reservoar konvensional. Sebagian lainnya tidak berpindah/ tetap menghuni batuan asalnya yang saat ini lazim disebut sebagai reservoar non-konven-

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 85 - 93

sional. Hidrokarbon non-konvensional umumnya terperangkap di tempat asalnya dan diklasikasikan sebagai reservoar seperti batubara (GMB), serpih minyak/gas bumi (shale gas/oil) dan batupasir kom- pak (tight sand gas, oil sand/oil tight sand). Kondisi di alam, GMB tetap berada pada lapisan batubara dan belum bermigrasi seperti halnya pada minyak/gas bumi. Sehingga proses produksi GMB dilakukan dengan cara dewatering, berdampak prosentase debit air di tahap awal cukup besar (gas relatif kecil). Selanjutnya dalam kurun waktu tertentu akan berbalik menjadi gas (GMB) besar dan debit air menjadi kecil.

A. Gas Metana Batubara (GMB)

GMB dikenal sebagai sumber energi ramah ling- kungan, dimana gas metana merupakan komponen utamanya yang terjadi secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalication). Dalam kondisi terperangkap dan terserap (teradsorbsi) di dalam batubara dan/atau lapisan batubara. GMB sama seperti gas bumi yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah GMB terbentuk dan tersimpan dalam batubara yang berfungsi sebagai reservoir dan batuan sumber (source rock). Sedangkan gas bumi yang kita kenal saat ini (walaupun ada yang terbentuk/bersumber dari batubara), tersimpan dan diproduksikan dari reservoar lain seperti batupasir, batugamping maupun rekahan batuan beku. Teknologi penambangan gas metana dari reservoar batubara telah dinyatakan terbukti dapat dilakukan secara ekonomis walau melalui proses rekayasa sebelum produksi berlangsung. Perkembangan teknologi penambangan GMB baru dimulai tahun 70-an dan secara intensif dilakukan pada tahun 80-an. Sebagai contoh di USA, produksi GMB telah berkontribusi sebesar >10% dari total produksi gas bumi dalam negerinya. Negara-negara yang telah mengembangkan GMB selain USA antara lain Canada, Inggris, Jerman, Australia, Cina, India, Ukraina, Polandia, Zimbabwe dan Afrika Selatan. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pemerintah, kondisi pengusahaan GMB di Indonesia lebih mendekati ke Powder River Basin USA di mana tingkat kematangan batubara berada pada sub- bituminus. Hasil analisis komparatif perbedaan gas konvensional dengan non-konvensional khususnya GMB disarikan oleh Sosrowidjojo (2009) ke dalam Tabel 1. Pada prinsipnya penyimpanan

Gambar 2 Jenis play non-konvensional (Sosrowidjojo, 2009)

GMB dalam reservoar berbeda dengan reservoar konvensional dimana sebagian besar gas teradsorpsi pada struktur internal (matriks). Sedangkan untuk gas konvensional, sepenuhnya bersarang dalam tekanan di dalam rongga porinya. Disebutkan bahwa pada kondisi geologi dan kedalaman yang sama, reservoar batubara mampu menyimpan gas lebih besar sampai mencapai 2 kali hingga 7 kali jumlah gas pada konvensional gas. Sebagai komparasi antara prinsip pengembangan GMB dan gas konvensional, lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.

B. Serpih Gas (Shale Gas)

Shale gas adalah gas alam yang dihasilkan dan terperangkap dari serpih yang biasanya berfungsi ganda sebagai reservoar dan sumber untuk gas alam atau gas bumi. Serpih ini umumnya berasal dari fasies lumpur laut dangkal dan mengandung mineral getas yang dominan. Terdapat perbedaan permeabilitas antara serpih dan batubara, serpih memiliki per- meabilitas matriks yang sangat rendah, tidak seperti batubara yang memiliki sistem rekahan alami (cleat) yang luas. Shale gas umumnya memiliki jumlah gas teradsorpsikan lebih sedikit dari batubara. Selain itu tidak semua play shale gas bumi dapat diproduksikan dengan baik. Pada umumnya play shale gas yang produktif menghasilkan gas setidaknya memiliki 7 (tujuh) kriteria (Wylie et al., 2008 dalam Sosrowidjojo, 2009). Tabel 2 menjelaskan ketujuh criteria variabel play. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria play shale gas yang dapat berproduksi adalah fasies serpih hitam berhubungan dengan kandungan material organik pada lapisan batuan. Total Organic Carbon (TOC) yang dipersyaratkan >3%, untuk me-

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan (Djoko Sunarjanto)

Tabel 1 Perbedaan Konsep GMB dengan Gas Konvensional (Sosrowidjojo, 2009)

Tabel 1 Perbedaan Konsep GMB dengan Gas Konvensional (Sosrowidjojo, 2009)

menuhi tingkat keekonomian minyak dan gas bumi dan kematangan termal tinggi: Ro > 1.1%, play shale gas umumnya sudah berada dalam zona pembentukan gas. Ada pendapat lain yang mensyaratkan TOC>2%, semuanya sudah memenuhi kriteria “kaya” material organik dengan Ro > 1.0% (Jarvie et al., 2007 dalam Sosrowidjojo, 2012). Di Amerika, seluruh play shale gas yang terbukti dapat memproduksi gas semua berasal dari fasies marin (Kerogen: Tipe II). Selain itu play shale gas idealnya mengandung lempung 40%, komposisi sisanya terdiri dari miner- al getas. Diarahkan pada serpih yang bersifat pasiran (sandy), tidak elastis atau tidak terlalu banyak mineral lempungnya. Pada prinsipnya play shale gas yang ideal selain kaya akan material organik dan kema- tangan termalnya tinggi, serpih bersifat pasiran yang tinggi kandungan kwarsanya dengan ketebalan play minimal 30 meter. Porositas batuan sebesar mungkin dan idealnya lebih besar dari 5%. Kedalaman play shale gas setara dengan terbentuk dan tersimpannya batuan induk pada kedalaman yang bervariasi antara 1.000-4.500 meter. Lebih dalam dari 4.500 meter umumnya reservoarnya akan panas sekali sehingga akan lebih mahal operasinya yang berarti dapat mem-

pengaruhi ke-ekonomiannya. Play shale gas akan lebih baik pada kondisi reservoar kering. Hasil identifikasi awal yang dilakukan oleh Badan Geologi (Ditjend Migas, 2012) menunjukkan bahwa setidaknya play shale gas terdapat di beberapa lokasi di Indonesia. Lokasi terbanyak berada di Sumatera, antara lain pada lapangan migas; Baong, Telisa, dan Gumai. Sedangkan di Pulau Jawa, play shale gas masing-masing berada di lapangan Jawa Tengah Utara. Di Kalimantan tersebar di Balikpapan, Tanjung dan Bangkau. Sedangkan di Papua berada dalam Formasi Klasafet. Penyebaran 11 cekungan GMB di Sumatra dan Kalimantan dan lokasi yang potensial terdapat shale gas tersebut seperti pada Gambar 3 (Ditjend MIGAS,

2012).

V. PENGEMBANGAN GAS NON-KONVENSIONAL DI INDONESIA

A. Pengembangan Gas Metana Batubara

Sudah banyak dilakukan, baik penelitian, regu- lasi, penyiapan kebijakan dan model keekonomian untuk pengembangan GMB di Indonesia. Khususnya

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 85 - 93

LEMIGAS sebagai pionir pengembangan sumber energi non-konvensional GMB telah melakukan berbagai kegiatan pengembangan GMB. Mulai dari menyusun pokok-pokok regulasi, mencari partner yang bersedia meminjamkan lahannya untuk uji coba pengembangan GMB, melakukan eksplorasi, mengembangkan simulasi dan teknik produksi dalam pilot project Lapangan Rambutan, sampai menyusun studi keekonomian GMB. Lapangan Rambutan terletak di Kecamatan Benakat Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatra

Selatan, pada wilayah konsesi perusahaan migas PT Medco Energi Energi Internasional Tbk. Hasil sementara pilot project Lapangan Rambutan meng- indikasikan bahwa GMB dapat diusahakan di Indo- nesia. Analisis data dan simulasi GMB Lapangan Rambutan, dari data pemboran daerah ini memiliki 5 seam batubara dengan total ketebalan 162,47 meter pada kedalaman 1.329 s/d 2.921 feet serta penye- baran yang menerus. Memiliki potensi kandungan gas metana 185.000 MSCF. Pelaksanaan dewater- ing yang dilakukan terhadap 5 sumur uji GMB di

Tabel 2 Persyaratan ideal play shale gas (Wylie et al., 2008)

Tabel 2 Persyaratan ideal play shale gas (Wylie et al., 2008)
Gambar 3 Peta potensi sumberdaya gas non-konvensional Indonesia (Sumber: Ditjend MIGAS, 2012)

Gambar 3 Peta potensi sumberdaya gas non-konvensional Indonesia (Sumber: Ditjend MIGAS, 2012)

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan (Djoko Sunarjanto)

Lapangan Rambutan Sumatra Selatan, hanya sumur GMB 1 yang memiliki produksi air cukup besar yaitu sekitar 200 barel per hari. Keempat sumur lainnya relatif tidak terlalu besar produksi airnya. Hasil analisis kimia terhadap komposisi air yang dihasilkan menunjukkan bahwa air yang diproduksikan dapat digolongkan sebagai payau yang mendekati tawar dengan kandungan Cl sebesar 260 ppm. Dari hasil uji LC50 termasuk ke dalam golongan non-toksik (tidak beracun), serta kandungan unsur logam beratnya masih dibawah ambang yang dipersyaratkan dalam PP No. 85 tahun 1999 tentang baku mutu limbah yang dipersyaratkan (Syahrial, dkk., 2008). Setelah dilakukan produksi gas di Lapangan Rambutan terdapat senyawa yang mengganggu per- alatan produksi seperti pada sumur GMB 03, salah satu penyebabnya diduga karena kandungan sulda (FeS2) yang tinggi. Sulda tersebut muncul dalam bentuk pirit dan markasit, kombinasi keduanya dike- nal sebagai sulfur piritik. Secara genetik terbentuk selama proses penggambutan (pirit syngenetik). Dan pirit yang terbentuk setelah atau saat terjadi pemba- tubaraan (pirit epigenetik). Cleat berkaitan dengan permeabilitas dan porosi- tas batubara, dimana cleat berfungsi sebagai rongga pori, tempat akumulasi, dan lalunya gas metana atau saluran pokok perpindahan gas metana di reservoir batubara. Porositas makro mewakili bukaan batu- bara dan merupakan bagian dari cleat atau rekahan. Terdapat hubungan antara cleat dan sulfur karena sulfur berada pada rongga cleat. Mengingat eratnya keterkaitan gas dan cleat, maka teori dan metoda yang mempelajari cleat juga diperlukan dalam pengem- bangan GMB. Analisis pola cleat bermanfaat untuk menentukan strategi eksplorasi dan pemanfaatan GMB. Menggunakan analisis cleat dapat direkayasa peralatan produksi yang sesuai dan dapat mengatasi gangguan produksi. Tahun 2010 telah berhasil disepakati pemangku kepentingan dan dicanangkan oleh Direktur Jenderal Migas Program CBM to power. Tahun 2011 pilot project pengembangan GMB di Lapangan Rambutan sudah berhasil dikonversikan menjadi tenaga listrik untuk penerangan, yang berasal dari sumur CBM 4 (Gambar 4). Sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) termasuk Pertamina saat ini juga sedang mengembangkan gas non-konvensional. Hasil kajian yang nyata sebagai kontribusi kepada

negara adalah bergulirnya bisnis eksplorasi GMB

di Indonesia. Sampai awal tahun 2012 terdapat 50

Wilayah Kerja GMB. Wilayah kerja GMB tersebar

di tiga cekungan hidrokarbon, Cekungan Sumatra

Selatan, Cekungan Kutei, dan Cekungan Barito. Beberapa lapangan milik KKKS di Wilayah Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur sudah pada tahapan persiapan produksi.

B. Pengembangan Shale Gas Shale gas di Indonesia belum dikembangkan secara optimal sebagai sumber energi alternatif. Tahapan yang sedang dilakukan sampai saat ini adalah studi potensi sumberdaya yang dilakukan secara sporadis oleh beberapa perusahaan industri migas, termasuk lembaga riset milik pemerintah. Penelitian yang dilakukan dibagi dalam dua katagori yakni penelitian potensi sumberdaya shale gas secara regional dan yang lain difokuskan pada evaluasi lahan yang lebih sempit. Dari pihak industri, HIS CERA melakukan kajian potensi sumberdaya shale gas di Pulau Sumatra. Dengan mengasumsikan bahwa potensi sumberdaya shale gas dari target play Tersier kira-kira 1.000 TCF

Gambar 4 Pengembangan GMB di Lapangan Rambutan Sumatra Selatan berhasil dikonversikan menjadi tenaga listrik pada

Gambar 4 Pengembangan GMB di Lapangan Rambutan Sumatra Selatan berhasil dikonversikan menjadi tenaga listrik pada Tahun 2011

Lembaran Publikasi Minyak Dan Gas Bumi Vol. 46 No. 2, Agustus 2012: 85 - 93

lebih yang tersebar dalam 9 (sembilan) play shale gas

di Pulau Sumatra. Sebagian lain seperti Pertamina,

Sugico dan lain sebagainya juga sedang meneliti potensi shale gas di beberapa lokasi di Indonesia. Ek- splorasi migas yang sudah dilakukan pihak lain, dari data pemboran menunjukkan terdapat potensi shale gas di daerah frontier wilayah Indonesia Timur.

Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sum- berdaya Mineral telah melakukan kajian potensi

sumberdaya gas di Indonesia dengan target 7 (tujuh) play Miosen yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Hasil kajian Badan Geologi tercatat bahwa potensi sumberdaya shale gas di 7 (tujuh) play tersebut sebesar 500 TCF lebih. Selain Badan Geologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral juga melakukan penelitian sumberdaya shale gas di dua Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Barito. Hasil eksplorasi terbaik dari keduanya akan dipilih untuk dilakukan uji coba (pilot test) pengembangan shale gas yang pertama

di Indonesia.

1. Penelitian Shale Gas Daerah Sumatra Utara

Formasi yang prospek mengandung Shale Gas di daerah Sumatra Utara adalah batuan serpih dari For- masi Bampo, Formasi Belumai dan Formasi Baong. Khusus pada Formasi Bampo di bagian utara me- menuhi kriteria untuk dikembangkan (Sosrowidjojo., 2011). Sedimen ini diendapkan selama transgresi dalam lingkungan euxinic sampai pelagic dan se- laras di atas Formasi Parapat (Ruswandi dkk., 2011). Ketebalannya dari 36 meter sampai lebih dari 2.700 meter. Sekuen lanau Formasi Bampo mengandung sisa bahan organik dan kemungkinan dapat menjadi potensial untuk batuan induk hidrokarbon Cekungan Sumatra Utara. Formasi Bampo menunjukkan kualitas potensi shale gas yang baik, komposisi mineralogi yang cukup getas dengan tingkat kegetasan (BI) yaitu 0.70-0.74, mengandung material organik (TOC) se- dang antara 0.76% dan 0.84%. Tingkat kematangan mencapai matang (Tmax 425° C dan 440° C). Faktor yang memperkecil kualitas adalah tingginya kandun- gan smectite yang relatif besar (10-15%) berpotensi dapat mengembang akibat terkena air hingga dapat menyumbat pori rekahan pada saat fracturing.

2.

Shale Gas Daerah Kalimantan Selatan

Formasi yang prospek mengandung Shale Gas

di

daerah Barito, Kalimantan Selatan adalah batuan

shale dari Formasi Tanjung dan lempung karbonatan dari anggota Formasi Berai Bagian Bawah. Hasil analisis yang dilakukan terhadap sampel permukaan kurang menggembirakan. Tercatat dari hasil analisis bahwa kandungan material organik (TOC) antara 0.26% dan 0.35%, dengan tingkat kematangan yang hampir matang (Tmax 432°C sampai 434° C). Tingkat kegetasan dikategorikan sebagai getas dengan BI berkisar antara 0.6-0.82. Faktor yang meningkatkan kualitas kegetasan adalah rendahnya kandungan smectite (0-2%). Kadar smectite sekitar 2% umumnya dapat membuat rekahan batuan akan tetap terbuka pada saat dilakukan fracturing. Pada tahun 2012 dipilih diantara dua cekungan yang berpotensi menghasilkan gas dari play shale gas. Guna mendapatkan gambaran yang lebih baik maka, penelitian dilanjutkan dengan menganalisis lebih banyak sampel agar didapat hasil yang memadai untuk digunakan dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya akan dilakukan pemodelan cekungan 2-D secara komprehensif agar didapatkan gambaran penyebaran kematangan termal yang lebih baik serta penyebaran distribusi play shale gas yang potensial menghasilkan gas dari play shale tersebut.

VI. KESIMPULAN

Sumberdaya energi fosil yang berasal dari reservoar non-konvensional telah berkontribusi secara signifikan di beberapa negara yang telah mengembangkannya. Di Indonesia tersedia beragam macam sumberdaya migas non-konvensional yang belum dikembangkan dan dimanfaatkan. LEMIGAS telah mengawali pengembangan GMB di Indonesia. Pengembangan tersebut diikuti dengan telah ditanda-tanganinya sebanyak 50 kontrak kerjasama pengembangan GMB selama kurun waktu lima tahun terakhir. Tahun 2011, telah berhasil dikonversikan GMB menjadi tenaga listrik yang ramah lingkungan dalam program CBM to power. Tahapan pengembangan dan produksi GMB sekala komersial masih terus dilakukan dan dievaluasi. Keberadaan sumberdaya energi non-konvensional selain GMB, adalah shale gas. Hasil penelitian LEMIGAS 2011, shale gas berpotensi di Cekungan Sumatra Utara dan Cekungan Barito. Formasi yang prospek mengandung Shale Gas di Sumatra Utara adalah batuan serpih dari Formasi Bampo, Formasi Belumai dan Formasi Baong. Khusus pada Formasi Bampo di bagian utara memenuhi kriteria untuk

Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan (Djoko Sunarjanto)

dikembangkan. Sedangkan formasi batuan yang prospek mengandung Shale Gas di Cekungan Barito, Kalimantan Selatan adalah batuan shale Formasi Tanjung dan lempung karbonatan dari anggota Formasi Berai Bagian Bawah. Tahapan berikutnya akan ditentukan salah satu cekungan yang akan digunakan sebagai tempat uji coba pengembangan shale gas di Indonesia. Guna mempercepat pemanfaatan shale gas, diperlukan pengembangannya secara komprehensif. Selain eksplorasi dan pengembangan, secara bersa- maan harus dilakukan pembuktian secara komersial. Karakter reservoar shale gas yang berbeda dengan reservoar konvensional, pada posisi yang lebih dalam dari GMB atau lebih dalam dari 1.000 meter, diperlu- kan teknologi yang kompleks, waktu lama dan relatif mahal. Diharapkan faktor waktu proses pengemban- gan yang lama, para operator maupun investor tetap tertarik dan bersemangat mengembangkan shale gas di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan pengem- bangan shale gas di darat dan lepas pantai dilakukan secara bersamaan.

VII. UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-be- sarnya kepada DR. Imam B. Sosrowidjojo, dan DR Adiwar. Keduanya Peneliti Madya pada PPPTMGB LEMIGAS, sebagai peneliti senior migas, yang telah mengoreksi dan memberikan saran/masukan kepada penulis untuk kesem- purnaan tulisan ini.

KEPUSTAKAAN

1. DIRECTORATE GENERAL OF OIL AND GAS, 2012, Indonesia’a Unconventional Oil & Gas : Poli- cies, Regulation and Opportunities on Upstream Oil

& Gas Business Development, www.migas.esdm. go.id.

2. Ruswandi, Andi, dkk., 2011, Proyek Percontohan Penemuan Cadangan Tight Shale Gas Reservoir, PPPTMGB LEMIGAS, Laporan Kegiatan Tahun 2011. (Laporan Penelitian, Tidak dipublikasikan).

3. Rogers, Rudy E., 1994, Coalbed methane: principles and practice, PTR Prentice Hall, Printed in the USA, ISBN 0-13-016353-8.

4. Sosrowidjojo, Imam B., 2008, Regulasi Teknis dan Implikasinya Terhadap Keekonomian CBM, Majalah Mineral dan Energi, Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Vol. 6/No. 3 – September 2008, ISSN : 1693 4121, hal. 40 – 45.

5. Sosrowidjojo, Imam B., 2009, Evaluating and De- veloping Coalbed Methane Resources, Bahan Kursus (Tidak dipublikasikan).

6. Sosrowidjojo, Imam B., 2011, Teknik Identi kasi Shale Gas: Prospek Shale Gas di Cekungan Sumatra Utara, disampaikan dalam Workshop Kapasitas Sum- berdaya Manusia dalam Penguasaan Teknologi Shale Gas, Badan Litbang ESDM, PPPTMGB LEMIGAS, Jakarta 22 Nopember 2011.

7. Syahrial, E., Fakhriyadi Saptono, Hadi Purnomo, 2008, Simulasi Potensi CBM: Pilot Project CBM Lapangan Rambutan, Sumatera Selatan, Majalah Mineral dan Energi, Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Vol. 6/No. 3 – September 2008, ISSN : 1693 4121, hal. 12 – 28.

8. Tamba, Richard H., 2011, Potential for shale gas development in Indonesia: Pertamina’s Progress, disampaikan dalam Workshop Kapasitas Sumberdaya Manusia dalam Penguasaan Teknologi Shale Gas, Ba- dan Litbang ESDM, PPPTMGB LEMIGAS, Jakarta 22 Nopember 2011.

INDEKS SUBYEK B Biodisel 53,54, 55,56, 57, 58, 59 Biodiesel 53, 54, 56, 59 C

INDEKS SUBYEK

B

Biodisel 53,54, 55,56, 57, 58, 59 Biodiesel 53, 54, 56, 59

C

Composition 69

D

Distilasi vakum 53, 54, 55 DME 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67 DME 79, 80, 81, 82, 83, 84

E

Emisi 61, 62, 63, 64, 65, 66 Emission 61, 67 Engine generator 79 Eksplorasi 85, 86, 90, 91, 92, 93 Exploration 85 Environment 85

F

Flame 61

I

IBP 53,56, 57, 59

K

Komposisi 69, 70, 71, 72, 73, 74, 76, 77

L

LPG 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67 LPG 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77 LPG 79, 80, 81, 82, 83, 84 Lingkungan 85, 86, 88, 91

M

Metoda uji 53, 54, 55 Mesin pembangkit listrik 79, 80, 81, 82, 83, 84 Migas non-konvensional 85, 86, 87, 92

N

Nyala api 61, 63, 66 Non conventional oil and gas 85

S

Sifat penguapan 53, 54, 55, 56, 58, 59 Spesi kasi 69, 70, 72, 73, 74, 75, 76, 77 Speci cation 69

T

Test Method 53, 59

V

Vacuum distillation 53

Volatility 53

1

1

1

PEDOMAN PENULISAN MAJALAH LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK dan GAS BUMI

UMUM

1. Majalah Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi adalah media yang khusus diperuntukan bagi karya tulis para Peneliti dan Tenaga Fungsional PPPTMGB “LEMIGAS”, memuat analisis, kajian dan tinjauan ilmiah mengenai subjek-subjek yang berkaitan dengan industri minyak dan gas bumi, terutama yang dilakukan oleh PPPTMGB “LEMIGAS”.

2. Redaksi Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi, secara selektif juga menerima tulisan-tulisan dari para ahli baik perseorangan ataupun kelompok, baik atas nama pribadi maupun instansi pemerintah/swasta namun lebih berbobot. Hal ini dimaksudkan sebagai contoh guna mendorong dan meningkatkan mutu para penulis intern LEMIGAS.

STANDAR PENULISAN

1.

Bahasa Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan kaidah/istilah bahasa Indonesia yang telah dibakukan berpedoman pada: a. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Lembaga Pembinaan Bangsa. b. Kamus Miyak dan Gas Bumi, terbitan PPPTMGB “LEMIGAS”. c Kamus bahasa Inggris.

2.

Naskah/Artikel Judul artikel ditulis pada baris pertama (paling atas), rata kiri (left), memakai huruf besar kecil ukuran 24 points.

- Nama penulis ditulis pada baris kedua di bawah judul artikel.

- Abstrak/Sinopsis/Sari karangan merupakan keharusan ditulis dalam bahasa Indonesia serta bahasa Inggris dan ditetapkan pada awal artikel/tulisan. Abstrak tidak boleh lebih dari 200 kata.

- Artikel disertai dengan kata kunci yang ditulis dibawah judul artikel.

- Teks artikel diketik dengan komputer (MS Word), di atas kertas putih ukuran A4, dengan jarak baris 1 ½ spasi.

- Sitasi (kutipan) atas pendapat para ahli, disamping dapat dengan dikutip secara verbatim, juga harus diberi nomor urut dengan hurup arab superscript untuk penjelasannya dalam catatan kaki.

- Catatan kaki ditulis dalam satu halaman sesuai dangan nomor catatan kaki yang bersangkutan. Catatan kaki ditulis horizontal dengan urutan sebagai berikut: nama pengarang, tahun penerbitan, judul, halaman yang dikutip. Data Publikasi (Kota Penerbitan, Nama Penerbitan, jumlah halaman).

- Pendahuluan secaraara ringkasringkas menguraikanmenguraikan masalah-masalah,masalah-masalah, tujuan,tujuan, dandan pentingnyapentingnya penelitian.penelitian. JanganJangan menggunakanmenggunakan subsub-- bab.

- Bahan dan Metode harus secara jelas dan ringkas menguraikan penelitian dengan rincian secukupnya sehingga memungkinkan peneliti lain untuk mengulangi penelitian yang terkait.

- Hasil disajikan secara jelas tanpa detil yang tidak perlu. Hasil tidak boleh disajikan sekaligus dalam tabel dan gambar.

- Tabel disajikan dalam bahasa Indonesia, dengan judul di bagian atas tabel dan keterangan. Tabel diketik menggunakan program MS-Excel.

- Gambar, grafik, potret dan lain-lain: semuanya asli, jelas memenuhi syarat untuk peroses pencetakan: serta diberi nomor urut dan judul.

- Kesimpulan disajikan secara ringkas dengan mempertimbangkan judul naskah, maksud, tujuan, serta hasil penelitian.

- Di samping naskah dan lampiran penunjang seperti gambar/grafik, kirimkan juga disket/CD nya ke redaksi atau melalui e-mail:

3

darus@lemigas.esdm.go.id Kepustakaan Kepustakaan adalah daftar literaktur (buku atau non buku) yang dipakai oleh Penulis dalam meyusun naskah/artikel. Kepustakaan ditulis pada akhir karangan dengan urutan secara alfabetis berdasarkan nama pengarang, seperti contoh sebagai berikut;

a. Buku

- Satu pengarang Davis, Gordon B., 1976, Management Information System, Conceptual Foundation Structur and developnet, Me Graw Hill.

- Dua Pengarang Newman W.H. dan E. Kirby Warren, 1977, The Procces of Management, Concept, Behavior, and Pratice, Pretice-Hall of India Privat Ltd., New Delhi, hlm. 213.

- Lebih dari tiga pengarang Bennet J.D., Bridge D. Mcc, Cancron N. R., Djunudin A, Ghazali S. A, Jeffry D.H., Kartawa W., Keats W Rock N.M.S., dan Thompos S.J 1981, The Geology of the Langsa Quadrange, Sumatra, GRDC, Bandung. Atau disingkat Bannet J.D., dkk., 1981. The Geology of the Langsa Quadrangle, Sumatra, GRDC, Bandung.

b. Non buku

- Udiharto M., 1992. “Pengaruh Aktivitas Bakteri Termofil terhadap Porositas Batuan”, Diskusi Ilmia VII Hasil Penelitian LEMIGAS, Februari, PPTMG “LEMIGAS”, Jakarta.

- Weissmann J., Dr.: 1972, ”Fuel for internal Contribution Engines and Furnace”, Report, Inhouse Research, Mei, ”LEMIGAS”, Jakarta.

- Gianita Gandawijaya, 1994,”Teknologi GPS, Alat Bantu Navigasi Pesawat Terbang”, Kompas, Juli 27, Jakarta.

c. Web sites :

http://www.environmental law net.com. Sebutkan tanggal bulan dan tahun.

WEWENANG REDAKSI

a. Dewan redaksi berhak melakukan penyuntingan atas suatu artikel termasuk mengubah judul artikel.

b. Naskah yang telah diperiksa dewan redaksi dan dianggap perlu perbaikan akan dikirim kembali kepada penulis untuk diperbaiki.

c. Naskah yang tidak bisa dimuat akan dikembalikan kepada penulis.

LAIN-LAIN Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi menerima sumbangan naskah dari penulisan di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” dengan ketentuan isinya memenuhi kriteria standar Majalah Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi