Anda di halaman 1dari 56

ASPEK PSIKOLOGIS

PASIEN GAGAL
GINJAL
MELINA DIAN KUSUMADEWI, M.A., Psi

GAGAL GINJAL

BIO-PSYCHOSOSIAL EFFECT OF RENAL


DISEASE
BIOLOGICAL EFFECT

GAGAL GINJAL SEBAGAI ANCAMAN


PERISTIWA KEHILANGAN

Masalah kompleks yang mempengaruhi reaksi


pasien terhadap penyakit adalah serangkaian
ancaman yang dihadapi pasien yang dapat
mengancam kompetensi dan kesejahteraan
pasien secara umum.
Ada 5 bentuk ancaman kehilangan yang dihadapi
pasien penyakit kronis (Strain & Grossman):
1. Threat of Loss of Self-Efficacy
2. Threat of Loss of Love
3. Threat of Loss of Functioning
4. Threat of Loss of Control and Rasionality
5. Threat of Pain and Suffering

Threat of Loss of Self-Efficacy

Threat of Loss of Control & Rasionality


Penyakit dapat membahayakan fungsi kognitif & kemampuan
berpikir rasional.
Kehilangan rasionalitas dapat berkaitan dengan penyakit,
pengobatan atau kombinasi keduanya.
Medikasi, rasa nyeri, ketidakmampuan melakukan sesuatu
menimbulkan kelupaan, kehilangan fungsi mental & kesulitan
konsentrasi (pasien takut kehilangan kontrol tetapi tidak
menyadari bahwa hal tsb berkaitan dengan penyakit atau
treatmen medis).

Threat of Pain & Suffering

Nyeri merupakan satu hal yang paling ditakutkan.


Nyeri bersifat subjektif dan setiap individu memiliki
respon yang berbeda terhadap rasa nyeri.

ADAPTASI PADA PASIEN GAGAL


GINJAL

STRES

Walter Cannon : stres sebagai gangguan


keseimbangan tubuh dan resepon stres sebagai usaha
untuk memperoleh kembali homeostatis fisiologis.
Hans Selye : stres respon merupakan respon
pertahanan; stres jangka panjang menimbulkan
penyakit.
Lazarus and Folkman : stres adalah interaksi yang
kompleks dan dinamis antara persepsi individu dan
tuntutan lingkungan.
Holmes and Rahe : screening tools to quantify
stressor.

COMMON STRESSOR
Physical Stress

THE HEALTH CONSEQUENCE OF STRESS RESULT


FROM INTERACTION BETWEEN ENVIRONMENTAL,
PSYCHOLOGICAL AND PHYSICAL COMPONENTS
Coping

Defense

Stressor

Interpretation
evaluation

Emotional/
behavioral
response

Neuroendocrine
response

Immune
response

Health
consequence

Psychosocial Modifiers of stress

Social support

Sense of personal control

PSYCHOSOCIAL MODIFIERS OF
STRESS
1. Social support
Sheldon Cohen, 1983 : dukungan Sosial
didefinisikan sebagai sumber-sumber yang
disediakan oleh orang lain (rasa nyaman,
perhatian, penghargaan dan bantuan)
Lazarus and Folkman (dalam Schafer, 1998) :
dukungan sosial dapat memainkan peranan
penting dikarenakan lingkungan sosial tidak
hanya sumber stress terbesar namun juga
menyediakan sumber-sumber dimana individu
dapat bertahan dan berkembang. Dengan
demikian maka dukungan sosial dapat berguna
sebagai sumber ketahanan terhadap stress.

BENTUK DUKUNGAN SOSIAL


DUKUNGAN INFORMASI

MENINGKATKAN SOCIAL SUPPORT

Kemampuan memberi dan menerima


dukungan sosial diperoleh melalui bergabung
dalam organisasi sosial, organisasi agama,
kelompok bantu diri (self-help group).
Organisasi tsb memberi keuntungan karena
individu dapat bersama-sama dengan orang
yang memiliki masalah serupa sehingga dapat
saling berbagi dan menolong. Contoh:
support group untuk AIDS, DM, Ginjal, Kanker.
Komunitas memainkan peran penting untuk
mendorong kebiasaan perilaku sehat.

PSYCHOSOCIAL MODIFIERS OF
STRESS
2. Sense of personal control
Perasaan

bahwa seseorang dapat membuat


keputusan dan bertindak efektif dalam
menghasilkan akibat yang diharapkan dan
menghindari akibat yang tidak diinginkan.
Individu yang memiliki sense of personal control
yang kuat akan mengalami ketegangan yang
lebih sedikit dari stressor yang ada

TIPE SENSE OF PERSONAL CONTROL


1.

2.

Behavioral control : kemampuan untuk


mengambil tindakan konkret untuk
mengurangi dampak stressor. Tindakan tsb
dapat mengurangi intensitas atau
memperpendek lamanya peristiwa yang
menimbulkan stres. Mis: teknik pernapasan,
meditasi, yoga, relaksasi.
Cognitif control : kemampuan menggunakan
proses berpikir atau strategi untuk
memodifikasi dampak stressor. Mis : berpikir
tentang peristiwa yang berbeda atau kejadian
yang menyenangkan atau berpikir netral.

3. Decisional control : kesempatan untuk


memilih prosedur alternatif dalam
betindak. Mis: pasien memilih prosedur
tritmen apa yang digunakan, kapan tritmen
dilakukan,dll.
4. Informational control : kesempatan untuk
mendapat kan pengetahuan tentang
kejadian yang menimbulkan stres (kapan
terjadi, mengapa dan apa konsekuensinya)
sehingga dapat meningkatkan kemampuan
memprediksi dan mempersiapkan apa yang
akan terjadi dan mengurangi ketakutan
yang sering terjadi yang disebabkan oleh
sesuatu yang tidak diketahui.

BASIC PERSONALITY OF
PERSONAL CONTROL

Hardiness personality (ketabahan)


Resiliency (keuletan)
Optimism
Survivor personality
Self esteem
Self actualized person
Self - efficacy

PERSONAL KONTROL

STRESS

KESEHATAN

Personal kontrol kuat selalu mencoba


dan berpikir
Personal kontrol lemah merasa tidak
berdaya dan takut bila usahanya gagal.
Personal kontrol kuat lebih mampu
memelihara kesehatan
Personal kontrol lemah kurang mampu
mencegah penyakit

ADAPTASI PENYAKIT KRONIS

Personal kontrol kuat mampu


beradaptasi & rehabilitasi lebih baik.
Personal kontrol lemah sulit beradaptasi

MENINGKATKAN
PERSONAL KONTROL

Pasien perlu mengurangi sikap pasif dan rasa


tidak berdaya.
Ijinkan pasien untuk melakukan sesuatu
sendiri dan bertanggung jawab dalam
kegiatan sehari-hari dan aktivitas sosial.

REAKSI TERHADAP PENYAKIT


(STATON, ET.AL., 2002)

BENTUK REAKSI TERHADAP


PENYAKIT KRONIS
REAKSI

REAKSI EMOSI SELAMA PROSES


ADAPTASI TERHADAP PENYAKIT

1. TERKEJUT, CEMAS DAN TAKUT.

reaksi awal pada individu yang mengalami


luka fisik atau trauma psikologis yang berat
dan saat menerima diagnosis penyakit.
Kondisi ini adalah perasaan umum yang hadir
ketika kehidupan atau kesejahteraan
seseorang terancam.
Kecemasan ditandai dengan kebingungan
dalam berpikir, perilaku overaktif, denyut
nadi yang cepat serta perubahan fisiologis
lainnya.
Kecemasan dapat muncul ketika pasien
menunggu hasil tes dan diagnosis pasti,
menghadapi prosedur serta mengalami
perubahan pola hidup.
Cemas dan takut bervariasi dalam intensitas
dan bentuknya sepanjang perjalanan
penyakit.

2. MENYANGKAL

bentuk pertahanan yang umum ketika melawan penyakit.


bentuk strategi adaptif yang kuat untuk menghalangi stress,
cemas dan emosi-emosi lain yang dibangkitkan oleh krisis
kehidupan.
Melalui penyangkalan, individu dapat melindungi dirinya dari
konfrontasi dan ancaman kehilangan kemampuan dirinya oleh
krisis kehidupan.
kondisi yang biasanya disangkal adalah hal-hal yang berkaitan
dengan pribadi, keadaan yang mendesak, keadaan yang
sensitif, kondisi emosi dan reaksi emosi orang disekitarnya,
informasi yang mengancam, penyangkalan terhadap
kerentanan penyakitnya, ketakutannya, kegawatannya atau
ancaman situasinya.

Penyangkalan dapat diekspresikan melalui


harapan yang tidak realistik terhadap
penyembuhan.
Pada tahap awal, denial menolong penderita
menghindari tugas-tugas sulit, serta
pertahanan disaat individu menghadapi
tekanan yang diakibatkan oleh penyakit.
Namun penyangkalan dalam jangka panjang
dapat merugikan individu karena denial akan
menghambat dalam membuat keputusan
segera dan tindakan yang diperlukan.
Intensitas penyangkalan (denial) tergantung
pada individu dan lingkungan.

3. MARAH DAN FRUSTRASI

Marah sebenarnya diawali oleh rasa takut. Individu


yang tidak mengemukakan ketakutannya, akan
menekan rasa takutnya dan mengekspresikan rasa
takutnya dengan marah, baik marah secara internal
maupun eksternal berupa permusuhan.
Marah secara internal lebih berhubungan dengan
rasa marah pada diri sendiri, sedangkan marah
yang dimunculkan dalam bentuk permusuhan
diarahkan pada orang lain, objek atau objek yang
dipercayai berhubungan dengan onset penyakit dan
ketidakmampuan yang menyertainya.
Perilaku agresif yang ditimbulkan akibat rasa marah
seperti kemarahan verbal yang diarahkan pada
orang lain dalam bentuk mengkritik, menuntut dan
sikap kasar dapat menghalangi tritmen medis.

4. REGRESI

Ketika seseorang sakit, maka respon secara


umum yang ditunjukkan oleh individu adalah
bahwa rasa sakit dapat mendorong
peningkatan emosi dan ketergantungan
secara fisik. Kondisi ini dapat membuat
individu berperilaku ke pola awal dalam
tahap perkembangan (masa kanak-kanak)
untuk beradaptasi terhadap rasa sakitnya.

5.KETIDAKBERDAYAAN DAN DEPRESI

Merupakan respon umum


terhadap situasi kehilangan,
tanpa harapan, terisolasi dan
distress yang disebabkan oleh
penyakit. Ketidakberdayaan
dapat mengarah pada depresi.
Depresi merupakan reaksi yang
dapat merusak harga diri yang
dapat berakibat pada
memburuknya kondisi fisik dan
perubahan neurokimia yang
berhubungan dengan beberapa
penyakit.

TAHAP EMOSIONAL

TAHAP
EMOSIONAL

KONDISI
PSIKOLOGIS

MANIFESTASI
PERILAKU

CARA MENGATASI

TAHAP MENYANGKAL

Sebab : diagnosis
terminal illnes.
Mekanisme
pertahanan
diri
Rasa takut

Minta diperiksa lab


lagi, konsul dengan
dokter lain, dirawat
dengan perawat
lain.

Mendengar dengan
sabar dan tidak
tersinggung

TAHAP MARAH

Sebab : kondisi tidak


mengalami
kemajuan atau
mengalami
kemunduran.
Pasien tegang,
cemas, marah.

Tidak sabar, marah,


mengkritik.

Berbicara dengan
sabar tetapi tegas.

TAHAP TAWAR
MENAWAR

Sebab : Pasien
menyadari
keseriusan
penyakitnya.
* Bertambah gelisah
dan memikirkan
bagaimana jika tidak
sembuh dan
diambang kematian

Negosiasi

Hindari sikap diam


dan kata-kata yang
meremehkan

TAHAP
EMOSIONAL

KONDISI PSIKOLOGIS

MANIFESTASI
PERILAKU

CARA MENGATASI

Nafsu makan kurang,


sulit tidur, mimpi
buruk, diam, sedih

Bicara singkat
(tanyakan bagaimana
makannya, tidurnya,
apakah obat sudah
diminum ?)
bahasa non verbal
untuk memperkuat
bahasa verbal yang
singkat : pegang bahu
/ tangan).Segera
dirujuk ke psikolog /
psikiater

TAHAP DEPRESI

Pasien semakin stres


dan cemas.

TAHAP MENERIMA

Sikap pasrah & ikhlas Mendukung


pengobatan,
menerima apa yang
memperbaiki diri.
terjadi dengan
perasaan tenang
bukan perasaan
kecewa.
Pasien sadar bahwa
segala sesuatu ada
permulaan & ada
akhirnya.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI PSIKOLOGIS


TERHADAP PENYAKIT (STATON, 2002)

THE NATURE & SAVERITY OF THE


PHYSICAL SYMPTOM OR DIAGNOSIS.

Penyakit yang mengancam kehidupan akan


menimbulkan reaksi psikologis seseorang.
Pada umumnya, penyakit diikuti dengan
perubahan body image, self esteem, peran
kehidupan dan identitas diri. Parahnya
penyakit dan ketidakmampuan yang
munculnya secara tiba-tiba dipandang
individu sebagai suatu

krisis

THE PATIENT CULTURE & FAMILY


CONTEXT

Budaya mencakup cara pandang kognitif, orientasi


religious, komunitas, sistem keluarga, kepercayaan
terhadap kesehatan dan sistem medis.
Budaya mempengaruhi cara individu bereaksi
terhadap penyakit, khususnya penyakit kronis.
Kondisi sakit kronis ini dapat mengganggu struktur
keluarga.
Fungsi keluarga akan berubah, ada yang menjadi
lebih kuat namun juga ada yang menjadi lebih
cemas, tertekan, frustrasi dan merasa bersalah
sehingga penyakit dapat mengakibatkan perubahan
psikologis dan keseimbangan keluarga selama
penyakit itu hadir.

THE ILLNESS EFFECT ON THE PERSONS


DAILY AND CULTURE FUNCTIONING.

Kekhawatiran terhadap masa depan berdampak


pada cara pasien bereaksi terhadap penyakit.
Simtom-simtom yang selalu hadir, ketakutan
terhadap seriusnya penyakit dan diagnosis
penyakit yang mengharuskan seseorang untuk
menyesuaikan diri dan berkompromi terhadap
penyakit, membuat pasien setiap hari mengalami
emosi yang berbeda seperti marah, pesimistik,
menarik diri dan menurunnya energi. Penyakit
secara dramatis mempengaruhi fungsi fisik begitu
juga fungsi interpersonal dan psikologis.

Penyakit merupakan sebuah kejadian yang tidak


diharapkan yang dapat menimbulkan dan
meningkatkan rasa ketergantungan,
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan, kehilangan
energi, kehilangan mobilitas dan perhatian yang
berlebihan pada simtom fisik.
Perubahan identitas yang ditimbulkan oleh
penyakit akan memberi label baru pada individu
sebagai pasien, orang yang tergantung, terbatas
dan hal ini mengakibatkan anggota keluarga dan
teman juga menunjukkan perubahan sikap
sehingga menjadi terlalu melindungi, tidak
mengenal lelah, tanpa pamrih, khawatir dan
terbebani. Secara tidak disadari, perubahan
peran ini dapat menjadi permanen.

THE PERSONS PAST EXPERIENCE WITH


ILLNESS, CLINICIANS AND THE HEALTH
CARE SYSTEMS

Pengalaman masa lalu pasien akan membentuk nilainilai dan sikap yang mempengaruhi bagaimana mereka
melakukan pendekatan terhadap penyakitnya saat ini.
Ketika seseorang menjadi pasien, individu juga bereaksi
terhadap dokter yang merawatnya. Reaksi ini mencakup
pengalaman dirawat dalam keluarga dan dari tritmen
sebelumnya. Apabila pada masa anak-anak mereka
memiliki rasa percaya diri dan mempercayai orang
tuanya, mereka akan lebih mudah untuk mempercayai
dokter pada saat dewasa. Sebaliknya jika mereka
merasa diabaikan, mereka akan ragu-ragu untuk
mempercayai meski ditangani oleh dokter yang terbaik.

FAKTOR LAIN YANG BERPENGARUH


PADA REAKSI EMOSI (ODGEN, 2000)
1. Penyakit seringkali tidak dapat diprediksi.
Individu

yang menghadapi penyakit secara tiba-tiba tidak memiliki kesempatan


untuk mempertimbangkan strategi koping yang memungkinkan dalam
menghadapi penyakitnya.

2. Informasi yang tidak jelas mengenai penyakit.


Banyaknya

informasi yang tidak jelas dan kabur, khususnya mengenai penyebab


penyakit dan hasil akhir dari proses pengobatan.

3. Keputusan yang dibutuhkan sangat cepat.


Penyakit

seringkali mengharuskan pasien untuk memberi keputusan secara


cepat berkaitan dengan tindakan medis seperti operasi, pengunaan obat, halhal yang berkaitan dengan istirahat dari pekerjaan, dsb.

4. Makna yang kabur.


Ketidakpastian

tentang penyebab penyakit dan hasil akhir dari pengobatan,


membuat makna penyakit menjadi kabur misalnya apakah penyakitnya serius
atau tidak, sampai berapa lama penyakit tersebut berdampak pada
kehidupannya.

5. Keterbatasan pengalaman sebelumnya.


Kurangnya

pengalaman akan berdampak pada pengalaman strategi koping dan


kemampuan mengatasi situasi.

ADAPTASI

Adaptasi adalah proses perubahan dalam reaksi


yang dipicu oleh keterbatasan fungsional yang
berhubungan dengan penyakit.
Individu yang sakit harus mengatasi emosinya
yang naik turun, menyesuaikan dengan
perubahan dalam menjalin hubungan,
berhadapan dengan hal yang tidak diketahui,
belajar beradaptasi dengan sistem perawatan
kesehatan.
Kepedualian paramedis terhadap proses adaptasi
akan membantu pasien menghadapi penyakit dan
memberi semangat pada orang sakit.

ADAPTASI

Individu yang sakit dapat merasa terancam


oleh beberapa aspek dari perubahan
kehidupannya.
Ancaman ini menimbulkan tugas adaptasi
yang harus dihadapi pasien ketika sakit.
Selama sakit pasien akan mengalami
perubahan dalam hidup yang dapat
mengganggu kehidupan yang telah dirasakan
selama ini.
Gangguan ini menuntut adaptasi secara
psikologis. Perubahan ini jarang yang dilalui
dengan mudah tanpa perjuangan.

CARA PASIEN BERADAPTASI DENGAN


PENYAKIT
1. Memelihara Keseimbangan Emosi
- stres penyakit menuntut keseimbangan emosi setiap individu
- emosi dapat berdampak secara signifikan terhadap kualitas hidup dan
perawatan yang diterima.
2. Memelihara Hubungan
- pola hubungan akan berubah ketika seseorang sakit. Individu menjadi
menarik diri dan menuntut karena kekurangan energi.
3. Penyesuaian pada Health Care Provider
- pasien akan bereaksi terhadap penyakit, para dokter dan sistem
kesehatan. Mereka harus belajar membuat janji, situasi di klinik,
laboratorium, tempat pendaftaran dan perusahaan asuransi kesehatan.
Situasi ini penuh tantangan bahkan untuk orang sehat sekalipun.
Semua ini membutuhkan energi untuk membangun hubungan yang baru
karena menghadapi dunia yang tidak biasa dan beradaptasi terhadap
sistem yang sangat luas. Membangun hubungan baru dengan para
klinisi dan sistem kesehatan merupakan tantangan tetapi merupakan
bagian yang penting dari penyesuaian.

FAKTOR PENGHAMBAT DAN FAKTOR


RESIKO KEMAMPUAN ADAPTASI

Gangguan kognitif yang


berhubungan dengan
penyakit.
Kekronikan penyakit.
Ketrampilan coping
sebelum terjadinya
penyakit.
Beratnya keterbatasan
fungsional
Akses terhadap keluarga
dan orang pendukung dan
ketersediaan sumber
daya.

FAKTOR PENGHAMBAT

Sejarah penyakit
psikiatrik sebelumnya
Harapan yang tidak
realistik
Fantasi tentang
penyakit

FAKTOR RESIKO

CIRI PASIEN YANG BERHASIL DAN


GAGAL BERADAPTASI
1.
2.
3.

4.
5.

Psychosocial
equilibrium.
Awareness of resources
& functional limitation.
Positive self-concept,
self esteem & sense of
control.
An ability to negotiate
their environment.
Participate in
appropriate social &
vocational activities.

CIRI PASIEN YANG BERHASIL

Pasif
Tidak terarah
Menyalahkan diri
sendiri
Menghindar
Harga diri rendah
Menarik diri secara
sosial
Menyangkal
keterbatasannya

CIRI PASIEN YANG GAGAL

PERAN TENAGA MEDIS/KESEHATAN


Peduli
Pelajari
Libatkan
Terlibat
Membantu
Sediakan
Sadari
Sediakan

Tujuan
MEMBANTU PASIEN
SEHINGGA MEREKA
MENDAPATKAN SUMBER-SUMBER
YANG MEREKA BUTUHKAN UNTUK
MENGARAHKAN SITUASI SULIT YANG
HARUS MEREKA HADAPI.

Reaksi pasien
terhadap penyakit
adalah
subjektif dan
mempengaruhi
cara pasien dan
keluarga dalam
menghadapi
krisis

INGAT

APA YANG DAPAT DILAKUKAN .


?
kepedulian

CARA MEMBERI DUKUNGAN


KOMUNIKASI TERAPEUTIK

KOMUNIKASI TERAPEUTIK THD PASIEN


1. Menanamkan asas kepercayaan ( trust)
2. Peka thd ekspresi non verbal perasaan pasien yg dpt memberi
informasi ttg emosi & keadaan penyakitnya.
- ekspresi wajah
- sikap tubuh
- pola pernapasan
- nada suara
- gerakan tangan
3. Memberi respon yg sesuai antara perilaku verbal & non verbal
4. Active listening
5. Melatih ketrampilan komunikasi
- gaya bicara
- nada suara

MENGAPA EMPATI ?

Dengan empati pasien merasakan bahwa :


Kita

perhatian / care terhadapnya


Kita memahami apa yg ia rasakan & memahami
apa yg menyebabkan ia merasa demikian
Pasien merasa dipahami/ dengarkan, shg dapat
mengurangi stres yg muncul akibat gagal ginjal
dan berefek positif thd kesehatannya.

MANFAAT KOMUNIKASI TERAPEUTIK & SIKAP


EMPATI

Pasien menghadapi kondisi dirinya


secara positif.

Pasien lebih mudah membuka diri


mengenai masalah-masalahnya.

Berefek psikoneuroimunologis yang


positif terhadap kesehatan &
mental

PENANGANAN PSIKOLOGIS
PASIEN GAGAL GINJAL
1. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL PRADIALIASIS
a. Perhatikan latar belakang sosial pasien :
- ekonomi
- budaya
- lingkungan sosial
- agama
b. Apakah pasien telah mencapai tahap adaptasi terhadap
penyakit kronisnya ? bagaimana menghadapi penyangkalan
dan harapan pasien yg tidak realistik ?
2. PERAWATAN KONDISI PSIKIS PASIEN SELAMA PROGRAM DIALISA
a. Pemantauan secara spesifik dan berkala tentang proses
adaptasi terhadap terapi dan perubahan pola hidup
b. pembelajaran proses adaptasi menuju kemandirian

TERIMA KASIH