Anda di halaman 1dari 79

Nama : Alif muchammad akbar putra wijaya

NIM

: 061430310171

Kelas : 1 L-B

Sistem Bilangan Kompleks


A.1 BILANGAN KOMPLEKS
Sebuah bilangan kompleks z merupakan sebuah bilangan yang memiliki bentuk x +
jy, di mana x dan y merupakan bilangan bilangan real dan j =

1 . Dalam hal ini kita

tuliskan x = Re z , bagian real dari z; y = Im z, bagian imajiner dari z. Dua buah bilangan
kompleks dikatakan sama jika dan hanya jika masing-masing bagian real dan imajiner dari
kedua bilangan kompleks tersebut sama.
A.2 BIDANG KOMPLEKS
Sepasang sumbu sumbu ortogonal,dengan sumbu horizontal yang menggambarkan
Re z dan sumbu vertikal j yang menggambarkan Im z akan membentuk sebuah bidang
kompleks dimana setiapa bilangan kompleks memiliki sebuah titik yang unik. Pada Gambar
A-1 ditunjukan posisi dari enam buah bilangan kompleks. Masing masing bilangan
kompleks dapat direpresentasikan oleh sebuah vektor yang unik yang berasal dari titik asal
z
bidang kompleks seperti diilustrasikan oleh bilangan kompleks 6 pada Gambar A-1.

z 1=6
z 2=2 j3
z 3= j 4
z 4=3+ j2
z 5=4 j 4
z 6=3+ j3

A.3 OPERATOR VEKTOR J


Sebagai tambahan terhadap pendefinisian parameter j yang diberikan pada Subbab
A.1 sebelumnya,parameter j dapat dipandang sebagai sebuah operator yang berputar
mengelilingi setiap bilangan kompleks (vektor) A

90

dalam arah yang berlawanan

dengan arah putaran jarum jam. Pada kasus di mana A adalah bilangan real murni,x, prinsip
kerja operator j ini dapat diilustrasikan pada Gambar A-2. Proses perputaran (rotasi) akan
2
mengirim A ke posisi jx, pada sumbu imajiner positif. Jika dilanjutkan lebih jauh lagi, j

akan memutar A sejauh

1800 ;

j3 ,

2700 ;

dan

j4 ,

3600 . Juga diperlihatkan

dalam Gambar A-2,sebuah bilangan kompleks B di kuadran satu pada sudut

. Perhatikan

0
bahwa j B berada pada kuadran kedua, pada sudut + 90 .

A.4 REPRESENTASI LAIN BILANGAN KOMPLEKS


Dalam Subbab A1, bilangan kompleks didefinisikan dalam bentuk yang disebut sebagai bentuk
rektangular. Pada Gambar A-3, x = r cos

, y = r sin , dan bilangan kompleks z dapat ditulis

dalam bentuk trigonometrik sebagai

z = x + jy = r (cos + j sin )
dimana r adalah nilai modulus atau nilai absolut (notasi r =
tan 1

x2 + y 2

, dan sudut

(y/x) adalah argumen dari z.

Berdasarkan formula Euler, yaitu

e j =cos + j sin , maka bilangan kompleks

dapat ditampilkan dalam bentuk yang lain disebut bentuk eksponenseial:


Z = r cos + jr sin = re j
Bentuk ketiga, yang merupakan bentuk bilangan kompleks yang di gunakan secara
luas dalam analisis rangkaian adalah bentuk polar atau bentuk steinmetz yang di rumuskan
sebagai z = r di mana dalam derajat.
A.5 PENJUMLAHAN DAN PENGGURANGAN BILANGAN KOMPLEKS

Untuk menjumlahkan dua buah bilangan kompleks, jumlahkanlah bagian-bagian real


dan imajiner dari masing-masing bilangan kompleks secara terpisah, sementara untuk
mengurangkan bilangan kompleks, kurangkanlah bagian-bagian ral dan imajiner dari masingmasing bilangan kompleks dapat dilakukan dengan mudah jika kedua bilnagan berada dalam
bnetuk rektanguler.
CONTOH A1 jika diberikan z1 = 5 j2 dan z2 = -3 j8, maka
z1 + z2 = (5-3) + j(-2-8) = 2 j10
z1 + z2 = (-3-5) + j(-8+2) = -8 j6
A.6 PERKALIAN BILANGAN KOMPLEKS
Hasil perkalian dua buah bilangan kompleks, jika keduanya memiliki bentuk
ekspondensialn dapat dilakukan berdasarkan hukum eksponen sebagai berikut:
z1z2 = (r1ej

)( r2ej

) = r1r2ej(

perkalian bilangan kompleks yang memiliki bentuk polar atau Steinmeter adalah jelas dan
mudah untuk di lakukan dengan mengacu pada bentuk eksponentensial.
z1z2 = (r1 /

2
)( r 2 / =

r 1 r 1 / 1 2

sedangkan perkalian dua buah bilangan kompleks dalam bentuk rektangular dapat
diperoleh dengan memperlakukan kedua buah bilangan kompleks sebagai binomial.
z 1 z 2 = (x jy )(x jy ) = x x +jx y jy x +j2y y
1+
1
2+
2
1 2
1 2+ 1 2
1 2
= (x1x2 y1y2) + j(x1y2+y1y2)
CONTOH A2 Jika z1 = 5ej/3 dan z2 = 2e-j/6, maka z1z2 = (5ej/3)(2e-j/6) = 10ej/6.
CONTOH A3 Jika z1 = 2/ 30 dan z2= 5/ 45

,maka z1z2 = (2/ 30 )(5/ 45 ) =

10/ 15 .
CONTOH A4 Jika z1 = 2+j3 dan z2 = -1 j3. maka z1z2 = (2+3j)(-1-j3) = 7 j9.

A.7 PEMBAGIAN BILANGAN KOMPLEKS


Untuk dua buah bilangan kompleks dalam bentuk eksponensial,pembagian di antara
keduanya adalah mengikuti hukum eksponensial sebagai berikut :

z 1 r 1 e j
=
z 2 r 2 e j

r 1 j( )
e
r2

Seperti dalam perkalian sebelumnya,pembagian bilangan kompleks yang memiliki


bentukl polkar atau Steinmetz dapat dilakukan dengan mengacu pada bentuk
eksponensialnya.
z 1 r 1 / 1
=
z 2 r 2 / 2

r1
r2

1 2

Pembagian dua buah bilangan kompleks dalam bentuk rektangular dilakukan dengan
mengalikan pembilang dan penyebut dengan konjugat dari penyebutnya (lihat Subbab A.8).

z 1 x 2 jy 2
=
z 2 x 2 jy 2

x
y 1 x 2 y 2 x 1

2
2
( 1 x 2 y 1 y 2)+ j ( x 2+ y 2 )

x 1 x2 + y 1 y 2
2

x2 + y2

+j

y 1 x 2+ y 2 x 1
2

x2 + y2

CONTOH A5 Jika diberikan z1 = 4ej/3 dan z2 = 2ej/6 maka


CONTOH A6 jika di berikan z1 = 8/-30 dan z2 =2/-60 maka
z 1 8/30
=
z 2 2/60

= 4/

30

CONTOH A7 Jika diberikan z1 = 4 j5 dan z2 = 1+j2 maka


z 1 4 j 5 1 j 2
=
z 2 1+ j2 1+ j 2

=-

6
13
j
5
5

A.8 KONJUGAT BILANGAN KOMPLEKS


Konjugat dari bilangan kompleks z = x+jy adalah bilangan kompleks z* = x - jy. Jadi,

Re z =

z+z
2

Im z =

z+z
2j

|z| = z z

Dalam bidang kompleks, titik titik z dan z* merupakan pencerminan terhadap sumbu real.
Dalam bentuk eksponensial : z =

, z* = r/ .

Dalam bentuk trigonometrik : z = r(cos + j sin ), z* = r(cos + j sin ).


Konjugasi memiliki beberapa sifat penting berikut ini :
(i)

(z*)* = z

(ii)

(z1z2)* = z1* z2*

(iii) (z1z2)* = z1* z2*


z1
z1
(iv)
= z2
z2

()

APENDIKS B
Matriks dan Determinan Matriks

B.1 PERSAMAAN SIMULTAN DAN MATRIKS KARAKTERISTIK


Terdapat banyak sistem dalam bidang keteknikan yang digambarkan
melalui suatu kumpulan persamaan simultan independen linear dalam
bentuk

y1 = a11x1 + a12x2 +a13x3 +

y2 = a21x1 + a22x2 +a23x3 +

+ a1nxn
+ a2nxn

ym = am1x1 + am2x2 + am3x3+

+amnxn

dimana xj merupakan variabel bebas (independen), y i adalah variabel tak


bebas (dependen), dan aij adalah koefisien-koefisien dari variabel bebas.
Aij dapat merupakan konstanta atau fungsi dari parameter tertentu.
Bentuk yang lebih sederhana dan mudah untuk dicermati dapat diperoleh

dengan menyatakan persamaan-persamaan di atas ke dalam bentuk


matriks

[ ][

a11 a 12
y1
y 2 = a 21 a 22

ym
am 1 a m 2

a13 a1 n

][ ]

x1
a23 a2 n
= x2


xn
a m 3 a mn

Atau Y = AX, berdasarkan definisi perkalian AX dijabarkan pada subbab


B.3. matriks A =

[ aij ]

disebut sebagai matriks karakteristik sistem; dimana

ordeatau dimensinya dinyatakan sebagai


d(A) = m x n
dengan m adalah jumlah baris dan n adalah jumlah kolomnya.

B.2 JENIS-JENIS MATRIKS


Matriks baris. Merupakan matriks yang memiliki berapapun kolom
tetapi hanya satu buah baris; d(A) = 1 x n. Matriks ini dikenal juga
sebagai vektor baris
Matriks kolom. Merupakan matriks yang memiliki berapapun baris
tetapi hanya satu buah kolom; d(A) = m x 1. Matriks ini dikenal juga
sebagai vektor kolom.
Matriks diagonal.

Adalah

matriks

yang

elemen

bukan

nol-nya

merupakan elemen diagonal utama.


Matriks satuan. Adalah matiks diagonal yang nilai elemennya sama
dengan satu.

Matriks nol. Adalah matriks yang semua elemennya sama dengan nol.
Matriks bujursangkar. Merupakan matriks dimana jumlah baris dan
kolomnya sama; d(A) = n x m.
Matriks simetri. Jika diberikan

a 11

a12 a13 a 1 n

a22 a23 a 2 n
A a21
d ( A )=m x n


am 1 a m 2 am3 a mn

Maka transpose dari A adalah

a11 a21 a31 a m 1

a1 2 a22
A a
a23
13

a1 n a2 n
T

a32 a m 2

T
a33 a m 3 d ( A )=n x m

a3 n amn

Jika baris dari matriks A merupakan kolom dari matriks AT, dan
sebaliknya. Matriks A disebut simetri (symetric) jika
matriks

simetri

dengan

bujursangkar.
Matriks Hermitian. Jika diberikan

a 11

a12 a13 a 1 n

a22 a23 a 2 n
A a21


am 1 a m 2 am3 a mn

demikian

haruslah

A = AT; suatu

merupakan

matriks

Maka konjugat dari matriks A adalah

a11 a21 a31 a m 1

a1 2 a22
A a
a23
13

a1 n a2 n

a32 a m 2
a33 a m 3

a3 n amn

Matriks A adalah matriks hermitian jika A = (A*)T; jadi matriks hermitian


adalah sebuah matriks bujursangkar dengan elemen-elemen real pada
diagonal utama dan elemen-elemen konjugat kompleks menempati posisi
yang merupakan cermin pada diagonal utama. Perhatikan bahwa (A*)T =
(AT)*.
Matriks nonsingular. Sebuah matriks bujursangkar A n x n adalah nonsingular
(dapat diinversikan) jika terdapat suatu matriks B n x n sedemikian hingga
AB = BA = I
Dimana I adalah matriks satuan n x n. Matriks B disebut sebagai invers dari
matriks nonsingular A, dan kita tuliskan B = A-1. Jika A adalah nonsingular,

maka untuk setiap Y, persamaan matriks Y = AX pada subbab B1 akan


memiliki solusi unik sedemikian rupa sehingga
X = A-1Y
B.3 ARITMETIKA MATRIKS
Penjumlahan dan Pengurangan Matriks
Dua buah matriks dengan orde yang sama adalah memenuhi persyaratan
untuk penjumlahan atau pun pengurangan. Dua buah matriks yang memiiki orde
yang berbeda tidak dapat dijumlahkan atau dikurangkan.
Jumlah (selisih) dari dua buah matriks m X n, A = [aij] dan B = [bij], adalah
matriks C m X n yang masing masing elemennya adalah jumlah (selisih) dari
masing masing elemen yang berkorespondensi dari matriks A dan B. Jadi, AB
= [aij bij].
CONTOH B1

A= 1 4 0
2 7 3

Maka

A+B=

B= 5 2 6
0 1 1

1+5 4+2 0+6


2+ 0 7+1 3+1

A-B =

4 2 6
2 6 2

6 6 6
2 8 4

Transpos dari jumlah (selisih) dua buah matriks adalah jumlah (selisih) dari
dua buah transposnya.
(AB)T = AT BT
Perkalian Matriks
Perkalian AB dari matriks A 1 X m dan matriks B m X 1 adalah sebuah
matriks 1 X 1 C = [cij], di mana

C = [a11 a12 a13 .... a1m]

[ ]
m

= [a11 b11+ a12 b21+....+a1m bm1] =

k1

a1 k bk 1

Perhatikan bahwa masing masing elemen baris matriks dikalikan dengan


elemen kolom matriks dan kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.Seringkali
kita mengidentifikasikan C dengan besaran saklar c11, memperlakukannya
sebagai sebuah bilangan biasa yang diperoleh dari medan bilangan merupakan
elemen elemen dari matriks A dan B.
Perkalian AB dari matriks A = [aij] yang berukuran m X s dan matriks B =
[bij] yang berukuran s X n adalah matriks C = [cij] yang berukuran m X n ,dimana
s

cij =

a 1 k b kj
k1

(i = 1,2,...,m,

j = 1,2, ... , n)

CONTOH B2

[ ][

a11 a12
b
b
a21 a22 11 12
b 21 b22
a31 a32

a11 b 11 +a12 b12+ a11 b12 + a12 b 22


a21 b 11 +a22 b21+ a21 b 12 +a22 b22
a31 b11 +a 32 b21 + a31 b12+ a32 b 22

[
[

][

3 5 8
2 1
6
4 6 7

5 3 8 2 6
4 2 7 0 9

] []

] [
=

I1
I2
I3

3 I 1 + 5 I 2 2 I 1+ 1 I 2+

8 I3
4 I 1 6 2+ 7 I 3
6 I3

5 ( 8 )+ (3 )(7) 5 (2 ) + (3 ) (0) 5 ( 6 )+ (3 ) (9)


4 ( 8 ) +2 ( 7 ) 4 (2 )+ 2(0)
4 ( 6 ) +2(9)

19 10 3
46 8 42

Matrik A adalah memenuhi persyaratan untuk perkalian dengan matriks B atau


dengan kata lain perkalian AB adalah terdefinisi hanya jika jumlah kolom matriks
A adalah sama dengan jumlah baris matriks B. Jadi, jika matriks A adalah 3x2
dan matriks B adalah matriks 2x5, maka perkalian AB akan terdifinisi, tetapi
perkalian BA tidak terdefinisi. Jika D dan E adalah matriks 3x3 maka baik
perkalian DE dan ED terdefinisi. Mamun tidaklah selalu benar bahwa DE=ED.
Transpos dari perkalian dua buah matriks adakah perkalian dari dua buah
tranpos matriks yang diambil dalam kebalikannya, (AB) T =BT AT. Jika A dan B
adalah matriks-matriks non-singular dengan dimensi yang sama maka AB adalah
juga non-singular dengan (AB) -1 = B-1 A-1.
Perkalian Matriks dengan Skalar
Perkalian matriks A = [aij] dengan skalar k didefinisikan dengan
kA=Ak=[kaij]
artinya, masing-masing elemen dari matriks A dikalikan dengan k. Perhatikan
sifat-sifat berikut ini :
k(A+B)=kA+kB

k(AB)=(kA)B=A(kB)

k(A)T=kAT

B.4 DETERMINAN MATRIKS BUJURSANGKAR


Untuk setiap matriks A= [ ij] yang berukuran n x n melekat suatu fungsi scalar
tertentu aij yang disebut sebagai determinan A. Bilangan ini dinotasikan sebagai

det A atau |A| atau

a11 a12
a 21 a22

a n1 an 2

A atau

a1 n
a 2n

ann

dimana bentuk terakhir menampilkan elemen dari A. Untuk determinan orde n = 1n dan n =
2, diperoleh (eksplisit)

|a11| = a11

a 11 a12
a21 a22

= a11 a22 a12 a21

Untuk n yang lebih besar, pernyataan yang analogi dengan pernyataan diatas akan menjadi
sangat susah dan rumit sehingga seringkali dihindari melalui penggunaan teorema ekspansi
Laplace (lihat bahasan dibawah). Hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa determinan
didefinisikan dengan cara sedemikian hingga
det AB = (det A)(det B)
untuk setiap dua buah matriks A dan B dengan ukuran n x n. Dua sifat dasar yang lain adalah
det kA = kn det A

det AT = det A

akhirnya, det A 0 jika dan hanya jika A adalah monosingular.


CONTOH B3
Verifikasilah aturan perkalian determinan untuk

A=

[ ]
1 4
3 2

B=

2 9
1

Dari kedua matriks di atas kita peroleh

AB =

dan

[ ][

1 4 2 9
3 2 1

] [
=

2 9+4
4 27+2

2
9+4
4 27+2

Akan tetapi

= 2(27+ 2 ) (9+4 )(-4) = 90 + 20

| |
1 4
3 2

= 1(2)-4(3) = -10

2 9
1

Dan terlihat bahwa 90 + 20

= -2( 9(1)= -9 - 2

= (-10)(-9 - 2 ).

Teorema Ekspansi Laplace


Minor, Mij dari elemen aij dari suatu determinan matriks dengan orde n adalah
determinan dengan orde n 1 yang diperoleh dengan menghilangkan baris dan kolom yang
mengandung elemen aij Kofaktor

ij

dari elemen aij didefinisikan sebagai


ij = (-1)i+j M
ij

Teorema Laplace menyatakan : Dalam determinan dari matriks bujursangkar A,


kalikanlah masing-masing elemen dalam baris (kolom) ke-p dengan kofaktor dari elemen
yang berkorespondensi dalam baris (kolom) ke-q, dan jumlahkanlah hasil perkaliannya.
Hasil akan sama dengan 0 untuk p q ; dan det A, untuk p q.
Dari teorema Laplace juga dapat dinyatakan bahwa jika matriks A memiliki dua baris
dan kolom yang sama maka det A= 0 (dan A mestilah merupakan sebuah matriks singular).
Invers Matriks dengan Determinan; Aturan Cramer
Teorema ekspansi Laplace dapat ditunjukkan dalam perkalian matriks sebagai
berikut :

a11 a 12 a13
a21 a 22 a23

an 1 a n2 an 3

][

a 1n 11 12 31
a 2n 12 22 32

a nn 1 n an 2 3 n

11 12 31
12 22 32

1 n an 2 3 n

Atau

n 1
n 2

nn

n 1
n 2

nn

][

a11 a 12 a13
a21 a 22 a23

an 1 a n2 an 3

det A
0
0
0
det A
0


0 0
0

0
0

det A

a 1n
a 2n

a nn

A (adj A) = (adj A)A = (det A) I

Dimana adj= [

ij

adalah matriks transpose dari kofaktor aij dalam determinan A, dan I

adalah matriks satuan n x n.


Jika A non-singular, maka kita bisa melakukan pembagian dengan det A 0 dan
menyimpulkan bahwa
A1 =

1
det A

adj A

Ini berarti bahwa solusi unik untuk system linear Y= AX adalah


X= (

1
det A

adj A )Y

Yang merupakan aturan Cramer dalam bentuk matriks. Biasanya bentuk determinan diperoleh
dengan mempertimbangkan baris ke-r (r= 1, 2, 3,..., n) dari solusi matriks. Karena baris ker dari adj A adalah

[ 1r

2 r nr ]

xr

( det1 A )

( det1 A )

( det1 A )[
1 r

( y1

1r

+ y2

2 r 3 r nr ]

2r

+y3

3 r

[]
y1
y2
y3

yn

+ + yn

nr

a 11 a 1( r1) y1 a1 (r +1) a1 n
a 21 a 2(r1) y 2 a2 (r +1) a2 n


an 1 an (r 1) y n a n(r +1) ann

Persamaan terakhir dapat diverifikasi dengan mengaplikasikan Teorema Laplace pada kolom
ke-r dari determinan yang diberikan.

B.5

NILAI EIGEN DARI MATRIKS BUJURSANGKAR

Untuk suatu sistem linear Y = AX, dengan matriks karakteristik A n x n, kita


harus menyelidiki eksitasi X yang menghasilkan respon Y yang sesuai. Jadi,
dengan memisalkan Y = X, dimana adalah skalar.

X = AX atau (I - A) X = O

Dimana nilai O adalah matriks nol n x 1. Sekarang, jika matriks (I - A)


adalah nonsinguular maka hanya solusi yang trivial X = Y - O yang muncul. Oleh
karenanya agar diperoleh soolusi yang benar maka nilai haruslah sedemikian hingga
membuat (I - A) menjadi matriks singular; artinya kita harus memiliki

det (I A) =

a11 a 12 a13 a1 n
a21 a 22 a23 a2 n


a n1 an 2 a n 3 ann

Akar akar n dari persamaan polinominal dlam ini merupakan nilai eign
(eignvalue) dari matriks A ; solusi nontrival X untuk ini dikenal sebagai vektor eign
(eigenvector) dari matriks A.
Dengan menetapkan == 0 pada sisi kiri persamaan karakteristik di atas,
dapat kita lihat bahwa suku kosakata dalam persamaan haruslah

n
det (-A) = det [(-1)A ] = (1) (det A)

Karena koefisien

dari persamaan jelas sama dengan satu, suku kostantanya juga sama

n
dengan (1) dikali dengan hasil perkalian semua akar persamaan. Determinan dari

sebuah matriks bujur sangkar adalah hasil perkalian dari semua eign nya merupakan salah
satu deinisi determinan yang lain, dan sangat bermanfaat.

Nilai tambah materi dan soal


Bilangan Kompleks
Bilangan Kompleks merupakan suatu bilangan yang memiliki komponen nyata dan
komponen imaginer. Dapat dituliskan :
V = a + jb
Dimana, a = bilangan nyata
b = bilangan nyata
j = bilangan imajiner
Secara grafis dapat dilihat pada gambar 1, bilangan nyata terdapat pada sumbu nyata (X) dan
bilangan imajiner terdapat pada sumbu imajiner (Y). Bentuk representasi ini disebut bentuk
sudut siku (rectangular).

Gambar 1
Keterangan :
= garis yang terbentuk dari titik awal ke titik V
= sudut yang terbentuk dari garis dengan sumbu nyata X
Bilangan Kompleks Bentuk Polar (Fasor)
Bentuk Polar merupakan bilangan kompleks yang diturunkan dari bentuk rectangular (sudut
siku).
a = .cos dan b = .sin
V = a + jb
V = cos + j sin
V = (cos + jsin)
Persamaan bentuk polar nya yaitu:

Mengubah bentuk Sudut Siku (Rectangular) ke bentuk Fasor (Polar) dan sebaliknya

Ada beberapa persamaan pokok yang harus dihafal untuk melakukan perubahan pada
bilangan kompleks, yaitu merubah bentuk rectangular ke bentuk polar maupun sebaliknya.
Berikut persamaan2 nya :
-

- Transformasi bentuk Polar ke Rectangular

-Transformasi bentuk Rectangular ke Polar

Melihat persamaan transformasi bentuk rectangular ke polar yang terlalu banyak


menyulitkan kita untuk menghafalnya. Tetapi tidak sesulit yang dilihat, persamaan tersebut
sangat mudah dihafal dengan cara memahami persamaan rectangular berdasarkan letak
Quadran pada koordinat kartesius. Persamaan bentuk rectangular untuk masing-masing
Quadran dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

4 Quadran pada koordinat kartesius

Quadran I

Quadran II

Quadran III

Quadran IV
Penjumlahan, Perkalian dan Pembagian Bilangan Kompleks
1. Penjumlahan
Dalam operasi penjumlahan bilangan kompleks menggunakan bentuk Rectangular
V1 = a1 + jb1 dan V2 = a2 + jb2
V1 + V2 = (a1 + a2) + j(b1 +b2)
Contoh :
Jumlahkanlah bilangan kompleks dibawah ini
A = 3 + j5 , B = 4 j8
Jawab :
A + B = (3 + 4) + j(5 8)
A + B = 7 j3
2. Perkalian
Untuk operasi perkalian bilangan kompleks lebih mudah jika menggunakan bentuk Polar
1 = a < 1 dan 2 = b < 2
1 . 2 = (a . b) < (1 + 2)
Contoh:
Lakukan perkalian pada bilangan kompleks berikut
1 = 15 < 300 , 2 = 20 < 450
Jawab :
1 . 2 = (15.20) < (300 + 450)
1 . 2 = 300 < 750
3. Pembagian
Pada operasi pembagian bilangan kompleks lebih mudah menggunakan bentuk Polar, sama
halnya saat operasi perkalian
dan
Contoh:
Lakukan pembagian untuk bilangan kompleks berikut
A = 15 < 300 , B = 20 < 450

Jawab :

Contoh Soal Penggunaan Bilangan Kompleks Pada Rangkaian Listrik


Dalam menyelesaikan soal rangkaian listrik kita harus menguasai perubahan/ transformasi
bentuk bilangan kompleks (rectangular ke polar atau sebaliknya), karena untuk
menyelesaikan satu soal rangkaian listrik akan membutuhkan perubahan bentuk bilangan
kompleks agar dapat melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan
pembagian. Berikut contoh soal serta penyelesaiannya agar pembaca dapat lebih memahami
penggunaan bilangan kompleks pada rangkaian listrik.

Hitunglah besar arus I yang mengalir pada rangkaian


Penyelesaian

Bilangan kompleks
Dalam matematika, bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk

dimana a dan b adalah bilangan riil, dan i adalah bilangan imajiner tertentu yang mempunyai
sifat i 2 = 1. Bilangan riil a disebut juga bagian riil dari bilangan kompleks, dan bilangan
real b disebut bagian imajiner. Jika pada suatu bilangan kompleks, nilai b adalah 0, maka
bilangan kompleks tersebut menjadi sama dengan bilangan real a.
Sebagai contoh, 3 + 2i adalah bilangan kompleks dengan bagian riil 3 dan bagian imajiner 2i.
Bilangan kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali, dan dibagi seperti bilangan riil; namun
bilangan kompleks juga mempunyai sifat-sifat tambahan yang menarik. Misalnya, setiap
persamaan aljabar polinomial mempunyai solusi bilangan kompleks, tidak seperti bilangan
riil yang hanya memiliki sebagian.
Dalam bidang-bidang tertentu (seperti teknik elektro, dimana i digunakan sebagai simbol
untuk arus listrik), bilangan kompleks ditulis a + bj.
Definisi
Notasi dan operasi
Himpunan bilangan kompleks umumnya dinotasikan dengan C, atau . Bilangan real, R,
dapat dinyatakan sebagai bagian dari himpunan C dengan menyatakan setiap bilangan real
sebagai bilangan kompleks:
.
Bilangan kompleks ditambah, dikurang, dan dikali dengan menggunakan sifat-sifat aljabar
seperti asosiatif, komutatif, dan distributif, dan dengan persamaan i 2 = 1:
(a + bi) + (c + di) = (a+c) + (b+d)i
(a + bi) (c + di) = (ac) + (bd)i
(a + bi)(c + di) = ac + bci + adi + bd i 2 = (acbd) + (bc+ad)i
Pembagian bilangan kompleks juga dapat didefinisikan (lihat dibawah). Jadi, himpunan
bilangan kompleks membentuk bidang matematika yang, berbeda dengan bilangan real,
berupa aljabar tertutup.
Dalam matematika, adjektif "kompleks" berarti bilangan kompleks digunakan sebagai dasar
teori angka yang digunakan. Sebagai contoh, analisis kompleks, matriks kompleks,
polinomial kompleks, dan aljabar Lie kompleks.
Definisi
Definisi formal bilangan kompleks adalah sepasang bilangan real (a, b) dengan operasi
sebagai berikut:

Dengan definisi diatas, bilangan-bilangan kompleks yang ada membentuk suatu himpunan
bilangan kompleks yang dinotasikan dengan C.
Karena bilangan kompleks a + bi merupakan spesifikasi unik yang berdasarkan sepasang
bilangan riil (a, b), bilangan kompleks mempunyai hubungan korespondensi satu-satu dengan
titik-titik pada satu bidang yang dinamakan bidang kompleks.
Bilangan riil a dapat disebut juga dengan bilangan kompleks (a, 0), dan dengan cara ini,
himpunan bilangan riil R menjadi bagian dari himpunan bilangan kompleks C.
Dalam C, berlaku sebagai berikut:

identitas penjumlahan ("nol"): (0, 0)

identitas perkalian ("satu"): (1, 0)

invers penjumlahan (a,b): (a, b)

invers perkalian (reciprocal) bukan nol (a, b):

Notasi
Bentuk Penjumlahan
Bilangan kompleks pada umumnya dinyatakan sebagai penjumlahan dua suku, dengan suku
pertama adalah bilangan riil, dan suku kedua adalah bilangan imajiner.

Bentuk Polar
Dengan menganggap bahwa:

dan

maka

Untuk mempersingkat penulisan, bentuk

juga sering ditulis sebagai r cis

Bentuk Eksponen
Bentuk lain adalah bentuk eksponen, yaitu:

Bidang kompleks
Bilangan kompleks dapat divisualisasikan sebagai titik atau vektor posisi pada sistem
koordinat dua dimensi yang dinamakan bidang kompleks atau Diagram Argand.
Koordinat Kartesius bilangan kompleks adalah bagian riil x dan bagian imajiner y, sedangkan
koordinat sirkularnya adalah r = |z|, yang disebut modulus, dan = arg(z), yang disebut juga
argumen kompleks dari z (Format ini disebut format mod-arg). Dikombinasikan dengan
Rumus Euler, dapat diperoleh:

Kadang-kadang, notasi r cis dapat juga ditemui.


Perlu diperhatikan bahwa argumen kompleks adalah unik modulo 2, jadi, jika terdapat dua
nilai argumen kompleks yang berbeda sebanyak kelipatan bilangan bulat dari 2, kedua
argumen kompleks tersebut adalah sama (ekivalen).
Dengan menggunakan identitas trigonometri dasar, dapat diperoleh:

dan

Penjumlahan dua bilangan kompleks sama seperti penjumlahan vektor dari dua vektor, dan
perkalian dengan bilangan kompleks dapat divisualisasikan sebagai rotasi dan pemanjangan
secara bersamaan.
Perkalian dengan i adalah rotasi 90 derajat berlawanan dengan arah jarum jam (
radian).
Secara geometris, persamaan i2 = 1 adalah dua kali rotasi 90 derajat yang sama dengan
rotasi 180 derajat ( radian).

SISTEM DALAM BILANGAN KOMPLEKS

Karena tidak ada bilangan riil x yang memenuhi persamaan polinomial x^2 + 1 = 0
atau persamaan yang serupa dengan persamaan polinomial tersebut, maka diperkenalkanlah
himpunan bilangan kompleks.
Bentuk umum dari bilangan kompleks adalah a + bi
dimana a dan b adalah bilangan bilangan riil yang
dinamakan bagian riil dan bagian imajiner , dan i = \sqrt{1} dianamakan satuan imajiner (imaginary unit). Dua
bilangan kompleks a + bi dan c + di adalah sama jika dan
hanya jika a = c dan b = d . Kita dapat meninjau bilangan
bilangan riil sebagai subhimpunan dari himpunan bilangan
kompleks dengan b = 0 . Bilangan kompleks 0 + 0i
besesuaian dengan bilangan riil 0.
Nilai Absolut dari a + bi didefinisikan sebagai |a + bi | = \sqrt{a^2 + b^2}. Konjugat
komples (compleks konjugat) dari a + bi didefinisikan sebagai a bi . Konjugat kompleks
dari bilangan kompleks z seringkali ditunjukan dengan z* .
Dalam melakukan operasi pada bilangan kompleks maka kita dapat melakukan
operasi seperti dalam aljabar bilangan riil dengan menggantikan i^2 dengan 1 bilamana
terdapat i^2 .Ketaksamaan untuk bilangan kompleks tidak didefinisikan.
Dari segi pandangan pondasi aksiomatik bilangan kompleks, maka diinginkan untuk
memperlakukan sebuah bilangan kompleks sebagai pasangan (ordered paid) (a,b) dari
bilngan bilngan riil a dan b yang menuruti kaidah operasional tertentu yang ternyata
ekuivalen dengan yang diatas. Misalnya, kita mendefinisikan (a,b) + (c,d) = (a + c , b+ d),
(a,b) (c,d) = (ac bd, ad + bc), m(a , b) = (ma , mb) dan lain sebagainya . Maka kita
mendapatkan bahwa (a , b) = a (1 , 0) + b(0,1) dan kita mengasosiasikan ini dengan a + bi
dimana i adalah lambang untuk (0,1).
A. Hitunglah penjumlahan dan pengurangan bilangan kompleks berikut ini
1. 10 + j15 + (22 30)
2. 21,3 j32,5 (9 71,3)
3. 0,75 j0,1 + (0,3 40)
4. 30 j32 (64 31)
5. j65 + (80 15)
B. Hitunglah perkalian dan pembagian bilangan kompleks berikut ini
1. 2 + j6 (5 10)

2. 9 j10 (12 27,5)


3. 32 j14 (21 63)
4. 43,2 + j21 (55 30)
5. j80 (33 125)
Penyelesaian:
A. Penjumlahan dan pengurangan, bentuk polar harus diubah ke bentuk rectangular, lihat di
Cara Penjumlahan Bilangan Kompleks
1. 10 + j15 + (22 30) =
10 + j15 + [22(cos 30) + j22(sin 30)] =
10 + j15 + 22(cos 30) + j22(sin 30) =
10 + 22(cos 30) + j15 + j22(sin 30) = 29,05256 + j26
10 + j15 + (22 30) = 29,05256 + j26
2. 21,3 j32,5 (9 71,3) =
21,3 j32,5 [9(cos 71,3) + j9(sin 71,3)] =
21,3 j32,5 9(cos 71,3) j9(sin 71,3) =
21,3 9(cos 71,3) j32,5 j9(sin 71,3) = 18,41448 j41,02489
21,3 j32,5 (9 71,3) = 18,41448 j41,02489
3. 0,75 j0,1 + (0,3 40) =
0,75 j0,1 + [0,3(cos 40) + j0,3(sin 40)] =
0,75 j0,1 + 0,3(cos 40) + j0,3(sin 40) =
0,75 + 0,3(cos 40) j0,1 + j0,3(sin 40) = 0,97981 + j0,09284
0,75 j0,1 + (0,3 40) = 0,97981 + j0,09284
4. 30 j32 (64 31) =
30 j32 [64(cos 31) + j64(sin 31)] =
30 j32 64(cos 31) j64(sin 31)] =
30 64(cos 31) j32 j64(sin 31)] = 84,85871 j64,96244
30 j32 (64 31) = 84,85871 j64,96244
5. j65 + (80 15) =
j65 + [80(cos 15) j80(sin 15)] =
j65 80(cos 15) j80(sin 15) =
80(cos 15) j65 j80(sin 15) = 77,27407 j85,70552
j65 + (80 15) = 77,27407 j85,70552
B. Perkalian dan pembagian, bentuk rectangular harus diubah ke bentuk polar, lihat di Cara
Perkalian Bilangan Kompleks
1. 2 + j6 (5 10) =
[(2+6) tan(62)] (5 10) =

(2+6) 5 tan(62) + 10 = 31,62278 118,43495


2 + j6 (5 10) = 31,62278 118,43495
2. 9 j10 (12 27,5) =
[(9+10) tan(109)] (12 27,5) =
(9+10) 12 tan(109) 27,5) = 1,12114 75,51279
9 j10 (12 27,5) = 1,12114 75,51279
3. 32 j14 (21 63) =
[(32+14) tan(1432)] (21 63) =
(32+14) 21 tan(1432) 63) = 1,66326 86,62938
32 j14 (21 63) = 1,66326 86,62938
4. 43,2 + j21 (55 30) =
[(43,2+21) tan(2143,2)] (55 30) =
(43,2+21) 55 tan(2143,2) (30) = 0,87334 55,92490
43,2 + j21 (55 30) = 0,87334 55,92490
5. j80 (33 125) =
[(0+80) tan(800)] (33 125) =
(0+80) 33 tan(800) + 125 = 2640 35
j80 (33 125) = 2640 35]

Notasi Bilangan Kompleks : Polar dan Rectangular


Tidak seperti saat menganalisa tegangan DC, saat kita menganalisa tegangan AC, kita harus
menggunakan analisa matematis yang disebut vektor (bilangan kompleks). Ada dua bentuk
dasar notasi bilangan kompleks yaitu : polar dan planar
Untuk menghitung dengan menggunakan bilangan kompleks ini tanpa menggambar vektor,
kita membutuhkan suatu standar notasi matematika. Ada dua bentuk dasar untuk menyatakan
notasi bilangan kompleks yaitu polar dan rectangular.
Bentuk polar menyatakan bilangan kompleks dalam dua nilai yaitu panjang (atau juga dikenal
dengan sebutan magnitudo, nilai absolut, atau modulus) dan juga sudut dari vektornya
(biasanya dilambangkan dengan simbol ). Untuk memahami kedua bentuk ini ke dalam
kasus jarak dan arah antara dua kota, notasi polar untuk vektor dari kota New York menuju
San Diego memiliki nilai jarak dan arah 2400 mil barat daya. Ini adalah contoh vektor yang
dinyatakan dalam bentuk polar seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 1 Vektor dengan


notasi polar
Orientasi standar untuk sudut vektor dalam perhitungan rangkaian AC menggunakan 0 o
berada disebelah kanan garis horisontal, nilai 90o ke arah atas, 180o ke arah kiri, dan 270o ke
arah bawah. Perhatikan bahwa sudut vektor yang mengarah ke bawah dapat dinyatakan
dalam nilai positif atau negatif (bila dinyatakan dalam nilai positif lebih dari 180 o). Sebagai
contoh, sudut vektor yang bernilai 270o (lurus ke arah bawah) dapat juga dinyatakan
dengan nilai -90o. Gambar vektor di sebelah kanan atas (7.81 230.19o) dapat juga
dinyatakan dalam sudut yang bernilai negatif yaitu 7.81 -129.81o.

Gambar 2 Kompas vektor


Sebaliknya untuk bentuk rectangular dimana bilangan kompleks dinyatakan nilainya terhadap
sumbu horisontal dan vertikal. Pada intinya, sudut vektor diambil dari garis miring pada
segitiga siku-siku. Bentuk rectangular menyatakan seberapa jauh nilai bilangan kompleks ke
arah kanan/kiri (horisontal) dan seberapa jauh ke arah atas/bawah (vertikal).

Gambar 3 Dalam bentuk recatangular, panjang vektor dan arahnya disimbolkan seberapa
jauh jangkauannya terhadap sumbu horisontal dan vertikal, bilangan pertama menunjukkan
bagian horisontal (real) dan bilangan kedua (yang memiliki akhiran j) memnunjukkan
bagian vertikal (bilangan imajiner)
Gambar dua dimensi ini (horisontal dan vertikal) disimbolkan dengan dua angka numerik.
Untuk membedakan nilai pada sumbu horisontal dan sumbu vertikal, untuk nilai vertikal
penulisan nilainya diawali dengan huruf i (dalam matematika murni) atau huruf j (dalam
elektronika). Dua huruf ini tidak melambangkan variabel fisis (simbol i disini bukanlah
menyatakan besaran arus), tetapi simbol tersebut digunakan sebagai operator matematika
untuk membedakan nilai vektor pada sumbu horisontal dan vertikal. Sebuah bilangan
kompleks yang lengkap, nilai sumbu horisontal dan vertikalnya adalah dijumlahkan.

Gambar 4 Kompas
vektor menunjukkan sumbu real dan imajiner

Komponen pada sumbu horisontal merupakan komponen bilangan real karena nilainya
memiliki dimensi yang sama dengan bilangan skalar. Komponen pada sumbu vertikal
merupakan komponen bilangan imajiner, dimensinya berada dalam arah yang berbeda dengan
bilangan real. (perhatikan gambar 4).

Gambar 5
Kompas vektor dengan garis bilangan real (horisontal) dan imajiner (vertikal)
Sumbu real dari grafik melambangkan nilai bilangan seperti pada garis bilangan yang telah
di bahas pada bagian sebelumnya, bila ke arah kanan maka nilainya positif, sedangkan ke
arah kiri nilainya negatif. Sumbu imajiner dari grafik melambangkan garis bilangan lainnya
yang berada pada kemiringan 90o dari sumbu real. Vektor dinyatakan ke dalam grafik dua
dimensi, kita harus memiliki peta dua dimensi untuk menyatakannya, dua nilai ini masingmasing digambarkan ke dalam dua garis yang saling tegak lurus (perhatikan gambar 5).
Kedua notasi yang telah disebutkan di atas (bentuk polar dan rectangular) sama-sama bisa
digunakan untuk menyatakan bilangan kompleks. Alasan utama mengapa terdapat dua
metode notasi untuk menyatakan bilangan kompleks ini adalah untuk
meringkas/menyederhanakan perhitungan matematika yang sangat panjang, bentuk
rectangular sangat praktis apabila digunakan untuk operasi pengurangan dan penjumlahan,
sedangkan bentuk polar sangat praktis apabila digunakan untuk operasi perkalian dan
pembagian.
Konversi antara dua bentuk notasi ini menggunkan metode trigonometri sederhana. Untuk
merubah bentuk polar ke dalam bentuk rectangular, nilai komponen real didapat dengan
mengalikan magnitudo polar dengan cosinus sudut polar. Hal ini diturunkan berdasarkan
rumus trigonometri sudut-sudut dalam segitiga siku-siku, hipotenusa (sisi miring) segitiga itu
sendiri menunjukkan vektor yang dimaksud (panjangnya dan sudutnya terhadap garis
horisontal), sedangkan sumbu horisontal dan vertikal menunjukkan bagian real dan
imajiner dari komponen rectangular (lihat gambar). Berikut ini dicontohkan cara
mengkonversi suatu bilangan kompleks dari bentuk polar ke dalam bentuk rectangular.

Gambar 6 Vektor ini memiliki nilai bagian real sebesar 4 dan


bagian imajiner sebesar j3
5 36.87o (bentuk polar)
(5) (cos 36.87o) = 4 (komponen real)
(5) (sin 36.87o) = (komponen imajiner)
4 + j3 (bentuk rectangular)
Untuk mengkonversi dari bentuk rectangular ke dalam polar, tentukan magnitudo polar
dengan menggunakan teorema Phytagoras (magnitudo polar adalah hipotenusa dari segitiga
siku-siku, dan komponen real serta imajinernya adalah sisi-sisi yang saling tegak lurus),
sedangkan sudut polarnya dihitung dengan rumus arcus tangent dari nilai imajiner dibagi
dengan nilai real. Berikut ini contoh perhitungan konversi dari bentuk rectangular ke dalam
bentuk polar.
4 + j3 (bentuk rectangular)
c = (a2 + b2) (teorema phytagoras)
magnitudo polar = (42 + 32) = 5
sudut polar = arctan (3/4) = 36.87o
5 36.87o (bentuk polar)
Berikut ini contoh konversi notasi bilangan kompleks dari bentuk rectangular ke dalam
bentuk polar.

Berdasarkan gambar di atas, maka keempat titik tersebut


Titik C: Bagian Real = 4; bagian imajiner = 3. Oleh karena itu, C = 4 + j3. Dalam bentuk
polar,
C = (32 + 42) = 5 dan C = tan-1 (3/4) = 36.87o. Oleh karena itu, C = 5 36.87o.
Gambar vektor titik C ditunjukkan pada gambar berikut ini

Titik D : Dalam bentuk rectangular, D = 4 j4. Oleh karena itu, D = (42 + 42) = 5.66 dan D
= tan-1 (-4/4) = -45o. Oleh karena itu, D = 5.66 -45o. Gambar vektor titik D ditunjukkan
pada gambar berikut

Titik V: Dalam bentuk rectangular, V = -j2. Dalam bentuk polar, V = 2 -90o


Titik W: Dalam bentuk rectangular, W = -4 + j4. Oleh karena itu, W = (42 + 42) = 5.66 dan
W = tan-1 (-4/4) = -45o. Tetapi nilai -45o ini adalah sudut yang bersuplementer. Sudut yang
sebenarnya (diukur dari sumbu horisontal) adalah 135o. Oleh karena itu, W = 5.66135o.

Matriks dan determinan matriks


Matriks adalah kumpulan bilangan yang disusun dalam bentuk baris dan kolom.
Bilangan yang tersusun dalam baris dan kolom disebut elemen matriks.
Nama matriks ditulis dengan menggunakan huruf kapital.
Banyaknya baris dan kolom matriks disebut ordo matriks.
Bentuk umum :

B. JENIS-JENIS MATRIKS
1. Matriks baris
adalah matriks yang hanya memiliki satu baris
Contoh : A = [ 2 3 0 7 ]
2.

Matriks kolom
adalah matriks yang hanya memiliki satu kolom

3. Matriks persegi
adalah matriks yang jumlah baris dan kolomnya sama.

4. Matriks Identitas
adalah matriks persegi yang elemen-elemen pada diagonal utamanya 1, sedangkan semua
elemen yang lainnya nol.
Contoh :

5.

Matriks segitiga atas

adalah matriks persegi yang elemen-elemen dibawah diagonal utamanya nol.

6. Matriks segitga bawah


adalah matriks persegi yang elemen-elemen diatas diagonal utamanya nol.

Contoh :
7. Matriks nol adalah matriks yang semua elemennya nol.
Contoh :

C. TRANSPOSE MATRIKS
adalah perubahan bentuk matriks dimana elemen pada baris menjadi elemen pada kolom atau
sebaliknya.
Contoh :

D. KESAMAAN MATRIKS
Dua matriks dikatakan sama jika, keduanya mempunyai ordo yang sama dan elemen-elemen
yang seletak juga sama.
Contoh :

Bentuk Matriks

Penjumlahan dan pengurangan matriks


Penjumlahan dan pengurangan matriks hanya dapat dilakukan apabila kedua matriks
memiliki ukuran atau tipe yang sama. Elemen-elemen yang dijumlahkan atau dikurangi
adalah elemen yang posisi atau letaknya sama.

atau dalam representasi dekoratfinya

Perkalian Skalar
Matriks dapat dikalikan dengan sebuah skalar.

Contoh perhitungan :

Perkalian matriks
Matriks dapat dikalikan, dengan cara tiap baris dikalikan dengan tiap kolom, lalu
dijumlahkan pada baris yang sama.

Contoh perhitungan :

Jenis-jenis Matriks
Jenis-jenis matriks dapat dibagi berdasarkan ordo dan elemen / unsur dari matriks tersebut.
Berdasarkan ordo Matriks dapat di bagi menjadi beberapa jenis yaitu :

Matriks Bujursangkar adalah matriks yang memiliki ordo n x n atau banyaknya


baris sama dengan banyaknya kolom yang terdapat dalam mtriks tersebut. Matriks ini
disebut juga dengan matriks persegi berordo n.
Contoh :

Matriks Baris adalah Matriks Baris adalah matriks yang terdiri dari satu baris

Contoh : A = ( 2 1 3 -7 )

Matriks Kolom adalah Matriks Kolom adalah matriks yang terdiri dari satu kolom.
Contoh :

Matriks Tegak adalah suatu matriks yang banyaknya baris lebih dari banyaknya
kolom.
Contah :

Matriks datar adalah Matriks yang banyaknya baris kurang dari banyaknya kolom.

Contoh :

Berdasarkan elemen-elemen penyusunnya matriks dapat di bagi menjadi beberapa


jenis yaitu :

Matriks Nol adalah Suatu matriks yang setiap unsurnya 0 berordo m x n, ditulis
dengan huruf O.
contoh :

Matriks Diagonal adalah suatu matriks bujur sangkar yang semua unsurnya ,
kecuali unsur-unsur pada diagonal utama adalah nol.

Contah :

Matriks Segi Tiga adalah suatu matriks bujur sangkar yang unsur-unsur dibawah
atau diatas diagonal utama semuanya 0 .

Contoh :

Dimana Matriks C disebut matriks segi tiga bawah dan matriks D disebut matriks
segitiga atas.

Matriks Skalar adalah matriks diagonal yang unsur-unsur pada diagonal utama
semuanya sama.

Contoh :

Matriks Identitas atau Matriks Satuan adalah matriks diagonal yang unsur-unsur
pada diagonal utama semuanya satu ditulis dengan huruf I.

Contoh :

Matriks Simetri adalah suatu matriks bujur sangkar yang unsur pada baris ke-i
kolom ke-j sama dengan unsur pada baris ke-j kolom ke-i sehingga aij = aji .

Contoh :

A. Pengertian,

Notasi, dan Ordo Matriks

1. Pengertian Matriks
Untuk memahami pengertian tentang matriks, perhatikan contoh berikut. Seorang siswa
mencatat hasil ulangan hariannya untuk pelajaran Matematika, Sejarah, TIK, dan Bahasa
Inggris dalam tabel berikut.
Mata Pelajaran
Matematika
Sejarah
TIK
B. Inggris

Ulangan I
7
8
5
7

Ulangan II
8
7
7
9

Ulangan III
9
8
8
10

Ulangan IV
8
6
6
8

Tabel di atas dapat disajikan dalam bentuk yang lebih sederhana.

Dalam membaca tabel di atas, siswa tidak mengalami kesulitan karena dia sudah tahu bahwa
baris ke-1 adalah nilai Matematika, baris ke-2 nilai Sejarah, baris ke-3 nilai TIK, dan baris
ke-4 nilai Bahasa Inggris. Untuk kolom pertama menyatakan nilai ulangan I, kolom ke-2
adalah nilai ulangan II, dan seterusnya.

Dalam matematika, susunan bilangan yang ditulis menurut baris dan kolom serta ditandai
dengan tanda kurung di sebelah kiri dan sebelah kanannya disebut matriks. Nama baris dan
kolom disesuaikan dengan urutannya. Masing-masing bilangan yang ada di dalam tanda
kurung tersebut disebut elemen matriks. Pada matriks di atas, elemen matriks baris ke-2
kolom ke-4 adalah 6 dan elemen matriks baris ke-3 kolom ke-1 adalah 5. Hal ini dapat dilihat
dengan mudah pada matriks berikut.

Pada matriks di atas, elemen matriks baris ke-3 kolom ke-4 adalah 6. Elemen matriks baris
ke-2 kolom ke-3 adalah 8.
2. Notasi dan Ordo Matriks
Untuk menyatakan matriks, biasanya digunakan huruf kapital, seperti A, B, C, ..., sedangkan
untuk menyatakan elemen matriks ditulis dengan huruf kecil. Misalnya, aij untuk menyatakan
tiap elemen matriks A, bij untuk menyatakan tiap elemen B, dan seterusnya.
Dari uraian yang telah disampaikan di atas, kita dapat mendefinisikan pengertian matriks
sebagai berikut.
Suatu matriks A berukuran m n adalah susunan berbentuk persegi panjang yang
terdiri atas m baris dan n kolom.
Matriks A biasanya dinotasikan sebagai berikut.

aij menyatakan elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j.
Untuk ukuran m n, sering kali disebut ordo suatu matriks sehingga matriks A dapat
ditulis Am x n. Kadang-kadang, bentuk umum matriks A dapat dituliskan secara singkat ke
dalam notasi A = (aij), B = (bij), dan seterusnya.
Dari uraian di atas dapat diberikan definisi yang jelas tentang ordo matriks dan notasi matriks
sebagai berikut.
Ordo suatu matriks adalah ukuran matriks yang menyatakan banyak baris diikuti
dengan banyak kolom. Notasi dari matriks A dinyatakan dengan A = (aij).
Contoh Soal Matriks 1:
Hasil penelitian tentang keadaan harga-harga pokok selama tahun 2004, 2005, 2006, dan
2007 di suatu daerah adalah sebagai berikut.
Tahun
2004
2005
2006
2007

Beras
1.900
2.300
2.400
2.600

Harga Per Kilogram dalam Rupiah


Gula
Minyak Goreng
3.750
4.500
3.900
4.700
3.800
5.000
4.000
5.600

a. Susunlah data di atas ke dalam bentuk matriks dengan notasi A.


b. Berapa banyak baris dan kolom dari matriks A?
c. Sebutkan elemen-elemen pada baris kedua.
d. Sebutkan elemen-elemen pada kolom ketiga.
Pembahasan Soal Matriks :

a. A =
b. Banyak baris pada matriks A adalah 4 dan banyak kolom pada matriks A adalah 3.
c. Elemen-elemen pada baris kedua adalah a21 = 2.300, a22 = 3.900, dan a23 = 4.700.
d. Elemen-elemen pada kolom ketiga adalah a13 = 4.500, a23 = 4.700, a33 = 5.000, dan a43 =
5.600.
Contoh Soal 2:

Diketahui matriks B =
Tentukan :
a. ordo matriks B;

b. elemen-elemen baris pertama;


c. elemen pada baris ke-3 dan kolom ke-2;
d. elemen pada baris ke-2 dan kolom ke-4.
Penyelesaian :
a. Matriks B mempunyai 3 baris dan 4 kolom sehingga ordo matriks B adalah 3 4 atau
dinotasikan B3 4.
b. Elemen-elemen baris pertama adalah 7, 5, 1, dan 8.
c. Elemen pada baris ke-3 kolom ke-2 adalah 3, ditulis b32 = 3.
d. Elemen pada baris ke-2 kolom ke-4 adalah 9, ditulis b24 = 9.
Contoh Soal 3 :
Diketahui sistem persamaan linear berikut.
3x + 5y x = 4
5x + 2y 3z = 8
2x 4y + 2z = 6
a. Susunlah sistem persamaan linear di atas ke dalam matriks A.
b. Tentukan ordo matriks A.
c. Hitunglah a32 + a21 + a13.
Jawaban :
a. Sistem persamaan linear di atas dapat disusun dalam tabel berikut.
Koefisien x

Koefisien y

Koefisien z

Persamaan 1

Persamaan 2

Persamaan 3

Dengan demikian, matriks yang bersesuaian dengan tabel di atas adalah A =


b. Ordo matriks A adalah 3 3 atau ditulis A3 3.
c. a32 adalah elemen baris ke-3 kolom ke-2, yaitu 4.
a21 adalah elemen baris ke-2 kolom ke-1, yaitu 5.
a13 adalah elemen baris ke-1 kolom ke-3, yaitu 1.
Jadi, a32 + a21 + a13 = 4 + 5 + (1) = 0.
3. Matriks-Matriks Khusus
Beberapa macam matriks khusus yang perlu kalian kenal adalah sebagai berikut.

a. Matriks Baris
Matriks baris adalah matriks yang hanya terdiri atas satu baris.
Misalnya:
P = [3 2 1]
Q = [4 5 2 5]
b. Matriks Kolom
Matriks kolom adalah matriks yang hanya terdiri atas satu kolom, Misalnya:
c. Matriks Persegi
Matriks persegi adalah matriks yang banyak baris sama dengan banyak kolom. Jika banyak
baris matriks persegi A adalah n maka banyaknya kolom juga n, sehingga ordo matriks A
adalah n n. Seringkali matriks A yang berordo n n disebut dengan matriks persegi ordo n.
Elemen-elemen a11, a22, a33, ..., ann merupakan elemen-elemen pada diagonal utama.
Misalnya:

A=

merupakan matriks persegi ordo 2.

B=

merupakan matriks persegi ordo 4.

Elemen-elemen diagonal utama matriks A adalah 1 dan 10, sedangkan pada matriks B adalah
4, 6, 13, dan 2.
d. Matriks Diagonal
Matriks diagonal adalah matriks persegi dengan setiap elemen yang bukan elemen-elemen
diagonal utamanya adalah 0 (nol), sedangkan elemen pada diagonal utamanya tidak
semuanya nol. Misalnya:
e. Matriks Identitas
Matriks identitas adalah matriks persegi dengan semua elemen pada diagonal utama adalah 1
(satu) dan elemen lainnya semuanya 0 (nol). Pada umumnya matriks identitas dinotasikan
dengan I dan disertai dengan ordonya. Misalnya:
f. Matriks Nol
Matriks nol adalah suatu matriks yang semua elemennya adalah 0 (nol). Matriks nol biasanya
dinotasikan dengan huruf O diikuti ordonya, Om n. Misalnya:
4. Transpose Suatu Matriks

Transpose dari matriks A berordo m n adalah matriks yang diperoleh dari matriks A dengan
menukar elemen baris menjadi elemen kolom dan sebaliknya, sehingga berordo n m. Notasi
transpose matriks m n A adalah

Contoh Soal 5 :

Jika A =

, tentukan AT dan ordonya.

Pembahasan :
Terlihat dari matriks A bahwa elemen baris ke-1 adalah 4, 2, dan 1, sedangkan elemen baris
ke-2 adalah 3, 5, dan 6. Untuk mengubah matriks A menjadi AT, posisikan elemen baris ke-1
menjadi kolom ke-1 dan elemen baris ke-2 menjadi elemen kolom ke-2 sehingga

diperoleh AT =
Ordo matriks A adalah 2 3, sedangkan ordo AT adalah 3 2.
B. Kesamaan

Dua Matriks

Coba perhatikan bahwa :


4 = 4;
5 = 3 + 2;
9 = 33
Perhatikan juga dengan matriks berikut.

Matriks tersebut adalah dua matriks yang sama. Demikian juga dengan matriks berikut.

Tampak bahwa elemen-elemen seletak dari kedua matriks mempunyai nilai yang sama.
Sekarang, apakah matriks
merupakan dua matriks yang sama? Coba
selidiki, apakah elemen-elemen seletak dari kedua matriks mempunyai nilai yang sama?
Jika kalian telah memahami kasus di atas, tentu kalian dapat memahami definisi berikut.
Dua matriks A dan B dikatakan sama, ditulis A = B jika matriks A dan B mempunyai ordo
yang sama dan semua elemen yang seletak bernilai sama. Elemen yang seletak adalah elemen
yang terletak pada baris dan kolom yang sama.
Contoh Soal 5 :

Diketahui A =

,B=

,C=

, dan D =

Apakah A = B? Apakah A = C? Apakah A = D?


Pembahasan :
Dari keempat matriks tersebut, tampak bahwa matriks A = B karena ordonya sama dan
elemen-elemen yang seletak nilainya sama. Matriks A C karena meskipun ordonya sama,
tetapi elemen-elemen seletak ada yang nilainya tidak sama, sedangkan A D karena ordonya
tidak sama.
Contoh Soal 6 :

Tentukan nilai x, y, dan z jika

Jawaban :
Karena kedua matriks di atas sama dan elemen-elemen yang seletak bernilai sama, diperoleh
x = 2, 12 = 3y atau y = 4, dan 2 y = z atau z = 2. Jadi, x = 2, y = 4, dan z = 2.
C. Penjumlahan

dan Pengurangan Matriks

1. Penjumlahan Matriks
Jumlah matriks A dan B, ditulis matriks A + B, adalah suatu matriks yang diperoleh dengan
menjumlahkan elemen-elemen yang seletak dari matriks A dan B.
Misalnya:

Matriks

Matriks

dapat dijumlahkan dengan matriks

dapat dijumlahkan dengan matriks

dan seterusnya.
Secara umum, jika matriks A = [aij] dan B = [bij] maka matriks A + B = [aij] + [bij] = [aij + bij].
Bagaimana jika kedua matriks mempunyai ordo yang tidak sama?
Misalnya:

matriks

dengan matriks

. Dapatkah kedua matriks itu dijumlahkan?

Coba kalian diskusikan dengan teman-temanmu. Setelah melakukan diskusi tentang


permasalahan di atas, tentu kalian dapat menyimpulkan sebagai berikut.
Syarat agar dua matriks atau lebih dapat dijumlahkan adalah mempunyai ordo yang sama.
Contoh Soal 7 :

Diketahui A =

,B=

, dan C =

Tentukan :

a. A + B;
b. A + C.
Penyelesaian :
a. A + B =

b. A + C =

tidak dapat dijumlahkan karena ordonya tidak sama.

Contoh Soal 8 :

Carilah nilai x dan y yang memenuhi


Jawaban :

Terlihat dari persamaan matriks ini, diperoleh 6x + 1 = 3


x = 1/3 dan 4y = 8 y = 2. Jadi, diperoleh nilai x = 1/3 dan y = 2.
2. Pengurangan Matriks

a. Lawan Suatu Matriks


Sebelum kita membahas tentang pengurangan matriks, terlebih dahulu akan kita bicarakan
mengenai lawan suatu matriks.
Lawan suatu matriks A adalah suatu matriks yang elemen-elemennya merupakan lawan dari
elemen-elemen matriks A. Secara lebih jelas, dari suatu matriks A = [a ij] dapat ditentukan
lawan matriks yang ditulis dengan A sehingga A = [aij]. Misalnya sebagai berikut.

Jika A =

, lawan matriks A adalah A =

Jika B =

, lawan matriks B adalah B =

b. Pengurangan terhadap Matriks


Pengurangan matriks A dan B, ditulis A B, adalah suatu matriks yang diperoleh dengan
mengurangkan elemen-elemen yang bersesuaian letak dari matriks A dan B. Atau, matriks A
B adalah matriks yang diperoleh dengan cara menjumlahkan matriks A dengan lawan dari
matriks B, yaitu A B = A + (B) dengan B adalah lawan matriks B. Seperti halnya dengan
penjumlahan matriks, syarat agar dua matriks atau lebih dapat dikurangkan adalah
mempunyai ordo yang sama. Secara umum, jika
A = [aij] dan B = [bij] maka A B = [aij] [bij] = [aij] [bij]
Contoh Soal 9 :

Diketahui A =

dan B =

. Tentukan A B.

Jawaban :
Cara 1:

Karena B =
A B = A + (B) =
Cara 2:
AB=

maka

Contoh Soal 10 :

Hitunglah X jika diketahui


Penyelesaian :
X=
3. Sifat-Sifat Penjumlahan Matriks
Agar kalian dapat menemukan sendiri sifat-sifat penjumlahan matriks, lakukan Aktivitas
berikut.
Aktivitas :
Tujuan : Menemukan sifat-sifat penjumlahan matriks
Permasalahan : Sifat-sifat apakah yang berlaku pada penjumlahan matriks?
Kegiatan : Kerjakan soal-soal berikut di buku tugas.

1. Diketahui matriks A =
, B =
, dan C =
penjumlahan berikut, kemudian tentukan sifat apa yang berlaku.

. Tentukan hasil

a. A + B c. (A + B) + C
b. B + A d. A + (B + C)

2. Untuk matriks A =
dan O =
, dengan ordo A adalah 2 3 dan ordo
O adalah 2 3, apakah A + O = O + A? Apakah A + O = O + A berlaku untuk semua matriks
yang dapat dijumlahkan?

3. Diketahui matriks A =
apakah yang kalian peroleh?

. Tentukan A + (A) dan (A) + A. Matriks

Kesimpulan : Berdasarkan kegiatan di atas, sifat apa saja yang kalian peroleh?
Berdasarkan Aktivitas di atas dapat ditemukan sifat-sifat penjumlahan dan pengurangan
matriks sebagai berikut. Jika A, B, dan C matriks-matriks yang berordo sama maka pada
penjumlahan matriks berlaku sifat-sifat berikut.
a. A + B = B + A (sifat komutatif)
b. (A + B) + C = A + (B + C) (sifat asosiatif)
c. Unsur identitas penjumlahan, yaitu matriks O sehingga A + O = O + A = A.

d. Invers penjumlahan A adalah A sehingga A + (A) = (A) + A = O.


Perhatian :
Untuk pengurangan matriks tidak berlaku sifat komutatif, sifat asosiatif, dan tidak
mempunyai unsur identitas.
D. Perkalian

Suatu Skalar dengan Matriks

1. Pengertian Perkalian Suatu Skalar dengan Matriks


Misalkan A suatu matriks berordo m n dan k suatu skalar bilangan real. Matriks B = kA
dapat diperoleh dengan cara mengalikan semua elemen A dengan bilangan k, ditulis :

Contoh Soal 11 :

Diketahui A =

dan B =

Tentukan :
a. 3A; b. 6B; c. 3A + 2B.
Jawaban :

2. Sifat-Sifat Perkalian Bilangan Real (Skalar) dengan Matriks

Perkalian bilangan real (skalar) dengan suatu matriks dapat dilakukan tanpa syarat tertentu.
Artinya, semua matriks dengan ordo sembarang dapat dikalikan dengan bilangan real
(skalar). Misalkan A dan B matriks-matriks berordo m n serta k1 dan k2 bilangan real
(skalar), berlaku sifat-sifat berikut.
a. k1(A + B) = k1A + k1B
b. (k1 + k2)A = k1A + k2A
c. k1(k2A) = (k1k2) A
Bukti :
Di buku ini, hanya akan dibuktikan sifat a. Misalkan k1 skalar, A dan B matriks berordo m
n.

Cara membuktikan sifat ini dapat juga dilakukan sebagai berikut.


Misalkan matriks A = [aij] dan B = [bij], dengan i = 1, 2, ..., m
dan j = 1, 2, ..., n
k1(A + B) = k1([aij] + [bij])
= k1([aij + bij])
= [k1(aij + bij)]
= [k1aij + k1bij]
= [k1aij] + [k1bij]
= k1[aij] + k1[bij]
= k1A + k1B .............................................. (terbukti)

E. Perkalian

Matriks

1. Pengertian Perkalian Matriks


Untuk memahami pengertian perkalian matriks, perhatikan ilustrasi berikut ini. Rina membeli
bolpoin dan buku di dua tempat yang berbeda. Di toko I, ia membeli 3 bolpoin dan 2 buku,
sedangkan di toko II, ia membeli 4 bolpoin dan 3 buku. Harga bolpoin dan buku di kedua
toko tersebut sama, yaitu Rp2.500,00 dan Rp4.000,00 per buah. Berapa uang yang
dikeluarkan Rina?
Tempat
Toko I
Toko II

Bolpoin
3
4

Barang

Harga

Bolpoin

Rp2.500,00

Buku

Rp4.000,00

Buku
2
3

Untuk menghitung jumlah uang yang dibayar oleh Rina dapat langsung kita hitung dengan
cara mengalikan banyaknya barang dengan harga masing-masing sebagai berikut.
Toko I : (3 Rp2.500,00) + (2 Rp4.000,00) = Rp15.500,00
Toko II : (4 Rp2.500,00) + (3 Rp4.000,00) = Rp22.000,00
Di samping itu, pernyataan di atas dapat disajikan dalam bentuk matriks sebagai berikut.

P=
menyatakan banyak bolpoin dan buku yang dibeli Rina. Baris 1 menyatakan toko
I dan baris 2 untuk toko II.

Q=
menyatakan harga masing-masing bolpoin dan buku. Daftar jumlah uang yang
dikeluarkan Rina dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel pengeluaran di atas bersesuaian dengan perkalian matriks P Q, yaitu :


PQ=
Dari uraian di atas, matriks P berordo 2 2 dan matriks Q berordo 2 1, sedangkan P Q
berordo 2 1 sehingga bagan perkalian dan hasil kalinya mempunyai hubungan sebagai
berikut.

Secara umum, perkalian matriks didefinisikan sebagai berikut.


Misalkan A matriks berordo m p dan B matriks berordo p n maka A B adalah suatu
matriks C = [cij] berordo m n yang elemen-elemennya pada baris ke-i, yaitu kolom ke-j (c ij)
diperoleh dari penjumlahan hasil kali elemen-elemen yang bersesuaian pada baris ke-i
matriks A dan kolom ke-j matriks B.
Contoh Soal 12 :

Diketahui matriks A =

, B = [-3 2], C =

Tentukan :
a. A B; c. C D;
b. B C; d. A C.
Jawaban :
a. Hasil perkalian dari A B.

b. Hasil perkalian dari B C.

, dan D =

c. Hasil perkalian dari B C.

d. A C =
tidak dapat dikalikan karena banyak kolom matriks A tidak
sama dengan banyak baris matriks C.
2. Pengertian Dikalikan dari Kiri dan Dikalikan dari Kanan
Syarat dua matriks dapat dikalikan adalah jika banyak kolom matriks kiri sama dengan
banyak baris matriks kanan. Jika perkalian A B ada (dapat dikalikan) maka dikatakan
bahwa :
a. matriks B dikali dari kiri oleh matriks A;
b. matriks A dikali dari kanan oleh matriks B.
Contoh Soal 13 :

Diketahui matriks A =

dan B =

Tentukan hasil perkalian


a. matriks A dikali dari kiri oleh matriks B;
b. matriks A dikali dari kanan oleh matriks B.
Pembahasan :
a. Matriks A dikalikan dari kiri oleh matriks B, berarti :
B x A=
b. Matriks A dikalikan dari kanan oleh matriks B, berarti :

AxB=
Tampak dari hasil di atas bahwa A B B A, artinya perkalian matriks tidak bersifat
komutatif.
3. Sifat-Sifat Perkalian Matriks
Misalkan matriks A, B, dan C dapat dikalikan atau dijumlahkan. Untuk memahami sifat-sifat
perkalian matriks, lakukan Aktivitas berikut.
Aktivitas
Tujuan : Menemukan sifat-sifat perkalian matriks.
Permasalahan : Sifat-sifat apakah yang berlaku pada perkalian matriks?
Kegiatan : Kerjakan (selidiki) soal berikut di buku tugas.

Diketahui matriks A =
hasil perhitungan berikut.

,B=

, dan C =

, . Jika k = 2, tentukan

a. A B dan B A. Apakah A B = B A?
Apa kesimpulanmu?
b. (A B) C dan A (B C).
Apakah hasilnya sama? Apa kesimpulanmu?
c. A (B + C), (C B) + (A C), dan (A C) + (A B).
Bagaimana hubungan ketiga operasi perkalian matriks tersebut?
d. A I dan I A dengan I matriks identitas.
Hubungan apa yang terbentuk?
e. A O dan O A dengan O matriks nol ordo 2 2.
Apakah A O = O A = O?
f. (kA) B dan k(A B). Apakah (kA) B = k(A B)?
Kesimpulan : Sifat-sifat apakah yang kalian temukan dari kegiatan di atas?
Berdasarkan Aktivitas di atas ditentukan sifat-sifat perkalian matriks sebagai berikut.

Jika k bilangan real (skalar); A, B, dan C matriks yang dapat dikalikan; serta B dan C dapat
dijumlahkan maka berlaku sifat-sifat perkalian matriks sebagai berikut.
a. Tidak komutatif, yaitu A B = B A.
b. Asosiatif, yaitu (A B) C = A (B C).
c. Distributif, yaitu:
1) distributif kiri: A (B + C) = (A B) + (A C);
2) distributif kanan: (A + B) C = (A C) + (B C).
d. Perkalian matriks-matriks persegi dengan matriks identitas I, yaitu A I = I A = A (ordo
I sama dengan ordo matriks A).
e. Perkalian dengan matriks O, yaitu A O = O A = O.
f. Perkalian dengan skalar, yaitu (k A) B = k(A B).
Aktivitas
Tujuan : Menentukan hasil perkalian matriks dengan bantuan software komputer.
Permasalahan : Bagaimana cara menentukan hasil perkalian matriks dengan menggunakan
software komputer?
Kegiatan : Kita akan menentukan matriks invers dengan Microsoft Excel. Fungsi yang
digunakan adalah MMULT. Misalnya,

Untuk itu lakukan langkah-langkah berikut.


1. Masukkan elemen-elemen matriks pada sel-sel Microsoft Excel.

2. Tentukan hasil kali matriks A dengan B. Caranya adalah sebagai berikut. Blok sel-sel yang
akan ditempati elemen-elemen matriks hasil kali dari matriks A dan B. Ketik = MMULT(,
kemudian sorot sel-sel yang mengandung matriks A tadi. Kemudian, ketik koma (,) . Sorot
sel-sel yang mengandung elemen-elemen matriks B diikuti dengan mengetik ).

Tekan CTRL + SHIFT + ENTER maka matriks hasil kali dari A dan B akan muncul.
Kesimpulan : Jika kalian melakukan langkah-langkah yang diinstruksikan dengan benar,
kalian akan memperoleh hasil berikut.

4. Perpangkatan Matriks Persegi


Jika n adalah sebuah bilangan bulat positif dan A suatu matriks persegi, maka An = A A A
... A (sebanyak n faktor) atau dapat juga dituliskan An = A An1 atau An = An1 A.
Contoh Soal 14 :

Diketahui matriks A =

. Tentukan

a. A2; b. A3; c. 2A4.


Jawaban :
a. A2 = A A =
b. A3 = A A2 =
Dengan cara lain, yaitu A3 = A2 A, diperoleh :
A3 = A2 A =
Ternyata, A2 A = A A2 = A3.
c. 2A4 = 2A A3 =
F. Invers

Suatu Matriks

Dua hal penting yang diperlukan dalam mencari invers matriks adalah transpose dan
determinan suatu matriks. Pada subbab sebelumnya, kalian telah mempelajari transpose
matriks. Sekarang, kita akan mempelajari determinan matriks.
1. Determinan Suatu Matriks
a. Determinan Matriks Ordo 2 2

Misalkan A =
adalah matriks yang berordo 2 2 dengan elemen a dan d terletak pada
diagonal utama pertama, sedangkan b dan c terletak pada diagonal kedua. Determinan
matriks A dinotasikan det A atau |A| adalah suatu bilangan yang diperoleh dengan
mengurangi hasil kali elemen-elemen pada diagonal utama dengan hasil kali elemen-elemen
diagonal kedua.

Dengan demikian, dapat diperoleh rumus det A sebagai berikut.

det A =

= ad bc

Contoh Soal 15 :
Tentukan determinan matriks-matriks berikut.

a. A =

b. B =

Penyelesaian :

a. det A =

b. det B =

= (5 3) (2 4) = 7

= ((4) 2) (3 (1)) = 5

b. Determinan Matriks Ordo 3 3 (Pengayaan)

Jika A =

adalah matriks persegi berordo 3 3, determinan A dinyatakan

dengan det A =
Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk menentukan determinan matriks berordo 3 3, yaitu
aturan Sarrus dan metode minor-kofaktor.
Aturan Sarrus
Untuk menentukan determinan dengan aturan Sarrus, perhatikan alur berikut. Misalnya, kita
akan menghitung determinan matriks A3 3. Gambaran perhitungannya adalah sebagai
berikut.

Metode Minor-Kofaktor
Misalkan matriks A dituliskan dengan [a ij]. Minor elemen aij yang dinotasikan
dengan Mij adalah determinan setelah elemen-elemen baris ke-i dan kolom ke-j dihilangkan.
Misalnya, dari matriks A3 3 kita hilangkan baris ke-2 kolom ke-1 sehingga :

Akan diperoleh M21 =


. M21 adalah minor dari elemen matriks A baris ke-2 kolom
ke-1 atau M21 = minor a21. Sejalan dengan itu, kita dapat memperoleh minor yang lain,
misalnya :

M13 =
Kofaktor elemen aij, dinotasikan Kij adalah hasil kali (1)i+j dengan minor elemen tersebut.
Dengan demikian, kofaktor suatu matriks dirumuskan dengan :
Kij = (1)i+j Mij
Dari matriks A di atas, kita peroleh misalnya kofaktor a21 dan a13 berturut-turut adalah

K21 = (1)2+1 M21 = M21 =

K13 = (1)1+3 M13 = M13 =

Kofaktor dari matriks A3 3 adalah kof(A) =


Nilai dari suatu determinan merupakan hasil penjumlahan dari perkalian elemen-elemen
suatu baris (atau kolom) dengan kofaktornya. Untuk menghitung determinan, kita dapat
memilih dahulu sebuah baris (atau kolom) kemudian kita gunakan aturan di atas. Perhatikan
cara menentukan determinan berikut.

Misalkan diketahui matriks A =


Determinan matriks A dapat dihitung dengan cara berikut.
Kita pilih baris pertama sehingga
det A = a11 K11 + a12 K12 + a13 K13
= a11 (1)1+1 M11 + a12 (1)1+2 M12 + a13 (1)1+3 M13
=

= a11(a22 a33 a32 a23) a12(a21 a33 a31 a23) + a13(a21 a32 a31 a22)
= a11 a22 a33 a11 a23 a32 a12 a21 a33 + a12 a23 a31 + a13 a21 a32 a13 a22 a31
= a11 a22 a33 + a12 a23 a31 + a13 a21 a32 a13 a22 a31 a11 a23 a32 a12 a21 a33
Tampak bahwa det A matriks ordo 3 3 yang diselesaikan dengan cara minor kofaktor
hasilnya sama dengan det A menggunakan cara Sarrus.
Contoh Soal 16 :

Tentukan determinan dari matriks A =

dengan aturan Sarrus dan minor-kofaktor.

Penyelesaian :
Cara 1: (Aturan Sarrus)

det A =
= (1 1 2) + (2 4 3) + (3 2 1) (3 1 3)
(1 4 1) (2 2 2)
= 2 + 24 + 6 9 4 8
= 11

Cara 2: (Minor-kofaktor)
Misalnya kita pilih perhitungan menurut baris pertama sehingga diperoleh :
det A =
= 2 2(8) + 3(1)
= 2 + 16 3 = 11
Coba kalian selidiki nilai determinan ini dengan cara lain. Apakah hasilnya sama?
c. Sifat-Sifat Determinan Matriks
Berikut disajikan beberapa sifat determinan matriks
1. Jika semua elemen dari salah satu baris/kolom sama dengan nol maka determinan matriks
itu nol.
Misal :
2. Jika semua elemen dari salah satu baris/kolom sama dengan elemen-elemen baris/kolom
lain maka determinan matriks itu nol.

Misal B =

(Karena elemen-elemen baris ke-1 dan ke-3 sama).

3. Jika elemen-elemen salah satu baris/kolom merupakan kelipatan dari elemen-elemen


baris/kolom lain maka determinan matriks itu nol.

Misal A =
(Karena elemen-elemen baris ke-3 sama dengan kelipatan
elemen-elemen baris ke-1).
4. |AB| = |A| |B|
5. |AT| = |A|, untuk AT adalah transpose dari matriks A.
6. |A1| =
, untuk A1 adalah invers dari matriks A. (Materi invers akan kalian pelajari
pada subbab berikutnya).
7. |kA| = kn |A|, untuk A ordo n n dan k suatu konstanta. Sifat-sifat di atas tidak dibuktikan
di sini. Pembuktian sifat-sifat ini akan kalian pelajari di jenjang yang lebih tinggi.
2. Pengertian Invers Matriks
Misalkan dua matriks A dan B adalah matriks berordo n n dan In adalah matriks identitas
berordo n n. Jika A B = B A = In maka matriks A disebut invers matriks B, sebaliknya B

disebut invers matriks A. Dalam keadaan seperti ini maka dikatakan bahwa A dan B saling
invers.
Jika matriks A mempunyai invers, dikatakan bahwa matriks A adalah matriks nonsingular,
sedangkan jika A tidak mempunyai invers, matriks A disebut matriks singular. Invers matriks
A ditulis A1.
Contoh Soal 17 :

Diketahui A =

dan B =

Selidiki, apakah A dan B saling invers?


Penyelesaian :
Matriks A dan B saling invers jika berlaku A B = B A = I.
AB=
B A=
Karena A B = B A maka A dan B saling invers, dengan A1 = B dan B1 = A.
3. Menentukan Invers Matriks Berordo 2 2

Misalkan diketahui matriks A =

, dengan ad bc 0.

Suatu matriks lain, misalnya B dikatakan sebagai invers matriks A jika AB = I. Matriks invers
dari A ditulis A1 . Dengan demikian, berlaku :
AA1 = A1A = I
Matriks A mempunyai invers jika A adalah matriks nonsingular, yaitu det A 0. Sebaliknya,
jika A matriks singular (det A = 0) maka matriks ini tidak memiliki invers.

Misalkan matriks A =
dan matriks B =
sehingga berlaku A B = B A = I.
Kita akan mencari elemen-elemen matriks B, yaitu p, q, r, dan s.
Dari persamaan A B = I, diperoleh :

Jadi, diperoleh sistem persamaan :

ap + br = 1 dan aq + bs = 0
cp + dr = 0
cq + ds = 1
Dengan menyelesaikan sistem persamaan tersebut, kalian peroleh :
Dengan demikian,

Matriks B memenuhi A B = I.
Sekarang, akan kita buktikan apakah matriks B A = I?

Karena ad bc 0, berlaku B A =

=I

Karena A B = B A = I maka B = A1.

Jadi, jika A =

maka inversnya adalah :

untuk ad bc 0.
Contoh Soal 18 :
Tentukan invers matriks-matriks berikut.

a. A =

b. B =
Jawaban:

Aktivitas :
Tujuan : Menentukan invers matriks persegi dengan bantuan software komputer.
Permasalahan : Bagaimana cara menentukan inver matriks dengan menggunakan software
komputer?
Kegiatan : Kita akan menentukan matriks invers dengan Microsoft Excel. Fungsi yang
digunakan adalah MINVERSE. Misalnya, akan ditentukan invers matriks
lakukan langkah-langkah berikut.

. Untuk itu

1. Masukkan elemen-elemen matriks pada sel-sel Microsoft Excel yang membentuk persegi.

2. Tentukan invers matriks A dengan cara berikut. Blok empat sel yang akan ditempati
elemen-elemen matriks invers dari A. Ketik =MINVERSE(, kemudian sorot sel-sel yang
mengandung matriks A tadi. Diikuti dengan mengetik ).

Tekan CTRL + SHIFT + ENTER maka matriks invers dari A akan muncul.
Kesimpulan : Jika kalian melakukan langkah-langkah yang diinstruksikan dengan benar,
kalian akan memperoleh hasil berikut.

4. Menentukan Invers Matriks Berordo 3 3 (Pengayaan)


Invers matriks berordo 3 3 dapat dicari dengan beberapa cara. Pada pembahasan kali ini
kita akan menggunakan cara adjoin dan transformasi baris elementer.
a. Dengan Adjoin
Pada subbab sebelumnya, telah dijelaskan mengenai determinan matriks. Selanjutnya, adjoin
A dinotasikan adj (A), yaitu transpose dari matriks yang elemen-elemennya merupakan
kofaktor-kofaktor dari elemen-elemen matriks A, yaitu :
adj(A) = (kof(A))T
Adjoin A dirumuskan sebagai berikut.

Invers matriks persegi berordo 3 3 dirumuskan sebagai berikut.

Adapun bukti tentang rumus ini akan kalian pelajari lebih mendalam dijenjang pendidikan
yang lebih tinggi.
Contoh Soal 19 :

Diketahui matriks A =
. Tentukan invers matriks A, misalnya kita gunakan
perhitungan menurut baris pertama.
Jawaban :
Terlebih dahulu kita hitung determinan A.
det A =
= 1(1) 2(2) + 1(1) = 2
Dengan menggunakan rumus adjoin A, diperoleh :

adj(A) =
Jadi, A1 dapat dihitung sebagai berikut.

b. Dengan Transformasi Baris Elementer


Untuk menentukan invers matriks An dengan cara transformasi baris elementer, dapat
dilakukan dengan langkah-langkah berikut berikut.
1) Bentuklah matriks (An | In), dengan In adalah matriks identitas ordo n.
2) Transformasikan matriks (An | In) ke bentuk (In | Bn), dengan transformasi elemen baris.
3) Hasil dari Langkah 2, diperoleh invers matriks An adalah Bn.
Notasi yang sering digunakan dalam transformasi baris elementer adalah :
a) Bi Bj : menukar elemen-elemen baris ke-i dengan elemen-elemen baris ke-j;
b) k.Bi : mengalikan elemen-elemen baris ke-i dengan skalar k;
c) Bi + kBj : jumlahkan elemen-elemen baris ke-i dengan k kali elemen-elemen baris ke-j.
Contoh Soal 20 :

Tentukan invers matriks A =


Penyelesaian :

dengan transformasi baris elementer.

Jadi, diperoleh A1 =
Keterangan :
1/2 B1 : Kalikan elemen-elemen baris ke-1 dengan 1/2.
B2 5B1 : Kurangkan baris ke-2 dengan 5 kali elemen-elemen baris ke-1.
B1 B2 : Kurangi elemen-elemen baris ke-1 dengan elemen-elemen baris ke-2.
2B2 : Kalikan elemen-elemen baris ke-2 dengan 2.
Contoh Soal 21 :

Tentukan invers matriks A =


Jawaban :

dengan transformasi baris elementer.

5. Persamaan Matriks Bentuk AX = B dan XA = B


Misalkan A, B, dan X adalah matriks-matriks berordo 2 2, dengan matriks A dan B sudah
diketahui elemennya, sedangkan matriks X belum diketahui elemen-elemennya. Matriks X
dapat ditentukan jika A mempunyai invers (matriks nonsingular). Untuk menyelesaikan
persamaan matriks berbentuk AX = B dapat dilakukan dengan langkah berikut.
AX = B
A1(AX) = A1B
(A1A)X = A1B
IX = A1B
X = A1B
Dari persamaan terakhir tampak bahwa kedua ruas dikalikan dari kiri oleh A1 sehingga
diperoleh bentuk penyelesaian X = A1B. Untuk menyelesaikan persamaan matriks berbentuk
XA = B dapat ditentukan dengan cara mengalikan kedua ruas dari kanan dengan A1 sehingga
diperoleh penyelesaian X = BA1 seperti berikut.
XA = B
(XA)A1 = BA1
X(AA1) = BA1
XI = BA1
X = BA1
Oleh karena itu, diperoleh penyelesaian X = BA 1. Dengan demikian, dapat disimpulkan
sebagai berikut.
Penyelesaian persamaan matriks AX = B adalah X = A1B.
Penyelesaian persamaan matriks XA = B adalah X = BA1.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
Contoh Soal 22 :

Diketahui A =

dan B =

Tentukan matriks X yang memenuhi


a. AX = B;
b. XA = B.
Jawaban:
Karena det A = 16 15 = 1 0 maka matriks A mempunyai invers.
Jika dicari inversnya, kalian akan memperoleh A1 =
(Coba kalian tunjukkan).

Dengan demikian, dapat kita tentukan sebagai berikut.


a. AX = B X = A1B =
b. XA = B X = BA1 =
G. Penyelesaian

Sistem Persamaan Linear dengan Matriks

Matriks dapat digunakan untuk mempermudah dalam menentukan penyelesaian sistem


persamaan linear. Pada pembahasan kali ini, kita akan menggunakannya untuk menyelesaikan
sistem persamaan linear dua variabel dan tiga variabel.
1. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Bentuk umum sistem persamaan linear dua variabel adalah
ax + by = p ............................................................................ (1)
cx + dy = q ............................................................................. (2)
Persamaan (1) dan (2) di atas dapat kita susun ke dalam bentuk matriks seperti di bawah ini.

Tujuan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel adalah menentukan nilai x dan y
yang memenuhi sistem persamaan itu. Oleh karena itu, berdasarkan penyelesaian matriks
bentuk AX = B dapat dirumuskan sebagai berikut.

asalkan ad bc 0.
Contoh Soal 23 :
Tentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear berikut dengan cara matriks.
2x + y = 7
x + 3y = 7
Jawab:
Dari persamaan di atas dapat kita susun menjadi bentuk matriks sebagai berikut.

Dengan menggunakan rumus penjelasan persamaan matriks di atas, diperoleh sebagai


berikut.

Jadi, diperoleh penyelesaian x = 1 dan y = 2.


2. Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel
Kalian tentu tahu bahwa untuk menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel dapat
dilakukan dengan beberapa cara, misalnya eliminasi, substitusi, gabungan antara eliminasi
dan substitusi, operasi baris elementer, serta menggunakan invers matriks. Kalian dapat
menggunakan cara-cara tersebut dengan bebas yang menurut kalian paling efisien dan paling
mudah.
Misalkan diberikan sistem persamaan linear tiga variabel berikut.
a1x + b1y + c1z = d1
a2x + b2y + c2z = d2
a3x + b3y + c3z = d3
Sistem persamaan linear di atas dapat kita susun ke dalam bentuk matriks seperti berikut.

Misalkan A =

,X=

, dan B =

Bentuk di atas dapat kita tuliskan sebagai AX = B.


Penyelesaian sistem persamaan AX = B adalah X = A-1 B. Dalam hal ini, A1

Oleh karena itu, diperoleh :

asalkan det A 0.
Contoh Soal 24 :
Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan berikut.
2x + y z = 1
x+y+z=6
x 2y + z = 0
Jawaban :
Cara 1:
Operasi elemen baris, selain dapat digunakan untuk mencari invers matriks, dapat pula
digunakan untuk menyelesaikan sistem persamaan linear.
Dengan menggunakan operasi baris elementer.

Dengan demikian, diperoleh y = 2. Kita substitusikan nilai y = 2 ke persamaan (2) sehingga :


y + 3z = 11 2 + 3z = 11
3z = 11 2
3z = 9
z=3
Substitusikan y = 2 dan z = 3 ke persamaan (1) sehingga diperoleh :
x+y+z=6x+2+3=6
x+5=6
x=65
x=1
Jadi, penyelesaiannya adalah x = 1, y = 2, dan z = 3.
Dengan demikian, himpunan penyelesaiannya adalah {(1, 2, 3)}.
Cara 2:
Sistem persamaan linear di atas dapat kita susun ke dalam bentuk matriks sebagai berikut.

Misalkan A =

,X=

, dan B =

Dengan menggunakan minor-kofaktor, diperoleh :


det A =
det A = 2(3) 1(0) + (1)(3) = 9
Dengan menggunakan minor-kofaktor, diperoleh :

Dengan cara yang sama, kalian akan memperoleh K31 = 2, K32 = 3, dan K33 = 1 (coba
tunjukkan).
Dengan demikian, diperoleh :
kof(A) =
Oleh karena itu, adj(A) = (kof(A))T.
Adj(A) =
Jadi, X =
Jadi, diperoleh x = 1, y = 2, dan z = 3. Dengan demikian, himpunan penyelesaian sistem
persamaan di atas adalah {(1, 2, 3)}.
3. Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear dengan Determinan
Sistem persamaan linear yang disusun dalam bentuk matriks juga dapat ditentukan himpunan
penyelesaiannya dengan metode determinan. Misalnya, sistem persamaan linear untuk dua
variabel dan tiga variabel adalah sebagai berikut.

a. ax + by = p
cx + dy = q
b. a1x + b1y + c1z = d1
a2x + b2y + c2z = d2
a3x + b3y + c3z = d3
Pada sistem persaman linear dua variabel, bentuk tersebut dapat diubah ke bentuk matriks
berikut.

, dengan A =

D=

,X=

, dan B =

= ad bc (Determinan koefisien x dan y, dengan elemen-elemen matriks A)

Dx =

= pd bq (Ganti kolom ke-1, dengan elemen-elemen matriks B)

Dy =

= aq cp (Ganti kolom ke-2, dengan elemen-elemen matriks B)

Nilai x dan y dapat ditentukan dengan rumus berikut.


Dengan cara yang sama dapat ditentukan D, Dx, Dy, dan Dz untuk sistem persamaan linear
tiga variabel sebagai berikut.

Nilai x, y, dan z dapat ditentukan dengan cara berikut.


Contoh Soal 25 :
Tentukan penyelesaian sistem persamaan linear berikut dengan metode determinan.
a. 2x + y = 4

x 2y = 3
b. x + y + z = 0
x + y z = 2
xy+z=4
Penyelesaian :
a. Sistem persamaan linear di atas dapat disusun dalam bentuk matriks berikut.

Kita tentukan nilai D, Dx, Dy .


D=

=41=5

Dx =

= 8 (3) = 5

Dy =
Jadi, x =

= 6 4 = 10
=

= 1 dan y =

= 2.

b. Sistem persamaan linear tiga variabel di atas dapat disusun dalam bentuk matriks berikut.

Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Menggunakan


Determinan dan Aturan Cramer

Selain untuk mengidentifikasi matriks singular, determinan juga dapat digunakan untuk
membangun rumus dalam menentukan solusi dari suatu sistem persamaan linear. Sekarang
mari kita bandingkan sistem umum yang berukuran 2 2, dan sistem khusus yang juga
berukuran 2 2 berikut ini. Untuk menuju suatu solusi yang memuat determinan, koefisien
dari x kita tuliskan sebagai a11 dan a21, sedangkan koefisien y kita tuliskan sebagai a12 dan a22.

Perhatikan bahwa jumlah dari suku-x di kedua sistem adalah nol. Penulisan solusi di sebelah
kiri memang dibiarkan tidak sederhana agar kita dapat membandingkan pola yang dibangun
untuk sistem umum yang terletak di sebelah kanannya. Selanjutnya kita akan
menyelesaikannya untuk mendapatkan nilai y.

Di sebelah kiri kita menemukan y = 7/7 = 1 dan dengan melakukan substitusi-balik kita
mendapatkan x = 2. Tetapi yang lebih penting, di sebelah kanan kita mendapatkan suatu
rumus untuk menentukan nilai y:

Apabila dari awal kita memilih untuk menyelesaikan x, maka kita akan mendapatkan

Perhatikan bahwa rumus-rumus tersebut akan terdefinisi jika a11a22 a21a12 0. Selain itu,
penyebut dari solusi tersebut merupakan determinan dari matriks koefisien

Karena pembilangnya juga merupakan selisih dari perkalian, kita dapat menyelidiki
kemungkinan bahwa nilai dalam pembilang tersebut juga dapat dituliskan sebagai
determinan. Kita dapat menuliskan kembali pembilang untuk nilai x sebagai determinan dari
matriks

yang apabila diperhatikan, matriks tersebut terbentuk dengan mengganti koefisien dari
variabel-variabel x dengan suku-suku konstantanya.

Hal ini juga terjadi pada pembilang dari y, yang juga dapat diganti dengan determinan yang
memiliki bentuk

atau suatu determinan dari matriks yang dibentuk dengan mengganti koefisien dari variabelvariabel y dengan suku-suku konstanta.

Apabila kita menggunakan notasi Dy untuk determinan tersebut, Dx untuk determinan dimana
koefisien-koefisien x diganti dengan konstanta, dan D sebagai determinan dari matriks
koefisiensolusi dari sistem yang diberikan dapat ditentukan dengan rumus di halaman
berikutnya, yang disebut sebagai aturan Cramer.