Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semakin meningkatnya teknologi maka kebutuhan barang dan jasa semakin
meningkat pula. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah
memanfaatkan sumberdaya alam yang ada dibumi, diantaranya adalah Mineral dan
Batubara.
Mineral dan batubara merupakan sumberdaya alam yang berbeda dengan
sumberdaya alam yang lain karena mempunyai sifat khusus yaitu tidak dapat
diperbaharui (non-renewable resources ) dan penyebarannya tidak merata. Salah satu
perusahaan yang memanfaatkan sumberdaya mineral yang ada di Indonesia berupa
Tembaga adalah PT. Newmont Nusa Tenggara. Untuk memperoleh tembaga tersebut
PT. Newmont Nusa Tenggara menggunanakan sistem tambang terbuka dengan metode
Open Pit Mining. PT. Newmont Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang beroperasi
berdasarkan jenis perizinan kontak karya yang ditandatangani pada tanggal 2 Desember
1986 dan mulai produksi tanggal 1 Maret 2000. Produk hasil tambang ini berupa
konsentrat tembaga, emas, dan perak yang berlokasi di kabupaten Sumbawa dan
Sumbawa barat yang salah satu daerah operasional terletak di Batu Hijau, Provinsi Nusa
Tenggara Barat.
Kegiatan pertambangan akan memberikan dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positif yang ditimbulkan adalah menambah pendapatan dan devisa negara,
membuka kesempatan kerja, menjadi pusat pengembangan wilayah. Sedangkan dampak
negatif yang dapat ditimbulkan adalah kerusakan lingkungan. Oleh karena itu perlu
dilakukan pengelolaan lingkungan dengan cara melakukan reklamasi pada lokasi bekas
tambang. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha
pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan
ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap perusahaan pertambangan dalam
melakukan kegiatan reklamasi berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kesuburan
tanah, kualitas sumberdaya manusia, ketersediaan dana dan topografi daerah yang akan
direklamasi. Namun dengan adanya permasalahan tersebut perusahaan harus lebih
cermat dalam melakukan kegiatan reklamasi dan diharapakan dengan adanya kegiatan

reklamasi tersebut mampu memperbaiki ekosistem yang rusak sehingga dapat pulih,
mendekati atau bahkan lebih baik dibandingkan kondisi semula.
1.2 Deskripsi PT. Newmont Nusa Tenggara
PT. Newmont Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang beroperasi berdasarkan
jenis perizinan kontak karya (Cow generation IV) yang ditandatangani pada tanggal 2
Desember 1986 dan mulai produksi tanggal 1 Maret 2000 . Luas Area kontrak awal PT.
Newmont Nusa Tenggara yaitu 1.127.134 Ha. Produk hasil tambang ini berupa
konsentrat tembaga, emas, dan perak yang berlokasi di kabupaten Sumbawa dan
Sumbawa barat yang salah satu daerah operasional terletak di Batu Hijau, Provinsi Nusa
Tenggara Barat.
Setelah melakukan kegiatan eksplorasi selama hampir 4 tahun, PT. Newmont Nusa
Tenggara menemukan cebakan tembaga porfiri dalam jumlah besar di suatu kawasan
hutan yang kemudian diberi nama Batu Hijau. Sebelum di keluarkanya izin melakukan
kegiatan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara harus menyediakan suatu kajian
tentang dampak-dampak yang di perkirakan akan muncul pada masa konstruksi dan
masa operasi. Kajian tersebut adalah AMDAL ( analisis mengenai dampak lingkungan )
yang telah di setujui pada tahun 1996. Izin untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi
dikeluarkan oleh menteri Lingkungn Hidup ( LH ) dengan disetujuinya ANDAL terpadu
dengan Keputusan Menteri LH : Kep. 41/MENLH/10/1996.

Gambar 1 : Lokasi Penambangan PT. Newmont Nusa Tenggara di Batu Hijau


BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Awal Sebelum Kegiatan Penambanagn dilakukan di PT. Newmont
Nusa Tenggara
Pengetahuan tentang kondisi awal suatu daerah sebelum dilakukan kegiatan
pertambangan sangatlah penting. Pengetahuan jenis-jenis pohon hutan, karakteristik
pertumbuhan, teknik budidaya dan produk yang dihasilkan akan dapat meningkatkan
keberhasilan dan kualitas dari kegiatan reklamasi lahan bekas tambang. Lahan-lahan
bekas tambang dengan kondisi ekstim, misalnya tanah dengan keasaman tinggi,
tergenang dan berbatu dapat didekati dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat yang
mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrim tersebut.
Dari hasil pendataan yang telah dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara
diketahui bahwa terdapat 32 jenis tanaman asli daerah setempat. Pohon atau tanaman
yang dikembangkan dikebun pembibitan dan ditanam untuk kegiatan reklamsi adalah
tanaman asli daerah setempat. Dengan menanam pohon atau tanaman asli setempat
maka habitat flora dan fauna hutan yang hidup didaerah tersebut diharapkan bisa
kembali seperti sediakala. Tanaman asli/lokal di daerah tersebut diantaranya, ipil,
gaharu, lempayang, bungur, sengon, mahoni dan spesies lainnya.
2.2 Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Reklamasi di PT. Newmont Nusa Tenggara
Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan
untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar
dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Hartman dan Mutmansky (2002)
menyatakan bahwa waktu terbaik untuk memulai proses reklamasi/penutupan tambang
adalah sebelum penggalian pertama kali dilakukan.
PT. Newmont Nusa Tenggara melakukan kegiatan reklamasi sejak dilakukanya
penambangan, jadi kegiatan reklamasi dilakukan secara beriringan dengan kegiatan
penambangan. Kawasan yang telah dibuka oleh PT. Newmont Nusa Tenggara seluas
1.918,85 hektar dan area yang telah direklamasi sampai dengan Juni 2010 seluas 690
ha.
PT. Newmont Nusa Tenggara memperoleh penghargaan berupa proper hijau pada
periode 2004/2005 sampai dengan periode 2010/2011 karena telah melakukan

pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan kriteria penilain proper yang telah
ditetapkan.
Tahapan-tahapan kegiatan reklamasi yang dilakukan oleh PT. Newmont Nusa
Tenggara adalah :

Penyiapan Lahan dan Recontouring


Pelaksanaan reklamasi meliputi kegiatan penyiapan lahan. Lahan-lahan yang
telah selesai di tambang secara fisik tidak layak ditanami karena permukaannya
tidak teratur, adanya lubang-lubang bekas galian atau bukit-bukit kecil yang
ditinggalkan. Kondisi fisik tersebut harus ditata terlebih dahulu untuk menjamin
keamanan para pekerja dan memperbaiki aksesbilitas sehingga para pekerja dapat
bekerja dengan mudah dan aman.
Lubang-lubang bekas tambang ditutup dengan overburden, bukit-bukit
diratakan dan dibentuk ulang ( recontouring ) sesuai dengan kontur permukaan
lahan sehingga berjenjang dan membentuk teras dengan kemiringan sekitar 22
derajat.

Gambar 1 : Tahapan Recontouring


Penebaran Top Soil
Timbunan batuan penutup yang telah direcontouring tersebut kemudian dilapisi
tanah subsoil setebal 2,25 meter dan tanah top soil ( tanah pucuk ) setebal 0,5 meter
sehingga total ketebalan 2,75 meter.

Gambar 2 : Tahapan Penebaran dan Pemerataan Top Soil


Pemadatan Lapisan
Pemadatan ini bertujuan untuk meningkatkan kestabilan lereng. Jika tidak
dilakukan pemadatan maka kemungkinan untuk longsor sangat tinggi.

Gambar 3 : Tahapan Pemadatan Lapisan


Pemasangan Row Sprigging, Jute Net dan Hydroseeding di Area Reklamasi
Kegiatan revegetasi meliputi pemasangan energy break ( row springging, jute
net ) dan diikuti dengan penyebaran rumput dan covercrop dengan hydroseeding.
Permukaan lereng hasil penataan yang masih gundul ditutup dengan jute neetig dan
pemasangan row sprigging dengan menggunakan kayu jawa.
Lahan bekas tambang yang harus ditanami tidak selamanya datar, tetapi
dilokasi-lokasi tertentu khususnya tebing-tebing yang mendekati tegak lurus, tidak
memungkinkan untuk melakukan penanaman secara manual, oleh karena itu
diperlukan teknik yang khusus yaitu hydroseeding. Hydroseeding adalah suatu
metode penanaman yang dilakukan dengan menyemprotkan campuran yang
mengandung biji-biji tanaman, mulsa dan pupuk kepermukaan tanah. Keunggulan
dari teknik hydroseeding dibandingkan dengan manual adalah kecepatan dalam
penanaman dan kemerataan pertumbuhan rumput atau tanaman lainnya.

Gambar 4 : Pemasangan row sprigging, jute net dan hydroseeding di area reklamasi
Penanaman Tanaman Fast-growing dan Vegetasi Lokal
Penanaman dilakukan selama musim hujan dan terbagi menjadi 2 tahap. Tahap
pertama yaitu penanaman fast-growing dan pada tahap kedua yaitu penanaman
vegetasi lokal.
Penanaman

tanaman

fast-growing

merupakan

tanaman

yang

mampu

melakukan perlindungan tanah secara cepat dan melindunggi tanah dari erosi.
Tanah yang baru disebarkan belum membentuk struktur yang kompak sehingga
rawan terhadap erosi.
Dalam proses reklamasi tersebut, jenis vegetasi yang ditanam terdiri dari
berbagai jenis kayu lokal yang dulu terdapat di Batu Hijau. Di antaranya, ipil,
garahu, lempayang, bungur, sengon, mahoni dan spesies lainnya. Tujuannya untuk
mengembalikan kondisi hutan Batu Hijau minimal seperti semula.
Pemeliharaan Tanaman
Untuk menjamin keberhasilan dari kegiatan reklamasi maka perlu dilakukan
pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman yang terdiri dari pemupukan,
penyiangan dan penjarangan.

Pemupukan dilakukan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh


tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik, sedangkan penyiangan
adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan gulma atau tanaman
penutup yang diditanam pada awal kegiatan reklamasi tetapi mengalami
pertumbuhan yang sangat pesat atau diluar kendali sehingga dapat menggagu bibitbibit pohon yang ditanam.
Penjarangan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan dalam
pemeliharaan tanaman untuk mengurangi jumlah pohon perhektar dengan tujuan :
-

Menghilangkan pohon yang terserang penyakit dan hama.

Memberikan ruang tumbuh yang yang lebih baik agar tidak terjadi perebutan
cahaya yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lainnya.

2.3 Nursery
Nursery ( persemaian ) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih
(atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di
persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan
karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai
keberhasilan penanaman hutan.
Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting)
dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat
persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila bijibiji tersebut mempunyai ukuran yang lebih besar dan jumlah persediaannya melimpah.
Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut
seharusnya disemaikan terlebih dulu.
Tanaman yang biasanya disemaikan adalah tanaman lokal. Selama dipersemaian,
bibit mendapatkan perlakuan yang khusus yaitu dilakukan penyiraman yang cukup,

pemupukan untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan media yang digunakan, serta
pemberian naungan yang cukupuntuk pertumbuhan bibit yang optimum.
Setelah tanaman mencapai target yang di inginkan maka tanaman tersebut dapat
langsung dipindahkan / ditanam di daerah yang akan direklamasi.

Gambar 5 : Nursery
2.4 Perkembangan Reklamasi dari Tahun ke Tahun
Perkembangan reklamasi yang dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara dari
tahun ketahun dapat dilihat pada gambar berikut :

Juli 2003

Juli 2009

Agustus 2003

November 2004

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan
bahwa :
-

Kegiatan reklamasi yang dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara sudah
terencana dengan baik, bahkan kegiatan reklamsainya dilakukan sejak kegiatan

penambangan dilakukan.
Dari hasil pendataan yang telah dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara
diketahui bahwa terdapat 32 jenis tanaman asli/lokal diantaranya ipil, gaharu,
lempayang, bungur, sengon, mahoni dan spesies lainnya. Jenis tanaman tersebut
digunakan untuk kegiatan reklamasi dan dikembangkan di nursery.

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/20269
http://economy.okezone.com/read/2012/03/31/279/603232/batu-hijau-riwayatmu-kini
http://www.pulausumbawanews.com/daerah/ptnnt-tiga-besar-dalam-reklamasi/
Mansur, I. 2010. Teknik Silvikultur Untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang. Seameo
Biotrop. Bogor
Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andy Suripin. 2001. Pelestarian
Sumber Daya Tanah dan Air. Andy Yogyakarta. Yogyakarta.