Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

FILSAFAT PENDIDIKAN TEKNOLOGI KEJURUAN


(Pendidikan Komprehensif)

Dosen Pembina:
Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed
Dr. Rijal Abdullah, M.T

Oleh:
Septi Ayu/15138079

Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan


Program Pascasarjana Fakultas Teknik
Universitas Negeri Padang
2015

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

PENDIDIKAN KOMPREHENSIF
A. Pendahuluan
Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya, dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan Pancasila
sebagai dasar, tujuan dan pedoman pembangunan nasional (GBHN 1998:44).
Pembangunan pada sektor pendidikan, merupakan salah satu pnontas dalam pem
bangunan nasional untuk meningkatkan kualitas secara menyeluruh dan dalam upaya
mewujudkan kualitas manusia Indonesia yang utuh. Hal ini tercermin pada amanat
GBHN yang dengan tegas menyatakan bahwa, pembangunan pendidikan diarahkan
untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia serta kualitas sumber daya
manusia Indonesia dan memperluas serta meningkatkan kesempatan memperoleh
pendidikan termasuk di daerah terpencil (GBHN, 1998:73).
Fenomena tersebut di atas pada dasarnya menghendaki adanya suatu sistem
pendidikan yang komprehensif yaitu, bentuk dan jenis pendidikan yang mengikuti
pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang menginginkan adanya pembinaan
anak dan diselenggarakan secara berimbang antara nilai (value) dan sikap (attitude),
pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill), kemampuan berkomunikasi
(communicated) dan kesadaran terhadap lingkungannya. Pendidikan terpadu inilah
yang dinilai sangat urgen dalam perjalanan pembangunan bangsa Indonesia. Sebab
pada pelaksanannya nanti, pendidikan tidak hanya diminta tanggung jawabnya dalam
membina, melatih dan mendayagunakan seluruh potensi atau kemampuan manusia
(daya talar, daya fisik, daya cipta, daya karsa maupun budi pekerti) melainkan lebih
jauh dari itu yaitu menyiapkan manusia Indonesia yang mampu secara fungsional
dalam kehidupan kesehariannya.
B. Pendidikan Komprehensif
Pendidikan komprehensif merupakan pendidikan yang berkelanjutan atau
perkembangan pendidikan yang terus berkembang sesuai zaman. Pendidikan
komprehensif merupakan pendidikan secara luas atau menyeluruh yang ditujukan
untuk melatih dan mendidik para pelajar agar memiliki mutu dan kemampuan baik
dalam pendidikan kejuruan maupun pendidikan umum, di maksudkan untuk

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

mempersiapkan para pelajar untuk siap menghadapi kehidupan di masa yang akan
datang sesuai dengan perkembangan zaman serta untuk mempersiapkan calon-calon
pemimpin bangsa yang kompeten, kreatif dan produktif di masa yang akan datang.
Dalam penerapannya kedua belah pihak antara pendidikan kejuruan dan pendidikan
umum harus saling mendukung dan saling memberikan feedback. Terkait masalah
metode

penerapannya,

pendidikan

kejuruan

menekankan

sistem

untuk

mempersiapkan masyarakat yang trampil dan kreatif pun begitu sebaliknya dengan
pendidikan umum hanya saja berbeda dari segi penereapan metode pengajaran dan
fasilitas. Tujuannya sama, yaitu mempersiapkan masyarakat untuk siap menghadapi
kehidupan di masa yang akan datang sesuai dengan perkembangan zaman serta untuk
mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa yang kompeten, kreatif dan produktif
di masa yang akan datang. Sehingga di perlukan sistem pendidikan yang
komprehnesif saling mendukung dan berkesinambungan.
Beberapa pendapat para ahli/pakar mengenai pendidikan komprehensif
(Pendidikan Kejuruan dan Pendidikan Umum)

Prosser (1913)
Prosser menyatakan bahwa pendidikan kejuruan seharusnya menjadi bagian
dari sistem pendidikan umum, dan pendidikan kejuran itu harus lah melengkapi
pendidikan umum. Menurutnya pendidikan kejuruan dan pendidikan umum
masing-masing memiliki bagian yang lain dalam pendidikan komprehensif. Bagi
proses tujuan utama pendidikan kejuruan adalah untuk mempersiapkan setiap
siswa baik laki

laki maupun perempuan untuk lebih kreatif dan kompeten

terhadap jurusan yang di pelajarinya agar di masa yang akan datang bisa
mencapai kesuksesan dan lebih produktif. Begitupun sebaliknya dengan sekolah

umum, hanya saja sistem pendidikan sekolah umum bersifat lebih terbuka.
Gompers (1914)
Presiden AFL, mengakui bahwa Pekerja di Amerika diharapkan mengikuti
instruksi di sekolah umum untuk menjadi demokratis. Dengan demikian, sekolahsekolah umum harus melembagakan industri pendidikan atau pendidikan
kejuruan, berdasarkan studi menyeluruh dari industri untuk menentukan pelatihan
industri yang paling kondusif juga diperlukan juga fisik, mental, materi, dan
kesejahteraan sosial pata pekerja. Isu di mana pendidikan demokrasi tersebut

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

bagaimanapun juga harus dilakukan, ini merupakan titik pertikaian antara Dewey

dan mantan muridnya, Snedden.


Dewey (1913)
Berpendapat bahwa akan tidak demokratis untuk membuat dua sistem
pendidikan, dengan sekolah kejuruan dijadikan sebagai unit secara terpisah dari
unit pendidikan lainnya. Dewey sangat jelas dalam keyakinannya bahwa
pertanyaan seputar industri pendidikan, Apakah penuh dengan konsekuensi di
masa depan. Pengembangan Proper dari industri pendidikan bisa berbuat lebih
banyak untuk membuat pendidikan umum benar-benar demokratis daripada
mempertimbangkan

satu

masalah

lainnya,

menurut

Dewey. Perubahan

pengembangan industri pendidikan akan sulit diterima karena cenderung tidak


demokratis dengan meningkatkan dan memperkuat pembagian kelas baik di
sekolah maupun di luar sekolah. Sementara itu dari kekurangan sistem yang ada
adalah alternatif yang lebih baik dari pengembangan bersama, tidak demokratis
dengan memisahkan pendidikan industri dari pendidikan umum, sehingga

menandakan kepentingan dari pengusaha derpisah dari kepentingan pekerja.


Snedden (1910c)
Keinginan Snedden untuk melihat sistem yang terpisah didasarkan pada
keprihatinan untuk menyediakan pendidikan kejuruan yang efisien dan tidak
hanya berpatokan pada buku dan tidak dapat di laksanakan. Dari perspektif
Snedden, muncul pertanyaan apakah pendidikan kejuruan memerlukan
perlengkapan administratif khusus untuk keadaan, arah dan inspeksinya,
pengaturan metode pembelajarannya, perlengkapan pendukung serta para
pendidiknya. Dalam pendangan dewey dia melihat potensi yang ada pada
pendidikan kejuruan harus lah berpengaruh untuk perubahan yang di inginkan
dari pendidikan umum. Lebih dari itu mereka bisa membuat perubahan yang
lebih dari sekedar pendidikan demokratis, namun juga bisa membuat pendidikan
menjadi lebih praktis. Sekali lagi dalam pandangan dewey (1913) menyatakan
bahwa untuk mengacu pada pemisahan pendidikan kejuruan dalam skala nasional
dengan pendidikan umum, menunjukan bahwa adanya rencana yang akan
cenderung untuk melumpuhkan salah satu gerakan yang paling penting untuk
operasi peningkatan mutu pendidikan umum yang ada. Dia merasa pendidikan
umum harus mulai melakukan hal yang amat penting mulai dari pengenalan

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

manual,industri dan kegiatan sosial serta mulai menyadari adanya tanggung


jawab untuk memulai pelatihan kepada semua pemuda (pelajar) dalam
masyarakat luas, serta dapat memberikan layanan yang bermanfaat bagi
masyarakat (1910c, p. 58).
Pandangan prosser dalam penerapan adminisitratid dual sistem pendidikan
sangat mirip dengan apa yang di ungkapkan oleh snedden. Hal ini sangat jelas
bahwa preferensi prossers untuk sistem pendidikan yang terpisah, tapi dia
bersedia menerima kemungkinan pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang

efektif sebagai bagian dari pendidikan yang komprehensif.


Prosser dan Allen (1925)
Proser dan allen melihat tidak alasan yang mendasari sekolah lokal yang
percaya pendidikan kejuruan dan bersedia memberikan pengajaran yang
kompeten, pelatihan pada para staf pengajar, dan support financial, tidak harus
melakukan pendidikan kejuruan yang efektif dan pelatihan di masyarakat secara
khusus dan independent. Seperti harapan prosser pendidikan menjadi satu
kesatuan pada tulisannya. Prosser dan allen berkeyakinan bahwa nanti akan ada
suatu agen lokal yang bersedia memberikan pelatihan secara khusus dan
memadai untuk berbagai macam kejuruan yang di inginkan oleh semua orang.
Dia memproyeksikan pada hari itu ketika pendidikan di amerikan baik dalam
praktek maupun teori akan benar-benar menjadi lembagai yang demokratis bagi
semua kalangan masyarakat sesuai dengan tuntutan ekonomi dan perubahan
sosial pada masyakat yang demokratis "(ibid., hlm. 217).
Menurut Venn (1964). pendidikan kejuruan harus menjadi bagian integral

dari pendidikan keseluruhan. Dia berpendapat bahwa pentingnya pendidikan umum


untuk individu dan keberhasilan mereka dalam persiapan kerja, serta untuk
pelestarian dari nilai-nilai nasional, tidak bisa berlebihan. Namun itu tidak cukup
untuk Sebagian besar pemuda dan orang dewasa yang bekerja di masyarakat saat ini.
Menyediakan pendidikan umum tanpa pendidikan kejuruan mengabaikan fakta-fakta
hidup di era modern, mencoba salah satu tanpa yang lain yang benar-benar realistis.
Conant

(1959)

juga

menunjukkan

bagaimana

pendidikan

kejuruan

meningkatkan pendidikan umum. Dalam mengacu kepada siswa yang telah


menetapkan tujuan kejuruan, Conant mengakui bahwa ketika siswa berpikir bahwa

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

apa yang sedang dipelajari di sekolah cenderung memiliki signifikansi di kemudian


hari, studi yang bersangkutan mengambi pentingnya baru. Untuk siswa ini, ada
kurang kecenderungan untuk buang waktu atau untuk menahan sikap negatif
terhadap sekolah. Conant berpendapat bahwa pendidikan kejuruan tidak boleh
ditawarkan sebagai pengganti pendidikan umum, tetapi harus tumbuh dari itu,
melengkapi dan meningkatkan endidikan umum. Pendidik kejuruan menurut
pandangan Conant, merupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan.
C. Empat Pilar, Empat Dasar, dan Delapan Pancar Pendidikan
Komprehensif
Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui The International Commission
on Education for the Twenty first Century" yang dipimpin oleh Jacques Delors
merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang
dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran yaitu:
1. Learning to know: Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu
tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How
2. Learning to do: Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam
team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi.
3. Learning to be: belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang
bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
4. Learning to live together: Belajar memhami dan menghargai orang lain,
sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.
Pendidikan akan lebih lengkap juga memerlukan dasar yang harus dimiliki
oleh para pembelajar. Oleh sebab itu, kita bisa menambahkan dengan empat dasar,
yakni:
1. Norma agama: Penghayatan dan pengimplementasian nilai-nilai agama,
khususnya sebagai wahana hubungan individu dengan sang Khalik.
2. Norma hukum: Pemahaman terhadap peraturan-peraturan yang mengatur
individu sebagai warga negara.
3. Norma susila: Perilaku yang dilandasi nilai-nilai susila (moralitas)
4. Norma kesopanan: Perilaku yang dilakukan dalam hidup bersama dengan
orang lain.

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

Pendidikan menghasilkan pembelajar yang mampu menerangi dunia. Untuk


itu kita kemukakan delapan pancar sebagai hasil dari proses pembelajaran seumur
hidup, yaitu:
1. Mendengar: Kemampuan pembelajar untuk mendengar dengan efektif
dan efisien informasi, fenomena, fakta, atau peristiwa yang digunakan
untuk bahan pembelajaran.
2. Melihat: Kemampuan pembelajar untuk melihat dengan efektif dan
efisien informasi, fenomena, fakta, atau peristiwa yang digunakan untuk
bahan pembelajaran.
3. Merasakan: Kemampuan pembelajar untuk merasakan dengan efektif dan
efisien informasi, fenomena, fakta, atau peristiwa yang digunakan untuk
bahan pembelajaran.
4. Membaca: Kemampuan pembelajar untuk membaca dengan efektif dan
efisien informasi, fenomena, fakta, atau peristiwa yang digunakan untuk
bahan pembelajaran.
5. Berpikir: Kemampuan pembelajar untuk mengolah bahan pembelajaran
setelah melaui proses nomor 1 sampai dengan nomor 4 di atas dengan
hasil penjelasan, penyimpulan, solusi terhadap masalah.
6. Memahami: Kemampuan pembelajar untuk memahami secara mendalam
informasi, fenomena, fakta, atau peristiwa yang digunakan untuk bersikap
bijak dalam setiap langkah kehidupannya.
7. Berbicara: Kemampuan pembelajar untuk menyampaikan hasil pemikiran
dan pemahamannya di forum-forum diskusi yang berorientasi
kemanfaatan ilmunya.
8. Menulis: Kemampuan pembelajar untuk menuliskan hasil pemikiran dan
pemahamannya dalam bentuk karya-karya tulis yang bersifat ilmiah demi
kemajuan ilmu pengetahuan.
D. Perencanaan Pendidikan Komprehensif
Perencanaan pendidikan komprehensif merupakan suatu variasi dalam
pendekatan system pada perencanaan, termasuk system aktivitas total dari
pendidikan dan masyarakat yang mempengaruhi keseluruhan operasi, misalnya
antara komunitas dan sekolah. Penekanan terletak pada totalitas dibandingkan
dengan bagian perkomponen. Perencanaan memerlukan orientasi yang jelas, dan
akibatnya akan berkembang dan meluas ke daerah yang baru. Dengan

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

mengkoordinasikan system aktivitas, perencanaan itu diatur dan ditetapkan. Dalam


hal ini, perencanaan bisa digolongkan kedalam dua cabang utama, yaitu perencanaan
structural dan perencanaan ruang. Perencanaan structural berkaitan dengan
konsekuensi perilaku dan sosial serta pengembangan kebijakan yang ada didalamnya
perencanaan ruang dapat beroperasi. Perencanaan ruang berhubungan dengan
rencana penggunaan tanah (2D) dan desain lingkungan lengkap tata ruang (3D).
Karakteristik dari perencanaan komprehensif, kajian proyektif, fleksibilitas,
komitmen waktu, pertimbangan alternative, faktor-faktor keamanan, fungsi tunggal
dan multi fungsi dan alokasi optimal dari sumber daya yang tersedia. Karena tujuan
utama dari perencanaan komprehensif itu adalah membuat suatu master plan yang
memandu

dan

mengkoordinasikan

upaya-upaya

perencanaan,

perencanaan

komprehensif hendaknya memiliki prosedur evaluative yang melekat.


Perencanaan komprehensif memproyeksikan pendekatan suatu system ke
masa depan yang mengaitkan barbagai unsure dengan suatu desain dan
menterjemahkan ke dalam dimensi yang bermanfaat. Dengan monitoring yang terus
menerus, perencanaan komprehensif memungkinkan dilaksanakannya urusan-urusan
institusi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Produktivitas secara kontinu
dapat dioptimalkan dalam hal ini. Perencanaan komprehensif memungkinkan
perencana pendidikan untuk melibatkan semua segmen dari sumber daya fisik
masyarakat dan sumber daya manusia yang dialokasikan pada waktu dan ruang
tertentu, dan melakukan pengalokasian tersebut dengan cara yang paling bermanfaat.
Perencanaan pendidikan komprehensif menunjukan komponen-komponen yang
bekerja dalam suatu system persekolahan secara menyeluruh. Setiap sub perencanaan
dalam system itu memuat beberapa fenomena umum. Saat system itu tumbuh, sub
perencanaan yang baru akan ditambahkan, karena tidak ada batasan yang kaku dalam
system pendidikan, pendidikan itu jelas merupakan suatu system terbuka.
Sub perencanaan dikelompokan menurut interaksi dengan lingkungan. Setiap
sub perencanaan berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari lingkungan pendidikan.
Proses dan hasil dari sub perencanaan ini memiliki hubungan dengan sub
perencanaan lain, dengan lima dimensi orang, tempat, pergerakan, ekonomi, dan
aktivitas yang berlaku sebagai focus yang berinteraksi. Pendekatan tersebut

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079

memungkinkan

adanya

suatu

system

komunikasi

multi -dimensi

untuk

menggantikan organisasi hirarkis standar yang sekaran masih banyak digunakan oleh
system pendidikan. Dalam hal ini, struktur tersebut sangat bergantung pada proses
komunikasi dan informasi. Dengan berjalannya system ini, diharapkan masalahmasalah yang terdapat dalam lingkungan tersebut dapat diperbaiki dengan
perencanaan pengembangan pendidikan. Implementasi menghasilkan optimalisasi
hasil sekaligus meminimalkan mis-alokasi sumber daya.
Memang suatu masalah akan berbeda dalam hal besarnya, sebabnya dan
pengaruhnya. Kunci untuk memecahkannya adalah mengkomunikasikan data yang
tepat pada waktu dan tempat yang tepat. Jenis sub perencanaan ini akan
mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Hal ini dilakukan dengan menentukan
dan mengarahkan upaya-upaya perencanaan dalam bidang-bidang yang dibutuhkan
dengan menggunakan pendekatan perencanaan yang komprehensif.

Sumber:

Miller, Melvin D. 1985. Principles and A Philosophy for Vocational Education.

Columbus: Ohio State University.


Imam. 2012. Perencanaan Pendidikan

Komprehensif

(http://imam-

sibaweh.blogspot.co.id/2012/04/perencanaan-pendidikan-komprehensif.html).

Diakses 28 November2015
UNESCO. 1996. Report to UNESCO of the International Commission on
Education for the Twenty-first Century
(http://www.unesco.org/education/pdf/15_62.pdf). Diakses 28 November2015

Pendidikan Komprehensif-Pendidikan Teknologi Kejuruan- Septi Ayu-15138079