Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PERCOBAAN VI
PENENTUAN KADAR PROTEIN

OLEH :
NAMA

: JENUS SARA BAHARI

STAMBUK

: F1C113017

KELOMPOK

: IX (SEMBILAN)

ASISTEN

: (SITTI NURHAJIRAN)

LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Protein merupakan unit penyusun utama tubuh. Protein juga merupakan
suatu polimer yang mempunyai monomer suatu asam amino. Asam amino sendiri
merupakan senyawa kimia yang mengandung dua fungsi yang berbeda sehingga
reaksi suatu protein tidak jauh dari reaksi kedua gugus fungsi tersebut. Ada dua
macam sumber protein yakni protein nabati dan protein hewani. Salah satu contoh
sumber protein hewani adalah air susu ibu (ASI).
ASI mengandung banyak senyawa kimia yang berguna untuk
perkembangan bayi. Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam ASI adalah
protein, karbohidrat dan vitamin namun kandungan terbesarnya adalah protein.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menentukan kadar protein dalam ASI.
Salah satu metode yang paling efektif adalah dengan mengukur absorbansnya
pada spektrofotometer UV-VIS. Agar protein dapat terbaca serapannya pada
spektrofotometer UV-VIS maka protein tersebut harus direaksikan dengan
senyawa tertentu agar dapat membentuk kompleks hingga larutannya dapat
berwarna dan serapannya dapat diukur dengan spektrofotometer UV-VIS.
Senyawa yang tepat untuk mengompleks protein adalah reagen biuret dimana
logam Cu2+ pada reagen biuret akan mengikat atom N pada asam amino dan
membentuk kompleks yang larutannya berwarna ungu. Dengan begitu larutan
tersebut dapat diukur absorbansnya. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan
percobaan penentuan kadar protein dalam sampel ASI.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam percobaan ini adalah bagaimana cara
menentukan kadar protein dalam susu ?
C. Tujuan
Tujuan pada percobaan ini adalah untuk mengetahui cara menentukan
kadar protein dalam susu.
D. Manfaat
Manfaat pada percobaan ini adalah dapat mengetahui cara menentukan
kadar protein dalam susu.

II. LANDASAN TEORI


Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang sangat penting
peranannya dalam makhluk hidup. Fungsi dari protein itu sendiri adalah sebagai
bahan struktural dan sebagai mesin bekerja pada tingkat molekular. Apabila tulang
dan kitin adalah beton, maka protein struktural adalah dinding batu batanya.
Beberapa protein struktural, fibrous protein berfungsi sebagai pelindung,
contohnya dan keratin yang terdapat pada kulit, rambut dan kuku. Sedangkan
protein struktural lain yang ada juga berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen.
Protein dapat memerankan fungsi sebagai bahan struktural karena seperti halnya
polimer lainnya, protein memiliki rantai tang panjang dan juga dapat mengalami
cross-lingking dan lain-lain. selain itu protein juga dapat berperan sebagai
biokatalis untuk reaksi-reaksi kimia dalam sistem makhluk hidup (Hertadi, 2008).
Kuantitas kandungan protein yang penting dapat memiliki banyak
aplikasi dalam praktek laboratorium klinis dalam penelitian khususnya biokimia.
Kuantitsa akurat kandungan protein yang merupakan langkah pentig dalam
analisis protein. Selama dua dekade terakhir, teknik uji protein yang berbeda telah
dikembangkan untuk penilaian konsentrasi protein dalam sampel. Metode
spektroskopi adalah cara yang paling umum untuk kuantitasi kensentrasi protein.
UV-VIS spektroskopi terutama digunakan untuk analisis kuantitatif dalam kimia
dan salah satu dari banyak aplikasi adalah tes protein (Janairo et al., 2011)
Susu adalah campuran dari beberapa substansi seperti laktosa, lipid,
protein asam amino, urea dan lain-lain. terganung beberapa faktor yakni program

pembiakan genetik, skema pemberian makanan dan kondisi iklim ( Kamizake et


al, 2013).
Susu merupakan bahan baku pembuatan keju degan menggunakan
teknologi mikrobial, karena susu dapat menjadi media untuk pertumbuhan
mikrooganisme. Susu juga dapat diperoleh dari bahan nabati, salah dari bahan
yang bisa digunakan untuk membuat susu nabati adalah kacang hijau ( Purwanti
dan Titik, 2013).
Protein merupakan komponen utama bagi semua benda hidup termasuk
mikroorgansme, hewan dan tumbuhan. Protein merupakan rantaian gabungan 22
jenis asam amino. Protein ini memainkan berbagai peranan dalam benda hidup
dan bertanggung jawab untuk fungsi dan ciri-ciri benda hidup (Anitha, 2010).

III.
A. Waktu dan Tempat

METODOLOGI PRAKTIKUM

Praktikum Penentuan Kadar Protein dilaksanakan pada hari Kamis,


tanggal 15 Oktober 2015 pukul 15.00 17.30 WITA dan bertempat di
Laboratorium Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet
tetes, gelas ukur dan seperangkat alat spektrofotometer UV-VIS.
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah ASI, reagen
biuret, akuades dan tisu.

C. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Larutan Blanko

Akuades
- dipipet 1 mL akuades ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan 4 mL larutan biuret
dihomogenkan
Larutan- Blanko
2. Pengukuran Larutan Sampel

- dipipet 1 mL ASI ke dalam tabung reaksi


ASI
- ditambahkan 4 mL larutan biuret
- dihomogenkan
- didiamkan
menit
Catatan: perlakuan yang dilakukan
terhadapselama
sampel30
susu
Sapi dengan nilai
1,805
- A
diukur absorbansnya pada panjang gelombang
540 nm)
absorba ns sebesarr 1,859 A.

IV.
A. Hasil Pengamatan
1. Data Pengamatan
No
.
1.

2.

2.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perlakuan

Hasil Pengamatan

Absorbans

1 mL larutan susu + 4
mL reagen biuret,
didiamkan 30 menit
1 mL larutan susu + 4
mL reagen biuret,
didiamkan 30 menit

Larutan berwarna
ungu

1,859

Larutan berwarna
orange

1,805

Grafik Hubungan Konsentrasi dan Absorbans


No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Konsentrasi (ppm)

Absorbans

1
2
3
4
5
6

0,321
0,576
1,342
1,657
2,115
2,876

Panjang gelombang maksimum = 540 nm


Grafik Hubungan Konsentrasi dan Absorbans
4
3
Absorbans

f(x) = 0.51x - 0.29


R = 0.98

2
1
0
0

Konsentrasi (ppm)

1. Analisis Data
a. Kadar protein dalam sampel susu sapi
Absorbans sampel (susu sapi) = 1,859
y = ax + b, dari grafik diperoleh persamaan : y = 0,5059x - 0,2895
dimana, y= absorbans sampel (susu sapi)
x = konsentrasi sampel (susu sapi)
A sampel (susu sapi) = ax b
y
= 0,5059x - 0,2895
1,859
= 0,5059x - 0,2895
0,5059x
= 0,2895+ 1,859
0,5059x
= 2,1485
x
= 4,2468 ppm
Jadi, kadar protein yang terkandung dalam sampel susu sapi sebesar
4,2468 ppm.
b. Kadar protein dalam sampel ASI
Absorbans sampel (ASI) = 1,805
y = ax + b, dari grafik diperoleh persamaan : y = 0,5059x - 0,2895
dimana, y = absorbans sampel (susu sapi)
x = konsentrasi sampel (susu sapi)
A sampel (susu sapi) = ax b
y
= 0,5059x - 0,2895
1,805
= 0,5059x - 0,2895
0,5059x
= 0,2895+ 1,805
0,5059x
= 2,0945
x
= 4,1401 ppm
Jadi, kadar protein yang terkandung dalam sampel ASI sebesar 4,2468
ppm.
2. Reaksi

B. Pembahasan
Penentuan kadar protein dalam sampel ASI dilakukan dengan
menggunakan metode biuret dan menggunakan spektrofotometer uv-vis. Dimana
prinsip dari metode ini adalah pengukuran serapan cahaya kompleks berwarna
ungu dari protein yang bereaksi dengan perekasi biuret dimana, yang membentuk
kompleks adalah protein dengan ion Cu2+ yang terdapat dalam pereaksi biuret
dalam suasana basa. Semakin tinggi intensitas cahaya yang diserap oleh alat maka
semakin tinggi pula kadar protein yang terdapat di dalam sampel tersebut.
Metode ini dimulai dengan mereaksikan sampel ASI dan biuret dalam
tabung reaksi. Larutan tersebut dikocok agar homogen dan didiamkan hingga 30
menit agar semua semua protein yang terdapat dalam sampel dapat membentuk
kompleks dengan Cu2+ dalam reagen biuret. Warna yang dari larutan tersebut
adalah ungu. Warna tersebut dihasilkan dari hasil kompleks Cu 2+ dengan protein.
Setelah 30 menit berlalu, larutan tersebut kemudian diukur serapannya pada
spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang 540 nm. Pengukuran dilakukan
pada panjang gelombang tersebut karena panjang gelombang tersebut merupakan
panjang gelombang maksimun dari Cu. Pengukuran larutan tersebut pada
spektofotometer uv-vis disertai dengan larutan blanko sebagai pendanding.
Komposisi dari larutan blanko tersebut adalah campuran antara akuades dan
reagen biuret.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan hasi pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa


penentuan kadar protein dapat dilakukan dengan merekasikan sampel dengan
reagen biuret dan mengukur serapannya pada spektrofotometer uv-vis pada
panjang gelombnag 540 nm. Dari hasil pengukuran diketahui kadar protein dalam
sampel asi sebesar 4,1401 ppm.

DAFTAR PUSTAKA

Janairo, G., Marianne, L., Leon, S., 2011. Determination of the Sensitivity Range
of Biuret Test for Undergraduate Biochemistry Experiments. Journal of
Science & Technology. Vol. 6 (5).
Kamizakea, N.K.K., Mauricio, M.G., Cassia, T.B.V.Z. dan Dimas, A M.Z. 2013.
Determination of Total Proteins in Cow Milk Powder Pamples: a
Comparative
Study
Between
the
Kjeldahl
Method
and
Spectrophotometric Methods. Journal of Food Composition and
Analysis. Vol. 16 (20).
Purwanti, H., Titik, S. 2013. Kadar Protein dan Vitamin B1 Dadih
Fiormulasi Susu Kacang Hijau dan Susu Sapi Yang Berbeda dengan
Aroma Mangga Kweni. Jurnal Biologi. Vol. 1(1).
Anitha dan Sri, W. 2010. Yield dan Komposisi Keju Lunak (Soft Cheese) dari
Susu Sapi Yang Dibuat dengan Teknik Direct Acidification
Menggunakan Ekstrak Buah Lokal. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan.
Vol 1 (3).