Anda di halaman 1dari 75

I.

A.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Produksi tanaman pangan khususnya padi (Oryza sativa L.) perlu

ditingkatkan dari tahun ke tahun sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk.


Saat ini program peningkatan produksi ditekankan pada usaha untuk
mempertinggi hasil per satuan luas, disamping itu juga memperluas areal panen
(Balai Informasi Pertanian, 2006). Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan
perbaikan produktivitas pada daerah-daerah terkena cekaman terendam yang
merupakan kendala utama dalam budidaya tanaman padi. Bulan November 2010,
produksi padi Nasional meningkat hingga 2,5 persen dan diprediksi mencapai
65,9 juta ton gabah keringgiling (GKG) atau setara dengan beras sebanyak 36,9
juta ton (Suswono, 2010). Padahal dengan laju pertumbuhan penduduk yang
mencapai 1,49% dan laju konsumsi beras nasional 1,34% per tahun, rata-rata
produktivitas padi nasional seharusnya minimal 6 ton/ha (Makarim dan Suhartatik
2009; Suswono 2010). Menurut Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura
Kabupaten Ogan Komering Ulu, tahun 2013 produksi padi pada saat itu hanya
sebesar 38,059 ton dari luas panen 10,874 ha. Pada tahun 2010 produksi padi
meningkat menjadi 47,241 ton dari luas panen 13,297 ha. Sedangkan pada tahun
2011 produksi padi menurun menjadi 44,695 ton, sedangkan luas panen
meningkat menjadi 14,054 ha. Pada tahun 2012 produksi padi mengalami
peningkatan yang cukup tinggi mencapai 54,108 ton dari luas panen 14,518 ha.
Perubahan iklim global merupakan fenomena faktual yang memberikan
pengaruh terhadap sistem pertanian. Dampak perubahan iklim tersebut khususnya

terhadap produksi padi akan sangat tergantung pada pola perubahan aktual yang
terjadi di daerah penanaman padi (IRRI, 2007). Daerah sentra produksi padi yang
kebanyakan berada pada lokasi dataran rendah akan sangat rentan terhadap
semakin besarnya peluang terjadinya banjir (Cresser, 2008).
Rendaman yang mengakibatkan cekaman terhadap tanaman padi di
wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan mencapai 15 juta ha setiap
tahun (Septiningsih et al., 2009), sedangkan di Sumatra Selatan luas lahan yang
rawan banjir seluas 124,465 ha (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional,
2010). Luas areal pertanaman padi yang mengalami cekaman terendam karena
banjir diperkirakan akan semakin bertambah karena terjadi peningkatan curah
hujan dan kenaikan permukaan air laut akibat terjadinya pemanasan global
(CGIAR, 2006).
Cekaman

terendam

yang

terjadi

pada

tanaman

mengakibatkan

terhambatnya proses fotosintesis dan respirasi hal tersebut dikarenakan difusi gas
di air lebih lambat 104 kali dibanding dengan di udara (Armstrong dan Drew,
2002) dan rendahnya penetrasi cahaya yang dapat diterima oleh tanaman (Pierik
et all., 2005). Kemudian dilaporkan juga bahwa kekeruhan air pada kondisi
daerah rawan banjir umumnya setara dengan 500 gram tanah/100 liter air.
Ketinggian rendaman air 40 cm dari dasar tanah penetrasi radiasi matahari
menjadi berkurang sampai 99 % di India Timur (Setter et al., 1995). Selain itu
tingkat cekaman rendaman terhadap suatu tanaman juga ditentukan oleh faktor
lingkungan lainnya seperti tubulensi air, benturan fisik dengan materi yang

terbawa banjir dan kekeruhan air karena adanya kotoran, ganggang, serta gulma
air (Das et all.,2005).
Disamping itu, pH yang rendah menyebabkan tingginya kejenuhan Al
serta rendahnya unsur hara penting seperti N, P, K (Grigg et al, 2000). Meskipun
padi merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi tanah yang airnya
berlebih, namun secara umum tanaman padi akan mati jika seluruh bagian
tanamannya terendam selama seminggu (Ito et al., 1999). Tanaman padi yang
masih anakan, biasanya lebih rentan terhadap cekaman rendaman (Jakson dan
Ram, 2003). Hasil penelitian terhadap tanaman padi, tahap reproduksi adalah yang
paling sensitif terhadap cekaman rendaman, diikuti oleh tahap pembibitan dan
anakan maksimum (Reddy dan Mittra, 1985). Genangan air yang terlalu tinggi
selama fase vegetatif akibat banjir dan hujan lebat setelah bibit dipindahkan
kelapangan merupakan salah satu kendala pertumbuhan yang dapat menyebabkan
rendahnya produksi padi rawa lebak (Munandar dan Wijaya, 1996). Selanjutnya
Hendransyah (2001), mengemukakan bahwa rendaman yang terjadi lebih lama (57 hari) dapat menyebabkan terjadinya penurunan jumlah anakan dan laju
pertambahan jumlah anakan. Hal ini disebabkan tanaman yang terlalu lama
mengalami cekaman terendaman segera berusaha memulihkan diri. Dalam upaya
proses pemulihan dan peningkatan pertumbuhannya, tanaman padi memerlukan
unsur nitrogen pada awal fase pertumbuhan (Praptono, 2011).
Varietas padi yang ada sekarang hanya dapat bertahan dalam kondisi
terendam penuh selama 14 hari. Padi varietas IR64 di kembangkan oleh IRRI
pada tahun 2006 menjadi varietas IR64 Sub-1 dengan mentransfer gen Sub-1 dari

galur FR13A yang toleran rendaman. Varietas ini mampu mengurangi resiko
kegagalan panen pada saat terjadinya musim hujan akibat terjadinya perubahan
iklim yang tidak menentu (Septiningsih et al. 2009). Ikhwani dan Makarim (2011)
melaporkan bahwa varietas Inpara 5 yang direndam selama 10 hari masih tumbuh
dan berproduksi 50%, sedangkan IR64 sebagai kontrol hanya tumbuh 6,4%.
Varietas Inpara 5 yang memiliki gen yang mampu membentuk sink, yaitu anakan
produktif, ukuran malai dan jumlah gabah isi lebih baik (Mallik et al. 2004).
Varietas IR64 pada percobaan rendaman di rumah kaca lebih tahan terhadap
kerusakan daun dan lebih cepat pulih dari rendaman (Ikhwani et al. 2010).
Perlakuan pengaturan pemberian pupuk nitrogen akan memberikan
pengaruh terhadap tinggi tanaman dan laju pertumbuhan tinggi tanaman padi.
Kedua parameter tersebut pada tanaman padi umumnya akan lebih berpengaruh
dengan perendaman lebih dari tiga hari (Suwignyo et al., 2008a). laju
pemanjangan batang pada saat terjadi cekaman rendaman sangat mempengaruhi
ketahanan tanaman padi dan kecepatan pemulihan tanaman pasca cekaman
rendaman (Ismail et al., 2008; Suwignyo et al., 2008b).
Ehara et al. (1996) menyebutkan bahwa perlakuan pemberian nitrogen
yang tinggi pada fase pembibitan dapat meningkatkan jumlah anakan tanaman.
Respon tanaman padi terhadap perlakuan nitrogen sangat ditentukan juga dengan
lamanya periode tanaman terendam. Hasil penelitian Suwignyo (2005)
menyebutkan bahwa pemberian perlakuan nitrogen tinggi sebelum terjadinya
perendaman selama 5 hari dapat mempercepat munculnya anakan padi.

Hasil penelitian Dody (2002) menunjukkan bahwa perbedaan takaran


pupuk N tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan fase vegetatif tanaman
padi, namun terdapat kecenderungan bahwa takaran pupuk setengah ( 1/2) bagian
pada saat tanam akan lebih baik dari takaran pupuk urea semua bagian pada saat
tanam terhadap pertumbuhan tanaman padi khususnya pada fase vegetatif.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian yang berjudul
Upaya Meningkatkan Ketahanan Tanaman Padi Pada Fase Vegetativ Terhadap
Rendaman Melalui Perlakuan Pemupukan Sebelum Terendam.
B.

Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan pemupukan yang terbaik

dalam upaya meningkatkan ketahanan tanaman padi pada fase vegetatif sebelum
peristiwa cekaman rendaman.
C.

Hipotesis
1. Perlakuan (V2) varietas Inpara 5 lebih tahan dibanding dengan IR64
pada perendaman dengan air keruh.
2. Perlakuan (N2) perendaman dengan air keruh 7-14 hst dengan
pemberian 1/2 dosis pupuk N pada saat tanam sisanya diberikan pada
saat 42 hst berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman
padi.
3. Interaksi antara perlakuan V2 dan N2 berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman padi.

II.
A.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Padi


Menurut Tjitrosoepomo (2000), tanaman padi termasuk golongan rumput-

rumputan dengan klasifikasi sebagai berikut :


Kingdom

: Plantae

Dvisi

: Magnoliophyta

Sub divisi

: Monokotil

Kelas

: Commelinids

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Oryza

Spesies

: Oryza Sativa L.

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput-rumputan. Tanaman


pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan
subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang
(Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan
di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India,
beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos,
Vietnam (Deptan, 2003). Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan
dilahan kering dengan sistem ladang (tanpa pengairan) begitu juga di negaranegara lain. Semula tanaman padi diusahakan di tempat tinggi dengan membuat
teras-teras. Tanaman padi dapat tumbuh baik pada daerah tropis seperti indica,
sedangkan jenis japonica di usahakan di daerah subtropis (AAK, 1990). Pemulia

tanman padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil
tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal tanaman padi, seperti
rajalele dari klaten atau cianjur pandanwangi dari cianjur. Orang juga berhasil
mengembangkan padi lahan kering yang tidak memerlukan penggenangan atau
padi rawa yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubahubah. Namun demikian, pemulia tanaman padi secara sistematis baru dilakukan
sejak didirikannya IRRI di Filipina. Sejak saat itu, berbagai macam tipe padi
dengan kualitas berbeda-beda berhasil dikembangkan secara terencana untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia (Wikipedia Bahasa Indonesia, 2009).
Berdasarkan literatur Aak (1990) akar tanaman padi memiliki sistem
perakaran serabut yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah,
kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar tanaman padi dapat dibedakan
atas : (1) akar seminal yang tumbuh dari akar primer radikulase yang tumbuh pada
saat benih berkecambahdan bersifat sementara. Pada benih yang sedang
berkecambah timbul calon akar dan batang. Calon akar mengalami pertumbuhan
ke arah bawah sehingga terbentuk akar tunggang, sedangkan calon batang akan
tumbuh ke atas sehingga terbentuk batang dan daun. (2) Akar serabut
(akaradventif) yang bercabang dan tumbuh dari buku batang muda bagian bawah.
Akar adventif tersebut menggantikan

akar seminal. Akar

ini

disebut

adventif/buku, karena tumbuh dari bagian tanaman yang bukan embrio atau
karena munculnya bukan dari akar yang tumbuh sebelumnya (Anonim, 2010 a).
Akar rambut yaitu merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan
akar serabut. Akar ini merupakan saluran pada kulit akar yang berada diluar, dan

ini penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan. Akar rambut biasanya
berumur pendek sedangkan bentuk dan panjangnya sama dengan akar serabut.
Akar tajuk (crown roots) adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah. Akar
tajuk ini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu akar
yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di dalam tanah
rendah,maka akar-akar dangkal mudah berkembang. Bagian akar yang telah
dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan berwarna coklat,
sedangkan akar yang baru atau bagian akar yang masih muda berwarna putih.
Setelah 50 hst perakaran dapat mencapai lapisan sub soil (Komandalu, 2005).
Batang tanaman padi yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu
merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya
ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat
pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah
lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari
ruas tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat
pada buku bagian atas ujumg dari daun pelepah memperlihatkan percabangan
dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg
terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada
sebelah kiri dan kanan. Pertumbuhan batang tanaman padi adalah merumpun,
dimana terdapat satu batang tunggal/batang utama yang mempunyai 6 mata atau
sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan sukma 2, 4, 6 sebelah kiri. Dari
tiap-tiap sukma ini timbul tunas yang disebut tunas orde pertama. Tunas orde
pertama tumbuhnya didahului oleh tunas yang tumbuh dari sukma pertama,

kemudian diikuti oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma
ketiga dan seterusnya sampai kepada pembentukan tunas terakhir yang keenam
pada batang tunggal. Panjang batang tanaman padi tergantung berdasarkan
varietas tanaman. Ruas batang tanaman padi semakin keatas semakin panjang,
berongga dan bulat, diantara ruas terdapat buku, setiap buku duduk sehelai daun.
Pada fase kedua, anakan pertama terbentuk setelah tanaman berumur 10 hst dan
maksimum 40-50 hst. Pada buku pertama sampai buku kedua akan terbentuk
anakan primer yang juga akan membentuk perakaran. Anakan kedua (skunder)
akan terbentuk pada buku bawah anakan pertama setelah 30 hst dan anakan ketiga
(tersier) akan terbentuk pada anakan kedua pada buku pertama. Setiap anakan
padi akan menghasilkan jumlah anakan yang berbeda-beda tergantung dengan
varietasnya (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), 2008).
Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari
batang disebut daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula
dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi. Adapun bagianbagian daun padi adalah : (1) Helaian daun terletak pada batang padi dan selalu
ada. Bentuknya memanjang seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun
tergantung varietas padi yang bersangkutan. (2) Pelepah daun (upih) merupakan
bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi
dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
(3) telinga daun (auricle) terletak pada dua sisi pangkal helai daun. (4) Lidah daun
terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbedabeda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang.

Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan diantara batang dan
pelepah daun (upih). Disamping itu lidah daun juga mencegah infeksi penyakit,
sebab media air memudahkan penyebaran penyakit. (5) daun bendera adalah daun
teratas di bawah malai (Anonim, 2010a).
Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas
dinamakan malai. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang
kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang.
Panjang malai tergantung pada varietas padi yang ditanam dancara bercocok
tanam. Dari sumbu utama pada ruas buku 148 yang terakhir inilah biasanya
panjang malai (rangkaian bunga) diukur. Panjang malai dapat dibedakan menjadi
3 ukuran yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm),
dan malai panjang (lebih dari 30cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar
antara 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang, dan yang terbanyak dapat
mencapai 30 buah cabang. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi besarnya
rendemen tanaman padi varietas baru, setiap malai bisa mencapai 100-120 bunga
(Aak, 1990). Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan
bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari
ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai
dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala
putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu.
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah,sebenarnya
bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini
terjadi setelah selesai penyerbukkan dan pembuahan. Lemma dan palea serta

bagian lain yang membentuk sekam atau kulit gabah. Jika bunga padi telah
dewasa, kedua belahan kembang mahkota (palea dan lemmanya) yang semula
bersatu akan membuka dengan sendirinya. Membukanya kedua belahan kembang
mahkota itu terjadi pada umumnya pada hari-hari cerah antara jam 10-12, dimana
suhu kira-kira 30-320C. Di dalam dua daun mahkota palea dan lemma itu terdapat
bagian dalam dari bunga padi yang terdiri dari bakal buah (biasa disebut
karyiopsis). Jika buah padi telah masak, kedua belahan daun mahkota bunga itulah
yang menjadi pembungkus berasnya (sekam). Diatas karyiopsis terdapat dua
kepala putik yang dipikul oleh masing-masing tangkainya. Lodicula yang
berjumlah dua buah, sebenarnya merupakan daun mahkota yang telah berubah
bentuk. Pada waktu padi hendak berbunga, lodicula menjadi mengembang karena
menghisap cairan dari bakal buah. Pengembangan ini mendorong lemma dan
palea terpisah dan terbuka. Bulir biji atau buah yang matang, dengan lemma,
palea, rakhilla, lemma steril, dan ekor gabah (kalau ada) yang menempel sangat
kuat. Bulir biji padi tanpa sekam (kariopsis) disebut beras. Buah padi adalah
sebuah kariopsis, yaitu biji tunggal yang bersatu dengan kulit bakal buah yang
matang (kulit ari) , yang membentuk sebuah bulir seperti biji. Bentuk dan ukuran
sebuah gabah padi sangat beragam tergantung pada kultivar. Komponen utama
bulir biji padi adalah sekam, kulit beras, endosperm dan embrio (Anonim, 2010b).
Warna beras biasa berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki
sedikit aleuron dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beberapa jenis
beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya Cianjur, Pandanwangi
dan Rajalele). Bau ini disebabkan beras melepaskan senyawa aromatik yang

memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek
rekayasa genetika beras (Wikipedia Bahasa Indonesia, 2009).
B.

Syarat Tumbuh Taanaman Padi


Tanaman padi tumbuh di daerah tropis dan subtropis pada 450LU sampai

dengan 450LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan
empat bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 15002000 mm/tahun (Manegristek, 2010). Tanaman padi dapat tumbuh baik di daerah
yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik ratarata 200 mm perbulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan
yang dikehendaki pertahun sekitar 1500-2000 mm (Amirullah, A. 2008).
Tanaman padi secara umum membutuhkan suhu minimum 11-25C untuk
perkecambahan, 22-23 C untuk pembungaan, 20-25C untuk pembentukan biji,
dan suhu yang lebih panas dibutuhkan padi khususnya di daerah tropis. Suhu
udara dan intensitas cahaya di lingkungan sekitar tanaman berkorelasi positif
dalam proses fotosintesis, yang merupakan proses pemasakan oleh tanaman untuk
pertumbuhan tanaman dan produksi buah atau biji (Aak, 1990). Sruktur tanah
yang baik untuk tanaman padi adalah tanah sawah dengan kandungan fraksi pasir,
debu dan lempung dengan perbandingan tertentu dan diperlukan air dalam jumlah
yang cukup yang ketebalan lapisan atasnya sekitar 18-22 cm dengan pH 4-7.
C.

Kondisi Rawa Lebak dan Sistem Budidaya Taanaman Padi


Lahan rawa lebak merupakan salah satu alternatif dalam usaha

peningkatan produksi pertanian khususnya padi. Menurut Ngudiantoro (2010),

potensi areal rawa lebak di Indonesia dapat dikembangkan menjadi lahan


pertanian sekitar 13 juta ha, sedangkan di Sumatera Selatan diperkirakan seluas
2,0 juta ha (Waluyo et al., 2008). Namun demikian, potensi tersebut belum
dimanfaatkan secara optimal dan umumnya hanya ditanami padi dengan produksi
yang masih relatif rendah.
Kendala utama dalam budidaya tanaman padi di lahan rawa lebak adalah
tata air yang masih belum terkendali, sehingga pada musim hujan seluruh areal
tergenang cukup dalam dan lama. Hal ini menyebabkan petani sulit menduga
masa tanam padi sehingga budidaya tanaman menjadi sulit dikendalikan dengan
baik. Genangan air yang terlalu tinggi selama vase vegetatif akibat banjir dan
hujan lebat yang terjadi setelah bibit dipindahkan ke lapangan merupakan kendala
pertumbuhan yang menyebabkan rendahnya produksi yang baik di lahan rawa
lebak. Resiko kegagalan panen juga bisa terjadi akibat kekeringan jika tidak ada
hujan pada saat tanaman padi berbunga (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa,
2008). Suwignyo et al. (1998) menyebutkan bahwa pemindahan bibit yang terjadi
beberapa kali menyebabkan penurunan pertumbuhan dan produksi padi. Tingkat
kerusakan akibat genangan yang terlalu tinggi sangat tergantung dengan varietas,
fase tubuh, lama dan tinggi muka genangan.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan toleransi tanaman padi
terhadap kondisi terendam karena air antara lain melalui peningkatan kualitas
kultivar dan perbaikan metode manajemen budidaya tanaman (Sharma dan Ghosh,
1999, Grig et al., 2000 dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, 2008).
Kultivar yang berkemampuan memanjang pada saat tanaman terendam

merupakan kultivar yang cocok untuk kondisi lahan rawa lebak, namun hal ini
perlu di ikuti dengan karakter lain sehingga pemanjangan tanaman tidak menguras
energi tanaman yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dan pemeliharaan
internal tanaman. Tanaman yang mempunyai karakter pemanjangan yang moderat
dapat mengurangi penggunaan karbohidrat saat terendam (Vriezen et al., 2003).
Tanaman padi IR64 yang mengandung sub 1 diharapkan akan menjawab berbagai
fenomena yang disebutkan di atas (IRRI, 2008).
Kondisi lahan rawa lebak dengan kondisi air yang fluktuatif dapat
menyebabkan terendaman tanaman padi sewaktu-waktu. Upaya menjaga
kehilangan energi pada saat terendam, perlu dilakukan proses yang dapat
meningkatkan vigor tanaman, sehingga energi dalam tubuh tanaman masih dapat
menjaga metabolisme tanaman pada saat terendam dan tanaman masih dapat
melakukan percepatan pertumbuhan kembali pasca terendam. Suwignyo (2005)
menyebutkan bahwa pemberian perlakuan Plant Phytoregulator dan Nitrogen
dapat membantu tanaman padi mempercepat pemulihan pasca terendam.
Perlakuan pengaturan pemberian pupuk nitrogen akan memberikan
pengaruh terhadap tinggi tanaman padi. Kedua parameter tersebut pada tanaman
padi umumnya akan lebih berpengaruh dengan perendaman lebih dari tiga hari
(Suwignyo et al., 2008a). Kecepatan memanjang tanaman merupakan mekanisme
untuk menghindarkan tanaman dari pengaruh negatif tanaman yang kekurangan
oksigen akibat terendam (Ito et al., 1999, Jakson and Ram, 2003). Laju
pemanjangan batang pada saat terjadi cekaman rendaman sangat mempengaruhi

ketahanan tanaman padi dan kecepatan pemulihan tanaman pasca cekaman


terendam (Suwignyo et al., et al., 2008b).
Ehara et al. (1996) menyebutkan bahwa perlakuan pemberian nitrogen
yang tinggi pada fase pembibitan dapat meningkatkan jumlah anakan tanaman.
Respon tanaman padi terhadap perlakuan nitrogen sangat ditentukan juga dengan
lamanya periode tanaman terendam. Hasil penelitian Suwignyo (2005) bahwa
pemberian perlakuan nitrogen tinggi sebelum terjadinya terendam selama 5 hari
dapat mempercepat munculnya anakan padi. Namun demikian, Ella dan Ismail
(2006) menyatakan bahwa perlakuan N dan P pada fase pembibitan menyebabkan
peningkatan kandungan N daun tinggi dan menurunkan bibit yang bertahan hidup
setelah perlakuan perendaman bibit selama 12 hari.
D.

Tanah Rawa Lebak


Lahan rawa lebak merupakan salah satu alternatif dalam usaha

peningkatan produksi pertanian khususnya padi. Luas lahan rawa lebak di


Indonesia diperkirakan seluas 13,3 juta hektar yang terdiri dari 4,2 juta hektar
lebak pematang, 6,07 juta hektar lebak tengahan dan 3,0 juta hektar lebak dalam,
lahan tersebut menyebar di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Widjaya
Adhi et al, 1995). Penyebaran yang terluas terdapat di Propinsi Sumatra Selatan,
yakni mencapai 2,98 juta hektar yang merupakan lahan potensial untuk pertanian
dan perikanan. Namun demikian, potensial tersebut belum dimanfaatkan secara
optimal, dan umumnya hanya ditanami padi dengan produksi yang masih relatif
rendah. Peningkatan produksi padi di lahan lebak bukan hanya dapat

meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga dapat menunjang swasembada


pangan (Djafar, 1992).
Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satu
bulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun
setempat maupun di daerah sekitarnya. Berdasarkan tinggi dan lama genangan
airnya, lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal, lebak tengahan
dan lebak dalam. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan
airnya kurang dari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak tengahan
adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya 50- 100 cm selama 3-6 bulan.
Lahan lebak dalam adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100
cm selama lebih dari 6 bulan (Widyaya Adhi, et al., 2000).
Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak adalah tanah mineral dan
gambut. Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau bisa berasal dari
endapan marin, sedangkan tanah gambut di lapangan bisa berupa lapisan gambut
utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral. Tanah
mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang - tinggi dan
pH 4 - 5 serta drainase terhambat - sedang. Setiap tahun, lahan lebak umumnya
mendapat endapan lumpur dari daerah di atasnya, sehingga walaupun kesuburan
tanahnya umumnya tergolong sedang, tetapi keragamannya sangat tinggi antar
wilayah atau antar lokasi. Pada umumnya nilai N total sedang-tinggi, Ptersedia
rendah-sedang, K-tersedia 10-20 ppm sedang, dan KTK sedang-tinggi. Lahan
lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan sungai cukup baik untuk
usaha pertanian. Sedangkan lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari

endapan marin biasanya memiliki lapisan pirit (FeS2) yang berbahaya bagi
tanaman karena bisa meracuni tanaman terutama bila letaknya dekat dengan
permukaan tanah. Oleh karena itu, reklamasi dan pengelolaan lahan ini harus
dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tanaman bisa tumbuh dan memberikan
hasil yang baik (Alkasuma et al, 2003, Alihamsyah, 2005).
E.

Respon tanaman terhadap pengaruh ketinggian air


Pada tanaman padi rendaman diberikan pada ketinggian tertentu untuk

menjaga kondisi tanah dan serangan gulma, namun beberapa spesies tanaman
kelebihan air merupakan faktor penghambat produksi (Jakson, 2004). Meskipun
padi merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi tanah berlebih air,
namun secara umum tanaman padi akan mati pada lingkungan dimana seluruh
bagian tanaman terendam secara keseluruhan selama lebih dari satu minggu (Ito
et al, 1999). Cekaman rendaman berpengaruh terhadap hasil biji sejumlah
tanaman serelia (Setter dan Waters, 2003).
Pada lingkungan yang terendam air difusi gas lebih lambat 104 kali
dibanding dengan di udara (Armstrong dan Drew, 2002). Meskipun sejumlah gas
seperti O2, CO2 dan lainnya di produksi oleh bagian tertentu tanaman saat
tercekam rendaman, namun kondisi gas oleh tanaman menurun karena laju difusi
yang rendah (Setter et al., 1987a). Pada lingkungan terendam air transmisi cahaya
menjadi rendah, yang mengakibatkan laju fotosintesis berkurang. Penetrasi cahaya
yang dapat ditangkap tanaman ketika terendam sangat tergantung pada kekeruhan
dan ketinggian rendaman. Cekaman rendaman terhadap tanaman padi ini dapat
dikelompokkan berdasarkan durasi dan ketinggian rendaman. Berdasarkan durasi

cekaman dapat dibedakan menjadi rendaman sesaat (flash flood) dan rendaman
stagnan (stagnant flood). Rendaman sesaat terjadi jika tanaman padi terendam air
selama kurang dari tiga minggu kemudian air surut kembali. Jenis rendaman ini
merupakan tipologi daerah-daerah tadah hujan, pasang surut dan tepian sungai.
Pada cekaman rendaman stagnan ketinggian air relatif stabil pada ketinggian yang
bervariasi selama lebih dari tiga minggu. Jenis rendaman ini merupakan tipologi
lahan rawa lebak. Berdasarkan ketinggian air yang merendam tanaman, rendaman
dikelompokkan menjadi rendaman sebagian (partial submergence) jika 40 99 %
dari bagian atas tanaman terendam air dan rendaman yang mengakibatkan seluruh
bagian tanaman terendam air (complete submergence) (Setter et al., 1987b).
Potensi areal terkendala cekaman rendaman untuk dikembangkan menjadi
arel pertanian masih sangat luas, untuk lahan rawa lebak diperkirakan mencapai
13,5 juta hektar yang terdiri (1) Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang
tinggi genangan airnya kurang dari 50 cm selama kurang dari 3 bulan, seluas 4,17
juta hektar. (2) Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yang tinggi genangan
airnya 50- 100 cm selama 3-6 bulan, seluas 6,08 juta hektar. (3) Lahan lebak
dalam adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama
lebih dari 6 bulan, seluas 3,04 juta hektar (Widyaya-Adhi, 1995).
F.

Respon tanaman terhadap perubahan morfologi


Pemanjangan batang (shoot elongation) adalah respon morfologi paling

umum pada tanaman yang tercekam rendaman air (Ookawara et al., 2005). Setter
dan Laureles (1996) melaporkan terdapat korelasi negatif terhadap presentase

hidup dengan kemampuan memanjang. Hal ini disebabkan dalam proses


pemanjangan batang tanaman banyak kehilangan energi.
Pemanjangan batang pada lingkungan cekaman rendaman stagnan
berdampak positif karena batang yang memanjang mengakibatkan daun berada
dipermukaan air sehingga memperoleh sinar matahari, O2 dan CO2 (Setter et al.,
1987b; Setter et al., 1995). Khan et al., (1987) memiliki 14 genotipe padi yang
memiliki kemampuan pemanjangan batang yang berbeda-beda. Hasil penelitian
mereka menunjukkan pemanjangan batang berlangsung cepat pada awal
perendaman dan menurun seiring waktu perendaman.
Hal menarik di temukan oleh Supartopo et al (2008) diantara galur toleran
terhadap cekaman rendaman terhadap perbedaan dalam kemampuan pemanjangan
batang

ketika

terendam,

galur

IR49380-7-1-2-2

memiliki

kemampuan

pemanjangan batang rendah sehingga cocok ditanam di daerah cekaman rendaman


sesaat (pasang surut atau pinggiran sungai), sedangkan IR70213-9-CPA-12-UBN2-1-3-1 memiliki pemanjangan batang yang baik sehingga galur-galur tersebut
dapat dikembangkan di daerah-daerah cekaman rendaman stagnan (rawa lebak).
Data yang diperoleh dari IRRI (IRRI 2008, data belum dipublikasikan)
kehilangan hasil pada varietas IR42 akibat cekaman rendaman stagnan dengan
ketinggian air 40 cm selama 100 hari dapat mencapai 94 %. Malik et al (2004)
penurunan hasil gabah tanaman akibat adanya cekaman rendaman diakibatkan
menurunnya kapasitas wadah (sink), seperti jumlah malai, ukuran malai dan
meningkatnya kehampaan malai.

Klorosis pada daun varietas IR42 yang diberi perlakuan cekaman


rendaman fase bibit selama 6 hari dilaporkan oleh Jakson, et al (1987). Ella dan
Ismail (2006) melaporkan presentase tanaman padi yang hidup berkolerasi dengan
kandungan klorofil a/b daun setelah rendaman. Armstrong dan Armstrong (2005b)
membuktikan dalam penelitiannya bahwa oksigen dapat di regenerasi pada bagian
batang tanaman (alder) melalui fotosintesis. Siangliw et al (2003) melaporkan
adanya korelasi positif antara presentase hidup tanaman padi setelah diberikan
cekaman rendaman delapan hari dengan kemampuan menjaga daun agar tidak
senesen.
G.

Respon fisiologis tanaman terhadap cekaman terendam


Setter et al., (1997) mencatat 17 karakter yang berperan dalam mengontrol

toleransi tanaman padi terhadap cekaman rendaman. Secara garis besar mereka
menyimpulkan tiga hal yang penting dalam respon tanaman padi toleran terhadap
cekaman rendaman, yaitu : a) mempertahankan konsentrasi karbohidrat agar tetap
tinggi sebelum, pada ssaat dan sesudah rendaman, b) meningkatkan laju
fermentasi

alkohol,

c)

mempertakankan

konversi

energi

dengan

cara

memperlambat laju pemanjangan batang.


Kandungan karbohidrat pada tanaman telah lama diketahui menjadi faktor
penting dalam toleransi tanaman terhadap cekaman rendaman (Setter et al.,
1987a). Pada varietas toleran FR13A konversi karbohidrat untuk pemanjangan
batang berjalan lambat sehingga kebutuhan karbohidrat dapat digunakan untuk
tumbuh dan mempertahankan proses fisiologis setelah cekaman rendaman
berakhir (Penning de Vries et al., 1983). Varietas toleran IR42 yang diberi

perlakuan rendaman selama 6 hari pada fase bibit mengalami penurunan


akumulasi bahan kering, penurunan karbohidrat terlarut dalam batang lebih dari
75% (Jakson et al.,1987). Malik et al. (2004) melaporkan terdapat korelasi positif
antara kandungan karbohidrat pada batang dengan hasil gabah tanaman padi yang
hidup pada lingkungan cekaman rendaman 12 hari. Ella dan Ismail (2006)
melaporkan konsentrasi karbohidrat pada batang sebelum rendaman berkorelasi
positif dengan presentase hidup tanaman padi setelah cekaman rendaman.
Akibat cekaman rendaman laju penambahan bobot kering varietas IR42
sebelum dan setelah cekaman rendaman terhenti (Jakson et al., 1987). Terhentinya
pertambahan bobot kering tanaman akibat terhadap produksi fotosintat dari proses
fotosintesis. Fotosintesis terhambat akibat rendahnya ketersediaan CO 2 dan
penetrasi cahaya (Setter et al., 1987a, b).
Cekaman rendaman menyebabkan menyebabkan produksi hormon etilen
dan asam giberelat pada tanaman (Raksin dan Kende, 1984, Setter et al., 1987b).
Hormon etilen menyebabkan degradasi klorofil sehingga daun cepat senesen
(Setter et al., 1987b, Ella et al., 2006). Indek pemanjangan batang yang tinggi
pada tanaman yang tercekam rendaman air akibat distimulasi oleh pembentukan
hormon asam giberelat (Khan et al.,1987).
Interaksi beberapa hormon yang mengatur ketahanan terhadap cekaman
rendaman pada tanaman rumex palustris telah diteliti oleh Voesenek et al (2003).
Selanjutnya dilaporkan bahwa, akumulasi etilen pada bagian petiole yang
terendam merupakan sensor bagi tanaman untuk beradaptasi pada kondisi
lingkungan hidupnya. Ketika terjadi rendaman ada jalur transduksi yang

mengakibatkan menurunnya konsentrasi asam abisik (ABA) endogen, serta


adanya level konsentrasi tertentu bagi auksin dan giberelin sehingga
memungkinkan untuk terjadinya pemanjangan petiole.
Armstrong dan Armstrong (2002) mengamati adanya reaksi kimia reaksi
sulfat menjadi sulfida, pada kondisi yang lama sulfida akan menghambat
pertumbuhan akar. Kekurangan oksigen pada akar juga disebabkan oleh nitrate
yang dibebaskan dari bahan organik yang menghalangi oksigen yang dapat
diserap oleh akar (Krik dan Kronzucker, 2005).
H.

Upaya mengurangi pengaruh kerusakan tanaman padi akibat


terendam
Tanaman padi pada kondisi terendam yang memiliki cadangan pati tinggi

akan lebih mampu bertahan. Cadangan pati yang ada dalam tanaman harus
terlebih dahulu dikonversi menjadi gula sederhana yaitu glukosa dan atau
glukosa-1-P untuk bisa dimanfaatkan dalam glikolisis. Pada kecambah benih yang
diberi perlakuan anoksia, banyak terdapat alpa dan beta-amylase, alpaglukosidase, debranching enzim, dan maltase untuk proses degradasi pati menjadi
glukosa melalui glikolisis. Pada tanaman padi yang terendam : konsentrasi alpaamylase dan pati phosphorilase meningkat.
Pasca terendam, tanaman padi mengalami kondisi normal secara
mendadak, dan dapat menyebabkan kerusakan oksidatif akibat adanya kelompok
O2 reaktif seperti : O2-, H2O2 dan OH-. Kondisi ini menyebabkan terjadinya
kerusakan membran seluler dan organel akibat adanya oksidasi asam pitat tak
jenuh pada membran bilayer lipid, sehingga terjadi kebocoran membran yang

berpengaruh terhadap proses respirasi mitokondria dan fiksasi karbon di


kloroplas. Tanaman padi memiliki mekanisme untuk mengurangi pengaruh
tersebut melalui aktivitas enzim antioksidatif (Katalase (CAT), superoksida
dismutase (SOD), askorbat peroksidase (APX), monodehydroaskorbat reduktase
(MDAR), dehydroascorbate (DHAR), dan glutathione reductase (GR).
Perlu adanya kerjasama antara ahli fisiologi dengan ahli pemuliaan melalui
program pemuliaan mencari varietas yang toleran dengan memiliki karakter
akumulasi karbohidrat tinggi pada bibit, tidak memberikan respon perpanjangan
tajuk berlebihan pada saat terendam, mempunyai gen yang terlihat dalam
fermentasi alkohol, pemahaman komponen genetika dan biokimia akan
bermanfaat untuk mendapatkan kultivar yang memiliki karakter agronomi yang
super. Untuk mendapatkan tanaman yang memiliki karakter tersebut, perlu
dilakukan upaya dengan mencari kultivar lokal yang berpotensi memiliki karakter
tersebut melalui survei langsung ke petani dan melakukan proses skrining.
Disamping upaya pencarian varietas yang memiliki karakter toleran
terhadap hal tersebut diatas, dalam konteks budidaya tanaman perlu dilakukan
penelitian yang berupaya meningkatkan kemampuan tanaman dalam kondisi
tergenang/terendam melalui berbagai teknik agronomi. Kegiatan ini diharapkan
dapat meningkatkan vigor bibit pada saat akan ditanam di lapangan. Oleh karena
itu, proses pembibitan yang optimal sesuai dengan kondisi lahan rawa perlu dicari
dan diteliti. Suwignyo (2003) menyebutkan bahwa vigor bibit padi dapat
ditingkatkan melalui perlakuan khusus. Perlakuan dengan nitrogen dan

phytoregulator dapat mempercepat recovery bibit yang sebelumnya mengalami


perlakuan perendaman (Suwignyo, 2005).
Secara agronomy, perlakuan khusus juga perlu dilakukan mengingat
tingginya muka air dilahan rawa yang kadang-kadang tidak dapat di prediksi.
Waluyo dan Suparta (1992) menyebutkan bahwa petani yang menanam varietas
padi lokal melakukan pembibitan selama 50-90 hari sebelum dipindahkan ke
tempat penanaman, namun demikian produksi padi di lahan rawa lebak optomal
dengan satu kali pembibitan dan dengan periode bibit 35-50 hari. Hasil penelitian
Suwignyo et al (1998) menunjukkan bahwa varietas padi meberikan respon yang
berbeda terhadap perbedaan metode pembibitan tersebut. Varietas Si Putih
menghasilkan pertumbuhan dan produksi tinggi melalui dua kali periode
pembibitan, yaitu 21 hari pembibitan pertama dan 14 hari pembibitan kedua,
sedangkan galur B 5565 menunjukkan hasil yang lebih tinggi dengan sistem
pembibitan tiga tahan dan periode pembibitan 50 hari setelah tanam.

III.
A.

PELAKSANAAN PENELITIAN

Tempat Dan Waktu Penelitian


Percobaan ini direncanakan akan dilaksanakan di Kebun Percobaan

Fakultas Pertanian Universitas Baturaja Kab.OKU SumSel, dimulai pada bulan


Juli 2015 sampai dengan November 2015.
B.

Bahan Dan Alat


Alat yang digunakan seperti hand sprayer, plastik transparan, polibeg 10

kg, terpal, kawat, cangkul, parang, gergaji, paku, palu, bambu, papan, kayu,
meteran, timbangan, oven dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah benih padi Inpara 5, IR64, puuk Urea, SP-36, Kcl, dan tanah
rawa lebak
C.

Metode Penelitian
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap

(RAL) yang disusun secara faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga
ulangan. Tiap unit percobaan terdapat satu rumpun tanaman.
Adapun faktor-faktor yang diteliti terdiri dari :
I.

Varietas (V)
V1 : IR64
V2 : Inpara 5

II.

Perlakuan (N)
N0 : Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N diberikan pada saat tanam.
N1 : Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam

N2 : Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst.
N3 : Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam
N4 : Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk
N diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst.
D.

Data Analisis Statistik


Dalam perhitungan statistik data yang diperoleh dengan menggunakan

daftar analisis keragaman yang terlihat pada tabel 1.


Tabel 1. Daftar analisis keragaman.
Sumber
Derajat
Jumlah
Keragaman
Bebas
Kelompok
k-1=V1
Perlakuan
p-1=V2
- Perendaman
P1=V3
- Varietas
v1=V4
- Interaksi
V2-V3-V4=V5
Galat
V6-V1-V2=V7
Total
V6
Sumber: Hanafiah,2011

Koefisien keragaman (KK) =

Kuadrat
JKK
JKP
JKP
JKV
JKI
JKG
JKT

Kuadrat

F.Hitung

F. Tabel

Tengah
JKK/V1
JKP/V2
JKP/V3
JKV/V4
JKI/V5
JKG/V7

KTK/KTG
KTP/KTG
KTP/KTG
KTV/KTG
KTI/KTG

V1,JKG
V2,JKG
V3,JKG
V4,JKG
V5,JKG

KTG X 100

Keterangan :
KK

= Koefisien Keragaman

KTG = Kuadrat Tengah Galat

= Jumlah Rata-rata
Hasil perlakuan berpengaruh nyata atau tidak nyata dapat diketahui dengan

membandingkan F.hitung dengan F.tabel. Perlakuan dikatakan tidak berpengaruh

nyata bila F hitung lebih kecil dari F tabel 0,05% dan dikatakan berpengaruh
nyata bila Fhitung lebih besar dari F tabel 0,05%.
E.

Cara Kerja Penelitian


1. Persiapan Media
Tanah rawa lebak dibersihkan dari kotoran, dikeringkan, ditumbuk hingga

halus dan diayak dengan ayakan berdiameter 5 mm, kemudian diaduk dan
dimasukkan kedalam polibeg berukuran 10 kg dengan berat masing-masing 10 kg.
didiamkan selama 1 bulan dalam kondisi tanah terendam air.
2. Persiapan benih
Benih varietas Inpara 5 dan IR64 dibersihkan, kemudian benih direndam
dengan aquades selama 24 jam agar air masuk kedalam benih dengan mudah dan
merata. Kemudian diinkubasi selama 3 hari untuk mempertahankan agar benih
tetap hangat, sehingga meningkatkan pertumbuhan lembaga dan menghasilkan
perkecambahan yang seragam.

3. Persemaian
Benih varietas padi yang telah diinkubasi disemai dalam media yang telah
disiapkan. Media yang digunakan yaitu bak plastik berukuran panjang 40 cm,
lebar 30 cm dan tinggi 13 cm yang diisi tanah rawa lebak secukupnya. Benih
disebar dengan merata, kemudian benih ditutup dengan tanah dan dipelihara
selama 18 hari di rumah plastik. Tanah sebelum penelitian diberi perlakuan
pemupukan dasar N, P, K, Si, dan Zn serta pupuk kandang, masing-masing dosis
60, 40, 40, 30 dan 20 kg ha-1 serta 10 ton ha-1 (Suwignyo et al.,2012). Kemudian

bibit padi disemai dan ditutup kembali dengan tanah dan dipelihara selama 18 hari
dirumah plastik.
4. Penanaman
Benih yang telah disemai berumur 21 hari di bak persemaian dicabut dan
ditanam satu bibit tanaman padi pada masing-masing polibeg berukuran 10 kg
dengan media yang telah disiapkan dan telah digenangi lebih kurang 30 hari.
5. Perendaman dengan air keruh
Perlakuan perendaman disesuaikan dengan masing-masing perlakuan,
dengan cara menempatkan polibeg kedalam bak perendaman. Perendaman
dengan air keruh dilakukan seminggu setelah tanam untuk perlakuan N1, N2, N3
dan N4 kemudian dikeluarkan dari bak perendaman setelah direndam dengan air
keruh selama 7 hari. Perendaman dilakukan kembali pada 28 hst untuk perlakuan
N3 dan N4. Sedangkan N0 tanpa perlakuan perendaman. Tinggi air dalam bak 15
cm dari permukaan tanaman.

6. Pemupukan
Media tanam tersebut diberi pupuk dasar

pada awal penanaman untuk

semua perlakuan yaitu Urea 100 kg ha -1, TSP 100 kg ha-1, KCL 100 kg ha-1,
pemberian dengan cara dibenamkan kedalam tanah sedalam 10 cm. Namun untuk
perlakuan dosis pupuk urea pada perlakuan N2 dan N4, pupuk urea diberikan
separuh dosis pada saat tanam, sedangkan sisanya pada saat tanaman berumur 42
hst.
7. Pemeliharaan

Pemeliharaan meliputi kegiatan mempertahankan tinggi air pada bak


perendaman selama perlakuan, kemudian setelah perlakuan perendaman
dilakukan penyiangan setiap satu minggu sekali. Pengendalian hama dan penyakit
dalakukan bila terlihat tanda-tanda serangan.
F.

Pengamatan
Variabel-variabel yang diamati dalam percobaan ini antara lain :
1. Presentase Tanaman Yang Hidup (%)
Presentase bibit hidup dihitung berdasarkan jumlah bibit yang masih hidup

setelah mengalami cekaman rendaman dibagi dengan bibit awal dalam setiap
perlakuan. Bibit mati tidak dihitung, diketahui dengan ciri-ciri daun berwarna
coklat pucat dan tidak ada tahanan akar ketika bibit dicabut dari tanah. Presentase
perhitungan bibit hidup dengan rumus :
% bibit hidup =

Jumlah bibit masih hidup


X 100
Total bibit awal

2. Tinggi Tanaman (cm)


Tinggi tanaman diukur pada saat sebelum perendaman, sesaat perendaman
dan pada akhir penelitian. Tinggi diukur dari pangkal batang sampai ujung tajuk
tertinggi.
3. Berat Kering Tanaman Per rumpun (g)
Berat kering tanaman perumpun dilakukan pada saat sebelum perendaman,
sesaat perendan dan pada akhir penelitian, dengan cara mencabut tanaman lalu
dibersihkan dari kotoran dan dikeringkan pada oven pada suhu 70 0c selama lebih
kurang 48 jam.

4. Jumlah Anakan Produktif (batang/rumpun)


Jumlah anakan dihitung berdasarkan anakan yang dihasilkan malai pada saat
sebelum panen.
5. Umur Berbunga (hst)
Dihitung berdasarkan umur tanaman (hari) dari mulai sebar sampai keluar
bunga untuk setiap perlakuan.
6. Umur Panen (hst)
Dihitung berdasarkan umur tanaman (hari) dari mulai sebar sampai 80 %
dari seluruh populasi dalam satu varietas tanaman telah matang.
7. Jumlah Gabah Total Perumpun (bulir/rumpun)
Malai utama tanaman sampel diambil, kemudian diitung jumlah seluruh
gabah yang berisi maupun yang hampa.

8. Bobot Gabah Per rumpun (g)


Berat gabah perumpun dihitung dengan menimbang gabah bernas setiap
rumpun. Gabah yang akan ditimbang terlebih dahulu dikeringkan sampai kadar air
14% yang diukur dengan moister tester.
9. Presentase Gabah Bernas (%)
Dihitung berdasarkan perbandingan jumlah gabah bernas per rumpun
dengan total semua gabah per rumpun dikali 100 %.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2. Berdasarkan Hasil Analisis keragaman (Uji-F 5%) terhadap semua


peubah yang diamati.
No
1

Peubah yang diamati


Pertumbuhan tanaman
Presentase Tanaman Hidup(%)
Umur Berbunga (hst)
Tinggi Tanaman (cm)
Berat Kering Tanaman (g)
Umur Panen (hst)
Produksi Tanaman

F-Hitung
V

1,3 tn
0,8 tn
0,3 tn
2,7 tn
2,9 *

9,4 *
150,1 *
51,5 *
106,5 *
156,5 *

2,4 tn
0,5 tn
0,3 tn
4,2 *
3,3 *

Jumlah Anakan Produktif (batang/rumpun)


Bobot Gabah Perumpun (g)
Jumlah Gabah Perumpun (bulir/rumpun)
Presentase Gabah Bernas (%)
Keterangan : KK = Koefisien keragaman
N = Perendaman
V = Varietas
* = Nyata
tn = tidak nyata

3,2 *
0,8 tn
1,7 tn
0,3 tn

113,8 *
9,6 *
6,1 *
6,6 *

2,3 tn
0,0 tn
1,5 tn
0,9 tn

Dari hasil analisis keragaman pada tabel diatas, terlihat bahwa kombinasi
perlakuan perendaman (N) untuk peubah presentase tanaman hidup, umur
berbunga, tinggi tanaman, berat kering tanaman, umur panen, bobot gabah
perumpun, jumlah gabah perumpun dan presentase gabah bernas berpengaruh
tidak nyata kecuali peubah jumlah anakan pruduktif berpengaruh nyata. Pada
faktor perlakuan varietas (V) semua peubah yang diamati berpengaruh nyata.
1. Presentase Tanaman Hidup (%)

Presentase Tanaman Hidup (%)

100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan perendaman, varietas


dan interaksi berpenaruh tidak nyata terhadap fase pertumbuhan vegetatif tanaman
padi diberbagai perlakuan perendaman rdengan air keruh dan takaran pupuk.
Perlakuan perendaman pada beapa varietas padi dalam kondisi cekaman terendam
dengan air keruh sangat berpengaruh terhadap presentase tanaman hidup, secara

statistik perlakuan V1N1, V1N2, V2N1, V2N2, V2N3, V2N4 (varietas dan
perendaman dengan air keruh) merupakan perlakuan dengan presentase tanaman
hidup tertinggi dengan rata-rata 100 (%), dan V1N4 (varietas IR64 dan
Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst) merupakan perlakuan
terendah pada presetase tanaman hidup dengan rata-rata 66,7 (%). Kombinasi
perlakuan lama perendaman dengan air keruh dan varietas secara grafik dapat
dilihat pada gambar 1.
Gambar 1.

Presentase tanaman hidup (%) pada masing-masing perlakuan lama


perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat

tanam), N2:

(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman
dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam
sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
2. Umur Berbunga (hst)

100.0
80.0
60.0

Umur Berbunga tanaman (hst)

40.0
20.0
0.0

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh


nyata namun perlakuan perendaman dan interaksi tidak berpengaruh nyata
terhadap umur berbunga, namun secara tabulasi perlakuan V1N0 (IR64 dan tanpa
rendaman) merupakan perlakuan umur berbunga tercepat dengan rata-rata 71,2 hst
diikuti dengan V2N0 (Inpara 5 dan tanpa rendaman) dengan rata-rata 71,3 hst dan
perlakuan V1N3 (IR64 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst)
merupakan perlakuan terendah dengan umur berbunga sangat lama dengan ratarata 96,3 hst umur berbunga lebih lama dibandingkan dengan varietas yang tidak
terendam. Kombinasi perlakuan laama perendaman dengan air keruh dan varietas
secara grafik dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2.

Umur Berbunga (hst) pada masing-masing perlakuan lama


perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat

tanam), N2:

(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman
dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14

hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam
sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
3. Tinggi Tanaman (cm)
120.0
100.0
80.0

Tinggi Tanaman (cm)

60.0
40.0
20.0
0.0
V1N0V2N0V1N1V2N1V1N2V2N2V1N3V2N3V1N4V2N4

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh


nyata namun perlakuan lama perendaman dan interaksi berpengaruh tidak nyata
terhadap tinggi tanaman, namun secara tabulasi perlakuan V2N0 (varietas Inpara
5 dan tanpa perendaman) merupakan tanaman tertinggi dengan rata-rata 109,1 cm
dan perlakuan V1N3 (varietas IR64 dan lama perendaman 7-14 hst kemudian
pada 28-35 hst) merupakan perlakuan terendah dengan tinggi tanaman rata-rata
85,2 cm. Kombinasi perlakuan laama perendaman dengan air keruh dan varietas
secara grafik dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3.

Tinggi Tanaman (cm) pada masing-masing perlakuan lama


perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat

tanam), N2:

(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman

dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam
sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
4. Berat Kering Tanaman Perumpun (g)

Berat Kering Tanaman (g)

120.0
100.0
80.0
60.0
40.0
20.0
0.0

Kombinasi Perkakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan varietas dan interaksi


berpengaruh nyata namun perlakuan perendaman tidak berpengaruh nyata
terhadap berat kering tanaman, namun secara tabulasi perlakuan V1N2 (IR64 dan
lama perendaman 7-14 hst) merupakan berat kering tanaman tertinggi dengan
rata-rata 117,2 g diikuti dengan V1N0 (IR64 dan tanpa perendaman) dengan ratarata 115,7 g dan perlakuan terendah V2N3 (Inpara 5 dan lama perendaman 7-14
hst kemudian pada 28-35 hst) dengan rata-rata 37,5 g. Kombinasi perlakuan laama
perendaman dengan air keruh dan varietas secara grafik dapat dilihat pada gambar
4.
Gambar 4.

Berat Kering Tanaman perumpun (g) pada masing-masing perlakuan


lama perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14

hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat

tanam), N2:

(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman
dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam
sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
5. Umur Panen (hst)
140.0
120.0
100.0
80.0

Umur panen (hst)

60.0
40.0
20.0
0.0
V1N0 V2N0 V1N1 V2N1 V1N2 V2N2 V1N3 V2N3 V1N4 V2N4

Kombinasi Pelakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan perendaman, varietas


dan interaksi berpengaruh nyata terhadap umur panen, namun secara tabulasi
perlakuan V2N0 (Inpara 5 dan tanpa perendaman) merupakan umur panen
tercepat dengan rata-rata 103,3 hst dan perlakuan V2N3 (Inpara 5 dan
perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan umur panen paling
lama dengan rata-rata 131,3 hst. Kombinasi perlakuan laama perendaman dengan
air keruh dan varietas secara grafik dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5.

Umur Panen (hst) pada masing-masing perlakuan lama perendaman


(N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N diberikan pada saat
tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. Semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N2: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam sisanya
diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst
dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat tanam),
N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst)
dan perlakuan varietas (V), V1:(IR64), V2: (Inpara 5).
6. Jumlah Anakan Produktif (batang/rumpun)

Anakan produktif (batang/rumpun)

50.0
40.0
30.0
20.0
10.0
0.0

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dan varietas


berpengaruh nyata namun perlakuan interaksi berpengaruh tidak nyata terhadap
jumlah anakan produktif. Jumlah anakan produktif cenderung menurun
diakibatkan perlakuan rendaman, namun secara tabulasi perlakuan V1N2 (IR64
dan lama perendaman 7-14 hst) merupakan perlakuan jumlah anakan tertinggi
dengan rata-rata 40,8 (batang/rumpun) dan perlakuan terendah V2N3 (Inpara 5
dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) dengan rata-rata jumlah

anakan 18,2 (batang/rumpun). Kombinasi perlakuan laama perendaman dengan


air keruh dan varietas secara grafik dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 6.

Jumlah Anakan Produktif (batang/rumpun) pada masing-masing


perlakuan lama perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat tanam),
N2: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3:
(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat
tanam sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
7. Bobot Gabah Perumpun (g)
100.0
80.0
60.0

Bobot Gabah Perumpun (g)

40.0
20.0
0.0

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh


nyata namun perlakuan perendaman dan interaksi berpengaruh tidak nyata
terhadap bobot gabah perumpun, namun secara tabulasi perlakuan V1N2 (IR64
dan perendaman 7-14 hst) merupakan berat bobot gabah perumpun tertinggi
dengan rata-rata 88,6 g dan V2N3 (Inpara 5 dan perendaman 7-14 hst kemudian

pada 28-35 hst) merupakan bobot gabah perumpun terendah dengan rata-rata 58,3
g. Kombinasi perlakuan laama perendaman dengan air keruh dan varietas secara
grafik dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7.

Bobot Gabah Perumpun (g) pada masing-masing perlakuan lama


perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat

tanam), N2:

(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan
pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman
dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14
hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam
sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
8. Jumlah Gabah Total Perumpun (butir/rumpun)
5000.0
4000.0
3000.0

Jumlah Gabah Total Perumpun (bulir/rumpun)

2000.0
1000.0
0.0

Kombinasi Perlakuan N.V

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh


nyata namun perlakuan perendaman dan interaksi tidak berpengaruh nyata
terhadap jumlah gabah total perumpun. Namun secara tabulasi perlakuan V1N0
(IR64 dan tanpa perendaman) merupakan jumlah gabah total perumpun tertinggi

dengan rata-rata 4556,0 (bulir/rumpun) dan V2N3 (Inpara 5 dan perendaman 7-14
hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan perlakuan terendah dengan rata-rata
gabah perumpun 2542,7 (bulir/rumpun). Kombinasi perlakuan laama perendaman
dengan air keruh dan varietas secara grafik dapat dilihat pada gambar 8.
Gambar 8.

Jumlah Gabah Total Perumpun (butir/rumpun) pada masing-masing


perlakuan lama perendaman (N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N1: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat tanam),
N2: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst), N3:
(Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. Semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N4: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat
tanam sisanya diberikan pada 42 hst) dan perlakuan varietas (V), V1:
(IR64), V2: (Inpara 5).
9. Presentase Gabah Bernas (%)

Hasil

analisis

keragaman

menunjukkan

bahwa

perlakuan

varietas

berpengaruh nyata namun perlakuan perendaman dan interaksi berpengaruh tidak


nyata terhadap presentase gabah bernas. Namun secara tabulasi perlakuan V1N2
(IR64 dan perendaman 7-14 hst) merupakan jumlah presentase gabah bernas
tertinggi dengan rata-rata 93,2 % diikudi dengan V1N0 (IR64 dan tanpa
perendaman) dengan rata-rata 93,0 % dan V2N3 (Inpara 5 dan perendaman 7-14
hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan perlakuan terendah dengan rata-rata
presentase gabah bernas 89,2 %. Perlakuan perendaman yang hasilnya cenderung
menurun dibanding dengan varietas yang tidak terendam. Kombinasi perlakuan

laama perendaman dengan air keruh dan varietas secara grafik dapat dilihat pada
gambar 9.
94.0
93.0
92.0
91.0

Presntase Gabah Bernas (%) 90.0


89.0
88.0
87.0

Kombinasi Perlakuan N.V


Gambar 9.

Presentase

Gabah Bernas (%) pada masing-masing perlakuan lama perendaman


(N), N0: (Tanpa rendaman, semua dosis pupuk N diberikan pada saat
tanam), N1: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst. Semua dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam), N2: (Perendaman dengan air
keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N diberikan pada saat tanam sisanya
diberikan pada 42 hst), N3: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst
dan 28-35 hst. Semua dosis pupuk N diberikan pada saat tanam),
N4: (Perendaman dengan air keruh 7-14 hst dan 28-35 hst. 1/2 dosis
pupuk N diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst)
dan perlakuan varietas (V), V1:(IR64), V2: (Inpara 5).
Pada peubah presentase tanaman hidup secara statistik perlakuan V1N1,
V1N2, V2N1, V2N2 (varietas dan perendaman dengan air keruh 7-14 hst) dan
V2N3, V2N4 (varietas dan perendaman dengan air keruh 7-14 kemudian pada 28-

35 hst) merupakan perlakuan dengan presentase tanaman hidup tertinggi dengan


rata-rata 100%, pada perlakuan V1N3 (varietas IR64 dan perendaman dengan air
keruh 7-14 hst kemudian 28-35 hst) cenderung memiliki presentase tanaman
hidup yang tinggi yaitu dengan rata-rata 83,3% mempunyai ketahanan terhadap
kerusakan daun dan lebih cepat pulih (recovery) lebih besar dari cekaman
terendam (Ikhwani et al. 2010). Meskipun padi merupakan tanaman yang dapat
beradaptasi pada kondisi tanah yang airnya berlebih, namun secara umum padi
akan mati jika seluruh bagian tanamannya terendam selama seminggu (Ito et al.,
1999).
Pada parameter umur berbunga perlakuan V2NO (Inpara 5 dan tanpa
perendaman) merupakan perlakuan umur berbunga tercepat dengan rata-rata 71,2
hst, perlakuan V1N3 (IR64 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst)
merupakan umur berbunga paling lama dengan rata-rata 96,3 hst. Parameter umur
panen perlakuan V2N0 (Inpara 5 dan tanpa perendaman) merupakan umur panen
tercepat dengan rata-rata 103,3 hst, perlakuan V1N4 (IR64 dan perendaman 7-14
hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan umur panen paling lama dengan ratarata 132,0 hst. Terlambatnya umur berbunga dan umur panen tanaman padi akibat
terendan merupakan aspek negatif lainnya dari pengaruh cekaman rendaman
(Makarim et al., 2009). Keterlambatan umur berbunga dan umur panen tanaman
pada cekaman terendam dapat terlihat 6-10 hari dibanding dengan tanaman yang
tidak mengalami cekaman rendaman.
Perlakuan tinggi tanaman V2N0 (Inpara 5 dan tanpa perendaman)
merupakan perlakuan tertinggi dengan rata-rata 109,1 cm, perlakuan V1N3 (IR64

dan perendaman dengan air keruh 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan
perlakuan terendan dengan rata-rata 85,2 cm. Pertumbuhan tanaman terhambat
karena tanaman kekurangan O2, CO2 pada saat proses fotosintesis dan respirasi
(Jakson and Ram, 2003) hal tersebut dikarenakan difusi gas di air lebih lambat 10 4
kali dibanding dengan di udara (Armstrong dan Drew, 2002) dan rendahnya
penetrasi cahaya yang dapat diterima oleh tanaman (Pierik et al., 2005). Meskipun
sejumlah gas seperti O2, CO2 diproduksi oleh bagian tertentu tanaman saat
tercekam rendaman, namun kondisi gas oleh tanaman menurun karena laju difusi
yang rendah (Setter et al.,1987a).
Perlakuan berat kering tanaman V1N2 (IR64 dan perendaman 7-14 hst)
merupakan perlakuan tertinggi dengan rata-rata 117,2g sedangkan perlakuan
V2N3 (Inpara 5 dan peredaman 7-14 hst kemudian 28-35 hst) merupakan
perlakuan terendah dengan rata-rata 37,5g. Hal ini dipengaruhi karena jumlah
anakan dan serapan unsur hara selama terendam menjadi berkurang. Rendahnya
bobot kering tanaman akibat terhadap produksi fotosintat dari proses fotosintesis.
Fotosintesis terhambat akibat rendahnya ketersediaan CO2 dan penetrasi cahaya
(Setter et al., 1987a,b).
Jumlah anakan produktif salah satu komponen hasil, tetapi jumlah anakan
produktif yang tinggi belum tentu mencerminkan hasil gabah yang diperoleh
tinggi pula. Jumlah anakan yang tinggi pada perlakuan V1N2 (IR64 dan
perendaman 7-14 hst) dengan rata-rata 40,8 (batang/perumpun), perlakuan V2N3
(Inpara 5 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan jumlah
anakan terendah dengan rata-rata 18,2 (batang/perumpun). Varietas Inpara 5 yang

memiliki gen yang mampu membentuk sink, yaitu anakan produktif, ukuran malai
dan jumlah gabah isi lebih baik (Mallik et al. 2004). Hasil penelitian (Makarim et
al., 2009), menunjukkan bahwa varietas IR64 yang mengalami cekaman terendam
banyak rumpun yang mati, namun pada rumpun yang masih hidup
pertumbuhannya sangat baik dengan jumlah anakan yang banyak, lebih banyak
dari pada tanaman yang tidak terendam. Hendransyah (2001), mengemukakan
bahwa rendaman terjadi lebih lama (5-7 hari) dapat menyebabkan terjadinya
penurunan jumlah anakan dan laju pertambahan jumlah anakan.
Parameter produksi secara tabulasi perlakuan V1N2 (IR64 dan perendaman
7-14 hst) merupakan perlakuan tertinggi dengan berat gabah perumpun 88,6g,
namun perlakuan V2N3 (Inpara 5 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35
hst) merupakan berat gabah terendah dengan rata-rata 58,3g. Perlakuan V1N2
(IR64 dan perendaman 7-14 hst) merupakan perlakuan tertinggi dengan jumlah
gabah perumpun rata-rata 4556,0 (butir/rumpun), namun perlakuan V2N3 (Inpara
5 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan berat gabah
terendah dengan rata-rata 2542,7 (butir/perumpun), hal ini juga terlihat pada
peubah presentase gabah bernas perlakuan V1N2 (IR64 dan perendaman 7-14 hst)
merupakan perlakuan tertinggi dengan rata-rata 93,2%, namun perlakuan V2N3
(Inpara 5 dan perendaman 7-14 hst kemudian pada 28-35 hst) merupakan berat
gabah terendah dengan rata-rata 89,2%. Penurunan hasil gabah tanaman akibat
adanya cekaman rendaman karena menurunnya kapasitas wadah (sink), seperti
jumlah malai, ukuran malai, presentase gabah isi malai, dan meningkatnya

kehampaan isi malai (Malik et al., 2004). Cekaman rendaman berpengaruh


terhadap terhadap hasil biji sejumlah tanaman serelia (Setter dan Waters, 2003).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Interaksi antara varietas dan perlakuan perendaman dengan air keruh
V1N2 (IR64 dan perendaman 7-14 hst) memberikan pengaruh tertinggi
terhadap produksi tanaman seperti berat kering tanaman, umur panen.
2. Perlakuan N2 (perendaman dengan air keruh 7-14 hst. 1/2 dosis pupuk N
diberikan pada saat tanam sisanya diberikan pada 42 hst) merupakan
perlakuan terbaik pada berat kering tanaman, jumlah anakan produktif,
berat kering gabah perumpun, jumlah gabah perumpun, presentase
gabah bernas.
3. Perlakuan Varietas Inpara 5 menunjukkan varietas lebih toleran
terhadap cekaman rendaman di berbagai peubah yang diamati seperti
presentase tanaman hidup, tinggi tanaman, umur panen.

B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan hasil yang telah diperoleh,
maka saran yang diajukan:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji beberapa varietas
IR64 dan Inpara 5
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang cekaman terendam
dengan air keruh serta takaran pupuk N.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Alihamsyah, T, 2005. Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian.
Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.
Alkasuma, Suparto, dan G. Irianto. 2003. Idenetifikasi dan karakterisasi lahan
rawa lebak untuk pengenbangan padi sawah dalam rangka antisipasi
dampak El-Nino. Dalam F.
Anonim, 2010a. Padi tanaman pokok manusia. http://www.e-smartscool.com/
diakses pada mei 2015
Anonim, 2010b. Deskripsi Botani Tanaman Padi. http://www.distan.pemdadiy.go.id/ Yogyakarta (online), diakses mei 2015
Amurullah, Andi. 2008. Budidaya padi. http://amiere.multiply.com. Makasar (on
line), diakses tanggal 22 Agustus 2015, 10:00
Armstrong, W. and M. C. Drew. 2002. Root growh and metabolism under oxygen
definiciency. In : Waisel Y, Eshel and Kafkafi U, eds. Plant Roots : the
Hidden Half, 3rd edn. New York: Marcel Dekker, 729-761.
Armstrong W, Armstrong J. 2005b. Stem photosynthesis not pressurised
ventilation is responsible for light-enhanced oxygen supply to submerged
roots of alder (Alnus glutinosa). Annals of Botany 96:591-612.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2009. Deskripsi Varietas Tanaman Padi.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Departemen
Pertanian.Sukamandi.
Balai Informasi Pertanian. 2006. Produksi tanaman padi
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2010. Indonesia climate change
sectoral roadmap (ICCSR) sektor pertanian.
Balai Penelitian Rawa. 2008. Peningkatatan produktivitas lahan melalui
penanaman
paditoleran
rendaman
dan
kekeringan.
http://balittra.litbang.deptan.go.id
CGIAR (Consultative Group on International Agriculture Research). 2006.
Intensified Research Effort Yields Climate-Resilient Agriculture To Blunt
Impact of Global Warming, Prevent Widespread Hunger. Heat-tolerant
Wheat, Flood-proof Rice, Satellites for Carbon Trading Among New
Technologies. Press release.pp4.
Cresser. 2008. The effect to global change on agriculture. Amirican-Eurasian J.
Agric. & Env. Sci. 3(5):672-678.

Das, K.K., R.K. Sarkar, and A.M. Ismail. 2005. Elongation ability dan nonstructural carbohydrate levels in relation to submergence tolerance in rice.
Plant Sci. 168:131-136.
Departemen pertanian. 2003. Panduan sistem karakterisai dan evaluasi tanaman
padi. Badan penelitian dan pengembangan pertanian. Komisi Nasional
Plasma
Nutfah.
[terhubung
berkala].
http://indoplasma.or.id/publikasi/pdf/guidebook_pd.pdf.[22 Agustus 2015]
Djafar, Z. R. 1992. Potensi lahan lebak untuk pencapaian dan pelestarian
swasembada pangan. Prosiding Seminar Nasional: Pemanfaatan Potensi
Lahan Rawa untuk Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan.
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Palembang.
Dody. 2002. Hasil Penelitian. Perbedaan Takaran Pupuk Nitrogen Terhadap Fase
Vegetatif Tanaman Padi
Ehara, H., O. Morita, M. Noda, and N. Watanabe. 1996. High Nitrogen treatment
prior to transplating for low-input rice cultivation. Proceeding of the
international symposium on maximizing sustainable rice yield through
improved soil and environmental management. Charoen Thani Princess
Hotel, Khon Kaen Thailand, November 11-17 1996.
Ella, E.S. and A.M. Ismail. 2006. Seedling nutrient status before submergence
affects survival after submergence in rice. Crop Sci 46:1673-1681.
Grigg, B.C., C.A.Beyrouty, R.J. Norman, E.E. Gbur, M.G. Hanson, and B.R.
Wells. 2000. Rice responses to changes in flood water and N timing in
southern USA. Field Crop Research 66:73-79.
Hendransyah. 2001. Faktor rendaman yang lama dapat terjadinya peenurunkan
jumlah anakan padi
IRRI. 2007. Responding to the needs of rice in submergence-prone areas. Sub 1
news 1 (1):2
Ismail, Abdelbagi M., G. Vergara and David J. Mackill. 2008. Toward Enhanced
and Sustained Rice Productivity in Flood-Prone Areas of South and
Southeast Asia. Seminar Pekan Padi Nasional III. Balai Besar Penelitian
Tanaman Padi. Sukamandi 22-24 Juli 2008.
Ito, O., E. Ella, and N. Kawano. 1999. Physiological basis of submergence
tolerance in rainfed lowland rice ecosystem. Field Crops Res 64:75-90
Jakson, M. B, and P. C. Ram. 2003. Physiological dan molecural basis of
susceptibility dan tolerance of rice plants to complete submargence. Ann
Bot 91:227-241.

Jakson M. B. 2004. The impact of flooding stress on plants and crops.


http://www.plantstress.com/articles/waterlogging_i/waterlog_i.html
Jackson, M.B., I. Waters, T. Setter, and H. Greenway. 1987. Injury to rice plants
caused by complete submergence: A contribution of ethylene (ethane). J.
Exp. Bot. 38:18261838.
Kamandalu AANB. 2005. Uji multilokasi galur harapan tanaman padi. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian, Bali.
Kirk GJD, Kronzucker HJ. 2005. The potential for nitrification and nitrate uptake
in the rhizosphere of wetland plants: a modelling study. Annals of Botany
96: 639-646
Lee T. and Y Lin. 1996. Peroxidase activity in relation to ethylene-induced
rice(Oryza sativa L.) coleoptile elongation. Bot. Bull. Acad. Sin. 37:239245.
Makarim, A. K. dan E. Suhartatik. 2006. Budidaya padi dengan memasukkan
insitu menuju perpadian masa depan. Dalam Sumarmo (eds). Iptek
tanaman pangan. Vol 1 (1). Juli 2006. Pusat penelitian dan pengembangan
tanaman pangan. Bogor.
Mallik, S., S.N. Sen, S.D. Chatterjee, S. Nandi, A. Dutta, and S. Sarkarung. 2004.
Sink improvement for deep water rice. Curr Sci. 87 (8):1042-1043.
Munandar dan A. Wijaya. 1996. Toleransi terhadap genangan pada fase vegetatif
beberapa varietas lokal padi lebak. Proseding Seminar Ilmiah Bidang Ilmu
Pertanian. Dies Natalis Universitas Sriwijaya ke-36. Fakultas Pertanian
Unsri, Inderalaya Oktober 1996.
Ngudiantoro. 2010. Pemodelan fluktuasi muka air tanah pada lahan rawa pasang
surut tipe C/D: Kasus di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Sains
13(3):12-18
Ookawara R, Satoh S, Yoshioka T, Ishizawa K. 2005. Expression of expansin and
xyloglucan endotransglucosylase/hydrolase genes associated with shoot
elongation enhanced by anoxia, ethylene and carbon dioxide in arrowhead
(sagittaria pigmaea miq.) tubers. Annals of Botany 96: 693-702.
Pierik, R., F. F. Millenaar, A. J. M. Peeters, and L. A. C. J. Voesenek. 2005. New
perspectives in flooding research: the useof shade avoidance and
arabidopsis thaliana. Ann bot 96: 533-540.
Reddy, M. D., and B, N., Mittra. 1985. Effect of complete plant submergence on
vegetative growth, grain yield, and some biochemical changes in rice
plants. Plant Soil.87:365-374.

Septiningsih. E M.. A. M. Pamplon. D. L Sanchhes. C. N. Neeraja. G. N. Neeraja.


G. V. Vergara. S. Heuer. A. M. Ismail and D. J. Mackil. 2009 Development
of submergence toleran rice cultivars: the sub 1 locus and beyond. Annals
of Botany. 103:151-160.
Setter, T.L., I. Waters, B.J. Atwell, T. kupkanchanakul, and H. Greenway. 1987a.
carbohydrate status of terrestrial plants during flooding. In: Crawford,
R.M.M. (Ed.), Plant Life in Aquatic dan Amphibious Habitats. Special
Publication No.5 British Ecological Society. Blackwell Scientific
Publications, Oxford, pp. 411-433.
Setter, TL, I. Waters. 2003. Review of prospects for germpasm improvement for
waterlogging tolerance in wheat, barley and oats. Plant and Soil 253: 1-34.
Setter, T.L., K.T. Ingram, and T.P. Tuong. 1995. Environmental characterisation
requirements for strategic research in rice grown under adverce conditions
of drought, flooding, or salinity. In: Ingram, K.T. (Ed.), Rainfed Lowland
Rice Agricultural Research For High-risk Environments. International
Rice Research Institute, Manila, Philippines, pp.3-18.
Singliw, M., T. Toojinda, S. Tragoonrung, and A. Vanavichit. 2003. Thai jasmine
rice carryng QTLch9 (subQTL) is submergence tolerant. Annals of Botany
91: 255-261.
Suswono. 2010. Produksi padi tahun 2010 (Aram III) diperkirakan meningkat
2,46 persen. http://www.deptan.go.id. [25 Oktober 2015)
Suwignyo, R.A., A. Wijaya, H. Sihombing, Gribaldi. 2012. Modifikasi aplikasi
unsur hara untuk perbaikan vigorasi bibit padi dalam cekaman terendam.
Jurnal Lahan Suboptimal 1(1):1-11.
Suwignyo, R.A. 2005. Pemercepatan pertumbuhan kembali bibit padi pasca
terendam setelah mendapat perlakuan Plant Phytoregulator dan
Nitrogen. Jurnal Tanaman Tropika 8(2):45-52.
Suwignyo, R.A., Farida Zulvica dan Hendryansyah. 2008a. Adaptasi Teknologi
Produksi Padi di Lahan Rawa Lebak Melalui Pengaturan Aplikasi Pupuk
Nitrogen. Seminar Pekan Padi Nasional III. Sukamandi 22-24 Juli 2008.
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi tumbuhan (spermatophyta). Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Voesenek LACJ, Benschop JJ, Bou J, Cox MCH, Groeneveld HW, Millenaar FF,
Vreeburg RAM, Peeters AJM. 2003. Interactions between plant hormones
regulate submergence-induced shoot elongation in the flooding-tolerant
dicot Rumex palustris. Annals of Botany 91: 205-211.

Waluyo, Suparwoto, dan Sudaryanto. 2008. Fluktuasi genangan air lahan rawa
lebak dan manfaatnya bagi bidang pertanian di ogan komering ilir. Jurnal
Hidrosfir Indonesia 3(2): 57-66.
Widjaja Adhi, D.A. Suriadikarta, M.T. Sutriadi, IGM. Subiksa, dan I.W. Suastika.
2000. Pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan lahan rawa. Di
dalam A. Adimihardjo et al. (eds.). Sumber Daya Lahan Indoensia dan
Pengelolaannya. Bogor : Puslittanak. hal. 127-164.
Widjadja-Adhi, IPG., N. P. S. Ratmini., dan I. W. Swastika. 1997. Pengelolaan
tanah dan air. Bapan penelitian pengembangan pertanian.
Widjadja-Adhi, IPG. 1995. Potensi Peluang dan Kendala Perluasan Areal
Pertanian Lahan Rawa Kalimantan dan Irian Jaya. Makalah disampaikan
dalam Seminar Perluasan Areal Pertanian di KTI. Serpong 7-8 November
1995.

Pembuatan Rumah Plastik

Pembuatan Bak Perendaman

Persiapan Media Tanam

Perendaman Media Tanaam

Persiapan benih

penanaman

Perendaman

Pengangkatan Rendaman

Pemeliharaan

Pengolahan Data

Pengamatan

Jenis Kegiatan

No
Agustus

Oktober

November

Desember

2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

September

1 2 3 4 1 2 3 4 1

Juli

Wantu Pelaksanaan

Lampiran 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Lampiran 2. Denah Penelitian

Keterangan

V2N1 III

V1N0 I

V2N0 III

V2N2 I

V1N2 I

V1N3 I

V1N3 III

V2N4 II

V1N1 II

V2N1 II

V1N2 III

V1N1 III

V2N4 I

V1N1 I

V2N0 I

V1N4 III

V2N3 III

V1N4 II

V2N3 I

V2N3 II

V1N0 II

V2N2II

V2N4 III

V1N0 III

V2N1 I

VIN3 II

V2N0 II

V2N2 III

V1N2 II

V1N4 I

:
N
V
0,1,2,3,4
I,II,III

: Perendaman
: Varietas
: Perlakuan
: Ulangan

Lampiran 3. Deskripsi Varietas Padi IR64

Nama Varietas
Kategori
SK
Tahun
Tetua
Rataan Hasil
no.seleksi
golongan
umur panen

:
:
:
:
:
:
:
:
:

IR64
Padi introduksi
449/Kpts/TP.240/07/1986
1986
Persilangan IR5657/IR2061
Kurang lebih 5,0 t/ha gabah kering
IR18348-36-3-3
Cere kadang-kadang berbulu
115 hari

bentuk tanaman
tinggi tanaman
anakan produktif
warna kaki
warna batang
warna daun
muka daun
posisi daun
daun bendera
bentuk gabah
warna gabah
kerontokan
kerebahan
rasa nasi
bobot 1000 butir
kadar amilosa
Rata-rata hasil
Potensi hasil
ketahanan terhadap hama

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

ketahanan terhadap penyakit :


Anjuran tanam

Tegak
85 cm
Banyak
Hijau
Hijau
Hijau
Kasar
Tegak
Tegak
Ramping, panjang
Kuning bersih
Tahan
Tahan
Enak
27g
24,1 %
5,0 t/ha
6,0 t/ha
Tahan wereng coklat biotipe dan wereng
hijau
Agak tahan bakteri hawar daun, tahan virus
kerdil rumput
Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran
rendah sampai sedang

Lampiran 4. Deskripsi Varietas Inpara 5

Nama varietas
Asal seleksi
Pemulia
Tahun dilepas
Umur panen
Bentuk tanaman
Tinggi tanaman
Anakan produktif
Warna kaki

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Inpara 5
Introduksi dari IRRI
D.J. Mackill dkk
2010
115 hari
Tegak
92 cm
18 batang
Hijau

Warna batang
:
Warna telinga daun
:
Warna daun
:
Muka daun
:
Posisi daun
:
Leher malai
:
Bentuk gabah
:
Warna gabah
:
Kerontokan
:
Kerebahan
:
Tekstur nasi
:
Jumlah gabah permalai
:
Kadar amilosa
:
Berat 1000 butir
:
Rata-rata hasil
:
Potensi hasil
:
Ketahanan terhadap Hama :
Toleran cekaman
:
Anjuran tanam

Hijau
Tidak berwarna
Hijau
Kasar
Tegak
Sedang
Ramping
Kuning
Sedang
Sedang
Sedang
102 butir
25 %
25 g
4,45 t/ha
7,2 t/ha
Agak tahan WCK Biotipe 3
Toleran terendam selama 14 hari pada fase
vegetatif
Baik ditanam di daerah rawa lebak dangkal
dan sawah rawan banjir.

Lampiran 5. Pengolahan Data Penelitian


A. Presentase tanaman hidup (%)
1. Tabel pengolahan data
Ulangan
Perlakuan
I
II
VIN0
100,0
100,0
V2N0
100,0
100,0
V1N1
100,0
100,0
V2N1
100,0
100,0
V1N2
100,0
100,0
V2N2
100,0
100,0

III
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0

Jumlah

Rata-rata

300,0
300,0
300,0
300,0
300,0
300,0

100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0

V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah

50,0
100,0
50,0
100,0
900,0

100,0
100,0
50,0
100,0
950,0

100,0
100,0
100,0
100,0
1000,0

250,0
300,0
200,0
300,0
2850,0

83,3
100,0
66,7
100,0
95,0

2. Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


a. FK : 270750,0
Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V

Varietas
V1
V2
300,0
300,0
300,0
300,0
300,0
300,0
250,0
300,0
200,0
300,0
1350,
0
1500,0
90,0
100,0

T.R

.R

600,0
600,0
600,0
550,0
500,0

100,0
100,0
100,0
91,7
83,3

2850,0
95,0

b. Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


SK

DB

JK

KT

F-Hitung

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

1
9
4
1
4
20
29

500,0
3416,7
750,0
1333,3
1333,3
2833,3
6750,0

500,0
379,6
187,5
1333,3
333,3
141,7

3,5 *
2,7 *
1,3 tn
9,4 *
2,4 tn

KK
12,5 %
3. Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
t-(tabel)
S
0,05
Interaksi
11,9
2,1
P Perendaman
3,8
2,1
P varietas
4,9
2,1

F-Tabel
5%
1,1
2,4
2,9
4,4
2,9

BNT.
0,05
24,8
7,9
10,1

Hasil Uji BNT (5%)


Perlakuan

Rata-rata

V1N0

100,0

BNT 5%
24,8
V1N4
66,7

91,5 a

V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4

100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
83,3
100,0
66,7
100,0

Perendaman

Rata-rata

N0
N1
N2
N3
N4

100,0
100,0
100,0
91,7
83,3

Varietas

Rata-rata

V1
V2

90,0
100

V1N3
V1N0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V2N3
V2N4

83,3
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0

108,2 ab
124,8 bc
124,8 b
124,8 b
124,8 b
124,8 b
124,8 b
124,8 b
124,8 b

83,3
91,7
100,0
100,0
100,0

91,2 a
99,52 ab
107,85 bc
107,85 bcd
107,85 bcde

BNT 5%
7,85
N4
N3
N0
N1
N2
BNT 5%
10,1
V1
V2

90
100

100,1 a
110,1 ab

Jumlah

Rata-rata

214,0
213,5
240,5
232,5
238,5
234,0

71,3
71,2
80,2
77,5
79,5
78,0

B. Umur berbunga tanaman (hst)


1. Tabel pengolahan Data
Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2

I
71,5
71,0
78,5
76,5
78,0
78,0

Ulangan
II
72,0
71,0
81,5
77,5
78,5
76,0

III
70,5
71,5
80,5
78,5
82,0
80,0

V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah

97,0
89,0
90,0
86,0
815,5

100,0
86,5
92,0
91,0
826,0

92,0
106,0
102,5
88,5
852,0

289,0
281,5
284,5
265,5
2493,5

T.R

.R

427,5
473,0
472,5
570,5
550,0
2493,5

71,3
78,8
78,8
95,1
91,7

96,3
93,8
94,8
88,5
83,1

2. Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


a. FK
207251,4
Varietas

Perendaman

V1
214,0
240,5
238,5
289,0
284,5
1266,5
84,4

N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V

V2
213,5
232,5
234,0
281,5
265,5
1227,0
81,8

83,1

b. Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK
Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

70,6
2450,8
52,0
2367,2
31,6
315,4
2836,8

70,6
272,3
13,0
2367,2
7,9
15,8

4,5 *
17,3 *
0,8 tn
150,1 *
0,5 tn

KK

4,8 %

3.

Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)


t-(tabel)
BNT.
S
0,05
0,05
Interaksi
4,0
2,1
8,3
P Perendaman
1,3
2,1
2,6
P varietas
1,6
2,1
3,4
Hasil Uji BNT (5%)
Perlakuan

Rata-rata

BNT 5%
8,3

F-Tabel
5%
1,3
2,4
2,9
4,4
2,9

V1N0

71,3

V2N0

71,2

V1N1

80,2

V2N1

77,5

V1N2

79,5

V2N2

78,0

V1N3

96,3

V2N3

93,8

V1N4

94,8

V2N4

88,5

Perendaman

Rata-rata

N0
N1
N2
N3
N4

71,3
78,8
78,8
95,1
91,7

Varietas

Rata-rata

V1
V2

84,4
82

V2N
0
V1N
0
V2N
1
V2N
2
V1N
2
V1N
1
V2N
4
V2N
3
V1N
4
V1N
3

Tabel pengolahan data

79,5

71,3

79,6

77,5

85,8

78,0

86,3

79,5

87,8

80,2

88,5

88,5

96,8

93,8

102,1

94,8

103,1

96,3

104,6

71,3
78,8
78,8
91,7
95,1

73,9
81,45
81,37
94,29
97,70

BNT 5%
2,62
N0
N1
N2
N4
N3
BNT 5%
3,4

C. Tinggi tanaman akhir penelitian (cm)


1.

71,2

V2
V1

81,8
84,43333

85,2 a
87,8 ab

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V

Jumlah

Rata-rata

320,9
327,3
310,5
306,5
312,5
322,5
255,5
272,0
298,0
303,0
3028,6

107,0
109,1
103,5
102,2
104,2
107,5
85,2
90,7
99,3
101,0
101,0

Varietas
V1
320,9
310,5
312,5
255,5
298,0
1497,4
99,8

V2
327,3
306,5
322,5
272,0
303,0
1531,3
102,1

T.R

.R

648,1
617,0
635,0
527,5
601,0
3028,6

108,0
102,8
105,8
87,9
100,2
101,0

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

3.

III
103,5
110,0
102,5
103,0
100,5
109,0
90,5
76,0
90,0
106,5
991,5

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
305747,3

Perendaman

b.

I
107,1
109,3
105,0
99,5
106,5
109,5
83,0
100,0
104,0
98,0
1021,9

Ulangan
II
110,3
108,0
103,0
104,0
105,5
104,0
82,0
96,0
104,0
98,5
1015,3

Db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

51,0
1562,6
38,3
1486,9
37,4
577,7
2191,3

51,0
173,6
9,6
1486,9
9,3
28,9

1,8 *
6,0 *
0,3 tn
51,5 *
0,3 tn

KK : 5,3 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
t-(tabel)
BNT.
S
0,05
0,05

F-Tabel
5%
1,4
2,4
2,9
4,4
2,9

Interaksi
P Perendaman
P varietas

5,4
1,7
2,2

2,1
2,1
2,1

Perlakuan

Rata-rata

BNT 5%
11,2

V1N0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4

107,0
109,1
103,5
102,2
104,2
107,5
85,2
90,7
99,3
101,0

Perendaman

Rata-rata

N0

11,2
3,5
4,6

Hasil Uji BNT (5%)

V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
V2N1
V1N1
V1N2
V1N0
V2N2
V2N0

85,2
90,7
99,3
101,0
102,2
103,5
104,2
107,0
107,5
109,1

96,4
101,9
110,5
112,2
113,4
114,7
115,4
118,2
118,7
120,3

108,0

N3

87,9

N1

102,8

N4

100,2

N2

105,8

N1

102,8

N3

87,9

N2

105,8

N4

100,2

N0

108,0

91,5
103,7
1
106,3
8
109,3
8
111,56

Varietas

Rata-rata

V1
V2

99,8
102

V2
V1

101,7
100,3

106,2
104,8

BNT 5%
3,55

BNT 5%
4,6

D. Berat kering tanaman (g)

1.

Tabel pengolahan data

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

I
104,5
91,8
55,8
64,5
116,0
88,0
38,5
26,4
56,1
38,1
679,7

Ulangan
II
115,2
82,3
76,5
111,8
138,8
79,0
44,9
39,5
67,2
39,4
794,5

III
127,6
83,8
84,3
83,8
96,8
64,4
54,1
46,6
51,1
60,8
753,2

Jumlah

Rata-rata

347,2
257,9
216,6
260,1
351,7
231,3
137,4
112,5
174,3
138,4
2227,4

115,7
86,0
72,2
86,7
117,2
77,1
45,8
37,5
58,1
46,1
74,2

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
165374,8

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V
b.

V1
347,2
216,6
351,7
137,4
174,3
1227,2
81,8

V2
257,9
260,1
231,3
112,5
138,4
1000,2
66,7

T.R

.R

605,2
476,7
583,0
249,9
312,7
2227,4

100,9
79,4
97,2
41,6
52,1
74,2

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

3.

Varietas

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

675,8
21259,6
1718,0
16882,8
2658,8
3169,4
25104,9

675,8
2362,2
429,5
16882,8
664,7
158,5

4,3 *
14,9 *
2,7 tn
106,5 *
4,2 *

KK
17,0 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
S
t-(tabel)
BNT.

F-Tabel
5%
1,1
2,4
2,9
4,4
2,9

Interaksi
P Perendaman
P varietas

12,6
4,0
5,1

0,05
2,1
2,1
2,1

0,05
26,3
8,3
10,7

Hasil Uji BNT (5%)


Ratarata
115,7
86,0
72,2
86,7
117,2
77,1
45,8
37,5
58,1
46,1

BNT 5%
26,3

Ratarata
100,9
79,4
97,2
41,6
52,1

BNT 5%
8,30

Varietas

Ratarata

BNT 5%
10,7

V1
V2

81,8
66,7

Perlakuan
V1N0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4

E. Umur panen (hst)

V2N3
V1N3
V2N4
V1N4
V1N1
V2N2
V2N0
V2N1
V1N0
V1N2

37,5
45,8
46,1
58,1
72,2
77,1
86,0
86,7
115,7
117,2

63,8
72,1
72,4
84,4
98,5
103,4
112,2
113,0
142,0
143,5

N3
N4
N1
N2
N0

41,6
52,1
79,4
97,2
100,9

49,9
60,42
87,75
105,47
109,17

V2
V1

66,7
81,8

77,4 A
92,5 Ab

1.

Tabel pengolahan data

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V

III
103,0
103,0
111,0
114,0
114,5
118,5
131,5
134,5
129,5
130,5
1190,0

Jumlah

Rata-rata

311,3
309,8
345,0
340,5
353,0
345,0
359,5
394,0
387,5
385,5
3531,0

103,8
103,3
115,0
113,5
117,7
115,0
119,8
131,3
129,2
128,5
117,7

Varietas
V1
311,3
345,0
353,0
359,5
387,5
1756,3
117,1

V2
309,8
340,5
345,0
394,0
385,5
1774,8
118,3

T.R

.R

621,0
685,5
698,0
753,5
773,0
3531,0

103,5
114,3
116,3
125,6
128,8
117,7

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

3.

Ulangan
II
103,8
103,0
117,0
114,0
121,0
111,0
114,0
126,0
129,0
129,0
1167,8

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
415598,7

Perendaman

b.

I
104,5
103,8
117,0
112,5
117,5
115,5
114,0
133,5
129,0
126,0
1173,3

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

26,9
2622,5
11,4
2409,0
202,0
307,8
2957,2

26,9
291,4
2,9
2409,0
50,5
15,4

1,7 *
18,9 *
2,9 *
156,5 *
3,3 *

KK
3,3 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
S
t-(tabel)
BNT.

F-Tabel
5%
1,5
2,4
2,9
4,4
2,9

Interaksi
P Perendaman
P varietas

3,9
1,2
1,6

0,05
2,1
2,1
2,1

0,05
8,2
2,6
3,3

Hasil Uji BNT (5%)


Perlakuan

Rata-rata

V1N0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4

103,8
103,3
115,0
113,5
117,7
115,0
119,8
131,3
129,2
128,5

Perendaman

Rata-rata

N0
N1
N2
N3
N4

103,5
114,3
116,3
125,6
128,8

Varietas

Rata-rata

V1
V2

117,1
118

BNT 5%
8,2
V2N0
V1N0
V2N1
V1N1
V2N2
V1N2
V1N3
V2N4
V2N3
V1N4

103,3
103,8
113,5
115,0
115,0
117,7
119,8
128,5
131,3
132,0

111,4
111,9
121,7
123,2
123,2
125,8
128,0
136,7
139,5
140,2

N0
N1
N2
N3
N4

103,5
114,3
116,3
125,6
130,3

106,1
116,84
118,92
128,17
132,84

BNT 5%
2,59

BNT 5%
3,3

F. Jumlah anakan produktif (batang/rumpun)

V1
V2

117,7
118,3

121,0 a
121,7 ab

1.

Tabel pengolahan data

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4

2.
a.

Ulangan
II
38,5
37,5
36,5
37,0
39,5
33,5
28,0
19,5
35,0
23,5

III
39,5
35,5
41,0
37,5
44,0
35,5
30,0
22,0
21,0
29,0
335,0

Jumlah

Rata-rata

113,0
108,0
113,0
105,5
122,5
107,0
86,0
54,5
80,0
77,5
967,0

37,7
36,0
37,7
35,2
40,8
35,7
28,7
18,2
26,7
25,8
32,2

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
31169,6

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V
b.

I
35,0
35,0
35,5
31,0
39,0
38,0
28,0
13,0
24,0
25,0

Varietas
V1
113,0
113,0
122,5
86,0
80,0
514,5
34,3

V2
108,0
105,5
107,0
54,5
77,5
452,5
30,2

T.R

.R

221,0
218,5
229,5
140,5
157,5
967,0

36,8
36,4
38,3
23,4
26,3
32,2

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

55,3
1350,4
128,1
1130,4
91,9
198,7
1604,4

55,3
150,0
32,0
1130,4
23,0
9,9

5,6 *
15,1 *
3,2 *
113,8 *
2,3 tn

KK
9,8 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
S
t-(tabel)
BNT.

F-Tabel
5%
1,3
2,4
2,9
4,4
2,9

Interaksi
P Perendaman
P varietas

3,2
1,0
1,3

Hasil Uji BNT (5%)


RataPerlakuan
rata
V1N0
37,7
V2N0
36,0
V1N1
37,7
V2N1
35,2
V1N2
40,8
V2N2
35,7
V1N3
28,7
V2N3
18,2
V1N4
26,7
V2N4
25,8

0,05
2,1
2,1
2,1

BNT 5%
6,6

Ratarata
36,8
36,4
38,3
23,4
26,3

BNT 5%
2,08

Varietas

Ratarata

BNT 5%
2,7

V1
V2

34,3
30,2

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4

0,05
6,6
2,1
2,7

G. Bobot gabah perumpun (g)

V2N3
V2N4
V1N4
V1N3
V2N1
V2N2
V2N0
V1N0
V1N1
V1N2

18,2
25,8
26,7
28,7
35,2
35,7
36,0
37,7
37,7
40,8

24,7
32,4
33,2
35,2
41,7
42,2
42,6
44,2
44,2
47,4

N3
N4
N0
N2
N1

23,4
26,3
34,9
36,7
38,4

25,5
28,33
37,00
38,75
40,50

V2
V1

29,6
34,3

32,3 a
37,0 ab

1.

Tabel pengolahan data

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

III
101,2
56,2
88,5
81,0
83,6
89,1
62,6
79,4
63,5
69,1
774,3

Jumlah

Rata-rata

240,5
211,2
247,4
218,6
265,7
242,9
200,4
174,8
222,9
206,0
2230,5

80,2
70,4
82,5
72,9
88,6
81,0
66,8
58,3
74,3
68,7
74,3

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
165831,7

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V
b.

Ulangan
II
73,7
76,6
67,8
73,9
94,3
76,4
63,2
56,5
100,1
65,1
747,6

I
65,6
78,3
91,2
63,7
87,8
77,4
74,6
38,9
59,3
71,8
708,6

Varietas
V1
240,5
247,4
265,7
200,4
222,9
1177,0
78,5

V2
211,2
218,6
242,9
174,8
206,0
1053,5
70,2

T.R

.R

451,7
466,0
508,6
375,2
428,9
2230,5

75,3
77,7
84,8
62,5
71,5
74,3

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

218,5
2136,4
508,2
1610,9
17,4
3364,7
5719,7

218,5
237,4
127,0
1610,9
4,3
168,2

1,3 *
1,4 tn
0,8 tn
9,6 *
0,0 tn

KK
17,4 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
S
t-(tabel)
BNT.

F-Tabel
5%
1,2
2,4
2,9
4,4
2,9

Interaksi
P Perendaman
P varietas

13,0
4,1
5,3

Hasil Uji BNT (5%)


RataPerlakuan
rata
V1N0
80,2
V2N0
70,4
V1N1
82,5
V2N1
72,9
V1N2
88,6
V2N2
81,0
V1N3
66,8
V2N3
58,3
V1N4
74,3
V2N4
68,7

0,05
2,1
2,1
2,1

BNT 5%
27,1
V2N3
V1N3
V2N4
V2N0
V2N1
V1N4
V1N0
V2N2
V1N1
V1N2

Ratarata
75,3
77,7
84,8
62,5
71,5

BNT 5%
8,56

Varietas

Ratarata

BNT 5%
11,0

V1
V2

78,5
70,2

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4

0,05
27,1
8,6
11,0

N1
N0
N2
N4
N3

H. Jumlah gabah perumpun (bulir/rumpun)


1.

Tabel pengolahan data

V1
V2

58,3
66,8
68,7
70,4
72,9
74,3
80,2
81,0
82,5
88,6

85,3
93,9
95,7
97,4
99,9
101,4
107,2
108,0
109,5
115,6

77,7
79,5
80,6
83,3
91,7

86,2
88,04
89,13
91,89
100,22

80,2
84,8

91,3 a
95,9 ab

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

III
5093,5
3881,0
4495,5
4900,0
4606,5
4130,5
3826,0
3037,0
3214,0
3555,5
40739,5

Jumlah

Rata-rata

12398,5
11721,0
12703,0
12532,0
13668,0
11871,5
11472,0
7628,0
11132,0
10224,5
115350,5

4132,8
3907,0
4234,3
4177,3
4556,0
3957,2
3824,0
2542,7
3710,7
3408,2
3845,0

T.R

.R

24119,5
25235,0
25539,5
19100,0
21356,5
115350,5

4019,9
4205,8
4256,6
3183,3
3559,4

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
443524595,0

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V
b.

I
3744,5
3912,5
4480,5
3817,0
4449,0
4026,5
3820,0
1809,5
2833,0
3514,5
36407,0

Ulangan
II
3560,5
3927,5
3727,0
3815,0
4612,5
3714,5
3826,0
2781,5
5085,0
3154,5
38204,0

Varietas
V1
V2
12398,5
11721,0
12703,0
12532,0
13668,0
11871,5
11472,0
7628,0
11132,0
10224,5
61373,5
53977,0
4091,6
3598,5

3845,0

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


db

JK

KT

F-Hitung

Kelompok
Kombinasi
Perendaman

1
9
4

947617,5
8316606,6
1823607,1

3,4 *
3,3 tn
1,6 tn

Varietas
Interaksi
Galat
Total

1
4
20
29

5097347,9
1395651,6
5577347,2
14841571,2

947617,5
924067,4
455901,8
5097347,
9
348912,9
278867,4

F-Tabel
5%
1,8
2,4
2,9

18,3 *
1,3 tn

4,4
2,9

SK

KK
13,7 %
Uji Rerata Beda Antar Perlakuan (BNT taraf 5%)
t-(tabel)
BNT.
S
0,05
0,05

Interaksi
P
Perendaman
P varietas

528,1

2,1

1101,6

167,0
215,6

2,1
2,1

348,3
449,7

Hasil Uji BNT (5%)


RataPerlakuan
rata
V1N0
4132,8
V2N0
3907,0
V1N1
4234,3
V2N1
4177,3
V1N2
4556,0
V2N2
3957,2
V1N3
3824,0
V2N3
2542,7
V1N4
3710,7
V2N4
3408,2

BNT 5%
1101,6

Ratarata
4019,9
4205,8
4256,6
3183,3
3559,4

BNT 5%
348,34

Varietas

Ratarata

BNT 5%
449,7

V1
V2

4091,6
3598,5

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4

I. Presentase gabah bernas (%)


1.

Tabel pengolahan data

V2N3
V2N2
V2N4
V1N4
V1N3
V2N0
V1N0
V2N1
V1N1
V1N2

2542,7
2628,4
3408,2
3710,7
3824,0
3907,0
4132,8
4177,3
4234,3
4556,0

3644,2
3730,0
4509,7
4812,2
4925,6
5008,6
5234,4
5278,9
5335,9
5657,6

N3
N2
N4
N1
N0

3183,3
3380,6
3559,4
4205,8
4231,5

3531,7
3729,0
3907,8
4554,2
4579,8

V2
V1

3332,7
4091,6

3782,4 a
4541,3 ab

Perlakuan
VIN0
V2N0
V1N1
V2N1
V1N2
V2N2
V1N3
V2N3
V1N4
V2N4
Jumlah
2.
a.

III
91,8
89,3
83,3
91,1
93,2
91,3
88,6
87,8
91,8
90,9
898,9

Jumlah

Rata-rata

278,9
273,0
270,2
277,5
279,7
275,0
268,5
267,7
275,4
273,4
2739,4

93,0
91,0
90,1
92,5
93,2
91,7
89,5
89,2
91,8
91,1
91,3

Analisis Sidik Ragam (Uji-F)


FK
250137,4

Perendaman
N0
N1
N2
N3
N4
T.V
.V
b.

I
92,4
91,5
93,3
96,9
94,1
89,5
89,1
91,2
91,7
91,1
920,8

Ulangan
II
94,7
92,2
93,7
89,6
92,4
94,3
90,8
88,7
91,9
91,4
919,7

Varietas
V1
V2
278,9
273,0
270,2
277,5
279,7
275,0
268,5
267,7
275,4
273,4
1372,7
1366,6
91,5
91,1

T.R

.R

551,9
547,8
554,7
536,2
548,8
2739,4

92,0
91,3
92,5
89,4
91,5
91,3

Tabel Analisis sidik ragam (Uji-F) Taraf 5%


SK

Kelompok
Kombinasi
Perendaman
Varietas
Interaksi
Galat
Total
KK

db

JK

KT

F-Hitung

1
9
4
1
4
20
29

30,2
52,5
1,2
33,2
18,0
100,1
182,8

30,2
5,8
0,3
33,2
4,5
5,0

6,0 *
1,2 tn
0,3 tn
6,6 *
0,9 tn

2,5 %

Lampiran 6. Dokumentasi

F-Tabel
5%
1,5
2,4
2,9
4,4
2,9

Gambar 1. Persiapan Media Tanam


Gambar 2. Perendaman Media Tanam
Gambar 3. Penanaman