Anda di halaman 1dari 12

EKSPLORASI ASPAL

Disusun Oleh:
Nama Anggota :

YAUMIL AKBAR

1404109010009

M. RAYYAN JUNISWAR

1404109010023

IQBAL

1404109010024

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Kata Pengantar
Segala puja dan puji tercurah kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayahnya sehingga Kami mampu menyelesaikan makalah yang
berjudul Aspal. Kami juga tak lupa mengucapakan terima kasih atas bimbingan
serta dukungan yang telah diberikan oleh dosen kami.
Makalah Kami yang berjudul Aspal membahasa mengenai pengertian aspal,
sifat-sifat aspal secara fisik, sifat-sifat secara kimia, sumber-sumber aspal, dan
sebagainya. Yang semuanya membahas mengenai aspal. Kami hanya berharap agar
makalaha yang Kami buat bermanfaat untuk para pembaca.
Kami meminta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena Kami juga
masih dalam proses pembelajaran.

Banda Aceh, 16 Desember 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pembahasan ilmu bahan kita mencoba untuk membahas materi tentang
aspal. Dalam penyusunan makalah ini kami coba mengangkat mengenai aspal
hal itu disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu penghasil aspal
terbesar di dunia, namun di Indonesia sendiri belum mampu mengeksploritasi
aspal secara maksimal. Hal ini di tunjukan oleh bahan pembuat aspal jalan di
Indonesia masih menggunakan aspal dari luar negeri ( aspal import), padahal
aspal di Indonesia masih dapat di eksploitasi dalam kurun waktu yang lama.
1.2 Tujuan
Agar lebih mengetahui tentang aspal lebih jauh. Karena aspal adalah
sumberdaya alam yang terdapat di Indonesia yang masih belum di eksplorasi
lebih jauh karena itu kami mencoba untuk menggali lebih jauh tentang aspal
yang ada di indonesia serta apa saja teknologi terbaru dalam aspal. Serta
sebagai sarat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Geokimia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aspal
Menurut Bambang Irianto (1988) dan Silvia Sukirman (1999), aspal beton adalah
suatu bahan yang terdiri dari campuran antara batuan (agregat kasar dan agregat halus)
dengan bahan ikat aspal yang mempunyai persyaratan tertentu, dimana kedua material
sebelum dicampur secara homogen, harus dipanaskan terlebih dahulu. Karena dicampur
dalam keadaan panas, maka sering disebut sebagai hot mix. Semua pekerjaan
pencampuran hot mix dilakukan di pabrik pencampur yang disebut sebagai Asphalt
Mixing Plant (AMP).
Konstruksi jalan terdiri dari beberapa lapis, antara lain: Subgrade, Sub Base
Course, Base Course, dan Surface. Aspal beton yang dipergunakan untuk lapis
perkerasan jalan juga terdiri dari beberapa jenis, yaitu: lapis pondasi, lapis aus satu, dan
lapis aus dua. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar, di bawah ini:
2.2 Sumber Aspal

Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan turunan dari
proses penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal keras.

Aspal juga terdapat di alam secara alamiah, aspal ini aspal alam

Aspal ini dibuat dengan menambahkan bahan tambah kedalam aspal yang
bertujuan untuk memperbaiki atau memodifikasi safat rheologinya sehingga
menghasilkan jenis aspal baru yang disebut aspal modifikasi

2.3 Klasifikasi Aspal


Aspal keras dapat di klasifikasikan kedalam tingkatan ( grade ) atau kelas
berdasarkan tiga sisten yang berbeda, yaitu:

Viskositas, viskositas setelah penuaan dan penetrasi. Masing-masing sistem


mengelompokan aspal dalam tingkatan atau kelas yang berbeda pula. Dalam
pengklasifikasian aspal yang ada, yang paling banyak digunakan adalah
sistem pengklasifikasin berdasarkan viskositas dan penetrasi.
Dalam sistem viskositas, satuan poise adalah estndar pengukuran
viskositas absolut. Makin tinggi nilai poise statu aspal makin kental aspal
tesebut.
AC-25 ( aspal keras dengan viskositasn250 pose pada temperature 60C)
adalah jenis aspal keras yang bersifat lunak, AC-40 (aspal keras dengan 400
poise pada temperature 60C) adalah jenis aspal keras yang bersifat keras.
Beberapa Negara mengelompokan aspal berdasarkan viskositas estela
penuaan.

Ide ini untuk mengidentifikasikan

viskositas

aspal estela

penghamparan di lapangan. Untuk mensimulasikan penuaan aspal selama


pencampuran, aspal segar yang akan digunakan dituangkan terlebihdahulu
dalam oven melalui pengujian Thin Film Oven Test (TFOT) dan Rolling Film
Oven Test (RTFOT). Sisa aspal yang tertinggal (residu) kemudian ditentukan
tingkatannya (grade) berdasarkan fiskositasnya dalam satuan poise.

Uji Penetrasi, Pada uji ini, sebuah jarum standar dengna beban 10 gram
( termasuk berat jarum) ditusukan keatas permukaan aspal, panjang jarum
yang masuk kedalam contoh aspal dalam waktu lima detik diukur dalam
satuan persepuluh mili meter (0,1 mm) dan dinyatakan sebagai nilai penetrasi
aspal. Semakin kecil nilai penetrasi aspal, semakin keras aspal tersebut.

2.4 Sifat-Sifat Kimia Aspal


Aspal keras dihasilkan melalui proses destilasi minyak bumi. Minyak bumi
yang digunakan terbentuk secara alami dari senyawa-senyawa organik yang telah

berumur ribuan tahun dibawah tekanan dan variasi temperatur yang tinggi.Susunan
struktur internal aspal sangat ditentukan oleh susunan kimia molekul-molekul yang
terdapat dalam aspal tersebut. Susunan molekul aspal sangat kompleks dan dominasi (
90 -95% dari berat aspal)oleh unsur karbon dan hidrogen. Oleh sebab itu, senyawa
aspal seringkali disebut sebagai senyawa hidrokarbon. Sebagian kecil, sisanya (510%), dari dua jenis atom, yaitu: heteroatom dan logam.
Unsur-unsur heteroatom seperti Nitrogen, Oksigen dan Sulfur. Dapat
menggantikan kedudukan atom karbon yang terdapat di dalam stuktur molekul aspal.
Hal inilah yang menyebabkan aspal memiliki rantai kimia yang unik dan interaksi
antar atom tom ini dapat menyebabkan perubahan pada sifat fisik aspal. Jenis dan
jumlah heteroatom yang terkandung didalam aspal sangat ditentukan oleh sumber
minyak tanah mentah yang digunakan dan tingkat penuaannya. Heteroatom, terutama
sulfur lebih reaktif daripada karbon dan hidrogen untuk mengikat oksigen. Oleh sebab
itu, aspal degna kandungan sulfur yang tinggi akan mengalami penuaan yang lebih
cepat dari pada aspal yang mengandung sedikit sulfur.
Atom logam seperti vanadium, nikel, besi, magnasium dan kalsium hanya
terkandung di dalam aspal dalam jumlah yang sangat kecil, umumnya aspal hanya
mengandung satu persen atom logam dalam bentuk garam organik dan hidroksidanya.
Karena susunan kimia aspal yang sangat kompleks, maka analisa kimia aspal
sangat sulit dilakukan dan memerlukan peralatan labolatorium yang canggih, dan data
yang dihasilkan pun belum tentu memiliki hubung an dengan sifat rheologi
aspal.Analisa kimia yang dihasilkan biasanya hanya dapat memisahkan molekul aspal
dalam dua grup, yaitu aspalten dan malten. Selanjutnya malten dapat dibagi menjadi
saturated, aromatik dan resin. Walaupun begitu pembagian ini tidak dapat
didefinisikan secara jelas karena adanya sifat saling tumpang tindih antara kelompokkelompok tersebut.
Aspalten
Aspalten adalah unsur kimia aspla yng padat yang tidak larut dalam n- penten.
Aspalten berwarna cokelat sampai hitam yang mengandung karbon dan hidrogen
dengan perbandungan 1 : 1, dan kadang-kadang juga mengandung nitrogen,
sulfur, dan oksigen. Aspalten biasanya deanggap sebagai material yang bersifat
polar danmemiliki bau yang khas dengan berat molekul yang cukup berat.

Molekul aspalten ini memiliki ukuran antara 5-30 nano meter. Besar kecilnya
kandungan aspalten dalam aspal sangat mempengaruhi sifat rheologi aspal
tersebut. Peningkatan kandungan aspalten dalam aspal menghasilkan aspal yang
lebih keras dengan nilai penetrasi yang rendah, titik lembek yang tinggi dan
tingkat kekentalan aspal yang tinggi pula.
Malten
Malten adalah unsur kimia lainnya yang terdapat di dalam aspal selain aspalten.
Unsur malten ini dapat dibagi lagi menjadi :
a) Resin
Resin secara dominan terdiri dari hidrogen dan karbon, dan sedikit
mengandung oksigen, sulfur dan nitrogen. Rasio kandungan unsur hidrogen
terhadap karbn di dalam resin berkisar antara 1,3 1,4. Resin ini memiliki
ukuran antara 1-5 nanometer, berwarna cokelat, berbentuk semi padat, bersifar
sangat polar dan memberikan sifat adesif pada aspal. Didalam aspal, resin
berperan sebagai zat pendispersi aspaltene. Sifat aspal, SOL ( larutan ) atau
GEL ( jeli) sangat ditentukan oleh proporsi kandungan resin terhadap
kandungan aspalten yang terdapat pada aspal tersebut.
b) Aromatik
Aromatik adalah unsur pelaryt aspalten yang paling dominan di dalam aspal.
Aromatik berbentuk cairan kental yang berwarna cokelat tua dan kandungan di
dalam aspal bersifat antara 40% - 60% terhadap berat aspal. Aromatik terdiri
dari rantai karbon yang bersifat non polar yang didominasi oleh unsur tak
jenuh ( un saturated) dan memiliki daya larut yang tinggi terhadap molekul
hidrokarbon.
c) Saturated
Saturated adalah bagian dalam molekul malten yang berupa minyak kental
yang berwarna putih atau kekuning-kuningan dan bersifat non polar. Saturated
terdiri dari parafin ( wax) dan non parafin, kandungannya di dalam aspal
berkisar antara 5% - 20% terhadap berat aspal.

2.5 Sifat Sifat Fisik Aspal


Sifat-sifat aspal yang sangat mempengaruhi perencanaan, produksi dan kinerja
campuran beraspal antara lain adalah:

Durabilitas

Kinerja aspal sangat dipengaruhi oleh sifat aspal tersebut setelah diguakan
sebagai bahan pengikat dalam campuran beraspal dan dihampar dilapangan. Hal
ini di sebabakan karena sifat-saifat aspat akan berubah secara signifikan akibat
oksidasi dan pengelupasan yang terjadi pada saat pencampuran, pengankutan dan
penghamparan campuran beraspal di lapangan. Perubahan sifat ini akan
menyebabkan aspal menjadi berdakhtilitas rendah atau dengna kata lain aspal
telah mngalami penuan. Kemampuan aspal untuk menghambat laju penuaan ini
disebut durabilitas aspal. Pengujian bertujuan untuk mengetahui seberapa baik
aspal untuk mempertahankan sifat sifat awalnya akibat proses penuaan.
Walaupun banyak faktor lain yang menentukan, aspal dengna durabilitas yang
baik akan menghasilkan campuran dengna kinerja baik pula. Pengujian kuantitatif
yang biasanya dilakukan untuk mengetahui durabilitas aspal adalah pengujian
penetrasi, titik lembek, kehilangan berat dan daktilitas. Pengujian ini dlakukan
pada benda uji yang telah mengalami Presure Aging Vassel ( PAV), Thin Film
Oven Test ( TFOT) dan Rolling Thin Film Oven Test ( RTFOT). Dua proses
penuaan terakhir merupakan proses penuaan yang paling banyak di gunakan
untuk mengetahui durabilitas aspal. Sifat aspal terutama Viskositas dan penetrasi
akan berubah bila aspal tesebut mengalami pemanasan atau penuaan. Aspal
dengan durabilitas yang baik hanya mengalami perubahan.

Adesi dan Kohesi

Adesi adalah kemampuan partikel aspal untuk melekat satu sama lainnya, dan
kohesi adalah kemampuan aspal untuk melekat dan mengikat agregat. Sifat adesi
dan kohesi aspal sangat penting diketahui dalam pembuatan campuran beraspal

Karena sifat ini mempengaruhi kinerja dan durabilitas campuran. Uji daktilitas
aspal adalah suatu ujian kualitatif yang secara tidak langsung dapat dilakukan
untuk mengetahui tingkat adesifnes atau daktalitas aspal keras. Aspal keras
dengna nilai daktilitas yang rendah adalah aspal yang memiliki daya adesi yang
kurang baik dibandingkan dengan aspal yang memiliki nilai daktalitas yang
tinggi. Uji penyelimutan aspal terhadap batuan merupakan uji kuantitatif lainnya
yang digunakan untuk mengetahui daya lekat ( kohesi) aspal terhadap batuan.
Pada pengujian ini, agregat yang telah diselimuti oleh film aspal direndam dalam
air dan dibiarkan selama 24 jam dengan atau tanpa pengadukan. Akibat air atau
kombinasi air dengan gaya mekanik yang diberikan, aspal yang menyilimuti
pemukaan agregat akan terkelupas kembali. Aspal dengan gaya kohesi yang kuat
akan melekat erat pada permukaan agregat, oleh sebab itu pengelupasan yang
tejadi sebagai akibat dari pengaruh air atau kombinasi air dengan gaya mekanik
sangat kecil atau bahkan tidak terjadi sama sekali

Kepekaan aspal terhadap temperatur

Seluruh aspal bersifat termoplastik yaitu menjadi lebih keras bila temperatur
menurun dan melunak bila temperature meningkat. Kepekaan aspal untuk
berubah sifat akibat perubahan tempertur ini di kenal sebagai kepekaan aspal
terhadap temperatur.

Pengerasan dan penuaan aspal

Penuaan aspal adalah suatu parameter yang baik untuk mengetahui durabilitas
campuran beraspal. Penuaan ini disebabkan oleh dua factor utama, yaitu:
penguapan fraksi minyak yang terkandung dalam aspal dan oksidasi penuaan
jangka pendek dan oksidasi yang progresif atau penuaan jangka panjang.
Oksidasi merupakan factor yang paling penting yang menentukan kecepatan
penuaan.

Kesimpulan
Aspal beton adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran antara batuan (agregat
kasar dan agregat halus) dengan bahan ikat aspal yang mempunyai persyaratan tertentu,
dimana kedua material sebelum dicampur secara homogen, harus dipanaskan terlebih
dahulu. Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan turunan dari
proses penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal keras.

DAFTAR PUSTAKA

Asphalt Institute. 1989. Asphalt Cold Mix Manual, Manual Series No.14 (MS14), Third Edition, Lexington, KY 40512-4052, USA.
Cooper, K.E., Brown, S.F. and Pooley, G.R, 1985. The Design of Agregate
Gradings for Asphalt Basecourses, Journal of The Association of
Asphalt Paving Technologists.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal
Prasarana Wilayah. 2004. Manual Pekerjaan Campuran Beraspal
Panas (Buku 1: Petunjuk Umum).
Direktorat Jendral Bina Marga. 1991. Spesifikasi Khusus Campuran Aspal
Emulsi Dingin (CAED), Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Ismanto, B. 1993. Bahan Perkerasan Jalan, Campuran Aspal dan
Agregat, Penataran Highway Engineering. FT Universitas Lampung.