Anda di halaman 1dari 4

ASKEP Retensi Urine

http://yandrifauzan.blogspot.com/

Retensi Urine
I.

Diagnosa Medik
Retensi urine

II.

Definisi
Retensi urin merupakan ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun
terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.

III.

Etiologi
Retensi urin dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat, kelainan
patologi uretra, trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih, dan beberapa keadaan lain.
Tanda-tanda klinis retensi:

manan daerah pubis.

ggupan unutk berkemih.

ih dalam VU yang sedikit (25 50 ml)

mbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.

ya keresahan dan keinginan berkemih.


IV.

Pemeriksaan Fisik

1. Kaji kapan klien terakhir kali buang air kecil dan berapa banyak urin yang keluar.
2. Kaji adanya nyeri.
3. Perkusi pada area supra pubik, apakah menghasilkan bunyi pekak yang menunjukkan
distensi kandung kemih.
V.

Diagnosa Keperawatan

1. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
2. Gangguan rasa nyaman: nyeri
3. Intoleransi aktivitas
4. Ansietas b.d krisis situasi
VI.

Intervensi Keperawatan

uasi

1. Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
Kriteria evaluasi

: - Berkemih dengan jumlah yang cukup


- Tidak teraba distensi kandung kemih

Intervensi
Rasional
1. Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam1. Meminimalkan retensi urin distensi
dan bila tiba-tiba dirasakan.
2. Tanyakan pasien tentang inkontinensia
stres.
3. Observasi aliran urin, perhatikan ukuran
dan ketakutan.
4. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap
berkemih..
5. Perkusi/palpasi area suprapubik

berlebihan pada kandung kemih.


2. Tekanan ureteral tinggi menghambat
pengosongan kandung kemih.
3. Berguna untuk mengevaluasi obsrtuksi dan
pilihan intervensi.
4. Retensi urin meningkatkan tekanan dalam
saluran perkemihan atas.
5. Distensi kandung kemih dapat dirasakan
diarea suprapubik.

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri


Kriteria evaluasi : - Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol
- Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas
Intervensi
1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas
nyeri.
2. Plester selang drainase pada paha dan
kateter pada abdomen.

dengan tepat

Rasional
1. Memberikan informasi untuk membantu
dalam menetukan intervensi.
2. Mencegah penarikan kandung kemih dan
erosi pertemuan penis-skrotal.

3. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan.3. Tirah baring mungkin diperlukan pada awal
4. Berikan tindakan kenyamanan

selama fase retensi akut.


4. Meningktakan relaksasi dan mekanisme

5. Dorong menggunakan rendam duduk, sabun koping.


hangat untuk perineum.

5. Meningkatkan relaksasi otot.

3. Intoleransi aktivitas
: - Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tidak adanya
dispnea, kelemahan, tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi
Rasional
1. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. 1. Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien

dan memudahkan pilihan intervensi.


2. Berikan lingkungan tenang dan batasi

2. Menurunkan stres dan rangsangan

pengunjung selama fase akut sesuai

berlebihan, meningkatkan istirahat.

indikasi.
3. Jelaskna pentingnya istirahat dalam rencana3. Tirah baring dapat menurunkan kebutuhan
pengobatan dan perlunya keseimbangan

metabolik, menghemat energi untuk

aktivitas dan istirahat.

penyembuhan. Pembatasan aktivitas


ditentukan dengan respons individual pasien
terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan
pernapasan.
4. Meminimalkan kelelahan dan membantu

4. Bantu aktivitas perawatan diri yang

keseimbangan suplai dan kebutuhan

diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan

oksigen.

aktivitas selama fase penyembuhan.


4. Ansietas b.d krisis situasi
Kriteria evaluasi : - Mengakui dan mendiskusikan takut/masalah
- Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/istirahat
Intervensi
1. Identifikasi persepsi pasien tentang

Rasional
1. Mendefinisikan lingkup masalah individu

ancaman yang ada dari situasi.

dan mempengaruhi pilihan intervensi.


2. Berguna dalam evaluasi derajat masalah

2. Observasi respon fisik,seperti gelisah, tanda


vital, gerakan berulang.

khususnya bila dibandingkan dengan


pernyataan verbal.

3. Memberikan kesempatan untuk menerima


3. Dorong pasien/orang terdekat untuk
mengakui dan menyatakan rasa takut.

masalah, memperjelas kenyataan takut dan


menurunkan ansietas.
4. Memberikan kayakinan untuk membantu
ansietas yang tak perlu.

4. Identifikasi pencegahan keamanan yang


diambil, seperti marah dan suplai oksigen.
Diskusikan.
VII. Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC.


Doenges. M. E. (2000). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC.
Hudak, C. M & Barbara, M. G. (1997). Keperawatan kritis: pendekatan holistik. Jakarta: EGC.
Perry & potter. (2006). Fundamental keperawatan. Jakarta: EGC.
di 00:15
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke
Google Buzz
Label: ASKEP Diposkan oleh Kumpulan Asuhan Keperawatan
Reaksi:
0 komentar:
Poskan Komentar