Anda di halaman 1dari 13

Definisi Cahaya

Cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh cahaya mata dan dapat
memungkinkan untuk membeda-bedakan warnawarni (Haryanto, 2007).
Sifat-sifat Cahaya
Sifat dari cahaya (charaxter of light) ditentukan oleh:
1) Kuantitas cahaya
Banyaknya cahaya yang jatuh pada suatu permukaan yang menyebabkan terangnya
permukaan tersebut dan sekitarnya. Kuantitas penerangan yang dibutuhkan adalah tergantung
dari tingkat ketelitian yang diperlukan, bagian yang akan diamati dan kemampuan dari objek
tersebut untuk memantulkan cahaya yang jatuh padanya, serta brightness dari sekitar objek.
Untuk melihat suatu benda atau objek yang berwarna gelap dan kontras antara objek dan
sekitarnya jelek, diperlukan intensitas penerangan yang tinggi (beberapa ribu lux), sedangkan
untik objek/benda yang berwarna cerah kontras antara objek dan sekitarnya cukup baik, maka
diperlukan beberapa ratus lux saja.
2) Kualitas Cahaya
Kualitas Cahaya adalah keadaan yang menyangkut warna, arah, dan difusi, cahaya, serta jenis
dan tingkat kesilauan. Kualitas penerangan terutama ditentukan oleh ada atau tidaknya
kesilauan langsung (direct glare) atau kesilauan karena pantulan cahaya dari permukaan yang
mengkilap (reflected glare) dan bayangan (shadows) (Sumamur, 1996).
Kesilauan
Kesilauan adalah brightness yang berada dalam lapangan penglihatan yang
menyebabkan rasa ketidaknyamanan, gangguan (annoyance), kelelahan mata atau gangguan
penglihatan (Sumamur, 1996).
Menurut jenis-jenisnya kesilauan yang dapat menyebabkan gangguan pengelihatan
dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Dissability
Penyebab kesilauan ini adalah terlalu banyaknya cahaya secara langsung
masuk ke dalam mata dari penglihatan. Dissability glare mempengaruhi seseorang
untuk dapat melihat dengan jelas. Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang yang
mengendarai mobil pada malam hari dimana lampu dari mobil yang berada
dihadapannya terlalu terang.
2. Discomfort
Kesilauan ini sering menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada mata, terutama
bila keadaan ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kesilauan ini sering
dialami oleh mereka yang bekerja pada siang hari dan menghadap ke jendela atau
pada saat seseorang menatap lampu secara langsung pada malam hari. Efek kesilauan
ini pada mata tergantung dari lamanya seseorang terpapar oleh kesilauan tersebut.

3. Reflected
Reflected glare adalah kesilauan yang disebabkan oleh pantulan cahaya yang
mengenai mata kita, dan pantulan cahaya ini berasal darisemua permukaan benda
yang mengkilap (langit-langit, kaca, dinding, meja kerja, mesin-mesin, dan lain-lain)
yang berada dalam lapangan penglihatan (visual field). Reflected kadang-kadang
lebih menganggu daripada disability glare karena terlalu dekatnya letak sumber
kesilauan dan garis penglihatan (Sumamur, 1996).
Penerangan (Pencahayaan)
Intensitas penerangan adalah banyaknya cahaya yang tiba pada satu luas permukaan
(Ahmadi , 2009). Menurut Sumamur (1993), Intensitas penerangan merupakan suatu aspek
lingkungan fisik yang penting untuk keselamatan kerja. Tempat kerja memerlukan intensitas
penerangan yang cukup agar pekerja dapat melihat dengan baik dan teliti. Intensitas
penerangan yang baik ditentukan oleh sifat dan jenis pekerjaan dimana pekerjaan yang teliti
memerlukan intensitas penerangan yang lebih besar.
Pencahayaan pada tempat kerja yang memadai baik yang alami maupun buatan
memegang peranan yang cukup penting dalam upaya peningkatan kesehatan, keselamatan
dan produktivitas tenaga kerja. Sedangkan baik tidaknya pencahayaan disuatu tempat kerja
selain ditentukan oleh kuantitas atau tingkat iluminasi yang menyebabkan obyek dan
sekitarnya terlihat jelas, tetapi juga oleh kualitas dari pencahayaan tersebut diantaranya
menyangkut arah dan penyebaran atau distribusi cahaya tipe dan tingkat kesilauan. Demikian
pula dekorasi tempat kerja khususnya mengenai warna dari dinding, langit-langit, peralatan
kerja, ikut menentukan tingkat penerangan di tempat kerja (Soewarno, 1992:86).
Sumber Pencahayaan
Penerangan berdasar sumbernya dibagi menjadi tiga, pertama penerangan alami yaitu
penerangan yang berasal dari cahaya matahari, kedua penerangan buatan yaitu penerangan
yang berasal dari lampu, dan yang ketiga adalah penerangan alami dan buatan yaitu
penggabungan antara penerangan alami dari sinar matahari dengan lampu/penerangan buatan
(Cok Gd Rai 2006). Penerangan di dalam ruangan tentunya memiliki sistem tersendiri.
Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan
sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Menurut Prabu (2009), sistem
pencahayaan di ruangan, termasuk di tempat kerja dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu
1. Sistem Pencahayaan Langsung (direct lighting)
Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang
perlu diterangi. Sistm ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi
ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang
mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya.
Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada
didalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan
2. Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting)

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu
diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Dengan sistem
ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langitlangit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesiean pemantulan 90%,
sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan antara 5-90%
3. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting)
Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu
disinari, sedangka sisanya dipantulka ke langit-langit dan dindng. Dalam pencahayaan
sistem ini termasuk sistem direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke
bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih
ditemui.
4. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting)
Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian
atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal
disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada
sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.
5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)
Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian
atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langitlangit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang
baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan
sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan
kerja.
Banyak faktor risiko di lingkungan kerja yang mempengaruhi keselamatan dan
kesehatan pekerja salah satunya adalah pencahayaan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
No.1405 tahun 2002, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
Pengukuran Penerangan
Alat yang digunakan untuk mengetahui intensitas penerangan adalah lux meter.
Alat bekerja berdasarkan pengubahan energi cahaya menjadi tenaga listrik oleh photo
electric cell. Intensitas inyatakan dalam penerangan dalam Lux. Intensitas penerangan diukur
dengan 2 cara yaitu :
1. Penerangan umum adalah pengukuran dilakukan pada setiap meter persegi luas
lantai, dengan tinggi pengukuran kurang lebih 85 cm dari lantai (setinggi
pinggang).
Penentuan titik pengukuran umum : titik potong garis horizontal panjang dan lebar
ruangan pada setiap jarak tertentu setinggi satu meter dari lantai
2. Penerangan lokal adalah pengukuran ditempat kerja atau meja kerja pada objek
yang dilihat oleh tenaga kerja (contoh : lampu belajar).

Pengukuran titik pengukuran lokal : objek kerja, berupa meja kerja maupun
peralatan. Bila merupakan meja kerja pengukuran dapat dilakukan di atas meja
yang ada.
Menurut SNI 16-7062-2004 jarak tertentu dapat dibedakan berdasarkan luas ruangan sebagai
berikut :
1.

Luas ruangan kurang dari 10 meter persegi : titik potong horizontal panjang dan lebar
ruangan adalah pada jarak setiap satu meter.
Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan kurang
dari 10 meter persegi seperti Gambar 2.1 berikut ini.
1m

1m

1m

1m

1m

1m

Gambar 2.1. Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas kurang dari 10m2
Sumber: BSN,2004.
2. Luas ruangan antara 10m2 sampai 100m2 : titik potong garis horizontal panjang dan
lebar ruangan adalah pada jarak setiap 3 meter.
Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan antara
10m2 sampai 100m2 seperti pada Gambar 2.2 berikut ini.

3m

3m

3m

3m

3m

3m

3m

Gambar.2.2. Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas antara 10m2 sampai
100m2
Sumber: BSN,2004.
3. Luas ruangan lebih dari 100 meter persegi : titik potong horizontal panjang dan lebar
ruangan adalah pada jarak 6 meter. Contoh daerah pengukuran intensitas penerangan
umum untuk luas ruangan lebih dari 100 meter persegi seperti Gambar 2.3 berikut ini.
6m

6m

6m

6m

6m

6m

6m

Gambar 2.3. Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas lebih dari

100m2

Menurut Sumamur (2009), kebutuhan intensitas penerangan tergantung dari jenis


pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, sulit dilakukan bila
keadaan cahaya di tempat kerja tidak memadai. Untuk lebih jelas, lihat Tabel 2.2 dibawah ini.
Tabel.2.2. Tingkat Penerangan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan Contoh pekerjaan
Tingkat Penerangan yang dibutuhkan (Lux)
Tidak teliti

Penimbunan barang

80 170

Agak teliti

Pemasangan (tak teliti)

170-350

Teliti

Membaca, menggambar

350-700

Sangat teliti

Pemasangan

700-1000

Sumber : Sumamur, 2009.

Menurut
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
dan Industri, tercantum dalam Tabel 2.3 berikut ini :
Tabel.2.3. Standar Tingkat Pencahayaan Menurut Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002
Jenis Pekerjaan
Tingkat
Keterangan
Pencahayaan
Minimal ( Lux )
Pekerjaan
kasar 100
dan tidak terusmenerus

Ruang penyimpanan dan


ruang peralatan/instalasi
yang
memerlukan
pekerjaan yang kontinyu

Pekerjaan
dan

Pekerjaan dengan mesin


dan perakitan kasar

kasar 200

terus-menerus
Pekerjaan rutin

300

Ruang administrasi, ruang


kontrol,
pekerjaan
perakitan/
penyusun

mesin

&

Pekerjaan agak

500

Pembuatan gambar atau


bekerja dengan mesin
kantor, pemeriksaan atau
pekerjaan dengan mesin

1000

Pemilihan
warna,
pemrosesan
tekstil,
pekerjaan mesin halus &
perakitan halus.

amat 1500

Mengukir dengan tangan,


pemeriksaan
pekerjaan
mesin dan perakitan yang
sangat halus.

Halus

Pekerjaan halus

Pekerjaan
halus

Tidak
menimbulkan
Bayangan
Pekerjaan terinci

3000
Tidak
menimbulkan

Pemeriksaan
perakitan

pekerjaan,

sangat halus.

Bayangan
Sumber : Kepmenkes No. 1405,2002.

Ahmadi Ruslan. 2009. Fisika Kesehatan. Jogjakarta: Mitra Cendekia


Cok Gd Rai Padmanaba. 2006. Pengaruh Penerangan Dalam Ruang Terhadap Produktivitas
Mahasiswa Desain Interior.
DEPKES
RI.
2003.
KEPUTUSAN
1202/MENKES/SK/VIII/2003. Prabu. 2009.

MENTERI

KESEHATAN

NOMOR

Sistem dan Standar Pencahayaan Ruang. Pusat Hyperkes dan Keselamatan Kerja. 2008.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran. Jakarta: Balai Hiperkes Dan Keselamatan
Kerja
Sumamur, PK. 2009. Higene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Sagung Seto

Metode Pengukuran Intensitas Cahaya


Teknik Pengukuran Jenis-jenis Pengukuran Cahaya
1.
2.
3.
4.

Pengukuran distribusi intensitas luminus luminer


Pengukuran fluks luminus lampu
Pengukuran iluminansi pada bidang kerja
Penentuan jumlah luminer dalam ruangan

1. Distribusi Intensitas Luminus Luminer, Merupakan karakteristik dari suatu luminer


(lampu + armatur). Dapat digunakan sebagai dasar dari perencanaan pencahayaan
buatan. Umumnya dinyatakan dalam satuan candela atau candela/1000 lumen, sebagai
fungsi dari sudut antara normal luminer dengan titik ukur. Umumnya ditampilkan
berbentuk diagram polar
Pengukuran Distribusi Intensitas Luminus Luminer
Menggunakan luxmeter sebagai alat ukur iluminansi [lux] dari luminer
Menggunakan pendekatan sumber titik
Dilakukan dalam ruang gelap (tidak ada cahaya pantul yang diterima sensor
luxmeter)
Luminer diletakkan pada meja putar, kemudian
diputar dari 90o ~ 90o dengan interval 1o, 2o, 5o, atau 10o
Intensitas luminus ditentukan dari persamaan
E = (I/d2) cos
dengan
E iluminansi yang diterima luxmeter
I intensitas luminus pada arah sudut
d jarak antara titik ukur dengan luminer (> 5 kali dimensi terbesar luminer)
sudut antara normal sensor luxmeter dengan titik tengah luminer = 0o cos = 1
2. Pengukuran Distribusi Intensitas Luminus Luminer
Pengukuran dilakukan untuk posisi luminer horisontal, vertikal, membentuk sudut
45o, serta membentuk sudut 45o.
Hasil pengukuran (I) umumnya ditampilkan berdasarkan keempat posisi tersebut,
atau sekurang-kurangnya posisi horisontal dan vertikal.
3. Fluks Luminus Lampu
Laju energi cahaya [lumen] yang dipancarkan suatu lampu
Menunjukkan banyaknya cahaya yang dapat dihasilkan suatu sumber cahaya (lampu)
Dapat ditentukan dengan dua metoda, yaitu menggunakan bola integrator atau
menggunakan hasil pengukuran intensitas luminus dari luminer (metoda konstanta
zonal)
Luxmeter
Digunakan untuk mengukur iluminansi (tingkat pencahayaan) pada suatu permukaan
dalam satuan lux (lx) atau footcandle (fc). 1 lux = tingkat pencahayaan pada permukaan

seluas 1 m2 yang dijatuhi fluks luminus sebesar 1 lumen. 1 footcandle = tingkat pencahayaan
pada permukaan seluas 1 ft2 yang dijatuhi fluks luminus sebesar 1 lumen.
Luxmeter terdiri dari badan, sel cahaya (photo cell) atau sensor cahaya, dan tampilan
(display). Sensor cahaya terdiri dari input optik, filter, dan detektor.
PEMBAHASAN

A. Prinsip Kerja

Luxmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat penerangan (tingkat
penerangan) pada suatu area atau daerah tertentu. Alat ini didalam memperlihatkan hasil
pengukurannya menggunakan format digital. Alat ini terdiri dari rangka, sebuah sensor
dengan sel foto dan layar panel. Sensor tersebut diletakan pada sumber cahaya yang akan
diukur intenstasnya. Cahaya akan menyinari sel foto sebagai energi yang diteruskan oleh sel
foto menjadi arus listrik. Makin banyak cahaya yang diserap oleh sel, arus yang dihasilkan
pun semakin besar.

Sensor yang digunakan pada alat ini adalah photo diode. Sensor ini termasuk kedalam jenis
sensor cahaya atau optic. Sensor cahaya atau optic adalah sensor yang mendeteksi perubahan
cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengenai suatu
daerah tertentu. Kemudian dari hasil dari pengukuran yang dilakukan akan ditampilkan pada
layar panel.

Berbagai jenis cahaya yang masuk pada luxmeter baik itu cahaya alami atapun buatan akan
mendapatkan respon yang berbeda dari sensor. Berbagai warna yang diukur akan
menghasilkan suhu warna yang berbeda,dan panjang gelombang yang berbeda pula. Oleh
karena itu pembacaan yang ditampilkan hasil yang ditampilkan oleh layar panel adalah
kombinasi dari efek panjang gelombang yang ditangkap oleh sensor photo diode.

Pembacaan hasil pada Luxmeter dibaca pada layar panel LCD (liquid Crystal digital) yang
format pembacaannya pun memakai format digital. Format digital sendiri didalam
penampilannya menyerupai angka 8 yang terputus-putus. LCD pun mempunyai karakteristik
yaitu Menggunakan molekul asimetrik dalam cairan organic transparan dan orientasi molekul
diatur dengan medan listrik eksternal.

Adapuun bagian- bagian dari alat lux meter adalah sebagai berikut :

image

Gambar 20. Lux Meters

Fungsi bagian- bagian alat ukur :

Layar panel : Menampilkan hasil pengukuran

Tombol Off/On : Sebagai tombol untuk menyalakan atau mematikan alat

Tombol Range : Tombol kisaran ukuran

Zero Adjust VR : Sebagai pengkalibrasi alat (bila terjadi error)

Sensor cahaya : Alat untuk mengkoreksi/mengukur cahaya.

B. Prosedur Penggunanaan Alat

Dalam mengoperasikan atau menjalankan lux meter amat sederhana. Tidak serumit alat ukur
lainnya, dalam penggunaannya yang harus benar- benar diperhatikan adalah alat
sensornya,karena sensornyalah yang kan mengukur kekuatan penerangan suatu cahaya. Oleh
karena itu sensor harus ditempatkan pada daerah yang akan diukur tingkat kekuatan
cahayanya (iluminasi) secara tepat agar hasil yang ditampilkan pun akuarat. Adapun prosedur
penggunaan alat ini adalah sebagai berikut :

Geser tombol off/on kearah On.

Pilih kisaran range yang akan diukur ( 2.000 lux, 20.000 lux atau 50.000 lux) pada tombol
Range.
Arahkan sensor cahaya dengan menggunakan tangan pada permukaan daerah yang akan
diukur kuat penerangannya.
Lihat hasil pengukuran pada layar panel.
Hal- hal yang harus diperhatikan dalam perawatan alat ini adalah sensor cahaya yang bersifat
amat sensitif. Dalam perawatannya sensor ini harus diamankan pada temapat yang aman
sehingga sensor ini dapat terus berfungsi dengan baik karena sensor ini merupakan komponen
paling vital pada alat ini.

Selain dari sensor, yang harus diperhatikan pada alat ini pun adalah baterainya. Jikalau pada
layar panel menunjukan kata LO BAT berarti baterai yang digunakan harus diganti dengan
yang baru. Untuk mengganti baterai dapat dilakukan dengan membuka bagian belakang alat
ini (lux meer) kemudian mencopot baterai yang habis ini, lalu menggantinya dengan yang
dapat digunakan. Baterai yang digunakan pada alat ini adalah baterai dengan tegangan 9 volt,
tetapi untuk tegangan beterai ini tergantung pada spesifikasi alatnya.

Apabila hasil pengukuran tidak seharusnya terjadi, sebagai contoh diruangan yang dengan
kekuatan cahaya normal setelah dilakukan pengukuran ternyata hasilnya tidak normal maka
dapat dilakukan pengkalibrasian ulang dengan menggunakan tombol Zero Adjust.

C. Cara Pembacaan

Pada tombol range ada yang dinamakan kisaran pengukuran. Terdapat 3 kisaran pengukauran
yaitu 2000, 20.000, 50.000 (lux). Hal tersebut menunjukan kisaran angka (batasan
pengukuran) yang digunakan pada pengukuran. Memilih 2000 lux, hanya dapat dilakukan
pengukuran pada kisaran cahaya kurang dari 2000 lux. Memilih 20.000 lux, berarti
pengukuran hanya dapat dilakukan pada kisaran 2000 sampai 19990 (lux). Memilih 50.000
lux, berarti pengukuran dapat dilakukan pada kisaran 20.000 sampai dengan 50.000 lux. Jika
Ingin mengukur tingkat kekuatan cahaya alami lebih baik baik menggunakan pilihan 2000
lux agar hasil pengukuran yang terbaca lebih akurat. Spesifikasi ini, tergantung kecangihan
alat.

Apabila dalam pengukuran menggunakan range 0-1999 maka dalam pembacaan pada layar
panel di kalikan 1 lux. Bila menggunakan range 2000-19990 dalam membaca hasil pada layar
panel dikalikan 10 lux. Bila menggunakan range 20.000 sampai 50.000 dalam membaca hasil
dikalikan 100 lux.

D. Kegunaan Lux Meter


Dalam aplikasi penggunaannya dilapangan alat ini lebih sering digunakan pada bidang
arsitektur, industri, dan lain-lain. Prisip kerja alat ini pun banyak digunakan pada alat yang
biasa digunakan pada fotografi, sebagai contoh pada alat available light, reflected lightmeter,
dan incident lightmeter. Selain itu didalam penelitian-penelitian mengenai tingkat
keanekaragaman dan lain-lain yang senantiasa diperlukan data mengenai tingkat pencahayaan
alat ini pun dapat digunakan.
Aplikasi Luxmeter
1. Pengukuran tingkat pencahayaan di sekolah, rumah sakit, industri, laboratorium,
jalan, dll.
2. Pengukuran tingkat pencahayaan yang diterima benda-benda pamer pada museum,
galeri seni, ruang arsip, dll.
3. Pengukuran distribusi intensitas cahaya luminer (lampu)
4. Video, fotografik, arsitektur

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan mengenai alat ukur lux meter adalah :

Lux meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat penerangan (tingkat iluminitas).
Alat ini bagian- bagiannya terdiri dari sebuah sensor dengan sel foto (photo diode), dan layar
panel.
Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan alat ini adalah sebagai berikut :
Sensor harus diletakan pada tempat yang tepat (saat melakukan pengukuran) untuk
menghasilkan pembacaan yang akurat.
Berkenaan dengan sensitifitas sensor yang tinggi, sensor harus ditempatkan pada tempat yang
aman.
Bila pada layar panel tertera LO BAT, sebaiknya baterai harus diganti.

Alat ini biasa digunakan pada bidang arsitektur, industri, fotografi, biologi dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1986. Ilmu Pengetahuan Populer. Jakarta : PT. Widyadara Groiler Intenational Inc.

Purwanto, Budi. 2000/ Fisika Dasar : Teori dan Implementasinya. Solo: Tiga Serangkai

Petunjuk Penggunaan Lightmeter Type LX- 101 A

Search Enggine : www.google.com

Search Enggine Yahoo : www.yahoo.com

Tranggono, Agus dkk. 2003. Sains Fisika. Jakarta : Bumi Aksara

www.hioki . co. Jp

www.omega .com