Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Semen (cement) adalah hasil industri dari paduan bahan baku: batu kapur/gamping
sebagai bahan utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir
berupa padatan berbentuk bubuk/bulk
Semen juga adalah senyawa kimia bersifat hidrolis artinya jika semen dicampur air dalam
jumlah tertentu, maka akan terjadi ikatan bahan-bahan lain menjadi suatu satuan massa yang
dapat memadat dan mengeras. Komposisi semen terdiri atas:
1.
2.
3.
4.

Tricalcium silicate = 3CaO.SiO2 atau C3S


Dicalcium silicate = 2CaO.SiO2 atau C2S
Tricalcium alumina= 3CaO.Al2O3 atau C3A
Tetra calcium alumina ferrit = 4CaO.Al2O3.Fe2O3 atau C4AF

Semua senyawa alami yang mengandung Ca,Si,Al,dan Fe dapat digunakan sebagai bahan
baku semen. Bahan baku semen terdapat banyak di Indonesia, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Batu kapur sebagai sumber CaO(limestone,aragonite,chalk)


Tanah liat sumber Al2O3(clay,slag,fly ash)
Pasir sebagai sumber SiO2(sand,clay,millfines)
Pasir besi sebagai sumber Fe2O3 (iron ore pyrite, pasir besi)

Jenis-jenis Semen
1. Semen Abu atau semen Portland adalah bubuk/bulk berwarna abu kebiru-biruan,
dibentuk dari bahan utama batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang diolah
dalam tanur yang bersuhu dan bertekanan tinggi Semen ini biasa digunakan sebagai
perekat

untuk

memplester. Semen

ini

berdasarkan

prosentase

kandungan

penyusunannya terdiri dari 5 tipe, yaitu tipe I sampai tipe V.


2. Semen Putih (gray cement) adalah semen yang lebih murni dari semen abu dan
digunakan untuk pekerjaan penyelesaian (finishing), seperti sebagai filler atau
pengisi. Semen jenis ini dibuat dari bahan utama kalsit (calcite) limestone murni.

3. Oil Well Cement atau semen sumur minyak adalah semen khusus yang digunakan
dalam proses pengeboran minyak bumi atau gas alam, baik di darat maupun di lepas
pantai.
4. Mixed & Fly Ash Cement adalah campuran semen abu dengan Pozzolan buatan (fly
ash). Pozzolan buatan (fly ash) merupakan hasil sampingan dari pembakaran batubara
yang mengandung amorphous silica, aluminium oksida, besi oksida dan oksida
lainnya dalam variasi jumlah. Semen ini digunakan sebagai campuran untuk membuat
beton, sehingga menjadi lebih keras.

BAB II
PROSES PEMBUATAN SEMEN
Proses pembuatan semen dapat dibedakan menurut :
a. Proses basah
Pada proses basah semua bahan baku yang ada dicampur dengan air, dihancurkan dan
diuapkan kemudian dibakar dengan menggunakan bahan bakar minyak(bunker crude oil). Proses
ini jarang digunakan karena masalah keterbatasan energi BBM.
b. Proses kering
Pada proses kering digunakan teknik penggilingan dan blending kemudian dibakar dengan
bahan bakar batubara. Proses ini meliputi lima tahap pengelolaan yaitu :
1. Proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary dryer dan roller meal.
2. Proses pencampuran (homogenizing raw meal).
3. Proses pembakaran raw meal
4. Proses penggilingan akhir di mana clinker dan gypsum digiling dengan cement mill
5. Proses pendinginan terak.
Dari proses pembuatan semen di atas akan terjadi penguapan karena pembakaran dengan
suhu mencapai 900o C sehingga menghasilkan : residu (sisa) yang tak larut, sulfur trioksida,
silika yang larut, besi dan alumunium oksida, oksida besi, kalsium, magnesium, alkali, fosfor,
dan kapur bebas.

Secara garis besar proses produksi semen melalui proses kering dilakukan dalam 6 tahap,
yaitu :
1. Penambangan dan penyimpanan bahan mentah
Semen yang paling umum yaitu semen portland memerlukan empat komponen bahan
kimia yang utama untuk mendapatkan komposisi kimia yang sesuai. Bahan tersebut adalah kapur
(batu kapur), silika (pasir silika), alumina (tanah liat), dan besi oksida (bijih besi). Gipsum dalam
jumlah yang sedikit ditambahkan selama penghalusan untuk memperlambat pengerasan.
2. Penggilingan dan pencampuran bahan mentah
Semua bahan baku dihancurkan sampai menjadi bubuk halus dan dicampur sebelum
memasuki proses pembakaran.
3. Homogenisasi dan pencampuran bahan mentah
Homogenisasi bahan mentah untuk mendapatkan campuran yang homogen
4. Pembakaran
Tahap paling rumit dalam produksi semen portland adalah proses pembakaran, dimana
terjadi proses konversi kimiawi sesuai rancangan dan proses fisika untuk mempersiapkan
campuran bahan baku membentuk klinker(bahan setengah jadi/terak). Proses ini dilakukan di
dalam rotary kiln dengan menggunakan bahan bakar fosil berupa padat (batubara), cair (solar),
atau bahan bakar alternatif. Batubara adalah bahan bakar yang paling umum dipergunakan
karena pertimbangan biaya.
5. Penggilingan hasil pembakaran
Proses selanjutnya adalah penghalusan klinker dengan tambahan sedikit gipsum, kurang dari 4%,
untuk dihasilkan semen portland tipe 1. Jenis semen lain dihasilkan dengan penambahan bahan
aditif posolon atau batu kapur di dalam penghalusan semen.
6. Pendinginan dan pengepakan
Reaksi-reaksi yang terjadi
a. Reaksi alite dengan air :
2Ca3OSiO4 + 6H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2
Reaksi ini relatif cepat, menyebabkan penetapan dan perkembangan penguatan pada
beberapa minggu pertama.
b. Reaksi dari belite :

2Ca2SiO4 + 4H2O 3CaO.2SiO2.3H2O + Ca(OH)2

Reaksi ini relatif lambat, dan berperan untuk meningkatkan penguatan setelah satu
minggu. Hidrasi trikalsium aluminat dikontrol oleh penambahan kalsium sulfat, yang dengan
seketika menjadi cairan pada saat penambahan air.
Pertama-tama, etringit dibentuk dengan cepat, menyebabkan hidrasi yang lambat.
Ca3(AlO3)2 + 3CaSO4 + 32H2O Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O
Sesudah itu etringit bereaksi secara lambat dengan trikalsium aluminat lebih lanjut untuk
membentuk monosulfat.
Ca6(AlO3)2(SO4)3.32H2O + Ca3(AlO3)2 + 4H2O 3Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O
Reaksi ini akan sempurna setelah 1-2 hari. Kalsium aluminoferit bereaksi secara lambat
karena adanya hidrasi besi oksida.
2Ca2AlFeO5 + CaSO4 + 16H2O Ca4(AlO3)2(SO4).12H2O + Ca(OH)2 + 2Fe(OH)3

BAB III
LIMBAH INDUSTRI SEMEN
Limbah yang terbesar dari industri semen atau pabrik semen adalah debu dan partikel,
yang termasuk limbah gas dan limbah B3. Udara adalah media pencemar untuk limbah
gas. Limbah gas atau asap yang diproduksi pabrik keluar bersamaan dengan udara. Secara
alamiah udara mengandung unsur kimia seperti O2, N2, NO2,CO2, H2 dan Jain-lain.
Penambahan gas ke dalam udara melampaui kandungan alami akibat kegiatan manusia akan
menurunkan kualitas udara.
Zat pencemar melalui udara diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu partikel dan gas.
Partikel adalah butiran halus dan masih mungkin terlihat dengan mata telanjang seperti uap air,
debu, asap,kabut dan fume-Sedangkan pencemaran berbentuk gas dapat dirasakan melalui
penciuman (untuk gas tertentu) ataupun akibat langsung. Gas-gas ini antara lain SO2, NOx, CO,
CO2, hidrokarbon dan lain-lain.
Untuk beberapa bahan tertentu zat pencemar ini berbentuk padat dan cair. Karena suatu
kondisi temperatur ataupun tekanan tertentu bahan padat/cair itu dapat berubah menjadi gas.
Baik partikel maupun gas membawa akibat terutama bagi kesehatan,manusia seperti debu

batubara, asbes, semen, belerang, asap pembakaran,uap air, gas sulfida, uap amoniak, dan lainlain.
Arah angin mempengaruhi daerah pencemaran karena sifat gas dan partikel yang ringan
mudah terbawa. Kenaikan konsentrasi partikel dan gas dalam udara di beberapa kota besar dan
daerah industri banyak menimbulkan pengaruh, misalnya gangguan jarak pandang oleh asap
kendaraan bermotor, gangguan pernafasan dan timbulnya beberapa jenis penyakit tertentu.
A. Limbah Gas
Udara adalah media pencemar untuk limbah gas. Limbah gas atau asap yang diproduksi
pabrik keluar bersamaan dengan udara. Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti
O2, N2, NO2,CO2, H2 dan lain-lain.
Gas tertentu yang lepas ke udara dalam konsentrasi tertentu akan membunuh manusia.
Konsentrasi fluorida yang diperkenankan dalam udara 2,5 mg/meter kubik. Fluorida dan
persenyawaannya adalah racun dan mengganggu metabolisme kalsium dan enzim. Sedangkan
hidrogen fluorida sangat initatif terhadap jaringan kulit, merusak paru-paru dan menimbulkan
penyakit pneumonia.Asam sulfida, garam sulfida dan karbon disulfida adalah persenyawaan
yang mengandung sulfur. Persenyawaan sulfida dapat terurai dan lepas ke udara menyebabkan
kerusakan pada sel susunan saraf.
Dalam kadar rendah tidak berbau dan bila kadar bertambah menyebabkan bau yang tidak
enak gejalanya cepat menghebat menimbulkan pusing, batuk dan mabuk.Uap, yaitu bentuk gas
dari zat tertentu tidak kelihatan dan dalam ruangan berdifusi mengisi seluruh ruang. Yang harus
diketahui adalah jenis uap yang terdapat dalam ruangan karena untuk setiap zat berbeda.daya
reaksinya. Zat-zat yang mudah menguap adalah amoniak, chlor, nitrit, nitrat dan lain-lain.
Debu yaitu partikel zat padat yang timbul pada proses industri sepeti pengolahan,
penghancuran dan peledakan, baik berasal dari bahan organik maupun anorganik. Debu, karena
ringan, akan melayang di udara dan turun karena gaya tarik bumi. Debu yang membahayakan
adalah debu kapas, debu asbes, debu silicosis, debu stannosis pada pabrik timah putih,
debusiderosis, debu yang mengandung Fe2O3.
Penimbunan debu dalam paru-paru akibat lingkungan mengandung debu yaitu pada
manusia yang ada di sekitarnya bekerja atau bertempat tinggal. Kerusakan kesehatan akibat debu
tergantung pada lamanya kontak, konsentrasi debu dalam udara,jenis debu itu sendiri dan lainlain.
Asap adalah partikel dari zat karbon yang keluar dari cerobong asap industri karena
pembakaran tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon. Asap bercampur
dengan kabut/uap air pada malam hari akan turun ke bumi bergantungan pada daun-daunan
ataupun berada di atas atap rumah.

Bahan yang bersifat partikel menurut sifatnya akan menimbulkan:


1.Ransangan saluran pernafasan
2.Kematian karena bersifat racun
3.Alergi
4.Fibrosis
5.Penyakit demam
Bahan yang bersifat gas dan uap menurut sifat-sifatnya akan berakibat:
1.Merangsang penciuman seperti: HC1, H2S, NH3
2.Merusak alat-alat dalam tubuh, misalnya CaCI
3.Merusak susunan saraf: uap plumbum, fluorida
4.Merusak susunan darah: benzene
B. Limbah B3
Limbah B3 adalah Sisa usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan
atau beracun yang karena sifat, konsentrasi dan jumlahnya, yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya .

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal
dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap
Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur
aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses
tersebut
Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested
aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan
banyak mengandung padatan organik.

Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di
antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.

Pembuangan Limbah B3 (Disposal)

Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi yang
tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat pembuangan akhir yang banyak
digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug) dan disposal well (sumur pembuangan)
Dimulai dari bawah, bagian dasar secured landfill terdiri atas tanah setempat, lapisan dasar,
sistem deteksi kebocoran, lapisan tanah penghalang, sistem pengumpulan dan pemindahan lindi
(leachate), dan lapisan pelindung. Untuk kasus tertentu, di atas dan/atau di bawah sistem
pengumpulan dan pemindahan lindi harus dilapisi geomembran. Sedangkan bagian penutup
terdiri dari tanah penutup, tanah tudung penghalang, tudung geomembran, pelapis tudung
drainase, dan pelapis tanah untuk tumbuhan dan vegetasi penutup. Secured landfill harus dilapisi
sistem pemantauan kualitas air tanah dan air pemukiman di sekitar lokasi agar mengetahui
apakah secured landfill bocor atau tidak. Selain itu, lokasi secured landfill tidak boleh
dimanfaatkan agar tidak beresiko bagi manusia dan habitat di sekitarnya.
Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling
populer di antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.
Pembuangan Limbah B3 (Disposal) Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak
dapat diolah dengan teknologi yang tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat
pembuangan akhir yang banyak digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug)
dan disposal well (sumur pembuangan)

Source :
http://mahardika-duniaku.blogspot.co.id/2011/07/limbah-industri-semen.html
http://limbah.org/limbah-gas-dan-partikel.html
http://b3.menlh.go.id/bulletin/article.php?article_id=108
http://teleinformasi.com/situs/index.php?judul=teknologi%20pengolahan%20limbah
%20b3%20%20majari
%20magazine&url=http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahanlimbah-b3/
http://www.google.co.id/search?
hl=id&biw=1024&bih=608&q=limbah+industri+semen&aq=f&aqi=&aql=&oq=

http://industrisemen-prosespembuatansemen.blogspot.co.id/2015/04/pemanfaatanlimbah-b3-sebagai-bahan.html