Anda di halaman 1dari 9

1.1.

Etiologi
Pruritus atau rasa gatal adalah suatu gejala penting karena merupakan gambaran
umum dari penyakit dermatologi, tetapi juga merefleksikan patologi sistemik. Pruritus
diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan sifatnya yaitu pruritus lokal dan generalisata.
Pruritus lokal menunjukkan penyebab lokal, sedangkan pruritus generalisata bisa
berhubungan dengan penyakit kulit atau penyakit sistemik. Adapun penyakit yang
menyebabkan pruritus generalisata antara lain11:

a.
b.
c.
d.
e.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Kolestatis kronis
Gagal ginjal kronis
Polistema rubra vera
Kehamilan
Hiper dan hipotiroidisme
f. Penyakit mieloproliferatif (penyakit hodgkin, leukimia dan mieloma)
Sindrom karsinoid
Defisiensi besi
Hipersensitivitas obat
Mastositosis
Diabetes melitus
Tumor otak (terutama Ventrikel keempat)
Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan. Secara umum,
penyebab pruritus dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan, yaitu12:
1.

Pruritus local

Pruritus lokal adalah pruritus yang terbatas pada area tertentu di tubuh.
Penyebabnya beragam, Beberapa Penyebab Pruritus Lokal:
a. Kulit kepala

: Seborrhoeic dermatitis, kutu rambut.

b. Punggung

: Notalgia paraesthetica

c. Lengan

: Brachioradial pruritus

d. Tangan

: Dermatitis tangan,dll.

2. Gangguan sistemik
Beberapa Gangguan Sistemik Penyebab Pruritus.
a. Gangguan ginjal seperti Gagal ginjal kronik.
b. Gangguan hati seperti Obstruksi biliaris intrahepatika atau ekstrahepatika.
c. Endokrin/Metabolik seperti Diabetes, hipertiroidisme, Hipoparatiroidisme,
dan Myxoedema.
d. Gangguan pada Darah Defisiensi seng (anemia), Polycythaemia, Leukimia
limfatik, dan Hodgkin's disease.

3. Gangguan pada kulit


Penyebab pruritus yang berasal dari gangguan kulit sangat beragam. Beberapa
diantaranya, yaitu dermatitis kontak, kulit kering, prurigo nodularis, urtikaria, psoriasis,
dermatitis atopic, folikulitis, kutu, scabies, miliaria, dan sunburn.
4. Pajanan terhadap faktor tertentu
Pajanan kulit terhadap beberapa faktor, baik berasal dari luar maupun dalam dapat
menyebabkan pruritus. Faktor yang dimaksud adalah allergen atau bentuk iritan
lainnya, urtikaria fisikal, awuagenic pruritus, serangga, dan obat-obatan tertentu
(topical maupun sistemik; contoh: opioid, aspirin).
5. Hormonal
2% dari wanita hamil menderita pruritus tanpa adanya gangguan dermatologic.
Pruritus gravidarum diinduksi oleh estrogen dan terkadang terdapat hubungan dengan
kolestasis. Pruritus terutama terjadi pada trimester ketiga kehamilan, dimulai pada
abdomen atau badan, kemudian menjadi generalisata. Ada kalanya pruritus disertai
dengan anoreksi, nausea, dan muntah. Pruritus akan menghilang setelah penderita
melahirkan. Ikterus kolestasis timbul setelah penderita mengalami pruritus 2-4 minggu.
Ikterus dan pruritus disebabkan oleh karena terdapat garam empedu di dalam kulit.
Selain itu, pruritus juga menjadi gejala umum terjadi menopause. Setidaknya 50%
orang berumur 70 tahun atau lebih mengalami pruritus. Kelainan kulit yang
menyebabkan pruritus, seperti scabies, pemphigoid nodularis, atau eczema grade
rendah perlu dipertimbangkan selain gangguan sistemik seperti kolestasis ataupun gagal
ginjal. Pada sebagian besar kasus pruritus spontan, penyebab pruritus pada lansia
adalah kekeringan kulit akibat penuaan kulit. Pruritus pada lansia berespon baik
terhadap pengobatan emollient.
1.1.2

Patofisiologi
Mekanisme pruritus secara umum berhubungan dengan inisiasi reseptor saraf yang
bertanggungjawab menimbulkan rasa gatal yang ada di kulit. Sensasi pruritus
ditransmisikan lewat saraf nosiseptif tak bermielin dimana akhiran saraf bebasnya
terletak di dekat jembatan dermoepidermal. Neuron yang mentransmisikan sensasi
pruritus ini lebih sensitif terhadap neurotransmitter-neuropeptida yang menginduksi
sensasi

gatal

dibanding

sensasi

nyeri.

Neurotransmitter-neuropeptida

yang

bertanggungjawab atas sensasi gatal antara lain histamin, serotonin, bradikinin,

neuropeptida-P, protease, dan endothelin (yang menghasilkan oksida nitrat). Opioid


juga dikenal sebagai salah satu modulator terjadinya pruritus. Sensitisasi reseptor opioid menginisiasi pruritus, sedangkan blokade reseptor -opioid dan stimulasi
reseptor-kappa menekan kejadian pruritus. Impuls kemudian ditransmisikan secara
aferen lewat ganglion sensorium nervi spinalis menuju cornu dorsalis medulla spinalis
lalu dilanjutkan ke traktus spinotalamikus. Proyeksi aferen ini lalu diteruskan ke
thalamus untuk kemudian diterjemahkan di korteks gyrus postcentralis sebagai rasa
gatal (pruritus). Pruritus yang terjadi karena adanya underlying disease atau penyakit
penyerta sistemik bisa mempunyai mekanisme patofisiologi yang berbeda satu sama
lain13.
a. Pruritus Renal
Pruritus renal terjadi pada pasien dengan gagal ginjal kronis (CRF) yang mendapat
hemodialisis (HD) dan tidak dijumpai pada pasien dengan gagal ginjal akut (ARF).
Pruritus renal bersinonim dengan pruritus uremia, namun sebenarnya kejadian pruritus
ini tidak ditimbulkan karena adanya uremia. Pruritus ditimbulkan karena histamin
bersirkulasi secara sistemik pada pasien yang menerima HD, ditemukan kenaikan
jumlah mastosit di berbagai organ, dan peningkatan level serotonin13.
b. Pruritus Kolestasis
Kolestasis adalah berhentinya atau tersumbatnya aliran empedu (bilier). Sumbatan
ini bisa terjadi karena gangguan di hepar (misalnya sirosis hepatis) atau memang karena
sumbatan terletak di saluran empedu. Kenaikan level histamin di vasa darah dan
konsentrasi garam empedu dalam hepar, serta penurunan level albumin intravasa
menginisiasi terjadinya pruritus13.
c. Pruritus Hematologis
Ion besi dikenal sebagai substansi kimiawi yang berperan dalam reaksi enzimatik
tubuh. Walaupun defisiensi besi tidak menyebabkan pruritus secara langsung, namun
mekanisme metabolik yang disebabkan karena defisiensi ini menyebabkan timbulnya
pruritus. Gangguan ini dapat dialami pada pasien dengan anemia defisiensi besi13.
Kenaikan level basofil yang bersirkulasi dalam darah dan mastosit di kulit sehingga
menyebabkan pruritus juga dapat dijumpai pada pasien dengan polisitemia vera.
Sensasi gatal pada pasien polisitemia vera dirasakan setelah mandi dengan air panas.
Prostaglandin yang dihasilkan mastosit dan peningkatan degranulasi platelet ini
berkorelasi dengan pelepasan serotonin, yang akhirnya menyebabkan pruritus13.
d. Pruritus Endokrin

Hipertiroidisme berhubungan dengan insidensi pruritus. Elevasi jumlah hormon


tiroid mengaktivasi kinin untuk meningkatkan metabolisme jaringan. Reaksi
vasodilatasi saat metabolisme menurunkan ambang batas gatal pada kulit sehingga
pruritus mudah terjadi13.
Hipotiroidisme juga berhubungan dengan pruritus karena penurunan metabolisme
tubuh mengakibatkan xerosis, kulit menjadi kering, timbul fisura (chapped skin)
sehingga mudah mengalami pruritus. Pasien dengan diabetes mellitus juga dilaporkan
bisa mengalami gangguan ini. Abnormalitas metabolik, disfungsi autonomis,
anhidrosis, dan neuropati diabetikum dimungkinkan mampu menginisiasi terjadinya
pruritus13.
e. Pruritus Gravidarum
Pruritus gravidarum diinduksi oleh estrogen dan kadang berhubungan dengan
kolestasis (pregnancy cholestasis). Pruritus terutama terdapat pada trimester akhir
kehamilan, yang dimulai dari abdomen atau badan, kemudian generalisata. Ada kalanya
pruritus disertai anoreksia, nausea, dan muntah. Penampakan objektif terlihat ekskoriasi
karena garukan. Pruritus akan hilang setelah penderita melahirkan tetapi dapat residif
pada kehamilan berikutnya13.
f. Pruritus yang berhubungan dengan keganasan
Pengeluaran toksin dan mediator sistem imun mempunyai peran penting pada
mekanisme pruritus yang berhubungan dengan keganasan. Pada pasien dengan limfoma
Hodgkin, leukopeptidase dan bradikinin nampak sebagai mediator pruritogenik utama
dari sel limfoid maligna tersebut13.
1
2

Davey P. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2006.


Nora V. Bergasa. 2005. The Pruritus of Cholestasis. Review Journal of Hepathology

43 (2005) : 1078-1088 : Elsevier


Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Bab Varisela.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2007

TINEA VERSICOLOR
DEFINISI
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan
oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit yang kronik dan asimtomatik
ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan ini umumnya menyerang
badan dan kadang- kadang terlihat di ketiak, sela paha,tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala.

MORFOLOGI
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas,
berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak
menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur,
berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat milier,lentikuler, numuler sampai plakat.
Ada dua bentuk yang sering dijumpai :
Bentuk makuler :
Berupa bercak-bercak yang agak lebar, dengan sguama halus diatasnya dan tepi tidak
meninggi.
Bentuk folikuler :
Seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut

PATOGENESIS
Mallasezia furfur, merupakan organisme saprofit pada kulit normal. Bagaimana perubahan
dari i saprofit menjadi patogen belum diketahui.
Organisme ini merupakan "lipid dependent yeast". Timbulnya penyakit ini juga dipengaruhi
oleh faktor hormonal, ras, matahari,peradangan kulit dan efek primer pytorosporum terhadap
melanosit.

GAMBARAN KLINIS
Timbul bercak putih atau kecoklatan yang kadang-kadang gatal bila,berkeringat. Bisa pula
tanpa keluhan gatal sama sekali, tetapi penderita mengeluh karena malu oleh adanya bercak
tersebut.
Pada orang kulit berwarna, lesi yang terjadi tampak sebagai bercak hipopigmentasi, tetapi
pada orang yang berkulit pucat maka lesi bisa berwarna kecoklatan ataupun kemerahan. Di
atas lesi terdapat sisik halus.

Folikulitis
Merupakan bentuk klinis yang lebih berat, Malasezia furfur dapat tumbuh dalam jumlah
banyak pada folikel rambut dan kelenjar sebasea. Pada pemeriksaan histologis organisme
tersebut terlihat dilobang folikel bagian infudibulum saluran sebasea dan sering disekitar
dermis. Folikel berdilatasi akibat sumbatan dan terdiri dari debris keratin
Secara klinis lesi terlihat eritem, papula folikular atau pustula dengan ukuran 2-4 mm,
distribusinya dipunggung, dada kadang-kadang dibahu, dengan leher dan rusuk. Bentuknya
yang lebih berat disebut Acneifonn folliculitis

Dacriosis obstructif
Malasezia furfur dapat membentuk koloni pada kelenjar lakrimalis, menyebabkan
pembengkakan dan obstruksi. Pada beberapa kasus terbentuk dakriolit, terjadi inflamasi dan
mengganggu produksi air mata.

DIAGNOSA BANDING
Penyakit ini harus dibedakan dari dermatitis seboroik, sifilis stadium tua, pitiriasis rosea
vitiligo, morbus hansen dan hipopigmentasi pasca peradangan.

CARA MENEGAKKAN DIAGNOSE


Selain mengenal kelainan-kelainan yang khas yang disebabkan oleh Melasezi fulfur diagnosa
pitiriasis versikolor harus dibantu dengan pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut :
.b Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%.
Bahan-bahan kerokan kulit di ambil dengan cara mengerok bagian kulit yang mengalami
lesi. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol 70%, lalu dikerok dengan
skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempeng-lempeng steril pula. Sebagian
dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan KOH% yang diberi tinta Parker Biru
Hitam, Dipanaskan sebentar, ditutup dengan gelas penutup dan diperiksa di bawah
mikroskop. Bila penyebabnya memang jamur, maka kelihatan garis yang memiliki indeks
bias lain dari sekitarnya dan jarakjarak tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat atau seperti
butir-butiir yang bersambung seperti kalung. Pada pitiriasis versikolor hifa tampak
pendekpendek, lurus atau bengkok dengan disana sini banyak butiran-butiran kecil
bergerombol.
b Pembiakan.
Organisme penyebab Tinea versikolor belum dapat dibiakkan pada media buatan.
bPemeriksaan dengan sinar wood,dapat memberikan perubahan warna pada seluruh
daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Daerah yang terkena infeksi akan
memperlihatkan fluoresensi warna emas sampai orange.

PENGOBATAN
Tinea versikolor dapat diobati dengan berbagai obat yang manjur pakaian, kain sprei, handuk
harus dicuci dengan air panas. Kebanyakan pengobatan akan menghilangkan bukti infeksi
aktif (skuama) dalam waktu beberapa hari, tetapi untuk menjamin pengobatan yang tuntas
pengobatan ketat ini harus dilanjutkan beberapa minggu.
Perubahan pigmen lebih lambat hilangnya. Daerah hipopigmentasi belum akan tampak
normal sampai daerah itu menjadi coklat kembali. Sesudah terkena sinar matahari lebih lama
daerah-daerah yang hipopigmentasi akan coklat kembali. Meskipun terapi nampak sudah
cukup, bila kambuh atau kena infeksi lagi merupakan hal biasa, tetapi selalu ada respon
terhadap pengobatan kembali. Tinea versikolor tidak memberi respon yang baikterhadap
pengobatan dengan griseofulvin.
Obat-obat anti jamur yang dapat menolong misalnya salep whitfield, salep salisil sulfur (salep
2/4), salisil spiritus, tiosulfatnatrikus (25%). Obat-obat baru seperti selenium sulfida 2%
dalam shampo, derivatimidasol seperti ketokonasol, isokonasol, toksilat dalam bentuk krim
atau larutan dengan konsentrasi 1-2% sangat berkhasiat baik.

PROGNOSIS
Umumnya baik bila faktor-faktor predisposisi dapat dieliminer dengan baik.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini ditemukan diseluruh dunia (kosmopolit) terutama di daerah beriklim panas. Di
Indonesia frekuensinya tinggi. Penularan panu terjadi bila ada kontakdengan jamur penyebab
oleh karena itu kebersihan prinadi sangat penting.
Sumber
1. Arnold, Odum, James.Andrew's :Desease of the skin, .8th ed ,London. WBSounders
Co., 1989 : 347 349.
2. Balus, L: Grigoriu D : Pityriasis versicolor. CILAG-LTD 1982.
3. Budi mulja, U : Mikosis. Dalam ilmu penyakit kulit dan kelamin, Jakarta FK UI. 1987
: 84-88

Siklus Aktivitas Folikel Rambut


Setelah pembentukan folikel rambut dan rambut, perkembangan folikel rambut
selanjutnya akan berhenti pada bulan ke-5 kehamilan. Folikel mengalami involusi memasuki
fase katagen, dimana papilla dermis akan mengalami regresi dan akhirnya folikel memasuki
fase istirahat. Sampai saat ini belum diketahui mengapa papila dermis yang telah terbentuk
harus mengalami regresi terlebih dahulu dan kemudian mengalami aktivasi kembali.
(Pusponegoro,
Erdina H.D. 2002)

Siklus pertumbuhan folikel rambut adalah demikian. Sejak pertama kali terbentuk
folikel rambut mengalami siklus pertumbuhan yang berulang. Fase pertumbuhan dan fase
istirahat bervariasi berdasarkan umur dan regio tempat rambut tersebut tumbuh dan juga
dipengaruhi faktor fisiologis maupun patologis. Siklus pertumbuhan yang normal adalah
masa anagen, masa katagen, dan masa telogen. (Soepardiman, Lily. 2010)
1.

Masa anagen: sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru

mendorong selsel tanduk yang lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya 2-6 tahun.
(Soepardiman, Lily. 2010)
2.

Masa katagen: masa peralihan yang didahului oleh penebalan jaringan ikat di

sekitar folikel rambut, disusul oleh penebalan dan mengeriputnya selaput hialin. Papil rambut
lalu mengelisut dan tidak lagi berlangsung mitosis dalam matriks rambut. Bagian tengah akar
rambut menyempit dan bagian dibawahnya melebar dan mengalami pertandukan sehingga
terbentuk gada (club). Antara bekas papil dan bagian bawah gada terbentang satu tiang sel
epitel. Masa peralihan ini berlangsung 2-3 minggu. (Kusumadewi, dkk; Soepardiman, Lily.
2010)
3.

Masa telogen atau masa istirahat dimulai dengan memendeknya sel epitel

mulai dari bawah ke atas sampai hanya tersisa suatu puting epitel kecil, yaitu benih sekunder,
dan berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga rambut gada akan terdorong
keluar dan rontok.
(Kusumadewi, dkk; Soepardiman, Lily. 2010)
Lama masa anagen adalah berkisar 1000 hari, sedang masa telogen sekitar 100 hari
sehingga perbandingan rambut anagen dan telogen berkisar antara 9:1. Jumlah folikel rambut
pada kepala manusia sekitar 100.000, rambut pirang dan merah jumlahnya lebih sedikit dari
rambut hitam. Jumlah rambut yang rontok per hari 100 helai. Densitas folikel rambut pada
bayi 1135/cm2 dan berkurang menjadi 615/cm2 pada umur tiga puluhan, karena meluasnya
permukaan kulit. Pada umur 50 tahunan ada pengurangan beberapa folikel sehingga jumlah
menjadi 485/cm2. Untuk mengetahui jumlah rambut anagen dan telogen diperiksa rasio
rambut anagen terhadap telogen yang disebut trikogram, sedikitnya 50 helai rambut halus
dicabut dan diperiksa untuk menghindari deviasi standar yang tinggi. Jumlah rambut anagen
pada wanita + 85% dan laki-laki 83% dan jumlah rambut telogen pada wanita 11% dan lakilaki 15%. (Soepardiman, Lily. 2010)
Tabel 2.2: Siklus Rambut
Fase

Masa

Anagen

3 tahun, 84% kulit kepala

Telogen

3 bulan, 14% kulit kepala

Katagen

3 minggu, 2% kulit kepala

Sumber: (Jaffer, Saeed N dan Abrar A. Qureshi)

Pengaturan dan Siklus Pertumbuhan Rambut


Pertumbuhan dan perkembangan folikel rambut dipengaruhi oleh beberapa sitokin dan
growh factor (GF) yang diproduksi oleh sel papilla dermis. Substansi ini memulai dan
mengontrol epitel intrafolikular dan interaksi mesenkimal. Juga mempengaruhi proliferasi
dan diferensiasi sel matriks folikel rambut dengan mengeluarkan sinyal spesifik yang
menginduksi berbagai stadium siklus rambut. Molekul bioaktif tersebut antara lain
interleukin-1 alfa, FGF, EGF, KGF, substansi P, IGF-1, hormone tiroid, paratiroid, dan
androgen. Aktivitas sel papilla dermis sendiri dikontrol oleh substansi yang diproduksi oleh
lapisan spinosum sarung akar luar dan hormon. Beberapa peptida yang dihasilkan lapisan
spinosum dan mempengaruhi papilla dermis antara lain basic fibroblast growth factor
(bFGF), platelet derived growth factor (PDGF), dan transforming growth factor beta (TGFbeta). (Pusponegoro, Erdina H.D. 2002)
Berbagai macam molekul sinyal yang mengontrol siklus rambut tersebut digolongkan ke
dalam 3 kelompok:
1.

Memulai fase anagen, IGF 1, bFGF, EGF, VEGF, TGF-alfa yang merupakan faktor

mitogenik kuat untuk keratinosit dan sel endotel.


2.

Mempertahankan folikel anagen matang, IGF 1, VEGF, yang menstimulasi prliferasi

vaskularisasi dan proses diferensiasi.


3.

Menginduksi fase katagen dan degradasi folikel rambut, IL 1, IL 4, TNF-alfa, TNF-

beta, merupakan sitokin pro-apoptotic dan penghambat pertumbuhan. (Pusponegoro, Erdina


H.D.
2002)