Anda di halaman 1dari 2

Agama dan Keteraturan Sosial

Jum'at, 09 Oktober 2015 10:12 WIB


PEMIKIRAN manusia mengenai lingkup kehidupan sosial ini sangatlah luas, mencakup semua aspek dari
interaksi dengan Tuhan, dengan sesamanya, sampai dengan lingkungannya. Luas memang jika kita bisa
berpikir secara mendalam dan secara batiniah.
Peran agama sebagai kendali keteraturan sosial tak bisa dihindarkan dan tak mungkin untuk dikesampingkan
begitu saja. Ini tak lepas bahwasannya agama menjadi salah satu lem perekat yang mampu merekatkan
kendali sosial. Dalam konteks ajaran setiap agama sudah sangat jelas bagaimana kehidupan ini diatur
sehingga terciptanya keserasian sosial.
Dalam kerangka pikir manusia sering agama hanya dijadikan busana sosial, tidak lantas untuk menjadikannya
landasan sosial. Peraturan agama sudah sangat kompleks dan mendasar, yang mana tercipta hukum-hukum
sosial dalam lingkup masyarakat. Namun, tak jarang agama mampu mengubah cara pandang seseorang
sampai tingkat di luar batas akal sehat, tak jarang terjadi gesekan-gesekan konflik dan gerakan-gerakan
terlarang atau radikal bertamengkan busana agama.
Dengan dalih berjuang atas nama kebenaran dengan berlandaskan agama, tetapi tidak berpikir secara
rasional sehingga dampak yang dirasakan sangat mungkin untuk merugikan orang lain. Lebih dari itu, akan
merusak konsep agama itu sendiri sebagai konsep tak kasatmata. Bahkan sering terdengar kalimat tidak apaapa miskin di dunia yang penting kaya di akhirat, ini juga merupakan ungkapan yang dapat menjadi dua arti,
pertama rasa candu yang ada di dalam agama dan kedua hanya sekadar keputusasaan yang mendalam.
Kita harus selektif dalam berpikir, agama mencakup wawasan yang luas dari hubungan dengan Tuhan,
hubungan dengan manusia, sampai hubungan dengan lingkungan sekitar. Di sini kita dihadapkan kepada tiga
pokok hal penting, tinggal bagaimana manusia tersebut bisa atau tidak untuk dapat
mengimplementasikannya dalam bentuk kontrol sosial.
Seiring berjalannya waktu, bukan tidak mungkin agama akan terbagi menjadi sub-sub, bukan lagi urusan
dengan Tuhan, melainkan lebih kepada hasil karya manusia. Ini sudah semakin banyak terlihat di lingkungan
masyarakat, manusia lebih berkompeten untuk memuji hasil karyanya sendiri ketimbang hasil kuasa Tuhan.
Sangat miris memang, agama sekarang ini hanya sekadar dijadikan pelengkap saat kesusahan dan dijadikan
kambing hitam saat akan mendapatkan kesenangan duniawi. Munculnya gerakan-gerakan radikal dan
menyimpang seperti saat ini patut menjadi bahan renungan, bahwasannya di sinilah terdapat peran agama
yang cukup mendasar. Apakah gerakan-gerakan tersebut murni berlandaskan agama atau hanya
keputusasaan manusia belaka dalam meraih juara sebagai manusia sempurna.
Banyak contoh manusia yang hanya senang mengejar kehidupan di akhirat, padahal sadar dirinya hidup
sekarang ini di dunia dan kadang kita melihat orang yang hanya mengejar kehidupan duniawi, padahal kita
tahu setelah mati akan ada kehidupan kedua di akhirat nantinya.
Memang benar agama menjadi candu bagi manusia, tapi kita juga jangan sampai terlena sehingga akan

membuat mabuk oleh candu tersebut. Kehidupan sosial begitu kompleks dan pelik dengan berbagai
permasalahannya sehingga tak jarang menyebabkan seseorang berpikir kepada hal-hal yang bersifat duniawi
dengan tujuan kepuasan hasrat manusianya ketimbang berpikir secara nurani akan kesadarannya sebgai
makhluk ciptaan-Nya.
Jiwa manusia lebih banyak diisi dengan hal duniawi tanpa mengimbangi hal yang bersifat religi. Lemahnya
kontrol agama seseorang secara tidak langsung berdampak pada lemahnya kualitas hidup seseorang. Pola
hubungan agama dengan lingkungan sosial terkadang cenderung mengalami kesenjangan, acap kita membuat
keadaan ini menjadi terkotak-kotak.
Seorang individu yang mampu berpikir rasional hendaknya mampu untuk terbuka dan mampu bersifat
objektif dengan adanya nilai-nilai agama secara menyeluruh sehingga mampu menciptakan lingkungan sosial
yang bisa diterima tanpa perlu memandang etnis ataupun ideologi komunitas.
Oleh karena itu, banyak hal bergantung pada konsep agama mengenai keteraturan sosial, baik dilihat secara
umum maupun secara pribadi. Agama dalam prosesnya mampu membentuk aliran persuasif dan protektif,
dalam artian sebagai metode pembelajaran dan sebagai tameng sosial. Bila kedua hal tersebut sudah
terpenuhi, aliran sosial akan berjalan selaras dengan keadaan kualitas masyarakatnya.
Akan tetapi, seberapa jauh keterlibatan agama dengan keteraturan sosial ini, tinggal melihat keadaan
manusia itu sendiri. Di sini tidak ada paksaan agama untuk menciptakan keteraturan sosial, akan tetapi hanya
sekadar kontrol sehingga tidak menimbulkan kerancuan antara pandangan dan pola pikir manusia itu sendiri.
Akan ada saatnya agama dan keteraturan sosial berjalan seiring dan searah, dan akan terciptanya tatanan
kehidupan manusia yang sempurna antara dunia dan akhirat. Amin.
Penulis : Mardianto Wicaksono Sekretaris Desa Sumberagung, Sragi, Lampung Selatan
Editor

: Tommy Anugrah Sinaga

dibaca

: 49638 Kali

Suka

Bagikan

0
Tweet

Bagikan

0komentar
UrutBerdasarkan PalingLama

TambahkanKomentar...

FacebookCommentsPlugin

OPINI

Menuju Keadilan Substantif (http://lampost.co/berita/menuju-keadilan-substantif)