Anda di halaman 1dari 2

Agama dan Radikalisme

Jum'at, 27 Maret 2015 01:50 WIB


Didik Kusno Aji
Pengajar di Jurusan Syariah STAIN Metro
AKHIR-AKHIR ini, aksi radikalime sering terdengar di tengah-tengah kita, baik yang dilakukan oleh
sekelompok organisasi tertentu atau yang dilakukan individu. Secara sederhana, radikalime memiliki makna
suatu sikap yang menganut paham ekstrem, fanatik, dan revolusioner. Di Indonesia, aksi radikalisme sering
identik pada kelompok yang beragama Islam, hal ini lantaran ideologi jihad yang dibawa para kelompok
tersebut lebih dekat pada istilah-istilah Islam. Bahkan saat ini, mayoritas aksi radikalime yang terjadi di
belahan negara di dunia identik dengan Islam. Sebut saja misalnya ISIS.
Apakah kenyataannya demikian? Padahal, jika kita melihat pada ajaran agama Islam yang benar, bahwa
perbedaan adalah susuatu yang alamiah. Bahkan tak sedikit, justru agama menjadi tumbal ketidakbaikan citra
yang dilakukan olek para penganutnya. Pemahaman yang sempit dan kurang tolerannya para pemeluk agama
bisa mendorong aksi radikalisasi terhadap agama atau kelompok apa saja.
Dalam kancah percaturan dan hubungan secara global dewasa ini, perbedaan dan hubungan saling
memengaruhi tentu tidak bisa dihindarkan. Utamanya dalam peta hubungan sosial kemasyarakatan, sikap
keagamaan dan lain sebagainya.
Dalam Islam, ajaran yang mengajarkan tentang sikap jihad memiliki makna sebagai suatu sikap berjuang
dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam. Makna inilah yang sering memiliki penafsiran yang
beraneka, tergantung dari siapa dan seberapa besar pengetahun seseorang. Secara umum, istilah jihad dalam
Islam sering kali dimaknai secara negatif oleh beberapa kelompok Islam dengan cara menerjemahkan secara
sempit. Bahkan, kata jihad sering lebih dekat dengan istilah perang di jalan Allah. Padahal, istilah jihad punya
makna secara universal tergantung konteknya. Seperti jihad dalam hal puasa, tentu akan berbeda makna
dengan jihad dalam hal peperangan.
Jika pergeseran makna jihad ini disalahartikan secara sempit, Islam yang terkenal sebagai agama kasih sayang
dan rahmatan lil alamin semakin lama akan semakin tersudutkan. Terlebih, aksi radikalisme sering
menggunakan simbol-simbol agama dengan dalih pemurnian atau purifikasi ajaran agama.
Secara faktual, aksi radikalime ini sebenarnya bisa menimpa pada agama apa saja. Ada banyak faktor yang
menyebabkan aksi radikalime ini muncul. Pertama, ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan atau
tatanan sosial yang buruk. Kedua, lemahnya pemahaman keagamaan, hal ini bisa disebabkan pengetahuan
masyarakat dan pemuka agama yang sempit. Ketiga, adanya sebuah kezaliman yang dilakukan oleh pihak
tertentu, seperti pemerintah dan pihak terkait kurang mengambil peran secara cepat.
Ada berbagai macam dampak negatif dari berbagai aksi radikalisme saat ini, seperti munculnya kekerasan di
luar kelompok atau keyakinan, fanatisme berlebihan, penyerangan atau bahkan penghancuran di luar
kelompoknya.
Penangkal Radikalisme
Berbagai bentuk radikalisme tentu memiliki dampak negatif yang tidak sedikit, baik dalam skala nasional
maupun global. Sebenarnya, berbagai bentuk gerakan radikalime tersebut bisa diminimalisasi dengan
berbagai macam pendekatan, seperti pendekatan keagamaan, pendekatan sosial, pendekatan pendidikan dan

lain sebagai.
Suatu contoh pendekatan keagamaan, dalam pendekatan ini setiap agama harus mengajarkan kepada
pemeluknya secara benar. Para pemuka agama harus memiliki bekal pemahaman yang luas sehingga
pemahaman tekstualis terhadap kitab suci yang cenderung sempit bisa dihindari. Setidaknya, pengkajian
terhadap agama harus cenderung dikaji lewat berbagai macam pendekatan dan sudut pandang. Seperti
pendekatan sosial kemasyarakatan, persamaan hak sebagai manusia dan lain sebagainya sehingga titik
singgung dari berbagai pemahaman keagaman adalah misi kemanusian dan memanusiakan manusia dengan
sebenar-benarnya.
Selain itu, sikap optimistis (moderat) dan berwawasan ke depan harus dimunculkan guna menghindari
sentimen yang disebabkan hubungan buruk masa lalu. Sikap pemahaman dengan cara menggali berbagai
dinamika kehidupan terkini secara terbuka dengan menerima pluralitas pemikiran setiap agama atau di luar
kelompok.
Jika semua agama dan kelompok masyarakat memandang segala perbedaan adalah sesuatu yang layak untuk
diperangi, selama itu pula sebuah kedamaian tidak akan pernah muncul. Namun, jika sebuah perbedaan itu
juga dilihat dengan sudut pandang orang lain, aksi radikalisme tersebut dapat dihindari.
Selain agama, peran pendidikan juga sangat penting. Pendidikan yang ada harus mengajarakan mengenai
makna-makna secara universal dalam tatanan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Persamaan hak setiap warga
negara dalam mengakses pendidikan harus benar-benar terwujut. Sebab, pendidikan adalah salah satu sarana
seseorang memahami berbagai hal lewat jendela pengetahuan. Dengan berbagai pendekatan itu, setidaknya
aksi radikalisme yang marak saat ini akan bisa diminimalisasi keberadaannya. n
Penulis :
Editor

: Isnovan

dibaca

: 179343 Kali

Suka

Bagikan

0
Tweet

Bagikan

1Komentar
UrutBerdasarkan PalingLama

TambahkanKomentar...

MIhsanDacholfany
BekerjadiGuruNgaji

sayasependapatdenganartikelDidik
kusnoaji.sayakira,pendidikan
memangpunyaperananpenting
dalammenangkalradikalisme.sebab
melaluipendidikanlahseseorangakan
dibentangkanberbagai
pengetahuan...
SukaBalas27Maret20157:18
FacebookCommentsPlugin