Anda di halaman 1dari 13

AQIDAH ISLAM

Aqidah menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al`aqdu


tautsiiqu yang b
erarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, a
l-ihkaamu yang artinya mengokahkan {menetapkan}, dan ar-rabthu biquw-wah yang be
rarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminalogi}: `aqidah adalah iman yang teguh dan past
i, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

SYARIAH ISLAM
Syariah adalah ketentuan-ketentuan agama yang merupakan pegangan bagi manusia di
dalam hidupnya untuk meningkatkan kwalitas hidupnya dalam rangka mencapai kebah
agiaan dunia dan akhirat. Syariah Islam adalah tata cara pengaturan tentang peri
laku hidup manusia untuk mencapai keridhoan Allah SWT yang dirumuskan dalam Al-Q
ur an, yaitu :
1.
Surat Asy-Syura ayat 13
Artinya : Dia telah mensyariahkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah kamu wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang k
amu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki
-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Qu
ran surat Asy-Syura ayat 13).
2.
Surat Asy-Syura ayat 21

Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariah


kan untuk mereka agama yang tidak diijinkan Allah ? sekiranya tak ada ketetapan
yang menentukan (dari Allah tentukanlah mereka dibinasakan. Dan sesungguhnya ora
ng-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih. (Qur an Surat Asy-Syura A
yat : 21).
Adapun pengertian syariah secara etimologis kata Syari ah berakar kata syara a yang
berarti sesuatu yang dibuka secara lebar kepadanya . Dari sinilah terbentuk kata sy
ari ah yang berarti sumber air minum . Kata ini kemudian dikonotasikan oleh bangsa Ar
ab dengan jalan yang lurus yang harus diikuti. Secara terminologis, Muhammad Ali
al-Sayis mengartikan syari ah dengan jalan yang lurus . Kemudian pengertian ini dija
barkan menjadi: Hukum Syara mengenai perbuatan manusia yang dihasilkan dari dalildalil terperinci . Syekh Mahmud Syaltut mengartikan syari ah sebagai hukum- hukum da
n tata aturan yang disyariahkan oleh Allah bagi hamba-Nya untuk diikuti.
Secara garis besar ada 5 macam hukum syara yang mesti diketahui oleh kita:
1. Wajib
2. Sunnah
3. Haram
4. Makruh
5. Mubah
1. Wajib: para ulama memberikan banyak pengertian mengenainya, antara lain:
Suatu ketentuan agama yang harus dikerjakan kalau tidak berdosa . Atau Suatu ketentu
an jika ditinggalkan mendapat adzab
Contoh: makan atau minum dengan menggunakan tangan kanan adalah wajib hukumnya,
jika seorang Muslim memakai tangan kiri untuk makan atau minum, maka berdosalah
dia.

Contoh lain, Shalat subuh hukumnya wajib, yakni suatu ketentuan dari agama yang
harus dikerjakan, jika tidak berdosalah ia.
Alasan yang dipakai untuk menetapkan pengertian diatas adalah atas dasar firman
Allah swt:
(???????????? ????????? ???????????? ???? ???????? ???? ??????????? ???????? ???
? ??????????? ??????? ??????? (?????:63
.Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaa
n atau ditimpa adzab yang pedih. (An-Nur: 63)
Dari ayat diatas telah jelas bahwa setiap orang yang melanggar perintah agama ma
ka akan ditimpa musibah atau adzab, dan orang yang ditimpa adzab itu tidak lain
melainkan mereka yang menyalahi aturan yang telah ditetapkan.
2. Sunnah:
Suatu perbuatan jika dikerjakan akan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak
berdosa . Atau bisa anda katakan : Suatu perbuatan yang diminta oleh syari tetapi t
idak wajib, dan meninggalkannya tidak berdosa
Contoh: Nabi saw bersabda:
-???? ??????? ?????????? ???????. -???? ??????? ? ????
Artinya: Shaumlah sehari dan berbukalah sehari . Hadits riwayat Imam Bukhari dan Im
am Muslim.
Dalam hadits ini ada perintah -????- shaumlah , jika perintah ini dianggap wajib, m
aka menyalahi sabda Nabi saw yang berkenaan dengan orang Arab gunung, bahwa kewa
jiban shaum itu hanya ada di bulan Ramadhan.
..??? ?????? ??????? ??????? ???? ??????????? ??????? ?????? ????????? ?????? ??
?? ?????????? ??????? .
.apa yang Allah wajibkan kepadaku dari shaum? Beliau bersabda: (shaum) bulan ramad
han, kecuali engkau mau bertathauwu (melakukan yang sunnah) . Hadits riwayat Imam Bu
khari.
Dari riwayat ini jelas bahwa shaum itu yang wajib hanyalah shaum di bulan ramadh
an sedangkan lainnya bukan. Jika lafadz perintah dalam hadits yang pertama shauml
ah itu bukan wajib, maka ada 2 kemungkian hukum yang bisa diambil:
1. Sunnah
2. Mubah
Shaum adalah suatu amalan yang berkaitan dengan ibadah, maka jika ada perintah y
ang berhubungan dengan ibadah tetapi tidak wajib, maka hukumnya sunnah. Kalau di
kerjakan mendapat pahala jika meninggalkannya tidak berdosa.
Alasan untuk menetapkan hal itu mendapat pahala adalah atas dasar firman Allah s
wt:
-?????????? ?????????? ?????????? ???????????. -????: 26
Bagi orang-orang yang melakukan kebaikan (akan mendapat) kebaikan dan (disediakan
) tambahan (atas kebaikan yang telah diperbuatnya)
S.Yunus: 26Allah swt memberi kabar, bahwasanya siapa saja yang berbuat baik di dunia dengan
keimanan (kepada-Nya) maka (balasan) kebaikan di akhirat untuknya, sebagai mana
firman Allah:
-???? ??????? ??????????? ????? ???????????. ??????:60
Artinya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) S. Ar-Rahman: 60.
Kita bisa memahami bahwa orang yang melakukan suatu kebaikan selain mendapatkan
balasan atas apa yang telah dia lakukan, terdapat pula tambahan yang disediakan,
dan tambahan ini bisa kita sebut sebagai ganjaran .
3. Haram:
Suatu ketentuan larangan dari agama yang tidak boleh dikerjakan. Kalau orang mela
nggarnya, berdosalah orang itu .
Contoh: Nabi saw bersabda:
-??????????? ??????????. ???? ????????
Janganlah kamu datangi tukang-tukang ramal/dukun . Hadits riwayat Imam Thabrani.
Mendatangi tukang-tukang ramal/dukun dengan tujuan menyakan sesuatu hal ghaib la
lu dipercayainya itu tidak boleh. Kalau orang melakukan hal itu, berdosalah ia.
Alasan untuk pengertian haram ini, diantaranya sama dengan alasan yang dipakai u
ntuk menetapkan pengertian wajib, yaitu Al-Qur an S.An-Nur: 63.
4. Makruh:
Arti makruh secara bahasa adalah dibenci.

Suatu ketentuan larangan yang lebih baik tidak dikerjakan dari pada dilakukan . Ata
u meninggalkannya lebih baik dari pada melakukannya .
Sebagai contoh: Makan binatang buas. Dalam hadits-hadits memang ada larangannya,
dan kita memberi hukum (tentang makan binatang buas) itu makruh.
Begini penjelasannya: binatang yang diharamkan untuk dimakan hanya ada satu saja
, lihat Al-Qur an Al-Baqarah: 173 yang berbunyi:
-???????? ??????? ?????????? ??????????? ????????? ???????? ???????????? ????? ?
?????? ???? ???????? ???????
??????: 173
Tidak lain melainkan yang Allah haramkan adalah bangkai ,darah, daging babi dan b
inatang yang disembelih bukan karena Allah .
Kata ???????? dalam bahasa Arab disebut sebagai huruf hashr yaitu huruf yang dipak
ai untuk membatas sesuatu. Kata ini diterjemahkan dengan arti: hanya, tidak lain
melainkan. Salah satu hadits Nabi saw yang menggunakan huruf innama ini adalah:
???????? ???????? ????????????? ????? ?????? ????? ??????????
Tidak lain melainkan aku diperintah berwudhu apabila aku akan mengerjakan shalat . H
adits riwayat Imam Tirmidzi.
Dengan ini berarti bahwa wudhu hanya diwajibkan ketika akan mengerjakan shalat.
Lafazh ???????? pada ayat ini ia berfungsi membatasi bahwa makanan yang diharamk
an itu hanya empat yaitu: bangkai, darah, babi dan binatang yang disembelih buka
n karena Allah. Maka kalau larangan makan binatang buas itu kita hukumkan haram
juga, berarti sabda Nabi saw yang melarang makan binatang buas itu, menentangi A
llah, ini tidak mungkin. Berarti binatang buas itu tidak haram, kalau tidak hara
m maka hukum itu berhadapan dengan 2 kemungkinan yaitu: mubah atau makruh. Jika
dihukumkan mubah tidak tepat, karena Nabi saw melarang bukan memerintah. Jadi la
rangan dari Nabi itu kita ringankan dan larangan yang ringan itu tidak lain mela
inkan makruh. Maka kesimpulannya: binatang buas itu makruh.
5. Mubah:
Arti mubah itu adalah dibolehkan atau sering kali juga disebut halal.
Satu perbuatan yang tidak ada ganjaran atau siksaan bagi orang yang mengerjakanny
a atau tidak mengerjakannya atau Segala sesuatu yang diidzinkan oleh Allah untuk m
engerjakannya atau meninggalkannya tanpa dikenakan siksa bagi pelakunya
Contoh: dalam Al-Qur an ada perintah makan, yaitu:
??? ????? ????? ?????? ??????????? ?????? ????? ???????? ???????? ??????????? ??
??? ?????????? ??????? ?????????? ??????????????
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan d
an minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai o
rang-orang yang berlebih-lebihan Al-A raf: 31
Akan tetapi perintah ini dianggap mubah. Jika kita mewajibkan perintah makan mak
a anggapan ini tidak tepat, karena urusan makan atau minum ini adalah hal yang p
asti dilakukan oleh seluruh manusia baik masih balita atau jompo. Sesuatu yang t
idak bisa dielak dan menjadi kemestian bagi manusia tidak perlu memberi hukum wa
jib, maka perintah Allah dalam ayat diatas bukanlah wajib, jika bukan wajib maka
ada 2 kemungkian hukum yang dapat kita ambil, yaitu: sunnah atau mubah. Urusan
makan atau minum ini adalah bersifat keduniaan dan tidak dijanjikan ganjarannya
jika melakukannya, maka jika suatu amal yang tidak mendapat ganjaran maka hal it
u termasuk dalam hukum mubah.

1.1
Definisi dari thaharah
Definisi dari thararah
Thaharah menurut arti bahasa adalah pembersihan dari segala kotoran, baik yang t
ampak maupun yang tidak tampak. Adapun arti Thaharah secara syariat adalah menia
dakan atau membersihkan hadats dengan air atau debu yang bisa dipakai untuk meny
ucikan. Selain itu bermakna juga, usaha untuk menghilangkan najis dan kotoran. D

isini bisa diambil pengertian akhir bahwa Thaharah adalah melenyapkan sesuatu ya
ng ada di tubuh yang menjadi hambatan bagi pelaksanaan shalat dan ibadah lainnya
. Taharah terbagi atas wudhu,mandi janabah dan tayyamum.
2.2.
Wudhu
2.2.1
Pengertian Wudhu
Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan. Wudhu untuk s
holat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindah
nya. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari at, wudhu adalah peribadatan
kepada Allah azza wa jalla dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan
cara yang tertentu di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, d
an kedua kaki.
2.2.2. Fardhu Wudhu dan Sunnah Wudhu
A. Fardhu (rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu :
1.
Membasuh muka (termasuk berkumur dan memasukkan dan mengeluarkan air ke
dan dari hidung)
2.
Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,
3.
Mengusap (menyapu) seluruh kepala
4.
Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,
5.
Tertib (berurutan),
6.
Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).
B. Yang termasuk sunnah-sunnah wudhu adalah :
1.
Bersiwak sebelum berwudhu
2.
Membasuh dua telapak tangan sebanyak tiga kali
3.
Bersungguh-sungguh dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali bagi yan
g berpuasa
4.
Mendahulukan anggota wudhu yang kanan
5.
Mengulangi setiap basuhan dua kali atau tiga kali
6.
Menyela-nyela antara jari-jemari (tangan dan kaki)
7.
Menyela-nyela jenggot yang lebat.
8.
Menyempurnakan wudhu
2.2.3 Tata Cara Wudhu
Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi w
as sallam yang diriwayatkan dari Humraan, budak sahabat Utsman bin Affan rodhiya
llahu anhu.
Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yang lain dapat kita simpulkan ta
ta cara wudhu Nabi shallallahu alaihi was sallam secara ringkas sebagai berikut,
1.
Niat berwudhu (dalam hati) untuk menghilangkan hadats
???????? ??????????????????? ????????? ????????????????????????? ????????
Bacaan Doa Niat Wudhu dalam Bahasa Indonesia
Nawaitul wudhuu-a liraf ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta aalaa
"Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah."
2.
Membaca basmallah
3.
Membasuh dua telapak sebanyak tiga kali
4.
Berkumur sebanyak tiga kali, menghirup air ke hidung (Istinsyaq) sebanya
k tiga kali, dan menyemprotkan air (istin-tsar) dari hidung ke sebelah kiri
5.
Membasuh muka sebanyak tiga kali.
Batasan muka dimulai dari tumbuhnya rambut kepala menurut kebiasaan- hingga ke ba
gian ujung dua tulang rahang dan dagu.
6.
Membasuh dua tangan beserta siku sebanyak tiga kali.
Batasan tangan dimulai dari ujung jari-jari tangan (berikut kuku-kukunya) sampai
lengan atas. Sebelum kedua tangan dibasuh, terlebih dahulu menghilangkan sesuat
u yang melekat pada keduanya seperti lumpur dan celupan yang tebal yang melekat
pada kuku agar air sampai ke kulit.
7.
Menyapu seluruh kepala berikut dua telinga sebanyak satu kali sapuan den
gan air yang baru dan bukan air dari sisa basuhan tangan.
Cara menyapu kepala ialah meletakkan kedua tangan yang sudah dibasahi degan air
yang baru pada bagian depan kepala, lalu melintaskan keduanya sampai tengkuk lal

u mengembalikan keduanya ke tempat semula, lalu memasukkan dua jari telunjuk ked
ua lubang telinga dan menyapu bagian luar telinga dengan dua ibu jari.
8.
Membasuh dua kaki beserta dua mata kaki sebanyak tiga kali.
Mata kaki ialah dua tulang yang menonjol pada bagian bawah betis. Bagi orang yan
g tangan atau kakinya diamputasi, maka cukup membasuh bagian yang tersisa dari s
iku atau kaki.
Setelah selesai berwudhu dengan cara-cara tadi, maka arahkanlah pandangan ke lang
it (atas) dan ucapkanlah doa, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah. Doa
yang dibaca Nabi setelah selesai wudhu , diantaranya adalah:
Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammada
n abduhu wa rasuuluh, allahummaj alnii minattawwaabiinaa waj alnii minal mutathahhir
iin. Subhaanakallahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruk
a wa atuubu ilaik
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Es
a, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai bagian dari golongan orang-orang
yang (selalu) bertobat serta jadikanlah aku sebagai bagian dari golongan orangorang yang selalu bersuci. Maha suci Engkau ya Allah. Dengan memuji-Mu, bahwa ti
dak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertob
at kepada-Mu. (HR. Muslim, Tirmidzi)
2.2.4 Hal yang membatalkan wudhu
1. Pembatal pertama: Kencing, buang air besar, dan kentut
1.
Pembatal kedua: Keluarnya mani, wadi, dan madzi
2.
Pembatal ketiga: Tidur lelap (dalam keadaan tidak sadar)
Rukun wudhu
Rukun berwudu ada 6 (enam)
1.
Niat
2.
Membasuh muka (dengan merata)
3.
Membasuh tangan hingga sampai dengan kedua siku (dengan merata)
4.
Mengusap sebagian kepala
5.
Membasuh kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (dengan merata)
6.
Tertib (berurutan)
2.3
Mandi Wajib (Mandi Janabah)
2.3.1 Pengertian Mandi Wajib (Mandi Janbah)
Yang dimaksud dengan al ghuslu secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu
. Sedangkan yang dimaksud dengan al ghuslu secara syari at adalah menuangkan air k
e seluruh badan dengan tata cara yang khusus untuk menghilangkan hadats besar.
2.3.2 Beberapa Hal yang Mewajibkan untuk Mandi (al ghuslu)
1.
Pertama: Keluarnya mani dengan syahwat (junub).
2
Kedua: Bertemunya dua kemaluan (laki-laki dan perempuan), walaupun tidak
keluar mani.
2.
Ketiga: Ketika berhentinya darah haidh dan nifas.
3.
Keempat: Ketika orang kafir masuk Islam.
4.
Kelima: Karena kematian.
2.3.3 Sunat Mandi ada 5, yaitu:
1.
Membaca Basmalah ("Bismillahir rahmaanir rahiim pada saat akan mulai man
di.
2.
Berwudhu (sebelum mandi) seperti wudhu hendak sholat.
3.
Membasuh (menggosok) badan dengan tangan sampai 3 kali.
4.
Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.
5. Muwalat, yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.
2.3.4
1.

Tata Cara Mandi Wajib (Janabah)


Niat mandi (dalam hati) untuk menghilangkan hadats besar.

NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI TA'AALAA.


2. Membasuh seluruh tubuh dengan air sampai rata (serta rambut dan kulitnya haru
s terkena air).

3. Menghilangkan Najist jika ada yang menempel pada tubuh.


2.3.5 Tata Cara Mandi yang Sempurna
Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dila
kukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari baha
san ini adalah dua dalil yaitu hadits dari Aisyah dan hadits dari Maimunah.
tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.
1.
Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tanga
n tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
2.
Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
3.
Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan
ke tanah atau dengan menggunakan sabun.
4.
Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shala
t.
5.
Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pa
ngkal rambut.
6.
Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
7.
Ketujuh: Menyela-nyela rambut.
8.
Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan
setelah itu yang kiri. Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja
sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah sa
lah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu T
aimiyah.
2.4 TAYAMMUM
2.4.1Pengertian Tayammum
Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (????????) yang berarti maksud
. Sedangkan secara istilah dalam syari at adalah sebuah peribadatan kepada Allah b
erupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho id yang bersih. Sho id
adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum, baik yang
terdapat tanah di atasnya ataupun tidak.
2.4.2 Alat untuk Tayammum
Media (alat) yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bum
i yang bersih, baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupu
n kering.
2.4.3 Keadaan yang Membolehkan Tayammum
Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaa
n yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,
Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak.
Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lai
n yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin
lama sembuh dari sakit.
Ketidakmampuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu
bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu un
tuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghang
atkan air tersebut.
2.4.4 Tata Cara Tayammum
tata cara tayammum Nabi Muhammad shallallahu alaihi was sallam adalah sebagai ber
ikut.
Berniat
Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta'aalaa.
Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan, kemudia
n meniupnya.
Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya

.
Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usap
an saja.
Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan
saja, atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu.
Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.
Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah (junub), demikian juga
untuk hadats kecil.
2.4.5 Hal Yang memembatal Tayammum
Pembatal tayammum adalah sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga tayammum tida
k dibolehkan lagi apabila dalam kondisi berikut:
Telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena ketidakadaan air,
Telah adanya kemampuan menggunakan air,
Tidak sakit lagi bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan
air.

SHALAT
BACA BUKU KUNCI IBADAH .
WUDHU, TAYAMUM, DAN MANDI BESAR (WAJIB)
1.
Wudhu
a.
Pengertian dan Niat Wudhu
Menurut bahasa, Wudhu artinya Bersih dan Indah. sedangkan menurut istilah (syari
ah islam) artinya menggunakan air pada anggota badan tertentu dengan cara terten
tu yang dimulai dengan niat guna menghilangkan hadast kecil. Wudhu merupakan sal
ah satu syarat sahnya sholat (orang yang akan sholat, diwajibkan berwudhu lebih
dulu, tanpa wudhu shalatnya tidak sah.
Niat Wudhu
???????? ??????????????????? ????????? ????????????????????????? ????????
"Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah."
b.
1.
2.
3.
4.
5.
in

Syarat-syarat berwudhu
Islam
Sudah Baliqh
Tidak berhadas besar
Memakai air yang mutlak (suci dan dapat dipakai mensucikan)
Tidak ada yang menghalangi sampainya kekulit, seperti tinta, cat, dan lain-la

c.
Rukun wudhu
Rukun berwudu ada 6 (enam)
1.
Niat
2.
Membasuh muka (dengan merata)
3.
Membasuh tangan hingga sampai dengan kedua siku (dengan merata)
4.
Mengusap sebagian kepala
5.
Membasuh kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (dengan merata)
6.
Tertib (berurutan)

d.

Hal-hal yang membatalkan Wudhu

1.
Keluarnya air kencing dan sesuatu yang dihukumi air kencing seperti ca
iran (yang belum jelas) setelah kencing dan sebelum istibra' (tentang istibra' l
ihat buletin Al-Jawad nomor 7).
2.
Keluarnya tinja, baik dari tempatnya yang tabi'i atau yang lain, banyak
ataupun sedikit.
3.
Keluarnya angin dari dubur, baik bersuara maupun tidak.
4.
Tidur yang mengalahkan indera pendengar dan indera penglihat (hilang kes
adaran).
5.
Segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran seperti gila, pingsan, mabu
k, dan lain-lainnya.
6.
Istihadhah kecil dan sedang (bagi wanita).
e.
Hal-hal yang disunahkan Wudhu
1.
Disunnatkan bagi tiap muslim menggosok gigi sebelum memulai wudhunya k
rn Rasulullah bersabda Sekiranya aku tidak memberatkan umatku niscaya aku perinta
h mere-ka bersiwak tiap kali akan berwudhu. (Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh A
l-Albani dalam Al-Irwa ).
2.
Disunnatkan pula mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum berwudh
u sebagaimana disebutkan di atas kecuali jika setelah bangun tidur maka hukumnya
wajib mencucinya tiga kali sebelum berwudhu. Sebab boleh jadi kedua tangannya t
elah menyentuh kotoran di waktu tidurnya sedangkan ia tidak merasakannya. Rasulu
llah bersabda Apabila seorang di antara kamu bangun tidur maka hendaknya tidak me
ncelupkan kedua tangannya di dalam bejana air sebelum mencucinya terlebih dahulu
tiga kali krn sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana tangannya berada .
3.
Disunnatkan keras di dalam meng-hirup air dgn hidung sebagaimana dijela
skan di atas.
4.
Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jenggot jika tebal ketika
membasuh muka.
5.
Disunnatkan bagi orang muslim mencelah-celahi jari-jari tangan dan kaki
di saat mencucinya krn Rasulullah bersabda Celah-celahilah jari-jemari kamu. .
6.
Mencuci anggota wudhu yg kanan terlebih dahulu sebelum mencuci anggota w
udhu yg kiri. Mencuci tangan kanan terlebih dahulu kemudian tangan kiri dan begi
tu pula mencuci kaki kanan sebelum mencuci kaki kiri.
7.
Mencuci anggota-anggota wudhu dua atau tiga kali namun kepala cukup diu
sap satu kali usapan saja.
8.
Tidak berlebih-lebihan dalam pemakaian air krn Rasulullah berwudhu dgn m
encuci tiga kali lalu bersabda Barangsiapa mencuci lbh maka ia telah berbuat kesa
lahan dan kezhaliman.
f.
1.
2.
3.
4.

Hal-hal yang dianggap salah dalam pelaksanaan berwudhu


Berbicara saat berwudhu
Menelan air
Bermain-main dengan air
Asal kena air

2.
Tayamum
a.
Pengertian dan Niat Tayammum
Secara etimologis (bahasa), Tayammum berarti kehendak (al-qasdu), atau kehendak
melakukan hal tertenu. Dalam istilah fiqih, tayamum diartikan sebagai proses men
gusapkan debu atau tanah yang suci pada muka dan kedua tangan sebagai pengganti
wudhu dan mandi besar, untuk dapat melaksanakan ibadah, seperti sholat.
Tayamum wajib dilakukan pada saat air tidak ada, dalam perjalanan, atau kondisi
ketika seseorang tidak bisa menggunakan air.
Niat Tayamum
"Aku niat bertayammum untuk mengerjakan sholat , fardhu karena Allah ta'ala."
b.

Syarat-syarat Tayammum

1.
Tidak ada air dan sudah berusaha mencarinya, tetapi tidak ketemu
2.
berhalangan menggunakan air, seperti sedang sakit, apabila terkena air
penyakitnya akan bertambah parah
3.
Telah masuk waktu Shalat
4.
Dengan tanah atau debu yang suci
c.
Rukun Tayammum
1.
Niat. Seseorang yang akan melakukan tayamum, supaya berniat karena akan m
elakukan shalat atau ibadah lainnya. Tayamum di niatkan bukan sekedar menghilang
kan hadas tetapi lebih karenan keadaan dadurat.
2.
Mengusap muka dengan tanah atau debu
3.
Mengusap kedua tangan dengan tanah atau debu
4.
Tertib berurutan mengusapnya berarti mendahlukan muka dari pada tangannya
d.
1.
2.
3.

Hal-hal yang membatalkan Tayammum


Segala hal yang membatalkan wudhu
Melihat air sebelum shalat, kecuali yang bertayammum karena sakit
Murtad, keluar dari Islam

e.
1.
2.
3.

Hal-hal yang disunahkan Tayammum


Membaca basmalah (Bismillaahir-rahmaanir-rahiim)
Mendahulukan anggota yang kanan dari pada yang kiri
Menipiskan debu

f.
1.
2.
3.
4.

Hal-hal yang dianggap salah dalam pelaksanaan Tayammum


Tidak dalam keadaan yang terlalu kepepet
Tidak membaca niat
Tidak beraturan
Menggunakan debu yang sembarangan

3.
Mandi besar (Wajib)
a.
Pengertian dan Niat Mandi Besar
Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-ghusl ( ????? ). Kata ini memi
liki makna yaitu menuangkan air ke seluruh tubuh. Sedangkan secara istilah, para
ulama menyebutkan definisinya yaitu :
Memakai air yang suci pada seluruh badan dengan tata cara tertentu dengan syarat
-syarat dan rukun-rukunnya.
Adapun kata Janabah dalam bahasa Arab bermakna jauh ( ???????? ) dan lawan dari
dekat (????? ????????? )
Sedangkan secara istilah fiqih, kata janabah ini menurut Al-Imam An-Nawawi rahi
mahullah berarti
Janabah secara syar'i dikaitkan dengan seseorang yang keluar mani atau melakukan
hubungan suami istri, disebut bahwa seseorang itu junub karena dia menjauhi sha
lat, masjid dan membaca Al-Quran serta dijauhkan atas hal-hal tersebut.74
Mandi Janabah sering juga disebut dengan istilah 'mandi wajib'. Mandi ini merupa
kan tatacara ritual yang bersifat ta`abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats b
esar.
Niat mandi besar
"Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Ta
ala."

b.
1.
2.

Syarat-syarat Mandi Besar


Islam.
Tamyiz (berakal sehat).

3.
4.
lak).
5.
uruh kulit
6.
7.
tubuh.
8.

Mengetahui pekerjaan yang fardlu dalam mandi.


Air yang digunakan harus dengan air yang suci dan mensucikan (air mut
Tidak ada sesuatu pada lahirnya yang menghalangi sampainya air ke sel
tubuh.
Tetap niatnya hingga akhir sempurnanya mandi.
Tidak ada sesuatu akibat yang dapat merubah sifat air sampai ke kulit
Mengalir airnya sampai ke seluruh tubuh.

c.
Rukun Mandi Besar
1.
Niat
2.
Menghilangkan najis di badan sama ada yang jelas ( ayni) atau tidak jelas
(hukmi)
3.
Menyampaikan air ke seluruh anggota badan dari hujung rambut sehingga k
e hujung kaki.
d.
Hal-hal yang memakruhkan Mandi Besar
1.
Berlebih-lebihan dalam menggunakan air. Rasulullah saw. mandi dengan air
satu sha (sekitar 3,5 liter).
2.
Mandi di tempat yang najis, karena dikhawatirkan akan terkena najisnya.
3.
Mandi dengan air sisa bersucinya wanita. Rasulullah saw. melarang mandi
dengan air sisa bersucinya wanita, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
4.
Mandi tanpa penutup, misalnya dengan tembok atau yang lainnya. Berdasark
an dalil-dalil berikut. Maimunah r.a. berkata, Aku persiapkan air untuk Rasululla
h saw. dan menutupi beliau, kemudian beliau mandi. (HR Bukhari). Jika sekiranya m
andi tanpa menggunakan penutup tidak dimakruhkan, pasti Maimunah tidak menutupi
Rasulullah saw. ketika sedang mandi. Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah
Azza wa Jalla bersifat malu, dan menutup (kesalahan hamba-Nya), menyukai sifat
malu. Maka, jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah menggunakan penutup.
(HR Abu Dawud).
5.
Mandi dengan air yang tidak mengalir. Rasulullah saw. bersabda, Janganlah
seseorang di antara kalian mandi di air yang tidak mengalir, sedang dia junub. (
HR Muslim).
e.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
f.
1.
2.
3.

Hal-hal yang disunahkan Mandi Besar


Sebelum mandi membaca basmalah.
Membersihkan najis terebih dahulu.
Membasuh badan sebanyak tiga kali
Melakukan wudhu/wudlu sebelum mendi wajib
Mandi menghadap kiblat
Mendahulukan badan sebelah kanan daripada yang sebelah kiri
Membaca do'a setelah wudhu/wudlu
Dilakukan sekaligus selesai saat itu juga (muamalah)
Hal-hal yang dianggap salah dalam pelaksanaan Mandi Besar
Tidak membaca niat
Tidak bersih
Tidak menghilangkan najis

g.
Hal-hal yang mewajibkannya
1. Mengeluarkan air mani baik disengaja maupun tidak sengaja
2. Melakukan hubungan seks / hubungan intim / bersetubuh
3. Selesai haid / menstruasi
4. Melahirkan (wiladah) dan pasca melahirkan (nifas)
5. Meninggal dunia yang bukan mati syahid
Bagi mereka yang masuk dalam kategori di atas maka mereka berarti telah mendapat
hadas besar dengan najis yang harus dibersihkan. Jika tidak segera disucikan de
ngan mandi wajib maka banyak ibadah orang tersebut yang tidak akan diterima Alla

h SWT.
PEMBAGIAN NAJIS, CARA MENSUCIKANNYA, SETRA MACAM MACAMNYA
1.
Najis mugallazah (tebal), yaitu najis anjing. Benda yang terkena najis
ini hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali diantaranya hendaklah dibasuh dengan
air yang dicampur tanah. Sabda Rasul Saw.: Cara mencuci bejana seseorang dari kam
u apabila dijilat anjing, hendaklah dibasuh tujuh kali, slah satunya hendaklah d
icampur dengan tanah. (Riwayat Muslim)
2.
Najis mukhaffafah (ringan), misalnya kencing anak laki-laki yang belum
memakan makanan lain selain ASI. Cara mencuci benda yang kena najis ini cukup de
ngan memercikan air ke benda tersebut meskipun tidak mengalir. Adapun kencing an
ak perempuan yang belum memakan makanan selain ASI. Cara mencucinya hendaklah di
basuh sampai air mengalir di atas benda yang kena najis,dan hilang zat najis dan
sifat-sifatnya, sebagaimana mencuci kencing orang dewasa. Hadist Rasul Saw.: Sesu
ngguhnya Ummu Qais telah datang kepada Rasulullah Saw. Beserta bayi laki-lakinya
yang belum makan makanan selain ASI. Sesampainya di depan Rasul Saw. Beliau dud
ukan anak itu dipangkuan beliau. Kemudian beliau dikencinginya, lalu beliau memi
nta air, lantas beliau percikan air itu pada kencing kanak-kanak tadi, tetapi be
liau tidak membasuh kencing itu.(Riwayat Bukhari dan Muslim). Sabda Rasul Saw : K
encing kanak-kanak perempuan dibasuh sedangkan kencing kanak-kanak laki-laki dip
erciki(Riwayat Tarmizi)
3.
Najis mutawassithah(pertengahan), najis yang lain dari pada yang lain d
arikedua najis di atas. Najis ini terbagi atas dua bagian:
a.
Najis hukmiyah, yaitu yang kita yakini adanya , tetapi tidak nyata zat,
bau, rasa dan warnanya, hal ini seperti kencing yang sudah lama kering, sehingg
a sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan a
ir diatas benda yang kena najis itu.
b.
Najis ainiyah, yaitu yang masih ada zat, warna, rasa dan baunya. Kecuali
warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dimaafkan. Cara men
cuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa , warna dan baunya.
Air
Air dibagi menjadi 3 yakni: air mutlak, air muqayyad, dan air musta'mal
1. Air Mutlak
- Air mutlak adalah air yang masih dalam bentuk penciptaan aslinya, misalnya: hu
jan, salju, embun, air sumur, sungai, dll.
- Warnanya putih/belerang, kuning, rasanya apakah tawar, asin yang jelas dia ber
ada diatas penciptaannya.
Air mutlak suci dan mensucikan
Dalil sucinya air mutlak adalah firman Allah Ta ala :
???????????? ???? ?????????? ????? ????????
Dan Kami menurunkan dari langit air yang amat suci.

(Qs. Al Furqaan : 48)

Dan dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang a

ir laut dan juga air sumur :


Ia (air laut itu) suci airnya halal bangkainya.
(HR. Ibnu Majah, Imam Malik, Abu Dawud dan selain mereka)
Dalam hadits lain:
Sesungguhnya air (sumur) itu suci, tidak bisa dinajiskan oleh sesuatupun
(HR. Tirmidzi, An Nasai, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).
2. Air Muqoyyad
- Air yang sudah terikat karena sudah bercampur dengan benda atau dzat lain. Mi
sal : sabun, gula, teh, susu, dan semisalnya. Jadi secara umum air yang disifatk
an sebagai maa thohur (air yang suci) adalah air mutlak dan dianggap sebagai maa t
hohur dan apa yang berada diatas makna ini, maka itulah air mutlak.
Jika air mutlak berubah rasa, warna, atau bau karna najis maka tak sah untuk ber
suci dan ini ijma (kesepakatan ulama), adapun jika berubahnya karna materi suci
dan tidak dominan maka dalam hal ini yang lebih kuat adalah sah untuk thaharah (
ada perbedaan di kalangan ulama dalam hal ini), misal: air yang terkena tanah at
au sabun, jika air yang dominan dan benda ini masih disebut air maka sah untuk b
ersuci.
Jika materi pencampur yang dominan maka sudah tidak disebut air lagi, misalnya s
abun yang dominan maka sudah tidak disebut air tapi disebut sabun yang kecampura
n air.
3. Air Musta mal
- Air musta mal adalah air yang sudah dipakai untuk berwudhu -misal-, lalu sebag
ian dari air bekas wudhu itu jatuh lagi ke air untuk wudhu dan inilah definisi m
enurut para fuqoha.
air musta mal adalah suci dan mensucikan dan inilah pendapat yang lebih kuat dan d
ikuatkan oleh banyak ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Al Utsai
min, Syaikh bin Baaz, dan selainnya.
- Dalilnya :
Hadits riwayat Bukhory bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallam ketika hendak berwu
dhu , maka para sahabat hampir saja perang memperebutkan air bekas wudhu nabinya s
ehingga dikalangan mereka tidak ada yang namanya istilah air mustakmal.
- Dalil berikutnya :
Telah sah dalam Shohih Muslim, dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu bahwasanya Nabi s
hollallohu alaihi wasallam memakai air mandi yang dipakai mandi istrinya, yaitu
Maimunnah binti Al-Harits Al-Hilaliyah.

- Dalam Kitab As-Sunan disebutkan bahwa ketika Nabi shollallohu alaihi wasallam m
andi sebagian istri beliau berkata, Wahai, Rosulullah tadinya saya junub dan mand
i dengan air itu. Kemudian Nabi shollallohu alaihi wasallam berkata, Air itu tidak
memindahkan junub. Jika saya junub, maka air tersebut tidak junub.
- Dalil diatas menunjukkan air musta mal tidak dianggap atau tidak memberikan peng
aruh hukum dari air itu sendiri sehingga air tersebut tetap suci karena ada dali
l mengenai air muthlaq, yaitu yang sepanjang masih ada sifat-sifat airnya, walau
pun sudah digunakan, air itu tetap dihukumi thohur (suci dan mensucikan).
- Kesimpulannya adalah air musta mal itu suci dan mensucikan (thohur).
Thaharah baik untuk menghilangkan hadats besar maupun kecil pada umumnya menggun
akan air, bisa diganti dengan debu/tanah jika:
- Air tidak ada (di jarak sekitar yang wajar)
- Tidak mampu menggunakan air, misalnya karna cuaca sangat dingin atau karna sak
it
Macam-macam air ditinjau dari kesucian dan bisa tidaknya untuk bersuci dibagi me
njadi dua:
1. Air thahur: air yang suci dan bisa digunakan untuk bersuci. misalnya: air sun
gai, air sumur, air hujan, salju, dll
2. Air najis: air yang najis dan tidak bisa digunakan untuk bersuci. misalnya: k
encing
sumber:
Kitab Mulakhos Fiqhiy
catatandars.blogspot.com
Pembagian Air Untuk Thaharah Menurut Islam Untuk bersuci atau berthaharah tidak
bisa sembarang air yang digunakan. Dalam islam ada kualifikasi tersendiri tentan
g air yang bisa digunakan untuk bersuci.
Pembagian Air Untuk Thaharah Menurut Islam pembagian air untuk bersuci ada 4 jen
is, yaitu :
1.
Air yang suci dan mensucikan, seperti air hujan, air laut, air embun, ai
r sumur dan air yang keluar dari mata air.
2.
Air suci tetapi tidak mensucikan, seperti air kopi, air teh, air kelapa
dan air musta mal (air sedikit yang telah digunakan menghilangkan hadas atau najis
dan tidak berubah rasa, rupa dan baunya).
3.
Air suci dan mensucikan tetapi makruh dipakai, seperti air yang terjemur
matahari dalam bejana selain bejana emas dan perak.
4.
Air yang kena najis (mutanajjis). Bila air yang kena najis itu kurang da
ri dua kulah, maka hukumnya najis meskipun tidak berubah. Jika air yang kena naj
is itu mencapai dua kulah atau lebih, maka dihukumi najis bila berubah dan dihuk
umi tidak najis bila tidak berubah.