Anda di halaman 1dari 2

Agama dalam Keragaman

Jum'at, 21 November 2014 08:34 WIB


Didik Kusno Aji
Pengajar di STAIN Metro dan Pengajar di Pesantren Roudotuth Tholibin
Seputih Surabaya
AKHIR-akhir ini posisi keragaman dalam beragama di Indonesia menjadi sorotan banyak kalangan. Kolom
agama pada kartu tanda penduduk (KTP)-lah yang menjadi penyebabnya. Perbedaan wacana mengenai
pencantuman agama dalam KTP menjadi perbincangan yang menarik untuk diikuti. Jika hal ini tidak disikapi
dengan baik dan hati-hati, bisa menyebabkan konfik yang berkepanjangan. Sudah banyak contoh, betapa
agama menjadi sesuatu yang sensitif untuk ditafsirkan.
Alam Indonesia yang membentang dari SabangMarauke dengan beragam suku dan agama adalah sumber
kekuatan sekaligus sumber konfik. Dalam pandangan negara, jika kita memaknainya secara positif,
keragaman itu merupakan sumber kekuatan bangsa sekaligus kekayaan yang tak ternilai harganya.
Namun, apabila kita memandanganya secara negatif, perbedaan tersebut justru akan menjadi akar konflik jika
kita salah mengelolanya dan tidak disikapi dengan bijaksana. Hal tersebut seperti tertuang dalam Q.S AlHujuraat 13, Hai, Manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Membahas mengenai agama dan keyakinan, seolah tidak akan pernah ada habisnya dan tidak mengenal
kedaluwarsa. Uniknya, pembahasan mengenai hal ini selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebenarnya,
agama merupakan wilayah privasi yang tidak bisa dipaksakan oleh siapa saja. Namun, dalam kajian sejarah
agama di dunia, agama merupakan wilayah yang selalu menjadi ajang perebutan pengaruh antarpemeluk
berbagai agama.
Agama dan Bentang Sejarah
Dalam bentang sejarah masa lalu, para penyebar agama adalah dianggap seseorang yang suci, mulia dengan
tugas luhur. Hal ini karena penyebaran agama pada waktu itu merupakan suatu bentuk ajaran moral untuk
mengubah perilaku buruk manusia dari minimnya pengetahuan manusia terhadap agama dan ilmu
pengetahuan.
Perjungan untuk menyatukan keberagaman dalam beragama pada dasarnya akan memiliki tiga bentuk:
pluralisme (keragaman), dakwah, dan hak asasi manusia (HAM). Pluralisme merupakan kondisi rill yang
memang dialami Indonesia, ada banyak suku dan agama di negeri ini. Sementara ini, ada enam agama yang
secara sah diakui pemerintah dan ada lebih dari 60 aliran kepercayaan yang dianut masyarakat Indonesia.
Maka itu, toleransi merupakan sesuatu yang sangat penting untuk selalu dijaga demi keutuhan bangsa.
Kedua ialah Dakwah, merupakan suatu hal yang tidak bisa terpisahkan dari aktivitas sebuah agama atau
keyakinan. Ada berbagai metode dan cara diterapkan. Masalahnya, bolehkah sasaran dakwah dilakukan
kepada orang yang sudah punya keyakinan dan kepercayaan? Jika tidak, sasaran dakwah oleh para penganut
agama harus disasarkan kepada mereka yang belum beragama. Jika dakwah dilakukan atau disasarkan
kepada orang yang sudah beragama, secara hukum jelas tidak dibenarkan dan melanggar konsep HAM.

Ketiga adalah hak asasi, merupakan elemen pokok dalam menyejajarkan antarpemeluk agama yang satu
dengan yang lain. Dalam artian, semua penganut agama atau keyakinan mempunyai hak-hak sipil yang sama
dan adil. Konsep HAM juga menjelaskan pilihan terhadap suatu agama atau keyakinan tertentu merupakan
wilayah privasi setiap individu. Negara dalam hal ini tidak bisa turut campur dalam urusan pilihan keyakinan.
Ketiga hal inilah yang mengharuskan negara mengambil peran dalam menyelaraskan tiga konsep
keberagaman warga masyarakat. Jika pemerintah tidak bisa menempatkan pada posisi yang baik, stigma
negatif pemerintah sebagai peneyelenggara negara akan terlihat.
Namun, sampai saat ini perbincangan mengenai agama dan negara belumlah menemukan formula yang jitu
untuk mengakhiri. Yang tergambar sampai saat ini adalah pengaruh superioritas agama mayoritas terhadap
agama minoritas. Hal ini sebenarnya sudah lama terjadi. Dalam sejarah, mungkin kita akrab mendengar
dengan sebutan yang mengarah pada justifikasi tertentu.
Sebutlah misalnya kerajaan Hindu, kerajaan Buddha, atau kerajaan Islam. Ini menandakan agama dan negara
tidak bisa dipisahkan. Bahkan, negara punya otoritas khusus terhadap agama. Ini sekaligus memperlihatkan
intervensi penguasa/negara terhadap suatu agama memang tidak bisa ditutupi.
Pertanyaannya, salahkah semua itu? Pertanyaan ini saya kira membutuhkan jawaban yang lebih perinci dan
bisa diterima nalar dengan berbagai sudut pandang. Jumlah penganut agama dalam suatu negara saya kira
bisa menjadi identitas akan suatu bangsa, asalkan penganut mayoritas tidak mendiskreditkan terhadap
penganut minoritas.
Saya kira Indonesia sudah membuktikan. Dengan penganut Islam yang mayoritas, tidak lantas menjadikan
Islam adalah agama resmi negara. Namun, negara tetap mengakomodasi para pemeluk agama lain dengan
berbagai toleransi, walaupun bentuk toleransi itu belum bisa dipandang dan diterapkan secara sempurna oleh
banyak pihak.
Jika dikaitkan dengan landasan negara yang berdasarkan Pancasila, setiap orang Indonesia harus punya salah
satu keyakinan sebagai bentuk konsep ketuhanan. Jadi bukan hanya enam agama, semua keyakinan harus
diakomodasi dengan baik. Yang keliru adalah orang yang tidak punya keyakinaan dan tidak memeluk salah
satu agama yang disahkan negara.
Oleh sebab itu, karakteristik dari keberagaman yang ada bukan ditafsirkan untuk disatukan hingga
menciptakan karakteristik baru, tetapi karakteristik keberagaman yang sudah ada diakomodasikan sehingga
tercipta tatanan kehidupan sosial yang harmonis tanpa menghilangkan karakteristik masing-masing.
Maka itu, tugas kita selanjutnya adalah mengawal setiap bentuk keyakinan yang dianut setiap warga negara
dengan memperlakukan hak yang sama di mata hukum dan hak warga negara. Hal ini sekaligus sebagai
bentuk sikap nasionalisme kita untuk mengawal keberlangsungan keutuhan negara dengan berbagai dimensi
agama yang ada di dalamnya. (n)
Penulis : lampost.co
Editor

: Ewin

dibaca

: 209333 Kali

Suka

Bagikan

0
Tweet

Bagikan