Anda di halaman 1dari 16

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Letak Geografi
Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato berada di wilayah kecamatan Bone
Raya, yang wilayahnya terdiri atas 9 desa, yakni desa Mootayu,Mootawa,
Tombulilato, Alo, Moopiya, Pelita Jaya, Inomata, Mootinelo, dan Laut Biru.
Luas wilayah Kecamatan Bone Raya adalah : 8.576 km2 dengan kepadatan
penduduk : 1 jiwa / km2.
Letak Puskesmas Tombulilato Kecamatan Bone Raya secara geografis
batas wilayah kerjanya sebagai berikut :
Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Kecamatan Bulawa Kabupaten Bone


Bolango

Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Kecamatan Bone Kabupaten Bone


Bolango

Sebelah Selatan

: Berbatasan dengan Laut Tomini

Sebelah Barat

: Berbatasan dengan SDN 1 Tombulilato Kabupaten Bone


Bolango

4.1.2 Kepadatan Penduduk


Jumlah penduduk di Kecamatan Bone Raya di tahun 2012 adalah 9.563
jiwa dengan perincian laki laki sebanyak 4.707 jiwa dan perempuan 4.856 jiwa
dengan jumlah 1.789 KK

4.2 Hasil Penelitian


Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan maka hasil penelitian adalah
sebagai berikut :
4.2.1 Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan
karakteristik setiap variabel yang di sertai tabel distribusi frekuensi dan presentase
1 Karakteristik Responden
1) Gambaran Responden menurut jenis umur
Tabel 4.1
Distribusi Responden Menurut Umur Di wilayah kerja
Puskesmas Tombulilato Tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Umur
n
%
n
%
n
%
23 - 25
1
1.0
1
1.2
2
1.1
26 - 50
74
77.1
67
78.8
141
77.9
51 - 56
21
21.9
17
20
38
21
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan responden
menurut umur terbanyak adalah pada umur 26 50 tahun yakni sebanyak 141
jiwa ( 77.9 % ) yakni pada kelompok kasus sebanyak 74 jiwa dan pada kelompok
kontrol sebanyak 67 jiwa, pada umur 51 - 56 tahun yakni sebanyak 38 jiwa ( 21.0
% ) yakni pada kelompok kasus 21 jiwa dan kontrol 17 jiwa,dan paling sedikit
pada umur 23 - 25 tahun yakni sebanyak 2 jiwa (1.1 % ) kasus sebanyak 1 jiwa
dan kontrol sebanyak 1 jiwa.
Kelompok umur 26 50 tahun merupakan kelompok umur terbanyak. Hal
ini dapat dilihat dari manifestasi klinis Filariasis yang timbul bertahun-tahun

kemudian setelah infeksi, sehingga menyebabkan penderita Filariasis pada umur


dibawah 26 tahun lebih sedikit dibandingkan umur di atas 26 tahun.
Filariasis pada umumnya menyerang pada semua kelompok umur, namun
jarang terjadi pada anak - anak. Pada dasarnya setiap orang dapat tertular filariasis
apabila mendapat tusukan nyamuk infektif ( mengandung larva stadium 3 ) ribuan
kali ( Kodim, 2008 ).
2) Gambaran Responden Menurut Jenis Kelamin
Tabel 4.2
Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Di wilayah
kerja Puskesmas TombulilatoTahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Jenis kelamin
n
%
n
%
n
%
Laki laki
54
56.3
52
61.2
106
58.6
Perempuan
42
43.7
33
38.8
75
41.4
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan
responden terbanyak adalah laki-laki yakni sebanyak 106 jiwa ( 58.6 % ) dan
perempuan 75 jiwa ( 41.4 % ). Dapat di lihat pada tabel 4.2.
Jenis kelamin juga sangat menunjang terjadinya Filariasis. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan bahwa responden laki-laki lebih banyak
dibandingkan perempuan hal ini biasanya disebabkan oleh gaya hidup antara laki
laki dan perempuan sangatlah berbeda. Pada umumnya juga laki laki lebih
sering kontak langsung dengan vektor karena pekerjaannya di bandingkan dengan
perempuan yang aktifitasnya lebih banyak berada di rumah.

3) Gambaran Responden menurut Pendidikan


Tabel 4.3
Distribusi Responden menurut Pendidikan Di wilayah
kerja Puskesmas Tombulilato
Tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Pendidikan
n
%
n
%
n
%
Perguruan tinggi
1
1.0
0
0
1
0.6
SMA
2
2.1
8
9.4
10
5.5
SMP
16
16.7
21
24.7
37
20.4
SD
51
53.1
39
45.9
90
49.7
Tidak sekolah
26
27.1
17
20
43
23.8
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data Primer
Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato
ditemukan masih banyak masyarakat yang tidak sekolah yakni sebesar 23.8%
adapun sebagian masyarakat yang memiliki pendidikan terakhir mereka adalah
SD yaitu sebesar 49.7% kemudian SMP sebesar 20.4%, SMA sebesar 5.5% dan
yang paling sedikit Perguruan Tinggi yakni sebesar 0.6% .
Berdasarkan tabel 4.3 Dapat disimpulkan bahwa masih banyak masyarakat
yang berpendidikan rendah, yang artinya pendidikan mereka masih minim.
Pendidikan sangat mempengaruhi perilaku seseorang untuk melakukan suatu
tindakan.
Seseorang yang berpendidikan rendah tidak terlalu memikirkan dengan
serius permasalahan yang mereka hadapi begitu juga dengan kesehatan, sehingga
mengakibatkan derajat kesehatan yang kurang atau menurun. Sebaliknya
seseorang yang berpendidikan akan berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah
yang mereka hadapi terutama masalah kesehatan ( Notoadmodjo, 2007 ).

4) Gambaran responden menurut alamat tempat tinggal


Tabel 4.4
Distribusi Responden menurut alamat tempat tinggal di wilayah kerja
Puskesmas Tombulilato tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Alamat
n
%
n
%
n
%
Mootayu
20
20.8
26
30.6
46
25.4
Mootawa
22
22.9
18
21.2
40
22.1
Tombulilato
9
9.4
8
9.4
17
9.4
Alo
4
4.2
7
8.2
11
6.1
Moopiya
2
2.1
7
8.2
9
4.9
Pelita Jaya
15
15.6
6
7.1
21
11.6
Inomata
2
2.1
6
7.1
8
4.4
Mootinelo
9
9.4
4
4.7
13
7.2
Laut biru
13
13.5
3
3.5
16
8.8
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data primer
Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas
Tombulilato Kecamatan Bone Raya Kabupaten Bone Bolango sebagaimana yang
telah disajikan pada tabel 4.4 didapatkan responden yang beralamat di desa
Mooatayu lebih banyak yakni 46 responden ( 25.4% ), desa Mootawa sebanyak 40
responden ( 22.1 ), desa Pelta jaya sebanyak 21 responden ( 11.6 % ), desa
Tombulilato sebanyak 17 responden ( 9.4 ), Laut Biru sebanyak 16 responden (8.8
%), desa Mootinelo sebanyak 13 responden ( 7.2 % ), desa Alo sebanyak 11
responden ( 6 .1% ), desa Moopiya 9 responden ( 4.9 % ), desa Inomata sebanyak
8 responden ( 4.4 % ).

6. Karakteristik Pekerjaan responden


Tabel 4.6
Distribusi responden menurut pekerjaan Di wilayah kerja
Puskesmas Tombulilato Kecamatan Bone Raya
Tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Jenis Pekerjaan
n
%
n
%
n
%
PNS
1
1.0
0
0
1
0.5
Wiraswasta
6
6.3
14
16.5
20
11
Petani
29
30.2
22
25.9
51
28.1
Nelayan
6
6.3
10
11.8
16
9
Penambang emas
49
51.0
33
38.8
82
45.3
URT
5
5.2
6
7.0
11
6
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas
Tombulilato Kecamatan Bone Raya Kabupaten Bone Bolango didapatkan
responden yang pekerjaannya sebagai Penambang emas lebih banyak yakni
sebesar 45.3%, Petani sebesar 51%, Wiraswasta sebesar 11%, Nelayan sebesar
9% , PNS sebesar 0.5%, dan ada yang sebagai URT yakni sebesar 6%.
7. Gambaran jenis pekerjaan responden yang berisiko dan tidak berisiko
Tabel 4.7
Distribusi responden menurut pekerjaan yang berisiko dan tidak berisiko
di wilayah kerja Puskesmas Tombulilato tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Jenis pekerjaan
n
%
n
%
n
%
Berisiko
84
87.5
65
76.5
149
82.3
Tidak berisiko
12
12.5
20
23.5
32
17.7
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data primer
Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas
Tombulilato Kecamatan Bone Raya Kabupaten Bone Bolango didapatkan

responden dengan pekerjaannya yang berisiko yakni sebesar 82.3 % dan yang
memiliki pekerjaan yang tidak berisiko sebesar 17,7 %.
8. Karakteristik keadaan lingkungan biologi disekitar rumah responden
Tabel 4.8
Distribusi responden menurut keadaan lingkungan biologi sekitar rumah
di wilayah kerja Puskesmas Tombulilato tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Keadaan lingkungan
n
%
n
%
n
%
Buruk
49
51
33
39
82
45.3
Baik
47
49
52
61
99
54.7
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data primer
Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas
Tombulilato Kecamatan Bone Raya Kabupaten Bone Bolango didapatkan
keadaan lingkungan dalam kategori buruk yakni sebesar 45.3% dan dalam
kategori baik yakni sebesar 54.7%.
Lingkungan biologik dapat menjadi faktor pendukung terjadinya
penularan filariasis. faktor pendukung lingkungan biologik yakni adanya
genangan air, dan semak-semak sebagai tempat pertumbuhan nyamuk Mansonia
spp. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat
mempengaruhi kehidupan larva karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau
melindungi dari serangan makhluk hidup lainnya ( Depkes RI, 2006 ).

9. Karakteristik kebiasaan responden


Tabel 4.9
Distribusi kebiasaan responden di wilayah kerja Puskesmas Tombulilato
tahun 2012
Kasus
Kontrol
Total
Kebiasaan
n
%
n
%
n
%
Buruk
77
80.2
70
82.4
147
81.2
Baik
19
19.8
15
17.6
34
18.8
Total
96
100
85
100
181
100
Sumber : Data primer
Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato
Kecamatan Bone Raya Kabupaten Bone Bolango didapatkan kebiasaan responden
yang berada dalam kategori buruk yakni sebesar 81.2% dan dalam kategori baik
sebesar 18.8%.
Perilaku atau kebiasaan sangat
masyarakat. Tradisi dalam

mempengaruhi derajat

kesehatan

masyarakat yang berpengaruh negative terhadap

kesehatan masyarakat serta beberapa sikap yang sangat mempengaruhi kesehatan


masyarakat khususnya penyakit filariasis. Seperti kebiasaan masyarakat keluar
malam, kebiasaan masyarakat yang tidak mau menggunakan anti nyamuk serta
berbagai macam sikap dan kebiasaan masyarakat yang mempengaruhi terjadinya
filariasis ( Depkes RI, 2009 ).
4.2.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui besar faktor risiko. Untuk
mengetahui besar faktor risiko dilihat dari besarnya nilai Odds ratio antara faktor
faktor risiko dengan kejadian Filariasis. Jika OR > 1, artinya mempertinggi
risiko, jika OR = 1, artinya tidak terdapat asosiasi atau hubungan, jika OR < 1,
artinya mengurangi atau memperkecil risiko (Riwidikdo, 2009 ).

1. Besar faktor risiko jenis pekerjaan dengan kejadian Filariasis


Tabel 4.10
Hasil Analisis besar faktor risiko Antara Jenis Pekerjaan Dengan Kejadian
Filariasis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tombulilato
tahun 2012
Jenis Pekerjaan
Kasus
Kontrol
Total
OR
Responden
Confidence
n
%
n
%
n
%
Interval 95%
Berisiko
(petani,penambang
emas, nelayan )

84 87.5

Tidak berisiko ( PNS,


wiraswasta,URT, tidak
bekerja )

12 12.5

20

23.5

32

17.7

96

85

100

181

100

Total

65

76.5

149

82.3
2154
0.982 - 4.725

100

Sumber : Data Primer


Berdasarkan hasil analisis secara statistik di peroleh nilai Value odds ratio
jenis pekerjaan dengan kejadian Filariasis adalah 2.339, ini merupakan nilai OR
sebesar 2.154 atau OR > 1, Confidence interval (CI) 95% = 0.982 4.725.
Artinya jenis pekerjaan berisiko mempertinggi kejadian Filariasis. Dapat
disimpulkan bahwa responden yang bekerja sebagai petani, nelayan, dan
penambang emas berisiko terkena Filariasis sebesar 2.154 kali dibandingkan
dengan responden yang bekerja sebagai PNS, wiraswasta, dan URT.

2. Besar faktor risiko keadaan lingkungan biologi dengan kejadian Filariasis


Tabel 4.11
Hasil Analisis besar faktor risiko Antara keadaan lingkungan Dengan
Kejadian Filariasis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tombulilato
tahun 2012
Keadaan
Kasus
Kontrol
Total
OR
Lingkungan Biologi n
Confidence
% n
%
n
%
Interval 95%
Buruk

49

51

33 38.8

82

45.3
1.643
0.909 - 2.969

Baik

47

49

52 61.2

99

54.7

Total

96

100

85

181

100

100

Sumber : Data primer


Hasil analisis secara statistik di peroleh nilai Value odds ratio keadaan
lingkungan biologi dengan kejadian Filariasis adalah 1.643, ini merupakan nilai
OR sebesar 1.643 atau OR > 1, Confidence interval (CI) 95% = 0.909 2.969.
Artinya keadaan lingkungan berisiko mempertinggi kejadian Filariasis.
Dapat disimpulkan bahwa keadaan lingkungan biologi yang buruk dapat terkena
Filariasis sebesar 2.154 kali dibandingkan dengan keadaan lingkungan biologi
yang baik.

3. Besar faktor risiko antara kebiasaan responden dengan kejadian Filariasis


Tabel 4.12
Hasil Analisis besar faktor risiko kebiasaan responden Dengan Kejadian
Filariasis Di Wilayah Kerja Puskesmas Tombulilato
tahun 2012
Kebiasaan
Kasus
Kontrol
Total
OR
Responden
Confidence
n
%
n
%
n
%
Interval 95%
Buruk

77

80.2 70 82.4 147 81.2


0.868
0.410 1.839

Baik

19

19.8 15 17.6

34

18.8

Total

96

100

181

100

85

100

Sumber : Data primer


Hasil analisis secara statistik di peroleh nilai Value odds ratio kebiasaan
responden dengan kejadian Filariasis adalah 0.868, ini merupakan nilai OR
sebesar 0.868 atau OR < 1, Confidence interval (CI) 95% = 0.410 1.839.
Artinya kebiasaan responden dapat mengurangi risiko kejadian Filariasis.
Dapat disimpulkan bahwa kebiasaan responden yang yang buruk dapat terkena
Filariasis hanya sebesar 0.868 kali dibandingkan dengan kebiasaan responden
yang baik.
4. 3 Pembahasan
1. Faktor pekerjaan
Suatu pekerjaan akan membuat seseorang berinteraksi dengan lingkungan.
Pola dan perilaku seseorang dalam berinteraksi ini dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan, karena pendidikan merupakan tingkat kemampuan seseorang dalam
beradaptasi dengan lingkungan, perilaku dan pekerjaannya. Terkadang dalam
dunia pekerjaan baik formal maupun nonformal tinggi tingkat pendidikan menjadi

landasan dalam menetapkan jenis pekerjaan seseorang, walaupun pada


kenyataannya tidak semua tingkat pendidikan itu menjamin pekerjaan akan baik
dan tidak berisiko, akan tetapi indikator ini masih dapat diterima ( Viana, 2011 ).
Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato,
jenis pekerjaan responden berisiko mempertinggi kejadian Filariasis. hasil
penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Kodim ( 2008),
Menurut Kodim ( 2008 ) bahwa jenis pekerjaan responden merupakan faktor
risiko dan mempertinggi risiko terjadinya Filariasis.
Jenis pekerjaan, dinyatakan berisiko mempertinggi kejadian Filariasis.
Pekerjaan yang lebih banyak Penambang emas, Petani, dan nelayan dapat
mengakibatkan status kesehatan atau kejadian Filariasis meningkat, karena
seharian mereka tidak berada di rumah tetapi di tempat mereka bekerja dan
pekerjaan tersebut juga dilakukan pada malam hari, mereka sering kali menginap
tidur di tempat mereka bekerja. Ada yang tempat tidur mereka terlindungi dari
gigitan nyamuk dan ada pula yang tidur di tempat terbuka, sehingga dapat
terkontak langsung dengan vektor yang dapat menyebabkan Filariasis.
sebagaimana kita ketahui bahwa nyamuk yang beraktifitas pada malam hari
adalah nyamuk Anopheles, Culex dan Mansonia yakni dari mulai matahari
terbenam hingga matahari terbit, dan ada sebagian kecil yang mengigit pada siang
hari yakni nyamuk Aedes aegypti.
Hasil wawancara dengan responden di peroleh, mereka yang melakukan
pekerjaan pada malam hari dan menginap malam di tempat kerja seperti
penambang emas, dan petani, untuk menghindari dari gigitan nyamuk mereka

terkadang hanya memakai sarung atau membakar kayu membuat api unggun.
Keadaan ini belum tentu baik karena kita ketahui bersama asap yang berasal dari
bakaran bakaran kayu ini akan menghilang karena api belum tentu hidup
sepanjang malam.
2. Faktor lingkungan biologi
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus Filariasis dan
mata rantai penularannya. Keadaan lingkungan yang tidak baik sangat menunjang
terjadinya Filariasis, seperti Keberadaan genangan air dan semak semak.
Keberadaan genangan air di sekitar rumah ada yang fungsihkan untuk hal lain,
seperti genangan air untuk memelihara ikan, memelihara tanaman dan ada juga
genangan air yang berasal dari pembuangan air limbah rumah tangga. Keberadaan
semak

semak

yang

dibiarkan

tumbuh

tanpa

ada

tindakan

untuk

membersihkannya. Keadaan seperti ini dapat menambah perkembangbiakkan


nyamuk sebagai vektor Filariasis (Depkes, 2009 ).
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan keadaan lingkungan biologi
di Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato yakni keadaan lingkungan biologi
berisiko mempertinggi kejadian Filariasis. Dapat disimpulkan bahwa keadaan
lingkungan biologi yang buruk dapat terkena Filariasis sebesar 2.154 kali
dibandingkan dengan keadaan lingkungan biologi yang baik. Penelitian tersebut
sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Viana ( 2011 ), menurut Viana
keadaan lingkungan yang buruk berisiko terhadap kejadian Filariasis.

Keadaan lingkungan disekitar rumah dalam kategori buruk sangat


menunjang terjadinya Filariasis, karena dapat menyebabkan perkembangbiakkan
nyamuk sehingga sering terjadi kontak langsung dengan nyamuk. keberadaan
genangan air dan semak semak dapat meningkatkan populasi nyamuk, karena
genangan air dan semak semak merupakan tempat yang di senangi oleh nyamuk
untuk berkembang biak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, di temukan ada
beberapa genangan air yang di gunakan untuk memelihara bahan pangan seperti
kangkung, daun pandan dan ada juga genangan air yang di tumbuhi berbagai jenis
tanaman eceng gondok dan rumput rumput liar yang dibiarkan tumbuh dengan
subur tanpa ada usaha dari mereka untuk membersihkannya, Begitupun dengan
keberadaan semak semak yang di biarkan tumbuh dengan subur. kondisi seperti
ini sangat di senangi oleh nyamuk karena sangat cocok untuk tempat nyamuk
berkembang biak.
3. Faktor Kebiasaan
Perilaku atau kebiasaan sangat
masyarakat. Tradisi dalam

mempengaruhi derajat

kesehatan

masyarakat yang berpengaruh negative terhadap

kesehatan masyarakat serta beberapa sikap yang sangat mempengaruhi kesehatan


masyarakat khususnya penyakit filariasis. Seperti kebiasaan masyarakat keluar
malam, kebiasaan masyarakat yang tidak mau menggunakan anti nyamuk serta
berbagai macam sikap dan kebiasaan masyarakat yang mempengaruhi terjadinya
filariasis ( Depkes RI, 2009 ).
Hasil penelitian menunjukkan kebiasaan responden di wilayah kerja
Puskesmas Tombulilato dapat mengurangi risiko, artinya risiko terjadinya

Filariasis sangat kecil. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Yahya ( 2008 ) di Provinsi Sumatra Selatan, bahwa kebiasaan atau perilaku
responden merupakan faktor risiko terjadinya Filariasis.
Perilaku atau kebiasaan yang kurang disadari oleh sebagian masyarakat
adalah perilaku yang mendukung penularan Filariasis. misalnya kebiasaan keluar
rumah pada malam hari hingga lebih dari satu jam, hasil wawancara dengan
responden diperoleh mereka yang tidak melakukan pekerjaan pada malam hari
namun masih keluar rumah pada malam hari dan lebih dari satu jam, kegiatan
yang mereka lakukan adalah untuk menonton televisi atau hanya sekedar
berbincang bincang dan kegiatan ini mereka lakukan setiap hari. Kebiasaan
keluar rumah pada malam hari berkaitan dengan pakaian yang mereka gunakan,
penggunaan pakaian pelindung diri dari gigitan nyamuk sewaktu diluar rumah.
Kebiasaan tidak memakai kelambu juga menunjang terjadinya Filariasis.
berdasarkan wawancara diperoleh tidak semua masyarakat menggunakan
kelambu, walaupun sudah menerima bantuan kelambu dari pemerintah setempat,
kelambu tersebut tidak mereka fungsihkan. Walaupun tidak menggunakan
kelambu, responden menggunakan anti nyamuk bakar. Menggunakan anti nyamuk
di waktu tidur adalah usaha untuk menghindari dari gigitan nyamuk. Berdasarkan
wawancara anti nyamuk yang sering mereka gunakan adalah anti nyamuk bakar,
penggunaan anti nyamuk bakar dapat mengurangi kontak nyamuk dengan
seseorang. Penggunaan anti nyamuk bakar ini sudah di kategorikan sebagai
pelindung yang aman dari kontak dengan nyamuk. Ada sebagian responden tidur
tidak menggunakan kelambu ataupun anti nyamuk, untuk melindungi diri dari

gigitan nyamuk di waktu tidur mereka hanya mengunakan sarung, hal ini dapat
dijelaskan bahwa yang tidak menggunakan anti nyamuk di waktu tidur mengalami
permasalahan kesehatan lainnya seperti adanya gangguan pernafasan dan
sebagainya. Walaupun menggunakan anti nyamuk diwaktu tidur akan tetapi
responden bekerja di tempat yang berisiko, dan ada juga responden yang tidur
malam di tempat mereka bekerja yang untuk menghindari dari gigitan nyamuk
mereka hanya menggunakan api unggun sehingga responden akan memiliki risiko
terkena filariasis, karena kontak dengan nyamuk akan terjadi.