Anda di halaman 1dari 4

Euthanasia juga didefinisikan sebagai physician-assisted death (Doering, 1994), assistedsuicide (Doerflinger, 1989), atau elective death (Hooyman

and Kiyak, 1990). Euthanasia yang


dikenal umum pada saat ini adalah suatu cara kematian dari seorang penderita yang berada dalam
tahap terminal sakitnya, akibat dari tindakan aktif dokter yang memberikan obat atau
membiarkan secara sengaja kondisi tertentu pada pasien tersebut sehingga berakibat timbulnya
kematian.
Sedangkan assisted suicide atau tindakan bunuh diri berbantuan (BDB) adalah tindakan
bunuh diri yang dilakukan secara aktif oleh pasien yang berada dalam tahap terminal dari
sakitnya, di mana dalam tindakan tersebut dibantu oleh dokter dengan melakukan tindakan yang
dapat dianggap memberikan fasilitas pada pasien stadium terminal tadi untuk melakukan bunuh
diri tersebut. Pasien dijelaskan terlebih dahulu akan keadaan dirinya dengan pernyakitnya yang
sekarat dan tak akan tersembuhkan lagi, dengan rasa nyeri yang tak tertahankan kemudian
menjelaskan bahwa tidak ada alternatif lain bagi pasien untuk dapat sembuh atau terhindar dari
rasa nyeri itu. Dokter akan memberikan petunjuk untuk tindakan assisted suicide, apabila pasien
telah memutuskan untuk melakukan tanpa paksaan atau pengaruh dari orang lain Bantuan dokter
dapat melalui berbagai cara, seperti: menuliskan resep obat dengan dosis toxis, membantu
mencarikan obat/zat yang beracun, menyediakan peralatan khusus yang dapat dipakai oleh
pasien sebagai sarana untuk bunuh diri.
Adapun tindakan bunuh diri dari seorang pasien yang dilakukannya tanpa keterlibatan
dokter, tidak dapat digolongkan dalam PAS atau euthanasia, sekalipun tindakan tersebut
menggunakan obat-obatan atau bahkan memakai peralatan medis. Tindakan tersebut termasuk
dalam bunuh diri
Perbedaan euthanasia dengan assisted suicide
Euthanasia
Assisted suicide
Mengakhiri kehidupan terminal dengan Dokter hanya membantu
sengaja
Dilakukan oleh dokter
Atas permintaan pasien sendiri

Tinjauan Hukum

Pasien sendiri yang melaksanakan

KUH-Pidana Republik Indonesia melarang tindakan yang dapat dikategorikan assisted


suicide. Bagi mereka yang dengan sengaja melanggar larangan tersebut, diancam dengan
hukuman pidana penjara. Adapun pasal-pasal KUH-Pidana yang berkaitan dengan hal ini yaitu:
Pasal 344 KUHP
Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan
dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun
Pasal 345 KUHP
Barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya membunuh diri atau menolongnya dalam
perbuatannya itu dipidana penjara selama-selamanya 4 tahun, kalau jadi orangnya membunuh
diri.
Namun berdasarkan pasal 340 KUHP, bagi mereka yang sengaja terlibat dalam
perencanaan untuk menghilangkan nyawa orang lain, dapat diancam dengan hukuman mati atau
seumur hidup atau dihukum selama 20 tahun, tergantung peran dan bobot pelanggaran
hukumannya.
Negeri Belanda dan Belgia pada saat ini merupakan dua negara yang telah melegalkan
assisted suicide tetapi dengan mewajibkan beberapa persyaratan ketat yang harus dipenuhi
terlebih dulu. Tanpa dipenuhinya persyaratan tersebut, tindakan assisted suicide akan
bertentangan dengan Kitab Undang undang Hukum Pidana yang berlaku di Negeri Belanda,
sehingga merupakan perbuatan kriminal. Adapun syarat-syarat tersebut yaitu:
- Pasien harus menghadapi sesuatu yang tidak tertahankan lagi dan, tak dapat dicegah.
- Permintaan mati harus diajukan secara sukarela dan pasien berada dalam kesadaran penuh.
- Tenaga medis dan pasien harus telah yakin memang tidak ada solusi yang lain.
- Harus ada second medical opinion, dan pengakhiran kehidupan harus secara medis.
Negara Swiss dan Oregon adalah tempat yang telah melegalkan assisted suicide. Negara
bagian Oregon di Amerika Serikat sejak 1997 telah mengizinkan assisted suicide dengan
persyaratan yang amat ketat. Walaupun begitu, di negara bagian Oregon tetap tidak mengizinkan
dilakukan Euthanasia.

Tinjauan Etis

Banyak pakar etika menolak assisted suicide. Salah satu argumentasinya yaitu jika kita
mengizinkan pengecualian atas larangan membunuh, maka cara ini bisa dipakai juga terhadap
orang cacat, orang berusia lanjut, atau orang lain yang dianggap tidak berguna lagi. Ada suatu
prinsip etika yang sangat mendasar yaitu kita harus menghormati kehidupan manusia. Tidak
diperbolehkan bagi kita mengorbankan manusia kepada untuk suatu tujuan tertentu. Prinsip ini
dirumuskan sebagai the sanctity of life. Kehidupan manusia adalah suci karena mempunyai nilai
absolut dan karena itu dimana-mana harus dihormati. Assisted suicide juga bertentangan dengan
sifat dasar profesi medis yaituberpihak kepada kehidupan.
Meski demikian, tidak sedikit juga yang mendukung assisted suicide. Argumentasi yang
banyak dipakai adalah hak otonomi pasien terminal: the right to die. Menurut mereka, jika pasien
sudah sampai akhir hidupnya, ia berhak meminta agar penderitaannya segera diakhiri. Beberapa
hari yang tersisa lagi pasti penuh penderitaan. Assisted suicide hanya sekedar mempercepat
kematiannya, sekaligus memungkinkan kematian yang baik, tanpa penderitaan yang tidak
perlu.
Tinjauan Keperawatan
American Nurses Association (ANA) melarang partisipasi perawat dalam melakukan
assisted suicide dan euthanasia karena hal ini merupakan pelanggaran langsung terhadap Code of
Ethics for Nurses with Interpretive Statements (ANA, 2001; herein referred to as The Code).
Perawat harus besifat manusiawi, komprehensif, dan menghormati hak-hak pasien tetapi tetap
menjunjung tinggi standar profesi di depan pasien kronis maupun pasien terminal.
Salah satu tugas perawat adalah menciptakan lingkungan yang nyaman untuk pasien
dalam mengekspresikan masalah, perasaan, dan keputusasaannya. Masalah yang menyebabkan
pasien ingin melakukan lakukan assisted suicide harus dibicarakan kembali secara baik-baik oleh
perawat dan tim medis lain kepada pasien dengan melibatkan keluarganya. Hal ini penting
dilakukan untuk mengetahui seberapa dalam perasaan pasien terhadap penderitaan,
keputusasaan, dan rasa kesepiannya menjalani hidup. Faktor-faktor pendorong untuk melakukan
assisted suicide harus dikaji lebih lanjut dan perawat harus membuat rencana keperawatan yang
berfokus pada kebutuhan fisik dan emosional pasien. Hubungan dan komunikasi antara perawat
dan pasien dapat memberikan dukungan positif dan mengurangi perasaan terisolasi pada pasien.
Sumber:

Subagyo, Bambang. 2010. Euthanasia dan Physician Assisted Suicide. Jurnal Kedokteran
Indonesia: Acta Medica Indonesiana, Edisi 17, September 2010.
American Nurses Association. 2013. Euthanasia, Assisted Suicide, and Aid in Dying. Diakses di
http://www.nursingworld.org/MainMenuCategories/EthicsStandards/ pada tanggal 12 Desember
2015.
Soetjipto, Helly Prajitno. 2000. Konteks dan Konstruksi Sosial Mengenai Kematian Elektif.
Buletin Psikologi, Tahun VIII, No. 1, Juni 2000.