Anda di halaman 1dari 159

DASAR DASAR

EPIDEMIOLOGI

DASAR-DASAR
EPIDEMIOLOGI
1.PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI
(Host, Agent dan Environment) & FAKTOR
PENYEBAB PENYAKIT
2.RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
3.VARIABEL EPIDEMIOLOGI (Time, Place
dan Persons)
4.EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF
5.UKURAN STATISTIK YG SERING
DIGUNAKAN DLM BIDANG
EPIDEMIOLOGI

TUJUAN PEMBELAJARAN
Mengetahui epidemiology
Memahami riwayat perkembangan epidemiologi
Memahami & mampu menetapkan elemen definisi
kasus dan akibat perubahan dari setiap elemen
Mendapatkan gambaran dan mampu menjelaskan
triad dan dinamika Epidemiologi,
Mampu menjelaskan pola penularan penyakit yg
berbeda pada populasi
Mampu menjelaskan dan mengaplikasikan
epidemiologi dalam praktek kesmas.

PENDEKATAN
EPIDEMIOLOGI

2011

Pendekatan Epidemiologi
(1)
Pendahuluan :

Epidemiologi berasal dari kausa kata Yunani: EPI


yang berarti atas. DEMOS artinya penduduk, dan
Logos artinya ilmu.
Epidemiologi : adalah ilmu yg mempelajari
kejadian penyakit yg menimpa sekelompok
penduduk.

Definisi lainnya : Ilmu yang mempelajari frekuensi,


distribusi, factor-faktor determinant penyakit atau masalah
kesehatan pada suatu populasi.

Perkembangan
Ilmu
Epidemiologi:
Dimulai
dengan
pengalaman mempelajari beberapa wabah penyakit dalam
berskala besar, seperti; penyakit Pes, kolera, dan cacar .
makin meluas diterapkan di pada berbagai macam penyakit
baik penyakit menular maupun tidak menular.

Pendekatan Epidemiologi
(1a)

Sejarah :

sdh sejak lbh dr 2000 tahun yang lalu,


dicetuskan oleh Hypocrates Cs. (400 thn sbl masehi)
terdpt hub.erat host/peny. dgn factor lingkungannya.
Graunt (1662), Far, Snow (pertengahan abad 18)
Baru pd abad XIX ; pengukuran2 distribusi peny. pd
pop.dilakukan secara baik.

John Snow (1936): adanya hubungan risiko


penularan peny.kolera dgn penyediaan air minum
oleh PAM.
Surveilans ( 1848 1849 dan 1853 1854 )
pemetaan kesakitan & kematian kasus tsb.

Pendekatan Epidemiologi
(1b)

Sejarah (2):
Epidemiologi modern ( 1950 ) :
oleh Doll, Hill :
mel. pengamatan klinik yg menghubungkan
antara kebiasaan merokok dan timbulnya
kanker Paru.

Pendekatan Epidemiologi
(2)

Epidemiology adalah:
Pendekatan basic science yg bersifat kuantitatif
yg dibangun berdasarkan pengalaman kerja
dalam aspek probalititas/kemungkinan.
Merupakan metoda didasarkan pada factor
penyebab, dan di perkembangan dengan tes
hipotesa yg berhubungan dgn upaya
pencegahan kesakitan dan kematian, dan
Merupakan alat atau sarana untuk digunakan
dalam upaya ACTION peningkatan derajat
kesehatan dan melindungi kesehatan
masyarakat didasarkan pada pendekatan
ilmiah, berkaitan dengan penyebab, dan
perkiraan praktis besarnya upaya yang
dibutuhkan.

Pendekatan Epidemiologi
(3)
Konsekuensi Epidemiologi selanjutnya dgn adanya alur yg sama
dalam pendekatan Epidemiologi: antara lain,

Faktor determinant penyakit


Kelompok penduduk : kerentanan, kelompok populasi spesifik,
distribusi/ penyebaran

Perkembangan pendekatan Epidemiologi


Epidemiologi penyakit jantung,
Epidemiologi penyakit campak,
Epidemiologi kecelakaan lalu lintas

Epidemiologi klinik
Epidemiologi penyakit tidak menular
Epidemiologi HIV / AIDS dan IMS
Epideniologi Sosial,
Epidemiologi penyakit emerging re emerging ( Avian Influenza,
Hanta Virus, Flu babi dll)
Epidemiologi Biomolecullair
dll.

Pendekatan Epidemiologi (4)


Agent, Host, & Environtment (Agen
penyebab, penjamu,
dan Lingkungan)
Suatu kejadian berkaitan dengan faktor faktor
keseimbangan &
Interaksi dari Host,
Agent & Environtment.
Host

Kekebalan, kerentanan, mobilitas, kepadatan, pola hidup, kondisi spesifik (Sex,


umur, ras, dll)

Agent

Virulensi, proliferasi, mutasi, suseptibilitas, adaptasi, port of entry, port of


extry, reservoir, mode of transmision, lokasi spesifik (peridukan, lingkungan
masyarakat, rumah sakit dll,

Environtment

Iklim, pola musiman, bencana, deforesifikasi, konversi linkungan, tehnologi dll.

Diagram Host Egent Environtment.

Modul 1

Faktor Penyebab
penyakit
2011

Triad Epidemiologi

Penyakit perupakan
hasil kekuatan interaksi
dinamis antara :
agent of infection
host
environment

Faktor yg berpengaruh dalam


penularan penyakit
Environment

Agent
Infectivity
Pathogenicity
Virulence
Immunogenicity
Antigenic
stability

Tergantung jenis penyakit

Weather
Housing

Geography
Occupational
setting
Air quality
Food

Survival
Age
Sex

Host

Genotype
Behaviour
Nutritional status
Health status
(www)

Konsep terkait Triad Epidemiologi


Infectivity (kemampuan untuk menginfeksi)
(jumlah yg terinfeksi / jumlah yg susceptible) x 100
Pathogenicity (kemampuan unt menimbulkan penyakit)
(jumlah yg dgn gejala klinis / jumlah yg terinfeksi) x 100
Virulence (kemampuan penyebab kematian)
(jumlah yg meninggal / jumlah yg sakit) x 100

Semuanya sangat tergantung pd faktor yg ada /


dimiliki

Predisposisi terjadinya infeksi


(Faktor Host)

Contoh

Gender
Genetik
Iklim dan cuaca
Nutrisi, Stress, Tidur/istirahat
Merokok/tidak
Keasaman lambung
Hygiene

Chain of Infection

Horton & Parker: Informed Infection Control Practice

(www)

Faktor Penyebab ( Etiologis )


Unsur biologis Unsur
Biologis
Unsur kimia
Protozoa
Unsur fisik

Metazoa
Bakteria
Virus
Rickettsia
Fungi

Unsur Kimia
Pestisida
Bahan pengawet
makanan
Obat obatan
Kimia Industri

Unsur Fisik
Panas
Sinar
Radiasi
Suara
Getaran
Objek yang bergerak
adalah
semua
cepat

Penyebab suatu penyakit (agent)


unsur atau elemen hidup maupun tak hidup yg
kehadirannya atau ketidak hadirannya, bila
diikuti dengan kontak yg efektif terhadap
manusia yang rentan dalam keadaan yg
memungkinkan, akan menjadi stimulan untuk
menginisiasi dan memudahkan terjadinya suatu
proses penyakit biologis, kimia, nutrisi, mekanik
dan agent fisik.

Faktor Penyebab ( Etiologis )


Penyebab biologis:
Protozoa

Adalah organisme uniseluler, antara lain dapat


menyebabkan malaria, trypanosomiasis,
leismaniasis, disentri amuba, dll.
Kebanyakan dari organisme ini berkembang
biak di luar tubuh manusia, dan biasanya
vectorborne dituliskan melalui vektor,
yaitu artropoda).

Metazoa

Organisme parasitic multiseluler, antara lain


dapat menyebabkan trichinosis, askariasis,
schistosomiasis, dll. tubuh manusia,
sehingga penularannya tidak langsung dari
manusia ke manusia.

Contoh

Infection Cycle of Schistosomiasis

Peters: Tropical Medicine and Parasitology, 2001 (www)

Faktor Penyebab ( Etiologis )


Penyebab biologis: (2)
3. Bakteri
Organisme uniseluler yang menyerupai tanaman ini dapat
menyebabkan bermacam-macam penyakit, misalnya: TBC,
meningitis, salmonelosis, dll. Bakteri yang dapat menyebabkan
penyakit biasanya dapat berkembang-biak baik di dalam maupun
di luar tubuh manusia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh
bakteri dapat ditularkan secara langsung dari manusia ke manusia,
tetapi dapat juga bakteri tersebut berasal dari lingkungan.
4. Virus
Adalah agent biologis yang terkecil. Beberapa penyakit yang
ditimbulkan adalah: influenza, rabies, rubella, ensefalitis, dll.
Biasanya penyakit-penyakit ini ditularkan secara langsung dari
manusia ke manusia yang lainnya. Untuk kelangsungan hidupnya,
virus memerlukan sel hidup.

Faktor Penyebab ( Etiologis )


Penyebab biologis: (3)
5. Jamur
sejenis tanaman yg tidak mempunyai khlorofil, dapat uni
maupun multiseluler. Penyakit yg disebabkan antara
lain: histoplasmosis, epidermafitosis, moniliasis, dll.
Resistensi organisme ini tinggi karena mereka
membentuk spora. Reservoir umumnya adalah tanah.

6. Riketsia
parasit intrasel yg ukurannya diantaranya virus dan bakteri,
dan mempunyai karakteristik seperti bakteri dan virus.
Untuk tumbuh dan berkembang-biak organisme ini
memerlukan sel yang hidup (seperti pada virus). Beberapa
penyakit yg ditimbulkan olah organisme ini adalah Rocky
mountain spotted fever, Q-fever, dll.

Karakteristik yg
mempengaruhi
Penyebab biologis:
1. Karakteristik inherent.
meliputi: morfologi, motilitas, fisiologi, reproduksi, metabolisme, nutrisi,
suhu yg optimum, produksi toksin, dll. Yang tak kalah penting adalah
sifat-sifat kimia dan fisik dari agent yang tak hidup, misalnya ukuran
partikel, merupakan substansi yang larut atau tidak, dll.

2. Viabilitas dan resistensi.


Kepekaan mikroorganisme terhadap panas, dingin, kelembaban,
matahari, dll. Dalam mempertahan-kan kelangsungan hidupnya.

3. Sifat-sifat yang berhubungan dengan manusia


Infektivitas (derajat penularan): kemampuan untuk menginfeksi dan
menyesuaikan diri terhadap penjamu.
Patogenitas: kemampuan untuk menimbulkan reaksi jaringan penjamu, baik local
atau umum, klinis atau subklinis.
Virulensi: merupakan derajat berat ringannya reaksi yang ditimbulkan oleh
agent.
Antigenisitas: kemampuan untuk merangsang penjamu membuat mekanisme
penolakan/pertahanan terhadap agent yang bersangkutan.

4. Reservoir dan sumber infeksi


5. Cara penularan

Faktor Penyebab Lainnya


b. Penyebab kimia, antara lain adalah

pestisida, food-addivite, obat-obatan, limbah


industri, selain itu juga meliputi zat-zat yang
diproduksi oleh tubuh sebagai akibat dari suatu
penyakit misalnya pada diabetik asidosis, uremia.

Cara transmisi:
Inhalasi, terdiri dari zat-zat kimia yang berupa gas
(misalnya carbon monoksida), uap (misalnya uap
bensin), debu mineral (misalnya asbestos),
partikel di udara (misalnya zat-zat allergen).
Ditelan, misalnya: minuman keras/alkohol, obatobatan, kontaminasi makanan, seperti pada
keracunan logam berat, dll.
Melalui kulit, misalnya keracunan pada pemakaian
kosmetika, atau pada keracunan yang disebabkan
oleh racun tumbuh-tumbuhan atau binatang.

Faktor Penyebab Lainnya


c. Penyebab nutrisi, yg termasuk dalam
kategori ini adalah karbohidrat, lemak, protein,
vitamin, mineral, dan air. Kekurangan atau
kelebihan zat-zat dpt mengganggu
keseimbangan yang mengakibatkan timbulnya
penyakit.

d. Penyebab mekanik. Misal friksi yg kronik,


dan lain-lain kekuatan mekanik yang dapat
mengakibatkan misalnya dislokasi atau patah
tulang, dll.

e.Penyebab fisik. Melalui radiasi ionisasi,


suhu udara, kelebaban, intensitas suara, getaran,
panas, terang cahaya.

Faktor Penjamu
Umur
Jenis kelamin
Suku Bangsa

Status Sosial ekonomi


Status perkawinan
Riwayat penyakit
sebelumnya

Cara hidup
Keturunan
Gizi

Dgn ciri ciri yg sangat luas. usia, jenis kelamin,


ras, sosial-ekonomi, status perkawinan, penyakitpenyakit terdahulu, cara hidup, hereditas, nutrisi,
dan imunitas.
Faktor-faktor tersebut diatas ini penting karena
mempengaruhi pertama: risiko untuk terpapar
sumber infeksi, dan kedua kerentanan dan
resistensi dari manusia terhadap suatu infeksi atau
penyakit.

Gol imunitas sesuai dgn cara


didapatnya

1. Imunitas alamiah (tanpa intervensi):

a. Imunitas alamiah aktif: ssdh mendapat infeksi dan selanjutnya terbentuk


antibodi terhadap infeksi tertentu ( Imunitas ini dapat bertahan lama).
b. Imunitas alamiah pasif: imunitas ini dimiliki oleh ibunya. Antibodi dari
ibu yg dapat melewati plasenta dan masuk ke dalam peredaran darah
janin. (Biasanya menghilang setelah 4 bln)

2. Imunitas didapat (dengan intervensi):


a. Imunitas didapat aktif: imunitas yg terbentuk setelah menerima vaksin
atau toksoid, misalnya toksoid tetanus, vaksin smallpox.
b. Imunitas didapat pasif: dgn penggunaan gamma globulin. Imunitas ini
berlangsung tidak lebih dari 4-5 minggu. Antibodi yang dibuat pada
hewan (biasanya kuda), bisa juga dipakai untuk memberikan proteksi
sementara terhadap suatu penyakit misalnya pada tetanus dan rabies.

Herd immunity adalah imunitas yang terdapat

dalam suatu populasi (bukan imunitas individu).


Tingkat kekebalan dalam populasi ini sangat berpengaruh
dalam timbulnya suatu penyakit disuatu populasi. Bila
tingkat kekebalan tersebut cukup tinggi, maka agent
(biologi) tidak dapat menembus dan menyebar dalam
populasi tersebut.

Faktor Lingkungan
Air
Kondisi lingkungan
:
Suara
Susu
Kondisi meteorologist dan akibatnya
:
Debu polusi lingkungan/suhu
Makanan
:
Tumbuh2 an :
Lingkungan
Binatang fisik,: meliputi: kondisi udara, musim, cuaca, dan
kondisi geografi serta geologinya.
Kondisi udara, musim, cuaca, dapat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap
penyakit tertentu.

Contoh:

Faktor ketinggian dari permukaan laut (attitude) berpengaruh


thp yang mengidap pen. jantung;
Kelembaban udara yg sangat rendah dpt berpengaruh tdp selaput
lendir hidung & telinga lebih rentan terhadap infeksi spt influenza.
Kebiasaan hidup seseorang mudah terjangkitnya penyakit ttt,
misal di daerah dengan keadaan udara yang panas dan lembab
menyebabkan orang memakai baju setipis dan seminimal mungkin,
sehingga mudah terjadi gigitan serangga, (sbg vektor penyakit tt).

Faktor Lingkungan
Kondisi geografi serta geologi dpt mempengaruhi kesehatan
secara langsung maupun tak langsung. Faktor ini berkaitan dengan
topografi, sifat tanah, distribusi dan jumlah tanah serta air yang
terkandung, dll.
Contoh:
Lokasi geografi menentukan macam tumbuhan yg tumbuh
(defisiensi vitamin), misalnya tingginya kasus scorbut pada daerahdaerah dimana buah-buahan dan sayur-mayur tidak selalu tersedia;
Lokasi geografi juga menentukan adanya jenis binatang sbg vektor/
reservoir penyakit, misalnya sehingga dapat mempengaruhi
distribusi penyakit, misalnya lalat teetse dan penyakit tidur di Afrika.
Struktur geologi juga mempengaruhi macam tumbuhan yang dapat
dikonsumsi oleh manusia, ketersediaan air, dll. Dimana hal-hal
tersebut dapat mempengaruhi kesehatan manusia.

Faktor Lingkungan
Lingkungan biologi
Dapat berperan sebagai berikut:
Hewan atau tumbuh-tumbuhan dapat berfungsi baik sebagai
agent, reservoir, vektor penyakit.
Mikroorganisme saprofit mempunyai pengaruh positif
terhadap kesehatan melalui penyuburan tanah, dll.
Tumbuhan ttt dpt sbg sumber nutrient, tetapi mungkin pula
menjadi tempat bermukim binatang yang merupakan vektor
suatu penyakit, atau merupakan sumber allergen.

Lingkungan sosial-ekonomi
Faktor yang timbul dari lingkungan sosial (diluar faktor
ekonomi) sangat mempengaruhi status kesehatan fisik dan
mental baik secara individu maupun kelompok.
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
Kepadatan penduduk, sangat mempengaruhi ketersediaan
makanan, kemudahan penyebaran kemudahan penyebaran
penyakit-penyakit menular, dll.

Faktor Lingkungan
Stratifikasi sosial ( tkt pendidikan, latar belakang etnis, macam
pekerjaan, dll. ( gangguan mental, juga tingkat kejahatan).
Nilai-nilai sosial lain, misalnya ( jml angg keluarga, aturan agama, dll.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan ekonomi setempat,


misal:
Kemiskinan, berkaitan dengan malnutrisi, fasilitas sanitasi yg
tidak memadai dll, yg dpt menunjang penyebaran penyakit menular.
Ketersediaan/ keterjangkauan fasilitas kesehatan, terkait dgn
ada/ tdk sistem asuransi kesehatan.
Adanya pusat-pusat latihan dan penyediaan kerja untuk para
penyandang cacat fisik, tingginya tingkat pengangguran.
Perang, dapat menyebabkan kemiskinan, perpindahan penduduk,
yang secara keseluruhan menyebabkan tingginya penyakit menular.
Bencana alam, misalnya banjir, gempa bumi, memberikan dampak
yang hampir sama dengan perang.

Interaksi Host - Agent Environment


Bagaimana menentukan insidens rate, attack

rate, distibusi proporsi, mortality rate dan ratio.


Gambar 1.
Kondisi 1 - sehat

I
n
t
e
r
a
k
s
i

Agent

Host

Hos
t

KESEIMBANGAN - DINAMIS

Agent

Environment

Kondisi 2 daya tahan individu


Environment
Kondisi 1 - sehat

Keseimbangan dinamis

Environment

Kondisi 1 - sakit

Environment

Konsep Biologic Laws (John Gordon)


Bahwa suatu penyakit timbul karena terjadi ketidak
seimbangan antara agent penyakit dgn manusia
(host).
Bahwa keadaan keseimbangan tersebut tergantung
dari sifat alami dan karakteristik agent dan
penjamu (secara individual maupun secara
kelompok).
Bahwa karateristik agent & penjamu, berikut
interaksinya, secara langsung berhubungan dan
tergantung pada keadaan alami dari lingkungan
sosial, fisik, ekonomi dan juga lingkungan biologis.
Pd penyakit menular, interaksi tersebut terjadi antara dua
organisme hidup;
Pd penyakit tak menular, terjadi interaksi antara satu organisme
hidup, yaitu manusia, dgn agent-penyakit yg tidak hidup (non
biologis).

Beberapa pengertian
Endemi: suatu penyakit tertentu selalu saja ditemukan
dalam suatu wilayah tertentu atau dengan istilah lain,
prevalensi suatu penyakit tertentu tersebut disuatu
wilayah tertentu tapi masih dalam batas batas normal.

Epidemi: disebut juga wabah, atau kejadian luar


Biasa.
Penyakit yg terjadi disuatu wilayah tertentu, yg
menimbulkan dampaknya jelas (peningkatan
kasus/kematian).
Jumlah kasus yg timbul melebihi ambang batas
normal.
Pandemi:
istilah
ini digunakan
bila orang
wabahke
suatu
Biasanya
karena
penularan dari
orang
penyakit
tertentu
tsb menyerang
banyak
atau dari
satu sumber
penularan
saja. Negara
atau benua sehingga hampir sebahagian besar
dunia terkena.

RIWAYAT ALAMIAH
PENYAKIT

2011

Gambaran aplikasi upaya


pencegahan penyakit

PERIODE
PREPATOGENESIS
Health
Promotion

Spesific
Protection

Primary Prevention

PERIODE PATOGENESIS
Early
Diagnosis and
Prompt
Treatment

Disability
Limitatio
n

Secondary Prevention

Rehabilitation
Tertiary
Prevention

Periode Prepatogenesis
Periode sebelum terjadinya interaksi yg menyebabkan host sakit. Dalam periode ini
secara tidak disadari berlangsung terus menerus dalam kehidupan manusia. Faktorfaktor hereditas, sosial-ekonomi, dll dapat menimbulkan suatu rangsangan untuk
menjadi sakit sebelum menusianya terjangkit penyakit.
Interaksi antara faktor-faktor agent, host, dan lingkungan yang terjadi sebelum proses
terjadinya penyakit disebut: periode prepatogenesa.

Periode Patogenesis
Periode sejak interaksi pertama dengan stimulus yang merangsang terjadinya
penyakit ttt, sampai terjadinya perubahan-perubahan bentuk dan fungsi dari jaringan,
dan selanjutnya sampai keseimbangan tercapai, yaitu: penyembuhan, menjadi
carrier, cacat, atau meninggal, disebut sebagai periode patogenesa.

Promosi Kesehatan dan


Pencegahan Penyakit
Tiga tingkatan pencegahan penyakit, yaitu:

Tingkat Pencegahan primer, periode sebelum terjadinya


penyakit (pada periode prepatogenesa); bertujuan untuk mencegah
berkembangnya suatu penyakit. Pencegahan primer, secara umum
adalah merupakan upaya untuk mendapatkan tkt kesehatan yg
optimal, al dgn: pemberikan perlindungan spesifik.
Misalnya: imunisasi, sanitasi lingkungan, proteksi terhadap
kecelakaan, dll.
Tingkat Pencegahan sekunder, upaya yg dilakukan pd
periode patogenesa, yang bertujuan antara lain melakukan
mendeteksi dini dan pengobatan penyakit.
Upaya ini dilakukan al, terlebih dahulu dengan melaksanakan
skrining dan pemeriksaan kesehatan secara berkala, sehingga dapat
dilakukan deteksi lebih awal sebelum berkembang lebih lanjut.
Pencegahan tersier, upaya yg dilakukan sesudah periode
patogenesa atau periode penyembuhan: meliputi melakukan

RIWAYAT ALAMIAH & PHASE


PENCEGAHAN PENYAKIT

6 komponen dlm proses perkembangan


penyakit menular
1.Penyebab penyakit (Faktor etiologi)
2.Reservoir dari agent penyebab penyakit
(Diseases Reservoir)
3.Cara & tempat keluarnya penyakit tsb dari
penjamu (Port de extry)
4.Cara transmisi dari orang ke orang (mode of
transmision)
5.Tempat masuknya penyebab penyakit kepada
penjamu
6.Kerentanan penjamu

Penyebab penyakit (Faktor etiologi)


1. Protozoa, 2. Metazoa, 3. Bakteri, 4. Virus. 5. Jamur. 6.
Patogenitas
dari Penyebab (agent) tersebut diatas sangat bervariasi
Riketsia

terlihat dari kemampuannya untuk menimbulkan tanda dan gejala


klinis.
Ada yang tidak menimbulkan gejala, disebut inapparent
infection,
yang menimbulkan gejala adalah apparent infection.

Faktor atau organisme tersebut diatas dapat menyerang host


dengan cara:
Proses invasi langsung, misalnya oleh stafilokokus
Pembuatan toksin yang dapat meracuni manusia, misalnya oleh Cl.
Tetani.
Menimbulkan hipersentivitas, misalnya oleh jamur-jamur tertentu.
Tidak semua orang yg terinfeksi akan jatuh sakit; contoh

Reservoir penyakit
2. Reservoir manusia
Dua kategori reservoir manusia, yaitu:
a. Kasus akut dengan gejala klinis. Kategori ini lebih jarang menyebabkan
penularan karena biasanya cepat terdeteksi & mendapat pengobatan, dan
biasanya disekitar kasus tersebut lbh waspada akan bahaya.
b. Carrier cases, orang yg menderita infeksi tertentu, tp tdk menunjukkan
gejala klinis.
Kategori ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Carrier dengan inapparent infections.
Kasus-kasus ini tidak menunjukkan tanda maupun gejala klinis.
Terjadi pd banyak kasus penyakit menular.
Misal: kasus Polio; Dari setiap ada kasus polio paralitik, maka disekitarnya ada
100 orang yang terinfeksi virus polio tanpa menunjukkan gejala klinis
Dari 100 kasus dengan infeksi poliomyelitis, satu orang akan berkembang
menjadi kasus polio dengan kelumpuhan, empat orang akan menjadi
nonparalitik polio, dan 95 kasus lainnya tetap tanpa diserta gejala klinis.
(pengalama Epid)

Contoh lainnya: Heppatitis A. (KasusHepatitis A dgn icterus dibandingkan dgn


yg non icterus), makin meningkat dengan meningkatnya umur.
Hepatitis A yg terjadi pada anak-anak umumnya tanpa menunjukkan gejala
(karena Icterus jarang terjadi pada anak-anak).
Pada anak-anak untuk setiap kasus icterus, disekitarnya maka akan ada 10
atau lebih penderita tanpa menunjukkan gejala klinis.
Sedangkan pd dewasa ratio ini bisa menjadi 2 : 1 atau 1: 1 .
Pada kasus meningococcal meningitis carrier rate diperkirakan berkisar antara

Reservoir penyakit
2. Reservoir manusia
Incubatory carrier.
Kasus yg mampu menularkan penyakit sebelum munculnya tanda dan
gejala klinis.
Darah dari orang yang terinfeksi hepatitis B sudah infeksius selama 3
bulan sebelum timbulnya gejala ikterik (kuning).

Pada anjing yang terinfeksi rabies 5 hari sebelum muncul gejala telah
dapat menularkan penyakitnya.
Pengetahuan tentang stadium carrier dalam masa inkubasi penyakit rabies
pada anjing memberikan pelajaran pada kita untuk melakukan karantina
terhadap anjing yg menggigit orang selama 7 10 hari. Jika selama
periode tersebut anjing tidak menunjukkan gejala rabies, maka kecil sekali
kemungkinan anjing tersebut telah menularkan virus rabies kepada orang
yang digigit.

Convalescent carrier
Adalah kasus-kasus yang setelah mengalami infeksi akut, tetap dapat
menularkan penyakit selama dan setelah mereka menjadi sehat.
Penggunaan obat yang tidak adekuat pada penderita salmonelosis dapat
menyebabkan penderita tersebut menjadi carrier.

Reservoir penyakit
2. Reservoir manusia
Chronic carrier.
Adalah kasus-kasus yang berlanjut infeksius selama 1 tahun atau lebih.
Keadaan ini terdapat pada penyakit-penyakit tifus, hepatitis virus,
shigollosis, dll. Persentasi dari kasus yang menjadi karier kronik hanya
sedikit.

Reservoir pada binatangpun karakteristiknya tidak berbeda dengan


manusia, yaitu ada kasus dan ada carrier.

Reservoir penyakit
2. Reservoir pd Binatang
perlu diperhatikan adalah binatang peliharaan atau yang berada di sekitar
manusia.
Penyakit Ricketsial, kutu dan binatang tertentu berperan sbg reservoir
infeksi.
Beberapa jenis binatang dapat sebagai reservoir penyakit, seperti:

Brucellosis
Q fever
Leptospirosis Rabies
Plaque
Tetanus
Psittacosis
Tularemia

Tumbuh-tumbuhan, tanah, air dalam lingkungan kita dapat juga menjadi


reservoir bagi permacam penyakit jamur, seperti: histoplasmosis, dan
coccidiodomycosis yg hidup dan berkembang di tanah.

3. Reservoir lingkungan
Terdiri dari tanaman, tanah, dan air. Kebanyakan dari jamur mempunyai
reservoir tanah.

Portal dari agent untuk meninggalkan host

Cara penularan dari agent ke host baru


a. Secara langsung
secara droplet spred. Peran dari kontak pada penularan secara
langsung ini dapat dilihat pada penyebaran penyakit kelamin dan
penyakit enteric (person to person). Pada penyakit saluran
pernafasan, penyebaran secara langsung biasanya melalui bersin,
batuk, berbicara dengan penderita.
b. Secara tdk langsung
melibatkan benda hidup maupun benda tak hidup
Vehicle-borne
Meliputi air, makanan, susu, serum, plasma, dll, yang berfungsi sebagai
perantara transmisi dan masuknya agent ke dalam host.

Vector-borne
Bersifat mekanik, yang tidak memerlukan pengembang-biakan dan
perkembangan dari agent dalam mata rantai penularan, misalnya E.
histolytica.
Bersifat biologik, yang memerlukan proses berkembang-biak dan tumbuh
dalam proses penularan misalnya F. vivax.

Air-borne
Biasanya melalui partikel debu, terdapat pada kebanyakan penularan penyakit
saluran pernafasan.
Udara juga berperan menyebarkan penyakit melalui debu di lantai atau tanah,
misalnya pada penyakit coccidioidomycosis, dan histoplasmosis.

Portal dari agent masuk ke host yang baru


Mekanisme yang terjadi adalah seperti pada mekanisme agent
meninggalkan host.

Kerentanan host
Kerentanan host tergantung pada faktor genetika. Faktor ketahanan tubuh
secara umum, dan imunitas spesifik yang didapat.
Faktor ketahanan tubuh yang penting adalah yang berhubungan dengan
kulit, selaput lendir, keasaman lambung, silia pada saluran pernafasan,
dan refleksi batuk.
Faktor-faktor yang meningkatkan kerentanan adalah malnutrisi, bila
menderita penyakit lain, depresi sistem imunologi yang dapat terjadi pada
pengobatan penyakit lain (misalnya pada kanker, AIDS, dll).

EPIDEMIOLOGI
DESKRIPTIF
2011

Empat phase pendekatan


epidemiologi
Epidemilogi Diskriptif
Epidemilogi Analitik
Epidemilogi Intervensi/
Experimental
Epidemilogi Evaluatif

Epidemiologi
Menjelaskan
Deskriptiftentang: apa masalah yg terjadi, siapa
kelompok yang tertimpa masalah, dimana masalah
tersebut terjadi dan kapan.
Apa masalah yg terjadi,
Biasanya digambarkan dalam angka mutlak atau
angka relative (rate, ratio atau proporsi)
Dapat pula dalam bentuk Insidens rate atau
prevalens rate (tergantung data yang dimiliki)

Epidemiologi
Deskriptif
Siapa kelompok yang tertimpa masalah,

Biasanya didiskripsikan dlm karakteristik:


Umur/kelopmpok umur, Jenis kelamin, status social
tertentu, atau Ras yang ada kaitannya dengan masalah
(population at Risk).
Disajikan dalam bentuk table atau grafik.

Dimana masalah tersebut terjadi

Didiskripsikan dalam satuan geografis, umumnya


(ditampilkan dalam spot map atau areal map).

Kapan.

Disajikan dalam hari, bulan, tahun dsb, tergantung


pada jenis masalah/ kejadian yang dihadapi/ antara lain,
masa inkubasi, musim tertentu, aktifitas tertentu dll.

Epidemiologi
Analitik
Sesudah disajikan dalam bentuk Diskriptif,
dilakukan analisis; misalnya analisis penyebab,
kaitan dengan kodisi tertentu, mengapa pada
kelompok tertentu?

Misal:
Hubungan dengan kondisi tertentu: kondisi
vector, kondisi layanan kesehatan/program
kesehatan khusus, kondisi social, ekonomi dll.

Epidemilogi Intervensi/
Experimental
Disini biasanya dilakukan UJI-COBA intervensi yg
diduga tepat dan efektif untuk mengatasi
masalah.

Epidemilogi Evaluatif

Digunakan untuk menilai efektifitas berbagai


bentuk pelayanan kesehatan/program untuk
mengatasi masalah/hambatan.
Misal:
KLB Campak pd kasus yg telah diimunisasi ,
apakah disebabkan vaktor vaksi, cold chain,
jadwal pemberian pelayanan, jarak yg jauh atau
masalah diagnose (yg salah).

Populasi yang terancam


Adalah kelompok populasi tertentu yg
mempunyai kesempatan besar untuk mengalami
suatu keadaan/ menderita penyakit tertentu.
Definisi Kasus
Mengandung makna adanya kesepakan tentang
OBJEK yg diamati.

Angka mutlak dan Rate: berbeda dalam ada/ tidak


adanya pengaruh factor Risiko

Pendekatan Risiko
Risiko adalah besarnya kemungkinan timbulnya masalah

Dengan mengukur dan membandingkan factor risiko dapat


diupayakan, antara lain:
Mencari alternative pemecahan masalah
Menentukan prioritas pemecahan masalah

Ukuran risiko:
Risiko absolute: insidens rate, Prevalens rate, attack rate dll
oRisiko relative/ odd ratio
oAttributable risk
Contoh: Tetanus neonatorum

Risiko absolute:
Insidens rate di Kec A, 20/1000 kelahiran hidup.
Insidens rate di Kec B, 2/1000 kelahiran hidup.

Artinya artinya di Kec A, risiko absolute 10 kali dibandingkan di kec


B

Risiko relatif:
Bayi yang lahir di Kec A, akan mempunyai risiko 10 kali lebih besar
bila dilahirkan di Kec B.

Perhitungan 20/1000 dibagi 2/1000 = 10

Atributable Risk:
20/1000 dikurangi 2/1000 18/1000

Artinya 18 per 1000 kejadian Tetanus Neonatorum dapat dicegah


bila bayi tidak dilahirkan di Kec A, akan tetapi dilahirkan kec B

Studi epidemiologi deskriptif


Umumnya dilaksanakan jika hanya sedikit
informasi yang diketahui mengenai kejadian,
riwayat alamiah serta determinant dari
suatu penyakit atau masalah kesehatan.
Cara yang termudah untuk menjelaskan
kejadian serta distribusi suatu penyakit atau
masalah Kes pd suatu populasi adalah dgn
pertanyaan; siapa yang yang terkena
penyakit, dimana dan kapan terjadinya
penyakit tersebut
atau dengan kata lain dikemukakan
berdasarkan tiga variabel epidemiologi yaitu:
ORANG, WAKTU dan TEMPAT.

Studi epidemiologi deskriptif


Umumnya dilaksanakan jika hanya sedikit
informasi yang diketahui mengenai kejadian,
riwayat alamiah serta determinant dari
suatu penyakit atau masalah kesehatan.
Cara yang termudah untuk menjelaskan
kejadian serta distribusi suatu penyakit atau
masalah Kes pd suatu populasi adalah dgn
pertanyaan; siapa yang yang terkena
penyakit, dimana dan kapan terjadinya
penyakit tersebut
atau dengan kata lain dikemukakan
berdasarkan tiga variabel epidemiologi yaitu:
ORANG, WAKTU dan TEMPAT.

Tujuan penyajian epidemiologi


deskriptif
Untuk menggambarkan karateristik
distribusi dari berbagai penyakit/masalah
kes dari suatu kelompok populasi yg paling
terkena.
Untuk dapat memperhitungkan besar &
pentingnya berbagai masalah kesehatan
pada suatu kelompok populasi.
Untuk dapat mengidentifikasi kemungkinankemungkinan determinant, masalah,
faktor risiko yang kemudian merupakan
dasar untuk menformulasikan suatu
hipotesa.

Manfaat penyajian epidemiologi


deskriptif
Data akan sangat berguna bagi public health
administrator dan para epidemiologist.
Menggambarkan kelompok populasi yg paling terkena
memungkinkan public health administrator untuk
mengalokasi-kan sumber-sumbernya dgn lebih efisien,
misalnya suatu program pencegahan dapat ditujukan
dengan lebih tepat dan efisien pada suatu target
populasi.
Sedangkan bagi epidemiologi: identifikasi
karakteristik, suatu frekuensi masalah merupakan
langkah pertama yg penting untuk mencari
determinant atau faktor risiko dimana
determinant/faktor risiko tersebut dapat diubah atau
dihilangkan sehingga penyakit/masalah kes tsb dapat
dicegah.

VARIABEL ORANG
adalah karakteristik individu yg terkait dgn
pemaparan atau kerentanan terhadap suatu
penyakit/ masalah Kes, misalnya masalah gizi,
imunisasi dll. Karakteristik-karakteristik tersebut
antara lain: umur, jenis, kalamin, etnik grup,
pekerjaan, sosial ekonomi, dll.

Umur (paling sukar dlm ketepatan)


merupakan variabel yang selalu
terkait dgn penyakit/masalah kes.
menggambarkan kerentanan dg faktor
penyebab,
merupakan faktor sekunder yg harus
diperhitungkan dlm meneliti perbedaan

Hubungan umur dengan


masalah
gizi
Data integrasi gizi
dalam Susenas 1986
makin tua umur

seorang anak makin rendah persentase BB menurut umur (BB/


U). Dan masalah gizi mulai timbul setelah umur 6 bulan.
Xeropthalmia tingkat ringan (x1b) paling banyak diderita oleh
anak berumur 3 5 tahun dp anak umur 0 2 tahun.
Sedangkan xeropthalmia berat lebih banyak diderita pada
anak 2 3 tahun.
Prevalensi anemia ditemui pd semua kel. umur, anak
prasekolah, anak usia sekolah, wanita dewasa, wanita hamil
dan pekerja fisik berpenghasilan rendah.
Prevalensi peny. gondok, makin tua umur makin tinggi
risikonya untuk menderita gondok dgn puncaknya pd 17 18
tahun.
Umur juga berperan penting dalam indicator antropometri
untuk memprediksi kematian. Pada mereka yang
stunting/cebol/ kelainan gizi kronis dibandingkan dgn
wasting/ kelainan gizi akut, risiko kematiannya lebih tinggi
pada anak-anak yang umur lebih muda (< 2 tahun). Tetapi
pada anak yang lebih tua, wasting memiliki risiko kematian
yg lebih tinggi.

Jenis kelamin
Frek penyakit/mas kes umumnya berbeda antara pria
dan wanita.
Angka kematian lebih tinggi pada pria daripada wanita.
Sedangkan angka kesakitan wanita lebih tinggi daripada pria.
Dlm masalah gizi antara faktor pertumbuhan pria dan wanita
pun berbeda. Mungkin adanya pengaruh faktor genetik,
keseimbangan hormonal, lingkungan, perbedaan secara
fisiologis atau pola hidup.
Hubungan jenis kelamin dengan masalah gizi
Hasil analisis data Susenas 1986, status gizi anak balita
wanita lebih baik dp status gizi anak laki-laki.
Pada xeropthalmia tingkat ringan (xiB) lebih banyak anak
laki-laki dibanding anak perempuan sedangkan pada
xeropthalmia tingkat berat lebih banyak diderita oleh anak
perempuan.
Sedangkan penyakit gondok lebih banyak diderita oleh
wanita daripada pria, terlihat pula pada setiap kelompok
umur.

Ethnik group
adalah sekelompok orang yang mempunyai derajat
homogenitas lebih tinggi daripada populasi secara
keseluruhan, misalnya dari segi kebiasaan-kebiasaan.
Kelompok suku tertentu mungkin mempunyai diet dan
pola kebiasaan makan tertentu. Mungkin dapat diselidiki
apa saja kebiasaan/pola makan orang Aceh, sehingga
prevalensi xerophtalmia di daerah tersebut tinggi.

Pekerjaan
untuk mengukur status sosial ekonomi, Pekerjaan dapat
juga untuk mengidentifikasi suatu risiko yang
berhubungan dengan pemaparan agen yang berbahaya
seperti mereka yang bekerja dipertambangan, misalnya
terpapar dengan asbestosis, timah, anilin, dll.

Pendidikan
Pendidikan orang tua mempunyai peranan penting pula dalam
menentukan status gizi anak.
Pendidikan KK (misalnya bapak) lebih pd menggambarkan
status sosial. Sedangkan pendidikan ibu selain
menggambarkan kedaan sosial ekonomi juga lebih
menggambarkan peranan ibu dalam hal menentukan pola
makanan keluarga dan pola mengasuh anak.
Makin rendah pendidikan KK atau ibu makin tinggi persentase
anak balita yang berstatus gizi kurang/buruk.

Sosial - ekonomi
Variabel seperti jenis pekerjaan, pendidikan,
pengeluaran rumah tangga, pendapatan keluarga,
daerah tempat tinggal digunakan sebagai indikator
status sosial ekonomi.
Mereka yang tergolong sosial ekonomi rendah pada
umumnya rata-rata % BB/U nya lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata % BB/U pada mereka

Variabel waktu
perubahan frekuensi penyakit/ masalah gizi menurut waktu dapat
dibagi tiga:
Variasi jangka panjang (secular trend), yaitu perubahan frek
peny /mas kes dlm jangka waktu lama, bertahun-tahun, puluhan
tahun.
Fluktuasi frek peny/mas kes yg terjadi secara periodik disebut
perubahan siklik.
Fluktuasi frek penyakit yg terjadi secara singkat seperti epidemi.

Variabel Tempat
Frek penyakit / masalah kes sangat bervariasi antara
satu tempat dengan tempat lainnya.
Pengetahuan tentang distribusi penyakit /mas kes
sangat bermanfaat dalam merencanakan yankes dan
untuk memantau perkembangan suatu
penyakit/masalah kes.
Untuk menganalisa perubahan frekuansi penyakit
berdasarkan tempat:

perbandingan
perbandingan
perbandingan
perbandingan

secara internasional atau antar negera.


dalam negara
antara urban dan rural.
antar tempat.

UKURAN
EPIDEMIOLOGI
yang sering digunakan
2011

BEBERAPA CONTOH TABEL DAN


CHART, dalam analisa masalah,
dengan pendekatan risiko.
Tabel 1. Distribusi tetanus neonatorum
menurut tempat persalinan di Kota X, tahun
1989. ( 80 kasus )
Tempat persalinan
1 Di Rumah
2 Rmh Sakit/ Rmh bersalin
3 Lain lain
Keterangan :

Proporsi
(%)
93.0
4.0
3.0

Persalinan dirumah menunjukkan risiko terkena tetanus neo


tertinggi,
Ada 4 % persalinan di RS/RB terkena tet Neo, ( perlu diexplorasi factor lain yg
dpt menimbulkan tet neo tsb.)

BEBERAPA CONTOH TABEL DAN


CHART, dalam analisa masalah,
dengan pendekatan risiko.
Tabel 2. Distribusi tetanus neonatorum
menurut tempat persalinan di Kota X, tahun
1989.( 80 kasus )
Tempat pemeriksaan

Proporsi (%)

Di klinik KIA

Rmh Sakit

Puskesmas

51.0

Pos kesehatan

31.0

Lain lain

Keterangan :

8.0
6.0

4.0

data demikian perlu kajian lebih jauh. Secara umum mungkin


dapat dikaitkan dengan kualitas pelayanan ante dan pos natal.

SCREENING TES ( UJI TAPIS),


misalnya digunakan untuk memisahkan
suatu kelompok yang mempunyai risiko
sakit dari suatu populasi / kelompok yang
lebih besar.
Sensitivity dan spesifisity :

Adalah dua perbandingan yg digunakan untuk


mengukur kemampuan suatu screening tes untuk
memisahkan antara dua kelompok (yang sakit dan
tidak sakit).
Hasil tes
Positip
Negatip
Total

Keadaan sebenarnya
Sakit
Tidak sakit
a
b
c
d
(a+c)
(b+d)

Total
(a+b)
(c+d)
(a+b+c
+d)

Rate
Rate digunakan untuk mengukur memungkinan munculnya
suatu kejadian pada kelompok masyarakat, misalnya
kasus atau kematian yang disebabkan infeksi.

Mengukur munculnya kejadian dalam suatu populasi


yang diamati, yang dapat diterapkan pada berbagai
populasi dengan mempertimbangkan factor-factor
yang berpengaruh dan menyebabkan perbedaan
dalam pengamatan.
X

INSIDENS RATE

= -------- x
Y

Definisi : adalah ukuran frekuensi munculnya kasus


baru dari suatu penyakit dalam suatu populasi
masyarakat selama waktu tertentu.
X = jml orang dlm kelompok masy. ttt ( waktu, tempat &
orang) yg jatuh sakit karena suatu sebab ttt dalam
periode waktu ttt.

Rate (2)
Y = jml orang dalam suatu kel. masyarakat dilokasi
kejadian dlm periode waktu yang sama.
Biasanya besarnya populasi diambil dari jumlah populasi
pada pertengahan waktu pengamatan.
K = biasanya 100.000.
bisa 100, 1.000, 10.000 atau bahkan 1000.000
biasanya ditentukan sedemikian, sehingga harga rate
terkecil merupakan angka satu decimal
(4,2 per 100, bukan 0,42 per 1000 populasi, dst).
namun harus dijelaskan justifikasinya kenapa nilai K
tersebut dipilih.
penulisan pada table atau grafik diletakkan dibagian
atas kolom dimana rate disajikan atau dituliskan
disamping grafik: misalnya, 5 per 100, 7 per 10.000, 1,2
per 10.000, 4,3 per 100.000, dsb.

Beberapa
penjelasan
Dalam
praktek Epidemiologi,

Bila insidens rate lebih tinggi dari suatu populasi


masyarakat lainnya, maka berarti bahwa kelompok
pertama tadi memiliki risiko yg lebih tinggi
terjadinya penyakit/kejadian dibandingkan kelompok
populasi yg kedua.
Kata lain populasi pertama adalah relative
kelompok berisiko tinggi yg tinggi dibandingkan
Dalam
menganalisa
data tentang penyakit,
kelompok
populasi suatu
yg kedua.

kelompok masyarakat adalah suatu kelompok


berdasarkan hasil sensus (area sosial ekonomi, perkotaan,
wilayah kecamatan/ kabupaten, Negara.
Dapat pula kelompok populasi masyarakat lainnya,
seperti rumah sakit, sekolah, kelompok militer.
kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik
tertentu pula,
misalnya; umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan atau
karakteristik lain, yg dapat di kelompokkan sesuai
kebutuhan studi Epidemiologi yang diinginkan.

Beberapa
penjelasan (3)

Insidens rate seringkali dikacaukan dengan


Prevalens rate.
Keduanya serupa, tapi memiliki batasan penting yang
membedakannya sehingga perlu diperhatikan dalam
penggunaannya.

Perbedaan Insidens rate dan Prevalens


Rate
Prevales rate :

untuk pembilangnya (X) tidak hanya memperhitungkan


jumlah penduduk yg baru jatuh sakit (kasus baru) dalam
periode waktu tertentu saja, akan tetapi juga
memperhitungkan orang yg sakit sebelum periode tadi dan
masih sakit (kasus lama) dalam periode pelaksanaan.
Dengan kata lain pembilang dalam Prevalens rate meliputi
semua penduduk yg sakit disebab penyakit tertentu, yg
ditemukan dalam periode waktu yg disepakati tanpa

Beberapa penjelasan (5)


Insidens rate : untuk pembilang hanya memperhitungkan orang yg
sakit atau mulai sakit selama periode waktu yang disepakati.
Perbedaaan Insidens dan
Kasus baru
Prevalens dapat dijelaskan
Diagram waktu sakit
Kasus lama
melalui diagram berikut.
Penjelasan diagram: ada 13 kasus penyakit X, di
Periode waktu yg disepakati
kota A.
1
2
3

4
Untuk perhitungan Insidens rate,
5
kasus yang dihitung adalah : 1, 2, 4, 5, 7, 9,
6
7
11, dan 12.
8
9
kasus 3, 6, 8, 10 dan 13 tidak dihitung.

10
13
11
12
Untuk perhitungan prevalens rate,
kasus yg dihitung adalah : kasus 1 sampai 13
dihitung semuanya.

Attack Rate
Definisi : adalah suatu bentuk ukuran Insidens rate
yang biasanya dinyatakan dalam persen dan
diterapkan pada sekelompok masyarakat dalam
suatu periode waktu terbatas, misalnya pada
saat
kejadian luar
biasa
Epidemi tertentu.
Kelompok
masyarakat
disini
dlmatau
perhitungan
Attack
Rate:
Kel.masy yg ditetapkan secara kasar dalam periode
waktu singkat namun
masih bisa dipertanggung
X
X : sama dgn Insidens rate
jawabkan)
Rumus Attack rate : --------Y : sama dengan Insidens Rate
xK
Y

K : hampir selalu 100.


(kadang-kadang 1.000 )
Bila K sama dgn 100, attack rate
dinyatakan dgn per 100
populasi
atau persen.

Contoh soal : Attack Rate


Dalam suatu kejadian luar biasa (KLB), ditemukan 26
kasus penyakit X, dimana 7 kasus diantaranya adalah
wanita, dan 19 lainnya pria. KLB terjadi di masyarakat
(pop.at risk) dengan jml pop = 9 wanita dan 87 pria.
JENIS KELAMIN
Pria

JUMLAH
KASUS
19

Wanita
Jumlah

7
26

JML PENDUDUK
87
9
96

Berapakah attack rate di masing-masing kelompok jenis


kelamin dan diantara kelompok masyarakat tadi ?
Jawaban:
19
Attack rate laki-laki : ---------- x 100 = 1900 / 87 = 21,8 per 100
pop at risk.
67

Distribusi Proporsi
Definisi : adalah presentase (proporsi) dari suatu sub
katagori kejadian (atau sub group) yang muncul
dari keseluruhan jumlah kejadian dari suatu seri
data.
Rumus yang
digunakan

X
Proporsi (persen ) : --------xK
Y

Penjelasan:

X : jumlah kejadian atau penderita


yang timbul dalam suatu katagori
tertentu dari suatu kelompok
yang lebih besar.
Y : jumlah keseluruhan dari
kejadian atau penduduk dari
semua katagori dari suatu seri
data tertentu.
K : selalu 100.

Perhitungan distribusi proporsi umumnya digunakan


dalam suatu keadaan dimana tidak memungkinkan
untuk menghitung Insidens rate

Distribusi
proporsi
(2)
hanya
menggambarkan
suatu kejadian, menyangkut
orang atau hal lain dimana kejadian dapat terjadi dalam
sub group yang sama. Biasanya bukan perupakan kasus.

X dan Y selalu diperhitungkan dgn cara diatas &


dinyatakan dlm persen.
Bila setiap katagori dijumlahkan & meliputi semua
katagori, jumlahnya harus 100 %.
(Sedangkan perhitungan rate tidak dapat dijumlahkan
seperti ukuran ini.)
Kesimpulan untuk distribusi proporsi
adalah suatu bentuk distribusi dari frekuensi total dari
suatu kejadian dalam suatu populasi tertentu dalam
bentuk persentasi dari beberapa macam sub group atau
sub kelompok.

Distribusi
proporsi
Contoh
soal: (3)

Dalam suatu kejadian luar biasa (KLB), ditemukan 26


kasus penyakit X, dimana 7 kasus diantaranya adalah
wanita, dan 19 lainnya pria. Jumlah penduduk menurut
jenis kelamin pada kelompok tersebut tidak diketahui.
JENIS KELAMIN
Pria

JUMLAH
KASUS
19

DISTRIBUSI
PROPORSI
73,1

Wanita

26,9

Jumlah

26

100,0

Berapakah distribusi proporsi dari kasus menurut jenis


kelamin ?

Mortality Rate (1)


Definisi : adalah ukuran frekuensi kematian dari suatu
kelompok masyarakat tertentu selama waktu
tertentu.X
X : jumlah kematian karena sebab
Mortality rate :
--------- x K
Y

apapun (crude death rate) atau


karena sebab tertentu Cause
spesifik Death rate) dalam
kelompok masyarakat tertentu
selama periode waktu tertentu.
Catatan:
Y : Sama dengan insidens rate;

jumlah orang dalam suatu


Mortality rate untuk mengukur
kelompok masyarakat tertentu
frekuensi kematian sedangkan
selama jangka waktu tertentu.
Morbidity rate mengukur
K : biasanya 1.000 bila X
frekuensi kesakitan
merupakan kematian karena
semua sebab.
Dan 100.000 bila X bila kematian
karena sebabmortality
tertentu. rate
populasi dan intervalnya pada perhitungan
.

biasanya sama dengan yang dipakai pada insidens.

Mortality Rate (2)


Bentuk lain Mortality rate:
Cause spesifik rate dengan membatasi harga X pada orang yang
meninggal karena sebab tertentu.
Age spesifik dengan membatasi X yang meninggal pada
kelompok umur ttt dan
Y pada kelompok umur tertentu yang sama
Sex Spesific Mortality rate dengan membatasi X yang meninggal
pada kelompok jenis kelamin ttt dan Y pada anggota populasi
jenis kelamin
yang sama.
Contoh
:

Di suatu kota dengan jumlah penduduk 212.000


tercatat 1900 kasus meninggal, dimana 4 diantaranya
disebabkan penyakit BB.
Berapakah Crude death rate per 1.000 populasi ?
Berapakah Cause spesifik death rate per 100.000
populasi ?

RATIO (1)
Definisi : adalah suatu ukuran frekuensi relatif dari suatu kejadian
dibandingkan dengan kejadian lain ( misalnya; jumlah anak
kelas VI yang telah diimunisasi dibanding dengan anak
dalam kelas yang sama yang tidak diimunisasi pada sekolah
tersebut.
X : jumlah orang atau kejadian yang
X

X
Ratio: ------xK
Y

Catatan:

memiliki satu atau lebih ciri -ciri


tertentu
Y : jumlah orang atau kejadian yang
memiliki satu atau lebih ciri -ciri
tertentu, namun ciri ciri tersebut
berbeda dengan ciri ciri kelompok X
K : 1 ( selama K = 1 sehingga rumus
menjadi lebih sederhana) .

Populasi dan periode waktu atau titik waktu yang digunakan harus
ditegaskan seperti pd perhitungan rate.
Ratio dapat dihitung sebagai rate, hanya untuk satu kejadian.
Y tidak selalu sebagai population of risk dan X tidak selalu
merupakan bagian dari Y.
Biasanya harga X dan Y salah satu merupakan harga 1 (satu)
sehingga salah satu X atau Y berharga 1, atau divisualisasikan

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 3 (Perhitungan Attack rate kelompok Umur pd KLB


Keracunan)
Diketahui :
Distribusi golongan umur dari kasus yang sakit dan sehat seperti
terlihat pada table berikut :
GOLONGAN
UMUR

JUMLAH SAKIT

JUMLAH
SEHAT

0 - 9 tahun
0
13
10
19
2
14
tahun
17
10
20
29
24
4
tahun
13
1
30
39
tahun
Pertanyaan :
> 40tahun
Hitung attack rate menurut kelompok umur untuk setiap
otal
56
42
golonganT umur.

PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI


CONTOH A: PEMAKAIAN & PERHITUNGAN RATE RATIO DAN PROPORSI

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 1 Perhitungan Insidens rate dalam perbedaaan nilai Konstanta (K)


BAGIAN 2 Perbedaaan perhitungan dan makna Insidens rate dan Distribusi
proporsi
BAGIAN 3 Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio
BAGIAN 4 Perhitungan insidens rate &proporsi menurut variable
epidemiologi.
BAGIAN 5 Perhitungan Mortality rate berdasarkan kelompok umur

CONTOH B : PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI PADA KEJADIAN LUAR


BIASA (KLB)

KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS ( terdiri dari Bagian 1 s/d 4)

BAGIAN 1.
BAGIAN 2.
BAGIAN 3.
BAGIAN 4.
dimakan)

Perhitungan
Perhitungan
Perhitungan
Perhitungan

Attack Rate pd KLB keracunan)


Sex spesifik Attack rate pd KLB Keracunan)
Attack rate kelompok Umur pd KLB Keracunan)
attack rate terhadap jenis risiko makanan yg

PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI


CONTOH C : PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI DALAM
PROGRAM IMUNISASI

KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)


BAGIAN 1. (perhitungan Insidens rate pd PD3I)
BAGIAN 2. (perhitungan attack rate pd KLB PD3I)
BAGIAN 3. (Perhitungan Sex spesifik Attack Rate pd KLB PD3I)
BAGIAN 4. (Perhitungan efikasi vaksin pd KLB PD3I)

CONTOH D: PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI DI RUMAH SAKIT

Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus ( terdiri dari Bagian 1


s/d 5 )
BAGIAN 1 Perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial)
BAGIAN 2 Perhitungan ratio dari rate Infeksi Nosokomial)
BAGIAN 3 Perhitunngan Attack rate berdasarkan jenis luka/
ruda paksa
BAGIAN 4 Pehitungan attack rate infeksi nosokomial
perdasarkan persentase luka bakar)
BAGIAN 5 Perhitungan infection rate berdasarkan lama
perawatan)

CONTOH A: Pemakaian dan perhitungan RATE DAN


RATIO (1)
Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri
dari
bagian
1 s/d 5) Insidens rate dalam perbedaaan nilai
BAGIAN
1 (perhitungan
Konstanta
Diketahui (K) (1)

Selama tahun 1966 dalam suatu kejadian dilaporkan 126


kasus St Louis Encephalitis di suatu populasi yang
berjumlah 20.000.

Pertanyaan : Hitung Insidens rate SLE yang terjadi di


populasi tsb selama tahun 1966.

(1)
Dalam soal ini X adalah 126 kasus SLE yang dilaporkan selama

tahun 1966 dan Y adalah jumlah penduduk yang berisiko selama


1966 yaitu 20.000 populasi penduduk. (harga K = 1.000).

126
126
Sehingga Insidens rate = --------- x 1.000 = --------= 6.3 kasus
per 1.000 penduduk.
20.000
20
Ratio kasus pria : wanita : 19 : 7 = 19/7 banding 7/7

= 2,7 : 1

CONTOH A: Pemakaian dan perhitungan RATE DAN


RATIO (1)
Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri
dari
bagian
1 s/d 5) Insidens rate dalam perbedaaan nilai
BAGIAN
1 (perhitungan
Konstanta (K) (1)
(2) Bila Insidens rate dihitung dalam satuan 10.000 penduduk ( K =
10.000), maka Insidens rate

126
126
Insidens rate = --------- x 10.000 = ----------= 63 kasus per
10.0002penduduk.
20.000
2

5
(3) Bila Insidens rate dihitung
dlm satuan populasi berisiko 100.000
(K = 100.000)
126
126 x 5
1
Insidens
rate = --------- x 100.000 = ------------ = 630 kasus per
Ketiga simulasi diatas benar semuanya, dapat diterima dan dipakai dalam
100.000 penduduk.
penyajian.
20.000
1
Namun secara praktis
Jawaban (1) lebih tepat digunakan
karena jawaban
mendekati angka 1 .
Interpretasi ukuran rate ini adalah: bahwa selama tahun 1966 terdapat 6,3
orang penderita SLE dari setiap 1.000 penduduk di daerah tersebut.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi ) (1)
Diketahui

Dari 126 kasus SLE diatas, tidak satupun terjadi pada periode
Januari s/d Maret 1966, 5 kasus SLE terjadi dalam periode bulan
April s/d Juni, dan 113 kasus terjadi pada bulan Juli dan 8 kasus
terjadi pada periode bulan Oktober s/d Desember.

Pertanyaan : a. Hitung Insidens rate SLE yang terjadi di populasi


tsb per 10.000 populasi untuk setiap kwartal.
b.
Hitung distribusi proporsi kasus menurut musim.
Jawaban

Perhitungan Insidens rate per kwartal.


Insidens rate kasus SLE kwartal 1 (Januari Maret, tahun 1966)
X = 0
(jumlah kasus SLE)
Y = 20.000 (jumlah populasi berisiko)
K = 10.000

0
0
Insidens rate kw. 1 = ----------- x 10.000 = -------- x 1
kasus per 10.000 pend.
20.000 2

= 0.0

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi ) (1)
Jawaban

Perhitungan Insidens rate per kwartal.


Insidens rate kasus SLE kwartal 2 (Apr Juni, tahun 1966)
X = 5
(jumlah kasus SLE)
Y = 20.000 (jumlah populasi berisiko)
K = 10.000

5
5
Insidens rate kw. 1 = --------- x 10.000 = -------- x 1 = 2.5
kasus per 10.000 pend.
2
Insidens rate kasus SLE20.000
kwartal 3 (Jul Sept, tahun
1966)
X = 113
(jumlah kasus SLE)
Y = 20.000 (jumlah populasi berisiko)
K = 10.000

113
113
Insidens rate kw. 1 = ----------- x 10.000 = -------- x 1
kasus per 10.000 pend.
20.000
2

= 56.5

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi ) (1)
Jawaban

Perhitungan Insidens rate per kwartal.


Insidens rate kasus SLE kwartal 4 (Okt Des, tahun 1966)
X = 5
(jumlah kasus SLE)
Y = 20.000 (jumlah populasi berisiko)
K = 10.000

8
8
Insidens rate kw. 1 = ---------- x 10.000 = -------- x 1 = 4.0
kasus per 10.000 pend.
20.000
2
Catatan: untuk Insidens rate:
Perhitungan insidens rate dapat dilakukan dgn mudah, yg terpenting
adalah:
a) bagaimana data yang valid dapat diperoleh dari lapangan,
b) Pemikiran yg untuk merencanakan informasi epidemiologis dapat
dilakukan serta
c) Bagaimana memberikan makna setiap hasil perhitungan yg sudah
diperoleh, termasuk apa kelebihan dan keterbatasan dari data

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi ) (1)
Jawaban

Perhitungan Distribusi Proporsi untuk pertanyaan yang


sama.
(1) Distribusi Proporsi kasus SLE kwartal 1 (Januari Maret, tahun
1966)
X = 0
(jumlah kasus SLE)
Y = 126
(jumlah kasus SLE selama tahun 1966)
K = 100
0
0
Distribusi proporsi kwartal 1 = ---------- x 100 = -------- x 1 =
(2)
Proporsi kasus SLE kwartal 2 (April Juni, tahun 1966)
0.0 Distribusi
%

126
126
X = 5
(jumlah kasus SLE)
Y = 126
(jumlah kasus SLE selama tahun 1966)
K = 100

5
500
Distribusi Proporsi kwartal 2 = --------- x 100 = -------- = 4 %
126
126

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi ) (1)
Jawaban

Perhitungan Distribusi Proporsi untuk pertanyaan yang


sama.
(3) Distribusi Proporsi kasus SLE kwartal 3 (Juli Sept, tahun 1966)

X = 113 (jumlah kasus SLE)


Y = 126
(jumlah kasus SLE selama tahun 1966)
K = 100
113
11.300
Distribusi proporsi kwartal 1 = ---------- x 100 = -------- x 1 =
(2)
Proporsi kasus SLE kwartal 4(Okt Des, tahun 1966)
89,7Distribusi
%
X = 8
(jumlah kasus SLE)126
126
Y = 126
(jumlah kasus SLE selama tahun 1966)
K = 100

8
800
Distribusi Proporsi kwartal 2 = --------- x 100 = -------- = 6.3 %
126
126

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan
Distr. proporsi
) (1)
Kesimpulan
perhitungan
Insidens rate & distribusi proporsi,
kasus SLE tahun 1966 :
Insidens rate perkwartal: Risiko sakit kasus SLE
Kwartal pertama = nol per 10.000 pop berisiko,
Kwartal kedua (IR = 2,5 % per 10.000 pop berisiko)
Kwartal ketiga (IR = 56,5 per 10.000 pop berisiko)
Kwartal ke empat (IR = 4.0 per 10.000 pop berisiko).

Dengan ada dukungan data atau informasi lainnya, hal ini mungkin
bisa dikaitkan dengan factor risiko terkait lainnya,
misalnya dengan pola musiman, pola curah hujan, kepadatan
populasi jenis nyamuk tertentu, mungkin pula adanya perubahan
mobilitas populasi tertentu, dll.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) perhitungan dan makna Insidens rate
BAGIAN
2 ( Perbedaaan
dan Distr. proporsi ) (1)
Kesimpulan perhitungan Insidens rate & distribusi proporsi,
kasus SLE tahun 1966 :
Distibusi Proporsi : dari 126 kasus SLE yang terjadi pada periode
tahun 1966, berdasarkan pola triwulanan
Kwartal pertama = 0,0 %,
Kwartal ke 2 = 4.0 %
Kwartal ke 3 = 89,7 %,
Kwartal ke 4 = 6,3 %.

Keterbatasan kita tidak terkait dengan risiko dari populasi yang


sehat untuk jatuh sakit.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Diketahui

Pada penyelidikan lebih lanjut 126 kasus SLE diatas,


diketahui bahwa 67 kasus adalah laki-laki dan sisanya
( 59 kasus) adalah wanita. Jumlah populasi laki-laki di
daerah tersebut adalah 9200 orang.
(Dalam informasi sebelumnya bahwa jumlah populasi
secara keseluruhan adalah 20.000 orang).

Pertanyaan :
a. Hitung sex spesifik Insidens rate SLE yang terjadi di
populasi tsb per 10.000 populasi.
b. Hitung ratio kasus laki laki dan wanita, juga rate
ratio kasus laki laki dan wanita menurut musim.
c. Hitung pula distribusi proporsi kasus menurut jenis
kelaminnya.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Perhitungan:

Perhitungan Sex Spesifik Insidens rate.

Sex spesifik Insidens rate kasus SLE pada laki - laki


X =
67
(jumlah kasus SLE pada laki - laki)
Y =
9.200 (jumlah populasi berisiko laki - laki)
K = 10.000 (konstanta yang digunakan)
67
670
Sex spesifik Insidens rate (laki2) = ---------- x 10.000 =
-------9.200
92
= 72,8 kasus SLE per 10.000 populasi laki-laki

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Perhitungan:

Perhitungan Sex Spesifik Insidens rate.

Sex spesifik Insidens rate kasus SLE pada wanita


X = 126 - 67 = 59 (jumlah kasus SLE pd wanita)
Y = 20.000 - 9.200 = 10.800 (jml pop. berisiko
wanita)
K = 10.000 (konstanta yang digunakan)
59
5.900
Sex spesifik Insidens rate (laki laki ) = ---------- x
10.000 = -------10.800
108
= 54,6 kasus SLE per 10.000 populasi wanita

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Catatan:
Insidens rate secara keseluruhan = 63 kasus SLE per 10.000
pop berisiko.
Sex spesifik Insidens rate laki-laki = 72,8 per 10.000 pop
berisiko populasi laki laki.
Sex spesifik Insidens rate wanita
berisiko populasi wanita.

= 54,6 per 10.000 pop

Jadi disini kelihatan bahwa untuk sex spesifik Ins rate


keseluruhan tidak dapat dijumlahkan.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Perhitungan Ratio (angka mutlak).

Ratio kasus SLE pada laki laki dibandingkan dengan wanita


X =
67
(jumlah kasus SLE pada laki - laki)
Y =
59
(jumlah populasi berisiko laki - laki)
K =
1 (konstanta yang digunakan)

67
Ratio (laki laki dibandingkan wanita) = ------------- x 1 = 67 : 59
59
Catatan: Ratio laki-laki : wanita = 67 : 59. Namun cara penulisan ini
sulit diartikan.
Cara mudahnya, dgn membagi masing2 dgn 67 or 59
Pembagian 59
67
59
----- : ------ =
1,14 banding 1
59
59
Artinya :untuk kasus SLE dari 1,14 kasus pria yg dilaporkan
terdapat 1 kasus wanita.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Perhitungan Ratio (dgn rate ratio).

Perhitungan Rate Ratio kasus SLE pada laki laki dibandingkan


dengan wanita
X =
72,8 per 10.000
(sex spesifik rate pada laki - laki)
Y =
54,6 per 10.000
(sex spesifik rate pada wanita)

Ratio rate laki-laki : rate wanita = 72,8 : 54,6

= 1,33 banding 1.

Interpretasi ini adalah risiko populasi laki-laki untuk jatuh sakit 1,33
kali lebih tinggi dari pada risiko populasi wanita untuk tertular
penyakit SLE.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 3 ( Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio )

Distribusi proporsi kasus SLE berdasarkan Sex

Laki - laki X =
67
(kasus SLE pada laki - laki)
Y = 126 ( total kasus SLE)
K =
100
67
Distribusi proporsi ---------- x 100 = 53,2 %
126
Wanita
Y = 126
K =
100

X =
59
(kasus SLE pada laki - laki)
( total kasus SLE)

59
Distribusi proporsi ---------- x 100 = 46,8 %
126

Distribusi proporsi kasus SLE untuk semua kasus harus


100.0 % ( 53,2 % + 46,8 %)

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 4 ( Perhitungan insidens rate dan distibusi proporsi


menurut variable epidemiologi tertentu.)

Diketahui : Masih dalam kasus penyakit St Loius


Encephatlitis, dari informasi lain diperoleh informasi
lebih rinci tentang distibusi kelompok umur dari 126
kasu SLE tersebut. Dalam kelompok distribusi umur
juga diperoleh data kependudukan terhadap 20.00
kasus populasi berisiko. Tabel berikut adalah data
yang diperoleh:

Pertanyaan :
(1) Hitung Insidens rate menurut
golongan umur per 1.00 populasi berisiko sesuai
table diatas.
(2) Hitung juga distribusi proporsi kasus menurut
golongan umurnya.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 4 ( Perhitungan insidens rate dan distibusi proporsi


menurut variable epidemiologi tertentu.)

Tabel kasus menurut kel umur & jml penduduk:


GOLONGAN
UMUR
0 - 9 tahun
10
19
tahun
20
29
tahun
30
39
tahun
> 40tahun
Total

JUMLAH
KASUS
17
18
9
11
71

126

JUMLAH
PENDUDUK
3.400
4.200
2.800
2.600
7.000

20.000

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 4 ( Perhitungan insidens rate dan distibusi proporsi


menurut variable epidemiologi tertentu.)

Jawaban :

Dalam perhitung Insidens rate menurut golongan umur, X


adalah jumlah kasus sakit golongan umur tertentu dan Y
jumlah penduduk yang berisiko golongan umur tersebut

Insidens menurut Golongan umur

a. Insidens menurut golongan umur 0 - 9 tahun X = 17


Y = 3.400
K = 1.000
X
17
Insidens rate = ----- x K = ----------- x 1.000 = 0.0050 x
1.000
Y
3.400

= 5.0 kasus per 1.000 penduduk 0 - 9 tahun

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 4 ( Perhitungan insidens rate dan distibusi proporsi


menurut variable epidemiologi tertentu.)
b. Insidens menurut golongan umur 10 19 tahun X =
18
Y = 4.200
K = 1.000
X
18
Insidens rate = ----- x K = -------------- x 1.000 = 0.0043 x
1.000
Y
4.200
c. Insidens menurut golongan umur 20 29 tahun X = 9
= 4.3 kasus per 1.000 penduduk 10 - 19 tahun
Y = 2.800
K = 1.000
X
9
Insidens rate = ----- x K = -------------- x 1.000 = 0.0032 x
1.000
Y
2.800
= 3,2 kasus per 1.000 penduduk 20 - 29 tahun

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 4 ( Perhitungan insidens rate dan distibusi proporsi


menurut variable epidemiologi tertentu.)
d. Insidens menurut golongan umur 30 39 tahun X =
11
Y = 2.600
K = 1.000
X
11
Insidens rate = ----- x K = -------------- x 1.000 = 0.0042 x
1.000
Y
2.600
e.
> 40

X = 71
= Insidens
4.2 kasus menurut
per 1.000 golongan
penduduk umur
30 - 39
tahun
Y = 7.000
K = 1.000
X
71
Insidens rate = ----- x K = -------------- x 1.000 = 0.0101 x
1.000
Y
7.000
= 10,1 kasus per 1.000 penduduk > 40 tahun

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) insidens rate dan distibusi proporsi
BAGIAN
4 ( Perhitungan
menurut variable epidemiologi tertentu.)
2. Distribusi Proporsi

a. Distribusi Proporsi gol. umur 0 - 9 tahun X =

17 kasus, Y = 126 kasus

dan K = 100

Presentasi Distrib Proporsi = 17 / 126 x 100 = 13,5 %

b. Distribusi Proporsi gol. umur 10 - 19 tahun X =

18 kasus, Y = 126

kasus dan K = 100

Presentasi Distrib Proporsi = 18 / 126 x 100 = 14,3 %

c. Distribusi Proporsi gol. umur 20 - 29 tahun X = 9 kasus, Y = 126


kasus dan K = 100

Presentasi Distrib Proporsi = 9 / 126 x 100 = 7,1 %

d. Distribusi Proporsi gol. umur 30 - 39 tahun X = 11 kasus, Y =


126 kasus dan K = 100

Presentasi Distrib Proporsi = 11 / 126 x 100 = 8,7 %


d. Distribusi Proporsi gol. umur > 40tahun X = 71 kasus, Y = 126
kasus dan K = 100

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari bagian 1 s/d 5)

BAGIAN 5 ( Perhitungan Mortality rate berdasarkan kelompok


umur ).

Diketahui : Dari 126 kasus diketahui ada 4 kematian


dgn rincian;
1 kasus meninggal berumur kurang 1 tahun, 3 kasus
lainnya yg meninggal berumur lebih dari 40 tahun.
Sedangkan kematian menurut jenis kelamin; 2 kasus
adalah laki laki, dan 2 kasus lainnya adalah wanita.

Pertanyaan:
a)Hitung mortality rate per 100.000 penduduk:
b)Mortality rate seluruh penduduk.
c)Mortality rate menurut kelompok umur untuk kelompok
yang terserang saja.
d)Mortality rate menurut jenis kelamin

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) Mortality rate berdasarkan kelompok
BAGIAN
5 ( Perhitungan
umur ).

Penyelesaian

1. Mortality rate seluruh penduduk


Y = 20.000 jumlah populasi
K = 100.000

X =

4 kasus meninggal

X
4
400.000
Insidens rate = --------- x K = -------------- x 100.000 = ------------Y
20.000
20.000

= 20 kasus kematian per 100.000 penduduk


2. Mortality rate menurut kelompok umur
a. Kelompok 0 9 tahun X = 1 kasus meninggal
Y = 3.400 jml populasi kel. umur 0 9 tahun
K = 100.000

X
1
100.000
Insidens rate = --------- x K = -------------- x 100.000 = ------------Y
3,400
3.400

= 29,4 kasus kematian per 100.000 penduduk kelompok umur 0 - 9

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) Mortality rate berdasarkan kelompok
BAGIAN
5 ( Perhitungan
umur ).

2. Mortality rate menurut kelompok umur


b. Kelompok > 40 tahun
X = 3 kasus meninggal
Y = 7000 jml populasi kel. umur 0 9 tahun
K = 100.000

X
3
300.000
Insidens rate = --------- x K = -------------- x 100.000 = ------------Y
7000
7000

= 42,9 kasus kematian per 100.000 penduduk kelompok umur > 40 tahun
3. Mortality rate menurut kelompok jenis kelamin
a. Kelompok jenis kelamin laki laki X =
Y = 9.200 jml pop. Kel. jenkel laki-laki
K = 100.000

2 kasus meninggal

X
2
200.000
Insidens rate = --------- x K = -------------- x 100.000 = ------------Y
9,200 9.200

= 21,7 kasus kematian per 100.000 penduduk kelompok jenis kelamin laki
laki.

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri


dari
bagian
1 s/d 5) Mortality rate berdasarkan kelompok
BAGIAN
5 ( Perhitungan
umur ).
3. Mortality rate menurut kelompok jenis kelamin
b. Kelompok jenis kelamin wanita X =
Y = 10.000 jml pop. Kel. Jenkel wanita
K = 100.000

2 kasus meninggal

X
2
200.000
Insidens rate = --------- x K = -------------- x 100.000 = ------------Y
10,000
10.000

= 18,5 kasus kematian per 100.000 penduduk kelompok jenis kelamin


wanita.

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 1. (perhitungan Attack Rate pd KLB keracunan)


Diketahui:

Pada tanggal 4 Juli, ada 4 orang mendapatkan perawatan darurat di


Suburban Community Hospital dengan diagnose keracunan
Stapyllococcus.
Selanjutnya dilakukan investigasi kerumah saskit lain dan lapangan
tempat kejadian. Ditemukan 39 kasus tambahan dengan gejala
definisi operasional yang sesuai dengan keracunan Stappyllococcus.
Ke 39 kasus lainnya tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.
Informasi yang ditemukan dari hasil wawancara di lapangan
menyatakan bahwa semua kasus yang sakit dan terdapat lagi 42
orang yang tidak sakit telah menghadiri acara piknik bersama yang
dilaksanakan tangga 4 juli tersebut.

Pertanyaan :
Berapa attack rate keracunan Stapyllococcus pada kelompok yang
mengikuti piknik tersebut ?

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 1. (perhitungan Attack Rate pd KLB keracunan)


Jawaban :

X = 17 + 39 = 56
( jml semua orang yang sakit )
Y = 17 + 39 + 42 = 98 ( jml semua orang yg terpapar &
berisiko sakit )
K = 100 ( konstanta )
X
56
Attack rate : ---------- x K =
----------- x 100 = 0,5714 x 100
=
Y
98
57, 1 kasus per 100 = 57, 1 %
Catatan : karena K ditetapkan 100 ( khusus untuk perhitungan
attack rate) satuannya %

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 2 ( perhitungan Sex spesifik Attack rate pd KLB


Keracunan)
Diketahui : Tercatat 14 kasus yang sakit dan 37 orang dari
kelompok yang sehat adalah wanita.

Pertanyaan : 1. Hitung sex Spesifik Attack rate


2. Hitung pula Rate Ratio laki laki diandingkan wanita.
Jawaban : Sex Spesifik Attack rate

Sex spesifik attack rate wanita


X = 14
( jumlah wanita yang sakit )
Y = 14 + 37 = 51 ( jml keseluruhan wanita yang terpapar)
K = 100 ( konstanta )
X
14
Attack rate : ---------- x K =
--------- x 100 = 0,2745 x 100
= 27, 5 %
Y
51
27,5 wanita sakit dari setiap 100 populasi wanita.

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)
BiasaAttack rate pd KLB
BAGIAN 2 ( perhitungan Luar
Sex spesifik
Keracunan)
Jawaban : Sex Spesifik Attack rate

Sex spesifik attack rate laki-laki


X = 56 - 14 = 42 jml laki laki yang sakit )
Y = 98 - ( 14 + 37) = 47 ( jml keseluruhan laki laki yg terpapar)
K = 100 ( konstanta )
X
42
Attack rate : --------- x K =
----------- x 100 = 0,8936 x 100 = 89,4
%
Y
47
89,4 laki laki sakit dari setiap 100 populasi laki laki yg terpapar.

Ratio dari Attack rate X = attack rate laki laki =


Y = attack rate wanita = 27,5 %
K = konstanta 1

89,4 %

Ratio attack rate laki laki banding wanita = 89,4 : 27,5 =


89,4/ 25,5 banding 27,5/27,5 3,3 : 1
Artinya
Attack rate laki laki adalah 3,3 kali lebih besar
dibandingkan attack rate pd wanita. Dengan kata lain

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 3 (Perhitungan Attack rate kelompok Umur pd KLB


Keracunan)
Diketahui :
Distribusi golongan umur dari kasus yang sakit dan sehat seperti
terlihat pada table berikut :
GOLONGAN
UMUR

JUMLAH SAKIT

JUMLAH
SEHAT

0 - 9 tahun
0
13
10
19
2
14
tahun
17
10
20
29
24
4
tahun
13
1
30
39
tahun
Pertanyaan :
> 40tahun
Hitung attack rate menurut kelompok umur untuk setiap
otal
56
42
golonganT umur.

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 3 (Perhitungan Attack rate kelompok Umur pd KLB


Keracunan)
Pada perhitungan attack rate menurut golongan umur, X adalah jumlah
orang yang sakit pada golongan tertentu, sedangkan harga Y adalah
jumlah total penduduk pada kelompok umur yang sama.

1. Kelompok umur 0 9 tahun.


tahun X = 0
Y = 0 + 13 = 13
K = 100
X
0
Attack rate kelompok umur 0 9 thn = -------- x 100 = ------- x 100 =
0,0 %
Y
13
2. Kelompok umur 10 19 tahun.
tahun X = 2
Y = 2 + 14 = 16
K = 100
X
2
Attack rate kelompok umur 10 19 tahun = -------- x 100 = ------- x 100
= 12,5 %
Y
16

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)

Luar Biasa

BAGIAN 3 (Perhitungan Attack rate kelompok Umur pd KLB


Keracunan)
3. Kelompok umur 20 29 tahun.
tahun X = 17
Y = 17 + 10 = 27
K = 100
X
Attack rate kelompok umur 20 29 tahun = -------= 63,0 %
Y
4. Kelompok umur 30 39 tahun. X = 24
Y = 24 + 4 = 28
K = 100
X
Attack rate kelompok umur 30 39 tahun = -------= 85,7 %
Y
5. Kelompok umur > 40 tahun. X = 13
Y = 13 + 1 = 14
K = 100
X
Attack rate kelompok umur 10 19 tahun = --------

17
x 100 = ------- x 100
27

24
x 100 = ------- x 100
28

13
x 100 = ------- x 100

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)
Luar Biasa
BAGIAN 4 (perhitungan attack
rate terhadap jenis risiko
makanan
dimakan)
Dari hasil yg
wawancara,
diketahui 53 dari kelompok kasus dan 3 dari
kelompok non kasus (tidak sakit) dengan jelas mengingat bahwa
mereka makan potato salad yang dipersiapkan disalah satu rumah
keluarga yang ikut serta piknik, Sedangkan orang orang lainnya
menyangkal ikut makan potato salad

Pertanyaan
Hitung food spesifik attack rate untuk mereka yang makan potato
salad
Jawaban
Hitung attack rate diantara mereka yang mengatakan tidak ikut
1.
Attack
rate orang
makan
potato
salad. yang makan potato salad :
X = 53 orang yg sakit sesudah makan potato salad
Y = jml total yg makan potato salad baik yg sakit maupun tidak -> 53 + 3 = 56
K = 100
X
53
Attack rate yg makan salad = ------ x 100 = ------- x 100 =
0,9664 x 100 = 94, 6 %
Y
56

CONTOH B : ( KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS


Penggunaan
Ukuran
Epidemilogi pada Kejadian
( terdiri
dari Bagian
1 s/d 4)
Luar Biasa
BAGIAN 4 (perhitungan attack
rate terhadap jenis risiko
makanan yg dimakan)
Jawaban
2. Attack rate orang yang tidak makan potato salad :
X = jml yg sakit tapi tidak makan potato salad = 56 63 = 3
orang
Y = jml orang yg tidak makan potato salad -- > 98 - 53 = 42
K = 100
X
3
Attack rate yg tidak makan salad = ------- x 100 = --------- x 100
= 7,1 %
Y
42
Attack rate yang tidak makan salad = 7,1 orang dari 100
populasi berisiko.

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


program Imunisasi
BAGIAN 1 (perhitungan Insidens rate pd PD3I)

Diketahui

Dalam seminggu sejak 28 Oktober sampai 3 Nopember, dilaporkan


12 kasus rubeola oleh Dinas Kesehatan Kota setempat.
Penyelidikan segera dilakukan dan ternyata 9 kasus dari 12 kasus
yang dilaporkan tinggal di daerah yang sama dan semuanya
berumur kurang dari 10 tahun.
Penduduk kota tersebut tercatat sebanyak 50.000 orang, sedangkan
penduduk didaerah dimana 9 kasus anak diatas tinggal adalah
5.000 orang dengan jumlah 900 orang anak tercatat berumur
kurang dari 10 tahun. Diperkirakan kekebalan terhadap anak < 10
tahun didaerah terjangkit adalah 47 % baik yang disebabkan
pemberian Imunisasi Rubeola maupun karena infeksi Rubeola
sebelumnya.
Pertanyaan
Hitung Insidens rate per 100.000 populasi untuk kelompok

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


program
Imunisasi Insidens rate pd PD3I)
BAGIAN 1 (perhitungan
Jawaban

1. Insidens rate keseluruhan penduduk X = jml kasus rubeola ->12 kasus


Y = jumlah total populasi -- > 50.000
K = 100.000
X
12
Insdidens rate total populasi = ------ x 100.000 = ----------- x
100.000 = 24.0
Y
50.000
Insidens rate total populasi = 24 kasus per 100.000 populasi.

2. Insidens rate penduduk yg masih rentan X = 9


Y = 900 ( 47 % dari 900 ) = (900 - 423) = 477
K = 100.000
X
9
Insdidens rate populasi rentan = ------ x 100.000 = ------------ x
100.000 = 1886,8
Y
477

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 2 (perhitungan
program
Imunisasi attack rate pd KLB PD3I)
Diketahui
Selama 6 minggu berikutnya dilaporkan kasus tambahan sebanyak
214 kasus Rubeola yang didiagnose Dokter, laporan sekolah dan
hasil pelacakan kasus. Distribusi golongan umur kasus tersebut
adalah sebagai berikut :
POPULASI
Keseluruha
Yang
GOLONGAN
JUMLAH
n
rentan
UMUR
KASUS
0 - 4 tahun
169
4.200
2.310
5
9
47
5.150
1.700
tahun
7
4.800
530
10
14
1
35.850
1.790
tahun
Pertanyaan :
15tahun
Gunakan>table
diatas dan hitung attack rate per 1.000 kelompok
T ountuk
t a l setiap golongan
226 umur dan
50.000
6.330 semua
rentan
attack rate untuk
golongan rentan.

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 2 (perhitungan
program
Imunisasi attack rate pd KLB PD3I)
Jawaban

1. Golongan umur 0 - 4 tahun X = 169


Y = 2.310
K = 1.000

X
169
Attack rate = ------ x 1.000 = --------- x 1.000 = 73,2 kasus
per 1.000 pop. rentan
Y
2.310
2. Golongan umur 5 - 9 tahun X = 49
Y = 1.700
K = 1.000
X
49
Attack rate = ------- x 1.000 = ----------- x 1.000 = 28,8 kasus
per 1.000 pop. rentan
Y
1.700

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 2 (perhitungan
program
Imunisasi attack rate pd KLB PD3I)
Jawaban

3. Golongan umur 10 - 14 tahun X = 7


Y = 530
K = 1.000
X
7
Attack rate = ------- x 1.000 = -------- x 1.000
per 1.000 pop. rentan
Y
530

= 13,2 kasus

4. Golongan umur > 15 tahun X =


Y = 1.790
K = 1.000

X
1
Attack rate = ------ x 1.000 = --------- x 1.000
per 1.000 pop. rentan
Y
1.790

= 0.56 kasus

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 2 (perhitungan
program
Imunisasi attack rate pd KLB PD3I)
Jawaban

5. Golongan semua gol. umur X = 226


Y = 6.330
K = 1.000

X
226
Attack rate = -------- x 1.000 = ---------- x 1.000
1.000 pop. rentan
Y
6.330

= 35.7 kasus per

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 3 (Perhitungan
program
Imunisasi Sex spesifik Attack Rate pd KLB PD3I)
Diketahui
Dari kasus rubeola tadi ada 109 kasus laki laki dan
dari 23.300 keseluruhan jumlah laki laki tercatat 3.150
adalah kelompok laki - laki yang rentan.

Pertanyaan
Hitung sex spesifik attack rate per 1.000 populasi rentan.
Hitung Ratio dari attack rate kelompok rentan laki - laki
dibandingkan dengan attack rate kelompok rentan
wanita.

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 3 (Perhitungan
program
Imunisasi Sex spesifik Attack Rate pd KLB PD3I)
Jawaban 1. Sex spesfik attack rate
a. Laki - laki X = 109
Y = 3.150
K = 1.000
X
209
Attacak rate = -------- x 1.000 = -------- x 1.000 = 34.6 kasus
per 1.000 pop rentan
Y
3.150
b. Wanita X = 226 109 = 117
Y = 6.330 - 3.150 = 3.180
K = 1.000
X
117
Attacak rate = ------- x 1.000 = --------- x 1.000 = 36.8 kasus
per 1.000 pop rentan
Y
3.180

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


BAGIAN 3 (Perhitungan
program
Imunisasi Sex spesifik Attack Rate pd KLB PD3I)
Ratio dari attack rate ( laki laki : wanita ) pada kelompok populasi
rentan.
X = laki laki = 34,6 per 10.000
Y = wanita
= 36,8 per 10.000
34,6
36,8
Ratio = X : Y = 34,6 : 36:8 = -------- : --------- = 1 : 1,06
36,8
36,8

Catatan
Interpretasi dari ratio adalah risiko antara laki laki dan wanita
hampir tidak berbeda untuk sakit.

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


program
Imunisasi efikasi vaksin pd KLB PD3I)
BAGIAN 4 (Perhitungan
Diketahui
Selama kejadian KLB Rubeola, dipertanyakan efektiftas vaksin
dalam mencegah mencegah penularan kasus, sebab terbukti dari
wawancara banyak kasus telah mendapat immunisasi sebelumnya.
Dari evaluasi kasus penderita diketahui 14 kasus dibawah 10 tahun
telah mendapat kan imunisasi sebelumnnya. Dari kelompok yang
kebal tercatat, 74 % ada riwayat pernah sakit sebelumnya, tapi
sudah divaksinasi.

Pertanyaan
Hitung efikasi vaksin pd anak yang umurnya kurang dari 10 tahun.
( Untuk menyelesaikan pertanyaan ini saudara diminta untuk
melihat kembali table pada Bagian 2.
u - v
Rumus untuk effikasi vaksin adalah :
----------- x 100
u
u = attack rate anak yang tidak divaksinasi
v = attack rate anak yang divaksinasi

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


program
Imunisasi efikasi vaksin pd KLB PD3I)
BAGIAN 4 (Perhitungan
Perhitungan U

X = jml kasus yg tidak divaksinasi = (169 + 49 ) 4 = 218 13 = 204


y = jml orang yg tidak divaksinasi = 2.310 + 1.700 = 4.010
K = 1.000
X
204
Attack Rate = -------- x k = ---------- x 1.000 = 204 x 0,2494 = 50,9
Y
4.010
= 50,9 kasus per 1.000 kelompok rentan yang tidak divaksinasi

Perhitungan V
X = jml kasus yg telah divaksinasi = 14
y = jml pend. yg telah divaksinasi = 74 %
dari (4.200 2.310) + (5.150 - 1.700) = 0,74 x 5.340 = 3.952
K = 1.000
X
14
Attack Rate = -------- x k = ---------- x 1.000 = 14 x 0,2530 = 3,5
Y
3.952
= 3,5 kasus per 1.000 penduduk yang divaksinasi

CONTOH C : KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)

Penggunaan ukuran Epidemiologi berkaitan dgn


program
Imunisasi efikasi vaksin pd KLB PD3I)
BAGIAN 4 (Perhitungan
Perhitungan vaksin effikasi pada populasi < 10 tahun

u+v
50,9 3,5
47,4
Effikasi = -------- x 100 = ------------------ x 100 = ------------- x 100
= 93,1 %
u
50,9
50,9

Effikasi vaksin = 93,1 %

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 1(perhitungan Attack rate Infeksi Nosokomial)

Diketahui
Selama 34 bulan terakhir diketahui ada 158 penderita masuk
dibagian trauma luka bakar sebuah rumah sakit dimana 52 orang
dari penderita tersebut selanjutnya mengalami infeksi
Stapyllococcus Aureus pada luka bakar atau pada tempat
pencangkokan kulitnya (skin graft).

Pertanyaan
Hitung Attack Rate infeksi luka akibat Stapyllococcus Aureus pada
luka bakar atau pada tempat pencangkokan kulitnya (skin graft)
tersebut.

Jawaban
X = 52 kasus
Y = 158 penderita yg dirawat dengan luka bakar (population at
risk)
K = 100
X
52
Attack rate = ----- x 100 = ------- x 100 = 32,9 kasus per 100

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit

BAGIAN 2 (perhitungan Ratio dari rate infeksi Nosokomial)


Diketahui
Sebagai perbandingan, bahwa 34 bulan sebelum periode ini, pada
unit yang sama tercatat attack rate kasus luka infeksi dengan
Stapyllococcus Aureus adalah 6,1 per 100.000 pada penderita yang
dirawat.

Pertanyaan
Hitung Ratio attack rate dari kedua periode waktu yang berbeda
tersebut dan beri kesimpulan hasilnya.

Jawaban

Ratio = (attack rate periode ini ) : attack rate sebelumnya =


32,9 : 6,1 = 5,4 : 1.

Kesimpulan : Risiko terjadinya sekunder infeksi atau kontaminasi


luka dengan Stapyllococcus Aureus pada penderita yang dirawat
adalah 5,4 kali lebih tinggi risiko yang terjadi dibandingkan dengan
periode sebelumnya.

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 3 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
menurut jenis luka)
Diketahui
49 dari 52 kasus yang tercemar infeksi Stapyllococcus Aureus dan
129 dari 158 kasus yang dirawat adalah disebabkan luka bakar.
Sedangkan kasus lainnya adalah akibat trauma lainnya.

Pertanyaan a. Hitung Attack rate penderita yang masuk dengan


luka bakar.
b. Hitung Attack rate penderita yang masuk bukan dengan luka
bakar.
c,. Hitung dan simpulkan ratio antara kedua Attack rate penderita
tadi.

Jawaban

1. Attack rata pd pend. luka bakar dengan infeksi Stapyllococcus


Aureus
X = 49, y = 129, dan k = 100
X
49
Attack rate = ------- x 100 = ------- x 100 = 38,0 kasus per

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 3 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
menurut jenis luka)
2. Attack rata pada pend. yg bukan luka bakar dgn infeksi
Stapyllococcus Aureus
X = 52 49 = 3, y = 158 129 = 29, dan k = 100
X
3
Attack rate = ------ x 100 = ------- x 100 = 10,3 kasus per 100
pend. bukan luka
Y
29
bakar.

Ratio dari masing masing Attack rata penderita diatas adalah : 38.0
: 10,3 = 3,7 : 1

Kesimpulan :
Risiko terjadinya sekunder infeksi atau kontaminasi luka dengan
Stapyllococcus Aureus pada penderita dengan luka bakar yang
dirawat adalah 3,7 kali lebih tinggi risikonya bila dibandingkan yang
bukan akibat luka bakar.

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 4 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
menurut luasnya luka bakar)

Diketahui
81 kasus yg dirawat diunit tersebut merupakan kasus kasus luka bakar, dan
16 kasus diantaranya adalah luka bakar yg mengenai tubuh mereka kurang
dari 20 %.
Sedangkan kasus lainnya (dari 81 kasus yang dirawat tersebut) luka bakar
dengan klasifikasi sama atau lebih dari 20 %.

Pertanyaan

Hitung rate yang berkaitan dengan infeksi Stapyllococcus Aureus dan


persentase luka bakar kasus tersebut.
Bandingkan kedua perhitungan rate yang berkaitan dengan besar kecilnya
persentase luka bakar tersebut dan simpulkan kaitan perhitungan Rationya.

Jawaban

1. Attack rate berdasarkan persentase luka bakar:


a. Attack Rate luka bakar kurang dari 20 % ( x = 16, y = 81 dan k =
100 )
X
16
Attack rate dgn luka bakar < 20 % = ------ x k = ------------ x 100 =
19,8 %

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 4 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
menurut luasnya luka bakar)

b. Attack Rate luka bakar sama atau lebih dari 20 %


( x = 49 16 = 33, y = 129 - 81 = 48 dan k = 100)
X
33
Attack rate dgn luka bakar 20 % = ------ x k = ------------ x 100 =
68,8 %
Y
48

Attack rate dengan luka bakar 20 % 68,8 dari kasus lain yang
dirawat.
dirawat

2. Ratio berdasarkan attack Rate luka bakar.

Ratio Attack rate dari kedua kelompok tersebut : 68,8 : 18, 8 = 3,5 : 1

Artinya : Bahwa penderita yg mempunyai luka bakar 20 % adalah 3,5


kali berisiko terjadinya infeksi dgn Stapyllococcus Aureus bila
dibandingkan dengan yang hanya < 20 %.

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 5 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
bedasarkan lama rawat)
Diketahui
Risiko diantara penderita luka bakar terhadap kemungkinan Infeksi
kuman Stapyllococcus Aureus berdasarkan lamanya perawatan
di rumah sakit ( berkaitan dengan lamanya risiko paparan). Hasil
review data rumah sakit memberikan informasi sebagai berikut:
Lama dirawat
(hari

14 hari
15tahun
Total

Jumlah
penderita

82
47
129

Jumlah
orang hari
terpapar
676
1.457
2.133

Jumlah orang
yang
terinfeksi
Stappyllococc
us Aureus
11
38
49

Pertanyaan
Hitung infection rate per 100 orang - hari paparan ( per 100 pend.
- hari ), untuk :
Semua kasus tanpa melihat lama perawatan.
Masing masing kelompok berdasarkan lama perawatan

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 5 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
bedasarkan
lama rawat)
Jawaban
Jumlah semua kasus
x 100
1. Infection rate semua kasus : ------------------------------- x 100 =
--------------------------- = 2,3
Jumlah populasi berisiko
pasien - hari

49 kasus

2133

Infection rate untuk semua kasus = 2,3 infeksi per 100 pasien hari
terpapar.

2. Infection rate berdasarkan lama perawatan:

a. Infection rate sama atau kurang 2 minggu

11
1100
Infection rate 2 minggu = ------ x 100 = ------------ = 1,6 infeksi per
100 pasien hari.
676
676

b. Infection rate sama atau lebih 2 minggu

CONTOH D: Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus


( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )

Penggunaan ukuran Epidemiologi di Rumah Sakit


BAGIAN 5 (perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
bedasarkan lama rawat)
Ratio infection rate 2minggu dibandingkan 2 minggu paparan = 2,6
banding 1,6 = 1,6 : 1

Artinya : Bahwa kemungkinan risiko penderita untuk mendapatpan infeksi


dengan kuman Stapyllococcus Aureus pada penderita yang dirawat
minggu adalah 1,6 kali lebih besar bila dibandingkan dengan yang hanya
2 minggu.

Terima kasih

Modul 1

LATIHAN PRAKTIS
Perhitungan
Rate, Ratio & Proporsi
2011

LATIHAN PRAKTIS

CONTOH A : PEMAKAIAN & PERHITUNGAN RATE RATIO


DAN PROPORSI

Tentang kasus St Louis Encephalitis (SLE) (terdiri dari bagian 1 s/d

5)

BAGIAN 1 Perhitungan Insidens rate dalam perbedaaan nilai Konstanta (K)


BAGIAN 2 Perbedaaan perhitungan dan makna Insidens rate dan Distribusi
proporsi
BAGIAN 3 Perhitungan Sex spesifik Insidens rate dan Ratio
BAGIAN 4 Perhitungan insidens rate &proporsi menurut variable
epidemiologi.
BAGIAN 5 Perhitungan Mortality rate berdasarkan kelompok umur

CONTOH B : PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI PADA KEJADIAN LUAR


BIASA (KLB)

KASUS KERACUNAN STAPHYLLOCOCCUS ( terdiri dari Bagian 1 s/d 4)


BAGIAN 1. Perhitungan Attack Rate pd KLB keracunan)
BAGIAN 2. Perhitungan Sex spesifik Attack rate pd KLB Keracunan)
BAGIAN 3. Perhitungan Attack rate kelompok Umur pd KLB Keracunan)
BAGIAN 4. Perhitungan attack rate terhadap jenis risiko makanan yg
dimakan)

LATIHAN PRAKTIS

CONTOH A : PEMAKAIAN & PERHITUNGAN RATE RATIO


DAN PROPORSI

CONTOH C : PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI DALAM PROGRAM


IMUNISASI
KASUS RUBEOLA ( terdiri dari bagian 1 s/d 4)
BAGIAN 1. Perhitungan Insidens rate pd PD3I
BAGIAN 2. Perhitungan attack rate pd KLB PD3I
BAGIAN 3. Perhitungan Sex spesifik Attack Rate pd KLB PD3I
BAGIAN 4. Perhitungan efikasi vaksin pd KLB PD3I

CONTOH D: PENGGUNAAN UKURAN EPIDEMIOLOGI DI RUMAH SAKIT


Infeksi nosokomial Stapyllococcus Aureus ( terdiri dari Bagian 1 s/d 5 )
BAGIAN 1 Perhitungan Attack rate infeksi Nosokomial
BAGIAN 2 Perhitungan ratio dari rate Infeksi Nosokomial
BAGIAN 3 Perhitunngan Attack rate berdasarkan jenis luka/ ruda paksa
BAGIAN 4 Perhitungan attack rate infeksi nosokomial perdasarkan
persen luka bakar
BAGIAN 5 Perhitungan infection rate berdasarkan lama perawatan

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
Setelah saudara mengenal dengan baik definisi dan rumus lima
ukuran ukuran statistic Epidemiologi yang sehari hari sering kita
gunakan, diharapkan saudara bisa meluangkan waktu untuk lebih
mendalami dengan mengerjakan materi latihan dibawah ini. Setelah
saudara menyelesaikan materi latihan tersebut, bandingkan
jawaban saudara dengan daftar yang tercantum pada halaman
selanjutnya (halaman 40 45).

Bila sudara mengalami hambatan atau kesulitan dalam


mengerjakan materi latihan, lihat kembali bab diskusi dan contoh
contoh yang sudah diberikan.
Akan lebih baik lagi bila saudara dapat berlatih dengan
LATIHAN
A : langsung
RATE DAN
DISTRIBUSI
menggunakan
data data
yang
saudara sudah miliki
BAGIAN
1 PROPORSI
sebelumnya,
yang bersumber dari unit kerja saudara sendiri.

Diketahui
Selama tahun 1972, tercatat 22 kasus Tularemia terjadi disuatu
daerah, dengan jumlah populasi sebesar 7.000 orang.

Pertanyaan
Htung insidens rate Tularemia per 100.000 populasi didaerah

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN A : RATE DAN DISTRIBUSI
PROPORSI
BAGIAN 2

Diketahui
Distribusi kasus Tularemia selama tahun kalender tersebut adalah:
Kwartal pertama 7 kasus, kwartal kedua 2 kasus, kwartal ketiga 5
kasus dan kwarta keempat 15 kasus.

Pertanyaan
Hitung insidens rate kasus Tularemia per 10.000 penduduk disetiap
kwartalnya.
Hitung pula distribusi proporsi kasus disetiap kasus terjadi.

BAGIAN 3

Diketahui
19 kasus Tularemia tercatat adalah laki-laki dengan populasi laki-laki
3.100 orang.

Pertanyaan
Hitung Sex spesifik Insidens rate kasus Tularemia per 100.000

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN A : RATE DAN DISTRIBUSI
PROPORSI
BAGIAN 4

Diketahui
Distribusi kasus Tularemia: 7 kasus pada kelompok umur 15 19
tahun, 17 kasus adalah kelompok umur 20 29 tahun, dan
kelompok kasus lainnya pada kelompok 30 39 tahun.
Distribusi populasi berdasarkan kelompok umur : 256 orang adalah
kelompok umur 15 19 tahun, 791 orang adalah kelompok umur 20
29 tahun, dan 1.202 orang adalah populasi pada kelompok 30 39
tahun.

Pertanyaan
Hitung Age spesifik attack rate kasus Tularemia per 1000 populasi
untuk setiap ketiga kelompok umur diatas.
Hitung pula distribusi proporsi kasus menurut kelompok umur.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN B : INSIDENS RATE DAN ATTACK
RATE
BAGIAN 1

Hitung insidens rate per 100.000 populasi berdasarkan informasi


berikut:
411 kasus baru Viral Hepatitis selama tahun 1972 di suatu kota
dengan jumlah penduduk 975.000 jiwa.
112 kasus Shigellosis pada periode tahun 1970 disuatu kota dengan
jumlah penduduk 2.1 juta jiwa.
29 kasus baru Sifilis primer dan sekunder dalam periode empat
minggu disuatu kota dengan jumlah penduduk 17.000 jiwa.
70.000 kasus Campak yang dilaporkan selama periode tahun 1971
disuatu kota dengan jumlah penduduk 200.000 jiwa.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN B : INSIDENS RATE DAN ATTACK
RATE
BAGIAN 2

Hitung Attack rate per 100 penduduk untuk suatu kejadian luar
biasa ( KLB ) Salmonellosis yang bertype common source yang
berlangsung selama dua hari, berdasarkan informasi berikut:
37 kasus baru Salmonellosis pada suatu kelompok populasi 96
orang yang ikut piknik bersama.
16 kasus salmonellosis tersebut adalah laki-laki dengan jumlah
populasi laki-laki yang ikut piknik sebanyak 43 orang.
21 kasus salmonellosis tersebut adalah wanita dengan jumlah
populasi wanita yang ikut piknik sebanyak 53 orang.
Ada 31 kasus berumur lebih dari 60 tahun dari 59 orang pada
kelompok umur yang sama.
6 kasus salmonellosis tersebut tergolong pada kelompok umur 30
39 tahun dengan jumlah populasi pada kelompok umur yang sama
sebanyak 34 orang.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN C : MORTALITY RATE

BAGIAN 1

Diketahui
Selama tahun 1971, tercatat disuatu kota sebanyak 171
kasus kematian yang disebabkan Influenza yang
berjumlah penduduk 450.000 jiwa.
Distribusi kematian tersebut adalah: Kwartal pertama 54
kematian, kwartal kedua 43 kematian, kwartal ketiga 35
kematian dan kwartat keempat 39 kematian.

Pertanyaan
Hitung Mortality rate kasus Influenza tersebut
berdasarkan periode tahunan dan kwartalan per 100.000
populasi.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN C : MORTALITY RATE
BAGIAN 2

Diketahui

Distribusi 171 kematian tersebut menurut kelompok umur serta


distribusi populasi adalahseperti pada table berikut:
GOLONGAN UMUR
> 1
tahun
1 - 19 tahun
20 - 39 tahun
40 - 59 tahun
> 60 tahun
Total

JUMLAH
KEMATIAN
6
8
21
35
101
171

POPULASI
9.450
160.650
118.800
96.750
64.350
450.000

Pertanyaan
Hitung Mortality rate kasus Influenza tersebut per 100.000
populasi untuk setiap kelompok umur.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN D : RATIO
BAGIAN 1

1. Hitung Ratio berdasarkan informasi dibawah ini dengan

menggunakan methoda yang benar sesuia dengan yg telah


dipelajari (Ingat jumlah terkecil ratio adalah 1 )

Ratio kematian dibandingkan dengan kasus:


37 kasus Yellow Fever, 17 kasus diantaranya meninggal.
114 kasus Brusellosis, 1 kasus diantaranya meninggal.
19 kasus Cholera, 2 diantaranya meninggal.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
LATIHAN D : RATIO
BAGIAN 1
2. Hitung Ratio laki-laki dibandingkan dengan wanita:

Kasus Sifilis: 49 kasus laki-laki, 43 kasus wanita.


Kasus Gonorhoe: 126 kasus wanita, 201 kasus laki-laki.
Kasus Hepatitis B: 14 kasus wanita, 29 kasus laki-laki.

3. Hitung Ratio golongan umur denganmenggunakan perhitungan


age spesifik Insidens rateper 10.000 populasi.

a) Kasus Hepatis:
10 14 tahun = 14,1;
25 29 tahun
= 37,6
b) Kasus Measles Encephalitis: 2 tahun = 9,3 ;
2 5 tahun
= 2,1.
c) Kasus Tetanus:
15 39 tahun = 2,0;
> 60 tahun =
14,1.
d) Kasus Rubella: 1- 4 tahun = 26,6, 5 9 tahun = 11,3.

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
JAWABAN LATIHAN
JAWABAN LATIHAN A
Bagian 1.
414 kasus Tularemia per 100.000
populasi
Bagian 2.
KWARTAL
Rate kasus per
DISTRIBUSI
100.000
populasi
10,0
2,9
7,1
12,4

I
II
III
IV

dalam persen
24,1
6,9
17,2
51,7

Bagian 3.
Laki laki = 612,9 kasus per 100.000 populasi laki laki

Wanita
Bagian 4.

= 256,4 kasus per 100.000 populasi wanita

GOLONGAN UMUR

15
20
30
15

- 19 tahun
- 29 tahun
- 39 tahun
- 39

Rate kasus
per 1.000
populasi
27,3
21,5
4,2
12,9

Distribusi
dalam persen
24,1
58,6
17,2
99,9

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
JAWABAN LATIHAN
JAWABAN LATIHAN B
Bagian 1. 42,2 kasus per 100.000 populasi
5,3 kasus per 100.000 populasi
16,2 kasus per 100.000 populasi
41,2 kasus per 100.000 populasi
35,0 kasus per 100.000 populasi
Bagian 2.38,5 kasus per 100.000
37,2 kasus per 100.000
(37,5 %)
39,6 kasus per 100.000
52,5 kasus per 100.000
tahun ( 52,5 %)
17,6 kasus per 100.000
(17,6 % )

populasi
(38,5 %)
populasi laki laki
populasi wanita
(39,6 %)
populasi usia diatas 60
populasi usia 30 - 39 tahun

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
JAWABAN LATIHAN
JAWABAN LATIHAN C
Bagian 1.
Tahunan 38,0 kematian per 100.000 populasi
Kwartal I
: 12,0 kematian per 100.000
populasi
Kwartal II
: 9,6 kematian per 100.000
populasi
Kwartal III
: 7,8 kematian per 100.000
populasi
Bagian
2.
Kwartal VI
: 8,7 kematian per 100.000
Kelompok umur 1tahun : 63,5 Kasus per 100.000
populasi
populasi
Kelompok umur 1 - 19 tahun
: 5,0 Kasus per
100.000 populasi
Kelompok umur 20 - 39 tahun
: 17,7 Kasus per
100.000 populasi
Kelompok umur 40 - 59 tahun
: 36,2 Kasus per
100.000 populasi
Kelompok umur 60 tahun : 157 Kasus per 100.000

LATIHAN PRAKTIS PENDALAMAN PENGGUNAAN UKURAN


EPIDEMIOLOGI
JAWABAN LATIHAN
JAWABAN LATIHAN D
Bagian 1.
= 1 : 2,18
: 1 kematian per
(1).(a) Yellow Fever
2,18 kasus.
(b) Brusellosis = 1 : 114
: 1 kematian per 114
kasus.
Ratio kasus
Sifilis
Laki-laki
wanita
(2).(a)
(c) Cholera
=1
: 9,50
: 1banding
kematian
per 9,50= 1,14
: 1
kasus.
(b) Ratio kasus Gonorhoe laki-laki banding wanita
= 1,60 : 1
(c) Ratio kasus hepatitis B laki-laki banding wanita
(3) (a) Ratio Insidens Hepatitis pada golongan umur 10 14
= 2,07 : 1
.
tahun dibanding golongan umur 15 24 tahun = 1 :
diantara penduduk 15 24 tahun.
2,67
(b) Ratio Insidens Measles Encephalitis pada golongan umur
(c) <Ratio
2 tahun
Insidens
dibanding
Tetanus
golongan
pada golongan
umur 2 umur
5 tahun
15 - =
39
4,43 : 1
tahun
dibanding golongan umur 60 tahun = 1 : 7,05
(d) Ratio Insidens Rubella pada golongan umur 1 - 4 tahun
dibanding golongan umur 5 - 9 tahun = 2,44 : 1

Terima kasih