Anda di halaman 1dari 13

Nasib Obat Dalam Tubuh

A. Bentuk Sediaan Obat dan Aplikasinya


Menurut Ansel (2010), Klasifikasi bentuk sediaan obat berdasarkan
konsistensinya dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Bentuk sediaan obat padat: pulvis, pulveres, tabet, kapsul, pil dan
suppositoria.
a. Pulvis (Serbuk): Merupakan campuran kering bahan obat atau zat
kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk
pemakaian luar.
b. Pulveres: Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih
kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok
untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi): Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara
kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua
permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa bahan tambahan.
d. Kapsulae (Kapsul): Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat
dalam

cangkang

keras

atau

lunak

yang

dapat

larut.

Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:


1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4)

Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis

(income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan


kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama
serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.
e. Pilulae (PIL): Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil
mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral.
Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul.
Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.

f. Suppositoria: Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan


bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya
meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
2. Bentuk sediaan obat setengah padat: salep, krim, dan pasta.
a. Unguenta (Salep): Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga
dikatakan

sediaan

setengah padat yang mudah dioleskan dan

digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi
homogen dalam dasar salep yang cocok.
b. Krim: Sediaan setengah padat yang berupa emulsi mengandung air.
Terdapat dua tipe krim yaitu: tipe emulsi minyak dalam air(sesuai
untuk daerah lipatan), dan tipe emulsi air dalam minyak (efek
lubrikasi lebih baik).
c. Pasta: Sediaan setengah padat berupa msa lembek, lebih kenyal dari
salep/ keuntungannya adalah mengikat cairan sekret (eksudat),
mengurangi rasa gatal lokal, dam lebih melekat pada kulit
3. Bentuk sediaan obat cair:
a. Solutiones (Larutan): Merupakan sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air,
yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya,
tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat
juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat
kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam
pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.
Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan
topikal (kulit).
b. Suspensi: Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara
lain: suspensi oral.

(juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada


kulit), suspensi

tetes

telinga

(telinga

bagian

luar),

suspensi

optalmik, suspensi sirup kering.


c. Emulsi: Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan
dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus
dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat
pengemulsi.
d. Guttae (Obat Tetes): Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi,
atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar,
digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes
beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat
berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut),
Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung),
Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
e. Injectiones (Injeksi): Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi
atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara
merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput
lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada
pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

B. Rute Pemberian Obat dan Mekanismenya Hingga Memiliki Efek Farmakokinetik


dan Farmakodinamik
Menurut Mycek, dkk., (2001), menjelaskan bahwa rute pemberian obat ditentukan
oleh dua hal yaitu sifat obat (kelarutannya dalam air), dan tujuan terapi yang
dilakukan (apakah terapi tersebut diperlukan berefek dalam jangka pendek,
jangka panjang, dan ataukah hanya terlokalisir ditempat tertentu saja. Oleh karena
itu, terdapat dua rute pemberian obat yang utama. Diantaranya adalah:

1. Enteral, berasal dari katanya adalah enterol artinya adalah pemberian obat
melalui saluran pencernaan. Pemberian obat secara enteral ini melibatkan
organ dari mulut hingga ke anus.
a. Oral
Pemberian obat secara oral adalah cara pemberian obat yang paling sering
dilakukan, dikarenakan caranya yang simple dapat dilakukan oleh pasien
sendiri, aman dilakukan, harganya ekonomis, serta tidak memerlukan alat
khusus. Namun, disamping keuntungan penggunaan obat oral ini juga
terdapat kekurangannya diantanya adalah memerlukan waktu yang lama
untuk mencapai organ target, sulit diberikan pada pasien yang tidak
kooperatif, dan tidak dapat diberikan pada pasien saat keadaan emergensi.
b. Sublingual
Pemberian obat dengan cara menempatkan dibawah lidah diharapkan obat
tersebut berdifusi dengan pembuluh kapiler dan dapatmasuk kedalam
sirkulasi sistemik. Pemberian obat dengan cara ini memiliki keuntungan
yaitu melakukan bypass melewati usus dan hati sehingga mencegah
penghancuran obat.
c. Rektal
Pemberian obat melewati dubur. Pemberian obat dengan cara ini memiliki
keuntungan yaitu mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau pH
rendah didalam lambung, dan berguna jika penderita mudah muntah jika
pemberian obat dilakukan melalui oral Mycek, dkk., 2001).
2. Parenteral, lain halnya dengan enteral yang merupakan pemberian obat
melalui saluran pencernaan, parenteral adalah pemberian obat yang digunakan
untuk obat yang absorbsinya buruk melalui saluran cerna. Keuntungan
pemberian obat secara parenteral digunakan untuk pengobatan pasien yang
tidak sadar dan dibutuhkan penanganan yang cepat. Terdapat 3 rute parenteral
yang utama, diantaranya adalah:
a. Intravaskular
Pemberian obat secara intravaskular sering dilakukan dengan cara
intravena. Pemberian obat dengan cara ini menghindari saluran cerna dan
menghindari metabolisme pertama oleh hati. Keuntungan rute ini adalah

memberikan efek yang cepat dan kadar obat yang masuk kedalam sirkuasi
darah sama dengan kadar obat yang diinjeksikan. Namun, memiliki
kerugian yaitu apabila terdapat kelebihan dosis tidak dapat diambil
kembali seperti pemberian obat dengan cara oral yang dapat dilakukan
pengeluaran sebelum masuk kedalam usus atau lambung, selain itu juga
pemberian dengan suntikan intravena dapat memasukan beberapa bakteri
melalui kontaminasi dan dapat menyebabkan hemolisis.
b. Intramuskular
Pemberian obat secara intramuskular diberikan berupa larutan dalam air
atau preparat depo dalam bentuk suspensi obat (etilen glikol atau minyak
kacang). Absorbsi obat dalam bentuk larutan cepat sedangkan absorbsi
dalam bentuk preparat depo berlangsung lambat. Pemberian obat melalui
intramuskular tidak secepat seperti intravena sehingga dapat mengurangi
resiko.
c. Subkutan
Pemberian obat secara subkutan memerlukan absorpsi yang agak lebih
lambat dibandingkan dengan cara intravena, pemberian obat secara
subkutan hamper sama kecepatannya dengan pemberian obat dengan cara
intramuskular. Misal : pemberian insulin pada penderita diabetes mellitus,
pemberian epinefrin sebagai vasokonstriktor lokal serta mengurangi
pembuangan obat seperti lidokain.
Tedapat pula rute pemberian obat selain 3 rute utama tersebut, diantaranya adalah:
1. Inhalasi
Pemberian obat dengan cara dihirup melibatkan sistem pernafasan. Pengiriman
obat ini terjadi cepat karena melewati permukaan luas dari saluran napas dan
epitel paru yang memberikan efek yang sama cepatnya seperti pemberian obat
dengan intravena. Pemberian obat ini berupa gas atau obat yang dapat
didispersikan kedalam aerosol. Misalnya: penderita asma atau penyakit paru
obstruktif kronis.
2. Intranasal
Pemberian obat dengan cara intranasal dalam bentuj semprot hidung obat narkotik
kokain.

Misalnya:

pengobatan

diabetes

insipidus

dengan

menggunakan

desmopressin, pengobatan osteoporosis dengan menggunakan kalsitonin salmon.

3. Intratekal/intraventrikular
Pemberian obat dengan cara memberikan obat pada cairan serebrospinal untuk
penderita leukemia limfositik akut yaitu metotreksat.
4. Topikal
Peberian obat secara topikal adalah apabila diinginkan efek pengobatan terjadi
pada daerah tertentu saja ( lokal). Misal: krem klotrimazol diberikan pada kult
untuk pengobatan dermatofisis atau obat tetes mata untuk mendilatasi pupil pada
kelainan refraksi.
5. Transdermal
Pemberian obat secara transdermal mencapai efek sistemik (transdermal patch).
Kecepatan absorpsi tergantung dari sifat fisik kulit dalam menerima respon
tersebut. Misal: Obat antiangina, nitrogliserin.

Rute Pemberian Obat Yang Sering Dilakukan


Sumber: Mycek, dkk., 2001
Rute pemberian obat terdapat berbagai macam disesuaikan dengan kebutuhan dan
keadaan penderita. Oleh karena itu, setelah obat masuk kedalam tubuh kita juga perlu
tahu

bagaimana

mekanisme

obat

tersebut

sampai

menimbulkan

interaksi

farmakokinetik, dan interaksi farmakodinamik.


1. Interaksi farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik berkaitan dengan 4 tahap yaitu absorbsi, distribusi,
metabolisme, dan ekskresi. Hal ini pula berkaitan dengan bertambah,

berkurangnya konsentrasi obat dari pertama masuk hingga bergabung dengan


sistem sirkulasi darah.
a. Absorbsi
Absorbsi adalah suatu transfer obat dari tempat pemberian ke dalam aliran
darah. Kecepatan dan efisiensi absorbsi obat tergantung pada cara
pemberiannya (Setiawati, 2007).
1) Pemberian oral
Absorbsi dari saluran pencernaan dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya adalah luas permukaan tempat absorbsi, aliran darah ketempat
absorbsi, keadaan fisik obat (larutan, suspensi, atau padat). Absorbsi obat
yang bentuknya padat dibandingkan dengan obat dalam bentuk tidak
terionisasi lebih sulit diabsorbsi. Demikian pula obat dengan sifat asam
lemah akan lebih baik diabsorbsi didalam lambung dibandingkan di usus.
Sedangkan obat dengan sifat basa lemah akan lebih baik diabsorbsi
didalam usus dibandingkan di lambung.
Obat yang dirusak oleh cairan lambung atau menyebbaan iritasi lambung
terkadang disalut untuk mencegah terlarutnya sediaan dalam cairan
lambung yang bersifat asam, namun obat ini juga sulit untuk diabsorbsi di
usus.
2) Pemberian Sublingual
Absorbsi obat dari mukosa oral tergantung dari jenis obatnya masingmasing. Sebagai contoh adalah nitrogliserin yang memang efektif
dilakukan dengan cara sublingual. Selain itu absorbsi akan berlangsung
cepat dikarenakan bersifat non-ionik dan memiliki kelarutan lipid yang
tinggi. Keuntungan absorbsinya adalah terhindar dari metabolism tingkat
pertama dihati. Hal ini dikarenakan aliran vena dari mulut akan mengarah
ke vena cava superior.
3) Pemberian rektal
Pemberial obat secara rektal memungkinkan sekitar 50% obat yang
diabsorbsi melalui rektum tidak akan melalui hati. Dan memungkinkan
terhindarnya dari metabolisme lintas pertama dihati.
4) Intravena
Dikarenakan injeksi ini dilakukan langsung di intravena, maka tidak
mengalami absorbsi secara langsung. Larutan yang bersifat iritan akan

lebih baik dberikan pada rute intravena karena dinding pembuluh darah
relatif tidak sensitif dan obat kan terencerkan oleh darah.
5) Subkutan
Laju absorbsi setelah pemberian secara subkutan biasanya konstan dan
lambat sehingga menimbulkan efek yang tertunda. Obat-obat yang
diimplantasi dibawah kulit sebagai sediaan padat menunjukan absorbsi
yang lambat selama periode beberapa minggu.
6) Intramuskular
Obat dengan larutan berair diabsorbsi akan lebih cepat setelah diberikan,
namun pula tergantung pada laju aliran darah tempat pemberian injeksi.
Selain itu, dapat ditingkatkan dengan pemanasan local, pijat, atau
olahraga.
7) Pemberian Topikal Membran Mukosa
Absorbsi melalui membrane mukosa mudah terjadi. Pemberian ini
biasanya bertujuan untuk memberikan efek lokal. Absorbsi yang melalui
kulit ini dipengaruhi oleh luas permukaan tempat yang dioleskan, dan
kelarutannya dalam lipid (Goodman dan Gilman, 2007).
b. Distribusi

1) Interaksi ikatan protein


Setelah melewati tahap absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke
seluruh tubuh oleh sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam
cairan plasma, banyak yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi
molekul dalam larutan dan sisanya terikat dengan protein plasma,
terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat reversibel,
kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang
tidak. (Stockley, 2008).
2) Induksi dan inhibisi protein transport obat
Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh
aksi protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif
membawa obat keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat

yang termasuk inhibitor transporter dapat meningkatkan penyerapan


substrat obat ke dalam otak (Stockley, 2008).
c. Metabolisme
1) Perubahan pada metabolisme fase pertama
Meskipun beberapa obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak
berubah dalam urin, banyak diantaranya secara kimia diubah menjadi
senyawa lipid kurang larut, yang lebih mudah diekskresikan oleh ginjal.
Jika tidak demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan
terus memberikan efeknya untuk waktu yang lama. Perubahan kimia ini
disebut metabolisme, biotransformasi, degradasi biokimia, atau kadangkadang detoksifikasi. Beberapa metabolisme obat terjadi di dalam serum,
ginjal, kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang
ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis
reaksi utama metabolisme obat. Yang pertama, reaksi tahap I (melibatkan
oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan menjadi senyawa yang lebih
polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat dengan zat
lain (misalnya asam glukuronat, yang dikenal sebagai glukuronidasi)
untuk membuat senyawa yang tidak aktif. Mayoritas reaksi oksidasi fase I
dilakukan oleh enzim sitokrom P450 (Stockley, 2008).
2) Induksi Enzim
Ketika barbiturat secara luas digunakan sebagai hipnotik, perlu terus
dilakukan peningkatan dosis seiring waktu untuk mencapai efek hipnotik
yang sama, alasannya bahwa barbiturat meningkatkan aktivitas enzim
mikrosom sehingga meningkatkan laju metabolisme dan ekskresinya
(Stockley, 2008).
3) Inhibisi enzim
Inhibisi enzim menyebabkan berkurangnya metabolisme obat, sehingga
obat terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan induksi enzim, yang
mungkin memerlukan waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk
berkembang sepenuhnya, inhibisi enzim dapat terjadi dalam waktu 2

sampai 3 hari, sehingga terjadi perkembangan toksisitas yang cepat. Jalur


metabolisme yang paling sering dihambat adalah fase I oksidasi oleh
isoenzim sitokrom P450. Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi
enzim tergantung pada sejauh mana tingkat kenaikan serum obat. Jika
serum tetap berada dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting secara
klinis (Stockley, 2008).
d. Ekskresi
Ginjal adalah organ yang paling penting untuk ekskresi obat dan
metabolitnya. Senyawa yang diekskresi melaui fases terutama adalah senyawa
yang tidak diabsorbsi dari pemberian oral, metabolit yang diekskresi melalui
empedu, diekresi langsung kedalam saluran usus dan tidak direabsorbsi.
Ekskresi melalui paru-paru terutama eliminasi yang berupa gas dan zat yang
menguap.
1) Ekskresi ginjal
Ekskresi obat dan metabolitnya dalam ginjal melalui 3 tahap yaitu filtrasi
glomerulus, seleksi aktif tubulus, dan reabsorbsi pasif di tubulus ginjal.
2) Ekskresi empedu dan ginjal
3) Ekskesi melalui rute lainnya
Ekskresi lainnya dapat berupa keringat, air mata.
(Goodman dan Gillman, 2007).
2. Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat yang
memiliki efek farmakologis, antagonis atau efek samping yang hampir sama.
Interaksi ini dapat terjadi karena kompetisi pada reseptor atau terjadi antara
obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologis yang sama (Setiawati, 2007).

SKENARIO SGD 1
Lastri, 25 tahun datang ke dokter gigi karena sariawan di bibir bawah bagian
dalam yang tak kunjung sembuh sejak 3 hari yang lalu. Lastri merasakan rasa
sakit dan tidak nyaman dengan adanya sariawan itu. Setelah pemeriksaan, dokter
gigi membersihkan lesi dengan antiseptik dan meresepkan obat untuk Lastri.
Resep yang diberikan instruksinya cukup dioleskan saja pada lesi sariawan. Lastri

merasa bingung karena obat yang diberikan hanya dioleskan tidak untuk
diminum. Memang apa bedanya?
Diskusikan skenario di atas sehingga dapat menjawab pertanyaaan tersebut.

C. Pembahasan Kasus
Berdasarkan kasus terdapat pasien mengeluh terkena sariawan sudah 3 hari yang
lalu. Sariawan sering disebut dengan Stomatitis Aftosa Reccurent. Penyakit ini
menyerang mukosa mulut. SAR ini ditandai dengan adanya gejala prodromal
dengan mengambarkan rasa sakit dan terbakar selama 24-48 jam.
Menurut Zain (1999), tahap perkembangan SAR dibagi kepada 4 tahap yaitu:

1. Tahap premonitori, terjadi pada 24 jam pertama perkembangan lesi SAR.


Pada waktu prodromal, pasien akan merasakan sensasi mulut terbakar pada
tempat dimana lesi akan muncul. Secara mikroskopis sel-sel mononuklear
akan menginfeksi epitelium, dan edema akan mulai berkembang.
2. Tahap pre-ulserasi, terjadi pada 18-72 jam pertama perkembangan lesi SAR.
Pada tahap ini, makula dan papula akan berkembang dengan tepi eritematus.
Intensitas rasa nyeri akan meningkat sewaktu tahap pre-ulserasi ini.
3. Tahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu. Pada
tahap ini papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan diselaputi oleh
lapisan fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri yang
berkurang.
4. Tahap penyembuhan, terjadi pada hari ke - 4 hingga 35. Ulser tersebut akan
ditutupi oleh epitelium. Penyembuhan luka terjadi dan sering tidak
meninggalkan jaringan parut dimana lesi SAR pernah muncul. Semua lesi
SAR menyembuh dan lesi baru berkembang.
Berdasarkan penjelasan diatas maka kita dapat menganalisis bahwa dalam
pemilihan obat kita harus mempertimbangkan beberapa hal diantaranya
kenyamanan pasien dan keparahan dari penyakit yang sedang dialami oleh pasien
tersebut.

Beberapa pertimbangan pemilihan obat secara topikal dibandingkan dengan oral


diantaranya adalah:
1. Berdasarkan keparahan SAR yang sedang dialami oleh pasien adalah dalam
tahap ulseratif, dikarenakan pasien sudah mengalami sariawan selama lebih
dari 3 hari. Dan dalam tahap ulsertif ini pula sudah memasuki dalam tahap
rasa intensitas nyeri sudah semakin berkurang.
Maka, pemilihan obat topikal lebih dipilih dibandingkan oral karena dari segi
keparahan penyakit penderita sudah dalam tahap nyeri yang berkurang serta
sudah dibersihkan dengan antiseptik oleh karena itu apabila menggunakan
obat topikal tidak akan menyebabkan rasa sakit yang hebat pada penderita,
lebih mudah dilakukan oleh penderita sendiri dengan cara dioles yang
mempengaruhi kenyamanan pasien, dan juga lebih ekonomis dibandingkan
dengan penggunaan obat oral.
2. Berdasarkan absorbsi obatnya, jika topikal dioleskan pada membran mukosa
maka absorbsi akan mudah terjadi. Absorbsi pada kulit dipengaruhi oleh luas
permukaan kulit tempat obat dioleskan, serta kelarutannya dalam lipid.
Absorbsi sistemik obat lebih mudah terjadi melalui kulit atau membran
mukosa yang terkikis, terbakar, dan kulit terbuka. Keadaan peradangan dan
kondisi lain yang meningkatkan aliran darah didalam kulit ini akan
meningkatkan absorbsi. Dibandingkan dengan pemberian sediaan oral untuk
absorbsinya sendiri melalui proses yang lama. Dimulai dari mulut hingga
anus. Sehingga pula akan dibutuhkan waktu yang lama untuk menimbulkan
efek pada daerah yang luka. Dikarenakan obat tersebut memasuki beberapa
tahap. Sesuai dengan urutan saluran pencernaan secara enteral (Goodman
dan Gilman, 2007).
3. Berdasarkan waktunya, pemberian obat melalui topikal akan lebih cepat
karena hanya terlokalisir pada daerah yang dioleskan dan akan memberikan
efek pada daerah tersebut. Berbeda dengan halnya pemberian obat dengan oral
akan membutuhkan waktu yang lama.
4. Berdasarkan tahapan farmakokinetiknya, tahapan farmakokinetik dibagi
menjadi 4 yaitu : absorbsi, distibusi, metabolisme, dan ekskresi. Untuk
tahapan mekanisme kerja obat topikal sendiri adalah absorbsi, distribusi, dan

ekskresi. Dikarenakan kerja obat tidak mengalami tahap metabolisme maka


kerjanya berlangsung lebih cepat dengan keuntungan tidak melewati
metabolisme tingkat pertama yaitu hati ataupun usus. Sedangkan mekanisme
kerja obat oral sendiri adalah absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Pada kerja obat oral mengalami tahap metabolisme dikarenakan tahapannya
melalui seluruh organ pencernaan. Namun, penggunaan obat oral ini baik
untuk maintenance apabila penyakit sariawannya semakin parah (Mycek,
dkk., 2001).

D. Referensi
Ansel, H., 2010, Pengantar Bentuk Sediaan Farmas, UI Press, Jakarta.
Hardman, J., Limbird, L., Gilman, A., 2007, Dasar Farmakologi Terapi Vol.1,
EGC, Jakarta.
Mycek, M.J., Harvey, R.A., Champe, P.C., 2001, Farmakologi : Ulasan
Bergambar, Widya Medika, Jakarta.
Setiawati, A., 2007, Interaksi obat, dalam Farmakologi dan Terapi Ed.5
Departemen Goodman dan Gilman, 2007,Dasar Farmakologi Terapi Vol.1,
EGC, Jakarta.
Stockley, I.H., 2008, Stockleys Drug Interaction Ed.8, Pharmaceutical Press,
Great Britain.
Zain, R.B., 1999, Classification, epidemiology and aetiology of oral recurrent
ulceration/stomatitis, Malaya, Annal Dent Univ.