Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN
A; Latar Belakang

Dua fungsi utama dari perbankan adalah pengumpulan dana dan penyaluran dana. Penyaluran
dana yang terdapat di bank konvensional dengan yang terdapat di bank syariah mempunyai
perbedaan yang esensial, baik dalam hal nama, akad, maupun transaksinya. Dalam perbankan
konvensional penyaluran dana ini dikenal dengan nama kredit sedangkan diperbankan syariah
adalah pembiayaan.
Berbeda dengan pengertian kredit yang mengharuskan debitur mengembalikan pinjaman
dengan pemberian bunga kepada bank, maka pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
pengembalian pinjaman dengan bagi hasil berdasarkan kesepakatan antara bank dan debitur.
Misalnya, pembiayaan dengan prinsip jual beli ditujukan untuk membeli barang, sedangkan
yang menggunakan prinsip sewa ditujukan untuk mendapat jasa. Prinsip bagi hasil digunakan
untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus.
Pembiayaan merupakan aktivitas yang sangat penting karena dengan pembiayaan akan
diperoleh sumber pendapatan utama dan menjadi penunjang kelangsungan usaha bank.
Sebaliknya, bila pengelolaannya tidak baik akan menimbulkan permasalahan dan berhentinya
usaha bank .
Oleh Karena itu diperlukan adanya suatu manajemen pembiayaan syariah yang baik sehingga
penyaluran dan atau dalam hal ini pembiayaan kepada nasabah bisa efektif dan efisien sesuai
dengan tujuan dari perusahaan maupun syariat Islam itu sendiri. Oleh karena itu kami sebagai
penulis makalah ini mencoba memaparkan bagaimana konsep dari manajemen pembiayaan
syariah itu sendiri sehingga diharapkan baik penulis, rekan mahasiswa, maupun masyarakat
bisa lebih memahami mengenai manajemen pembiayaan syariah.
B; Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang ada diatas maka akan timbul beberapa permaslahan, yaitu :
1; Apa definisi dari pembiayaan ?
2; Apa yang menjadi landasan syariah diperbolehkannya pembiayaan dalam Islam ?
3; Bagaimana pola analisis pembiayaan pada perbankan syariah ?
4; Bagaimana pola pemantauan dan pengawasan terhadap pembiayaan yang telah
terealisasi ?
1

5; Bagaimana penanganan terhadap pembiayaan yang bermasalah ?


C; Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :


1; Untuk mengetahui definisi dari pembiayaan.
2; Untuk mengetahui landasan syariah yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Hadits
tentang diperbolehkannya pembiayaan dalam Islam.
3; Untuk mengetahui pola analisis pembiayaan pada perbankan syariah.
4; Untuk mengetahui pola pemantauan dan pengawasan terhadap pembiayaan yang telah
terealisasi.
5; Untuk mengetahui cara penanganan terhadap kredit yang bermasalah.

BAB II
LANDASAN TEORI
A; Bank
1; Pengertian Bank

Pengertian bank menurut yang telah dituangkan dalam Undang-undang Negara Republik
Indonesia pada nomor 10/1998 pasal 1 huruf 2 dimana telah mengatur mengenai
perbankan yang menjelaskan bahwa pengertian bank adalah Badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakkat dalam bentuk simpanan dan menyalurrkannya
kepada masyarakat dalam benttuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam ranggka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak
Kemudian pengertian bank menurut Prof. G.M. Verryn Stuart yang tertuang dalam buku
berjudul Bank Politik yang mengartikan bank bahwa suatu badan yang memiliki tujuan
dalam memuaskan segala kebutuhan kredit atau to satisfy the needs of credit, baik itu
dengan jalan menggunakan alat-alat pembayaran sendiri ataukah dengan menggunakan
uang yang telah didapatkan dari orang lain, maupun dengan cara mengedarkan alat-alat
penukar tersebut dalam bentuk uang giral atau circulate new tool excange in the form of
demand deposits.
Pengertian Bank menurut ahli seperti A. Abdurrachman didalam bukunya yang berjudul
Ensiklopedia Ekonomi Keuangan dan Perdagangan telah menjelaskan Pengertian bank
adalah suatu jennis lembaga keuangan yang menjalankan segala macam jasa seperti
dengan memberikan sebuah pinjaman atau lend, mengedarkan mata uang atau circulating
currency, pengawassan terhadap mata uang atau supervision of currency, kemudian
bertindak sebagai wadah penyimpanan segala benda-benda yang berharga atau storage of
valuable objects, dan membiayai usaha orang lain atau para perusahaan.
Mengacu pada UU No. 14/1967 di pasal 1 mengenai pokok-pokok perbankan
menjelaskan tentang pengertian bank adalah suatu lembaga keuangan yang usaha
pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lallu lintas pembayaran dan perredaran
uang. Kemudian pada undang-undang atau aturan yang sama telah dijelaskan mengenai
badan keuangan bahwa badan keuangan adalah semua baddan yang melalui kegiattankegiatannya di bidang keuangan, menarikk uang dan menyyalurkannya kedalam
masyarrakat.
3

2; Jenis Jenis Bank


Ada beberapa jenis bank dimana terbagi atas 4 jenis yaitu:
a; Bank Sentral yakni suatu jenis bank yang bertugas dalam menerbitkan uang
logam dan uang kertas untuk bisa dijadikan alat pembayaran yang sah dalam
suatu negara dan dapat mempertahankan konversi uang yang dimaksud terhadap
perak atau emas maupun keduanya.
b; Bank umum yakni jenis bank yang tidak saja bisa meminjamkan atau bisa
menginvestasikan segala macam jenis tabungan yang telah didapatkannya, akan
tetapi juga bisa memberikan pinjaman lewat menciptakan sendiri uang giralnya.
c; Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yakni jenis bank yang melakukan suatu kegiatan
usaha secara konvensional atau yang telah didasarkan pada suatu prinsip syariah
yang

didalam

kegiatannya

tak

memberikan

jasa

dalam

lalu

lintas

pembayarannya.
d; Bank Syariah yakni jenis bank yang senantiasa beroperasi mengacu pada prinsip
bagi hasil atau sesuai pada kaidah ajaran islam tentang hukum riba.
3; Fungsi Bank
Terdapat beberapa fungsi bank yang harus diketahui oleh kita semua, dari pengertian
bank yang tertera diatas maka dapat kita melihat bahwa terdapat fungsi bank yang sangat
besar sekali bagi kehidupan manusia seperti:
a; Fungsi Bank sebagai agen kepercayaan.
Bank yang merupakan agen kepercayaan atau agent of Trust ini adalah sebuah
lembaga yang berdasar pada kepercayaan. Adapun dasar utama dari kegiatan
perbankan adalah suatu kepercayaan, dimana baik menjadi sebagai penghimpun
dana maupun dalam penyaluran dana. Adapun dalam hal ini dimana masyarakat
akan bersedia menyimpan dananya ke dalam bank kalau berlandaskan atas
kepercayaan. Pada fungsi bank ini akan terbangun kepercayaan yang berasal itu baik
dari pihak penyimpan dana atau nasabah maupun yang berasal dari pihak bank dan
kepercayaan tersebut juga akan terus senantiasa berlanjut kepada pihak debitor.
Kepercayaan tersebut itu sangatlah penting terbagun karena didalam kondisi tersebut
semua pihak akan merasa begitu diuntungkan, baik dari segi penyimpanan dana,
penerima penyalurran dana maupun penampung dana.
4

b; Fungsi bank sebagai agen pengembangan atau agent of Development.


Fungsi bank yang menjadi agen pengembangan ini adalah suatu lembaga yang terus
menggerakkan dana agar dapat terjadi pembangunan ekonomi pada sebuah negara.
Aktivitas bank seperti penghimpun dan penyallur dana sangatlah dibutuhkan untuk
kelancara aktivitas perekonomian yang berada di sektor riil. Dalam hal ini maka
bank tersebut dapat memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas untuk bisa
berinvestasi, distribusi serta adanya kegiatan konsumsi pada jasa dan barang,
mengingat bahwa terdapat aktivitas investasi, konsumsi dan distribusi itu tidak
terlepas dari adanya penggunaan uang.
c; Fungsi Bank sebagai agen pelayanan atau agent of services.
Fungsi bank yang menjadi agen pelayanan ini merupakan suatu lembaga yang
bertugas memberikan pelayanan untuk masyarakat. Dalam hal ini bank akan
memberikan jasa pelayanan perbankan untuk masyarakat agar masyarakat bisa
merasa nyaman dan aman didalam menyimpan dananya itu. Jasa yang telah
ditawakan bank tersebut sangat erat berhubungan dengan adanya aktivitas
perekonomian masyarakat pada umumnya.
B; Bank Syariah
1; Pengertian Bank Syariah
Menurut Sudarsono, Bank Syariah adalah lembaga keuangan negara yang
memberikan kredit dan jasa-jasa lainnya di dalam lalu lintas pembayaran dan juga
peredaran uang yang beroperasi dengan menggunakan prinsip - prinsip syariah atau
Islam.
Menurut Perwataatmadja, Bank Syariah ialah bank yang beroperasi berdasarkan
prinsip-prinsip syariah (islam) dan tata caranya didasarkan pada ketentuan Al Quran dan Hadist.
Menurut Siamat Dahlam mengemukakan Pengertian Bank Syariah, Bank Syariah
merupakan bank yang menjalankan usahanya berdasar prinsip - prinsip syariah yang
didasarkan pada Al - Quran dan Hadits.
Pengerian Bank Syariah menurut Schaik, Bank Syariah adalah suatu bentuk dari
bank modern yang didasarkan pada hukum Islam, yang dikembangkan pada abad
pertenganhan Islam dengan menggunakan konsep bagi resiko sebagai sistem utama
5

dan meniadakan sistem keuangan yang didasarkan pada kepastian dan keuntungan
yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam UU No.21 tahun 2008 mengenai Perbankan Syariah mengemukakan
pengertian perbankan syariah dan pengertian bank syariah.
Perbankan Syariah yaitu segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit
usaha syariah, mencakup kelembagaan, mencakup kegiatan usaha, serta tata cara dan
proses di dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya dengan didasarkan
pada prisnsip syariah dan menurut jenisnya bank syariah terdiri dari BUS (Bank
Umum Syariah), UUS (Unit Usaha Syariah) dan BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah),
Bank Syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum Islam dan
dalam kegiatannya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga
kepada nasabah. Imbalan bank syariah yang diterima maupun yang dibayarkan pada
nasabah tergantung dari akad dan perjanjian yang dilakukan oleh pihak nasabah dan
pihak bank. Perjanjian (akad) yang terdapat di perbankan syariah harus tunduk pada
syarat dan rukun akad sebagaimana diatur dalam syariat Islam.
Bank Umum syariah yang berdiri sendiri sesuai dengan akta pendiriannya, maka
bukan merupakan bagian dari bank konvensional. Beberapa contoh bank umum
syariah yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Bukopin, Bank Muamalat
Indonesia dan lain sebagainya.
Unit usaha syariah merupakan unit usaha yang masih di bawah pengelolaan bank
konvensional. Unit usaha syariah (UUS) adalah unit kerja dari kantor pusat bank
konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (Islam), atau unit kerja di
kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan
kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor
cabang pembantu syariah atau unit syariah. Contoh Unit Usaha Syariah (UUS) yaitu
BNI Syariah, BII Syariah dan lain sebagainya.
Bank syariah memiliki sistem operasional yang berbeda dengan bank konvensional.
Dalam bank syariah memberikan layanan bebas bunga kepada para nasabahnya.
Dalam sistem operasional bank syariah, penarikan bunga dilarang dalam semua
bentuk transaksi apapun. Bank syariah tidak mengenal yang namanya sistem bunga,
6

baik itu bunga yang diperoleh dari nasabah yang meminjam uang atau bunga yang
dibayar kepada penyimpan dana di bank syariah.
2; Fungsi Bank Syariah
Berbicara mengenai fungsi bank syaraih, Bank syariah memiliki tiga fungsi utama
yaitu fungsi bank syariah untuk menghimpin dana dari masyarakat dalam bentuk
titipan dan investasi, fungsi bank syariah untuk menyalurkan dana kepada
masyarakat yang membutuhkan dana dari bank, dan juga fungsi bank syariah untuk
memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan syariah.
a; Fungsi Bank Syariah untuk Menghiimpun Dana Masyarakat
Fungsi bank syariah yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat
yang kelebihan dana. Bank syariah mengumpulkan atau menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk titipan dengan menggunakan akad Al Wadiah dan
dalam bentuk investasi dengan menggunakan akad Al Mudharabah.
Al- Wadiah adalah akad antara pihak pertama (masyarakat) dengan pihak kedua
(bank), dimana pihak pertama menitipkan dananya kepada bank dan pihak
kedua, bank menerima titipan untuk dapat memanfaatkan titipan pihak pertama
dalam tansaksi yang diperbolehkan dalam Islam.
Al Mudharabah merupakan akad antara pihak pertama yang memiliki dana
kemudian menginvestasikan dananya kepada pihak lain yang mana dapat
memanfaatkan dana yang diinvestasikan dengan tujuan tertentu yang
diperbolehkan dalam syariat Islam.
b; Fungsi Bank Syariah sebagai Penyalur Dana Kepada Masyarakat
Fungsi bank syariah yang kedua adalah menyalurkan dana kepada masyarakat
yang membutuhkan. Masyarakat dapat memperoleh pembiayaan dari bank
syariah asalkan dapat memenuhi semua ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
Menyalurkan dana merupakan aktivitas yang sangat penting bagi bank syariah.
Dalam hal ini bank syariah akan memperoleh return atas dana yang disalurkan.
Return atau pendapatan yang diperoleh bank syariah atas penyaluran dana ini
tergantung pada akadnya.
Bank syariah menyalurkan dana kepada masyarakat dengan

menggunakan

bermacam macam akad, antara lain akad jual bei dan akad kemitraan atau

kerja sama usaha. Dalam akad jual beli, maka return yang diperoleh bank atas
penyaluran dananya adalah dalam bentuk margin keuntungan. Margin
keuntungan merupakan selisih antara harga jual kepada nasabah dan harga beli
bank. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas penyaluran dana kepada nasabah
yang menggunakan akad kerja sma usaha adalah bagi hasil.
c; Fungsi Bank Syariah Memberikan Pelayanan Jasa Bank
Fungsi bank syariah disamping menghimpun dana dan menyalurkan dana
kepada masyarakat, bank syariah juga memberikan pelayanan jasa perbankan
kepada nasabahnya. Pelayanan jasa bank syariah ini diberikan dalam rangka
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Pelayanan
jasa kepada nasabah merupakan fungsi fungsi bank syariah yang ketiga.
Berbagai jenis produk pelayanan jasa yang dapat diberikan oleh bank syariah
antara lain jasa pengiriman uang (transfer), pemindahbukuan, penagihan surat
berharga dan lain sebagainya.
Aktivitas pelayanan jasa merupakan aktivitas yang diharapkan oleh bank
syariah untuk dapat meningkatkan pendapatan bank berasal dari fee atas
pelayanan jasa bank. Beberapa bank berusaha untuk meningkatkan teknologi
informasi agar dapat memberikan pelayanan jasa yang memuaskan nasabah.
Pelayanan yang dapat memuaskan nasabah adalah pelayanan jasa yang cepat
dan akurat. Harapan nasabah dalam pelayanan jasa bank adalah kecepatan dan
keakuratannya. Bank syariah berlomba lomba untuk berinovasi dalam
meningkatkan kualitas produk layanan jasanya. Dengan pelayanan jasa tersebut,
maka bank syariah mendapatkan imbalan berupa fee yang disebut fee based
income.
3; Prinsip Syariah
a; Pengaertian Prinsip Syariah

Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan


(penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan
lainnya). Berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga Dewan Syariah
Nasional (DSN) yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang
syariah.

Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan


Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.(UU No. 21
tahun 2008 tentang PerbankanSyariah).
b; Prinsip Operasional Perbankan Syariah

Prinsip syariah yang dipakai sebagai landasan operasional Bank Syariah


diantaranya:
1; Bebas dari Bunga (riba). Dalam pengertian ini bunga dianggap sama dengan
riba.
2; Bebas dari kegiatan spekulatif non produktif (judi: maysir)
Dalam artian tidak diperkenankan dalam system syariah seseorangmelakukan
sesuatu yang bersifat spekulatif, dengan keuntungan besar serta risiko yang besar.
a; Bebas dari hal-hal meragukan (gharar)

Menjual barang yang belum ditangan penjual,

Penjualan barang yang sulit dipindah tangankan,

Penjualan yang belum ditentukan harga, jumlah dan kualitasnya,

Penjualan yang menguntungkan satu pihak saja.

b; Bebas dari hal-hal rusak (batil)

Jual beli barang-barang psikotropika,

Produk-produk yang merusak lingkungan.

Adapun perbedaan prinsip antara Sistem Konvensional dan Sistem Syariah:


No. Pokok-pokok Perbedaan
1.

Dasar perjanjian penentuanTidak


bunga / imbalan

2.

Sistem Konvensional

Sistem Syariah

berdasarkanBerdasarkan keuntungan /

keuntungan / kerugian

kerugian

Dasar perhitungan bunga /Persentase tertentu dari totalBesarnya nisbah (bagi hasil)
imbalan

dana yang dipinjamkan

didasarkan

atas

jumlah

keuntungan yang diperoleh


nasabah
9

3.

Kewajiban pembayaran bunga1; Harus terus dilakukan


meskipun usaha nasabah
rugi.
2; Besarnya

pembayaran

bunga tetap, meskipun


keuntungan

nasabah

lebih besar.
3; Dilakukan jika nasabah
untung,

jika

rugi

ditanggung bersama.
4; Besarnya

imbalan

berubah

sesuai

keuntungan.
4.

Persyartan jaminan

Berupa barang/harta nasabahTidak mutlak

5.

Objek pembiayaan

Jenis usaha tidak dibedakanJenis usaha yang dibiayai


asal memenuhi persyaratan harus sesuai syariah

6.

Pandangan

sistem

syariahPengenaan

terhadap sistem bunga

bunga

kepadaPembayaran

debitur dianggap haram

berdasarkan

imbalan
bagi

hasil

sifatnya
c; Prinsip Dasar Kegiatan Usaha BankSyariah

1; Prinsip Titipan (al-wadiah)


a; Wadiah yad amanah (trustee depository)

Barang titipan tidak dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan atau tidak
diberikan izin oleh pemilik barang.
b; Wadiah yad dhomanah (guarantee depository)
Barang titipan dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan.
Dasar hukum al-Wadiah adalah:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan), kepada yang
berhak menerimanya.(Q.S Al-Nisa: 58)
2;

Prinsip Bagi Hasil (profit sharing)


10

a; Al-Mudharabah
Merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
(shahibul maal) menyediakan seluruh (100%), sedangkan pihak lainnya
menjadi pengelola (mudharib).
1; Muthlaqah (cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi)
2; Muqayyadah (dimana mudharib memberikan batasan kepada shahibul
maal mengenai tempat, cara dan obyek investasi )[3]
Dasar hukum mudharabah:
Dan sebagian dari mereka orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian
karunia Allah Swt. (Q.S Al-Muzammil: 20)[4]
b; Al-Musyarakah
Menurut fiqih ada 2 (dua) bentuk musyarakah, yaitu:
1; Terjadinya secara otomatis disebut syarikah Amlak
2; Terjadinya atas dasar kontrak disebut syarikah Uqud
Syarikah Uqud ada 5 jenis, yaitu:

Syirkah Inan
Besarnya penyertaan modal dari masing-masing anggota harus sama,
o Masing-masing anggota berhak penuh aktif dalam pengelolaan perusahaan,
o Pembagian keuntungan bisa dilakukan menurut besarnya modal dan bisa berdasarkan
persetujuan.
o

Syirkah Mufadhah
Kesamaan penyertaan modal masing-masing anggota,
o Setiap anggota harus aktif dalam pengelolaan usaha,
o Pembagian keuntungan maupun kerugian ditentukan menurut persetujuan.
o

Syirkah Wujuh
Para anggota hanya mengandalkan wibawa dan nama baik mereka, tanpa
menyertakan modal,
o Pembagian keuntungan maupun kerugian ditentukan menurut persetujuan.
o

Syirkah Abdan
o

Pekerja atau usahanya berkaitan,


11

Menerima pesanan dari pihak ketiga,


o Keuntungan dan kerugian dibagi menurut perjanjian.
o

Syirkah Mudharabah
3;

Prinsip Jual Beli (al-tijarah)


a; Al-Murabahah
Merupakan persetujuan jual-beli suatu barang dengan harga sebesar harga
pokok dan ditambah dengan keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan.
b; Salam
Merupakan prinsip jual beli suatu barang tertentu antara pihak penjual dan
pembeli sebesar harga pokok ditambah nilai keuntungan yang disepakati,
dimana waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari sementara
penyerahan uang dilakukan dimuka( secaratunai).
c; Istishna
Menyerupai salam, tetapi dalam istishna pembayarannya dapat dilakukan
dalam beberapa kali (cicilan). Sementara untuk penyerahan barang
dilakukan dikemudian hari.

d; Prinsip Sewa (al-ijarah)


a; Ijarah (sewamurni)

Ijarah al muntahiya bit tamlik ( penggabungan sewa dan beli, dimana


sipenyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa )
b; Al-Tajiri
Dimana dalam perjanjian ini setelah berakhir masa sewa, pemilik barang
menjual barang tersebut kepada penyewa dengan harga yang disetujui
kedua belah pihak.
e; Prinsip Jasa (fee based service)
a; Al- Wakalah

Nasabah memberi kuasa kepada untuk mewakili dirinya melakukan


pekerjaan jasa tertentu.
b; Al-Kafalah
Dimana jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga (3)
untuk memenuhi kewajiban pihak kedua (2) atau yang ditanggung.

12

c; Al-Hawalah
Merupakan pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain
yang wajib menanggungnya.
d; Al-Rahn
Dimana menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas
pinjaman yang diterimanya.
e; Al-Qardh
Dimana pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta
kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.

13

BAB III
PEMBAHASAN
A; Definisi Pembiayaan

Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh
lembaga pembiayaan seperti bank syariah kepada nasabah. Pembiayaan secara luas berarti
financing atau pembelanjaan yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi
yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan oleh orang lain.
Menurut M. SyafiI Antonio menjelaskan bahwa pembiayaan merupakan salah satu tugas
pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang
merupakan deficit unit.
Sedangkan menurut UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan
Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak
lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut
setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.
B; Landasan Syariah
1; Al-Quran

Artinya : Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, (QS. An-Nisa : 12)
Artinya : Dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini. (Q.S. Shad :
24)
2; Al-Hadis

Dari Abu Hurairah, rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT berfirman :
Aku pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satunya tidak
menghianati temannya, (H.R. Abu Dawud No. 2936, dalam kitab Al Buyu dan Hakim).
C; Analisis Pembiayaan

Analisa Pembiayaan diperlukan agar bank syariah memperoleh keyakinan bahwa pembiayaan
yang diberikan dapat dikembalikan oleh nasabahnya.
1; Jenis Jenis Aspek yang Dianalisa
14

Jenis-jenis aspek yang dianalisa secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a; Analisa terhadap kemauan bayar, disebut analisa kualitatif . Aspek yang dianalisa
mencakup karakter/ watak dan komitmen dari nasabah.
b; Analisa terhadap kemampuan bayar, disebut dengan analisa kuantitatif . Pendekatan
yang dilakukan dalam perhitungan kuantitatif , yaitu untuk menentukan kemampuan
bayar dan perhitungan kebutuhan modal kerja nasabah adalah dengan pendekatan
pendapatan bersih.
2; Kriteria Pemberian Pembiayaan

Jangan pernah memberikan pembiayaan bila pertimbangan lebih kepada :

Belas kasihan

Kenalan (bersaudara atau teman)

Nasabah orang terhormat (terkenal, disegani, status sosial tinggi dll)

Utamakan berdasarkan unsur-unsur :

Kelayakan usaha

Kemampuan membayar

Aspek yang dinilai sebelum melakukan analisa pembiayaan adalah sebagai berikut :

Kemampuan memperoleh keuntungan.

Sisa pembiayaan dengan pihak lain (kalau ada).

Bebas rutin di luar kegiatan usaha.

3; Prinsip Prinsip Pemberian Pembiayaan

Dalam melakukan penilaian permohonan pembiayaan bank syariah bagian marketing


harus memperhatikan beberapa prinsip utama yang berkaitan dengan kondisi secara
keseluruhan calon nasabah. Di dunia perbankan syariah prinsip penilaian dikenal dengan
5 C + 1 S , yaitu :
a;

Character

Yaitu penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon penerima pembiayaan dengan
tujuan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa penerima pembiayaan dapat
memenuhi kewajibannya.

15

b; Capacity

Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan penerima pembiayaan untuk


melakukan pembayaran. Kemampuan diukur dengan catatan prestasi penerima
pembiayaan di masa lalu yang didukung dengan pengamatan di lapangan atas sarana
usahanya seperti toko, karyawan, alat-alat, pabrik serta metode kegiatan.
c; Capital

Yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon penerima
pembiayaan yang diukur dengan posisi perusahaan secara keseluruhan yang ditujukan
oleh rasio finansial dan penekanan pada komposisi modalnya.
d; Collateral

Yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan. Penilaian ini bertujuan untuk
lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi , maka
jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban.
e; Condition

Bank syariah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik
melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima
pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses
berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.
f;

Syariah

Penilaian ini dilakukan untuk menegaskan bahwa usaha yang akan dibiayaai benar-benar
usaha yang tidak melanggar syariah sesuai dengan fatwa DSN Pengelola tidak boleh
menyalahi hukum syariah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan
mudharabah.
4; Tujuan dan Fungsi Pembiayaan
a; Tujuan Pembiayaan

Tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah untuk meningkatkan kesempatan


kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pembiayaan tersebut
harus dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang
industri, pertanian, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan menunjang
produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan
dalam negeri maupun ekspor.

16

b; Fungsi pembiayaan

Keberadaan bank syariah yang menjalankan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah


bukan hanya untuk mencari keuntungan dan meramaikan bisnis perbankan di Indonesia,
tetapi juga untuk menciptakan lingkungan bisnis yang aman, diantaranya :
1; Memberikan pembiayaan dengan prinsip syariah yang menerapkan sistem bagi
hasil yang tidak memberatkan debitur.
2; Membantu kaum dhuafa yang tidak tersentuh oleh bank konvensional karena
tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh bank konvensional.
3; Membantu masyarakat ekonomi lemah yang selalu dipermainkan oleh rentenir
dengan membantu melalui pendanaan untuk usaha yang dilakukan.
5; Jenis Jenis Pembiayaan
a; Berdasarkan Tujuan Penggunaannya, dibedakan dalam :

1; Pembiayaan Modal Kerja, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk memberikan


modal usaha seperti antara lain pembelian bahan baku atau barang yang akan
diperdagangkan.
2; Pembiayaan Investasi, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk modal usaha
pembelian sarana alat produksi dan atau pembelian barang modal berupa aktiva
tetap / investaris.
3; Pembiayaan Konsumtif, yakni pembiayaan yang ditujukan untuk pembelian
suatu barang yang digunakan untuk kepentingan perseorangan ( pribadi ).
b; Berdasarkan Cara Pembayaran / Angsuran Bagi Hasil, dibedakan dalam:

1; Pembiayaan Dengan Angsuran Pokok dan Bagi Hasil Periodik, yakni angsuran
untuk jenis pokok dan bagi hasil dibayar / diangsur tiap periodik yang telah
ditentukan misalnya bulanan.
2; Pembiayaan Dengan Bagi Hasil Angsuran Pokok Periodik dan Akhir, yakni
untuk bagi hasil dibayar / diangsur tiap periodik sedangkan pokok dibayar
sepenuhnya pada saat akhir jangka waktu angsuran
3; Pembiayaan Dengan Angsuran Pokok dan Bagi Hasil Akhir, yakni untuk pokok
dan bagi hasil dibayar pada saat akhir jangka waktu pembayaran, dengan catatan
jangka waktu maksimal satu bulan.

17

c; Metode Hitung Angsuran yang akan digunakan. Ada tiga metode yang ditawarkan

yaitu :
1; Efektif, yakni angsuran yang dibayarkan selama periode angsuran. Tipe ini
adalah angsuran pokok pembiayaan meningkat dan bagi hasil menurun dengan
total sama dalam periode angsuran.
2; Flat, yakni angsuran pokok dan margin merata untuk setiap periode
3; Sliding, yakni angsuran pokok pembiyaan tetap dan bagi hasilnya menurun
mengikuti sisa pembiayaan ( outstanding )
d; Berdasarkan Jangka Waktu Pemberiannya, dibedakan dalam

1; Pembiayaan dengan Jangka Waktu Pendek umumnya dibawah 1 tahun


2; Pembiayaan dengan Jangka Waktu Menengah umumnya sama dengan 1 tahun
3; Pembiayaan dengan Jangka Waktu Panjang, umumnya diatas 1 tahun sampai
dengan 3 tahun.
4; Pembiayaan dengan jangka waktu diatas tiga tahun dalam kasus yang tertentu
seperti untuk pembiayaan investasi perumahan, atau penyelamatan pembiayaan
e; Berdasarkan Sektor Usaha yang dibiayai
1; Pembiayaan Sektor Perdagangan (contoh : pasar, toko kelontong, warung
sembako dll.)
2; Pembiayaan Sektor Industri (contoh : home industri; konfeksi, sepatu)
3; Pembiyaan konsumtif, kepemilikan kendaraan bermotor (contoh : motor , mobil
dll.)
g; Pembiayaan Berdasarkan Syariah Islam
Berdasarkan Undang-Undang No. 21 tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Bab 1
Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 25 mengenai kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh
suatu perbankan syariah disebutkan bahwa penyaluran dana (pembiayaan) yang dapat
dilakukan oleh bank syariahsyariah adalah melalui :
1; Transaksi berdasarkan prinsip jual beli:
a; Murobahah;
b; Istishna;
c; Salam;
18

d; Jual beli lainnya.


e; Transaksi berdasarkan prinsip sewa menyewa:
1; Ijarah
2; Ijarah muntahiya bittamlik

2; Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil:


a; Mudhorobah;
b; Musyarokah;
c; Bagi hasil lainnya.
d; Pembiayaan dengan berdasarkan prinsip jasa:
1; Rahn;
2; Qordh
3; Hiwalah
4; Kafalah, dan lain-lain.
Melakukan kegiatan lainnya yang lazim dilakukan bank syariah sepanjang disetujui oleh
Dewan Syariah Nasional.
6; Prosedur Analisis Pembiayaan

Aspek-aspek penting dalam analisis pembiayaan yang perlu dipahami oleh pengelola bank
syariah :
a; Berkas pencataan
b; Data pokok dan analisis pendahuluan
1; Realisasi pembelian, produksi dan penjualan
2; Rencana pembelian, produksi dan penjualan
3; Jaminan
4; Laporan keuangan
5; Data kualitatif dari calon debitur
c; Penelitian data
d; Penelitian atas realisasi usaha
e; Penelitian atas rencana usaha
19

f; Penelitian dan penilaian barang jaminan


g; Laporan keuangan dan penelitiannya.
7; Keputusan Permohonan Pembiayaan

a; Bahan pertimbangan pengambilan keputusan


b; Wewenang pengambilan keputusan
D; Pemantauan dan Pengawasan Pembiayaan

Pembiayaan adalah suatu proses, mulai dari analisis kelayakan pembiayaan sampai pada
realisasinya. Namun realisasi pembiayaan bukanlah tahap terakhir dari proses pembiayaan.
Setelah realisasi pembiayaan, maka pejabat bank syariah perlu melakukan pemantauan dan
pengawasan pembiayaan. Aktivitas ini memiliki aspek dan tujuan tertentu. Untuk itu perlu
dibicarakan hal-hal yang terkait dengan aktivitas pemantauan dan pengawasan pembiayaan.
1; Tujuan Pemantauan dan Pengawasan Pembiayaan

a; Kekayaan bank syariah akan selalu terpantau dan menghidari adanya


penyelewengan-penyelewengan baik oknum dari luar maupun dalam bank.
b; Untuk memastikan ketelitian dan kebenaran data administrasi di bidang
pembiayaan.
c; Untuk memajukan efisiensi di dalam pengelolaan tata laksana usaha di bidang
peminjaman dan sasaran pencapaian yang ditetapkan.
d; Kebijakan manajemen bank syariah akan dapat lebih rapi dan mekanisme dan
prosedur pembiayaan akan lebih dipatuhi.
2; Media Pemantauan

a; Informasi dari luar bank syariah


b; Informasi dari dalam bank syariah
c; Meneliti perputaran yang terjadi atas debit dan kredit pada beberapa bulan
berjalan
d; Memberikan tanda pada laporan sehingga dapat diantisipasi jika ada kekeliruan
yang lebih besar
e; Periksalah adakah tanggal-tanggal jatuh tempo yang dijanjikan terealisasi
f; Meneliti buku-buku pembantu/ tambahan dan map-map yang berkaitan dengan
peminjaman.
20

3; Kunjungan Pada Peminjam

Tujuannya adalah untuk mempertimbangkan dan memantau efektivitas dana yang


dimanfaatkan peminjam. Hal-hal yang dilakukan
a; Membuat laporan kegiatan peminjam
b; Laporan realisasi kerja bulanan
c; Laporan stok/ persediaan barang
d; Laporan kegiatan investasi bulanan
e; Laporan hutang dan piutang

Neraca R/ L per bulan, triwulan, dan semester


g; Tingkat pengumpulan pendapatan
h; Tingkat kemajuan usaha
i; Tingkat efektivitas pemakaian dana
E; Penanganan Pembiayaan Bermasalah
f;

Risiko yang terjadi dari peminjaman adalah peminjaman yang tertunda atau ketidakmampuan
peminjam untuk membayar kewajiban yang telah dibebankan, untuk mengantisipasi hal itu
maka bank syariah harus mampu menganalisis penyebab permasalahannya
1; Analisa sebab kemacetan
a; aspek internal
1; Peminjam kurang cakap dalam usaha tersebuit
2; Manajemen tidak baik atau kurang rapi
3; Laporan keuangan tidak lengkap
4; Penggunaan dana yang tidak sesuai dengan perencanaan
5; Perencanaan yang kurang matang
6; Dana yang diberikan tidak cukup untuk menjalankan usaha tersebut
b; aspek eksternal
1; Aspek pasar kurang mendukung
2; Kemampuan daya beli masyarakat kurang
3; Kebijakan pemerintah
4; Pengaruh lain di luar usaha
5; Kenakalan peminjam
2; Menggali potensi peminjam

Anggota yang mengalami kemacetan dalam memenuhi kewajiban harus dimotivasi untuk
memulai kembali atau membenahi dan mengatisipasi penyebab kemacetan usaha atau
angsuran. Untuk itu perlu digali potensi yang ada pada peminjam agar dana yang telah
digunakan lebih efektif.
21

3; Melakukan perbaikan akad (remedial)


4; Memberikan pinjaman ulang, mungkin dalam bentuk : pembiayaan al-qardul hasan;
5;
6;
7;
8;

Murabahah atau Mudharabah


Penundaan pembayaran
Memperkecil angsuran dengan memperpanjang waktu dan akad dan margin baru
(Rescheduling)
Memeperkecil margin keuntungan atau bagi hasil.
Penggolongan Kolektibilitas Pembiayaan

Ketidak lancaran nasabah membayar angsuran pokok maupun bagi hasil pembiayaan
menyebabkan

adanya

kolektabilitas

pembiayaan.

Secara

umum

kolektabilitas

pembiayaan dikategorikan menjadi lima macam yaitu:


a; Lancar atau kolektabilitas 1
b; Kurang lancar atau kolektabilitas 2
c; Diragukan atau kolektabilitas 3
d; Perhatian khusus atau kolektabilitas 4
e; Macet atau kolektabilitas 5

22

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak
lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut
setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Dalam melakukan pembiayaan
maka bank syariah memerlukan analisis pembiayaan agar bank syariah memperoleh
keyakinan bahwa pembiayaan yang diberikan dapat dikembalikan oleh nasabahnya. Namun
realisasi pembiayaan bukanlah tahap terakhir dari proses pembiayaan. Setelah realisasi
pembiayaan, maka pejabat bank syariah perlu melakukan pemantauan dan pengawasan
pembiayaan supaya memajukan efisiensi di dalam pengelolaan tata laksana usaha di bidang
peminjaman dan sasaran pencapaian yang ditetapkan sehingga tujuan daripada adanya
pembiayaan bisa tercapai.
B. SARAN
Dari berbagai permasalahan yang ada pada manajemen pembiayaan syariah, maka kami
sebagi penulis mempunyai saran bagi beberapa pihak, yaitu :
1)

Pemerintah

Kami mempunyai saran agar pemerintah memberikan kemudahan akses dan dukungan
terhadap kemajuan bank syariah di Indonesia sehingga bank syariah bisa diterima di semua
lapisan masyarakat dan lebih berkontribusi kepada pemerintah dalam pembangunan nasional.
2)

Bank Syariah

Kami mempunyai saran agar bank syariah untuk lebih kreatif, inovatif, dan dinamis dalam
pengeluaran dan pengembangan produk-produk pembiayaan sehingga bank syariah bisa
bersaing dengan bank konvensional.
3)

Masyarakat

Kami mempunyai saran agar masyarakat lebih pro aktif dan perduli terhadap perbankan
syariah dengan melakukan aktivitas penanaman dananya (menabung) dan juga penggunaan
produk-poduk perbankan syariah karena sudah jelas kehalalannya dan mempunyai nilai lebih

23

untuk

pengembangan

dan

pemberdayaan

umat

dibandingkan

dengan

perbankan

konvensional.
4)

Mahasiswa dan Akademisi

Kami mempunyai saran agar para mahasiswa dan akademisi lebih kritis lagii dengan pola
pembiayaan bank syariah yang kini telah ada sehingga bisa memberikan kontribusi terhadap
pengembangan dan lahirnya produk-produk pembiayaan perbankan syariah yang sesuai
dengan tuntutatn jaman dan masyarakat saat ini.

24