Anda di halaman 1dari 6

BUDIDAYA

SELADA

Nama

: Azzam Izzudin

NIM

: 15504020011052

Kelas

:D

DESKRIPSI SELADA
Selada (Lactuva sativa) merupakan sayuran yang sering digunakan untuk menghias
masakan. Selada dihidangkan sebagai pendamping makanan seperti gado-gado, salad, buger,
atau lalap.
Klasifikasi Selada
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Class
: Dicotyledonae
Ordo
: Asterales
Famili
: Asteraceae
Genus
: Lactuca
Spesies
: Lactuca sativa
SYARAT PERTUMBUHAN
[Iklim]
Produksi benih tanaman unggulan kering paling bagus dicapai dalam iklim
Mediterania dengan periode kering musiman untuk pematangan benih dan panen pilihan
untuk benih berkualitas tinggi. Selagi tanaman sayuran yang dianggap sebagai tanaman
musim dingin, selada membutuhkan suhu hangat daripada banyak musim dingin lainnya.
Iklim optimal untuk produksi benih selada adalah satu dengan suhu lebih dari 70 F (21 C)
untuk hasil yang baik, tetapi panas yang ekstrem selama berbunga bisa merusak benih. Hujan
selama panen dapat menyebabkan hancurnya benih, tumbuh benih-benih di kepala, dan
mendorong perubahan warna dan penyakit benih. Suhu yang lebih tinggi dan lama
penyinaran saat musim panas sering mempercepat inisiasi bunga pada banyak jenis selada.
Oleh karena itu dengan mudah benih tanaman di sebagian besar daerah beriklim cocok.
[Media Tanam]
Pada dasarnya tanaman selada dapat ditanam di lahan sawah maupun tegalan. Jenis
tanah yang ideal untuk tanaman selada adalah liat berpasir seperti tanah Andosol maupun
Latosol. Syaratnya tanah tersebut harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik,
tidak mudah menggenang (becek). Keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman
ini pH antara 5,0-6,8.

BUDIDAYA SELADA
1. Benih
Beberapa jenis selada yang banyak dibudidayakan antara lain adalah :
1.

Selada mentega atau juga disebut selada bokor/selada daun. Bentuk kropnya bulat,
akan tetapi lepas/keropos.

2.

Selada (heading lettuce) atau selada krop. Bentuk krop ada yang bulat ada pula yang
lonjong/bulat panjang. Kropnva padat/kompak.

2. Persemaian
Biji dapat langsung ditanam di lapangan, tetapi pertumbuhan tanaman lebih baik melalui
persemaian. Sebelum disemai, benih direndam dahulu dalam air hangat (50 0C) atau dalam
larutan Previcur N (1 ml/l) selama satu jam. Benih disebar merata pada bedengan persemaian
dengan media berupa campuran tanah + pupuk kandang/kompos (1:1), kemudian ditutup
dengan daun pisang selama 2-3 hari. Bedengan persemaian diberi naungan/atap
screen/kasa/plastik transparan. Persemaian ditutup dengan screen untuk menghindari
serangan OPT. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan ke dalam bumbunan yang terbuat
daun pisang/pot plastik dengan media yang sama (tanah + pupuk kandang steril). Penyiraman
dilakukan setiap hari. Bibit siap ditanam di lapangan setelah berumur 3-4 minggu atau sudah
memiliki empat sampai lima daun.
3. PengolahanTanah
Tanah dicangkul sedalam 20-30 cm. Kemudian diberi pupuk kandang kuda atau sapi + 10
ton/ha, diaduk dan diratakan. Kemudian tanah dibuat bedengan lebar 100-120 cm. Apabila
benih akan di tanam langsung, maka dibuat alur/garitan dengan cangkul yang dimiringkan.
Jarak antara garitan + 25 cm. Tetapi apabila benih disemaikan terlebih dahulu maka dibuat
lubang tanam dengan jarak 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 30 cm.
4. Penanaman
Penanaman secara langsung dilakukan dengan cara benih ditabur dalam garitan yang telah
ditentukan. Jika melalui persemaian, bibit ditanam dengan jarak tanam seperti tersebut di
atas, sehingga dalam satu bedengan dapat memuat 4 baris tanaman.
5. Pemupukan
Selain pupuk kandang, diperlukan pupuk nitrogen. Pada umur 2 minggu setelah tanam, pupuk
N diberikan di dalam garitan sejauh + 5 cm dari tanaman. Kemudian pupuk ditutup dengan
tanah. Dosis pupuk N + 60 kg N/ha atau 300 kg ZA/ha. Pupuk tersebut dapat diberikan dua
kali dengan selang 2 minggu.

6. Pemeliharaan
Penjarangan dilakukan jika penanaman dilakukan secara langsung. Penyiraman dilakukan
tiap hari sampai selada tumbuh normal (lilir), kemudian diulang sesuai kebutuhan. Bila ada
tanaman yang mati, segera disulam dan penyulaman dihentikan setelah tanaman berumur 1015 hari setelah tanam. Penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan waktu
pemupukan pertama dan kedua.
7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

OPT penting yang menyerang tanaman selada antara lain kutu daun (Myzus persicae) dan
penyakit busuk akar karena Rhizoctonisap . Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada
OPT yang menyerang. Apabila diperlukan pestisida, gunakan pestisida yang aman sesuai
kebutuhan dengan memperhatikan ketepatan pemilihan jenis, dosis, volume semprot waktu,
interval aplikasi dan cara aplikasi.
8. Panen dan Pascapanen
Tanaman selada dapat dipanen setelah berumur + 2 bulan. Panen dapat dilakukan dengan cara
mencabut batang tanaman dengan akar-akarnya atau memotong pangkal batang. Tanaman
yang baik dapat menghasilkan + 15 ton /ha. Selada cepat layu, sehingga untuk menjaga
kualitasnya, harus ditempatkan di wadah berisi air (biasa dilakukan di pasar hadisional).

HAMA DAN PENYAKIT


[Hama]
Ulat tanah. Ciri: tubuhnya berwarna hitam atau hitam keabu-abuan, aktif pada malam hari
dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Pada siang hari, ulat tanah
bersembunyi di bawah tanah atau sisa-sisa tanaman. Gejala: menyerang tanaman dengan cara
memotong pangkal batang atau titik tumbuh, sehingga patah atan terkulai. Serangan ulat
tanah umumnya terjadi pada musim kering (kemarau) dan merusak tanaman yang masih
muda (berumur 1-30 hari setelah tanam). Pengendalian: dengan beberapa cara, yaitu:
mencari dan mengumpulkan ulat tanah di sekitar tanaman yang terserang kemudian langsung
dibunuh atau pemasangan umpan beracun yang mengandung bahan aktif Trikiorfon dan juga
disemprot insektisida berbahan aktif Monokrotofos.
Kutu daun. Ciri: tubuhnya kecil berwarna hitam atau hitam kekuning-kuningan. Gejala:
menyerang daun-daun tanaman dengan cara mengisap cairan sel-selnya. Serangan kutu daun
menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil, daun-daunnya keriput, layu dan akhirnya mati.
Kutu daun berperan ganda, yakni sebagai hama dan vektor virus. Tanaman inangnya lebih
dari 400 jenis, karena kutu daun bersifat polifag. Pengendalian: dilakukan dengan waktu
tanam secara serempak, mengurangi keragaman jumlah tanaman inang, dan disemprot
insektisida yang mengandung bahan aktif Deltametrin atau Klorpirifos.
[Penyakit]
Bercak daun. Penyebab: cendawan Cercospora ion gissima Sacc. atau C. lactucae Tev.
Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia. Gejala: mula-mula berupa bercak kecil
kebasahbasahan pada tepi daun, kemudian meluas menyerang jaringan tanaman ataupun daun
warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan, dan banyak titik hitam yang merupakan
konidium jamur. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, memotong bagian tanaman
yang sakit untuk dibakar- (dimusnahkan) dan disemprot fungisida yang mengandung bahan
aktif Mankozeb.
Busuk rizoma. Penyebab: cendawan tular tanah. Menyerang daun-daun tua tanaman Selada
yang ada dekat permukaan tanah. Gejala: terdapat bercak coklat yang mengendap pada
bagian tanaman sakit, kemudian membusuk berwarna coklat seperti berlendir. Bila cuaca

kering, tanaman busuk tadi akan mengering menjadi "mummi" hitam. Pengendalian:
dilakukan dengan perbaikan drainase tanah kebun agar tidak terlalu lembab, pergiliran
(rotasi) tanaman dan disemprot fungisida yang mengandung bahan aktif Karbendazim atau
Mankozeb.
Busuk daun. Penyebab: cendawan Bremia /actucae Regel. Gejala: daun-daun selada bercak
bersudut, menguning dan akhirnya bercak-bercak kecoklatan (membusuk). Pada beberapa
jenis sayuran lain, serangan penyakit ini disebut "downy mi/dew". Biasanya menyerang hebat
pada kondisi iklim berkabut (berembun). Pengendalian: dilakukan dengan perbaikan drainase
tanah, pergiliran tanaman dan disemprot fungisida yang mengandung bahan aktif Mankozeb.
Busuk basah. Penyebab: bakteri Erwinia carotovora (Jones). Gejala: daun dan batang
tanaman Selada membusuk sewaktu di kebun maupun setelah panen (lepas panen). Selain
membusuk berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman; juga mengeluarkan aroma bau yang
khas dan menyolok hidung. Pengendalian: dilakukan dengan cara-cara: menjaga kebersihan
kebun (sanitasi), menghindari kerusakan atau luka pada waktu pemeliharam tanaman ataupun
saat panen, serta melakukan penanganan pasca panen sebaik mungkin.
Penyakit mosaik. Penyebab: virus mosaic, yaitu Lettuce Mosaic Virus (LMV). Gejala: daundaun menguning (kiorosis) dan mosaik. Pengendalian: sampai saat ini penyakit virus sulit
dikendalikan. Tindakan awal yang dilakukan bila terdapat gejala mosaic virus adalah
mencabut tanaman yang sakit dan segera menyemprot vektor kutu daun dengan insektisida
yang efektif.

DAFTAR PUSTAKA
BPTP Yogyakarta. 2013. Budidaya Selada. Yogyakarta: Badan Litbang Pertanian.
Haryanto, Eko, dkk. 2007. Sawi dan Selada. Jakarta: Penebar Swadaya.
Saparinto, Cahyo. 2011. 79 Bisnis Pertanian Menguntungkan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Zyskoswki, Jared et al. 2010. Principles and Practices of Organic Lettuce Seed Production in
the Pacific Nortwest. Organic Farming Research Foundation