Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH DASAR ELEKTRONIKA

SUMBER DAYA

OLEH : KELOMPOK 8
AKSEL WIRANATA: E1D113002
HARSON LIATA: E1D113006
LA AKA HAMZAH: E1D113009
MUNARTO : E1D1 15 055
RESTU PURNAMA : E1D1 15 056
LA ODE MUHAMMAD SARDIN: E1D1054
KARLINA: E1D115053

JURUSAN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, beserta
keluarga dan sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau
samapai hari kiamat.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
didalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya.Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikkan dimasa depan.

Kendari, Desember 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sumber daya elektronika adalah alat yang sangat penting dalam


komponen elektonika saat ini tanpa adanya sumber daya tidak mungkin
ada perkembangan elekttronika yang kita lihat di era modern ini. Salah
satu contoh sumber daya adalah satu daya. Satu daya atau power supply
merupakan suatu rangkaian elektronik yang mengubah arus listrik bolakbalik menjadi arus listrik searah. Satu daya menjadi bagian yang penting
dalam elektonika yang berfungsi sebagai sumber tenaga listrik misalnya
pada baterai atau accu. Satu daya (Power Supply) juga dapat digunakan
sebagai perangkat yang memasok listrik energi untuk satu atau lebih beban
listrik.
Secara umum prinsip rangkaian catu daya terdiri atas komponen
utama yaitu ; transformator, dioda dan kondensator. Dalam pembuatan
rangkaian catu daya, selain menggunakan komponen utama juga
diperlukan komponen pendukung agar rangkaian tersebut dapat berfungsi
dengan baik. Komponen Pendukung tersebut antara lain : sakelar, sekering
(fuse), lampu indicator, voltmeter dan amperemeter, jack dan plug, Printed
Circuit Board (PCB), kabel dan steker, serta Chasis. Baik komponen
utama maupun komponen pendukung sama sama berperan penting dalam
rangkaian catu daya.

B. TUJUAN

Tujuan dibuatnya makalah ini antara lain :

Menyelesaikan tugas mata kuliah elektronika.

Mengetahui perbedaan antara sumber daya yang ada dalam dunia


elektronika.

Mengetahui pengertian dan penjelasan dalam pembuatan Satu Daya dan


alat sumber day lainnya.

Memberikan pengetahuan baru.

BAB 2
PEMBAHASAN

A. PRINSIP DASAR

Rangkaian elektronik biasanya membutuhkan voltase DC dengan


voltase yang lebih rendah dibanding dengan voltase sambungan listrik
yang biasanya tersedia, yaitu sebesar 220V AC. Sedangkan voltase yang
dipakai dalam rangkaian elektronik biasanya hanya sekitar 3V sampai 50V
DC. Voltase tersebut biasanya bisa diperoleh dari baterai, tetapi
penggunaan baterai sebagai sumber daya listrik jauh lebih mahal dengan
menggunakan sumber daya listrik dari PLN. Untuk itu diperlukan satu alat
yang dapat mengubah daya voltase 220V AC menjadi voltase DC sebesar
voltase yang dibutuhkan.

B. TRAFO
Sebuah trafo pada dasarny aterdiri dari dua kumparan yang
digulung diatas satu kern (bahan besi) yang dimiliki secara bersama-sama.
Kumparan pertama disebut kumparan primer dan kumparan kedua adalah
kumparan sekunder. Sifat dari trafo adalah berapa banyak arus dapat
keluar tanpa trafo menjadi terlalu panas dan verapa besar resistivitas
keluarnya. Karena setiap trafo memiliki resistivitas keluaran, maka kalau
ada yang mengalir keluar dari kumparan sekunder, maka voltase akan

berkurang. (siafat ini dapat digambarkan dalam rangkaian ekuivalen


Thevenia atau Norton)

C. PENYEARAH DENGAN KONDENSATOR


1. Penyearah Setengah Gelombang
Kalau satu dioda dirangkai seri dengna kumparan sekunder dan
satu kondensator dirangkai paralel dengn beban, maka terdapat
rangkaian seperti dalam gambar 2.1 rangkaian ini merupakan
penyearah setengan gelombang dengan tapis lolos rendah yang
berfungsi umtuk menghaluskan riak voltase, maka seing disebut
dengan tapis penghalus.
Kalau rangkaian ini tidak dibebani, maka tidak ada arus yang keluar,
tetapi kondensator diisi dari trafo sampai voltase pada kondensator
menjadi sebesar voltase puncak dari trafo dikurangi voltase pada
dioda. Berarti voltase maksimal yang didapat pada kondensator
sebesar
V tpuncak

V t eff

. 2

2. Penyearah Gelombang Penuh


dalam penyearah gelombang penuh, bagian gelombang dengan
voltase negative yang tidak dimanfaatkan dalam penyearah setengah
gelombang dipakai juga sehingga waktu antara pengisian dua
kondensator menjadi jauh lebih kecil (lebih kecil dari pada setengah
dari waktu ketika memakai penyearah setengah gelombang). Skema
rangkain penyearah gelombang penuh diperlihatkan dalam gambar 2.2.
Rangkaian dengan empat dioda dalam skema rangkaian ini (berarti
tanpa trafo dan kondensator) disebut jembatan dioda. Ada IC dengan

rangkaian jembatan dioda, berarti empat dunia dalam satu IC. IC


tersebut memiliki empat sambungan, dua sambungan untuk arus bolakbalik, satu sambungan positif dan satu sambungan negatif. IC itu
disebut jembatan dioda juga, sama seperti rangkaian yang ada
didalamnya.
3. Rangkaian Center Tap
Penyearah gelombang penuh bisa juga didapat dengan
menyearahkan dua voltase AC yang berlawanan fase dengan penyeara
setengah gelombang. Dua voltase AC yang berlawanan fase diperoleh
darii trafo yang mempunyai sambungan di tengah. Rangkaian
sambungan tengah seolah-olah terdiri dari dua penyearah setengah
gelombang untuk kedua voltase AC yang berlawanan fase dan
keluaran dari kedua rangkian digabungkan. Sifatnya seperti rangkaian
dengan jembatann dioda, tetapi pada rangkaian ini arus mengalir hanya
dalam satu dioda sehingga voltase yang terobos dalam dioda hanya
separuh. Tetapi resistivitas dalam pada travo menjadi dua kali lipat.
4. Rangkaian Double Center Tap
Dalam rangkaian sambung tengah hanya setengah gelombang dari
masing-masing kumparan trafo yang digunakan. Bagian gelombang
yang kedua bisa dipakai untuk mendapatkan satu sumber voltase
negatif dengan besar voltase yang sama besarnya dengan besarnya
voltase positif. Bagian negatif ini dimanfaatkan dengan meyambung
lagi satu rangkaian sambungan tengah pada keluaran trafo, tetapi
dengan arah dioda yang terbalik sehingga bagian voltase negatif akan
melewati dioda baru itu. Rangkaian ini disebut dengan double center
tap atau rangkaian dua sambungan tengah.

D. REGULASI VOLTASE
1. Prinsip Regulasi Secara Umum

Arti kata egulasi adalah pengaturan yang biasanya dimaksud


dengan regulasi adalah suatu besaran yan g diatur pada nilai tertentu.
Untuk mengatur satu besaran yang diatur pada nilai tertentu, maka
besaran itu diukur fan dibandingkan dengan satu nilai standar yang
dipakai sebagai referensi. Kalau besar nilai yang didapatkan lebih
besar dari besarnya nilai referensi, maka diambil langkah untuk
mengurangi besar nilai tersebut. Kalau besar nilai yang didapatkan
lebih kecil dari pada besar nilai referensi diusahakan supaya besarnya
nilai tersebut menjadi lebih besar.
2. Prinsip Regulasi Pada Regulasi Voltase
Voltase yang didapatkan dari rangkaian penyearah dan tapis
penghalus (filter rectifier) belum rata dan belum stabil, sehingga masih
terdapat voltase riak dan kalau arus berubah, voltase berubah sesuai
dengan resistivitas keluaran dari trafo. Untuk mendapatkan voltase
yang benar rata dan konstan perlu rangkaian regulasi. Tugas dari
rangkaian regulasi adalah engatur voltase sehingga voltase riak hilang
dan voltase keluaran tidak lagi tergantung arus yang mengalir.
3. Rangkaian Regulasi Sederhana
Penguat diferensial dibentuk oleh transistor, dimana basis dari
transistor merupakan masukan tak membalik dan emitor merupakan
masukan membalik dari penguat ini. Karena emitor sekaligus
merupakan voltase keluaran dari rangkaian ini, maka umpan balik
terdapat secara otomatis. Rangkaian ini adalah pengikut emitor dengan
voltase referensi dari dioda zener sebagai masukan.
Sebagai pendekatan pertama fungsi dari rangkaian ini bisa
dimengerti sebagai berikut: voltase pada dioda zener yang stabil bisa
dipakai sebagai voltase referensi. Voltase basis-emitor konstan
walaupun arus emitor berubah, maka voltase keluaran menjadi
konstan. Kalau voltase keluaran mulai turun, misalnya karena arus
pada beban yang dipasang pada rangkaian bertambah besar, maka
voltase basis-emitor bertambah besar sehinggaarus yang mengalir

dalam transistor bertambah besar. Dengan arus yang semakin besar,


voltase pada beban atau voltase keluaran juga akan bertambah besar.
Karena voltase basis-emitorselalu konstan pada 0.7V, maka voltase
keluaran akan selalu 0.7V dibawah voltase pada dioda zener yang
konstan.
4. Regulasi Dengan Op-Amp
Rangkaian dengan resistor R dan dioda zener Z menyediakan
voltase referensi seperti dalam rangkaian regulasi sederhana. Tetapi
disini rangkaian voltase referensi tersebut memakai voltase keluaran
yang sudah teregulasi sebagai sumber daya sehingga perubahan dari
voltase sumber tidak mempengaruhi arus dan dalam resistor R dan
dalam dioda zener. Maka voltase referensi V ref

yang terdapat pada

dioda zener sangat konstan. Op Amp bersama dengan kedua resistor


R1 dan R2 bekerja sebagai penguat tak membalik dengn voltase
keluaran sebesar:
V out

R 1+ R 2
R2

V ref

Transistor T pada keluaran Op-Amp dipakai supaya arus yang


keluar dari rangkaian bis alebiih besar dari pada arus yang keluar dari
rangkaiann bisa lebih besar dari pada arus keluaran maksimal dari Op
Amp. Transisitor bisa merupakan Transistor darlington atau rangkaian
darlington sehingga arus yang didapat lebih besar.
Op-Amp sendiri mempunyai penguatan voltase yang sangat besar
sehingga selisih antara voltase referensi dan voltase yang
diumpanbalikan pada resistor R2 menjadi sangat kecil, lebih persisi
menjadi sebesar voltae offset dari Op-Amp berubah. Voltase offset dari
Op-Amp berubah kalau voltase sumber terhadap perubahan voltase
offset disebut power supply rejection ratio dan biasanya sebesar

104 . Maka dengan rangkaian ini line regulation menjadi sebesar


10.000 .
5. Regulasi Dengan Regulator IC
Karena regulasi voltase untuk satu daya sering kali dibutuhkan,
tersedia berbagai jenis IC yang memenuhi kebutuhan ini. Salah satu IC
adalah seri 78xx, dimana xx menunjukan voltase keluaran dari IC
tersebut. Terdapat xx = 05 untuk 5V, xx = 75 untuk 7.5V, xx = 09
untuk 9V, xx = 12 untuk 12V, xx = 15 untuk 15V dan juga terdapat
voltase yang lebih tinggi.

IC 78xx mempunyai tiga kaki, satu untuk V satu untuk V out

dan satu untuk GND. Dalam IC ini selain rangkaian regulasi voltase
juga sudah terdapat rangkaian pengaman yang melindungi IC dari arus
atau daya yang terlalu tinggi.terdapat pembbatasan arus yang
mengurangi voltase keluaran kalau batas arus terlampaui. Besar dari
batas arus ini tergantung dari voltase pada IC sehingga arus maksimal
lebih kecil kalau selisih voltase antara V dan V out

lebih besar.

Juga terdapat juga pengukuran suhu yang mengurangi arus maksimal


kalau suhu IC menjadi terlalu tinggi. Dengan rangkaian-rangkaian
pengaman ini IC terlindungi dari kerusakan sebagai akibat beban yang
terlalu besar.
6. Prinsip Kerja Dari IC 78xx
Prinsip rangkaian dari IC 78xx adalah dioda zener yang
menyediakan voltase referensi. Arus untuk D2 terdapat dari sumber
arus konstanta 1, karena arus dari arus sumber arus maka pengaruh
dari voltase sumber terhadap arus dalam dioda zener.
Voltase referensi dari D2 masuk kedalam penguat diferensial yang
dibentuk oleh T3, T4, R7 dan I 2 . Keluaran dari penguat diferensial
tersambung dengan transistor daya T1 yang dibuat sebagai transistor
darlington. Keluaran IC tersambung dengan pembagian tegangan R2

dan R1 dan voltase pada R1 disambungkan dengan basis dari T4


sebagai masukan membalik dari penguat diferensial. Berarti voltase
pada R1 selalu dibandingkan dengan voltasse referensia dan kalau
voltase keluaran terlalu tinggi maka pada voltase R1 juga terlalu
tinggisehingga keluaran menjadi berkurang.
R3 dirangkai dalam jalur arus keluar sehingga voltase pada R3
sebanding dengan arus keluar. Kalau voltase pada R3 lebih besar 0.6V,
maka voltase basis-emitor pada transistor T2 akan lebih besar dari
0.6V dan transistor ini akan buka sehingga voltase dari basis sehingga
voltase basis dari T1 berkurang dan voltase keluaran berkurang juga.
Jadi dengan R3 dan T2 terdapat pembatas arus yang membatasi arus
keluaran sebesar

I outmax :
I outmax =

0.6V
R3

7. Regulasi Voltase Untuk Voltase Negatif


Kalau dalam satu rangkaian voltase negatif dibutuhkan dan sumber
daya sebelum regulator tidak mempunyai sambungan GND, maka
regulasi voltase positif bisa dipakai. Tetapi kalau rangkaian penyedia
daya sudah mempunyai sambungan GND, maka regulator untuk
voltase positif tidak bisa dipakai untuk menyediakan voltase negatif.
Satu contoh untuk situasi inii adalah satu daya yang mempunyai
keluaran voltase negatif yang teregulasi bersama dengan keluaran
voltase positif yang teregulasi. Dalam situasi ini dibutuhkan regulator
khusus untuk voltase negatif diman arus dimana arus masuk kedalam
keluaran regulator.
Prinsip rangkaian seperti ini dipakai dalam IC seri 79xx. Ciri
utama regulator voltase negatif adalah bahwa arus masuk kedalam
keluaran rangkaian sehingga voltase keluaran negatif terhadap GND.
Rangkaian regulator sederhana bisa diubah menjadi regulator voltase
negatif kalau transistor npn diganti dengan transistor pnp dan dioda
zener dibalikan sehingga terbentuk suatu rangkaian.

BAB III
PENUTUP

Demikianlah makalah ini dapat diselesikan. Kepada semua pihak yang telah
membantu penyusunan makalah ini penulis ucapkan terima kasih. Dan diharapkan
dapat dipahami oleh para pembaca, sehingga pembaca tersebut dapat menambah
wawasan dan pengetahuannya.
Penulis ucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karenanya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi
para pembaca.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan dapat diambil kesimpulan:

Kuat arus pada suatu rangkaian berbanding terbalik antara hambatan dan
tegangan:

Prinsip kerja dari catu daya dapat digambarkan sebagai berikut:


Input ACPenurunTeganganPenyearahFilterPenstabilOutput
DC

B. SARAN

Untuk penyempurnaan suatu makalah, sebaiknya diberikan


suatu kritikan yang gunanya untuk membangun dan penyempurnaan
suatu makalah tersebut. Selain saran yang dapat membangun adalah
makalah tersebut sebaiknya dibuat berdasarkan materi-materi yang ada
dan berkualitas sempurna, sehingga pembaca tidak melakukan
kesalahan setelah membacanya.